Seiring dengan arus globalisasi yang menawarkan banyak wacana, pemikiran dan bahkan ideologi yang tidak jarang bersinggungan dengan ranah ideologi kaum nahdliyyin (ahli Nahdlatul Ulama'), melahirkan berbagai problem yang harus dihadapi dan diberikan jawabannya secara cerdas dan ilmiah.
"Kalau memang Nahdlatul Ulama mengklaim mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal-Jama'ah, mengapa mengikuti madzhab al-Asya'ari, kok tidak mengikuti madzhab ulama salaf yang saleh saja yang memang benar-benar Ahlussunnah Wal-Jama'ah?"
"Apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa madzhab al-Asya'ari itu Ahlussunnah Wal-Jama'ah atau al-firqah al-najiyah?"
"Mengapa Ahlussunnah Wal-Jama'ah hanya mewajibkan mengetahui sifat dua pulu yang wajib bagi ALlah? Bukankah dalam al-Asma'al sifat Husna sendiri, nama-nama dan sifat-sifat ALlah berjumlah sembilan puluh sembilan?"
Tiga pertanyaan menggelitik itu datang pada penulis di forum Seminar. Pertama, dari peserta yang tampaknya beraliran Salafi. Kedua, walaupun lebih baik dari pertanyaan sebelumnya, namun juga menunjukkan bahwa pasa saat ini, hal-hal yang sebenarnya dianggap sebagai ideologi dan keyakinan di kalangan masyarakat, ternyata seringkali digugat kebenarannya. Ketiga, tampak semacam gugatan yang bernada filosofis.
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera dijawab akan memunculkan pertanyaan berantai. Sebab, kesimpulan yang bisa ditangkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa madzhab al-Asy'ari tidak mengikuti ajaran ulama salaf yang saleh, dan pada gilirannya Nahdlatul Ulama bukan Ahlussunnah Wal-Jama'ah?
Nah, dari berbagai pertanyaan itulah buku ini disusun. Di sini sarat akan kajian sejarah, metodologi, sistematika, profil tokoh, ulasan kitab, kesaksian dan pengakuan para ulama, serta dalil-dalil madzhab al-Asy'ari.
Muhammad Idrus Ramli lahir di Jerreng Barat, Gugut, Rambipuji, Jember, 1 Juli 1975. Belajar al-Qur'an, tajwid, dasar-dasar agama, dan gramatika Arab kepada Kiai Nasyith di Pondok Pesantren Nashirul Ulum, selain menamatkan SDN Gugut I tahun 1986. Beliau kemudian melanjutkan belajar ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan (1986-2004).
Beliau pernah mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid Injelan Panggung Sampang Madura (1994), juga mengikuti program studi ke United Kingdom (2003). Di tahun 2005, beliau mengajar di Benua Lima Amuntai Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Beliau aktif di Lembaga Bahtsul Masail NU (2005-sekarang), Lajnah Ta'lif wan Nasyr NU Jawa Timur (2007-2012), dan Lajnah Ta'lif wan Nasyr NU Kencong (2008-2013)
Ada segelintir kalangan, yang biasa disebut sebagai kelompok salafy, yang memiliki slogan kembali kepada manhaj salaf, dan suka mengklaim bahwa merekalah kelompok yang paling ahlussunnah, dan sikap terkenal mereka lainnya dalam menyikapi perbedaan khilafiyah. Di antara sikap terkenal mereka adalah menuduh bahwa madzhab aqidah Asy'ari bukanlah Ahlussunnah, bahkan dikatakan oleh mereka bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy'ari memiliki 3 fase, fase mu'tazilah, fase Asy'ari, lalu fase Salaf dengan menulis kitab Ibanah, sehingga Abu Hasan Al-Asy'ari sebenarnya sudah kembali kepada manhaj Salaf, hanya saja murid dan pengikutnya tidak mau mengikuti pemahaman gurunya.
Benarkah anggapan yang dilontarkan kelompok salafy tersebut? Jawabannya dapat ditemukan di buku yang ditulis oleh Muhammad Idrus Ramli. Fokus pembahasannya adalah tentu mengenai madzhab aqidah Asy'ari, mulai dari sejarah, perkembangan, metodelogi, dan apakah Asy'ari itu ahlussunnah atau bukan?
Secara umum pembahasan buku ini bagus, tapi saya merasa bahwa penulis agak berlebihan ketika membahas tentang kelompok salafy. Saya tahu sikap terkenal kelompok salafy karena saya juga mengikuti perkembangan harakah secara umum, termasuk salafy, tapi jangan karena ada kelompok yang suka zhalim, suka membidahkan/menyesatkan kelompok lain, lalu kita balas dengan balas membidahkan/menyesatkan, berlebihan dalam membalas ketidakadilan mereka. Saya mengharapkan ketika kita mengalami hal tersebut (dibid'ahkan, disesatkan, difasiqkan, dsj), sebaiknya berusaha sebaik mungkin membantah mereka dengan cara dan adab yang baik.
Terlepas dari catatan saya tersebut, buku ini masih saya anggap layak dibaca bagi Anda yang suka mengkaji keIslaman dan atau suka mengikuti perkembangan harakah (gerakan) Islam, juga bagi Anda yang ingin mengetahui lebih banyak tentang madzhab Asy'ari.