Di sebuah desa, berembuslah berita tentang sebuah batu permata berharga milik seorang petapa. Seorang pemuda mendatanginya, dan meminta batu tersebut.
“Ini, ambil untukmu,” kata petapa itu tanpa beban.
Sang pemuda pulang dengan senang, tetapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Hingga keesokan harinya dia kembali ke tempat petapa.
“Hai, orang suci, ambillah permata ini kembali, tetapi berikan hati penuh ikhlas yang mampu memberikan permata ini.”
Itulah sepenggal kisah yang menjadi ilustrasi dalam buku ini. Sebuah analogi yang sangat pas menggambarkan seseorang yang telah menemukan makna KEBAHAGIAAN.
Ya, demi kebahagiaan kita berusaha memenuhi diri dengan berbagai macam fasilitas: harta melimpah, rumah mewah, mobil mewah, kekuasaan, dan lain sebagainya. Tetapi, benarkah kita sudah bahagia? Ataukah kita masih merasa bahwa kebahagiaan itu begitu jauh dari genggaman?
Gobind Vashdev, seorang pembicara multitalenta, menjawab alasan kekosongan manusia dalam menjalani hidup dan memberikan jalan keluarnya. Jalan keluar yang sederhana, tetapi kerap terlupakan. Jalan keluar yang sebenarnya membimbing kita melihat ke dalam, ke diri kita, dan menemukan kebahagiaan sejati.
Gobind lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Surabaya sebelum pindah ke Jakarta dan akhirnya menetap di sebuah desa di Bali yang bernama Ubud. Ia tidak lulus dari S1, namun sejak kecil gobind memiliki ketertarikan yang besar pada pelajaran yang bersifat informal, buatnya setiap orang adalah Guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap jam adalah waktu belajar. Ia senang menyebut dirinya dengan julukan Heartworker, seorang pekerja hati. Menjadi vegetarian lebih dari 20 tahun sama sekali tidak menghambat langkahnya dalam berkiprah di dunia yang dicintainya ini. gobind terus aktif berkeliling ke tempat-tempat konflik dan bencana di Indonesia dalam melakukan aktivitas sosialnya. Ia tergabung dalam berbagai organisasi dan klub sosial untuk menyalurkan kecintaannya terhadap setiap makhluk hidup. gobind menemukan kebahagiaan dalam berbagi dan memberikan apa yang Ia miliki kepada orang lain. Baginya hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya, namun, adalah apa yang bisa kita berikan kepada dunia sebelum kita meninggalkannya. Dalam seminar dan pelatihannya gobind selalu memotivasi orang lain agar terus berbuat sesuatu untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih indah, berpikir cerah, hidup lebih sederhana, pola makan sehat tanpa menyakiti makhluk hidup lain dan perduli pada Alam. Ia tidak menggunakan sabun, shampo, pasta gigi atau bahan-bahan yang mebebani Alam ini. Baginya Alam adalah Guru yang sudah terlalu baik yang patut kita hormati dan pelihara. Selain itu, ia juga selalu mengingatkan bahwa memiliki kesempatan hidup sebagai manusia adalah kesempatan yang tak ternilai harganya, sayang sekali bila harus dikotori hanya untuk kesenangan sesaat. Beratraksi sulap adalah hobby sekaligus sebagai jembatan yang menghubungkan dia dengan kecintaannya yaitu bermain dengan anak-anak. Selain sebagai seorang pembicara di beberapa radio di Jakarta, Surabaya dan Bali, Gobind telah merilis buku perdananya yang telah menjadi Bestseller, berjudul Happiness Inside dan kalender Abadi yg bernama Days of Wisdom.
This book combine famous quotes and stories and linked to writer's own experience which give a deeper understanding on what we might have missed on our daily life.
Simple words used yet makes us think on different perspective.
Thanks for sharing by this book, because it was beautiful and successfully enlighten me. The materials deliver in easy way and understandable words. I've read this book on 2015 but I still remember some of the materials.
Pengantar sederhana dari Gede Prama pada halaman awalnya sudah menarik untuk terus membaca lembar demi lembar halaman buku ini.
Makanya ada yang pernah berpesan kalau kehidupan seperti menggali sumur. Dipermukaan akan bertemu lumpur. Hanya bila terus menggali dlam-dalam bisa menemukan kejernihan.
Saya baru baca sampai halaman 10 nih, tapi pada halaman 7 ada kopi paste yang menarik mengenai Saringan Tiga Lapis dalam menyampaikan suatu ide kepada orang lain ala Socrates. Yakni Saringan Kebenaran, Kebaikan dan Kegunaan. [semoga ada waktu untuk terus menamatkan buku ini... ^_^:]
Buku ini mengajak saya untuk mengkaji ulang makna dari kebahagiaan. Setelah selesai dengan halaman terakhir definisi bahagia yang sudah saya miliki sebelumnya menjadi lebih luas. Bahagia bukan sekedar tujuan hidup yang dengan sekeras upaya diperjuangkan di masa sekarang dengan bersakit-sakit dahulu. Bahagia adalah tentang cara pandang, tentang syukur yang tidak henti, dan tentang bagaimana menjalani hidup.
Gobind mampu membawa kita untuk melihat suatu peristiwa/orang yang menjengkelkan dari sudut pandang yang lain. Sehingga instead of 'mengutuki' momen tersebut kita bisa lebih pintar dalam memaknai peristiwanya.
Punya dan baru selesai baca Bab 1 doang. Kesan saya: buku ini lumayan. Bab-bab awalnya cukup memberi pesan yang baru dan cukup inspiratif.
Dan akhirnya, selesai juga baca buku ini. Isinya memang banyak berisi kebijaksanaan ala timur, seperti review yang udah ada sebelumnya. Beberapa bab membahas topik-topik yang cliche seperti rasa syukur, mental positif, harapan, dkk. Beberapa bab (terutama di bagian2 akhir) terasa lumayan berat (alias dalem), walau tak seberat tulisan Pak Gede Prama.
Buku ini terdiri dari 3 bab besar (alias kategori) dan masing2 terdiri dari beberapa judul tulisan. Berbentuk kumpulan tulisan reflektif dan bukan berbentuk langkah-langkah.
Pokoknya, isi buku ini lumayan "menyegarkan" kok dan cocok untuk dibaca sesekali waktu, terlebih di saat Anda sedang mengalami "kekosongan jiwa".
Light, easy reading, with some beautiful reminders on our beings. The thing that made reading this book so aspiring is knowing for real that Gobind really walks the talk, that he is the embodiment of whatever we get to read in the book.
There's nothing new under the sun tapi buku ini mengingatkan kembali tentang hal-hal yang sudah kita ketahui itu dengan beberapa tambahan cerita menarik yang membuat kita lebih memahami arti kebahagiaan. Ok, teori sudah dibaca, mari dipraktekan.
Cukup tercekat dengan tulisan Gobind Vashdev ini. Pemaparannya mengenai konsep kebahagiaan yang diusungnya cukup menarik untuk diikuti. Bagi pria yang tidak lulus kuliah ini, dengan meminjam istilahnya berupa kedamaian pikiran, bisa diraih salah satunya dengan berusaha untuk mengurai benang kusut yang terjadi dalam pikiran kita.
Perumpamaan terhadap akal pikiran kita, seringkali hanya berakhir seperti kita menemui jalan buntu. Menganggap bahwa di balik tembok besar tersebut sudah tidak ada jalan lagi. Begitu juga, dengan persepsi diri kita bahwa apa yang kita cari itu merupakan sebuah kebenaran yang perlu untuk diraih.
Padahal bila berusaha untuk meruntuhkan penghalang tersebut dengan cercaan pertanyaan kritis, kita akan menemui bahwa perjalanan yang kita telah tempuh tidak ada artinya apa-apa, setelah kita menyingkap apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita. Dalam hal ini, Gobind, menurut saya, dalam upaya meruntuhkan persepsi yang seringkali bercokol sebagai tujuan kita, tampak begitu manis ketika membawakan sebuah cerita yang manis dalam tulisannya berjudul Semut dan Ulat.
Diceritakan bahwa pada saat itu, ia sedang sarapan. Tiba-tiba di dalam sela-sela makanannya tersebut muncul ulat. Barangkali bila kita dalam posisi tersebut, kita akan muntah dan tidak berselera kembali mungkin. Tapi, Gobind, mencoba untuk tenang dan berusaha untuk mengamati pergolakan batinnya antara ingin marah atau tidak.
Saat di sudut lain keinginan untuk marah sedang berkibar. Di pojok lain muncul suara hati kecil lainnya yang mencoba meredam dengan bisikan "Tunggu, mengapa kamu marah?". Bagi saya pertarungan antara bisikan hati Gobind, ketika itu, cukup menarik. Terlebih saat dialektika keduanya menurut saya semakin memanas saat kemudian saat ulah ulat kecil itu berupaya untuk menganggu kenyamanan Gobind. Kemudian ditimbali oleh sebuah pertanyaan bahwa sebenarnya siapa yang pantas menggangu kita atau hewan. Jangan-jangan akibat perbuatan kita, habitat ulat mengalami ketergusuran. Dialog pun masih belanjut dan selengkapnya bisa dibaca di buku tersebut.
Intinya dialog antara batin tersebut sepertinya yang jarang kita lakukan, atau barangkali hanya penulis seorang. Saat di dalam akal pikiran muncul pikiran negatif akan suatu hal lain, kita seringkali menerima begitu saja, tanpa ada proses berpikir panjang, apakah hal tersebut benar-benar negatif? Begitu juga dengan persepsi yang kita anggap positif, sudah benarkan menurut kejujuran hati yang terdalam hal tersebut benar-benar positif?
Cerita singkat itu hanya sekian dari beberapa mutiara Gobind yang berusaha untuk saya sampaikan. Tapi, entah kenapa saya begitu menyukai pergulatan batinnya tersebut. Harus saya akui pengalamannya tersebut memberi sumbangsih kepada saya berupa seperangkat alat dalam mereformasi pandangan saya tentang makna kehidupan. Sebuah pandangan yang masih memuja tentang materi, tanpa menelisik lebih dalam apakah itu benar-benar yang saya cari dalam hidup ini?
Sebagai penutup, saya suka sekali dengan kutipannya "setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap jam adalah waktu belajar". Selamat menemukan makna kehidupan.
Ketika saya mendapatkan buku Happiness Inside ada pesan pena dari Gobind bertulisan “Setiap orang adalah guru”, saya menerima pesan tersebut bahwa kita memang dapat belajar kepada siapa saja. Dan ketika mulai membaca buku ini halaman per halaman, ternyata kalimat tersebut ada dan dibahas pada bab Setiap Waktu adalah Waktu Belajar. Setiap orang adalah guru, setiap orang, meskipun orang itu menyulitkanmu atau memusuhimu. Kahlil Gibran berkata, “Aku belajar diam dari orang cerewet, belajar toleran dari orang yang tidak toleran, dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya aku tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada guru-guruku ini.” Jadikan setiap orang menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah, dan setiap jam adalah jam pelajaran.
Gobind membagi pembahasan buku ini menjadi 3 bagian yang setiap bagian memiliki beberapa bab. Bagian pertama fokus pada pengenalan (Mencari Kebahagian), bagian kedua membahas lebih dalam lagi (Menggali Kebahagiaan), dan bagian ketiga mengajak untuk dapat mencapai hal inti tersebut (Menemukan Kebahagiaan).
Banyak pembahasan menarik yang ada di sini, dan di antara yang paling nyangkut bagi saya adalah tentang kesabaran (Sabar tidak harus Menunggu Tua), bersyukur (Kunci Kebahagian), dan semesta mendukung (Perjalanan Hati). Kebahagian Tidak di Luar, dan Apakah Dunia ini Adil, juga termasuk nyangkut juga.
Orang yang sabar dan tidak sabar hanya dibedakan oleh satu hal yaitu program atau kata-kata yang tertanam dalam otaknya. Bersyukur adalah satu hal yang membawa kebahagian. Tidak peduli berapa uang yang dimiliki, harta benda yang dikuasai, selama tidak ada rasa syukur dalam diri kita, kita tidak mungkin berbahagia. Bahagia dalam diri hanya muncul bersamaan dengan rasa syukur.Sikapi semua hal yang terjadi dalam hidup dengan rasa syukur, sehingga dapat membuat kita lebih bahagia.
Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu maka alam semesta akan bersatu untuk mewujudkan keinginanmu (Paulo Coelho). Syaratnya adalah : benar-benar dan bukan hanya keinginan biasa. Benar-benar adalah hasrat (Passion) atau keinginan terdalam dari dirinya dalam kehidupan ini dan kemudian menginginkan untuk mewujudkan maka secara otomatis dia akan mendapatkan dirinya ditopang oleh kekuatan yang misterius dari alam semesta. Semua itu tergantung niat, keikhlasan, dan kesiapan dalam menerima.Alam semesta selalu siap untuk memberi. Pepatah kuno berkata : Ketika murid siap, guru akan datang.
Akan lebih panjang lagi resensinya jika diteruskan, pada intinya banyak hal bermanfaat yang bisa diambil dari buku ini, setiap orang yang membaca buku ini mungkin akan berbeda jika ditanya bagian apa yang paling menarik, namun semuanya akan mengerucut menuju keingingin untuk mencapai kebahagiaan. Bahagia itu sederhana dan ada di dalam (inside), Intel Inside! Eh, maksudnya Happiness Inside.
"Sebuah ide dalam sebuah buku mempunyai potensi untuk mentransformasi dirimu ke sebuah pencapaian yang tak terkira. Masalahnya, kamu tidak pernah tahu di buku mana ide itu tersembunyi dan menunggu untuk ditemukan".
Rasanya, kutipan tersebut sesuai dengan apa yang saya rasakan begitu membaca buku ini. Buku ini membantu saya mentransformasi diri melihat dari sudut pandang yang lebih baik pada segala hal yang terjadi pada hidup saya. Saya masih ingat sekali, pertama kali membaca buku ini di perjalanan menuju ke kantor menggunakan transjakarta. Tak begitu lama. Hanya beberapa bulan yang lalu. Saat itu tentunya belum ada PPKM hehe. Seperti berada di area abu-abu. Saya menyukuri banyak hal saat itu. But, I wasn't happy. Saya mulai mengeluh. Pada lingkungan. Pada orang-orang.
Buku ini terdiri dari 3 bagian besar: mencari kebahagiaan, menggali kebahagiaan dan menemukan kebahagiaan.
1. Mencari kebahagiaan Manusia adalah makhluk kebiasaan. Kita punya belief system, value dan rules masing-masing. Hal ini yang saya sadari saat itu bahwa ada yang bertentangan dengan apa yang saya yakini. Saya perlu fokus ke dalam. Apa misi hidup saya?. Apa yang benar-benar saya inginkan untuk meraihnya?. Pekerjaan apa yang senang saya lakukan tanpa dibayar sekalipun?. Dari sini, kita dapat hidup dan bekerja karena pilihan, bukan peluang.
2. Menggali kebahagiaan Hidup tidak pernah menuntut. Kitalah yang menuntut diri kita untuk menjadi dan memperoleh sesuatu. Bahkan dalam pencapaian impian tersebut, seseorang rela untuk mengorbankan kedamaian pikirannya. Padahal kita semua sadar bahwa sebenarnya semua impian manusia berujung pada satu hal yang benar-benar dasar yang setiap orang inginkan, yaitu kedamaian pikiran.
3. Menemukan kebahagiaan Apasih yang kita punya. Semua ini bukankah pemberian-Nya?. Tubuh, pikiran, rezeki dan segalanya bukan milik kita. Semua adalah karunia yang kita terima. Untuk itu, sebenarnya manusia tidak pernah kehilangan apapun, karena manusia tidak memiliki apapun. Kalau begitu mengapa kita harus takut?.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang kali ini aku selesaikan pada dasarnya tidak aku baca melainkan aku dengarkan melalui audiobook. Pada awalnya ketika mendengar nama penulis buku ini aku sempat berpikir bahwa buku ini bukan buku dari penulis Indonesia sebab nama penulis dari buku ini tidak terdengar seperti nama orang Indonesia. Akan tetapi, prediksiku tersebut salah besar.
Jujur saja, aku sangat menikmati mendengarkan audiobook dari buku ini. Penulis dari buku ini benar-benar pandai dalam mengutarakan isi pikirannya dengan bahasa yang sederhana nan lugas namun mampu mempertahankan esensi dari topik-topik yang hendak disampaikan. Selain itu, dalam menyampaikan ide mengenai topik-topik tertentu penulis sering kali mengambil beberapa cerita singkat dan bermakna, sejarah, atau kisah inspiratif tokoh dunia dalam mendukung ide pada topik yang sedang dibahas. Tentu saja, hal tersebut mempermudah diriku sebagai pembaca mengerti secara lebih mendalam dengan topik-topik yang dibahas.
Di sisi lain, aku juga menyukai fakta bahwa buku ini mengangkat beberapa isu-isu yang sangat dekat dan relevan sekali dengan pembaca. Salah satunya yang paling aku ingat ialah membahas alasan mengapa kita bekerja yang mana dalam pembahasan tersebut aku sebagai pembaca bisa melihat sisi lain dari alasan kenapa orang bekerja yang tentunya sangat berbeda dengan perspektif yang aku miliki saat ini. Akhir kata, aku bisa bilang bahwa buku ini tentunya cocok sekali dibaca oleh seseorang yang ingin menemukan esensi dari kebahagian itu sendiri.
Dari buku ini, saya sebagai pembaca bisa memaknai kebahagiaan secara lebih luas. Bagaimana cara memandang kehidupan. Bagaimana kita berdamai dengan pikiran dan hati. Bagaimana bahagia dengan membuat orang lain bahagia. Living a life that always see on beauty. Hal lain yang bikin jatuh cinta sama buku ini, bahasa dan cara penyampaian yang sederhana. Jadi ga bikin pusing dan ngantuk. Banyak cerita pendek dan kumpulan quotes dari buku-buku terkenal. Beberapa teori yang disertai dengan riset ilmiah yang mendukung dan dikaitkan dengan pengalaman hidup penulis..
Dari awal udah kaget baca halaman pertama. Karena disarankan untuk menyimpan struk pembelian karena buku ini bergaransi uang. Jadi kalau ngerasa kecewa dengan isi buku, tinggal ditukar cash lagi aja. lalu diinfokan juga, ada penanaman satu pohon untuk setiap buku yang dicetak. I've never found a book that filled with so much love, wisdom and positivity until I read this one. Buat yang suka baca buku nonfiksi sejenis, please don't hesitate to dive into this soulful book.
Saat membaca buku ini, saya mendapatkan sebuah ketenangan di hati. Buku Happiness Inside ditujukan untuk membuka mata para pembacanya, dimana makna suatu hal berubah setiap harinya. Buku ini dipenuhi dengan kisah inspiratif dan nilai-nilai yang dapat membuat para pembaca merenung. Tentang apa? Tentang apa yang ingin mereka capai, tentang kesibukan yang mereka jalani, dan tentunya tentang kebahagiaan. ‘Pilihan’ juga menjadi satu topik besar dalam buku ini, dimana kita bebas untuk memilih, baik itu sudut pandang terhadap suatu situasi atau memilih apa yang ingin kita lakukan di hari esok. Suatu hal yang dapat di highlight adalah hidup penuh dengan pilihan. Secara kesesluruhan, buku ini sangat worth to read karena dapat membuka mata dan juga pikiran para pembacanya.
the best psychology book i read in 2018 so far. Happiness Inside buku dengan penuh kebijaksanaan dengan bahasa yang sederhana dan inspiratif, Gobin Vashdev mengantarkan pembaca untuk memahami hakikat dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
dari gaya tulisannya saya rasa gobin merupakan pribadi yang sangat Tawadhu (rendah hati), meskipun dari aliran Hinduism, gobin tetap menjelaskan kebahagiaan dari semua perspektif agama, jadi pembahasannya mengalir dan enak dibaca, banyak kutipan-kutipan yang inspiratif disertai dengan kisah yang menggugah dan pengalaman-pengalamannya sebagai heartworker (Terapist Hati). Great.
Penyampaian yang sangat sederhana dan sangat mudah dibaca. Di sini Gobind mengumpulkan semua "life wisdom" yang banyak ditemukan di buku-buku dengan genre spiritual self-help. Penulis bukan hanya sekedar membuat kumpulan wisdom, tapi juga banyak anecdotes dan pengalaman pribadi yang diselipkan. Bagi yang masih baru dan belum pernah membaca buku-buku wisdom / spiritual, buku ini akan menjadi buku yang berguna sekali dalam hidup siapapun. Namun bagi yang ngeh dan familiar dengan apa yang disampaikan dalam buku ini sekalipun, membaca buku ini tetap menjadi bacaan sederhana yang menyejukkan karena mengingatkan kita kembali untuk mempraktekan hal-hal tersebut.
Dari buku ini, penulis mengajak kita untuk selalu menjadikan hal apapun sebagai pelajaran, menjadikan semua guru kehidupan dan menjaring hikmah dalam setiap peristiwa.
Bahasa yang dibawakan cukup renyah, mudah dipahami, padat dan tepat sasaran.Tujuan dari terciptanya buku ini cukup berhasil membuat para pembaca tersadarkan akan makna kebahagiaan. Cari jalan ke dalam.
Sebuah karya tulisan yang menenangkan hati. Membaca setiap kata demi kata yang ditulis oleh Gobind seakan membangkitkan rasa dan jiwa yang selama ini tertidur, kembali menjadi disadarkan karena terlalu banyaknya kebahagiaan dalam diri kita yang dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal
i read this book as a child, and some of the stories still pop out in my mind from time to time, so this is a book that definitely play a part in my childhood life :)
Buku ini sangat singkat namun menampar saya sangat kuat. Penulis mengajarkan kita untuk hidup lebih sabar, merubah pola pikir dan yang paling penting adalah untuk melihat hal kecil di sekitar kita dahulu. Kita harusnya lebih menyadari hal sederhana di sekitar kita.
A fun read. Easy to understand and lots of stories to learn from. It gave me a new insight on how I should change my glasses to see new perspectives rather than changing the outside. Happiness can be achieved just by searching inside ourselves. Love it.
Awal aku baca buku ini tertarik dengan preview di google play store. Bagus. Dibagi menjadi 3 bab tentang kebahagiaan. Hanya saja sepertinya ada beberapa isi didalamnya yang sudah aku sempat baca di buku self improv lain... jadi... agak membosankan
Bersyukur tahun ini ketemu banyak buku non fiksi yang bagus dan recommended. Ini salah satunya. Berisi life guide, ringan tapi ngena sampai ke aspek private dalam kehidupan saya.