hahayy.. saya membuat turun rating rata-rata buku ini!!
Maaf ya mas Dedi.
Menurut saya, buku ini punya ide cerita yang sangat menarik. Ditengah membanjirnya cerita romance dalam negeri yang bersetting di tengah kota besar, dan banjir pamer kekayaan, novel ini malah mengambil setting Wakatobi yang jauh dari "peradaban". Selain itu, tokoh-tokohnya juga punya latar belakang aktivis yang juga jarang disentuh pengarang dalam negeri lainnya. Saya suka betapa pengarang bisa memasukkan pesan-pesan mengenai kesetaraan gender, pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan ke dalam sebuah cerita romance tanpa membuat cerita itu berat. Semua mengalir dengan baik.
Saya juga suka membaca deskripsi Wakatobi di buku ini. Keindahan alamnya, makanan khasnya, kehidupan warganya. Bikin pengen kesana!! Sayang, saya agak parno naik pesawat jauh-jauh. Paling jauh jalan-jalan ke Pulau Komodo, itupun dari Bali naik kapal pesiar. Ahahaaha.. Mungkin kapan-kapan kalau lagi nekad saya akan ke Wakatobi.
Kalau begitu, kenapa cuma 3 bintang?
Karena menurut saya, sayang banget, editing buku ini kurang bagus. Banyak kata yang saya nilai kurang tepat digunakan atau nggak sinkron penyebutannya. Misalnya saja kaki katak (untuk berenang) yang suka disebut kaki bebek, kaki katak, kaki bebek lagi.. hmm.. Lalu, banyak sekali penggunaan bahasa Inggris yang tidak tepat. Misalnya saja Adventurous ditulis Adventurious, lalu.. Eemm.. sebenernya banyak. Mungkin di blog nanti akan saya post lebih rinci (karena kebetulan pas baca buku ini saya lagi megang pensil, jadi bisa langsung coret-coret).
Ini adalah alasan pengurangan bintang nomor 1.
Pengurangan bintang satu lagi adalah karena penyelesaian konflik di cerita ini seperti terlalu cepat. Saya masih ingin melihat pertentangan Bagas dan Anisa lebih dalam, juga peran Wa Dambe. Sayang endingnya cepet banget dan terasa menggampangkan keseluruhan permasalahan yang sudah penulis coba bangun dari lembar-lembar sebelumnya.
Di luar kritik saya, saya sama sekali nggak bilang buku ini jelek. Lihat saja, masih ada 3 bintang yang tersisa dari 5 bintang. Buku ini benar-benar memberikan sesuatu yang baru dalam dunia penulisan di Indonesia. Senang baca kisah hidup seorang aktivis kampus yang idealis. Ditunggu lho mas buku-buku selanjutnya. Dan semoga sebagian royalti yang disumbangkan untuk masyarakat Bajo bisa membantu kesejahteraan mereka.