Jump to ratings and reviews
Rate this book

Vandaria Saga

Sang Penantang Takdir

Rate this book
Takdir menggiring Deus untuk bertemu dengan Ratu Seraph. Namun, cinta yang tumbuh antara seorang pengawal dan Ratunya itu adalah cinta terlarang. Demi membuktikan kesungguhan cintanya dan kepantasan dirinya untuk bersanding dengan sang Ratu, Deus menyanggupi tantangan untuk membantai sembilan naga legenda. Para naga terakhir, penguasa Vandaria.

Berbekal cinta dan senjata pusaka, Deus siap menantang takdirnya sendiri.
Dia adalah...
Sang Penantang Takdir.


“Vandaria Saga is the next ‘The Lord of the Rings’! Fantasy universe buatan anak bangsa. Saatnya karya Indonesia mendunia.”
—Billy Christian, Sutradara Sanubari Jakarta dan Hi5teria

“Jika ada yang bertanya, yang mana kisah utama Vandaria? Baca novel ini. Kisah Deus X Seraph adalah flaghsip title. Awal dari segalanya!”
—Robbi Baskoro, Founder Duniaku Network

“Kombinasi sempurna antara cerita menawan, ilustrasi indah, dan semesta yang begitu memesona. Inilah novel fantasi idaman.”
—Yunianto Kristiawan, Pimpinan Redaksi majalah Zigma

402 pages, Paperback

First published July 1, 2012

12 people are currently reading
137 people want to read

About the author

Ardani Persada Subagio

2 books41 followers
Published author of two fantasy books of Vandaria Saga, Ardani Persada Subagio usually roams the internet realm as Author_Dani. Though, people may not realize it was him since he prefers to silently blogwalk in someone else' blog. Sometimes, lurking in a frequent blog or forum without even saying a word.

Avid reader who got influenced by many genres, he hoped to be able to write in multiple genres as well. Though, that is easier said than done.

If you want to say hi to him, please bring some cookies. Doughnuts are also acceptable.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
48 (41%)
4 stars
32 (27%)
3 stars
25 (21%)
2 stars
8 (6%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Erwin Adriansyah.
Author 3 books6 followers
July 16, 2012
Dari pengalaman kami di sebuah forum kecil nun jauh di ujung internet, saya sangat yakin sang penulis tentu tahu bahwa bila saya meresensi cerita, saya tidak akan setengah-setengah dan pantang mempermanis penilaian. Bila jelek, saya akan bilang jelek, bila bagus, baguslah kata saya. Hal itu tidak berubah (mudah-mudahan tidak akan pernah berubah), dan Sang Penantang Takdir bukan pengecualian.

So … just turn off the light, Darling, you know I won’t bother with lubes because I’m going in dry, like usual, HOAHAHAHAHAHA


Sampul

Seraph dan Deus, posing all badass because shit just got real … not! Okay, seriously, menurut saya sampul ini … biasa. Secara teknis nggak jelek cuma yaaa nggak istimewa juga. Warnanya agak kelam, tapi kalem. Nggak exciting, nggak ngejreng, nggak kick ass.

Saya juga agak gimanaaa gitu sama pemilihan karakter Seraph sebagai pendamping Deus dalam sampul ini. Sure, dalam lore utamanya Seraph adalah karakter sentral dalam cerita Deus. But let’s face it, meski di novel ini dia penggerak utama di balik petualangan Deus, dia tuh nggak lebih dari karakter pembantu. Azul, Borr, dan Arhan jelas lebih pas dan sesuai sama pose grup yang menjadi standar petualangan rame-rame ala Vandaria.

Di sisi lain, saya juga melihat standar pose grup itu juga rada tergantikan sama pose duet. Harta Vaeran dan Ratu Seribu Tahun nampilin grup utama di sampulnya, tapi Kristalisasi, Takdir Elir, Hailstorm dan yep, Sang Penantang Takdir cuma nampilin dua karakter. Tren pose grup sepertinya akan kembali dengan Tabir Nalar … Okay, I’m positively blabbering. Moving on.


Cerita

Cowok naksir cewek, cewek kasih persyaratan berat, cowok sukses ngelaksanain persyaratan berat, cewek mangkir dan ngegagalin cowok dengan tindakan kotor. Yep, the boys always got screwed over by the girls. Happened to Sangkuriang, happened to Bandung Bondowoso, and Deus is no exception. Meh.

Intinya, Deus naksir Seraph, Seraph minta Deus ngebantai sembilan naga legendaris dan selanjutnya seperti paragraf di atas. Dan di sinilah berbagai kelemahan cerita Sang Penantang Takdir menampakkan dirinya.

Oke, Deus naksir sama Seraph, tapi terus terang, naksir tuh kata yang kelewat baik. Kata yang tepat adalah nafsu. Yep, Deus nafsu sama Seraph, because let’s face it, Seraph is hot, pakaiannya mengumbar syahwat dll, dst, dsb, and so on and so forth. It is purely a physical attraction karena karakteristik Seraph yang membuat dia tolerable, let alone likeable or *gasp* loveable, tuh, nol besar. Dia digambarin sebagai wanita yang dingin, all business. Kindness? Sense of humor? Nope, nothing to see here, moving on.

But you know what, nafsu Deus ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Seraph ternyata sama bernafsunya terhadap Deus. Ini yang bikin saya rada euh. Bukan apa-apa, Seraph itu ratu penguasa berusia ribuan tahun, Deus itu baru berusia sekitar tiga puluhan tahun. Dari umur aja udah keliatan, kan? Seraph tuh cuma mau boy toy doang karena dari segi kedewasaan, nggak akan ada yang menarik mengenai Deus di mata Seraph. Sama kayak orang umur tiga puluh tahun yang nggak akan mandang anak umur dua tahun sebagai calon pendamping yang layak karena emang anak umur dua tahun tuh bukan materi pasangan hidup yang menyenangkan.

Tapi tentu kita nggak menutup mata bahwa ada orang-orang tertentu yang suka sama anak di bawah umur. Dan kita punya satu kata untuk menggambarkan orang kayak gitu, kan ? ;)

Selanjutnya, mari kita bahas soal sembilan naga legendaris tersebut. Simpel aja, mereka naga legendaris paling overrated yang pernah saya temui dalam karya fiksi dan sama sekali nggak sesuai sama konsep naga legendaris, setidaknya yang ada di benak saya.

Mau tau konsep naga legendaris yang ada di benak saya? Cukup satu kata, Deathwing.

Kontras dengan Deathwing, naga-naga di SPT terasa lemah. Bukan lemah untuk ukuran naga kelas legendaris, tapi lemah untuk ukuran naga biasa. Dan secara nggak langsung SPT mengakui bahwa naga-naga itu nggak menarik dan duel melawan mereka tuh membosankan. Bukti nyata tak terbantahkan, pertarungan melawan setengah dari jumlah naga tidak disampaikan sama sekali. (Pertarungan melawan empat naga dilewatkan begitu saja, sedangkan duel melawan Regole dilewatkan sampai ke pertengahan, jadi praktis hanya setengah duel. So, pas 4,5 naga toh?). Novel ini praktis bilang, “Eh, tadi si Deus mau lawan naga pertama, kan? Guess what, sekarang dia udah ngabisin tiga lhoo.” Terima kasih banyak.

Tadi saya sudah bilang bahwa mereka lemah, dan buku ini menunjukkannya dengan jelas sekali. Deus dan rombongannya membantai tiga naga pertama tanpa kesulitan sama sekali sampe novel ini tidak mau repot-repot menjabarkannya, juga tanpa bantuan orang lain. Naga keempat punya kekuatan angin dan kecepatan tinggi, dan apa yang dia lakukan dengan kemampuannya itu? Melarikan diri! Tiga orang, ngebantai tiga naga legenda dengan begitu mudahnya tanpa bantuan, dan bikin naga keempat lari tunggang langgang, itu artinya para naga itu lemah banget, kan? Either that atau emang rombongan Deus super duper powerful. Atau bisa jadi mereka emang lemah DAN rombongan Deus emang super duper powerful.

Gimana nggak? Borr yang kemampuan utamanya cuma berubah jadi monster gede nggak pernah ragu untuk mano-a-mano lawan naga legenda. So, kalo karakter yang modalnya cuma adu tonjok doang aja udah cukup buat lawan naga legenda, pasti ada yang salah dengan naga legenda tersebut.

Oh, sebenernya ada sih yang rada mirip sama Deathwing yaitu Molossis. Empat Raja Surgawi gentar, sementara Ratu Seraph dan pasukannya gagal total ngelawan Molossis, tapi tebak butuh berapa orang untuk ngalahin Molossis? Dua.

Jujur saya tidak pernah main World of Warcraft, tapi saya cukup yakin butuh lebih dari dua pemain untuk mengalahkan Deathwing. Seriously, ada yang sangat salah dengan keseimbangan kekuatan di Vandaria.

Saya juga merasa seharusnya naga-naga itu lebih tepat disebut ayam legendaris. Yep, ayam. Kenapa ayam? Karena taktik dan strategi yang dipake Deus dkk mengingatkan saya akan permainan dari masa kecil saya yaitu menangkap ayam. “Eh, kamu nguber dari sana ya, nanti kalo tuh ayam ke sini, nanti kami yang sergap.” Dan kalo diliat dari ukuran kekuatan, kayaknya mereka lebih pas disebut ayam legendaris, kuat, menakutkan, tapi tetap aja ayam.

Oke, cukup soal naga ya? Udah sangat detail toh?

Next, Deus. Untuk ukuran prajurit elite, dia nggak tau cara bertarung yang efektif. Cek duel lawan Borr di halaman 71-72. Dia menggunakan sihir yang membutakan lawan … sekaligus dirinya sendiri.

Tau granat flashbang? Konsepnya sama. Silakan tanya sama diri sendiri, orang yang melempar granat jenis itu akan melototin itu granat sampe meledak nggak? Nggak kan? Senjata makan tuan namanya! Dan hasilnya jelas, serangan Deus meleset kena tanduk Borr. See? Biar pun Deus udah menghapalkan posisi Deus, dia lupa soal tanduk Borr. Lupa … atau nggak liat? You decide.

Daaaan, juga ada insiden konyol di mana Deus kesetrum apaaa gitu di dasar danau yang seharusnya bisa dicegah dengan kalimat ala “Eh, Bro, lu cuma boleh liat doang ya, jangan make acara pegang-pegang, ntar kesetrum,” dari si Flavor Flav. Di sisi lain, insiden itu terasa banget cuma untuk kasih kesempatan buat flashback si Azul sama konconya Gazeraht waktu ngalahin Molossis.

Daaaaaan, bicara soal Azul, sumpah nih orang kelewat over powered. Di pengenalan tokohnya dia disebut sebagai penyihir. Wait, bukannya Vandaria nggak kenal konsep penyihir mengingat semua frameless and separuh frameless bisa menyihir/magic/make mana? Separuh frameless kali maksudnya, bukan penyihir.

Dan mungkin saking kuatnya, cerita ini terkesan nggak punya pilihan selain matiin dia biar nggak saingan sama Deus. Dan mengingat Deus udah nyerap kekuatan (hampir) 8 naga pada saat itu, mungkin itu pilihan terbaik. No, I’m not sorry for Azul.

Belum lagi Arhan dan Borr yang mulai bertingkah kayak pasangan anime yang klise dan boring abis.

Dan saat ini ini saya sudah tidak ambil pusing lagi soal frame of mind nya frameless or the lack thereof. Di benak saya, mereka cuma ras penyihir biasa. Easier that way karena toh frameless di SPT juga manusiawi sekali.

Tapi setelah berpanjang lebar dengan segala kelemahannya, saya akan mengakui bahwa bagian akhirnya, duel Deus lawan Zirnitra tuh dahsyat. Menegangkan, cepat dan seru. Seharusnya seperti itulah SPT sejak awal. Tapi ya sudahlah, setidaknya bagian akhir itu menandakan bahwa cerita sambungannya masih ada harapan.


Penulisan

Saya akan bicara terus terang, di beberapa bagiannya, dialog SPT tuh luar biasa, menyentuh, keren, brilian! Bukan hanya untuk standar fiksi fantasi Indonesia, tapi untuk standar fiksi Indonesia (setidaknya menurut saya). Sisanya, nggak segemilang itu sih, cuma potensinya ada!

Oke, dialog memuaskan. Gimana narasinya? Kurang, sangat kurang.

Pertama, penulis terasa nggak kreatif. Berkali-kali analogi “seperti singa” dan “angin berbisik” muncul. Saya sebenarnya nggak terlalu musingin, cuma kalo berulang-ulang dan sampe bikin saya, “lho, kok singa/angin berbisik lagi sih?” itu tandanya perlu diperbaiki.

Repetisi juga muncul di banyak bagian lain. Salah satu contoh parah:

Matahari mulai menapaki puncak tertingginya ketika kumpulan domba melewati pintu gerbang. Awan gelap terlihat membayangi, seakan tak rela matahari menghujani rumput dan padang sepanjang hari. Sang anak lelaki menghabiskan siang hari bersama suara domba yang giat mengunyah rumput. Tidak melupakan pesan sang ayah kepadanya sehari sebelumnya.

Itu dari halaman 13. Matahari, hari, dan hari dalam matahari. Repetisi tiada henti.

Selain itu narasinya dipenuhi purple prose yang sumpah bikin berat bacanya, terutama di bagian prolog. Saya sempat ragu untuk terus membaca karena prolognya saja sudah membuat saya enggan.

Contoh nomor 1:

Lembutnya permadani di bawah kaki sekana memijit seluruh tubuh saat sang pria membuat langkah-langkah kecil dalam kamar yang penuh hiasan indah yang tidak akan bisa didapatkan dari daerah padang pasir.

Contoh nomor 2:

Sinar matahari yang menerobos kamar mulai bergeser, menciptakan beberapa bayangan kecil pada sudut-sudut yang tak terlihat. Pada hari biasa, bayangan seperti ini akan memberitahu sang pedagang bahwa sudah waktunya ia turun ke toko dan berbasa-basi dengan pelanggan yang datang, menjaga mereka tetap senang.

Itu dari prolog halaman 2 dan 3. Cukup jelas, kan?

Selanjutnya analogi. Terus terang, analogi-analogi yang digunakan di SPT tuh questionable at best, and downright ugly at worst.

“…dengan langkah secantik daun-daun yang merah berguguran…”

Itu dari halaman 57. Saya sudah cukup sering melihat daun-daun merah/cokelat/kuning berguguran. Menurut saya “sendu” adalah kata yang paling cocok untuk analogi yang melibatkan mereka. Questionable.

“Sebelah tangannya membawa golok lebar seukuran domba tergemuk.”

Itu dari halaman 16. Golok dan domba tergemuk don’t mix, kecuali kalo goloknya dipakai buat motong/nyembelih domba tergemuk. Ugly.

Okeh, saya rasa cukup untuk penulisannya. Resensi ini juga sudah lima halaman. Dan mungkin Anda sebagai pembaca sudah jemu. So, lanjut!


Lain-Lain

Sang Penantang memberikan bonus berupa pembatas buku dan ilustrasi. Ilustrasinya sendiri menarik, tetapi ilustrasi di halaman 60, 74-75, 172-173, dan 236-237 terasa terlambat karena narasinya telah masuk ke bagian baru. Selain itu juga ada daftar istilah yang dapat membantu pembaca memahami istilah-istilah Vandaria yang ada di dalamnya. Secara keseluruhan mereka memberikan nilai tambah bagi SPT.


Kesimpulan

Saya sangat, sangat, sangat, sangat ingin menyukai, maaf, mencintai SPT, tetapi berbagai kelemahannya terlalu banyak untuk saya abaikan begitu saja. Penulisnya sendiri menunjukkan kilau-kilau cemerlang yang jujur membuat saya terpesona. Karena itu saya tulus berharap sedikit banyak resensi ini dapat membantu penulisnya menjadikan kilau-kilau tersebut sebagai standar dalam karya-karya berikutnya.

Dua bintang, bukan karena tak sayang atau benci.

Dua bintang, karena penulis dapat menulis yang jauh, jauh lebih baik lagi.
Profile Image for Ardani Subagio.
Author 2 books41 followers
July 13, 2012
Aku biasanya ngga ngasih bintang/review buat novelku sendiri. Tapi buat yang satu ini, kayanya pantes jadi perkecualian.

Beberapa orang mungkin sudah tahu kalau aku tahu Vandaria sejak sebelum novel pertama diluncurkan. Aku juga salah satu pemain kartunya yang ikut menikmati hangat dan serunya komunitas VW Surabaya. Aku sering ikut event2 pertandingan VW yang ada di Surabaya. Dan sering juga berdiskusi tentang kartu dan ceritanya dengan sesama Guildsmen (sebutan untuk pemain Vandaria Wars).

Karena itu, aku sudah kenal sosok Deus semenjak lama. Aku tahu kisah cintanya, perjuangannya, dan semua yang membuat dia terasa "epic" dalam sejarah Vandaria. Karena itulah, ketika ditunjuk menjadi orang yang akan membukukan kisah awal perjalanan Deus, aku menjadi sangat semangat. Mungkin malah terlalu bersemangat.

Mungkin karena terlalu bersemangat itu, aku menjadi kurang fokus pada masa awal menulis novel. Draft awal Sang Penantang Takdir ini.... sangat tidak seperti cerita novel. Lebih mirip diari/kumpulan kisah dari seseorang yang mengekor perjalanan Deus. Terlalu banyak memuji, terlalu pretensius, dan berbagai "terlalu" lain yang membuat draft awal ini ditolak.

Sampai tiga kali.

Ketika menulis ulang novel ini untuk yang ketiga kalinya, bisa dibilang aku luar biasa down. Totally devastated. Deus yang (waktu itu) aku anggap keren, sangar, gagah, dan berbagai atribut jagoan hebat/keren/super sangar lainnya ditolak mentah2. Disuruh scrap ulang dari awal. Benar2 mengulang dari nol sampai tiga kali. Beberapa karakter yang sudah aku masukkan pun ada yang akhirnya harus dibuang total dari cerita.

Really painful, but it allows me to see things with clearer eyes.

Barulah pada waktu itu aku sadar Deus buatanku terlalu Gary Stu. Terlalu terkesan jagoan pada porsi yang tidak semestibnya.

Dan aku pun merombak ulang. Sampai melupakan waktu tidur dan makan. Aku pun membaca beberapa novel fantasi lain sebagai sumber research dan inspirasi bagaimana membuat novel yang lebih baik.

Pada akhirnya, aku berhasil.

Deus tidak lagi terasa (terlalu) Gary Stu. Karakter naganya lebih "menempel" pada cerita. Beberapa karakter seperti Azulmagia, Halicarnassus, dan Cartegra juga lebih terpoles dari sebelumnya.

Begitu aku dapet kabar kalo Sang Penantang Takdir akhirnya "ready to be published", it felt like rain after long days of summer draught.

Sang Penantang Takdir akhirnya diterima, atau paling tidak, dianggap cukup layak untuk diterbitkan. Aku masih perlu menambah dan mengurangi beberapa adegan, editing di berbagai bagian cerita, but at least I didn't have to start form zero. Again.

I know it's still less than perfect. Still have quite a few holes, missing plot lines, some character didn't reach enough to the readers. But I've done what I could, with the power and time given unto me.

Now, it's already out there. On the shelves. Ready to challenge destiny, no matter how hard and cruel they may be.

And like someone once said, an author is only as good as his next project.

If this is deemed not good enough, I will not complaint.

I will make the next one better.

And the next one after that.

And I will never give up.
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
July 12, 2012
Sang Penantang Takdir merupakan buku yang lumayan ditunggu dalam seri novel Vandaria Saga, karena mengetengahkan sosok Deus, tokoh sentral yang bisa dibilang adalah tokoh paling berpengaruh dalam seri ini.

Tapi sebelum membahas soal novelnya sendiri, saya mau menyatakan satu hal: jika kalian membaca SPT karena berharap akan mendapatkan sesuatu seperti Hailstorm-nya Fachrul RUN, kalian bisa jadi akan kecewa. SPT itu cerita yang sama sekali berbeda. Kualitasnya termasuk bagus untuk standar novel fantasi Indo. Tapi ini makhluk yang 'beda' dari Hailstorm dan bisa jadi takkan mudah disukai oleh kalangan pembaca yang sama.

Pertama melihat novel ini di toko buku, percayalah, saya juga merasa sampulnya 'enggak banget'. Sinopsis di halaman belakangnya menurut saya agak 'keju' dan terus terang saya jadi merasa malu sendiri karena diperhatiin dengan cara yang aneh oleh mas-mas dan mbak-mbak yang ada di kassa. (Gila, jadi waktu itu memang aku yang pertama beli?!) Tapi sewaktu aku membuka halaman dalamnya, aku dibikin lumayan terkesima karena penataan paragrafnya luar biasa rapi dan ada ilustrasi peta yang lumayan baik. Meski tak sampai menggambarkan bentang alam seperti gunung dan padang rumput, peta tersebut memperlihatkan jarak dan posisi dari berbagai tempat penting yang menjadi latar di novel ini. Lalu memandang gambar itu saja saya langsung mendapat perasaan kalau mungkin, mungkin loh ya, novel ini bakalan epic. (Aku juga udah denger soal rekonstruksi hikayat dan mitologinya, jadi aku enggak akan banyak berkomentar soal itu selain mengatakan kalian di tim kreatif telah melakukan pekerjaan bagus.)

Inti ceritanya adalah seputar perjalanan seorang pengawal muda namun sakti bernama Deus. Karena memendam perasaan cinta terhadap junjungannya, Ratu Seraph penguasa negeri Edenion, Deus diharuskan untuk membuktikan 'kelayakannya' untuk melakukan hal yang mustahil, yakni memburu dan membantai sembilan naga legenda yang konon secara berkala menciptakan kekacauan di tanah Vandaria yang ajaib. Dibekali pedang sakti Ouroboros yang merupakan peninggalan seorang raja hebat di masa lampau, Deus berkelana mengelilingi Vandaria bersama teman-teman seperjalanannya, tanpa menyadari perubahan besar yang akan terjadi akibat perjalanannya ini.

Karena pernah membaca novel Mas Ardani yang terdahulu, Ratu Seribu Tahun, saya langsung terkesan oleh tata bahasa dan gaya narasi beliau yang menurut saya jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Porsi deskripsinya lumayan banyak, dan metafora yang digunakannya kerap agak aneh. Tapi asal kau intens membaca, kau tetap bakalan 'ditarik' ke berbagai tempat eksotis yang Tanah Utama Vandaria miliki, dan mungkin bisa tenggelam dalam panasnya adegan-adegan pertempuran yang novel ini sajikan.

Mengingat ini genrenya petualangan, ada lumayan banyak adegan aksi keren di novel ini. Mungkin karena gaya narasinya yang bertutur seperti itu (jadi lebih banyak ke tell daripada show, cara cerita yang masuk akal dalam konteks novel ini), adegan-adegan aksinya tak benar-benar bisa dibilang menegangkan. Tapi bagi saya setidaknya, adegan-adegan aksinya lebih ke memberi efek 'wah' dan penuh dengan aksi-aksi yang lebih bikin saya 'wow'. Tapi sekali lagi, bukan rasa tegang atau emosian yang saya rasakan. Rasanya beneran lebih seperti saat saya pertama nonton rekaman video dari game aksi God of War. Bikin mata terbeliak, lumayan membuat terpukau, sekaligus terpaku. Tapi sekali lagi, itu juga cuma kalau kau bisa cukup menikmati narasinya.

Nah, soal plotnya sendiri. Mungkin... ini yang agak jadi ganjalan ya. Tapi bukan ganjalan sebesar yang pernah ada di novel-novel pendahulunya sih.

Kelemahan pertama SPT ada pada karakterisasinya. Secara konseptual, baik Deus maupun teman-teman seperjalanannya bisa dikatakan menarik dan lumayan gampang disukai. Tapi mungkin karena struktur penceritaannya yang agak... yah, nanti kujelaskan, tindakan yang mereka lakukan dan perkembangan sifat yang mereka alami kadang agak sulit ditelusur proses terjadinya bagaimana. Daripada OOC, rasanya seperti ada bagian narasi yang dipotong atau hilang. Mungkin sebagai dampak dari hasil pengeditan.

Adegan saat Deus pertama bersahabat dengan pengemis misterius yang kemudian menjadi mentor sekaligus sahabatnya, Azulmagia, misalnya. Sebelumnya, hubungan mereka lebih seperti dua orang unik yang hanya saling menyadari kehadiran satu sama lain. Tapi lalu tiba-tiba, entah dari mana, tahu-tahu saja telah ada hubungan saling percaya antara keduanya, yang ditandai dengan bagaimana Azul mengajari Deus sebuah trik untuk mengatasi sebuah tantangan. Lalu diperlihatkan pada pembaca bagaimana Azul sebenarnya terbilang sangat sakti; tapi tak ada tanda tanya apapun yang Deus perlihatkan berkaitan statusnya yang aneh ini. Prosesnya terasa tak wajar dan benar-benar membuat saya mengernyit. Ini bukan masalah logika cerita sih. Tapi lebih ke kemulusan narasi di pikiran pembaca.

Lalu sesudah saya perhatikan, benar-benar ada banyak hal yang diceritakan hanya selintas dalam narasi, tapi sebenarnya saya harap dapat sorotan lebih. Daftar dari hal-hal tersebut sudah saya buat sebagai berikut.
1. Proses pengujian yang dijalani Deus sebelum terpilih menjadi pengawal.
2. Tugu batu hitam di Tirai Salju dan kaitannya dengan Imperium Penunggang Kuda.
3. Kali pertama Deus berhadapan dengan naga legenda. (tak semua konfrontasi naga dikisahkan)
4. Kali pertama Deus merasakan keistimewaan Ouroboros. (menyerap kekuatan dan ingatan lawan-lawan)
5. Motivasi persisnya yang memicu pembentukan Persekutuan Takdir dan alasan orang-orang tertentu bergabung. (ini bisa saya pahami dari konteks cerita, tapi tetap agak gaje)

Ada beberapa yang lain, tapi yang paling saya ingat jelas adalah lima itu. Alasannya mungkin karena struktur penceritaannya yang agak seperti 'cerita di dalam cerita'. Jadi ceritanya, kisah petualangan Deus yang membantai naga itu 'diriwayatkan' oleh seorang tokoh penting lain dalam cerita. Cara periwayatan tersebut bisa saja menjelaskan kenapa ada kejadian-kejadian yang 'luput diceritakan.' Tapi tetap saja pada saat dibaca, kesannya jadi sedikit aneh. Kayak ada halaman-halaman yang lepas dan hilang dari buku.

Lepas dari itu, saya membacanya cukup lancar, entah mengapa. Mungkin karena jumlah halaman per babnya sedikit, dengan jumlah bab yang diperbanyak. Jadi walau kesannya tebal oleh kata (bersifat deskriptif, lagi!), sebenarnya baca SPT enggak susah, asal kau runuti semuanya baik-baik. Enggak sesulit atau sebertele beberapa novel fantasi lain.

Soal kelemahan-kelemahan lainnya...

Ada temanku dulu pernah bilang bahwa kalau apa yang berarti baginya dalam sebuah cerita fantasi cukup dua hal: 'kerapian dalam menulis' dan 'makna cerita'. SPT sudah bisa dibilang lumayan rapi dari segi penulisan. Jelas tak cocok buat semua orang. Tapi sewaktu saya baca, yang terngiang di kepala saya adalah gaya bercerita beberapa novel fantasi asing yang pernah kubaca, yang memang bertempo lamban dengan gaya bahasa agak nyeleneh, tapi konon mendapat banyak penilaian bagus dengan kelompok penggemar yang antusias.

Salah satu hal yang saya khawatirkan dari SPT adalah karena novel ini benar-benar menjadi yang pertama dari jenisnya di Indonesia. Ini mungkin adalah novel fantasi lokal pertama yang sepenuhnya sesuai dengan standar ketetapan novel fantasi yang ada. Maksudku, dengan peta dunia yang rinci, struktur dunia yang sudah jadi, dsb. Yah, kayak novel-novel LOTR-nya Tolkien atau TWoT-nya Jordan. Tapi karena itu pula, pangsa pembacanya masih belum sepenuhnya terbentuk. Belum banyak yang bisa menikmati tema ceritanya dan gaya penceritaannya. Lagipula, mana ada novel yang sepenuhnya cocok buat semua orang, 'kan?

Lalu soal makna, karena novel ini sendiri 'berhubungan tapi tak sepenuhnya terkait erat' dengan lanjutannya, Sang Raja Tunggal, ada banyak hal yang masih tersamar terkait hal ini. Seperti, apa kesimpulan akhir dari perjalanan Deus? Apa pelajaran yang akhirnya ia dapatkan? Apa alasan yang membuat perjalanannya jadi harus dilakukan? Apa yang mula-mula membuat Edenion harus ada dan menggantikan kekuasaan kaum manusia di Vandaria? Bagaimana pula hubungan sebenarnya semua ini dengan para naga? Apa Deus dan Seraph sungguh saling mencintai? Apa perasaan yang mereka miliki terhadap satu sama lain sebegitu mudahnya jadi terdistorsir karena keadaan?

Intinya, apa makna sebenarnya yang berusaha disampaikan dari cerita ini?

Karena jujur saja, akhir cerita yang disampaikan di novel ini sama sekali tak terasa seperti akhir. Bukannya enggak ada. Hanya belum jelas. Seandainya saja aspek makna ceritanya lebih jelas, mungkin saya bakal ngasih novel ini nilai penuh. Tapi kalau nilai penuh itu bisa kusimpan buat SRT kelak, kurasa itu juga enggak apa-apa.

Tapi segala kelemahan ini sebenarnya wajar bila kita mengingat kembali asal mula Vandaria Saga itu gimana. Maksudnya, Mas Ardani sebagai penulis beneran telah melakukan pencapaian yang gila (dan sebelumnya dipandang oleh beberapa skeptisisan enggak mungkin!) dengan rekonstruksinya atas kisah Deus ini. Soalnya perjalanan Deus dalam membantai naga ini bermula dari konsep awal yang benar-benar tak jelas (Mas Ami, maaf! >.< ). Karena itu, SPT menjadi sesuatu yang sebaik ini saja sudah merupakan prestasi luar biasa. Pokoknya, terasalah kecintaan yang Mas Ardani punyai terhadap dunia Vandaria ini. Dengan tahan melakukan revisi berulangkali dan sebagainya.

Oh ya. Ada satu kelemahan lain dari SPT yang lumayan mengganggu sih. Minor, sebenarnya. Tapi itu ada hubungannya dengan cara Mas Ardani menarasikan penampilan tokoh-tokoh wanitanya. Maksudnya, pemaparan-tentang-keindahan-tubuh-beberapa-tokohnya yang kerap muncul begitu saja di tengah adegan-adegan dramatis. Bayangin, kita lagi tengah-tengah membayangkan pemandangan hutan ajaib yang menakjubkan, atau kengerian yang dibawa oleh masing-masing naga legenda, lalu soal ITU dengan tiba-tiba aja disinggung, gitu. Serius, meski di awal-awal saya masih bisa nerima, menjelang akhir saya beneran sudah enggak tahan buat ngemplang muka Mas Ardani make sendal. (Padahal adegan-adegan setiap naga itu keren abis lho. Kerasa wibawanya. Serius.)

Oh, sehubungan dengan itu juga, eh, ato mungkin engga juga sih; yah, pokoknya, ilustrasi dalam buku ini dibikin oleh ilustrator favorit fans TridentH. Desain karakternya untuk Deus dkk memikat seperti biasa. Ilustrasi per babnya kurang apaaa gitu. Tapi saya kurang yakin apa. Namun sebegitu saja sudah cukup untuk memberikan efek dan nuansa cerita yang dihadirkan di tiap bagian.

Lalu sebagai penutup repiu nan panjang ini, izinkan saya sedikit curcol lagi.

Sesungguhnya, sesudah membaca novel ini sendiri, mungkin karena enggak enaknya perkembangan hubungan antara Deus dan Seraph, saya... SAYA INGIN MELIHAT KEDUANYA DIGAMBAR DALAM BENTUK SD YANG IMUT-IMUT!!!!!!

...

Sudahlah. Yang terakhir itu hanya racauan saya.

Akhir kata, saya suka novel ini. Saya sendiri belum tentu mampu melakukan apa yang Mas Ardani berhasil lakukan.

Tapi tolong, buat edisi cetak berikutnya, tolong perbaiki sampul dan kata-kata yang tertera di atasnya. Yang edisi pertamanya ini benar-benar agak bikin saya... euh...
Profile Image for Putra Wira.
10 reviews1 follower
July 12, 2012
WARNING : Review ini mungkin bisa menspoiler cukup berat, dan mungkin bisa membuat sakit hati kepada yang tak setuju pada saya.



Setelah membaca Hailstorm dan mengikuti perkembangan novel Vandaria, saya sudah punya ekspektasi yang tinggi untuk SPT. Saya sudah berharap, tokoh yang bisa dibilang tokoh utama Vandaria, Deus, akan diceritakan kisahnya dengan spektakular.

Saya salah.

Dari segi cerita, saya kecewa. BOSEN BO. Datar dan tertebak sekali. Paling parah adalah bagian sepertiga pertama. Segala hal terjadi begitu saja, tanpa ada aksi-reaksi, seakan2 ada "Deus Ex Machina" yang mengatur dan menetapkan 'pokoknya begini!' Deus, yang masih bocah, diterima di Jade Empire, tanpa tedeng aling-alng. Kenapa begini? Apa alasannya? Deus ternyata adalah pria berbakat yang langsung menanjak karirnya. Klise sekali. Kalau segitu saja saya masih bisa memaklumi. Nah, saat Seraph kehilangan pengawal utamanya karena serangan pemberontak. Sebentar, ini yang dibicarakan pengawal sang Ratu. Gampang amat matinya?

Kemudian ujiannya juga terlalu cepat, tak dibicarakan apa rinciannya, hanya dibilang 'ujian ini susah.' Sudah begitu, apa alasannya Seraph tiba-tiba memilih Deus sebagai pengawalnya padahal dia kalah? Cinta pandangan pertamakah? Tak ada penjelasan apapun.

Cerita berlanjut ke beberapa cerita tentang kebersamaan Seraph dan Deus dalam berbagai peristiwa. Disini, semua berlalu terlalu cepat. Tak jelas apakah Seraph sudah sedari dulu mencintai Deus, ataukah muncul perlahan-lahan. Terlalu cepat.

Sisa cerita, untungnya, semakin membaik. Konsep masih terlalu mudah ditebak, namun setidaknya ada variasi. Seperti beberapa pertempuran naga yang dilewat begitu saja, atau kisah pertemuan dengan Ahran yang malah diceritakan belakangan. Ini konsep yang unik, yang memberikan bumbu pada SPT. Pertempuran dengan beberapa naga seperti Arokh atau Regole juga dijabarkan dengan cukup seru, walau sekali lagi, seperti ada Deus ex Machina yang mengatur dari atas. (Bagaimana mungkin Deus dkk yang sudah kecapekan melawan Regole bisa menang melawan Arokh tanpa suatu turnpoint?)

Kemudian, konsep pada bab2 terakhir adalah yang paling bagus. Kisah terakhir tak diceritakan dengan fokus Deus, namun dengan fokus Arhan, unik dan pintar. Sayangnya, kemudian organisasi yang dibentuk Arhan seusai kematian Deus tiba tiba mendapat bantuan dari Velthurius dan Cartegra. Saya tak paham. Kenapa mereka yang salah satu Delapan yang Abadi, dan salah satu anggota Marga Suci, denagn entengnya berbalik melawan apa yang mereka layani selama ini, Edenion? Apakah karena karisma Deus? Cartegra saya masih paham, namun Velthurius yamg tak menjalani hubungan dengan Deus cukup lama, saya skeptis bisa semudah itu.

Konsep cerita yang juga sedikit menghibur saya adalah epilog dari SPT, final battle Zirnitra dan Deus. Pertempuran terakhir justru adalah epilogue, yang kemudian bersambung atau menjadi pembuka novel berikutnya, Raja Tunggal.



Untungnya penokohan di buku ini lebih baik. Arhan adalah salah satu yang saya suka. Karakter ini merupakan penghubung bagi saya, manusia biasa namun dengan keahlian non-kombat yang tak dimiliki oleh para petarung di grup Deus. Sayang, sayang sekali, dia kurang mendapat spotlight di SPT.

Deus sendiri, yang mestinya adalah karakter utama SPT, menurut saya karakter yang dangkal, kemungkinan karena karakternya kurang tereksplor dengan dalam. Hal2 yang Deus lakukan, yang semestinya meninggalkan bekas, malah terasa biasa jadinya saat saya membacanya. Yang saya suka darinya justru bukan karakternya, namun konsep kekuatan Ouroboros yang bisa menggunakan kekuatan dari naga yang terserap jiwanya.

Jika ada satu hal yang bisa mendongkrak nilai SPT, itu adalah Azulmagia. Dia, untuk saya, adalah karakter paling sempurna yang muncul di buku ini. Kemunculan, pengenalan, penceritaan, dan akhir. Hal2 tersebut dijelaskan dengan solid dalam kasus Azulmagia. Dia bukan sekedar Bijak, dia Tahu. Penceritaan Azulmagia, semuanya memberi gambaran siapakah dia, juga mempertegas karakteh 'Dia-yang-tahu' ini. Dia adalah karakter favorit saya. Tidak banyak omong. Tidak basa basi. And yet, masih tetap menjadi bagian vital dalam grup Deus, mungkin yang paling vital.

Seluruh tokoh, dengan perkecualian Azulmagia, menurut saya kurang digali dengan dalam. Tindakan mereka jadi terasa datar dan tertebak.


Novel yang baik adalah adalah novel yang nikmat dan enak dibaca, namun saya merasa datar, hampir bosan saat membaca SPT. Saya benar benar berharap, novel berikutnya akan jauh, jauh lebih baik dari pada SPT.

Review ini hanyalah pendapat saya sebagai pembaca dan konsumen. Bila ada yang sakit hati, mohon dimaafkan karena saya tak bermaksud.
Profile Image for Zehel.
19 reviews3 followers
July 9, 2012
Setelah Hailstorm, saya mulai berharap pada Vandaria Saga
Ternyata pikiran saya memang terlalu naif.

Kisah tentang Deus yang berjuang demi cinta, kemudian berbalik dikhianati ini konon merupakan lore utama Vandaria saga. Deus sendiri dinobatkan menjadi tokoh utama dalam saga ini.
Sejujurnya, dia tidak melakukan apapun selain jadi bidak.
Ya.
Seraph dan Deus tidak lebih dari bidak para dewa-dewi di dalam kisah ini.
Dan apakah itu menjadikan cerita ini bagus?
Sayang sekali, tidak.

Karakteristik dalam cerita ini, terlihat flat, tidak menarik dan tidak konsisten.

Dan sekali lagi, tidak ada kejeleasan dan ketetapan tentang kondisi mental Frameless. Saya jadi makin tidak peduli lagi dengan lebel mereka ras unik - dalam buku ini hanya menjabarkan kalau Frameless adalah ras panjang umur, menguasai manusia karena ulah seorang pejalan cakrawala - yang walau tampak agung tapi bau-baunya akan jadi momok besar bagi planet - bernama Markabah.

Ilustrasi jadi satu-satunya hal bagus dalam buku ini.
Tapi itu tidak mengobati kekecewaan saya.

Dari yang saya baca, seri ini akan punya sekuel berjudul Sang Raja Tunggal.
Dimana jika lore yang dipajang dalam situs utama vandaria benar, maka Deus akan membalas dendam - atau apapun namanya - pada Edenion dan Seraph, sebagai Raja Tunggal yang menyatukan kekuatan.
Ya.
Sudah terbaca.
Dua bidak para dewa akan bertengkar sendiri, melibatkan orang-orang.
Tapi, tidak masalah.
Saya hanya berharap, sekuel itu akan dikemas lebih baik, sehingga walau klise sekalipun, masih bisa dibaca dengan nikmat.
Profile Image for Rizky.
5 reviews
April 7, 2019
Somebody give me ton of cash. I want to make a movie out of it.
Profile Image for Danang.
1 review1 follower
July 28, 2012
Hmmm, mungkin gw nggak bisa bilang banyak soal ini buku. Gw baca kurang lebih dalam 7 jam karena gw memang penasaran dengan cerita Deus dan Seraph. Gw menjabarkan pendapat gw ini sebagai seorang pemirsa cerita yang penasaran dengan detail dari sebuah kisah. sehingga gw membacanya dengan antusiasme yang berbeda jika dibandingkan para pembaca yang belum pernah mendengar nama Deus. Tapi gw mencoba mengkover poin-poin gw se-obyektif mungkin (well, disertai bumbu-bumbu subyektif seperti halnya artikel kritik lain)

gw juga tertarik nulis setelah baca-baca review yang lain. well, gw sendiri juga nggak bisa dibilang sebagai seorang pengamat buku atau ahli literatur. Bahkan tidak banyak buku novel yang sudah kucerna sampai cukup pantas bisa dibanding-bandingkan dengan novel yang satu ini. Dan perlu gw tekankan gw bakal spoiling banyak cerita.

well, gw ngasih bintang 3 setelah mengetahui beberapa hal mengenai upaya sang penulis untuk menghasilkan novel ini. Mereka bilang sang penulis menghasilkan sesuatu dari kosong. Mereka bilang sang penulis mengalami perkembangan. Mereka bilang sang penulis begini. Mereka bilang sang penulis begitu.

well, jika bisa ngasih jatah, dua bintang ku kasih untuk novelnya dan bintang ketiga adalah penghargaan saya kepada sang penulis.

Jadi, artinya "It was ok" doang dong?

Uhm, yeah. Kurang lebih begitu.

well, bukan karena gimana-gimana nih. Tapi menurut gw buku ini lebih mirip sebagai buku biografi si Deus.

Pernah baca biografi kan? orang yang dimaksud di dalam biografi biasanya diceritakan mendetail hanya dalam beberapa cluster timeline. Bagaimana masa kecilnya diceritakan secara detail kemudian loncat lagi ke masa remaja di saat adanya pelajaran-pelajaran yang mulai didapat dan tujuan hidup mulai terbentuk, lalu loncat ke saat dimana dia dewasa dan mengalami sebuah peristiwa dan kemudian loncat lagi ke peristiwa dan konflik lainnya.

Tahapnya ada. Tapi menghubungkannya dengan banyak loncatan-loncatan waktu. Sehingga pada novel ini, pembentukan alurnya kurang halus.

Wajar sih. kurang lebih jangka waktu yang penulis ingin tangkap kedalam novel sepanjang beberapa puluh tahun, Namun yang berhasil terjabarkan hanya beberapa hari saja.

J.K. Rowling saja membutuhkan tujuh buku dengan beribu halaman untuk bercerita tentang dunia sihirnya yang menyiapkan timeline sepanjang tujuh tahun doang.

well, mungkin jika novel ini diberikan ke J.K. Rowling, maka sepertinya dia akan memiliki bahan untuk membuat beberapa volume novel dengan judul "Deus and Jade Empire", "Deus with Forbidden Love", "Deus and Half Blood Duo", "Deus, Dungeons, and Dragons", "Deus, Light and Darkness Dragons", "Azulmagia, Remeberance", "Deus, Gift of Deathly Lover."

Udah kebayang poin yang coba gw gambarkan?

Jika novel ini diibaratkan lagi dengan Harry Potter, maka kurang lebih J.K. Rowling merangkum semua volume bukunya kedalam booklet setebal beberapa puluh halaman.

Beberapa lembar untuk cerita tentang perlombaan sihir di tahun menengah. Beberapa kali flashback super singkat untuk menjelaskan keluarga paman-bibinya, batu bertuah, dan ruangan rahasia yang ditemukan di tahun-tahun awal sekolah. Mayoritas halaman untuk pencarian horcrux. Diselingi pertarungan dengan Death Eaters dan Dementors (itupun di-skip beberapa). Twist Snape-Dumbledore yang tidak dikemas dengan baik. Serta twist-twist lain yang datar dan kurang unsur "Wow!"-nya. Well, tapi dialog dan actionnya tetep ada kok.

Nggak Cukup. Sama sekali nggak cukup.

Novel ini kaya akan elemen universe-nya. Tapi sayangnya terlalu kaya untuk dikemas dalam satu buku dengan 370-an halaman saja. Sehingga dampaknya bisa kita lihat di banyak review pembaca lain. Character building lah, setting ini-itu lah, timeline lah, -apalah istilahnya gw nggak ngerti-, semuanya jadi hancur. Banyak kontent cerita yang sempat disinggung namun tidak dijelaskan keterkaitannya dengan alur cerita novel. (Kalau tugu penunggang kuda hitam nggak ada hubungannya -at least untuk novel kali ini- setidaknya dari awal tidak usah diceritakan)

Soalnya yang lain sudah bagus. alur ceritanya memiliki potensial "Twist" (gw nggak tau istilahnya apa, untuk selanjutnya gw bakal sebut dengan Twist) yang keren namun kurang tergarap. Dialog mantep antara Deus dan Azul, deskripsi setting alam ataupun pakaian serta adegan-adegan action yang lumayan merangsang otak untuk membayangkannya.

Well, beberapa agak lebay sih, penggambaran suasana terlalu pujangga sehingga gw (dan gw yakin seperti halnya banyak pembaca lain) terpaksa skip beberapa baris puisi-puisi tersebut.

Selain itu, penggambaran romantisme Arhan-Borr lebih cocok untuk panduan untuk adegan pada anime-anime jepang yang lebih membutuhkan elemen visual, karena kurang menggali kedalam perkembangan hubungan mereka berdua dan menjabarkannya kedalam elemen verbal.

"Ah, dari tadi keripik doang nih. Solusinya apa dong?"

Well, mungkin bukan solusi dalam skala novel, namun dalam skala perencanaan lore-nya. Nggak usah banyak memasukkan ini-itu kedalam satu novel. dipilah-pilah jadi beberapa novel kan lebih baik toh? Kalau kita ingin bawa banyak sekali pakaian, kita nggak perlu memaksa membawanya dengan satu koper, kan?

Soalnya selain penulisnya sendiri bakal bingung menyajikannya. Para pembaca menjadi mabok dengan kontent fantasi yang asing sebanyak itu.

Kalau perbaikan mengenai novelnya sendiri sih, nggak banyak kok. Illustrasi dalam novel sudah keren. Page Lay-Out yang nggak kalah dengan novel luar (bahkan yang versi non-terjemahan). Tapi gambar Zirnitra Dragon mode pada judul bab kebanyakan diulang-ulang. Kalo diganti dengan illustrasi lain yang sejalan dengan babnya mungkin bisa lebih menarik.

Bagian cover apakah harus selalu bergambar para tokohnya berpose? Kalau diperhatikan, semua cover novel Vandaria Saga selalu berupa illustrasi tokoh dengan posenya masing-masing. Misalkan desain covernya hanya kalimat "Vandaria Saga Sang Penantang Takdir" dengan efek visual khusus dan disertai gambar sketsa Pedang Ouroboros saja dengan latar merah sudah cukup kan? Lagipula, warna merah biasanya menjadi warna yang paling menonjol dibandingkan dengan warna buku-buku lain pada pajangan di toko buku. Sehingga bisa menarik perhatian para calon pembeli. (oh well, itu pernah jadi contoh kasus di kuliah Psikologi dan Stimulus Warna waktu gw sit-in di kuliah Jurusan Desain Produk. bagian ini bisa minta orang desain produk lah)

Oh, soal adegan percintaan ataupun scene romantis, sang penulis mungkin mesti baca berbagai novel serupa. Bukan meniru persis, tapi mengumpulkan vocabulary gaya dialog dan deskripsi. setidaknya ada banyak pola dialog romantis yang menarik pada novel-novel itu. Selain memperkaya corak dan rona novel, mungkin saja karya sang penulis juga bisa diterima oleh ceruk pasar lainnya. (Gw belum baca sih, tapi coba ajah Twilight Saga. Cari tau deh kenapa seri novel itu banyak yang suka dan gampang banget diterima khalayak ramai)

Mengenai twist yang kurang tergarap. Yang saya maksud itu pengaturan scene yang kurang memberikan shock kepada pembaca. Kami digiring perlahan dengan dialog Exar dan Seraph yang kemudian adegan peperangan para terminus Zodiark versus Deus dan Zirnitra.

Sepertinya lebih "nonjok" kalau twist tersebut dikemas langsung dengan keluarnya para monster yang tiba-tiba saat dialog Deus dan Zirnitra. Kemudian setelah itu baru dijelaskan bahwa kejadian tersebut adalah perbuatan sang kekasih-nya sendiri yang dilakukannya sambil berlinang air mata.

Twist yang dirakit dengan cerdik membuat plot jadi susah terbaca. Sehingga meninggalkan sensasi tersendiri untuk para pembacanya. Coba bayangkan jika dari awal Miranda diceritakan sebagai anak Ra's al Ghul, kisah the Dark Knight Rise nggak akan "se-nonjok" itu. (Seperti ketika waktu gw nonton. sumpah, gw nggak percaya Miranda tega seperti itu. Hatiku yang rapuh ini hancur dan aku hanya mampu tersandar di kursi bioskop terperangah) Ooops, sorry, spoiler buat yang belom nonton Batman. You've been warned!

Soalnya kalo Sang Raja Tunggal masih mempertahankan dan mengulangi pola Sang Penantang Takdir, hasilnya nggak jauh berbeda dengan buku Biografi Presiden SBY yang didramatisir dengan berbagai hiasan berupa istilah dongeng, dialog, dan aksi-aksi keren.

Ini novel yang lumayan kok. Sentuhan awal dan akhir yang bagus dengan "Sang Saudagar Kaya" dan "Sang Penantang Takdir."

Oh well, akhir kata. Walaupun agak bikin bingung di sana-sini, tapi tidak akan membuatmu kecewa akan kualitasnya. Juga dukunganku untuk sang penulis, karena membayangkan diri sendiri dalam posisi sang penulis, pastilah hasilnya nggak akan seperti ini. nice job, Arhan. Gw nggak sabar nunggu tampilnya Nephilim, Rephaim, dan Angkara Murka.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
January 7, 2013
From Goodreads:
Takdir menggiring Deus untuk bertemu dengan Ratu Seraph. Namun, cinta yang tumbuh antara seorang pengawal dan Ratunya itu adalah cinta terlarang. Demi membuktikan kesungguhan cintanya dan kepantasan dirinya untuk bersanding dengan sang Ratu, Deus menyanggupi tantangan untuk membantai sembilan naga legenda. Para naga terakhir, penguasa Vandaria.

Berbekal cinta dan senjata pusaka, Deus siap menantang takdirnya sendiri.
Dia adalah...
Sang Penantang Takdir.

Review
Inilah perkenalan pertama saya dengan Vandaria. Sebelumnya saya pernah dapat kartunya dari majalah Zigma, salah satu "bayaran" saya waktu jadi instruktur igo di acara Festival Jepang di Unair, jadi setidaknya tahulah kalau Vandaria itu ada. Tapi inilah, untuk pertama kalinya, saya menyelam masuk ke dalam dunia Vandaria.

Lalu apakah saya melihat keindahan dunia Vandaria lewat novel ini? Ya, bisa kubilang Vandaria adalah dunia fantasi yang menarik. Konsepnya cukup jelas dan digarap dengan serius. Dua jempol untuk itu. Sayangnya buku ini tidak semenarik Vandarianya itu sendiri.

Jujur saya merasa kurang cocok dengan bahasa yang dipakai pengarang. Saya kurang sreg dengan banyaknya Majas Perbandingan yang pengarang pakai. Majasnya bisa ditemukan di mana-mana, seperti daun yang berserakan di tanah pada musim gugur. You see? Jadinya suatu hal yang bisa disampaikan dengan jumlah kata lebih sedikit, malah jadi panjang dan bertele-tele. Okelah kalau sesekali dipakai, tapi kalau terus-terusan malah mengganggu pace membaca.

Hal kedua yang bikin kurang sreg adalah justifikasi untuk suatu adegan. Beberapa kali ada adegan yang kesannya dipaksakan, sehingga suatu adegan lain bisa terpicu. Contohnya sewaktu Deus mengawal Ratu Seraph mengunjungi dua Raja Surgawi pada awal cerita. Saya jujur kurang ngeh tujuannya mereka ke sana untuk apa. Kenapa Ratu Seraph gak ngundang keempat Raja itu ke istananya saja sih? Selain itu pembicaraan sang ratu dan kedua raja yang dia kunjungi juga tidak diperlihatkan, sehingga saya merasa penulis sebenarnya membuat adegan kunjungan itu untuk menunjukkan hal yang lain.

Satu lagi adegan serupa ada ketika Deus menyentuh bayangan di danau pada halaman 279. Kenapa Flavius gak memperingatkan dari awal sih kalau bayangan itu gak boleh disentuh? Curiga pingsannya si Deus itu menjadi justifikasi untuk adegan Azulmagia mendengar nyanyian kunang-kunang. Kalau toh memang si Deus itu mau dibuat pingsan supaya adegan lagu kunang-kunang itu bisa jalan, kenapa tidak membuat Flavius dengan sengaja membuat Deus menyentuh bayangan itu? Misalkan dengan menyentuh bayangan itu Deus jadi bisa mempelajari sesuatu atau bisa lebih mengendalikan kekuatan para naga. Secara Flavius itu kayaknya penyihir sakti mandraguna. Bisa aja dia melakukan hal-hal aneh demi kebaikan tokoh utama, kan?

Hal ketiga yang bikin saya kurang sreg sama novel ini adalah pertarungan yang diskip. Itu kenapa pertarungan dengan tiga naga awal dilewatin?

Deus: Atas nama Yang Mulia Ratu Seraph, aku akan membunuhmu di sini, naga legenda. Azul, Borr, saatnya kita beraksi.


Bab berakhir, lalu bab baru dibuka dengan...

Perjalanan Deus berjalan jauh lebih lancar daripada yang bisa diduga oleh Penasihat Tinggi Exar. Di saat dia menganggap Deus akan langsung tewas ketika melawan naga pertama, Deus justru bertahan melewati tiga ekor naga.


Apaaa??? Tiga naga sudah kalah??? Why? Dipotong karena a) pengarang malas b) pengarang bingung pertarungannya mau dibagaimanakan c) keputusan bersama demi mengurangi jumlah halaman biar harga bukunya tidak terlalu mahal dan bikin keder calon pembeli d) semua jawaban salah

Kalau gak salah bukan hanya tiga naga. Sewaktu melawan Viktish juga pertarungannya diskip. Hmm... Kenapa gak ditulis di sequel aja? Jadi si Deus ini pelan-pelan mempelajari kenyataan seiring dengan jumlah naga yang dia kalahkan. Jadi pertarungan dengan para naga gak perlu diskip. Toh, Sang Penantang Takdir ini kayaknya emang direncakan sebagai sebuah seri logi.

Keempat, saya merasa gambaran Ratu Seraph yang diberikan kurang cocok untuk imej seorang ratu. Melihat cewek berambut panjang dengan armor (seperti di kover), saya malah teringat pada Erza dari Fairy Tail dan Chris Lightfellow dari Suikoden III. Tipe cewek kesatria dan bukan seorang ratu yang digambarkan anggun.

Kelima, ini hal minor sih, saya merasa perasaan si Deus ketika menerima namanya pada awal cerita (hal. 23) agak aneh. IMHO, saya pribadi sih kalau baru selamat dari pembantaian sedesa dan menerima nama baru, tubuh saya tidak akan "bergetar oleh rasa bangga". Toh nama di sini hanya sekedar nama. Gak seperti di A Wizard of Earthsea.

Ah, dari tadi ngomongin kekurangan mulu. Yang bagus dari novel ini? Jelas ilustrasinya. Saya rasa ilustrasi-ilustrasi yang ada digarap dengan apik. Saya juga suka dengan pergeseran fokus yang Deus alami. Dari yang semula hanya ingin menyelesaikan tugas dari Ratu Seraph, menjadi seorang Penantang Takdir.

Dua bintang untuk novel ini. Thanks buat Kastil Fantasi yang udah ngirimin buku ini buat saya. Walau bukunya "cedera" ketika dikirim :'(

Buku ini untuk reading challenge:
- 2013 Fantasy Reading Chalenge
4 reviews
November 13, 2012
Dua bintang, ....

Dua bintang ini adalah ungkapan kekecewaan saya terhadap SPT.
Ekspektasi yang besar itu pun hancur berkeping-keping setelah membaca SPT yang cukup mengecewakan.
Dua bintang, ... sebenernya pengen kasi satu aja, tapi karena penulisan nya sangat rapi, makanya saya kasih dua bintang.

Satu kata yang menggambarkan SPT: membosankan.
padahal SPT adalah cerita utama Vandaria Saga dengan karakter2 utama pula. Ada Deus, ada Seraph, dan ada karakter2 lainnya yang menjadi inti dari Vandaria Saga.

Mendengar Ardani Persada yang didapuk menjadi penulis membuat saya sangat senang. Berbekal pengalaman membaca Ratu Seribu Tahun, saya sangat yakin kalau buku ini akan menjadi epic.
Namun entah apa yang ada dalam pikiran dan rencana Mr. Ardani sehingga kualitas tulisan yang sangat amat solid dan deskriptif pada Ratu Seribu Tahun berubah menjadi tulisan-tulisan metafora tanpa makna di SPT.

Berbanding terbalik dengan Ratu Seribu Tahun yang highly epic dan berbintang 5. SPT adalah buku metafora dengan bintang 2.

Status currently read mungkin akan terus menjadi status saya untuk buku ini karena saya sulit untuk menemukan feel guna menyelesaikan acara baca buku SPT sampai ending. Jari-jari saya terasa berat untuk membuka lembaran-lembaran buku. one word: Boring!

Urban Lagend to modern fantasy novel? fantastic idea, but lame execution.
Jadi ... membunuh legendary dragon yang sebenarnya tidak terlihat legendary itu adalah tugas berat? what a joke. Harusnya dragonnya itu dibuat lebih fantastic dan bahkan membuat reader memutar kepala dengan berpikir bgm cara mengalahkan naga sehebat itu. dan seharusnya battle antara Deus dan Dragons CS diceritakan lebih detail. satu per satu. entah kenapa rasanya naga-naga itu dengan mudah dikalahkan oleh Deus hanya dengan satu tarikan napas.

Seraph! fav character. Cool but sweet, emotionless but very tempting, just like Rei Ayanami. tapi dibanyak kesempatan, Yang Mulia Ratu ini menunjukan emosi yang unusual plus no charismatic attitude. Not very like The Greatest Queen of Vandaria. Dia malah nangis2 cengeng ketika Deus dikalahkan oleh mahkluk guardian dan hampir mati.

Jalan ceritanya SUPER FAST! sekali masuk satu chapter, udah berapa dragon yang mokad. Bagaimana cara reader menikmati petualang Deus kalau begitu cepat jalan ceritanya. Ada di satu chapter tiba2 udah satu tahun aja hunting dragon. Wah2 ... unenjoyable.

Pembagian chapter yang menurut saya kurang baik. memang tidak ada rule pembagian chapter untuk sebuah novel, tapi jangan lupakan elemen harmonisasi pembagian cerita. Ratu Seribu Tahun mempunyai pembagian yang perfect, tapi SPT is another horrible result.

Metafora yang berlebihan, aneh dan terkadang maknanya bertentangan. OK, mungkin Mr. Ardani mau meniru fantasy novelist yang terkenal dibarat sana, atau mau mencoba mengadaptasi writing style novelist2 yg menurutnya hebat dan kelas wahid. C'mon Mr. Ardani, you're a great writer, you have your own writing style, you prove your greatness at Ratu Seribu Tahun. All you need is write with your own composition style. We want your style, not the other style. Forget about Tolkien or Rowling or Riordian, cuz Vandaria have ARDANI PERSADA!

Illustration art? not so perfect untuk cover depan, tapi ilustrasi di dalam novel is good enough and no complaints for Mr. Tridenth Henry yang memang sudah terkenal sejak jaman Ultima dulu.

Saya sungguh kecewa dengan SPT. diluar ekspektasi saya. Saya sangat mengharapkan novel-novel selanjutnya lebih baik, khususnya novel karya Ardani Persada (krn saya sangat suka dengan tulisan beliau di Ratu Seribu Tahun).

Saya mohon maaf kalau ada kata2 yang menyinggung para founder Vandaria dan Mr. Ardani sang penulis. Ini semua hanya sebuah cerminan dari bentuk kekecewaan saya.Viva Vandaria!!

11 reviews
November 11, 2013
WARNING!!
REVIEW INI AKAN MENYEBUTKAN SPOILER!!

Akhirnya bisa baca SPT!! >.<
setelah mancari setahun di semarang, oke lanjut ke review

dari segi awal cerita pace nya terasa begitu cepat. kurang bisa mengikuti sih, tapi tidak masalah buatku krn tidak ada yang menarik di ceritakan mungkin

Ratu Seraph!!
gak kusangka dia semanis itu!! >.<
malu" gitu walaupun ratu yang angkuh

waktu Exar meantang Deus utk membunuh satu dari sembilan naga legenda, tapi Seraph malah menantang balik kalau Deus bisa mengalahkan ke 9 nya....
aku merasa....
argh!! udah di kasih ujian yang mudah knp di persuliiiit!!! kamu cinta deus kaaaan??

terus, terus, terus, ketemu Borr, Azul, dan Arhan
Arhan yang muncul tiba" sedikit membuatku terkejut. tapi akhirnya di jelaskan bagaimana dia muncul di SPT

Vali?! vali dari Ratu Seribu Tahun muncul!! >.<
bnar" kangen diaaaa
karena berpisah dari Volsung dan kawan"
walaupun cm 1 lembar sih....

terus, terus, terus.....
ArhanxBorr?!
Aku menyetujiunyaaaaa!! >.<
berharap mereka menikah nantinya

dan sampailah..... saat kematian Azulmagia
saat" kematiannya tidak terlalu di tampakkan sih, tapi tetap bagus. seolah asli

galau, galau, galau.....
deus meninggalkan Borr dan Arhan.....

sampailah di pertarungan di pulau tempat Zinitra berada
di sini saat paling jleb menurutku
deus mengetahui dia diperdaya secara halus oleh edenion, oleh ratunya sendiri yang dia cintai

Seraph memutuskan untuk membunuh Deus dan Zinitra.....
di saat ini aku merasa....
Kenapa?! bukankah kamu cinta Deus?! apakah tahta dan jabatan membutakanmu Seraph?! akhirnya kamu mencintai seseorang setalah beratus-ratus tahun kan?! OwO
padahal persepsi ku tentang mu berubah di awal cerita!! tapi ternyata!! kau membohongi ku!! DDx

saat" terakhir Deus dan Zinitra di pulau....
kata" Zinitra seperti sebuah spoiler buatku :3
"Heh, diamlah, makhluk fana, Kau adalah pewaris Ouroboros, dan karenanya aku tidak bisa membiarkanmu mati, Pewaris Ouroboros adlah mereka yang akan mengubah Vandaria, aku melakukannya; demikian juga dengan Rah, walaupun dengan cara yang tidak aku sukai, Dan kau juga pasti mampu melakukannya. Karenanya, hiduplah. Teruskanlah warisan Ouroboros. Ubahlah dunia"

Persekutuan Takdir....
organisansi yang terbentuk atas semangat juang Deus...
sebelumnya aku belum memperhatikan banget kelompok ini, tapi ini sepertinya akan menjadi seru untuk di perhatikan

dan akhirnya.... ketika deus bertemu orang yang di anggap Vanadis...
aku mempunyai sebuah spekulasi....
bahwa Sang Raja Tunggal itu adalah Deus yang di reinkarnasi...
karena ilustrasinya yang hampir mirip....
kemunculannya yang tiba"....
kekuatan sihir yang fantastis....
kesetaraan antara Frameless dan Manusia....
mari kita tunggu jaawabannya di Sang Raja Tunggal xD

Bang Ardani Persada mmg penulis VS yang bagian sejarah :D

oke cukup sekian review ku~
Profile Image for Ricky Nuriadi.
3 reviews2 followers
July 27, 2012
Jujur sempat ada keraguan apakah saya bisa mendapatkan wow factor dari novel ini saat awal mulai membacanya.
Tokoh banyak yang tidak jelas karakternya bagaimana, dan kalau bicara soal "Character Development" apalagi, saya seperti mengais-ngais apakah novel ini memilikinya atau tidak...

Tapi saya terus membaca dan saya simpan dulu "penghakiman" saya...

Mungkin karena saya menyukai beberapa aksi di halaman-halaman awal jadi saya musti akui mulai 1/4 bagian saya lewati sepertinya novel ini mulai menjadi "page turner" karena memang mulai enak diikuti dan dinikmati.

Sempat memang beberapa karakter sepertinya kok tidak konsisten dengan latar belakang atau pekerjaannya, terutama memang saya kecewa dengan Arhan yang katanya master trader dan anak penguasa Jalur perdagangan. Kok sama sekali tidak terlihat karisma dan ilmu negosiasinya sama sekali, setiap saya membaca dialognya lebih saya bayangkan dia itu cuma anak orang kaya yang kebetulan punya ilmu reportase dan "hoki" punya teman2 yang mau melindungi dia. Entah ini cuma selera pribadi atau bagaimana, tapi bukankah akan lebih matching dengan karakternya apabila Arhan dibuat lebih streetwise, kharismatik dan lebih ber"teman" dengan penjabat-[enjabat maupun pedagang (baik yg jujur maupun yg penipu) karena kekuatan seseorang pedagang adalah Knowledge dan network.

Namun, momen itupun tiba, tiba-tiba kekecewaan saya akan character development langsung dihajar!
Bukan hanya dihajar, tapi dibabat, digampar, dipotong-potong dan dicincang... oleh kemampuan Ardani dalam mendeskripsikan pertempuran sungguh mumpuni!

Adegan pertempuran dalam novel ini musti saya akui adalah pertempuran paling epik yang pernah saya baca atau dapat saya bayangkan... mengingatkan saya waktu jaman SMA dulu pertama kali membaca petualangan Raistlin dan Caramon Majere di novel legendaris "Dragonlance"... dan bahkan entah kenapa musti saya tambahkan.. kalau kisah Deus melawan 9 naga legendaris ini malah... dalam beberapa hal LEBIH EPIK dan SERU!

Awalnya saya berpikir kalau orang-orang yang memberi bintang 3 keatas terhadap novel ini paling kawan-kawan atau lingkar dalam dari penulis atau penerbit atau "geng" Vandaria-nya, namun dengan rendah hati saya mengakui kalau saya salah besar!

Sang Penantang Takdir adalah:
1. Novel fantasy karya anak bangsa terbaik yang pernah saya baca
2. Pembangkit semangat saya kalau kita bisa kalau kita terus berusaha dan pantang menyerah
3. Motivator dan penyegar di belantara dunia kreatif di Indonesia, kalau Indonesia BISA!

Maju terus dunia industri kreatif Indonesia!

Btw.. Endingnya cukup ngga ketebak, sialan! :p Plot twist di akhirnya ngga begitu klise dan bagus juga.. hehehhe.. salut lah...
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
July 14, 2012
Apa mau dikata?
Setelah membaca draf lalu sekarang membaca novelnya terlihat sekali perkembangan yang konstan, baik dari pemilihan kata hingga kemampuan meramu dialog. Kesan kaku dan menjemukan sudah kian tak terasa.

Kisah ini bisa dikatakan sebuah kisah yang penting, cikal bakal sebuah epik
Tak perlu banyak kata, jika pada dasarnya sang penulis tak punya potensi tak mungkin mengembang tugas besar.

Baca dan rasakan serunya kisah ini
Profile Image for Elvino Skw.
4 reviews2 followers
August 8, 2012
Sebelum saya memulai review saya terhadap buku yang baru saja selesai saya baca: “Sang Penantang Takdir”, saya akan meminta maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, subyektif dan “Tidak masuk akal” menurut logika tim Vandaria. Saya sendiri bukan penggemar novel hardcore yang membaca semua tipe novel, namun untuk beberapa judul yang saya suka+tertarik, saya membacanya. Vandaria sendiri saya kenal pertama kali dari cerpen Frameless Orb yang kemudian berkembang menjadi Vandaria Wars, permainan kartu yang sekarang tidak dikembangkan lagi oleh pihak Vandaria.
Vandaria dahulu adalah sebuah universe yang sangat menarik. Dimana banyak sekali kergaman dan keunikan makhluk-makhluk fiktif buatan sang pencipta Vandaria, Ami Raditya. Dalam Vandaria banyak sekali yang dapat dieksplor mulai dari makhluk, sihir, maupun intrik-intrik pemerintahan serta kisah-kisah tragis yang dituangkan dalam suatu universe fiktif tanpa batas.
Baiklah, cukup dengan basa-basi mengenai Vandaria dan mari kita menuju ke review dari novel ini.

Kata-kata pertama yang dapat saya ucapkan setelah membaca novel ini adalah: “Saya kecewa”
Ya, tidak salah. Saya kecewa sekali. Setelah membaca novel epic Vandaria Saga: Hailstorm, membaca novel ini seperti terjun ke jurang yang sangat curam. Bukan karena gaya penulisan yang jelek/susah ditangkap maupun karena illustrasi, namun karena beberapa hal. Beberapa hal yang membuat saya kecewa:
1.Ketidak konsistenan penggunaan istilah pada novel-novel Vandaria sebelumnya. Ya, kekonsistenan lore adalah salah satu nilai jual dan keunikan sebuah universe fantasi. Bila terjadi terlalu banyak perubahan dalam nama, maka para pembaca akan cenderung mengira perubahan sangat dan sangat mudah terjadi. Contoh dasarnya adalah separuh frameless dan separuh manusia. Dalam novel Ardani sebelumnya, para manusia separuh frameless disebut separuh frameless. Sedangkan dalam novel ini, para separuh frameless tersebut menjadi separuh manusia, dimana istilah ini kurasa sangat kurang jelas. Mengapa? Karena imej saya terhadap separuh manusia adalah siluman yang setengah manusia. Lalu berikutnya, mengenai beberapa istilah yang “Tidak masuk akal” menurut pembuat tim Vandaria. Hal ini juga menyebabkan ke-inkonsistenan dalam tubuh Vandaria menjadi semakin besar. Dengan alasan Re-boot, semuanya menjadi masuk akal untuk dilakukan, namun untuk sesuatu yang sangat mendasar dan sangat tidak penting untuk dilakukan perubahannya, menurut saya hal tersebut sangat dan sangat tidak perlu dilakukan. Bila benar Re-boot dilakukan setelah novel Ratu seribu tahun beredar, mengapa masih ada ke-inkonsistenan ini?
2.Pen-skip an cerita yang terlalu dan terlalu banyak dilakukan. Sebelumnya saya mau mengatakan bahwa pen-skip an cerita memang perlu dilakukan, namun saya rasa untuk buku ini sangat tidak diperlukan skip waktu yang sangat jauh, seakan perjalanan yang dilakukan itu kalau tidak di-skip menjadi sangat lama dan kalau di-skip menjadi sekelebatan mata. Deus adalah tokoh utama Vandaria, bahkan tokoh yang sangat besar dan mengubah Vandaria nantinya, namun mengapa cerita tentangnya harus sependek ini sampai perlu di-skip? Saya merasa ada kesalahan dalam konsep novel Vandaria. Vandaria sangat bangga dengan banyaknya novel yang dirilis dalam satu tahun, namun saya rasa bukan hal itu yang perlu dibanggakan. Bila semua novel Vandaria yang dikeluarkan adalah sekelas Hailstorm, maka Vandaria memang perlu diacungi jempol. Namun bila novel yang dikeluarkan banyak memiliki cerita dengan tingkat ketidak-detailan tinggi seperti ini, maka kurasa akan lebih baik bila Vandaria memilih untuk lebih sabar dalam mengeluarkan cerita ataupun novel. Jujur hal ini sangat membuat saya kecewa, karena saya berharap perjalanan Deus akan dikisahkan dengan begitu detail hingga bagaimana ia benar-benar merancang strategi untuk mengalahkan satu per satu naga, pertarungannya dengan naga ataupun dengan lawan-lawan lain yang pasti ada dalam perjalanannya, hingga interaksi persahabatannya dengan Azulmagia, Borr, dan Arhan yang akhirnya mengubah hidupnya. Sedangkan di Novel ini yang saya dapatkan adalah ketidak jelasan dan pen-skip an cerita yang membuat hampir semua perjalanan Deus adalah hambar. Saya rasa mungkin cerita tentang Deus “Sang penantang takdir” yang megisahkan tentang perjalanan Deus dari Edenion hingga mati di tangan Seraph dibagi menjadi 3 buku akan jauh lebih baik daripada 1 buku tetapi tidak lengkap. Sekali lagi alasannya karena: Deus adalah tokoh besar dalam Vandaria, bahkan bisa dibilang Deus adalah tokoh nomor wahid di Vandaria.
3.Frameless dalam novel ini. Sebelumnya saya mau mengatakan bahwa saya adalah penggemar berat frameless. Namun dalam novel ini saya menemukan bahwa frameless hanyalah elf versi 0.8 dalam dunia Vandaria. Ya, tidak lebih dari sebuah ras berbeda yang melakukan tirani terhadap manusia. Tingkah laku mereka? Sama sekali tidak cocok dengan deskripsi frameless pada newsletter-newsletter Vandaria.(Apakah newsletter juga terkena errata?) Pertama yang sangat konyol adalah frameless menyembuhkan pedagang yang diserang perampok. Hal ini terasa sangat lucu. Bila benar frameless adalah bangsa angkuh yang menganggap manusia adalah budak, mana mau ia menggunakan secuil mana nya untuk menyembuhkan manusia? Ia pasti akan cenderung memanggil tabib manusia dan menunggu waktu lama tidak peduli apa orang terluka itu mati atau tidak daripada menggunakan mana apalagi menyentuh bangsa manusia. Analogi dari hal ini adalah: Ada seorang tabib bangsawan sombong yang memiliki banyak budak. Salah satu budaknya sakit. Apakah tabib bangsawan sombong tersebut mau menggunakan skillnya untuk menyembuhkan seorang budak? Jelas tidak bukan. Lalu berikutnya adalah ratu Seraph. Dalam deskripsi cantik yang dilakukan oleh penulis Ardani, jelas ratu Seraph memiliki ekspresi tenang, kalem dll. Namun pada kenyataanya ia dengan jelas menunjukkan emosinya dalam bentuk mengkhawatirkan Deus, ingin ditemani Deus dengan mengatakan sebaliknya, dan marah terhadap Deus. Hal-hal yang sangat “nggak frameless” dilakukan oleh Ratu terbesar frameless. Ironi sekali bukan. Berhubungan dengan pen-skip an cerita, juga sangat disayangkan bagaimana Ratu Seraph, seorang ratu frameless yang jatuh cinta berinteraksi dengan pacarnya ini. Hal ini juga sangat saya sayangkan karena sangat disayangkan bila penulis telah men-drop kan martabat seorang ratu frameless tapi tidak mengeksplor interaksi dengan Deus.
4.Kejanggalan lain yang terjadi di novel ini. Yang pertama adalah naga legendaris. Naga legendaris dalam bayangan saya adalah naga yang sangat dan sangat kuat hingga orang-orang keder berada di dekatnya dan menjauh bila naga tersebut ada didekatnya. Dalam novel ini? Naga legendaris kesannya seperti boss biasa saja yang cuma nasibnya terbantai dan menunggu untuk dibantai yang disebabkan oleh perjudian ratu dan penasehatnya. Dimulai dari Zarkand, naga Azhi Dahaka yang bersarang di padang pasir. Hal ini serasa kurang masuk akal. Bagaimana bisa penduduk Zarkand merasa aman dengan adanya naga di dekat mereka. Apalagi naga ini adalah naga legendaris yang konon memiliki kekuatan maha dahsyat. Lalu naga Azhi Dahaka mengatakan bahwa ia mengambil harta orang yang korupsi saja. Ini juga hal yang sangat lucu. Jadi Azhi Dahaka melihat semua aktifitas perdagangan dan melihat adanya kecurangan sehingga ia membunuh pedagang itu dan mengambil hartanya… Yang kedua adalah ke-cupu an Deus yang sangat menyedihkan. Dalam kisah ini, Deus mendapat penghinaan dengan level yang sangat tinggi. Dalam penyerangan desanya waktu kecil, ia selamat sendirian. Mengapa? Karena “Kekuatan karakter utama”. Lalu dalam test menjadi pengawal pribadi Seraph ia kalah, namun tetap dipilih. Mengapa? Karena “Kekuatan karakter utama”. Berikutnya ia menjadi pengawal Seraph dan mengatasi Borr yang menyerang kota. Ia sangat kesulitan melawan Borr raksasa. Suatu hal yang sangat lucu bila kita mengetahui bahwa Seraph adalah Ratu terbesar jaman itu dan memiliki pengawal selemah Deus. Pertarungan-pertarungan selanjutnya melawan para naga, Deus tidak akan menang bila tidak ada Azulmagia DAN pedangnya Ouroboros yang menyedot skill naga lain. Jadi sebagai seorang main character, saya rasa Deus memiliki kekuatan yang sangat lemah. Yang kuat adalah 1. Azulmagia, 2. Ouroboros. Sehingga saya berpikir judul yang cocok bagi novel ini adalah Deus and his mighty sword, Ouroboros atau Deus and Azulmagia, the Dragon Slayer. Itu mungkin akan lebih mewakili isi novel ini.

Sekian dari kritik saya yang mungkin pedas atau sangat pedas.
Sekarang dengan kritik yang sebegitu pedas, mengapa saya tetap memberikan lima bintang terhadap novel ini?
Tiga bintang pertama adalah karena saya sangat dan sangat menghargai usaha penulis Ardani Persada Subagio yang menulis novel ini tentu saja dengan sepenuh jiwanya. Dan lagi perkembangan yang dialami dari segi deskripsi maupun cara tulis yang jauhhhhh lebih baik dari novel pertamanya Ratu Seribu Tahun. Saya rasa kenaikan level Ardani ini perlu diancungi dua jempol, karena saya rasa sangat jarang orang yang dapat melakukan kenaikan kemampuan yang sangat drastis dalam waktu relatif singkat. Jujur saya sangat kagum dengan perkembangan kepenulisan saudara Ardani.
Satu bintang berikutnya adalah untuk Vandaria Saga yang sangat saya cintai dan saya harapkan. Saya sangat dan sangat berharap Vandaria akan maju lebih dari ini terutama dalam bidang lore dan cerita, saya sangat mengharapkan adanya konsistensi dan kebebasan dalam pembuatan karakter. Setelah membaca review dari saudara Ardani sendiri, saya membaca bahwa ia sebenarnya ingin membuat Deus menjadi karakter yang sangat hebat, namun direvisi sampai 3 kali sehingga menjadi se-cupu ini Deusnya. Yang saya harapkan kedepannya adalah semoga tim Vandaria semakin terbuka padangannya terhadap cerita-cerita bagus lain dan jangan takut dikatain “Wah Vandaria meniru ini, Vandaria meniru itu” Karena pada dasarnya sudah tidak ada lagi hal yang orisinil di dunia ini. Kalaupun ada kesamaan dan ada yang membenci, itu adalah tanda bahwa Vandaria makin dikenal oleh masyarakat. Ingat, bila sesuatu hal memiliki haters, maka haters adalah bukti bahwa sesuatu hal tersebut menjadi besar. Jika yang ada hanya likers, maka itu tidak membuktikan bahwa orang yang like benar-benar mengetahui isi dari hal itu.
Bintang terakhir adalah untuk ilustrasi yang apik oleh Tridenth. Gambar-gambar dalam novel ini bisa dibilang sangat bagus walaupun cover dari novel ini kurang menarik imo. (Tidak semenarik Hailstorm)
Bagi saya novel terbaik Vandaria Saga tetap Hailstorm. Resensi mengenai novel hailstorm dapat dilihat di: http://www.goodreads.com/book/show/14...
Sekian dari review saya. Mohon maaf sekali lagi bila ada yang tersinggung, namun maksud saya membuat review ini adalah untuk kemajuan Vandaria kedepannya.
Terimakasih telah membaca. Maju terus Vandaria
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
November 17, 2012
Awal dari segalanya, mungkin frasa inilah yang paling tepat menggambarkan novel ini. Permulaan dari segala konflik dan peradaban besar di Tanah Utama Vandaria, siapa dan mengapa kerajaan Edenion begitu berkuasa, sumber dari kekuatan dan kekuasaan kaum frameless, juga asal-usul dari legenda-legenda kuno di bumi Vandaria; semuanya ada di Sang Penantang Takdir.Novel ini menggambil setting waktu atau lini masa ketika bumi Vandaria dikuasai oleh Ratu Seraph, pemimpin abadi kaum frameless yang telah mengusai dan memimpin Vandaria selama ribuan tahun. Sang ratu tak pernah tua atau memudar kekuatannya. Mereka menguasai sihir dan bersama Empat Raja Surgawi (yang juga muncul dalam seri Ratu Seribu Tahun), bangsa Edenion bertanggung jawab menjaga keseimbangan di Tanah Utama. Tentu saja, keseimbangan di sini berarti menindas manusia. Pada lini masa ini, kaum frameless memang sangat berkuasa sementara manusia dianggap sebagai bangsa rendahan karena lemah dan tidak menguasai sihir, atau mana.

Alkisah, adalah seorang anak frameless yang kemudian diasuh dan dididik oleh Edenion sebagai prajurit tangguh. Ia kemudian diberi nama Deus. Anak ini begitu tangguh, begitu bertekad kuat sehingga dari pancaran matanya yang penuh semangat saja orang bijak bisa tahu bahwa si anak memiliki takdir hebat di masa depannya kelak. Para Vanadin memberkatinya dengan kecerdasan, kekuatan, serta tekad pantang menyerah, yang segera membuat kariernya melesat naik ke puncak sehingga akhirnya ia bisa menjadi pengawal pribadi Ratu Seraph. Dan, di sinilah takdir perubahan itu mulai bergulir. Cinta bersemi ketika keduanya sering bertemu. Maka terjadilah kisah cinta terlarang antara ratu dan pengawal pribadinya, sesuatu yang sangat aib bagi sang penguasa Edenion yang seharusnya tidak boleh terlarut dalam emosi rendahan seperti cinta. Tapi, seperti biasa, cinta selalu menemukan jalannya. Maka, dilemparkanlah ujian cinta kepada Deus. Ia diwajibkan membunuh 9 naga legenda untuk membuktikan dirinya memang layak bersanding dengan Ratu Seraph.

Maka dimulailah tahun-tahun petualangan Deus menjelajahi sudut-sudut Tanah Utama demi membantai naga legenda. Dengan bantuan seorang frameless penyihir bernama Azulmagia, Borr—separuh frameles yang bisa berubah menjadi monster raksasa, dan seorang manusia pedagang bernama Arhan; Deus menjalani tahun-tahun pengejaran. Satu demi satu mereka berhasil membantai para naga legenda, membuat amuk bagi naga-naga lainnya yang mereka incar. Dengan menggunakan kekuatan pedang legenda, Deus dengan mudah membunuh tiga naga terlemah dan menyerap kekuatan mereka. Tidak ada pantang menyerah, kelompok ini menciptakan pertumpahan darah, membasmi mahkluk-mahkluk kuno yang telah sejak lama menjelajahi daratan Vandaria. Ada yang salah ketika Deus membantai para naga itu. Walaupun para naga itu kejam dan berbahaya, tapi mereka adalah mahkluk-mahkluk legenda yang tidak seharusnya dipunahkan.

Ketika dalam pertempuran terakhir melawan naga kesembilan, terkuaklah fakta dari apa yang selama ini disembunyikan oleh Edenion. Terkuaklah konspirasi dan kekejian dari negara Edenion. Mereka yang selama ini merasa berwenang menjaga ketertiban di Vandaria, ternyata tidak ubahnya pihak penguasa lalim yang kejam pada umat manusia. Dari sang naga, Deus tahu bahwa ia telah diperalat. Ini jugalah yang kemudian mendorong terjadinya pemberotakan umat manusia kepada Edenion, demi menuntut keadilan dan keseimbangan yang sejati di Vandaria. Kisah ini sendiri menjadi pengantar dari era-era sebelum pecahnya perang besar antara Edenion melawan manusia dan separuh frameless, masa-masa ketika Deus kembali membuktikan dirinya sebagai prajutir dan pejuang tak terkalahkan menuju takdirnya sebagai sang pengubah takdir.



Deus, Sang Raja Tunggal

Sang Penantang Takdir adalah bukti nyata perkembangan dan pertumbuhan seorang Ardani Persada dalam berkarya. Jika dalam Ratu Seribu Tahun masih ditemukan banyak bolong di sana-sini, maka novel ini adalah pembuktian bahwa ia belajar dan benar-benar bersungguh-sungguh untuk mengkristal bersama Vandaria. Masalah utama dalam Ratu Seribu Tahun adalah sudut pandang Yang Maha Mengetahui yang sering berselip dengan sudut pandang orang ketiga, sementara di novel Sang Penantang Takdir ini penulis seluruhnya sudah menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kualitasnya sebagai seorang pengarang (bukan sekadar penulis) juga tampak dalam diksi dan deskripsi yang ia gunakan. Pemilihan kata-kata dalam novel ini sudah begitu beragam, telah menyerupai sebuah novel yang memang utuh, bukan novel agak berbau game seperti di Ratu Seribu Tahun. Kelebihan ini ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi menawan yang menghiasi halaman-halaman di dalam novel ini, yang sangat membantu pembaca dalam membayangkan atau mengukuhkan karakter ke dalam imajinasinya.

Tambahan lain, novel ini juga ada editornya. Horeee. Sepengamatan saya, ini adalah novel pertama dari seri Vandaria yang mencantumkan nama editor di dalamnya, CMIIW! Terus terang, keseruan membaca petualangan menakjubkan di Vandaria begitu terusik dengan sejumlah typo dan penyusunan kalimat yang agak kurang luwes di beberapa bagian novel seri Vandaria sebelumnya. Baru di seri Kristalisasi dan Hailstorm-lah kesalahan akibat absennya editor sudah mulai banyak diperbaiki. Sayangnya, ukuran font dalam novel ini termasuk sedikit kecil di bawah rata-rata. Kebijakan ini mungkin diambil untuk mengurangi jumlah halaman dan untuk menurunkan harganya sehingga novel ini lebih terjangkau bagi lebih banyak pembeli. Untuk alasan ini, saya setuju.

Kekurangan dari Sang Penantang Takdir mungkin pada keputusan penulis untuk agak mempercepat cerita, terutama bagian awal-awal. Ketika Deus berangkat membantai naga, ia menemukan naga pertama. Belum sempat digambarkan bagaimana adegan pertempurannya, tahu-tahu ia dan kelompoknya telah berhasil membantai tiga naga legenda. Bayangkan, tiga naga legenda nan perkasa tiba-tiba saja diceritakan telah berhasil mereka bantai tanpa dijelaskan bagaimana. Mungkin, pilihan ini diambil penulis dengan pertimbangan agar pembaca tidak bosan dengan adegan sadis berdarah-darah yang jumlahnya ada sembilan (yang kenyataannya hanya muncul 6 kali, 5 kali dengan perkecualian di pertarungan dengan naga kesembilan). Tapi, tetap saja ini meremehkan 3 naga legenda yang pertama. Saya kira, pembaca tidak akan keberatan menyaksikan adegan pertempuran dengan sembilan naga tersebut karena penulis memang mampu menggambarkan sesi-sesi pertempuran itu dengan begitu seru.

Tapi, terlepas dari kekurangannya itu (dan memang bisa dimaklumi karena seri Vandaria ini ditulis oleh para penulis muda dengan bakat hebat), novel Sang Penantang Takdir telah mengikat pembaca begitu rupa dengan alam Vandaria. Perlahan tapi pasti, alam rekaan anak bangsa ini mulai tersusun secara utuh dengan jalinan cerita nan menawan, menarik siapa saja untuk turut mengkristal di dalamnya. Selamat sekali lagi, kalian memang hebat! Proyek ini memang luar biasa. Hidup fantasi karya anak bangsa.
Profile Image for Lelita P..
630 reviews59 followers
July 27, 2013
Akhirnya ... ngasih lima bintang juga untuk novel dalam negeri. Senang banget rasanya! >_<


Saya kenal Vandaria setahun lalu sejak baca Kristalisasi. Di iklan-iklan novel Vandaria lain di belakang buku itu, saya langsung tertarik sama Sang Penantang Takdir ini karena sinopsisnya yang menarik. Kayaknya seru deh ceritanya. Tapi saya baru bisa mendapatkan buku ini lama kemudian, ketika ada yang berbaik hati membelikan. :3 bukunya mahal sih

Dan setelah membacanya, saya jadi teringat kembali betapa saya mencintai cerita-cerita petualangan fantasi murni--sesuatu yang sudah lama saya tinggalkan, saking terlalu seringnya membaca novel distopia dalam tahun-tahun belakangan ini. :')


Satu kata untuk buku ini: Lengkap. Semua unsur yang bisa saya harapkan dari suatu cerita petualangan fantasi ada semua di sini: pertarungan, hubungan antarrekan-seperjalanan, romansa, pencarian, perjalanan panjang, misteri dan rahasia, sihir .... Segalanya ada. Apalagi dikemas dengan sangat detail pula, bikin saya semakin jatuh hati pada setiap halaman novelnya.

Sang Penantang Takdir mengisahkan hal yang sudah jelas dari judulnya, seseorang yang menantang takdir untuk mencapai sesuatu yang kiranya mustahil. Deus, pengawal Ratu Seraph--penguasa abadi Kerajaan Edenion--jatuh cinta pada ratunya itu, dan Sang Ratu pun ternyata memiliki perasaan yang sama. Namun, hubungan pengawal-ratu jelas bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja, terutama oleh Penasihat Tinggi kerajaan. Agar bisa membuktikan diri, Dewan (atas persetujuan Ratu juga) memerintahkan Deus untuk membantai sembilan naga. Jika dia berhasil melakukannya, dia akan diizinkan menjadi pendamping Ratu.

Dari gambaran umumnya saja sudah menarik banget. Saya memang agak punya bias terhadap hubungan seorang pengawal dengan ratunya, soalnya dulu pas SMP juga pernah nulis novel fantasi yang di dalamnya ada romansa kayak gitu. :"> Makanya saya tertarik banget sama novel ini, dan alhamdulillah puas banget setelah membacanya.

Satu hal yang paling memukau dari Sang Penantang Takdir ini adalah bahasanya. Saya nggak tahu harus gimana mengungkapkan kecintaan saya pada gaya bahasa Mas Ardani Persada. Bahasanya unik: pilihan katanya sederhana, tapi pengaturan lokasi katanya menciptakan banyak sekali rima senada dalam paragraf-paragrafnya. Gaya bahasa ber-rima seperti itu adalah sesuatu yang selalu berhasil bikin saya jatuh cinta, dan sepanjang membaca saya tak henti terkagum-kagum dengan kepiawaian Mas Ardani Persada dalam menguntai kata. Bayangin aja, dalam pertarungan paling seru dan menegangkan sekalipun, gaya ber-rima itu tetap ada! Gimana saya nggak terbuai dan terpesona. Saya nggak pernah berpikir novel fantasi bisa dikemas sampai sebegini indahnya. Apalagi ini fantasi dalam negeri sehingga citarasa gayanya terasa sangat Indonesia--come on, fantasi terjemahan nggak akan menghasilkan gaya bahasa yang indah murni seperti ini. Pokoknya saya cinta, cinta, cinta banget sama kalimat-kalimat di novel ini.

Ceritanya panjang--karena event dalam novel ini mencakup waktu puluhan tahun--tapi membacanya sama sekali nggak bikin bosan. Gaya penceritaannya lebih banyak bertutur, minim dialog--pilihan yang wajar untuk novel fantasi karena universe-nya berbeda dengan kita dan harus digambarkan dengan detail. Sekali lagi, untunglah deskripsi itu dibuai dengan gaya penulisan yang luar biasa indah, makanya saya mereguk kalimat demi kalimat dengan senang. Saya jadi cukup punya gambaran lagi seperti apa dunia Vandaria itu, setelah lupa karena baca Kristalisasi-nya udah setahun lalu. Anyway, kayaknya orang yang belum terlalu kenal Vandaria akan sedikit bingung baca novel ini pada awalnya, apalagi daftar istilah diletakkan di belakang. Jadi mendingan baca Kristalisasi dulu sebelum baca ini atau novel Vandaria yang lain. :P

Karakter-karakternya sendiri dieksplorasi dengan baik. Deus, Azul, Borr, Arhan, semuanya dikisahkan latar belakangnya masing-masing, dengan penokohan yang cukup memadai. Saya juga menikmati bagaimana mereka berempat lama kelamaan menjadi rekan seperjalanan yang solid dan saling percaya, setelah sebelumnya nggak saling kenal. Selalu suka interaksi rekan seperjalanan begini~<3

Chemistry Deus dan Ratu Seraph juga cukup terasa--dibangun perlahan-lahan, satu demi satu. . Tapi saya nggak bisa dibilang nge-ship mereka sih. Habis Deus-nya gitu, Ratu Seraph-nya gitu. #apacoba

Saya juga suka bagaimana pertarungan Deus dkk dengan para naga tidak semuanya digambarkan. Ada yang digambarkan jelas, tapi ada juga yang skip time dan ada juga yang hanya dijelaskan sekilas lewat jurnal Arhan. Menurut saya, Mas Ardani Persada bijak sekali memilih seperti itu, soalnya pasti pembaca bakal bosan kalau kesembilan pertarungan itu dikisahkan satu per satu. Secara umum pilihan-pilihan adegan apa aja yang dituliskan dalam novel ini memang tepat sekali--nggak ada duplikasi dan semuanya tetap mempertahankan rasa penasaran untuk terus membaca.

Ending-nya ... hmmm, saya nggak bisa bilang kecewa sih, soalnya sejak awal saya memang nggak berekspektasi . Barangkali akan ada pembaca yang menganggap tamatnya novel ini agak antiklimaks, tapi bagi saya sendiri sih enggak juga. Saya puas-puas aja, meskipun nggak bisa dibilang sangat terkesan dengan ending seperti itu. Biarlah beberapa halaman akhir kayak gitu ... saya sudah sangat dipuaskan oleh ratusan lembar sebelumnya yang seru dan menyenangkan dibaca. :D

Satu kelebihan lain novel ini adalah ilustrasinya yang memesona. Sumpah, ilustrasi itu nilai plus banget. Selain sangat cocok dengan karakteristik novelnya, senang rasanya bisa melihat visualisasi sebuah adegan dengan gambar komikal yang keren. Bagi yang jenuh membaca tulisan, ilustrasi tersebut akan menjadi selingan yang menyejukkan mata. :)

Kekurangan .... Masih ada beberapa kesalahan ketik yang saya temukan, walaupun nggak terlalu mengganggu. Sekali lagi saya menyayangkan ukuran font yang terlalu kecil, tapi sekarang saya udah paham, itu antisipasi agar novelnya nggak terlalu tebal yang akan bikin semakin mahal.


Dulu saya pernah bercita-cita menjadi penulis novel fantasi, tapi akhirnya memutuskan mundur karena merasa fantasi dalam negeri tidak ada pasarnya. Novel ini, dan novel-novel Vandaria lain, jelas meruntuhkan pendapat tersebut. Saya bangga sekali ada novel fantasi lokal sekeren ini. :') Sampai sekarang saya tergila-gila dengan universe Ragnarok--baik game maupun anime-nya--dan tampaknya saya bisa mulai tergila-gila dengan Vandaria juga. :)

Highly recommended untuk pecinta novel fantasi petualangan ... tapi ya itu tadi, mending baca Kristalisasi dulu biar ngerti universe Vandaria. XD
Profile Image for Alvina.
732 reviews118 followers
December 10, 2012

Pernahkah kamu mengalami sebuah kejadian dan akhirnya mengubah seluruh jalan hidupmu?
Jika belum pernah, dengarkan cerita seorang anak lelaki yang kehilangan desanya, kehilangan orang terdekatnya tapi kemudian menjadi seorang yang berhasil dalam perjalanan hidupnya.

Namanya Deus, nama yang diberikan Raja Baxilios kepada anak lelaki itu ketika ia diberi kesempatan untuk menjalani pelatihan sebagai seorang prajurit frameless yang tangguh. Deus tumbuh menjadi prajurit tangguh seiring dengan kedewasaannya, sampai suatu hari ia dan beberapa prajurit terbaik lainnya diberi kesempatan untuk saling bertanding untuk mendapatkan posisi terhormat sebagai pengawal Paduka Ratu Seraph.

Kebaikan dan kemujuran sepertinya selalu menaungi Deus, meski babak belur akibat pertandingan tersebut, rupanya Ratu tetap memilih Deus menjadi pengawal kepercayaannya. Dan semenjak itulah hubungan keduanya makin dekat.

Seperti pepatah yang menyatakan cinta ada karena terbiasa, itulah yang terjadi antara Deus dengan Seraph. Rupanya keinginan Ratu untuk menjadikan Deus sebagai Rajanya ditentang oleh penasihatnya, terutama oleh Exar, Penasihat Tinggi Kerajaan Edenion. Sebuah ide muncul di benak Exar, bahwa untuk menjadi seorang yang setara dengan Seraph, Deus harus membuktikan kemampuannya.

Sialnya, Ratu Seraph terlalu percaya diri dengan kemampuan Pengawalnya, sehingga ia mengajukan bahwa jika Deus berhasil membunuh sembilan naga legenda maka Deus berhak menjadi pasangan Ratu Seraph.

Yah, naga bukanlah makhluk kecil yang bisa dengan mudah dibunuh. Apalagi jika jumlahnya sembilan, bukan? Oleh karena itu, Deus mengajukan syarat agar ia bisa mengajak dua orang untuk menemaninya membunuh naga-naga tersebut. Seorang adalah peramal yang pernah Deus temui di jalan, satu lagi adalah Borr, seorang wanita yang dikurung di penjara karena memiliki marga yang merupakan musuh Edenion.

Berangkatlah mereka menuju petualangan yang sebenarnya, mencari tempat persembunyian naga, melawan naga, bertaruh nyawa. Tapi dalam perburuan tersebut, Deus tidak hanya mempelajari bagaimana cara membunuh naga, ia juga mempelajari kehidupan orang-orang disekitarnya. Mereka para frameless dan separuh manusia, juga mereka manusia yang seringnya menjadi budak. Langkah demi langkah, hari demi hari yang mereka lewati rupanya membawa mereka sedikit lagi menguak rahasia lama yang tersimpan di Edenion... dan seluruh tanah Vandaria...

Sebuah cerita petualangan yang membuat penasaran untuk terus diikuti. Benarlah jika teman-teman yang sudah membaca buku ini memberitahu bahwa ini adalah pembuka dari keseluruhan cerita tentang Vandaria. Alur ceritanya memang cepat, tapi menurut saya ada beberapa bagian cerita yang terpaksa dipotong di tengah jalan, sehingga malah membuat pembaca kurang nyaman. Contohnya ketika mereka membunuh naga, mungkin karena menyesuaikan dengan legenda Vandaria makanya ada sembilan naga, sayangnya ngga semua kisah perburuan sembilan naga tersebut diceritakan. Lalu ketika munculnya tokoh Arhan yang terasa tiba-tiba. Memang kemudian ada cerita asal mula mereka bertemu, tapi tetap saja ceritanya seakan-akan memaksakan suatu tokoh yang nantinya bertugas menceritakan Kisah tentang Deus. Lalu hurufnya yang mungil, kurang bersahabat bagi pembaca yang matanya minus seperti saya.

Satu kalimat yang masih saya ragui typo apa bukan, yang saya temui di halaman 138,
Deus dan Borr mengacuhkan sedikit kebencian pribadi yang tercium jelas dalam nada suara Borr. <- Borr di awal kalimat ini, apa maksudnya mungkin Azul ya?

Selebihnya, bagi penggemar kisah fantasi, naga dan Vandaria, wajib membaca novel ini :)

Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
September 18, 2012
Sejak awal mengenal vandaria saya sudah menaruh harapan pada kisah ini. Saat itu, di halaman belakang “Harta Vaeran” sudah ada info akan terbitnya buku ini. Saya pikir saat itu, Sang penantang Takdir akan terbit kemudian. Tapi saya salah, berturut-turut saga vandaria yang terbit adalah Ratu Seribu Tahun, Takdir elir, Kristalisasi dan Hailstorm. Dan dari kesemuanya itu (yang lini masa tidak selalu berurutan) seringkali terselip keterangan mengenai Edenion, kejayaan serta keruntuhannya. Dan selama itu pula, saya selalu dibuat penasaran dengan berbagai publikasi yang mengatakan bahwa buku Sang penantang Takdir ini adalah fondasi dari dimensi waktu Vandaria.

Maka ketika buku ini sampai ditangan saya (gratis pula ) gembiranya saya jadi berlipat-lipat. Walau dengan mencuri-curi waktu, saya berhasil menyelesaikan buku ini dan dibuat penasaran menantikan sequelnya “Sang Raja Tunggal”.

Bagi penggemar Vandaria yang juga menggandrungi vandaria wars, pasti akan langsung ngeh sama cerita ini. Karena itu mas “Amy Raditya” sebagai pencipta hikayat Vandaria menyebutnya sebagai Urban Legend di dunia Vandaria. Jadi yang terpenting dalam kisah-kisah yang udah jadi urband legend tersebut (sudah diketahui banyak orang) adalah plot dan penceritaannya yang menartik.

Syukurnya, Ardani Persada berhasil meramunya jadi kisah petualangan yang epik sempurna. Walaupun (menurut saya) masih terdapat bolong-bolongnya juga. Yang paling ganggu itu dari segi logika ceritanya. Tapi makin kebelakang makin bagus koq dan epilognya twisted banget.

Di luar semua itu, epik dalam novel ini menurut saya jauh lebih baik dari saga-saga vandaria sebelumnya. Dan yang sangat membantu adalah gaya penceritraan Ardani Persada yang bikin buku ini jadi gak ngebosenin. Padahal cukup tebal loh (hampir 400 halaman). Poin penting lainnya adalah penokohannya yang cukup kuat. Jadi meskipun tokoh-tokoh dalam novel ini cukup banyak, kita masih tetap bisa ngingat-ngingat mereka karena karakternya udah kuat.

Akhir kata, saya beri empat bintang untuk buku ini di goodreads. Dan saran buat teman-teman yang sama sekali belum kenal vandaria, buku ini pas banget kalian baca pertama kali. Karena ini merupakan tonggak awal dari sejarah-sejarah yang terjadi di Vandaria. Buat yang udah malah melintang di dunia Vandaria, yang udah pada ngeh gimana endingnya ntar. Buku ini tetap recommend banget. Inilah awal mulanya, mengapa begini… begini… Happy reading!!!

find more on http://bugot.wordpress.com
4 reviews1 follower
July 31, 2012
Resensi disini murni menurut pandangan pribadi. Tanpa ada maksud melecehkan. Semoga bisa memberi masukan dengan baik.
So...to the point aja...(WARNING: mengandung spoiler, monosodium glutamat dan pewarna tekstil)

Sampul : Not my personal pick or favourite - (2/5)

Cerita: Bosen pertamanya...Prolognya yg unexpected dn beberapa faktor bikin kurang antusias untuk baca ngebut2 seperti masa2 Deus kecil, pas ngelawan Zohak (hue...cuma segini?), skip yg lumayan panjang soalnya tau2 pas pindah bab udah ada nambah 1 companion dan selesai bantai 3 naga aja (*Le Me think : c'mon...battle lawan Zohak aja cuma segitu, ini skrg tau2 uda total 3 naga yg tiwas. Jangan2 6 naga sisanya kayak gini juga >_<) TAPI.........
Pada bab2 berikutnya, alur cerita jadi lebih padat dan menyenangkan utk diikuti...bosen yang didpt pas baca pertama kali itu kebayar lunas berikut bunganya di lembar2 berikut sampai akhir buku. Hal2 yang dirasa membingungkan sebelumnya terjawab semua. Worth to read every single chapter of it !!!
*best chapter: #33. Mau tau puisi sajak ala J.R.R .Tolkien difusion sama dunia Vandaria ky gmn? Baca bab ini...(tapi baca dulu bab2 sebelumnya ya xD) - (3.5/5)

Penokohan: Gak ngerti penokohan yg baik itu kyak gimana juga tp hampir semua tokoh utama di karakter ini cukup dalam, seimbang dan jelas (Why Azulmagia....Why?)kecuali Seraph yang kurang jelas galaunya dan Exar yang rasanya masih kurang "annoying". - (3/5)

Others: Fontnya, buat saya pribadi, krg nyaman dibaca dan bikin lumayan cepet ngantuk entah kenapa. Cuma tahan 3 ato 4 bab aja sekali baca (padahal buku lain yg sejenis bisa tahan lebih lama) - 2.5/5

Personal Average Score: 2.75/5
Profile Image for Alex.
Author 7 books11 followers
November 2, 2012
Finished reading this book with such euphoria unexplained, such of when I finished reading Lords of the Rings trilogy or finished Breath of Fire IV game. Both of these IPs somehow related with SPT for me personally.. epic companies, dragon hunting, etc.

One phrase to describe Ardani Persada's SANG PENANTANG TAKDIR is "THE EPIC LORE"! Today I spent half of the book in an instant pace due to the addictive plot, characters, dialogues, theme and the lore hidden within some of the chapters.

Some of the dialogues, especially Azul's and 'that last dragon' really made my happy and currently addicted for more of Ardani Persada's writings.
There are parts of the story that made me almost cried! (just wonderful!) The emotional relations between Deus, Azul, Arhan dan Borr somehow also made SPT looks lovely in story development.

I am totally speechless, I should've finished this days ago. But since it's weekend so I just had the time but you know what? After this (yes, after this).. I am gonna hunt me an Ardani Persada's RATU SERIBU TAHUN, unsealed or not, I am going to buy and read it!

I am now currently a fan of Ardani Persada!

LOVELY EPIC! JUST LOVELY!!!

I wish the ending would be more than... well.. I am still curious! I need to know more of this SPT lore! XD
Profile Image for Andry Chang.
Author 56 books37 followers
July 16, 2012
Dani, you have done your best menulis kisah Deus, si superstar Vandaria ini, dengan pengetahuan Vandaria yang mantap pula. 5 bintang saya berikan dengan jujur dan tulus.

Apapun kata orang, belum tentu dia bisa handle kisah mainstream Vandaria kecuali kalau creatornya sendiri yang tulis. Apalagi kalau orang itu punya mindset: "kalaupun bukan si creator, yg menulis saga mainstream minimal harus penulis yang sudah ternama". SPT jelas jadi sanggahan atas semua anggapan itu.

Saya mungkin blm banyak baca ini-itu, dan saya baru tahu 2 orang di dunia yang bisa menulis kisah mainstream padahal dia bukan creatornya. Mereka itu Richard A. Knaak untuk Warcraft dan R. A. Salvatore untuk (kalau tidak salah) Dungeons and Dragons.

Jadi pencapaianmu ini benar2 luar biasa, di kalangan penulis fantasi di Indonesia.
*Standing Oviation*

- Full Review Menyusul -
Profile Image for Tryina Denouement.
Author 2 books
August 5, 2012
Nggak sia-sia yah si Kak Ardani Persada punya Goodreads.....udah banyak usul yang diterapkan disini.
Good job!

Aku menyukai jalan ceritanya.... tapi aku bertanya-tanya, ini cerita cinta ato adventure?
Menurutku cintanya agak blur gitu loh... bisa nggak lain kali cintanya lebih exposed gitu loh....

Sekarang mungkin lebih ke cerita adventure kali....

Kok cari naganya sampai bertahun-tahun? Kok kayaknya awalnya semua ditunda yah....

Kok sampe libatin marga suci segala?

Kok malah Deusnya mabur sendiri, apa nggak riskan?

Itulah yang saya mau bilang......

Eh, tambah satu lagi pertanyaan.......

Apakah Deus Sang Raja Tunggal?!Atau 'Vanadis' yang disebut di pikiran Deus?!

Ah, pokoknya, cuma mau bilang, prolognya itu mungkin yang dimaksud sebagai 'Pedagang Tua' itu Arhan ya? Sama kok tiba-tiba masa kecil Arhan nongol 'dhewe' (sendiri.)?!

-The End.
Profile Image for Inge.
150 reviews3 followers
January 21, 2013
awalnya spt tersendat-sendat saat bacanya, salah satu alasannya krn masih ngerasa bingung saat tau kalau Vandaria saga terkait satu sama lain... tp beberapa teman bilang paling pas baca pertama ya buku ini...

akhirnya bisa juga menikmati... walau dibeberapa cerita terasa dipersingkat (iya... pertarungan dng beberapa naga yang tidak diceritakan) kemudian beberapa bagian jg menyisakan tanya (mengapa setiap naga justru bilang mereka menjaga keseimbangan Vandaria? lah kok ratunya malah nyuruh bunuh semua naga?)

tapi pertanyaan itu terjawab diakhir cerita yg jg terasa sedikit menggantung dan buat penasaran dng buku lainnya... :)

3,5 (bulatkan jd 4 aja wes) / 5 bintang untuk deus dan naga2 legenda :)
Profile Image for Dennis Rentian Christian.
3 reviews
January 5, 2013
review dikit yah.. kisah cinta Deus dan Seraph sudah cukup tersampaikan.. yah unsur romance nya oke.. sayang adegan battle kurang didalami.. kalau menurut saya, adegan battle dari kisah Deus ini sangat ditunggu tunggu oleh para pembaca.. khususnya melawan para dragon :D semoga dikarya berikutnya adegan battlenya tidak dikesampingkan.. jujur saya sedikit kecewa karena ini adalah salah satu story yang sangat spektakuler dan penting.
Profile Image for Bukhari.
3 reviews
January 7, 2013
Sudah baca dan sudah suka, walau ending nya ngga terlalu menyenangkan, tetapi diwaktu membacanya bagaikan masuk dunia VANDARIA
Profile Image for Fillea Ivy.
30 reviews1 follower
March 22, 2025
Telat banget sih aku baru baca novel ini, padahal aku sudah baca novel vandaria saga yang lain bertahun-tahun yang lalu. Berawal dari Hailstrom, aku penasaran gimana Edenion bisa runtuh, dan kukira di novel ini dijelasin. Ternyata tidak, atau mungkin ini bisa jadi awal kehancurannya?

Sang Penantang Takdir, narasinya yang detail membuat kita bisa membayangkan bagaimana tampak Edenion dari pandangan tokohnya. Dan membuat emosi mereka juga kuat. Walaupun mendetail, tapi bukan yang bertele-tele, atau yang bikin bosen. Justru itu yang membuat novel ini bagus.
Namun, alurnya yang cepat-atau bisa dibilang sangat cepat- sungguh disayangkan. Bahkan mungkin ini bisa jadi novel berseri jika alurnya diceritakan sedikit lambat. Kisah pertama kali Deus melawan naga, juga beberapa naga dilompati, dan sedikit sekali cerita selingan di perjalanan mereka. Seolah menampakkan sosok framless yang berdedikasi terhadap tujuannya, langsung menantang naga lain setelah mengalahkan satu naga. Yah,, kurang gituu
Profile Image for Novera Maharani.
7 reviews1 follower
February 1, 2017
Bagus, bagus banget! XD Aku suka karena banyak tokoh-tokoh penting Vandaria yang ada di sini, tapi terutama Azulmagia. Sedih banget baca masa lalunya Azul T_T. Yah tapi akhirannya nggantung sih. Semoga ada kelanjutannya.
Profile Image for Abe Mitsuteru.
9 reviews1 follower
November 18, 2012
Jujur untuk yang satu ini saya ragu mao kasih rating berapa...

Di satu sisi banyak bagian yang di skip (pertarungan melawan 3 naga pertama).

Tapi di sisi lain penjelasan mengenai sudut pandang para frameless cukup memuaskan. Terutama sikap keras kepala Deus yang menggambarkan seberapa kakunya frameless itu.

Harapan saya adalah transisi Deus menjadi The One King tidak ikut di skip.
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.