Ni Komang Ariani lahir di Bali, 19 Mei 1978. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, tahun 2003-2006 sebagai penyiar dan jurnalis di Global FM Bali dab KBR 68th Jakarta. Tahun 2008 menjadi Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerita Bersambung Femina melalui noveletnya Nyanyi Sunyi Celah Tebing. Dua karyanya masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2008 dan 2010. Kumpulan cerpen Lidah (2008) dan novel Senjakala (2010). Karya lainnya terhimpun dalam buku antologi cerpen yaitu Lobakan (2009) dan Si Murai dan Orang Gila. Pada 2011 novelnya, Senjakala, menjadi 10 besar Khatulistiwa Literary Award.
Pertimbangan utama saya membeli buku ini adalah karena jatuh cinta pada cerpen 'Senja di Pelupuk Mata' karya Mbak Ni Komang Ariani dalam sebuah buku kumpulan cerpen KOMPAS. Cerpen itu juga terangkum di dalam buku 'Bukan Permaisuri' dan menyumbang ruh besar bagi buku ini.
Banyak hal yang ingin saya sampaikan pada kolom review ini: Pertama, mengenai tema yang serupa dan mirip dalam 16 cerita pendek yang termaktub dalam Bukan Permaisuri, sehingga sulit untuk membuat semua cerita menonjol. Tema mengenai kemiskinan, senjangnya relasi laki-laki perempuan yang selalu berujung pada tak sederajatnya peran, posisi dan status gender, semua digarap dengan tone yang sama, dan dalam beberapa cerpen terasa membosankan, hambar dan nyaris tak berkesan.
Kedua, banyak cerita yang tak terselesaikan, tak terjelaskan, dikupas sebentar lalu hilang begitu saja, dan cerita-cerita yang berakhir tanpa akhir yang menakjubkan atau meninggalkan renungan.
Ketiga, judul-judul yang biasa, tak memikat, dan biasa saja (kecuali 2 cerpen unggulan saya)
Keempat, pemilihan cerpen yang dijadikan judul buku, mungkin bisa mewakili sejumlah cerpen dengan tema persilangan status sosial antara suami dan istri yang juga diangkat pada cerpen lainnya. Namun, saya merasa cerpen 'Senja di Pelupuk Mata' lebih menark untuk dijadikan judul buku, selain juga cerpen itu sudah banyak meninggalkan kesan yang mendalam di hati pembaca (yang sebelumnya membaca di buku cerpen KOMPAS).
Kelima, beberapa kesalahan pengetikan (typo) cukup banyak ditemukan, dan menganggu. Termasuk beberapa penulisan yang justru abai terhadap penulisan yang taat ejaan.
Keenam, 12 cerpen dari 16 cerpen yang termuat di buku ini sudah dipublikasikan rentang tahun 2008-2012. Di sini, terlihat ketimpangan cerpen-cerpen yang tercatat dengan baik tanggal pemuatannya. Khususnya, cerpen yang dimuat di KOMPAS (yang dipublikasikan tahun 2011-an) terasa jauh lebih kuat, berbobot, bernyawa, dan berkesan ketimbang cerpen-cerpen yang dimuat media di luar itu (secara subtansial/dan penggarapan).
Ketujuh, hampir di semua cerpen, kalimatnya bisa dibilang datar, dialognya pun juga bila dibaca tak menyisakan sesuatu (yang dalam tren saat ini disebut dengan istilah quotable), walau bukan berarti juga kalimat bernada quote mesti dijejali. Hanya saja, saya merindukan diksi-diksi terpilih, kalimat-kalimat terpilih, yang 'ngena' dan seterusnya. Walaupun begitu, saya melihat kekhasan bertutur cerpenis yang punya latar belakang akademis Komunikasi (sekadar asumsi), bahwa saya melihat adanya kelincahan berbahasa, dan keluwesan bercerita. Sebab, hal yang sama juga saya rasakan saat membaca cerpen Mbak Dewi Ria Utari (yang juga lulusan Komunkikasi). Dan saya selalu bahagia membaca cerpen-cerpen dari mereka yang belajar di Komunikasi, seperti yang terjadi pada diri saya, mahasiswa komunikasi yang belajar menekuni dunia cerpen/sastra.
Dan sebagai penutup, saya sampaikan pada Mbak Ni Komang, bahwa saya telah jatuh cinta pada Senja di Pelupuk Mata dan Anak-anak yang Tumbuh dengan Sendirinya. 2 cerpen itu adalah cerita favorit saya, kenapa favorit, karena benar-benar menyentuh, menggugah, dan meninggalkan perenungan. Cerpen yang demikian menjadi permata Bukan Permaisuri menurut saya.
Ketika sampai pada cerpen ketiga dari buku ini, aku menyadari bahwa Bukan Permaisuri adalah kata yang tepat untuk mewakili semua perempuan dalam setiap cerita di buku ini. Bahwa alih-alih sebagai ratu rumah tangga, mereka, dengan segala peran, lebih terasa seperti abdi, pelayan. Apa pun pilihannya, perempuan selalu saja terasing dan disalahkan, lihat saja misalnya, seorang perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga penuh karena suami dan orang tuanya menginginkan itu. Ia seperti hidup tapi tak hidup. Atau lihatlah juga, perempuan yang memilih mengejar karirnya ketika muda dan merasa bersalah kepada anak-anak ketika tua karena tidak menemani anak-anaknya dulu. Ironis bukan? Pengasuhan anak bukanlah kewajiban ibu semata, tapi juga ayah, lalu kenapa hanya ibu yang harus merasa bersalah? Kalau saja keduanya bekerja sama dalam hal pengasuhan, mungkin penyesalan seperti itu tidak perlu ada.
Tetapi dibalik tema yang membuat geram, dibanding Kim Ji-young 1982 (kebetulan aku baru selesai membaca buku itu) cerpen-cerpen di buku ini terasa datar, entah kenapa, makanya hanya 3 bintang yang bisa saya berikan.
Pertama-tama saya ingin mengatakan.....Desain sampulnya bagus!!!!! Apalagi di beberapa cerpen ada ilustrasinya. Saya suka font dan kertasnya. Saya suka sekali kemasan buku ini hehe.
Ini kedua kalinya saya membaca antologi. Kalau dulu antologi cerpennya Djenar yang tokoh wanitanya terkenal rebel, brutal, binal dan berkarakter ke-selangkangan-an. Yang ini, sesuai dengan judulnya yang pasrah. Karakter wanitanya lebih ke nedha nrima, masa depan suram ala ibu rumah tangga biasa yg bau dapur, powerless, dan bukan apa-apa.
Tapi buku ini unik, gak nyesel kok beli ini. Kebanyakan buku yang di pasaran itu kental akan adat Jawa, nah disini karena penullisnya asli Bali, saya dikenalkan dengan bermacam-macam adat Bali. Saya jadi kepengen makan tipat cantok habis membacaya. Kalau biasanya ada "Simbok/Emak" disini ada "Meme/Biyang". Tapi kok ada satu cerita yang nyeleneh memakai adat Jawa, gaul sekali penulisnya.
Untuk mengkritisi isi bukunya. Buku ini berisi 16 cerpen yang menurut saya biasa saja. Kenapa? Karena gaya penulisannya yang terlalu gamblang dalam bercerita, jadi gak ada asik-asiknya. Kalo biasanya buku-buku asik itu menghadirkan plot-twist, atau ending yang menuntut pembaca menyimak dari awal, huehehe jangan berharap menemukannya di buku ini. Menurut saya, beberapa temanya sangat keren dan gokil, sisanya huuuuuu. Sayang banget gara-gara menulisnya terlalu eksplisit jadi gak ada sensasinya. Tapi menurut sudut pandang Putu Fajar Arcana(Pengantar), "Endingnya selalu datar dan kadang hanya berupa pernyataan. Hidup memang tak selalu menghadirkan kejutan bukan?" Saya dalam hati berkata, sepertinya Bli Putu ini diam-diam juga kecewa dengan endingnya yang selalu gamblang ehehehehe. Ngomong-ngomong kata pengantarnya mengedukasi sekali, banyak pengetahuannya! Terimakasih!
Oiya, sama dengan yang saya sampaikan di awal. Keseluruhan buku ini membahas ketidakberdayaan wanita dalam melawan takdirnya sebagai "pelengkap pria". Banyak yang membahas istri yang notabene sebagai hiasan di rumah, hanya mebaten(ini istilahnya mbak Ni), atau wanita karir tapi salah mengasuh anaknya, mama mertua yang mendominasi perkawinan dan mental suami, ibu yang takut ditinggal menikah anak laki-lakinya, pokoknya keapesan kaum hawa. Kodrat para wanita yang dikisahkan terlalu mencekam, kalo saya baca dari buku ini sih. Bikin orang takut kawin, tapi juga takut jadi perawan tua(karena ada salah satu ceritanya tentang perawan tua). Intinya buku ini adalah side-storynya wanita-wanita dewasa terutama yg sudah berkeluarga di dunia ini *hiks.
Oiya tidak lupa, seperti biasa saya akan menyampaikan petikan kalimat favorit.
"Bu. Ibu salah. Kalau aku menikah, aku bukan mencari istri yang bisa merawat dan melayaniku. Aku akan mencari perempuan yang bisa menjadi teman hidupku. Orang yang bisa berbagi hidup denganku." -Dio dalam "Ibu", hlm. 96-
Saya jadi berkhayal, apa bisa ya... Saya menemukan pria yang seperti kata Dio, menjadi teman hidup... Seks dan tuntutan-tuntutan lain itu dianggap sebagai bonusnya saja. Huft, andai saja....
membaca buku ini membuat saya ingin berkaca pada diri sendiri (sebagai seorang wanita) pada saat lalu, sekarang dan masa depan. Isu-isu yang tidak hanya wanita Bali atau Indonesia gumulkan sehari-hari. Alur cerita yang kebanyakan anti klimaks terbayar lunas pada ide dan gagasan yang diceritakan penulis. Nice one to read. Pelupuk mata dan nyoman rindi jadi cerita yang paling saya suka pada antologi cerpen ini.
Tapi beberapa cerita lainnya punya kedalaman yang cukup menjurang, seolah penulis mengenal segala unek-unek kegelisahan si tokoh dan menceritakannya dengan baik. Sangat baik sekali, ya di beberapa cerita ya, ndak semua. hehe
Btw pas lagi baca ini terus ketiduran eh saya dapet mimpi aneh gitu. Haha
Kisah-kisah yang menarik seputar perempuan. Ada rasa bangga, canggung, geli, dan miris membacanya. Semua kisah yang tertulis di dalamnya benar-benar mewakili kisah kaum perempuan urban. Hampir tidak ada yang terlewatkan. Saya benar-benar diajak becermin pada banyak hal lewat buku ini.
Judul: Bukan permaisuri Penulis: @ni.komang.ariani Penerbit: @bukukompas Dimensi: xviii + 138 hlm, 13.5 x 20 cm, Juni 2012 ISBN: 9789797096472
16 #cerpen dengan isu utama #perempuan sebagai warga kelas dua dan kental budaya Bali. Jikalau saya tidak membaca kata pengantar Putu Fajar Arcana, saya pasti tidak akan menikmati gaya penulisannya. Sebab memang begitu datar, tidak ada twist, meski isunya bagus dan mewakili beberapa permasalahan umum di kenyataan.
Gaya penulisannya seperti #jurnalistik sebab memang latar belakang penulis memang jurnalis. Endingnya pun bebas sekali untuk diinterpretasikan pembaca, bila tidak disebut menggantung.
Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.
"Tergambar pedihnya hati seorang #ibu saat ditinggalkan anak-anaknya ketika mereka sudah memiliki keluarga baru. Ini adalah #cerita sedih seorang ibu manapun di dunia." (H.viii)
"Warga desa memandang Rindi dengan penuh cibiran. Perempuan yang tidak laku. Perempuan sombong yang akan menderita sepanjang hidupnya. Bagi Rindi, mereka salah. Justru ia akan semakin menderita jika ia memutuskan untuk memasuki #pernikahan yang tidak pernah diinginkannya. Ibarat menceburkan diri ke dalam #neraka yang tidak bertepi." (H.66)
"Apakah seorang ibu dilahirkan dari #rasa takut, sehingga seluruh dunianya menjadi menakutkan?" (H.78)
Tantangan buku (bersama Desi) bersampul biru keempat yang saya baca...
Well, jujur awalnya saya tidak menikmati buku ini. Bahkan sempat berujar, "Mungkin memang selera atau pilihan saya tidak sesuai dengan selera para juri KLA". Namun, setelah perlahan-lahan dibetah-betahin membacanya, akhirnya saya menemukan tipe-tipe cerpen yang saya sukai.
Saya suka buku ini sejak halaman 93, sejak cerpen Ibu, ke belakang. Dan... kurasa benar sekali Ariani menempatkan Bukan Permaisuri sebagai cerpen pamungkas yang menutup dan membungkus semuanya ini dengan manis.
Ya, betapa (dari semua kisah bercerita soal penderitaan yang kebanyakan dialami oleh perempuan) ketabahan dan keikhlasan Zea mewakili keutuhan proses kehidupan. Dari nol ke penuh kembali ke nol lagi. Bahwa sejatinya kita tidak berhutang apa-apa, tak kehilangan apa-apa. Di lain sisi, apakah benar sikap ketaatan pada orang tua diejawantahkan seperti itu? Seperti yang dilakukan oleh Bayu? Yakni lebih baik memutus pernikahannya dengan Zea dan mengambil perempuan lain yang lebih penurut kepada orang tuanya meski perempuan-perempuan itu tidak ia cintai?
Mmmm.... daripada penasaran atau terpengaruh sama penilaian saya yang subjektif ini, mending baca sendiri aja deh. hehehehe....
"Bukan Permaisuri" adalah kumpulan 16 cerita pendek yang ditulis oleh Ni Komang Ariani. Tema besar yang penulisnya ambil adalah: perempuan, budaya (khususnya budaya Bali), serta kesenjangan antara pria dan wanita di masyarakat.
Memang tidak semua tokoh di dalam kumpulan cerpen ini perempuan, tapi terasa sekali bahwa para perempuanlah yang ditonjolkan di sini. Ni Komang Ariani menunjukkan para wanita yang menjadi korban dalam kehidupan. Ada yang korban kemiskinan, budaya, hingga laki-laki.
Untuk ukuran sebuah kumpulan cerita pendek, saya merasa banyak cerpen di buku ini yang terasa mentah. Ada banyak cerita yang terlihat seperti selentingan ide yang muncul saat mandi (nginggrisnya: shower thought), yang kemudian dituliskan tanpa diolah lebih jauh. Karakter, cerita, kejadian, dan keadaan mental para tokohnya hanya diberitahu sekelebat saja. Saya bahkan sempat merasa kalau saya sedang membaca sebuah rangkuman dari cerita pendek. Hanya diberitahukan, "Ini, loh. Inti ceritanya ini. Sudah, yah. Nggak usah tahu cerita lengkapnya kayak gimana."
Yang menarik dari kumcer ini adalah para tokohnya yang serba salah. Tidak peduli apakah tokohnya sarjana atau hanya lulusan SD, dibesarkan oleh kemiskinan atau harta melimpah, tunduk pada adat budaya atau yang berusaha melawan, laki-laki atau perempuan, semuanya pasti mengalami suatu kesulitan hidup. Kadang juga suatu komedi kehidupan yang tragis dan membuat pembacanya turut patah arang. Lalu, setelah itu, pembacanya akan disuguhkan cerita yang manis sebagai penawar pil pahit yang penulisnya berikan.
Cerita-cerita favorit saya antara lain: Senja di Pelupuk Mata, Nyoman Rindi, Anak-Anak yang Tumbuh dengan Sendirinya, dan Bukan Permaisuri.
Buku yang berisi kumpulan cerpen, kebanyakan berkisah tentang perjuangan hidup dan dilema seorang perempuan, Menarik menurut saya, ceritanya diulas secara singkat dan bajasa sederhana sehingga mudah dicerna. Ada beberapa cerpen yang berkesan untuk saya, seperti Senja di Pelupuk Mata. Menceritakan tentang orang tua yang kesepian di masa tuanya karena ketiga anaknya yang sudah berkeluarga dan mulai melupakan mereka, orang tua yang sudah merawat dan membesarkan mereka. Ada lagi cerpen Mirna, Seorang Ibu yang Malang. Kisahnya tentang Mirna, ibu yang sangat memproteksi anaknya dari s3gala hal yang dianggap buruk untuk kesehatannya. Pada akhirnya orang- orang di sekitarnya malah tidak m3nyukainya dan menganggapnya hila. Bahkan suami dan anaknya sendiri tidak menyukai caranya itu, dan Mirna berakhir di rumah sakit Jiwa. Ada juga cerpen yang berjudul Anak - anak yang Tumbuh dengan Sendirinya. Bercerita t3ntang anak-anak yang kurang kasih sayang dan harus menghabiskan waktu dengan pembantu yang kebanyakan kasar dan galak. Orangtuanya sibuk bekerja di luar, dan l3bih menyukai pekerjaan mereka, jadi anak-anak yang mereka tinggalkan tumbuh dengan s3ndirinya. Masih banyak lagi cerpen dengan kisah menarik lainnya di buku ini yang menarik untuk dibaca dan diambil hikmahnya
Peristiwa yg dpt kita jumpai sehari2 namun diteropong secara dalam berbagai nuansa emosi sampai membuat saya kadang merasa...ini toh perasaan itu. Karena saya sadar saya pernah mengalami gambaran emosi tersebut yg tidak pernah sy angkat ke permukaan sy sendiri sesuatu yg tdk terucapkan. Ternyata kini saya tau itu rasa apa..dan sy jd tahu perasaan yg kdg timbul sebagai seorang perasa itu normal. (kdg kita malu mengakuinya, misalnya dpt kita melihat dengan samar, sebagaimana hubungan yg digambarkan dalam cerpen 'Istri') menurut saya samar2 merupakan cara smart untuk menggambarkan situasi keringnya suatu hubungan karena sudah terlalu menjadi biasa. Hubungan pertemanan yang sudah dianggap menjadi terlalu biasa juga bisa membuat seseorang mjd hanya lihat dengan samar2 tidak memperhatikan 'perubahan rona wajah' sahabatnya atau sudah tdk menjadi sesuatu yang...berisi dan bermanfaat seperti seharusnya bagaimana harus selalu support satu sama lain alias menjadi hambar.
Pertimbangan baca kumcer ni adalah karena masuk nominasi KLA. Sayang, kumcer ini lebih kental nuansa jurnalistiknya. Seringkali tanpa kejutan dan terlalu sederhana untuk sebuah karya sastra. Deskripsi psikologis cukup terasa.
Tak semua kisah seorang perempuan indah. Pada nyatanya penulis satu ini benar benar menunjukan kenyataan yang pait tentantang apa yang terjadi sebenarnya. Menjadi perempuan tidak pernah mudah dan menjadi laki-laki memang juga tidak mudah, jadi baik kan kalau saling mengerti. Kisah Dinaya, Liana, Mirna, Istri, Mak, dan Zea membuatku mnegerti mengapa Nyoman Rindi memilih untuk sendiri tanpa laki-laki. Kita semua yang dianggap "normal" pasti berpikir itu adalah keputusan gila. Tapi sejujurnya akupun sekarang sedang merakan hal yang sama, untuk tidak menikah.