Judul Buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit :AFRA Publishing (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun terbit : Februari 2012
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-8277-49-5
Ukuran : 14 x 20 Cm
Harga : Rp 26.000
“Sejak pertama bertemu di sekolah… saya… telah jatuh hati pada seorang gadis berjilbab, yang cerdas, bermata bintang, berhati bidadari… Margriet Avilla…”
Satu hal, saya akan terus mecintaimu, menunggumu, dan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan saya tentang Tuhan.
(Fajar kepada Margriet)
Kerja cinta, kadang suka tidak terduga. Datangnya darimana dan ditujukan untuk siapa, sungguh tidak bisa diraba. Ketika mata beradu dengan mata, maka kemudian hanya hati yang berbicara. Masalahnya adalah, bagaimana jika jatuh yang membuat cinta tersebut dialami oleh anak laki-laki yang baru beranjak dewasa? Dia bahkan baru kelas satu SMA. Mungkin saja, di umur yang sepantaran dengannya, banyak anak muda yang bahkan baru saja lepas dari bermanja-manja dengan ibunya. Masalahnya lagi, dia jatuh cinta perempuan yang jauh lebih tua. Empat tahun beda usianya dengan perempuan yang telah menggetarkan seluruh jiwa raga. Ini tentu tidak biasa dan agak sulit diterima logika. Biasanya, masa-masa selepas sekolah menengah pertama, muda dan mudi suka larak lirik sini dan sana. Masa muda yang penuh gelora. Kata orang, cinta monyet namanya.
Namun cinta Fajar pada Margriet, Avilla-nya, adalah cinta yang berpijak atas cinta kepada Tuhan-nya. Bermula dari pencarian Fajar akan makna agama yang dianutnya dan Tuhan yang mesti dia cinta, maka Fajar merasa bahwa Margriet adalah gadis yang akan cocok untuknya, di masa yang akan dia lalui jauh di depan sana.
Cinta Fajar pada Margriet adalah cinta dengan meleburnya konsep ego yang sempurna, sebagaimana konsep Ego yang dikemukakan oleh seorang pakar psikoanalisa; id, ego, dan super ego. Fajar memiliki ‘nafsu’ (id) cinta terhadap Avilla, dan tanpa malu-malu, tanpa pikir panjang, ‘nafsu’ tersebut diekspresikan oleh Fajar secara nyata. Mencintai seseorang yang akhirnya tak bisa kita miliki memang hanya akan membuat kita merasa menjadi pecundang yang bahkan mengangkat wajah pun tak sanggup (hal 85). Inilah sisi paling dasar yang dimiliki oleh manusia. Manusia memiliki ‘sisi buruk’ yang setiap saat akan menjerumuskannnya ke lubang yang bernama dosa. Tapi Fajar bukan hanya sekadar merasa sudah berdosa karena sudah mencinta, tubuh dan jiwanya bahkan sudah terbakar habis oleh cinta sehingga membuat hidupnya merana, membuatnya menjadi manusia yang semakin introvert, berdiam di dunia yang hanya ada dia dan Tuhannya saja.
Beruntung Fajar masih memiliki ego dan super ego dalam dirinya. Bahwa meski Fajar tidak bisa menahan lajunya cinta, dia sadar bahwa manusia hidup dengan banyak rambu, termasuk ‘rambu-rambu’ tentang bagaimana bergaul antara laki-laki dan perempuan. 'Rambu-rambu' ini berfungi sebagai kontrol. Muara dari kontrol tersebut adalah menikah. Inilah sesempurna-sempurnanya bentuk pelampiasan nafsu (id), selain perbincangan banyak tujuan lainnya dari pernikahan.
Kegilaan asmara yang dirasakan Fajar adalah kegilaan yang sama seperti kegilaannya akan Tuhan. Fajar memiliki ketetapan dengan hatinya, hingga bertahun-tahun kemudian Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya. Fajar memang sakit karena perasaan cintanya, dia sungguh merana karena harus membawa cinta tersebut seumur hidupnya, dia pun ambruk karena pada akhirnya semua kesakitan menyerangnya dari berbagai penjuru mata angin. Tapi Fajar yang masih percaya adanya kasih Tuhan, masih diberi kesempatan membuka mata dan menemukan cahaya, seketika, di depan mata. Semua menjadi indah pada waktunya. Sungguh sebuah kisah cinta yang mengharu biru dan membuat lena.
Lain Fajar, lain pula Phil, laki-laki bule asal Australia. Meski dua laki-laki ini sama-sama mengalami yang namanya falling in love at first sight, sama-sama terbakar rasa cinta pada Margriet, namun Phil lebih beruntung. Dia mendapatkan cintanya tak pakai lama, tak pakai berdarah-darah jiwa sebagaimana yang dialami Fajar. Phil kembali ke ‘rumah cinta’ yang abadi yang juga tak pakai lama, yaitu menemui Tuhan sang kekasih sejati. Sungguh hidup terasa amat singkat bagi Phil, tapi dia seperti hidup ribuan tahun lamanya. Dalam masa yang begitu singkat dia bisa merengkuh dua cinta sekaligus. Dengan kondisi sesempurna begini, siapakah yang tidak akan bahagia?
Maka, di sinilah Margriet berdiri; di antara dua cinta yang sama kuatnya. Tuhan memang begitu royalnya mencurahkan segenap kasih untuk Margriet. Dua pria yang sama-sama mencintainya dengan segenap jiwa namun dengan cara dan nasib yang berbeda, adalah dua pria yang sama-sama beruntung karena sempat menautkan cincin pernikahan di jari Margriet.
Maka membaca ‘My Avilla’ karya Ifa Avianty ini, adalah membaca perjalanan anak manusia dalam mencari jati diri, yang kesemuanya bermuara hanya pada satu cinta; Allah Sang Pemilik Cinta.
Dengan alur maju mundur, konflik tertata dengan apik. Tokoh utamanya ada empat orang, namun dengan penggunaan point of view orang pertama untuk bagian penceritaan masing-masing tokoh, ditambah dengan adanya ‘pelabelan’ nama tokoh setiap kali berpindah ke tokoh lain, sangat memudahkan pembaca untuk tak berpikir semacam ‘ini siapa, ya?’. Tapi, sebenarnya ini pakem lama, pakem cerpen-cerpen ala majalah Annida ketika memakai point of view orang pertama untuk semua tokohnya. Tidak mengherankan, bagaimanapun Ifa Avianty memang ‘tumbuh dan berkembang’ dari situ. Namu sisi tidak eloknya, hal ini sungguh mengkebiri imajinasi saya sebagai pembaca yang menyukai tantangan dalam labirin kata. Ketika masuk ke dalam labirin kata, secara pribadi saya lebih menyukai posisi di mana saya yang menemukan sendiri banyak kunci sebagai ‘jalan keluar’, dan bukan kunci dari ‘sang sutradara’ pemilik cerita.
***
Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya membaca novel-novel Ifa Avianty. Namun saya tentu tidak bisa lupa bagaimana kisah-kisah yang disajikan Ifa Avianty. Kisah manis nan romantis yang kadang suka bikin saya menangis, itu juga kalau ending-nya berakhir tragis. Salah satu novelnya yang sukses membuat saya mengalami hal lebay semacam itu adalah novel yang berjudul ‘Strawberry Shortcake’.
Selipan lirik lagu-lagu lama bertebaran hampir di sepanjang halaman buku. Celetukan sebuah atau beberapa judul film (seringnya film lawas) sesekali muncul saat percakapan atau ketika seorang tokoh menilai tokoh lainnya. Si A bertemu si B dan berinteraksi, sebagai si ‘aku’, si A melihat si B mirip Orlando Bloom karena rambut ikal mereka sama. Atau, ketika melihat seseorang tersedak di meja makan dengan gaya yang elegan (saya sambil bertanya ‘ada ya tersedak dengan gaya elegan’), misalnya, si tokoh utama mulai menghubungkannya dengan salah satu adgean film yang diperankan oleh Brad Pitt di mana dia tersedak di meja makan (ini juga misalnya, karena saya tidak tahu apa adegan ini ada atau tidak, hahaa…). Ini benar-benar gaya Ifa Avianty banget dalam menulis fiksi roman. Tidak salah karena Ifa (katanya, di biodata :D) memang suka mendengarkan lagu dan menonton film. Tentulah seorang Ifa memiliki banyak referensi untuk mengisi embel-embel pemanis cerita seperti ini.
Semua tokoh digambarkan begitu sempurna. Anak orang kaya, ganteng-cantik, pintar, dikagumi banyak orang, memiliki pekerjaan sebagai dosen/model/pengusaha. Padahal, sungguhlah hidup tidak melulu menyajikan fakta yang sesempurna itu.
Untungya, kisah mereka diimbangi dengan adanya tokoh bernama Trudy, adik Margriet. Trudy, perempuan yang digambarkan memiliki kesempurnaan fisik yang lebih dari Margriet, namun sesungguhnya hidupnya tidak pernah benar-benar sempurna. Bahwa kehilangan orang yang dicintai dan secara tidak sengaja menghilangkan nyawa orang yang dicintai Margriet, adalah kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya. Bagian ‘ketidaksempurnaan’ hidup Trudy, menambah nilai lebih novel ini. Jika pada ketiga tokoh lainnya sedikit tercium ‘aroma sinetronistik’, maka kehadiran Trudy sedikit mengurangi ‘celah’ tersebut. Dia cantik tapi tidak berhasil memikat orang yang dia pikat. Dia bahagia tapi di sudut hati terdalam dia merasa tidak bahagia. Dia antagonis di dalam tapi protagonis di luar. Pada Trudy, kisah ini dimula. Pada Trudy pula, akhir semuanya.
Menjadikan kota suci Vatikan sebagai salah satu setting, semakin memperkuat kesan relijiusitas novel ini. Sayangnya setting Vatikan terasa hanya sebagai tempelan saja. Seandainya detail Vatikan di-eksplor lebih dalam, misalnya melalui kegiatan-kegiatan Fajar saat berada di sana, interaksi Fajar dengan orang-orang di sana yang tak hanya orang Indonesia saja, tentu ini akan lebih menarik.
Namun, ada yang agak janggal di sini. Kejanggalan ini sangat menganggu saya sejak pertengahan buku sampai menjelang ending. Ini tentang kronologis atau alur waktu. Jadi, ada flashback cerita ke tahun 1992, saat Fajar kelas 1 SMA dan Margriet di semester 4 kuliahnya. Fajar tamat sekolah tahun 1994 dan di saat yang sama Margriet lulus kuliah. Di tahun yang sama juga, Fajar melanjutkan kuliah ke Pontificial Gregorian University, Roma, sebuah universitas orde Jesuit tertua. Kemudian pada bab ‘Mencari dan Berusaha Menemukan’ (hal 83), waktu berpindah ke saat tujuh tahun kemudian (2001). Fajar masih berada di Vatikan. Di halaman 84 ada kalimat; ‘Beberapa waktu lalu, Mamaku sempat bercerita sulung keluarga Hermawan Hasan akan menikah dengan teman sekampusnya.’ Memang tidak jelas disebutkan kapan waktunya sebelum saat itu. Tapi baiklah, kita ambil jarak dekat saja, mungkin sekitar 1-2 tahun lalu? Berarti tahun 2000 atau 1999. Tapi ternyata saya salah menduga. Karena pada halaman selanjutnya, saat flashback lagi ke tahun 2005 (itu artinya baru setahun Fajar tinggal di Vatikan), Fajar sempat kembali ke Indonesia karena Papanya meninggal dunia. Fajar juga sempat bertemu dengan Margriet. Masih dalam waktu yang sama ketika Papa Fajar meninggal, di halaman 89 tertulis bahwa Margriet akan menikah tiga bulan kemudian, yaitu tiga bulan setelah Papa Fajar meninggal. Berarti, jika dihitung dari tahun 2001, itu kan artinya jauuuuuh sebelum tahun itu, dan bukannya ‘beberapa waktu lalu’ seperti yang dituliskan. ‘Beberapa waktu lalu’ berbeda artinya dengan ‘beberapa tahun lalu’. Ini adalah fakta yang bertolak belakang. Saya kasih contoh. Misalnya 8-9 bulan lalu saya bertemu seorang teman, dan saya menyebutnya ‘beberapa waktu lalu’ ketika saya menceritakan ulang pertemuan saya dengan teman tersebut di sebuah arisan keluarga. Ini kan cuma arisan, tidak penting untuk diketahui tanggal dan jam yang tepat. Inti yang saya mau bilang adalah, ‘beberapa waktu lalu’ mengacu pada waktu yang baru berlalu, bukan waktu yang berlalu bertahun-tahun lalu. Apakah saya benar?
Masih soal rentang waktu Margriet menikah (saya sangat terganggu soal ini, makanya membahasnya jadi sepanjang ini, hahaa…). Di halaman berikutnya, ketika sudut pandang berpindah ke tokoh Margriet, diceritakan bahwa begitu selesai kuliah S1, Margriet bekerja di sebuah universitas internasional hingga dia lulus S2. Berarti tahun 2001, Margriet sudah lulus S2. Di situ ditulis ‘Selama itu, tak yang berani menyinggung-nyinggung status single-ku’. Artinya pada waktu itu Margriet belum menikah. Fakta ini bertentangan dengan dua fakta yang dituliskan sebelumnya; (1) ‘Margriet akan menikah tiga bulan kemudian’ (bulan entah apa di tahun 1995 atau tahun 1996) dan (2) ‘Beberapa waktu lalu, Mamaku sempat bercerita sulung keluarga Hermawan Hasan akan menikah dengan..’ Itu artinya bahwa ‘menikah tiga bulan kemudian’ yang dinyatakan di tahun 2005 dan ‘menikah beberapa waktu lalu’ yang dinyatakan di tahun 2001, adalah salah. Margriet belum menikah di tahun 2001, sampai kemudian Margriet bertemu dengan ‘Bugil’ tampan, Philip Fraser, dosen tamu dari Australia. Hal ini diperkuat lagi dengan kenyataan ketika Margriet sudah mengenal Phil, Fajar yang ‘menyamar’ sebagai Joe, pernah mengirim email yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan kepada Margriet yang ‘menyamar’ sebagai Adda, admin blog ‘TheGodSeeker’. Saat email pertama yang dikirim Fajar untuk Margriet, Margriet belum menikah denga Phil.
Rumit? Saya juga merasakan hal yang sama, hahaa… Tapi begini, seandainya alur maju mundur tersebut tidak dengan mencantumkan tahun, maka pembaca akan mereka-reka sendiri. Tentu saja, reka-reka yang tetap atas dasar logika cerita. Ketika menyajikan data berupa angka ke dalam fiksi, penulis harus jeli betul, tidak boleh lengah terhadap perlunya keakuratan fakta untuk menunjang logika.
***
Well, sebagai romance novel based on the principle of religious story, pesan moral tentang konsep ber-Tuhan dan ke-Tuhan-an, berhamburan hampir di sepanjang halaman novel. Menyelusup ke bagian terdalam bilik hati tanpa kesan menggurui. Melalui tokoh Margriet si ‘manusia suci’, yang Fajar memanggilnya ‘My Angel’, dua manusia belajar mencintai Tuhannya. Sayang, ‘pesan baik’ tersebut tidak sempat menyentuh dinding kalbu adik kandungya, Trudy.
Beragama selalu tidak mudah bagi orang yang kebanyakan mikir seperti kita, Phil. Bahkan, juga masih dirasa sulit bagi orang yang otaknya pendek (hal 105).
Margriet sendiri, meski begitu rapat menutup tubuhnya dengan jilbab besar serta sangat menjaga pandangan, dia bukanlah benar-benar malaikat, seperti sebutan Fajar. Dia tetap manusia biasa. Lihatlah bagaimana ‘genitnya’ Margriet ketika bergumam ‘…lumayan ganteng juga..’ saat pertama sekali bertemu Fajar di teras rumahnya, atau ketika Margriet pernah membatin ‘Cakep-cakep menyebalkan!’ setelah melihat ulah Phil yang ‘menembaknya’ di Cafetaria kampus. Katanya ‘menyebalkan’, tapi kok ada ‘cakep’nya. Ini sama dengan orang yang bilang benci tapi sesungguhnya dia cinta.
Margriet itu terlalu polos soal urusan cinta atau bagaimana, ya? Saat Phil bertugas di luar kota dan mengatakan ada sesosok perempuan yang membuatnya tak bisa tidur, kenapa Margriet malah berpikir tentang penampakan, dan bukannya berpikir tentang perempuan lain, atau… itu adalah dirinya? Bagian ini merusak kesan romantis antara Phil dan Margriet, selain bagian ketika Margriet menyebut Phil dengan sebutan ‘Bugil’, Bule Gila. Saya belum pernah menemukan akronim ‘segila’ ini, hahaa… Sebutan ‘bugil’ itu, lho… Apakah penulis sedang kehilangan ide untuk sebuah guyonan atau memang selera humornya yang kurang?
***
I’m in love at first sight when I saw you dressed in your classy veil. Can’t help falling in love with you (hal 97).
Di dunia ini, kadang ada hal yang tak bisa dijelaskan secara logika, termasuk soal datangnya perasaan cinta terhadap seseorang. Namun dua pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu keduanya ‘melamar’ Margriet untuk menjadi istri mereka, ini adalah fakta yang menambah deretan ‘kesempurnaan’ yang dimiliki Margriet, sekaligus menambah deretan ‘ketidaksempurnaan’ buku ini. Di luar kisah drama, tentu ini agak jarang terjadi, jika tidak bisa saya katakan tidak pernah. Namun, yang jarang inipun, masih harus melalui apa yang disebut dengan ‘proses jatuh cinta’. Karena jatuh cinta tidak terjadi dengan tiba-tiba. Kerja cinta adalah kerja reaksi kimia cinta. Ketika pertama kali kau mengenal seseorang, lalu sekian lama menghabiskan waktu dengannya, bagian otak akan mengeluarkan zat yang disebut Dopamin. Dopamin ini akan menggerakkan seseorang berpindah dari posisi simpati ke posisi ‘crazy in love’. Biarpun namanya ‘crazy’, tapi sesungguhnya yang terjadi di sini adalah kau merasa happy. Inilah yang disebut ‘jatuh cinta’. Kerja selanjutnya digerakkan oleh zat bernama Serotonin. Pada posisi ini, seseorang mulai terobsesi dengan orang yang dia jatuhcintai. Lalu ada zat Oxytocin yang akan membuat seseorang memilih jalan untuk memiliki orang yang dijatucintai. Begitulah kerja cinta. Kerja zat-zat tubuh tersebut, bukanlah kerja sadar sebagaimana jika kamu ingin makan maka otakmu akan memerintah tangan untuk mengambil piring dan menyendokkan nasi. Inilah bincang-bincang cinta, dari seseorang (saya maksdunya :D) yang bukan pakar cinta.
Secara keseluruhan, buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal cinta. Cinta yang tak melulu tentang bagaimana rumitnya hubungan dua anak manusia, lebih dari itu, buku ini juga menunjukkan bagaimana besarnya cinta seorang kakak terhadap adiknya, sebaliknya juga adik terhadap kakaknya, juga cinta seorang oma terhadap cucunya. Di atas semua itu, ada cinta yang lebih tinggi dan hakiki, yaitu cinta terhadap Tuhan.
Selamat membaca!