“Kematian itu tidak indah. Kematian itu tragis. Hiduplah. Ketika menderita, ketika sedih, menjeritlah sebanyak-banyaknya. Pasti aku akan datang menolong. Asal kalian terus hidup … Jangan berjuang sendiri, menjeritlah.”
Dua kisah dengan tokoh anak perempuan, keduanya berkaitan dengan seksualitas dan keduanya menderita. Tetapi kisah kedua lebih tragis karena Ai –nama tokoh-- yang menjadi korban hingga menetap di sebuah rumah sakit. Sebuah budaya patriarki yang membuat Ai dan ibunya tidak bisa berkutik.
Lagi-lagi Mizutani hanya dapat menemani, membersamai, dan mencoba menghangatkan anak-anak ini. Sayangnya, kepedihan Ai sudah tergurat sedemikian dalam, dan kondisi psikologisnya sangat mudah tergoncang. Ai putus asa menyadari kondisinya yang tak mungkin tersembuhkan. Sebuah pilihan diambilnya.
Kisah ketiga menceritakan Mizutani saat dia masih menjadi seorang guru di kehidupan siang. Gambaran sekelompok remaja yang bersikap pada teman disabilitas, ketika memutuskan akan mendaki gunung. Sebuah cerita yang Mizutani ceritakan kepada sesosok pendengar di balik selimut, yang menjadi tanda tanya di akhir seri kedua ini.
TW/CW: mentions of domestic abuse, abandonment, prostitution, PTSD, violence, drug abuse, bullying, sexual abuse (rape), incest, suicide
Knowing that these stories are based on real-life events makes me 10 times more hurt and depressed. Why do I do this to myself? So many of us are struggling with something, be it big or small—whether it’s known or kept secret, let’s always be kind to one another. The fact that Mizutani sensei calls these youths his "children" warms my heart.
My sympathies go to the affected children, especially Ai. Some people don’t deserve to be parents. Adults are supposed to be “wise”, right??? Why do I see such incompetent parents then??? When will you ever learn that your parenting mistakes can negatively influence your child’s future??? And affect their mental wellbeing???? It is not your children’s fault. They never asked to be born. I really sobbed my eyes out for this one. This is such a heavy volume. I am too scared to read more. Need some time to recover.
Idenya masih menarik. Membahas kehidupan gelap dari anak-anak remaja yang tersakiti dan tak tertolong. Gelap, cukup gelap. Sayangnya, rasanya jadi monoton karena terlalu berfokus pada akhir yang tragis (sama). Jadi, kesannya agak monoton. Lalu, ceritanya juga terlalu singkat sehungga emosi mau dicurahkan pun nanggung meski aku tetap merasa pedih tiap membaca pengalaman masing-masing anak.
"Leur présent si précieux, si important pour construire le futur, est meurtri par ces souvenirs du passé auxquels ils sont incapables d’échapper, ce passé qui les force à aller jusqu’au bout de leur souffrance." ❤️🩹