Jump to ratings and reviews
Rate this book

Chemistry Cinta di Wakatobi

Rate this book
Ketika dunia hiruk-pikuk dengan email, blog, facebook, twitter, YM, dan SMS, jangankan terlibat, Wa Dambe, seorang gadis Bajo Wakatobi, bahkan tidak bisa menulis namanya sendiri. Bagas merasa tergugah untuk membebaskan perempuan malang itu dari pasungan buta aksara. Di sela kesibukan penelitian skripsinya, ia mengajari Wa Dambe membaca dan menulis. Momen-momen kegigihan Wa Dambe untuk membebaskan diri dari buta aksara berhasil terekam dalam kameranya. Foto-foto itulah yang ditampilkannya dalam lomba fotografi.

Melihat foto-foto hasil jepretan Bagas, Anisa, gadis metropolis asal Wakatobi yang sukses sebagai aktivis gender di Jakarta, menuduh Bagas telah mengeksploitasi Wa Dambe yang tak lain adalah saudara angkatnya sendiri. Tak ayal, hubungan yang terajut sekian lama antara Bagas dan Anisa terancam retak. Bagas tak peduli. Tetapi, begitu mengetahui Wa Dambe hamil, sikap Bagas berubah. Sementara Anisa yang sudah mendekati puncak kariernya justru memilih meninggalkan kehidupan urban Jakarta dan memutuskan pulang ke tanah kelahirannya untuk membangun Wakatobi. Bagas semakin terjebak dalam romantisme dua perempuan Wakatobi. Namun hanya chemistry yang bisa merekatkan jiwanya pada kedua perempuan itu.

Editor’s Note
Berkisah tentang kehidupan kampus, dunia NGO, dan tokoh utama (Bagas) yang terlibat dalam romantisme dua perempuan Wakatobi.

Juga tentang persahabatan, impian, harapan, ambisi, dan realitas hidup, diwarnai canda, banyolan segar, tawa, dan air mata. Setting di Bogor, beberapa tempat di Jakarta, dan Wakatobi (Sulawesi Tenggara) yang terkenal dengan kehidupan underwater-nya.

336 pages, Paperback

First published July 11, 2012

1 person is currently reading
16 people want to read

About the author

Dedi Oedji

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (41%)
4 stars
1 (5%)
3 stars
5 (29%)
2 stars
3 (17%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Linda♥.
349 reviews
January 6, 2018
(Ini tadi udah kutulis reviewnya tapi malah ilang gara2 laptop tiba2 restart sendiri kan kamvret kan yah bikin mood ancur ajah iiiiiiih!!!!)

Tertarik baca buku ini gara-gara review di blog mbak nana beberapa tahun lalu (ini kayaknya udah lama banget yak, baru dibaca sekarang hahahahahah). Dan tambah tertarik lagi karena latarnya unik, yaitu di Wakatobi yang pemandangan lautnya asoy itu~

Aku cukup menikmati bab-bab awal. Ngerasa nyambung sama Bagas yang telat nyusun skripsi kayak aku ini. :p Aku juga menikmati obrolan Bagas dan Anisa yang udah sahabatan sejak lama sampe dikira pacaran sama orang sekampus. Pas nyampe bab-bab di Wakatobi juga aku enjoy banget bacanya, soalnya aku emang pengen nyerap seluruh pemandangan Wakatobi meski cuma lewat deskripsi di novel dan googling gambar doang. >.<

Namun, pas ke tengah sampai ke akhir buku, aku jenuh banget, bahkan beberapa paragraf ada yang cuman sekali lihat (tanpa baca) aja jadinya. Ada banyak penjelasan yang diulang-ulang, juga beberapa hal yang menurutku terkesan dipaksakan.

It was ok, then.
2.5 bintang.
Profile Image for Zeth Sassan.
1 review
Want to read
April 7, 2020
Saya suka novel ini
This entire review has been hidden because of spoilers.
94 reviews3 followers
Read
September 28, 2012
Bagas, seorang mahasiswa yang tak kunjung selesai menamatkan studinya di bangku perkuliahan karena sibuk mengikuti kegiatan kampus, harus berjuang untuk menggarap skripsi demi memenuhi janjinya kepada (alm.) ayahnya untuk mengenakan toga. Berkat jodoh yang terjalin kembali dengan sahabat lamanya, Anisa, jadilah Bagas menggarap skripsinya di Wakatobi, tanah kelahiran Anisa.
Anisa jugalah yang menjadi pemandu Bagas untuk riset ke Wakatobi sekaligus cuti panjang. Namun Anisa harus kembali ke Jakarta karena ia tidak setuju untuk ditunangkan dengan Zubair Abdullah, pengusaha kaya asal Wakatobi.
Sebagai penggantinya, Anisa meminta saudara angkatnya, Wa Dambe, untuk menemani Bagas selama penelitian. Wa Dambe lah yang mengantar Bagas ke perkampungan Sampela untuk wawancara dan mengamati suku Bajo yang ada di perkampungan itu. Ia juga yang menjadi penerjemah antara Bagas dan nelayan yang diwawancarai. Wa Dambe sangat baik. Tidak pernah sekalipun ia mengeluh karena bolak- balik Sampela- Kadelupa bersama Bagas.
Di sela- sela penelitiannya, Bagas mendapati bahwa Wa Dambe buta huruf saat perempuan itu mengatakan bahwa ia sangat mengagumi Anisa yang berhasil diliput oleh majalah nasional namun ia tidak mengerti isi berita mengenai Anisa. Bagas berniat untuk mengajari Wa Dambe membaca dan menulis. Awalnya Wa Dambe menolak. Ia telah hidup dalam tradisi sukunya yang mengganggap bahwa pendidikan tidak diperlukan oleh kaum wanita. Tapi Wa Dambe akhirnya mau juga setelah mendengar penjelasan dan bujukan Bagas.
Wa Dambe yang sangat tekun berlatih akhirnya bisa membaca dan menulis. Ia bahkan mengajari perempuan- perempuan Bajo lainnya membaca dan menulis. Tentu saja setiap momen berharga itu tidak lupa Bagas abadikan. Sebagai dedikasinya terhadap kebaikan Wa Dambe, Bagas akan mengikutsertakan foto- foto Wa Dambe ke dalam kontes fotografi dengan tema kegigihan perempuan Bajo.
Ketika Anisa mengetahui hal itu, ia marah besar. Awalnya ia merasa Bagas mengeksploitasi Wa Dambe. Ternyata alas an sebenarnya adalah karena Anisa takut karirnya yang sedang memuncak akan hancur jika publik mengetahui bahwa salah seorang aktivis gender yang gencar membicarakan isu pemberdayaan perempuan ternyata memiliki saudara angkat yang buta huruf. Namun Bagas bersikeras. Persahabatan keduanya harus berakhir.
Kepada Anisa Bagas mengaku bahwa ia mencintai Wa Dambe. Ada getaran khusus pada diri Bagas saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Wa Dambe. Inilah chemistry yang ia temukan pada Wa Dambe yang belum pernah ia temukan pada Anisa. Ditambah lagi kesederhanaan dan ketulusan Wa Dambe dalam menjalani hidup mendapat nilai plus di mata Bagas.

baca selengkapnya di sini ya :
http://ertalin.blogspot.com/2012/09/c...
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
September 28, 2012
hahayy.. saya membuat turun rating rata-rata buku ini!!
Maaf ya mas Dedi.

Menurut saya, buku ini punya ide cerita yang sangat menarik. Ditengah membanjirnya cerita romance dalam negeri yang bersetting di tengah kota besar, dan banjir pamer kekayaan, novel ini malah mengambil setting Wakatobi yang jauh dari "peradaban". Selain itu, tokoh-tokohnya juga punya latar belakang aktivis yang juga jarang disentuh pengarang dalam negeri lainnya. Saya suka betapa pengarang bisa memasukkan pesan-pesan mengenai kesetaraan gender, pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan ke dalam sebuah cerita romance tanpa membuat cerita itu berat. Semua mengalir dengan baik.

Saya juga suka membaca deskripsi Wakatobi di buku ini. Keindahan alamnya, makanan khasnya, kehidupan warganya. Bikin pengen kesana!! Sayang, saya agak parno naik pesawat jauh-jauh. Paling jauh jalan-jalan ke Pulau Komodo, itupun dari Bali naik kapal pesiar. Ahahaaha.. Mungkin kapan-kapan kalau lagi nekad saya akan ke Wakatobi.

Kalau begitu, kenapa cuma 3 bintang?
Karena menurut saya, sayang banget, editing buku ini kurang bagus. Banyak kata yang saya nilai kurang tepat digunakan atau nggak sinkron penyebutannya. Misalnya saja kaki katak (untuk berenang) yang suka disebut kaki bebek, kaki katak, kaki bebek lagi.. hmm.. Lalu, banyak sekali penggunaan bahasa Inggris yang tidak tepat. Misalnya saja Adventurous ditulis Adventurious, lalu.. Eemm.. sebenernya banyak. Mungkin di blog nanti akan saya post lebih rinci (karena kebetulan pas baca buku ini saya lagi megang pensil, jadi bisa langsung coret-coret).
Ini adalah alasan pengurangan bintang nomor 1.
Pengurangan bintang satu lagi adalah karena penyelesaian konflik di cerita ini seperti terlalu cepat. Saya masih ingin melihat pertentangan Bagas dan Anisa lebih dalam, juga peran Wa Dambe. Sayang endingnya cepet banget dan terasa menggampangkan keseluruhan permasalahan yang sudah penulis coba bangun dari lembar-lembar sebelumnya.

Di luar kritik saya, saya sama sekali nggak bilang buku ini jelek. Lihat saja, masih ada 3 bintang yang tersisa dari 5 bintang. Buku ini benar-benar memberikan sesuatu yang baru dalam dunia penulisan di Indonesia. Senang baca kisah hidup seorang aktivis kampus yang idealis. Ditunggu lho mas buku-buku selanjutnya. Dan semoga sebagian royalti yang disumbangkan untuk masyarakat Bajo bisa membantu kesejahteraan mereka.





1 review
September 18, 2012
Salah satu bahan bacaan yg ok ini novel. Gaya bahasanya ng bukan spt bhs buku roma picisan kebanyakan. Penulis di buku ini bercerita berdasarkan sesuatu yg sudah di observasi. Buku ini bagus sekali dibaca oleh mahasiswa yg ingin meneliti ttg gender, konservasi, or kemiskinan, juga layak dikonsumsi oleh pihak LSM, pemerintah, or Dosen.Baca buku ini lumayan bikin kening berkerut krna gaya bahasany spt non fiksi, tetapi non fiksi yg ng ngebosenin gitu. Penulisnya juga mengangkat tema yg awalny sulit dipahami di buku2 or sumber lainny menjadi bahasa novel yg lugas. DISARANKAN BACA INI BUKU DEH,
Profile Image for Diah.
83 reviews2 followers
July 26, 2013
Awalnya bagus, tapi koq ditengahnya gak dapat feelnya yah? Ada beberapa bagian yang agak maksa, seperti di bagian terakhir. Gak suka endingnya, pengennya sih bener-bener happy ending. Anisa dan Bagas itu menikah karena sama-sama menemukan chemistry bukan karena alasan lain.

Yaahh sepertinya hubungan persahabatan wanita dan pria itu tidak bisa dihindari akan adanya konflik cinta, susah menjaga hati.

*Maaf yaahh Kak Dedi Oedji* :D
semoga buku berikutnya bisa lebih gregetan lagi kita bacanya ;)
Profile Image for Rezcha Yudo.
1 review2 followers
July 29, 2015
unpredictable, menyayat hati, kocak. ceritanya membawa pembaca seakan merasakan apa yang dialami tokoh, bahkan masing-maisng tokoh dalam novel. two thumbs up!
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.