Akhirnya selesai.
Sempat tidak percaya untuk baca buku N.H Dini yang tebalnya sekitar 450 halaman ini. Ada pertanyaan, "Yakin gitu?"
Pernah mau DNF ketika sampai di halaman 100-an. Tapi kok ya selesai. Sebab ceritanya itu gak berat-berat amat. Cuman narasinya luar biasa panjang. Berparagraf-paragraf, berhalaman-halaman, isinya narasi aja. Dialognya dikit gitu.
Bagian paling bikin berat membacanya adalah tipografinya yang berspasi rapat, tulisannya kecil, paragrafnya panjang. Hmmm. Btw, saya tidak baca yang bersampul hijau bunga-bunga ini, tetapi yang bersampul gambar wayang dan ada semburat warna-warni. Versi yang saya baca gak terdaftar di Goodreads, jadi gak tahu juga kalo beda isinya.
Tirai Menurun mengisahkan empat tokoh, yaitu Kedasih, Sumirat, Karso (Kintel), dan Wardoyo. Kedasih lebih tua satu tahun dengan Sumirat. Ketika ia masih duduk di SD, ia sering keluyuran ke kota karena malas bersekolah. Hingga, ia bertemu dengan paguyuban wayang wong Kridopangarso. Paguyuban tersebut didirikan dan dikelola oleh beberapa orang, salah satunya Wardoyo.
Pada waktu bersamaan, Sumirat sering datang ke paguyuban tersebut mengikuti teman sekaligus tetangganya, Arum. Lama kelamaan, keduanya ikut latihan dan mulai berminat menjadi pemain wayang wong.
Di lain sisi, ada Kintel yang pindah dari desa ke kota mengikuti kekasihnya yang berkedok jadi mbakyunya bernama Jeng Irah. Si Mbakyu sangatlah kaya sebagai pedagang sehingga sering menyuruh Kintel mengurusi perdagangan ke luar kota.
Saat berada di kota, Kintel beberapa kali bertemu Wardoyo dan menjalin persahabatan dengannya sehingga ia mengenal wayang wong.
Konflik antarpemain wayang wong dan konflik rumah tangga pun mulai bermunculan setelah itu. Hingga, membuat hubungan keempatnya semakin erat sebagai sahabat, sesama manusia, dan sesama pemain wayang wong. Kedekatan itu pula yang memunculkan rasa suka antara tokoh perempuan dan tokoh laki-laki tersebut. Saya tidak sebut siapa nikah sama siapa agar tidak spoiler. Cerita pun berlanjut hingga beberapa tokoh meninggal. Hmm buku ini kayaknya juga termasuk roman.
Cukup ceritanya sampai sini agar suatu saat saya bisa mengingatnya lagi.
Cerita Tirai Menurun banyak mengisahkan sikap hidup orang Jawa. Banyak disebutkan petuah-petuah, seperti jangan 5 m (main, madon, madat, minum, maling. Jangan banyak omong. Bicara seperlunya saja. Dan beberapa ajaran sejenis itu.
Alurnya pun tidak terlalu mbelenduk-mbelenduk. Tipe yang lurus terus, ada tikungan, terus selesai. Karena itu, saya merasa buku ini termasuk roman.
Dan sekali lagi, buku ini ada mirip dengan buku N.H Dini yang lain, panjang-panjang narasinya. Sepertinya ciri khas tulisan N.H Dini memang ada pada narasinya yang indah; kalimat-kalimat yang agak panjang; kesan halus, lembut, tenang.
Cocok buat pembaca yang suka cerita dengan narasi panjang. Gak cocok buat yang suka cerita banyak narasinya dan alurnya lurus-lurus lambat.