Jump to ratings and reviews
Rate this book

My Avilla

Rate this book
Pernahkah engkau merasakan kagum yang sangat kepada seseorang? Kagum yang tak pernah sanggup engkau ungkapkan, karena orang yang kau kagumi itu, justru pesaingmu sendiri?

Ya, Trudy begitu terpesona kepada Margriet. Sang kakak itu, seperti diciptakan untuk sebuah kesempurnaan. Kecantikannya, kelembutannya, kecemerlangan hatinya, selalu membuat ia merasa menjadi sosok terburuk, terkasar, dan terjahat sedunia, saat bersanding dengannya.

Dengan apa yang dimiliki, lelaki terhebat di dunia pun, mungkin akan bangga bersanding dengan Margriet. Tetapi, mengapa justru dengan sang kakak ia harus terlibat cinta segitiga?

Ia sungguh tak sanggup melihat Fajar, lelaki yang ia cintai, sering dengan begitu mesra memanggil Sang Margriet dengan sebutan “My Avilla.”

Nyata-nyatanya, Margriet ternyata lebih memilih lelaki bule mualaf, Phill. Lelaki tampan yang periang dan terpelajar, yang juga telah menyemaikan benih kasih-sayang di hati Margriet, sang istri.

Namun, Trudy tahu, alunan cinta di jiwa Fajar, tak lekang karena pernikahan itu …. Bahkan, ketika akhirnya ia dan Fajar telah nyaris sejengkal memasuki gerbang pernikahan, mendadak ia menyadari, bahwa ia tak memiliki kelembutan jiwa setara Margriet, yang akan mampu dengan ikhlas menerima Fajar yang menjadi cacat itu apa adanya.

Novel ini adalah drama cinta nan romantis. Tentu saja cinta yang memberikan lautan inspirasi. Namun, tentu saja tak sekadar jalinan cinta yang ditengahkan. Pencarian Phill dan Fajar akan Tuhan, telah membuat novel ini dengan sendirinya mengusung pencerahan. Phill yang sebelumnya non muslim, dan Fajar yang bersekolah teologi di Roma. Mereka, sama-sama menemukan cahaya. Sama-sama menemukan Tuhannya.

184 pages, Paperback

First published February 1, 2012

2 people are currently reading
77 people want to read

About the author

Ifa Avianty

48 books112 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (20%)
4 stars
34 (39%)
3 stars
29 (33%)
2 stars
6 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Nurra.
1 review2 followers
December 18, 2013
RESENSI

Judul buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
ISBN : 978-602-8277-49-5
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Ketebalan : 184 halaman
Ukuran : 20 cm
Harga buku : Rp 26.000

My Avilla : Kisah Para Pencari Cinta-Nya

“Avilla”, panggilan istimewa yang mengistimewakan Margriet itu, menjadi tolak ukur tersendiri bagi Margriet untuk meneguhkan hati pada seorang Fajar, sosok yang mengajarkan bahwa keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan.

Novel ini berisi dua kisah inspiratif milik Fajar dan Phil tentang pencarian Tuhan. Kisah Phil dan Fajar yang terpesona pada Margriet dengan keanggunan dan keimanan yang ia punya, menghadirkan konflik tersendiri pada masing-masing tokoh dalam memilih cinta dan iman. Semua kisah di dalamnya benar-benar menyentuh terutama kehadiran sosok Margriet yang memahamkan kepahaman tentang Tuhan pada Fajar (yang notabene half muslim- half katolik). Bahwa betapa indahnya memiliki Tuhan. Asalkan menuju Tuhan, maka itu adalah jalan yang baik demi menyampaikan makna mencintai Tuhan bagi hidup. Juga betapa beruntungnya Phil, mengingat sebelumnya ia adalah atheis, seorang yang enggan membawa Tuhan dalam kesehariannya karena hanya takut terjebak dalam 'ritual abad pertengahan'.

Novel ini cocok untuk remaja dan dewasa. Apapun agama anda, novel ini cocok untuk menambah 'benih-benih' kasih sayang anda kepada Tuhan. Bagi remaja penggemar teenlit, kisah drama cinta nan romantis antara Margriet, Fajar, Phil, dan Trudy dalam novel ini, dapat menjadi daya tarik tersendiri ditambah dengan seperangkat inspirasi yang akan 'mengayakan' wawasan anda tentang makna cinta.

Desain sampul elegan dan menarik. Menggambarkan kota Jakarta dengan simbol monasnya di samping simbol negara Vatikan yang merupakan setting dari novel ini. Ketebalan dan ukuran novel, serta jenis huruf mendukung kenyamanan dalam membaca.

“Tak ada gading yang tak retak”. Novel ini juga tak lepas dari ketidaksempurnaan. Sosok Margriet dan Princess Adda yang memahamkan pemikiran tentang Tuhan secara mendalam pada Fajar memiliki persamaan makna meskipun disajikan dengan redaksi yang berbeda. Hal tersebut terkesan diulang dan sedikit menjenuhkan.

Meskipun terdapat kekurangan, kelebihan novel ini pastinya lebih mendominasi. Novel ini sangat dianjurkan untuk dibaca. Pada akhirnya, penulis akan memahamkan pembaca mengenai makna kebahagiaan, keikhlasan, dan ketulusan. So, tunggu apa lagi? Miliki novel ini segera!
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
April 21, 2023
“Bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.”

3.5/5 🌟 utnuk novel ini.
Profile Image for Frida .
10 reviews
November 13, 2013
KISAH CINTA PARA PENCARI TUHAN

Judul Buku: My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit: Afra Publishing (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2012
Ketebalan: 184 halaman
ISBN:978-602-8277-49-5
Harga Buku: Rp. 26.000,00

Novel tipis ini secara tak sengaja saya temukan di antara deretan novel-novel di toko buku SAB (Social Agency Baru) cabang Godean Yogyakarta. Karena judulnya yang menarik dan membuat saya penasaran akan arti kata ‘Avilla’, ditambah lagi karena saya tahu bahwa novel ini termasuk yang dilombakan dalam penulisan resensi buku Indiva, maka saya putuskan untuk membeli buku karya Ifa Avianty ini. Sebenarnya sudah cukup lama saya mengenal karya-karya Ifa ini lewat cerpen-cerpennya di berbagai majalah islami seperti Ummi dan Annida. Namun karyanya yang berupa novel baru kali ini saya baca.

Novel ini mengisahkan tentang kisah cinta segitiga antara kakak beradik, Margriet dan Trudy, dengan Fajar, kawan sekelas Trudy di SMA. Namun begitu, jangan dulu mengira ini kisah cinta picisan yang melanda kebanyakan remaja. Kisah cinta di My Avilla ini melibatkan pribadi-pribadi yang sedang mencari jalan menuju Tuhan. Jalinan cerita di dalamnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan di pikiran para tokohnya, seperti perlukah memeluk sebuah agama untuk mengenal Tuhan? Apakah dalam beragama kita cukup mendasarkan pemahamannya hanya pada dogma-dogma agama yang dianut?

My Avilla dibuka dengan prolog dari sudut pandang dua tokoh perempuan, Trudy dan Margriet, setelah tahun demi tahun melipat usia (meminjam sub judul pada buku ini :)). Kemudian cerita mengalir dengan pengenalan karakter tiga tokoh utamanya, masa-masa remaja mereka, sampai akhirnya ke masa dewasa dan kehidupan rumah tangga tokoh-tokohnya.

Margriet Avilla Hasan dan Trudy Carissa Hasan adalah kakak beradik yang masih mempunyai garis keturunan Belanda dari oma mereka. Terpaut usia 4 tahun, perangai mereka sungguh berbeda satu sama lain. Margriet, sang kakak, adalah pribadi yang lembut, baik hati, cerdas, serius, dan religius. Sedangkan Trudy adalah gadis populer yang karena kekagumannya pada sang kakak menjadikan ia merasa iri dan tersaingi dalam banyak hal. Baginya, hidup adalah kompetisi yang harus dimenangkannya. Dengan pesonanya itu, ia selalu berhasil menggaet cowok-cowok yang disukainya. Ketika mendapati di kelasnya ternyata ada seorang cowok ganteng yang memiliki sifat mirip dengan kakaknya, ia pun tertantang untuk mendapatkannya. Cowok itu adalah Fajar Lintang Bagaskara.

Fajar adalah sosok yang pendiam, pemalu, serius, dan punya kecintaan sangat kepada Tuhan. Latar belakang keyakinan orangtuanya yang berbeda –mamanya Katholik dan papanya muslim– menjadikan ia bimbang memilih jalan mana yang harus ia pilih untuk melayani Tuhan. Meski di KTP tertera agamanya muslim dan menjalankan sholat, tapi hatinya selalu merinding saat mendengar lagu-lagu Natal.

Fajar yang saat itu masih duduk di kelas 1 SMA menolak cinta Trudy dan malahan jatuh cinta pada Margriet yang telah kuliah. Pesona Margriet yang cerdas, berjilbab lebar, dan berhati bidadari membuat Fajar berani mengungkapkan isi hatinya pada Margriet, bahkan ia memiliki panggilan istimewa untuknya: ‘My Avilla’. Margriet pun menjadi shock saat ditembak oleh Fajar, namun perlahan-lahan merindukan sosoknya justru di saat Fajar menghindarinya.

Beberapa tahun kemudian –saat Fajar meneruskan kuliah di Roma dan Margriet telah menjadi dosen dan belum menikah– muncul sosok Philip Fraser, si bule gila, rekan kerja Margriet di Universitas Indonesia Internasional (UINI) Jakarta. Berawal dari jatuh cinta pada pandang pertama dan ingin menikahi Margriet, ia pun serius mempelajari Islam. Phil, yang sebelumnya seorang agnostic –percaya keberadaan Tuhan tapi tidak menganut satu agama tertentu– berganti keyakinan menjadi seorang muslim yang taat. Akankah Margriet menerima lamaran Phil, ataukah hatinya masih saja mengharap Fajar kembali?

Gaya penceritaan novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antar tokohnya. Hal ini menjadikan pembaca serasa lebur ikut merasakan apa yang dirasakan setiap tokohnya. Saat saya membaca cerita Margriet, serasa sayalah yang (hanya bisa) menyimpan rasa ketertarikan pada Anies –sang ketua rohis kampus–; seakan sayalah yang shock karena ditembak oleh Fajar yang usianya di bawah saya; serasa hati sayalah yang patah saat diminta oleh Fajar untuk melupakannya. Saat membaca kisah Trudy pun, saya bisa memahami mengapa ia selalu dilanda rasa sibling rivalry yang kuat. Dan hal ini memberikan pelajaran tersendiri bagi saya sebagai ibu agar jangan sekali-kali membanding-bandingkan anak-anak satu sama lain. Siapa sih yang mau dibanding-bandingkan, meski dengan saudara kandung sekalipun?

Gaya penceritaan yang bergantian seperti ini sebenarnya mengandung resiko, yaitu apabila penulis terlupa dengan menggunakan sudut pandang orang yang tidak sedang diceritakan. Tetapi dalam My Avilla, hal itu tidak saya temukan. Pergantian tokohnya juga terasa smooth.

Meski pemilihan tema buku ini tergolong berat dan serius, namun penulis berhasil mengemas novel ini dengan ringan dan renyah. Ciri khas seorang Iva Avianty –yang bergaya soft dan feminine– tetap melekat pada novel ini. Diskusi-diskusi tentang pencarian Tuhan mengalir kritis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Seperti yang diakui oleh Iva Avianty di lembar pengantar novel ini, bahwa ia bukan seorang ahli ilmu perbandingan agama, jadi jangan berharap akan menemui banyak kajian ilmiah yang membuat kening berkerut. Penulis hanya menuliskan sebagian pengalaman batinnya sendiri yang agaknya seperti yang tercantum dalam surat Fajar kepada Margriet: Saya tahu bahwa jika ada pertanyaan yang tak terjawab bukan berarti agamanya yang nggak logis. Tapi, itu mungkin saja ilmu kita yang belum nyampai ke sana. Atau logika Tuhan dan ketuhanan selalu jauh lebih tinggi dari jangkauan kemanusiaan kita. Dalam persepsi saya, Tuhan tak bisa disamakan dengan kita dalam hal apapun, juga dalam logika. Tapi, bukan jawaban dogmatis yang saya mau (hal 47-48).

Gaya penulisan yang ringan dan renyah ini tidak berarti mengabaikan hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran. Banyak kalimat/quotes yang bagi saya sangat berkesan, tercecer sejak dari halaman awal sampai akhir. Diantaranya adalah:
1. …cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan (hal 15).
2. …keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan. Membiarkan cinta mencari bentuknya dalam bentuk kebaikan yang indah. Filosofis dan dalam (hal 15).
3. Keimanan nggak bisa ditukar semudah menukar pakaian hanya karena kita merasa nggak cocok. Keimanan adalah sebuah konsekuensi logis dunia dan akhirat yang kita tidak bisa mengambil sebagiannya dan membuang sebagian yang lain (hal 54).
4. …dengan berpikir, kita akan mudah menemukan jalan menuju-Nya (hal 131).
5. …kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan (hal 182).

Secara diksi, novel ini banyak menggunakan bahasa campuran (code-mixing) antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meskipun demikian, catatan kaki untuk menjelaskan terjemahannya tidak diperlukan karena kata-kata dalam bahasa Inggris tersebut merupakan diksi sehari-hari yang mudah dimengerti. Adanya catatan kaki sepertinya justru akan mengganggu tampilan bagian buku secara keseluruhan karena saking banyaknya kata/kalimat yang diterjemahkan.

Novel ini juga terasa ‘nge-pop’ oleh karena di beberapa tempat dicantumkan cuplikan teks lagu, dari nasyid, lagu lama Indonesia, lagu barat, bahkan kidung Natal! (Saya hanya mengenali 2 lagu, lagunya Snada dan lagu ‘jadul’ Indonesia yang dinyanyikan oleh Nicky Astria :)). Teks lagu Natal yang menghabiskan 2 halaman lebih sedikit inilah yang membuat saya cukup terkejut dan heran karena penerbit Indiva yang selama ini konsisten dengan buku-buku Islami, ternyata tidak mengeditnya. Setahu saya, lagu-lagu gereja adalah bagian dari ibadah orang Nasrani, cara mereka mengagungkan Tuhannya. Mungkin penulis ingin lebih dalam menggambarkan kebimbangan Fajar yang begitu tergugah jiwanya mendengar lagu-lagu Natal yang sejak kecil telah akrab di telinganya.

Berkaitan dengan penokohan Fajar, saya merasa sedikit janggal karena Fajar yang digambarkan memiliki karakter pemalu, pendiam, dan canggung ini, punya profesi sampingan sebagai penyiar radio semasa ia SMA. Bukankah seorang penyiar radio biasanya adalah orang-orang yang supel dan tidak pemalu?

Membaca novel ini, ritme cerita terasa kurang stabil. Pada bagian awal sampai tengah novel, ritme masih terasa stabil (baca: pelan). Tetapi pada bagian akhir, yaitu setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Phil, ritme cerita terasa cepat sekali. Seakan-akan penulis tergesa-gesa untuk segera menyudahinya.

Berseting di Jakarta dan Roma, kedua tempat tersebut tidak begitu banyak digambarkan di dalam buku ini. Padahal dengan cover buku yang menampilkan lukisan gedung-gedung di Roma dan Tugu Monas di Jakarta, tentunya para pembaca mengira akan ada deskripsi yang menarik dari kedua seting tersebut. Namun secara keseluruhan, saya sangat menyukai desain covernya yang bernuansa coklat kekuningan dengan siluet wajah orang dari samping. Sangat menarik!

Akhirnya, novel yang berhasil memenangi juara III dalam Lomba Penulisan Novel Inspiratif yang diadakan oleh Penerbit Indiva ini very recommended bagi siapa saja. Bagi yang muda –yang biasanya tengah bergejolak dalam upaya pencarian akan hubungan dirinya dengan Tuhan –, maupun bagi yang pernah muda –yang ingin mengenang masa-masa pencariannya dulu atau yang masih tetap dalam masa pencarian. Karena sejatinya pencarian kebenaran tidaklah harus berbatas waktu, selama masih ada nafas, upaya pencarian adalah sebuah keniscayaan.

Dan agaknya akan lebih menarik lagi apabila novel ini dibuat sekuelnya, yang khusus menceritakan bagaimana perjalanan Trudy mencari kebahagiaan sejatinya. Mengingat bahwa epilog novel ini ditutup oleh ungkapan hati Trudy yang masih menyisakan tanya.

Dan sampai tamat membaca buku ini, saya masih saja bertanya-tanya, apa arti kata Avilla? :)
Profile Image for Fardelyn Hacky.
19 reviews2 followers
December 29, 2013
Judul Buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit :AFRA Publishing (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun terbit : Februari 2012
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-8277-49-5
Ukuran : 14 x 20 Cm
Harga : Rp 26.000


“Sejak pertama bertemu di sekolah… saya… telah jatuh hati pada seorang gadis berjilbab, yang cerdas, bermata bintang, berhati bidadari… Margriet Avilla…”
Satu hal, saya akan terus mecintaimu, menunggumu, dan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan saya tentang Tuhan.
(Fajar kepada Margriet)

Kerja cinta, kadang suka tidak terduga. Datangnya darimana dan ditujukan untuk siapa, sungguh tidak bisa diraba. Ketika mata beradu dengan mata, maka kemudian hanya hati yang berbicara. Masalahnya adalah, bagaimana jika jatuh yang membuat cinta tersebut dialami oleh anak laki-laki yang baru beranjak dewasa? Dia bahkan baru kelas satu SMA. Mungkin saja, di umur yang sepantaran dengannya, banyak anak muda yang bahkan baru saja lepas dari bermanja-manja dengan ibunya. Masalahnya lagi, dia jatuh cinta perempuan yang jauh lebih tua. Empat tahun beda usianya dengan perempuan yang telah menggetarkan seluruh jiwa raga. Ini tentu tidak biasa dan agak sulit diterima logika. Biasanya, masa-masa selepas sekolah menengah pertama, muda dan mudi suka larak lirik sini dan sana. Masa muda yang penuh gelora. Kata orang, cinta monyet namanya.

Namun cinta Fajar pada Margriet, Avilla-nya, adalah cinta yang berpijak atas cinta kepada Tuhan-nya. Bermula dari pencarian Fajar akan makna agama yang dianutnya dan Tuhan yang mesti dia cinta, maka Fajar merasa bahwa Margriet adalah gadis yang akan cocok untuknya, di masa yang akan dia lalui jauh di depan sana.

Cinta Fajar pada Margriet adalah cinta dengan meleburnya konsep ego yang sempurna, sebagaimana konsep Ego yang dikemukakan oleh seorang pakar psikoanalisa; id, ego, dan super ego. Fajar memiliki ‘nafsu’ (id) cinta terhadap Avilla, dan tanpa malu-malu, tanpa pikir panjang, ‘nafsu’ tersebut diekspresikan oleh Fajar secara nyata. Mencintai seseorang yang akhirnya tak bisa kita miliki memang hanya akan membuat kita merasa menjadi pecundang yang bahkan mengangkat wajah pun tak sanggup (hal 85). Inilah sisi paling dasar yang dimiliki oleh manusia. Manusia memiliki ‘sisi buruk’ yang setiap saat akan menjerumuskannnya ke lubang yang bernama dosa. Tapi Fajar bukan hanya sekadar merasa sudah berdosa karena sudah mencinta, tubuh dan jiwanya bahkan sudah terbakar habis oleh cinta sehingga membuat hidupnya merana, membuatnya menjadi manusia yang semakin introvert, berdiam di dunia yang hanya ada dia dan Tuhannya saja.

Beruntung Fajar masih memiliki ego dan super ego dalam dirinya. Bahwa meski Fajar tidak bisa menahan lajunya cinta, dia sadar bahwa manusia hidup dengan banyak rambu, termasuk ‘rambu-rambu’ tentang bagaimana bergaul antara laki-laki dan perempuan. 'Rambu-rambu' ini berfungi sebagai kontrol. Muara dari kontrol tersebut adalah menikah. Inilah sesempurna-sempurnanya bentuk pelampiasan nafsu (id), selain perbincangan banyak tujuan lainnya dari pernikahan.

Kegilaan asmara yang dirasakan Fajar adalah kegilaan yang sama seperti kegilaannya akan Tuhan. Fajar memiliki ketetapan dengan hatinya, hingga bertahun-tahun kemudian Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya. Fajar memang sakit karena perasaan cintanya, dia sungguh merana karena harus membawa cinta tersebut seumur hidupnya, dia pun ambruk karena pada akhirnya semua kesakitan menyerangnya dari berbagai penjuru mata angin. Tapi Fajar yang masih percaya adanya kasih Tuhan, masih diberi kesempatan membuka mata dan menemukan cahaya, seketika, di depan mata. Semua menjadi indah pada waktunya. Sungguh sebuah kisah cinta yang mengharu biru dan membuat lena.

Lain Fajar, lain pula Phil, laki-laki bule asal Australia. Meski dua laki-laki ini sama-sama mengalami yang namanya falling in love at first sight, sama-sama terbakar rasa cinta pada Margriet, namun Phil lebih beruntung. Dia mendapatkan cintanya tak pakai lama, tak pakai berdarah-darah jiwa sebagaimana yang dialami Fajar. Phil kembali ke ‘rumah cinta’ yang abadi yang juga tak pakai lama, yaitu menemui Tuhan sang kekasih sejati. Sungguh hidup terasa amat singkat bagi Phil, tapi dia seperti hidup ribuan tahun lamanya. Dalam masa yang begitu singkat dia bisa merengkuh dua cinta sekaligus. Dengan kondisi sesempurna begini, siapakah yang tidak akan bahagia?
Maka, di sinilah Margriet berdiri; di antara dua cinta yang sama kuatnya. Tuhan memang begitu royalnya mencurahkan segenap kasih untuk Margriet. Dua pria yang sama-sama mencintainya dengan segenap jiwa namun dengan cara dan nasib yang berbeda, adalah dua pria yang sama-sama beruntung karena sempat menautkan cincin pernikahan di jari Margriet.

Maka membaca ‘My Avilla’ karya Ifa Avianty ini, adalah membaca perjalanan anak manusia dalam mencari jati diri, yang kesemuanya bermuara hanya pada satu cinta; Allah Sang Pemilik Cinta.

Dengan alur maju mundur, konflik tertata dengan apik. Tokoh utamanya ada empat orang, namun dengan penggunaan point of view orang pertama untuk bagian penceritaan masing-masing tokoh, ditambah dengan adanya ‘pelabelan’ nama tokoh setiap kali berpindah ke tokoh lain, sangat memudahkan pembaca untuk tak berpikir semacam ‘ini siapa, ya?’. Tapi, sebenarnya ini pakem lama, pakem cerpen-cerpen ala majalah Annida ketika memakai point of view orang pertama untuk semua tokohnya. Tidak mengherankan, bagaimanapun Ifa Avianty memang ‘tumbuh dan berkembang’ dari situ. Namu sisi tidak eloknya, hal ini sungguh mengkebiri imajinasi saya sebagai pembaca yang menyukai tantangan dalam labirin kata. Ketika masuk ke dalam labirin kata, secara pribadi saya lebih menyukai posisi di mana saya yang menemukan sendiri banyak kunci sebagai ‘jalan keluar’, dan bukan kunci dari ‘sang sutradara’ pemilik cerita.
***

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya membaca novel-novel Ifa Avianty. Namun saya tentu tidak bisa lupa bagaimana kisah-kisah yang disajikan Ifa Avianty. Kisah manis nan romantis yang kadang suka bikin saya menangis, itu juga kalau ending-nya berakhir tragis. Salah satu novelnya yang sukses membuat saya mengalami hal lebay semacam itu adalah novel yang berjudul ‘Strawberry Shortcake’.
Selipan lirik lagu-lagu lama bertebaran hampir di sepanjang halaman buku. Celetukan sebuah atau beberapa judul film (seringnya film lawas) sesekali muncul saat percakapan atau ketika seorang tokoh menilai tokoh lainnya. Si A bertemu si B dan berinteraksi, sebagai si ‘aku’, si A melihat si B mirip Orlando Bloom karena rambut ikal mereka sama. Atau, ketika melihat seseorang tersedak di meja makan dengan gaya yang elegan (saya sambil bertanya ‘ada ya tersedak dengan gaya elegan’), misalnya, si tokoh utama mulai menghubungkannya dengan salah satu adgean film yang diperankan oleh Brad Pitt di mana dia tersedak di meja makan (ini juga misalnya, karena saya tidak tahu apa adegan ini ada atau tidak, hahaa…). Ini benar-benar gaya Ifa Avianty banget dalam menulis fiksi roman. Tidak salah karena Ifa (katanya, di biodata :D) memang suka mendengarkan lagu dan menonton film. Tentulah seorang Ifa memiliki banyak referensi untuk mengisi embel-embel pemanis cerita seperti ini.

Semua tokoh digambarkan begitu sempurna. Anak orang kaya, ganteng-cantik, pintar, dikagumi banyak orang, memiliki pekerjaan sebagai dosen/model/pengusaha. Padahal, sungguhlah hidup tidak melulu menyajikan fakta yang sesempurna itu.

Untungya, kisah mereka diimbangi dengan adanya tokoh bernama Trudy, adik Margriet. Trudy, perempuan yang digambarkan memiliki kesempurnaan fisik yang lebih dari Margriet, namun sesungguhnya hidupnya tidak pernah benar-benar sempurna. Bahwa kehilangan orang yang dicintai dan secara tidak sengaja menghilangkan nyawa orang yang dicintai Margriet, adalah kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya. Bagian ‘ketidaksempurnaan’ hidup Trudy, menambah nilai lebih novel ini. Jika pada ketiga tokoh lainnya sedikit tercium ‘aroma sinetronistik’, maka kehadiran Trudy sedikit mengurangi ‘celah’ tersebut. Dia cantik tapi tidak berhasil memikat orang yang dia pikat. Dia bahagia tapi di sudut hati terdalam dia merasa tidak bahagia. Dia antagonis di dalam tapi protagonis di luar. Pada Trudy, kisah ini dimula. Pada Trudy pula, akhir semuanya.

Menjadikan kota suci Vatikan sebagai salah satu setting, semakin memperkuat kesan relijiusitas novel ini. Sayangnya setting Vatikan terasa hanya sebagai tempelan saja. Seandainya detail Vatikan di-eksplor lebih dalam, misalnya melalui kegiatan-kegiatan Fajar saat berada di sana, interaksi Fajar dengan orang-orang di sana yang tak hanya orang Indonesia saja, tentu ini akan lebih menarik.

Namun, ada yang agak janggal di sini. Kejanggalan ini sangat menganggu saya sejak pertengahan buku sampai menjelang ending. Ini tentang kronologis atau alur waktu. Jadi, ada flashback cerita ke tahun 1992, saat Fajar kelas 1 SMA dan Margriet di semester 4 kuliahnya. Fajar tamat sekolah tahun 1994 dan di saat yang sama Margriet lulus kuliah. Di tahun yang sama juga, Fajar melanjutkan kuliah ke Pontificial Gregorian University, Roma, sebuah universitas orde Jesuit tertua. Kemudian pada bab ‘Mencari dan Berusaha Menemukan’ (hal 83), waktu berpindah ke saat tujuh tahun kemudian (2001). Fajar masih berada di Vatikan. Di halaman 84 ada kalimat; ‘Beberapa waktu lalu, Mamaku sempat bercerita sulung keluarga Hermawan Hasan akan menikah dengan teman sekampusnya.’ Memang tidak jelas disebutkan kapan waktunya sebelum saat itu. Tapi baiklah, kita ambil jarak dekat saja, mungkin sekitar 1-2 tahun lalu? Berarti tahun 2000 atau 1999. Tapi ternyata saya salah menduga. Karena pada halaman selanjutnya, saat flashback lagi ke tahun 2005 (itu artinya baru setahun Fajar tinggal di Vatikan), Fajar sempat kembali ke Indonesia karena Papanya meninggal dunia. Fajar juga sempat bertemu dengan Margriet. Masih dalam waktu yang sama ketika Papa Fajar meninggal, di halaman 89 tertulis bahwa Margriet akan menikah tiga bulan kemudian, yaitu tiga bulan setelah Papa Fajar meninggal. Berarti, jika dihitung dari tahun 2001, itu kan artinya jauuuuuh sebelum tahun itu, dan bukannya ‘beberapa waktu lalu’ seperti yang dituliskan. ‘Beberapa waktu lalu’ berbeda artinya dengan ‘beberapa tahun lalu’. Ini adalah fakta yang bertolak belakang. Saya kasih contoh. Misalnya 8-9 bulan lalu saya bertemu seorang teman, dan saya menyebutnya ‘beberapa waktu lalu’ ketika saya menceritakan ulang pertemuan saya dengan teman tersebut di sebuah arisan keluarga. Ini kan cuma arisan, tidak penting untuk diketahui tanggal dan jam yang tepat. Inti yang saya mau bilang adalah, ‘beberapa waktu lalu’ mengacu pada waktu yang baru berlalu, bukan waktu yang berlalu bertahun-tahun lalu. Apakah saya benar?

Masih soal rentang waktu Margriet menikah (saya sangat terganggu soal ini, makanya membahasnya jadi sepanjang ini, hahaa…). Di halaman berikutnya, ketika sudut pandang berpindah ke tokoh Margriet, diceritakan bahwa begitu selesai kuliah S1, Margriet bekerja di sebuah universitas internasional hingga dia lulus S2. Berarti tahun 2001, Margriet sudah lulus S2. Di situ ditulis ‘Selama itu, tak yang berani menyinggung-nyinggung status single-ku’. Artinya pada waktu itu Margriet belum menikah. Fakta ini bertentangan dengan dua fakta yang dituliskan sebelumnya; (1) ‘Margriet akan menikah tiga bulan kemudian’ (bulan entah apa di tahun 1995 atau tahun 1996) dan (2) ‘Beberapa waktu lalu, Mamaku sempat bercerita sulung keluarga Hermawan Hasan akan menikah dengan..’ Itu artinya bahwa ‘menikah tiga bulan kemudian’ yang dinyatakan di tahun 2005 dan ‘menikah beberapa waktu lalu’ yang dinyatakan di tahun 2001, adalah salah. Margriet belum menikah di tahun 2001, sampai kemudian Margriet bertemu dengan ‘Bugil’ tampan, Philip Fraser, dosen tamu dari Australia. Hal ini diperkuat lagi dengan kenyataan ketika Margriet sudah mengenal Phil, Fajar yang ‘menyamar’ sebagai Joe, pernah mengirim email yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan kepada Margriet yang ‘menyamar’ sebagai Adda, admin blog ‘TheGodSeeker’. Saat email pertama yang dikirim Fajar untuk Margriet, Margriet belum menikah denga Phil.

Rumit? Saya juga merasakan hal yang sama, hahaa… Tapi begini, seandainya alur maju mundur tersebut tidak dengan mencantumkan tahun, maka pembaca akan mereka-reka sendiri. Tentu saja, reka-reka yang tetap atas dasar logika cerita. Ketika menyajikan data berupa angka ke dalam fiksi, penulis harus jeli betul, tidak boleh lengah terhadap perlunya keakuratan fakta untuk menunjang logika.
***

Well, sebagai romance novel based on the principle of religious story, pesan moral tentang konsep ber-Tuhan dan ke-Tuhan-an, berhamburan hampir di sepanjang halaman novel. Menyelusup ke bagian terdalam bilik hati tanpa kesan menggurui. Melalui tokoh Margriet si ‘manusia suci’, yang Fajar memanggilnya ‘My Angel’, dua manusia belajar mencintai Tuhannya. Sayang, ‘pesan baik’ tersebut tidak sempat menyentuh dinding kalbu adik kandungya, Trudy.

Beragama selalu tidak mudah bagi orang yang kebanyakan mikir seperti kita, Phil. Bahkan, juga masih dirasa sulit bagi orang yang otaknya pendek (hal 105).

Margriet sendiri, meski begitu rapat menutup tubuhnya dengan jilbab besar serta sangat menjaga pandangan, dia bukanlah benar-benar malaikat, seperti sebutan Fajar. Dia tetap manusia biasa. Lihatlah bagaimana ‘genitnya’ Margriet ketika bergumam ‘…lumayan ganteng juga..’ saat pertama sekali bertemu Fajar di teras rumahnya, atau ketika Margriet pernah membatin ‘Cakep-cakep menyebalkan!’ setelah melihat ulah Phil yang ‘menembaknya’ di Cafetaria kampus. Katanya ‘menyebalkan’, tapi kok ada ‘cakep’nya. Ini sama dengan orang yang bilang benci tapi sesungguhnya dia cinta.

Margriet itu terlalu polos soal urusan cinta atau bagaimana, ya? Saat Phil bertugas di luar kota dan mengatakan ada sesosok perempuan yang membuatnya tak bisa tidur, kenapa Margriet malah berpikir tentang penampakan, dan bukannya berpikir tentang perempuan lain, atau… itu adalah dirinya? Bagian ini merusak kesan romantis antara Phil dan Margriet, selain bagian ketika Margriet menyebut Phil dengan sebutan ‘Bugil’, Bule Gila. Saya belum pernah menemukan akronim ‘segila’ ini, hahaa… Sebutan ‘bugil’ itu, lho… Apakah penulis sedang kehilangan ide untuk sebuah guyonan atau memang selera humornya yang kurang?
***

I’m in love at first sight when I saw you dressed in your classy veil. Can’t help falling in love with you (hal 97).

Di dunia ini, kadang ada hal yang tak bisa dijelaskan secara logika, termasuk soal datangnya perasaan cinta terhadap seseorang. Namun dua pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu keduanya ‘melamar’ Margriet untuk menjadi istri mereka, ini adalah fakta yang menambah deretan ‘kesempurnaan’ yang dimiliki Margriet, sekaligus menambah deretan ‘ketidaksempurnaan’ buku ini. Di luar kisah drama, tentu ini agak jarang terjadi, jika tidak bisa saya katakan tidak pernah. Namun, yang jarang inipun, masih harus melalui apa yang disebut dengan ‘proses jatuh cinta’. Karena jatuh cinta tidak terjadi dengan tiba-tiba. Kerja cinta adalah kerja reaksi kimia cinta. Ketika pertama kali kau mengenal seseorang, lalu sekian lama menghabiskan waktu dengannya, bagian otak akan mengeluarkan zat yang disebut Dopamin. Dopamin ini akan menggerakkan seseorang berpindah dari posisi simpati ke posisi ‘crazy in love’. Biarpun namanya ‘crazy’, tapi sesungguhnya yang terjadi di sini adalah kau merasa happy. Inilah yang disebut ‘jatuh cinta’. Kerja selanjutnya digerakkan oleh zat bernama Serotonin. Pada posisi ini, seseorang mulai terobsesi dengan orang yang dia jatuhcintai. Lalu ada zat Oxytocin yang akan membuat seseorang memilih jalan untuk memiliki orang yang dijatucintai. Begitulah kerja cinta. Kerja zat-zat tubuh tersebut, bukanlah kerja sadar sebagaimana jika kamu ingin makan maka otakmu akan memerintah tangan untuk mengambil piring dan menyendokkan nasi. Inilah bincang-bincang cinta, dari seseorang (saya maksdunya :D) yang bukan pakar cinta.

Secara keseluruhan, buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal cinta. Cinta yang tak melulu tentang bagaimana rumitnya hubungan dua anak manusia, lebih dari itu, buku ini juga menunjukkan bagaimana besarnya cinta seorang kakak terhadap adiknya, sebaliknya juga adik terhadap kakaknya, juga cinta seorang oma terhadap cucunya. Di atas semua itu, ada cinta yang lebih tinggi dan hakiki, yaitu cinta terhadap Tuhan.

Selamat membaca!
Profile Image for Allegria Mila.
19 reviews6 followers
February 3, 2013
Cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan. Keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan.

Novel ini menceritakan kisah cinta segitiga. Sepertinya klise!! Tapi tunggu dulu sobat, perlu baca sampai selesai. Kisah ini berbeda. Yang paling kental adalah kisah pencarian Tuhan dengan tentu saja dibumbui kisah segitiga antara Trudy, Margriet, Fajar. Yang membuat kisah ini semakin complicated, sesak, dan kadang sungguh membuat hati ini gerimis dan berdecak mengalun mengikuti alur cerita yang mengalir dan membuat kita kaget karena telah membacanya habis.
Novel ini adalah karya Ifa Avianty, penulis kawakan yang sering menulis genre kisah islami. Saya sering membaca karyanya sejak kelas 2 SMA di perpustakaan Takmir Masjid SMAN 2 KEDIRI. Kisahnya selalu mengena di hati pembacanya. Simple and interesting.
Saya mendapatkan novel ini gratis langsung dari Penerbit INDIVA MEDIA KREASI setelah twit saya “alasan mengenai buku apa yang wajib dibeli” terpilih oleh admin. Ini adalah salah satu dari ketiga buku yang saya dapatkan gratis, Alhamdulillah.
Oke, balik ke topik. Dari segi pemilihan tema, Ifa Avianty memilih kisah pencarian Tuhan sebagai ruh dari novel ini. Yang menjadi unik adalah kadang kita memahami agama yang kita anut berdasarkan dogma-dogma dan bukan kita pikirkan secara logis. Bukan berarti bahwa kita harus selalu menggunakan akal untuk memahami keberadaan Tuhan. Tetapi semua yang ada di dogma, bisa kok kita buktikan secara logis, dan pada akhirnya akan semakin menambah cakrawala berpikir kita.
Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto adalah anak kelas 1 SMA di Jakarta, pandai, religius, penderita low vision (minus 10) yang dilahirkan dari keluarga campuran. Ayahnya Islam dan Ibunya Katolik. Ia masih rajin sholat namun hatinya juga luruh ketika mendengarkan lagu-lagu gerejani yang semakin membuat hatinya semakin bimbang dan haus untuk melayani Tuhan.
Trudy Carissa Hasan sekelas dengan Fajar. Diam-diam Trudy menaruh perhatian kepada Fajar. Bagi Trudy, hidup adalah kompetisi. Dan ia ingin Fajar menjadi pacarnya setelah banyak hal ia dapatkan seperti popularitas sebagai seorang model yang cantik (melebihi kakaknya) dan mudah bersosialisasi.
Margriet Avilla Hasan adalah kakak Trudy. Margriet sangat pandai, organisatoris, suka seni, pintar memasak, cantik, ramah, berhati laksana berlian. Seorang wanita idaman. Margriet kuliah di sastra UI semester 4 dan aktif di rohis jurusan dan masih aktif membina ekskul di SMAnya dulu (SMA Fajar dan Trudy).
Kisah ini semakin berpilin ketika Fajar sungguh mengagumi Margriet. Fajar mengenal Margriet karena Margriet pernah mengisi seminar di SMAnya di acara temu alumni. Kesempatan untuk mengenal Margriet lebih dekat tersambut ketika Fajar datang ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bareng, namun malah ketemu dengan kakaknya, Margriet. Karena Margriet sangat suka es tung tung yang lewat depan rumahnya, dia beli dan berniat mentraktir Fajar dan pak satpam (Pak Ismail). Ternyata malah Fajar yang mentraktir mereka bertiga.
Di sisi lain, Trudy sungguh ingin mendapatkan Fajar. Makanya dia semakin intens dengan fajar dan mereka sering terlibat dalam diskusi di rumah Trudy. Namun ternyata, Fajar malah semakin tertarik dan kagum dengan Margriet yang terpaut EMPAT tahun dengannya. Fajar kagum dengan kepandaian dan kerelegiusan Margriet.
Fajar mengirim surat kepada Margriet (dititipkan ke Trudy) yang isinya mengenai kebimbangannya mengenai Tuhan. Margriet pun membalasnya by email. Trudy yang cemburu pun ingin tahu mengenai sebenarnya Margriet suka siapa, dan Trudy malah tanya-tanya mengenai Kak Anies seorang ketua rohis jurusan. Margriet hanya mengelak walau sebenarnya dia memang kagum kepada ketua rohisnya. Trudy pun lega ternyata Margriet menyukai kak Anies.
Usaha Fajar untuk mendekati Margriet semakin menggebu. Ia bahkan mengirim beberapa lagu lewat radio yang diasuhnya. Lagu-lagu yang romantic Little Music Box Dancer, Trough the Barricades, True Love, Why Do I Love You So?, Nighty Nite. Margriet hanya berpikir bagaimana memahamkan Fajar dan Trudy yang sedang mabuk kepayang supaya tidak pacaran. Selain itu Fajar pun sudah berani menyatakan perasaannya dan sering berkunjung ke rumah Margriet, Fajar menyebutnya My Avilla. Fajar said,”Saya tak punya perasaan apa-apa sama Trudy, Mbak. Saya pertama bertemu di sekolah… saya…. Telah jatuh hati pada seorang gadis berjilbab, yang cerdas, bermata bintang, berhati bidadari…. Margriet Avilla…...”
Margriet pun rusuh, bagaimana mungkin untuk pertama kalinya ia ditembak seorang cowok dan itupun terpaut 4 tahun dengannya, parahnya Trudy juga naksir Fajar. Margriet pun meninggalkan Fajar dan berlari ke kamarnya. Hatinya gerimis.
Suatu ketika, Fajar datang ke kantin kampus Margriet dan masih saja bersikeras akan perasaannya bahkan memberikan cincin untuk Margriet. Singkat cerita, Margriet menolak namun Fajar tetap bilang akan menunggu. Akhirnya, Trudy pun tahu kalau Fajar menyukai Margriet, ia pun “mengemis” supaya Fajar menyukainya, namun Fajar menolak.
Akhirnya mereka bertiga berjauhan. Tiba di masa ketika Fajar lulus SMA, dia memutuskan untuk kuliah di Roma, di Polintificial Gregorian University, sebuah Universitas orde Jesuit tertua dengan alasan ingin menjauh dari Margriet dan semakin ingin melayani Tuhan.
Margriet menjadi dosen di Universitas Indonesia International (UINI). Malah di sana ada bule gila bernama Phil Andrew Fraser, seorang atheis yang tergila-gila kepada Margriet dan ingin menikah dengan Margriet. Akhirnya Phil pun serius masuk Islam. Phil sering terlihat tergesa-gesa ke masjid untuk menunggu adzan, hatinya semakin bergetar ketika mendengar suara adzan, mulai menghafal bacaan sholat dan surat-surat Al Qur’an, dan ikut kelompok pengajian yang diasuh Pak Khairuddin, salah satu dosen agama di UINI.
Trudy hatinya makin kelam dan semakin benci kepada Fajar dan Margriet. Ia semakin menenggelamkan kehidupannya di dunia modeling dan dia menjadi bintang film dengan beberapa kontrak eksklusif untuk berbagai produk dan rumah produksi. Namun hatinya sepi, di usia 28 dia belum menemukan belahan jiwanya.
Ternyata yang namanya takdir, akhirnya Margriet bertemu dengan Fajar di milis the god seeker. Tetapi mereka hanya saling menebak dan tak saling menahu mengenai profil asli masing-masing. Mereka masih intens diskusi by email mengenai pencarian Tuhan, sekali lagi Fajar masih bimbang untuk memilih Islam atau Katolik, Fajar meyakini bahwa Tuhan semua agama sama. Dan ia tertarik dengan konsep selibat di Katolik, baginya romantic bisa melayani Tuhan lebih dekat, kalau ini dipilih, ia harus siap meninggalkan Margriet.
Singkat cerita Margriet pun menikah dengan Phil. Margriet tak henti menangis ketika akad nikah, sebenarnya hatinya bimbang, ia masih ingat Fajar, sejatinya ia juga menyukai Fajar. Namun, Fajar entah kemana. Semakin lama, Margriet berdamai dengan hatinya, ia semakin mencintai Phil karena Phil sangat mencintainya dan selalu menjaganya.
Trudy berpikir jika Margriet tidak bisa mendapatkan Fajar, maka Trudy lah yang harus bisa mendapatkannya. Akhirnya perjodohan antara Fajar-Trudy terlaksana setelah keluarga Fajar meminta Fajar untuk menikah dengan Trudy dengan alasan Mama Fajar sudah semakin tua dan ketiga saudaranya telah menikah. Ketika acara perjodohan itu, Margriet ternyata tidak bisa membohongi perasaanya, sepertinya hatinya hilang sebagian.
Fajar pun masih menyadari bahwa Avilla-nya masih mencintainya, bisa dilihat dari gesture dan sorot mata. Namun ia harus menerima kenyataan bahwa Avilla sudah menjadi istri Fraser. Otaknya berpikir semakin keras dan ia terkena stroke yang menyebabkan ia cacat. Trudy tidak bisa menerima itu, ia putus asa karena calon suaminya cacat. Ia berpikir lebih baik bunuh diri, ia mengendarai mobilnya dengan kencang dan menabrakkannya ke pohon mahoni besar.
Malam itu, Margriet dan Phil minum es krim di pinggir jalan. Mereka terkejut ketika melihat mobil yang dikendarai Trudy melaju dengan kencang. Phil pun segera mengejar menggunakan mobil dan meninggalkan Margriet sambil berkata,”Papanya gak selalu bisa ada di sisi Mamanya, Cantik. Papanya akan pergi jauh-jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecil tercintanya.”Nahas. Ternyata mobil yang menabrak pohon mahoni adalah mobil Phil karena dia yang menghalangi mobil Trudy supaya tidak menabrak dan menghentikan laju mobilnya. Nahas, mobil Phil ringsek dan Phil meninggal dunia, meninggalkan Margriet yang sedang hamil muda.
Akhirnya Margriet melahirkan seorang putra bernama Andy. Trudy memutuskan pergi ke Oslo dan menjadi dosen di sana karena dia merasa bersalah kepada semua orang yang dicintainya. Fajar masih menderita low vision namun sudah kembali normal walau masih sering pusing. Fajar memberanikan diri untuk mengajukan proposal nikah kepada Margriet. Kemudian mereka menikah. Kadang mereka bertengkar, akar masalahnya adalah Fajar yang sering mengeluh dan bimbang mengenai Tuhan. Akhirnya Fajar pun sadar lalu tidak mengeluh lagi dan yakin dengan keislamannya dan ingin menjadi imam yang baik bagi keluarga kecilnya. Margriet dikarunia tiga anak: 1 dari Phil dan 2 dari Fajar.
Trudy akhirnya kembali ke Indonesia setelah Oma meninggal dan dia minta maaf kepada Papa, Mama, Margriet. Ia akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.
Novel ini secara diksi dipenuhi dengan kalimat yang mengalir deras dan bertabur bahasa inggris namun mudah dimengerti, plot dibagi menjadi beberapa sudut pikiran pelaku novel silih berganti. Namun yang terasa kurang di novel ini adalah mengenai latar tempat. Kurang detail mengenai penggambaran kota Jakarta, Roma dan Oslo. Saya rasa akan makin indah dan berwarna jika ketiga kota ini di-explore lebih lanjut. Happy reading!
Profile Image for Eyiazzahra Fathurahman.
26 reviews4 followers
November 8, 2013
RESENSI
Judul Buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tebal Buku : 184 Halaman
Ukuran Buku : 20 cm
ISBN : 978-602-8277-49-5
Harga Buku : Rp26.000,-

Avilla, Cinta yang Menghantarkan kepada “Cinta”
Avilla,,, Margriet Avilla Hasan, sosok wanita cerdas dan sholihah itu adalah wanita pertama yang mampu menggetarkan hati lelaki manapun dengan keanggunan dan kehalusan budi pekertinya, tak terkecuali Fajar, seorang pemuda jenius kesepian yang terbelit persoalan keyakinan, idola para gadis di sekolah, termasuk Trudy Carissa Hasan, adik kandung Margriet yang dikaguminya.
Margriet dan Trudy, dua kakak beradik yang sama-sama cantik, namun kecantikan mereka dibalut dengan kepribadian yang berbeda antara keduanya . Sang kakak, cantik dengan segala kelebihan yang dimiliknya, tak hanya berupa kecantikan wajah dengan mata gemintang yang senantiasa bersinar, tetapi juga sholihah, lembut, anggun, memiliki segudang prestasi akademik, selalu menjadi Crown Princess dalam keluarga. Adapun Trudy, berwajah cantik pula, namun selalu merasa kalah dari sang kakak, sehingga lebih memilih menggeluti bidang karir yang tak diminati kakaknya, seperti fotografi, dunia modelling, catwalk, dan selalu sibuk dalam hingar bingar dunia remajanya dan tak terlalu peduli dengan akademik. Trudy pun merasa bahwa semua perhatian orang tua dan omanya hanya tertuju kepada Margriet, meski dia dapat merasakan kasih sayang Margriet padanya sangat besar dan tulus kepada dirinya.
Trudy, berawal dari taruhan dan selalu berambisi menjadi the winner, merasa tertantang untuk menaklukan Fajar, teman sekelasnya yang tampan dan cerdas, namun terkesan pendiam dan terlalu pemalu. Fajar, yang dengan berat hati mendekati Trudy karena sebuah “tugas keluarga” dari sang papa, ternyata memiliki alasan lain untuk akhirnya melaksanakan tugas itu, yaitu kekaguman yang sangat kepada anak sulung keluarga Hasan Hermawan kolega sang papa, Margriet Avilla Hasan, atau yang lebih senang dipanggilnya dengan nama Avilla, My Avilla. Ketertarikannya yang tak hanya karena segudang kelebihan yang dimiliki Margriet, tapi karena Margriet dapat menjawab dan menuntun kebingungannya dalam pencarian dan keinginannya untuk “melayani” Tuhan di tengah kehidupan keluarga Fajar yang menganut dua keyakianan berbeda. Margriet, yang kemudian menyadari dirinya juga jatuh cinta kepada Fajar, cinta pertama, namun tak mungkin diwujudkan tak hanya karena faktor usia yang berbeda, tapi juga karena tak mampu melukai Trudy dan terlebih karena dirinya seorang aktivis muslimah yang tak pantas bermain-main dengan cinta.
Cinta segitiga, mendatangkan luka dan kekecewaan hingga tahun berlalu melipat usia mereka. Hingga pada akhirnya Margriet menemukan cinta sejati yang terwujud dalam pernikahannya dengan Phil, seorang atheis yang kemudian menjadi muallaf dalam pencariannya menuju Tuhan, Allah Yang Esa. Trudy yang masih kecewa, Fajar yang juga telah mengasingkan diri jauh ke Roma masih dengan kebingungannya. Namun, kebahagiaan tak menyapa lama dalam pernikahan Margriet dan Phil karena takdir yang disebut “maut” memisahkan raga mereka. Masih dalam kesendirian, tahun berlalu hingga Fajar melamar Margriet untuk menjadi istri, justru ketika Fajar dalam keadaan cacat, lalu ditinggalkan begitu saja oleh Trudy bersama rencana pernikahan mereka yang hancur karena penyakit yang diderita Fajar.
*****
My Avilla, sebuah novel yang mengusung tema pencerahan bagi anak manusia yang mencari kebenaran sejati, dibalut dengan kisah yang begitu romantis. Menghadirkan para tokoh utama yang sebagian karakternya, menurut saya memiliki sifat introvert dan perfeksionis (Margriet dan Fajar), ekstrovert (Trudy), dan yang berada diantara keduanya yaitu Phil. Karakter yang saling mengimbangi dan mengisi dalam cerita. Cara penceritaannya pun berbeda seperti novel kebanyakan. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), dengan penuturan dari sudut pandang masing-masing tokoh utama dan beberapa tokoh figurannya. Jadi, setiap bab dalam novel ini, berisi penuturan dari setiap tokoh mengenai perasaan atau kejadian yang mereka alami dan rasakan, yang semuanya menyatu dan terangkum menjadi suatu cerita yang utuh tanpa adanya kesan tumpang tindih dari cerita masing-masing tokoh. Kisah dan penuturan yang terangkum dalam plot yang begitu apik dan menarik, membuat ingin dan ingin terus membaca untuk mengetahui kelanjutan kisahnya.
Penggambaran watak para tokoh pun menarik, kadang saya berpikir, apa iya ada wanita sesabar tokoh Margriet seperti dalam novel ini, yang selalu bersikap sangat baik dan lembut, bahkan ketika musibah yang menimpa kehidupannya juga disebabkan sang adik sendiri. Seperti tokoh Phil juga, digambarkan sebagai pria nan amat romantis. Begitu pula dengan tokoh Fajar dan Trudy, yang meski digambarkan dengan masalah dan watak masing-masing. Namun, penggambaran sebagian watak para tokoh menurut saya kadang cenderung teramat lembut dan romantis.
Pada bab-bab pertama membaca novel ini, saya mengalami “sedikit” rasa bosan karena cerita yang terasa agak datar dan kadang membuat kening berkerut karena beberapa penggunanaan bahasa asing, atau kadang saya melompat dan melewati bagian syair-syair atau liril-lirik lagu berbahasa asing yang menurut saya terlalu banyak dalam novel ini. Namun, emosi saya mulai “hidup” ketika di pertengahan cerita babak kemunculan tokoh Phil yang agak jenaka mulai ditampilkan. Emosi saya semakin terkuras dan berakhir dengan air mata yang menitik ketika sang tokoh jenaka dan romantis itu pada akhirnya “pergi” dengan cara yang tragis di tengah kebahagiaan yang sedang hangat-hangatnya dalam rumah tangga.
Sejenak mencermati penulisan di beberapa halaman, saya menemukan ketidakkonsistenan dalam penggunaan kata ganti aku dan saya di akhir dialog. Dari awal hingga akhir dalam novel ini menggunakan kata ganti aku. Hanya pada akhir dialog berikut yang saya tebalkan saya menemukan kekeliruannya, yaitu , “Oh, roti Tan Ek Tjoan, ya? Yang rasa mocca enak bener tuh,” sambung saya (awal halaman 21) dan “Wa’alaikumsalam,” saya menjawab ...... (akhir halaman 39).
Membandingkan dengan novel-novel lain karya Mbak Ifa Avianty, novel My Avilla ini merupakan novel yang agak “berat” dengan tema berbeda, yaitu pencerahan. Novel yang bagus untuk dibaca dan direnungi, terlebih untuk kita para insan yang seringkali khilaf dan lupa pada Rabb Yang Esa. Sangat bagus juga dibaca oleh para mereka yang mungkin mengalami masalah yang sama dengan beberapa tokoh, semisal Fajar dan Phil pada novel ini, dalam mencari kebenaran tentang Tuhan.
Membaca novel My Avilla ini bisa membuat kening berkerut, pipi merona karena kosah romantisnya, tersenyum, terharu bahkan menitikkan air mata. Sangat layak dibaca dan menambah koleksi buku bagi kita pecinta sastra tanah air.
Sekian resensi saya, semoga bermanfaat. Selamat membaca dan semoga mampu mengambil hikmah positif dari setiap apa yang kita baca. ^_^
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
October 30, 2023
Loh trus si Fajar yg terkatung2 imannya terbelah antara Islam dan Katolik kelanjutan ceritanya gimana??? Hmm.

*Listened the audiobook by Storytel*
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,030 reviews64 followers
December 9, 2013
Love in The Rainy Days, adalah novel Ifa Avianty pertama yang saya baca. Dari kedua novel ini, saya menangkap kepiawaian penulis untuk menciptakan suasana romantis dan mengolah alur yang bisa mempengaruhi emosi pembaca. Lihat saja, bagaimana penulis mengajak pembaca merasakan kegelisahan Margriet, seorang muslimah yang harus mati-matian menata hatinya saat terserang virus merah jambu. Hei, muslimah juga manusia kan!

Fajar yang lebih muda empat tahun dan teman adiknya, Trudy, membuat hati Margriet kebat-kebit, saat mendapatkan pernyataan cinta darinya. Tapi, keresahan Fajar atas pencarian Tuhan membuat Margriet tidak dapat menerimanya. Waktu berlalu, mengiringi kegundahan Margriet dan pencarian Fajar dengan rasa yang masih terselip di masing-masing hati. Namun, perjumpaan Margriet dengan Phil, yang menyelipkan canda, memberinya kehidupan dan senyum yang baru.

"Kini aku baru tahu bahwa cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan." ~ h. 15

Saya sempat salah sangka, saat membaca sinopsis novel My Avilla yang lebih condong ke tokoh Trudy. Perkiraan awalku, kisah akan lebih banyak mengangkat proses tokoh Trudy yang berusaha menemukan hakikat cinta dan keikhlasan sang kakak, ternyata bukan. Peran Trudy dalam novel ini sebagai adik Margriet yang merasa tersisihkan oleh sang kakak. Berkebalikan dengan sifat Margriet, Trudy adalah sosok hedon yang menyukai duniawi. Konflik kakak-beradik semakin memuncak saat Trudy menyadari pria yang dicintainya, Fajar, malah menyimpan perasaan pada kakaknya.

Pencarian Tuhan menjadi salah satu konflik dalam alur cerita My Avilla. Fajar dan Phil adalah tokoh yang diselimuti kegelisahan dalam mencari keimanan. Meski menurut saya pembahasan tentang pencarian Tuhan diantara mereka tidak terlalu berat, banyak pemikiran yang menyentuh. Berpikir dan memahami agama membuat manusia semakin menyadari betapa kita sangat membutuhkanNya.

"Bagi saya, jika sebuah agama bisa meng-endorse umatnya untuk berpikir lebih dalam dan logis, bukan melulu dogma-dogma, maka itulah agama yang 'benar' bagi umat tersebut." ~ h.131

Sayangnya, konflik yang menarik dan alur yang menyentuh tidak didukung dengan kekuatan karakter tokoh. Penuturan cerita dari sudut pandang para tokoh disampaikan dengan gaya yang hampir sama. Tidak terlihat ciri khas dari masing-masing tokoh, bahkan Margriet yang kalem dan Trudy yang blak-blakan tidak terlalu tampak perbedaannya saat dijadikan sudut pandang cerita.

Untuk akhir cerita, ada bagian yang terasa 'disia-siakan', yaitu konflik Margriet dan Fajar. Agak sayang jika kisah tersebut diceritakan dengan narasi yang sepertinya 'seadanya', karena jika kebersamaan Margriet dan Fajar digali dan dikembangkan, bisa jadi My Avilla akan memiliki sekuel yang menarik.

Judul: My Avilla
Penulis: Ifa Avianty
Penyunting Bahasa: Asri Istiqomah
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 6028277495
Cetak: 2012
Tebal: 184 hlm
Ukuran: 20 cm
Harga: Rp. 26.000
Profile Image for Riawani Elyta.
Author 26 books103 followers
December 22, 2013
Gaya tutur mbak ifa di novel ini lebih serius dari novel2 mbak ifa yang pernah saya baca. Sedikit mengingatkan pada gaya tutur novel2 islami pada era keemasannya dulu. Sarat renungan dan pesan2 islami yang menyebar dalam narasi dan dialog, sehingga saya merasa tokoh2 di novel ini seperti fajar, trudy dan margriet, karakternya lebih dewasa dari usianya.

Saya pernah membaca tentang kausalitas antara cerita, ruang dan waktu didalam sebuah fiksi. Untuk novel ini, sepertinya unsur penceritaannya yang paling menonjol, sementara latar ruang dan waktu terasa minim, sehingga kalo nggak ada dialog, novel ini nuansanya jadi mirip diary.

Untuk karakter2nya, saya mencoba melewatkan siapa yang sedang bertutur, ternyata clueless, cara mereka bercerita bergantian dengan pov1 ternyata mirip2 saja:-)

Finally, sebagai pemenang 3 novel inspiratif, yang tentunya harus mengutamakan sisi inspirasinya ketimbang unsur2 intrinsik, novel ini sudah lebih dari layak, apalagi, bukan hal mudah untuk mengangkat pergulatan batin pencarian Tuhan dengan latar perbedaan keyakinan. Namun mbak ifa berhasil mengemasnya dengan penuturan yang mudah dipahami dan tetap mengedepankan toleransi dalam perbedaan beragama.
Profile Image for Elvira.
128 reviews1 follower
August 10, 2012
Novel ini kejutan dari sahabatku pada ultahku yang ke-18. Dia tahu betul kalo aku suka banget baca novel, makanya dia ngasih ini (hehe sedikit curhat)
Seneng banget.
Novel bernuansa Islami ini berisi kisah inspiratif. Banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Sangat bagus.
Profile Image for Ani Andriyanti.
108 reviews4 followers
July 7, 2013
Kini tiba saatnya untuk menjelang kebahagiaanku sendiri. Entah dimana dan kapan. Yang jelas, kini aku tahu bahwa kebahagiaan itu sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan :)
Profile Image for Leyla Hana.
10 reviews5 followers
November 24, 2013
Judul: My Avilla
Penulis: Ifa Avianty
Penerbit: Afra Publishing, Februari 2012
Harga: Rp 26.000
ISBN: 978-602-8277-49-5
Jumlah Halaman: 184
Ukuran: 14x20 cm

Manusia dibekali akal untuk berpikir, di dalam Al Quran pun banyak firman Allah Swt yang menyuruh kita untuk berpikir. Al Quran Surat 3: 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.” Itulah mengapa, agama Islam adalah agama yang logis karena seluruh ajarannya dapat ditelaah, dianalis, dipikirkan, bukan semata diikuti. Termasuk keberadaan Tuhan.

Novel My Avilla, karya Ifa Avianty ini menceritakan proses pencarian Tuhan pada tiga tokoh utamanya yang diceritakan bergantian: Trudy, Margriet, dan Fajar. Trudy dan Margriet adalah dua bersaudara dengan karakter dan sifat berbeda. Trudy sangat popular, bahkan kemudian menjadi model terkenal. Tetapi sebenarnya dia cemburu kepada kakaknya, Margriet, yang kalem, tertutup, namun dicintai oleh banyak orang. Trudy merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan Margriet, karena kakaknya itu sangat pintar dan aktif di organisasi. Belakangan, Fajar, cowok yang disukai Trudy, malah naksir Margriet yang usianya lebih tua empat tahun.

Margriet, muslimah yang menutup rapat tubuhnya dengan jilbab dan gamis serta membatasi pergaulan dengan lawan jenisnya ini adalah mahasiswi Sastra Inggris, UI. Kecerdasan Margriet terlihat dari tutur katanya, terutama ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan Fajar, yang sedang mencari tuhan. Kecerdasannya itu pula yang membuat Fajar jatuh cinta, meskipun usianya lebih muda empat tahun dan baru duduk di bangku kelas 1 SMA. Fajar bahkan sudah terpikir untuk menikahi Margriet, karena merasa gadis itulah yang bisa menjadi tempatnya menemukan jawaban akan tuhan. Dengan kata lain, Fajar merasa nyaman dengan Margriet.

Fajar, cowok kelas 1 SMA, yang memakai kacamata tebal karena mengalami gangguan low vision, kurus, tinggi, tetapi disebutkan bahwa dia tampan. Saya membayangkan sosok dengan deskripsi tersebut jauh dari tampan, tapi mungkin bayangan saya berbeda dengan bayangan penulisnya. Fajar penyendiri, sensitif, dan tertutup karena sejak kecil mendapatkan trauma psikologis dari ibunya, semacam penolakan dari ibunya terhadap kehadirannya. Diceritakan sekilas bahwa ibunya sangat ingin meneruskan kuliah, tetapi gagal karena kelahiran Fajar. Jadi, kalau Fajar berbuat salah, ibunya akan mengulang-ulang terus cerita itu. Selain itu, latar belakang keluarganya yng menikah berbeda agama (ayah muslim, ibu katolik), membuat Fajar galau agama mana yang benar. Dia sudah disuruh mengikuti agama ayahnya, Islam, tetapi juga tertarik pada agama ibunya, Katolik. Dia selalu tersentuh dengan kidung-kidung gerejawi yang didengarnya. Ini yang membuatnya mempertanyakan tuhan.

Fajar berusaha mendekati Margriet dengan pertanyaan-pertanyaannya akan tuhan, bahkan berani menyatakan cinta. Tentu saja Margriet menolak, meskipun ternyata dia juga jatuh cinta kepada Fajar. Bukan saja karena Fajar adalah cowok yang disukai Trudy, tetapi juga karena Margriet tidak mau pacaran. Untuk menikah rasanya tidak mungkin, bukankah Fajar baru kelas 1 SMA? Akhirnya, mereka berpisah secara fisikal sampai Fajar kuliah di Vatikan, Roma, di kota pusat Katolik sedunia. Kota yang membuat Fajar semakin dekat dengan trinitas walaupun dia masih salat.

Kisah cinta ketiga tokoh ini dibalut dengan misi mencari tuhan, berupa pertanyaan-pertanyaan Fajar kepada Margriet, juga renungan-renungan Fajar. Sebenarnya, jalan jodoh sudah terbuka, karena keluarga mereka berencana menjodohkan anak-anaknya, sebagai sesama keluarga pengusaha kaya, untuk memuluskan bisnis. Permasalahannya, yang akan dijodohkan adalah Trudy dengan Fajar, sedangkan Fajar mencintai Margriet.

Ciri khas novel Ifa Avianty (berhubung saya sudah membaca beberapa novelnya) adalah kisah cinta yang manis dan sangat romantis, gaya bercerita yang ringan dan lancar, kalimat-kalimat panjang dalam Bahasa Inggris, dan selipan lirik lagu-lagu lama (sampai saya tidak kenal penyanyinya sama sekali). Ciri khas itu juga ada di dalam novel ini. Kesan romantis dimulai dari panggilan Fajar kepada Margriet, dengan menggunakan nama tengah gadis itu: Avilla. Kedengarannya memang romantis, apalagi membaca cara Fajar menyebut nama itu. Lalu, kenekatan Fajar “melamar” Margriet, bahkan memberikan cincin emas dengan batu putih.

Gaya bercerita yang ringan dan lancar membuat saya mampu menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu dua hari. Buat saya ini termasuk cepat, karena saya juga harus mengerjakan pekerjaan lain. Kalau tidak ada pekerjaan apa-apa, dua jam pun bisa selesai. Ifa Avianty tidak membiarkan pembaca berada dalam kebosanan, sehingga dia menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pembaca ingin terus membaca sampai selesai.

Sayangnya, banyak kalimat-kalimat panjang dalam Bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan, terutama percakapan Margriet dan Phill, pria bule yang menyukainya. Mungkin banyak pembaca yang lancar Bahasa Inggris, tetapi Bahasa Inggris saya belum lancar jadi saya memilih melewati percakapan-percakapan itu. Apalagi kalau pembantu saya yang membaca novel ini, karena dulu saya punya pembantu yang suka membaca koleksi buku-buku saya. Pembantu lulusan SD itu saja tidak bisa membedakan novel dengan buku resep, lebih-lebih menerjemahkan kata-kata dalam Bahasa Inggris.

Lagu-lagu lama menjadi pengiring novel ini, terutama pada adegan-adegan yang romantis, Bahkan, ada lirik lagu yang panjang, ditulis semuanya sampai dua halaman lebih. Lagu yang membuat Fajar semakin merenungi pilihannya, kidung Natal “God Ye Merry Gentlemen.” Agaknya ini tidak lepas dari hobi sang penulis yang suka mendengarkan musik-musik klasik (begitu tertulis di biodata penulis). Mungkin akan lebih bisa menghayati perenungan Fajar sambil mendengarkan lagu ini, tapi saya khawatir jadi ikut bersenandung.

Setting lokasi di Vatikan, Roma, kurang detil dan relatif singkat, sampai-sampai saya kurang merasakan kalau Fajar sudah berpindah tempat ke Vatikan. Saya pikir cerita ini akan berfokus pada Trudy, karena prolog dibuka dengan adegan Trudy yang kembali ke Jakarta setelah pelariannya akibat suatu peristiwa yang masih berhubungan dengan Margriet dan Fajar, ternyata tokoh Trudy hanya mendapatkan porsi sedikit.

Novel ini menjadi juara ketiga lomba novel Indiva tahun 2010. Namun, label juara tiga lomba novel Indiva tidak dituliskan di kover novelnya, yang mestinya dapat membuat orang tertarik untuk membeli. Sebagai novel yang mengusung ide pencarian tuhan, novel ini cukup baik untuk dibaca dan inspiratif. Pertanyaan-pertanyaan Fajar dan jawaban-jawaban Margriet patut kita renungkan bersama-sama.

“Terus terang, Mbak, sampai sekarang meskipun muslim di KTP, dalam ritual ibadah saya, saya masih bersimpati pada iman Katolik.” (Fajar, halaman 46)

“Keimanan nggak bisa ditukar semudah kita menukar pakaian hanya karena kita merasa nggak cocok. Keimanan adalah sebuah konsekuensi logis dunia dan akhirat, yang kita tidak bisa mengambil sebagiannya dan membuang sebagian lainnya.” (Margriet, halaman 54)

“Bila Tuhan adalah pencipta semua umat di dunia, mengapa harus ada banyak agama? Mengapa harus ada pemecahan-pemecahan yang membingungkan, sementara semua ajarannya terasa agung? Mengapa harus ada sekat-sekat yang kemudian sekat-sekat itu membuat kita menjadi sulit memahami? Mengapa mesti ada representasi Tuhan dalam berbagai versi?” (Fajar, halaman 124)

“Pada awalnya, setiap representasi terhadap figur Tuhan dibuat manusia sebagai media untuk mendekatkan mereka kepada Sang Pencipta, Lalu, ketika manusia mulai menyadari esensi ketuhanan dalam kehidupan mereka, mulai tumbuh rasa rindu terhadap-Nya, ingin memeluk-Nya dalam ritus-ritus pribadi dan komunal, maka dibangunlah representasi itu dalam konsep-konsep yang jadi panduan tiap umat beragama….”(Margriet, halaman 124).
Profile Image for Binta Almamba.
12 reviews7 followers
December 6, 2013
Judul Buku : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva
Genre : Novel Islami
Terbit : Cetakan Pertama Februari 2012
Jumlah Halaman : 184 Halaman.
Harga : 26.000
Ukuran : 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-8277-49-5
-----------------------------------------------

Romansa Para Pencari Tuhan, Ketulusan Mencintai dan Memaafkan

Novel bertema berat namun tersaji dengan rasa yang ringan. Itulah sekilas pandangan saya terhadap novel My Avilla yang ditulis oleh mbak Ifa Avianty ini. Novel yang mengangkat tema pencarian Tuhan, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ketuhanan yang sering kali menjadi bahan diskusi dalam kajian perbandingan agama.

Kisah diawali dengan kepulangan Trudy kembali ke tanah airnya setelah beberapa waktu menetap di ibukota Norwegia. Kepulangan saat pemakaman Omanya disambut tatapan dingin mama dan papa, tapi tetap ada tatapan kasih sayang kakak perempuannya, Margriet yang seolah tak pernah berubah semenjak dulu. Trudy yang datang dengan sejuta penyesalan disambut Margriet dengan bermiliyar kemaafan.

Trudy juga bertemu dengan Fajar, laki-laki yang selalu terlihat pemalu dan penggugup. Laki-laki yang masih bisa menghadirkan desir dalam hatinya.

Kisah melaju flashback ke masa bertahun sebelumnya...
Trudy dan Margriet adalah kakak adik yang berbeda karakter. Margriet cenderung serius, penyayang dan lembut hatinya, sementara Trudy ceria, senang bergaul dan dalam pikirannya selalu ingin berkompetisi, terutama dengan kakaknya sendiri.

Sementara Fajar adalah teman sekolah Trudy. Seseorang yang sedang galau dalam menetapkan keyakinan, disebabkan tumbuh dalam keluarga yang berbeda agama. Papanya muslim, sementara mama katholik. Fajar serius memikirkan tentang Tuhan, sehingga ia mempunyai ketertarikan kepada Margriet, kakaknya Trudy yang terlihat sangat mendalami agamanya, Margriet berjilbab rapat dan sangat mematuhi ajaran agama yang dianutnya, sementara Trudy terlihat dangkal dan lebih menyukai hiruk pikuk keramaian duniawi.


Fajar merasa menemukan teman berbagi yang tepat tentang kegalauannya. Margriet yang cerdas itu menjadi teman diskusi yang menyenangkan, hingga romansa cinta menyapa mereka tak peduli bahwa Fajar berusia empat tahun lebih muda daripada Margriet, parahnya lagi Fajar adalah gebetan yang sangat diidamkan oleh Trudy. Dan tentu saja Trudy merasa kecewa, karena ia mengira bahwa sudah menjadi pemenang hati Fajar di hadapan teman-teman sekolahnya. Siapa menyangka bahwa seringnya Fajar main ke rumah Trudy lebih karena mengagumi dan memuja kakaknya, Margriet, kompetitor kehidupan yang paling ingin dikalahkannya di area keluarga, namun tak pernah bisa. Upaya Fajar mengungkapkan cinta kepada Margriet malah menjadikan benang kusut diantara mereka, sehingga mereka memutuskan untuk saling menjauh dan melupakan.

Romansa anak muda itu diceritakan dengan lincah sekali. Bagaimana interaksi antar mereka seolah terasa nyata, dan tak membosankan untuk dibaca. Bahasa segar yang dipakai penulisnya menjadikan selipan humor yang natural tanpa kesan dibuat-buat.

Selepas SMA Fajar melanjutkan pendidikannya ke Roma, di Pontificial Gregorian University, demi menikmati pencarian akan Tuhan dalam wajah kota yang menyatu dengan kota suci salah satu agam di dunia, Vatican Citty. Ia masih saja bimbang diantara dua pilihan, katholik atau islam? Di KTP dia menuliskan nama Islam sebagai agamanya, dalam keseharian dia juga menjalankan ibadah sebagaimana orang islam, namun dalam relung nuraninya Fajar masih merasakan getar-getar indah saat melihat nyanyian kidung gereja, pemujaan Tuhan yang terasa romantis dan indah. Tak jarang ia menyandingkan AlQur’an dan Bible untuk dipelajari dan direnungkan secara mendalam dalam waktu bersamaan.

Sementara itu dalam kehidupan Margriet, hadir seseorang bernama Phill, seorang dosen bule temannya mengajar di sebuah Universitas negeri. Bule yang atheis dan norak yang ternyata juga sedang merenungkan kemungkinan adanya Tuhan dan mencoba untuk percaya.

Keseluruhan kisah di dalam novel ini diceritakan secara selang-seling dengan POV orang pertama pada masing-masing tokoh. Banyak tokoh dan semuanya penting untuk mengetahui seluruh kisah. Margriet, Trudy, Fajar dan Phill yang paling banyak mengambil porsi cerita, selebihnya seperti Luna dan Iggy, meskipun seperti figuran yang sebentar lewat namun tetap menjadi bagian penting dalam cerita.

Saya menikmati membaca novel ini, tak terasa banyak renungan yang merasuk dalam kepala saya, tentang Tuhan dalam agama saya. Sebagaimana dalam tulisan surat Margriet kepada Fajar, sebuah pertanyaan... “Kenapa kita dilahirkan dalam keluarga muslim? Kenapa nggak diciptakan terlahir dalam keluarga atheis, hindu atau budha?, mungkin nggak Dia bermaksud menguji kita? apakah kamu taklid, bingung, masa bodoh, makin mantap atau malah ingin pindah?“

Seyogyanya menjadi muslim haruslah mendalami agamanya, berusaha juga mengetahui jawaban keingintahuan yang mungkin diutarakan orang-orang selain islam. Bukan sebagai bahan untuk berdebat, menjatuhkan dan menghina keyakinan agama lain namun lebih untuk memantapkan hati dan lebih dekat kepada Allah SWT tanpa setitik pun keraguan lagi. Itulah pesan yang saya tangkap dari keseluruhan isi novel ini.

Buku ini bagus, saya merating 3 bintang untuk buku ini, karena saya juga menemukan beberapa hal yang menurut saya sebuah kekurangan. Hmmm.. maaf jika mungkin yang saya sebutkan mungkin agak klise, hanya soal selera. Hmm..

Pertama, yang membuat saya agak banyak mengerut kening adalah bertaburan bahasa inggris tanpa ada terjemahnya. Karena saya nggak mungkin baca buku sambil bawa kamus atau buka Google translate, maka kadang saya skip dan mengira-ngira saja maksud kata-kata inggris itu apa? :D sehingga saya sangsi kalau bilang ini adalah kekurangan buku secara teori kelayakan, sebab ya wajar banget dalam berbagai dialog menyertakan bahasa inggris. Lumrah sekali karena tokoh yang sedang diceritakan (Trudy dan Margriet) adalah orang-orang kaya, berpendidikan modern, dan silsilah keluarganya masih ada keturunan belanda. Jadi kekurangan bukan kesalahan penulis, salahnya yang baca nggak jago bahasa inggris. He,

Kemudian yang kedua adalah sebuah kesan yang sering saya rasakan seperti saat membaca beberapa novel lain. Kesan seolah penulis buru-buru ingin sampai ke ending dalam menulisnya. Terlihat dalam penulisan babnya, pada prolognya per bab (Maksud saya bab penceritaan per-tokoh) ada 3-4 halaman tertulis mengalir, detail dan terasa ‘hidup’. Namun menjelang ending ada yang cuma 1 halaman saja. Padahal sedang berada pada adegan penting disimak seperti saat perjodohan Margriet dan Fajar, pertengkaran Margret dan Fajar karena tuduhan membandingkan dengan Phill, terasa kurang ngalir dan ‘hidup’ sebagaimana dalam prolognya. Entahlah mungkin ini perasaan saya saja sih sebagai pembaca yang terlalu cerewet dan penasaran minta semua bagian dikisahkan, ahaha..

Bagaimana kelanjutan hubungan antara Fajar, Trudy dan Margriet pada akhirnya? ya tentu saja hanya bisa diketahui dengan membaca keseluruhan bukunya.

Akhirul kalam, buku ini saya rekomendasikan buat para muslim yang mencintai agamanya. Beneran loh, membaca ini tak se’berat’ kesan tema yang dijadikan inti ceritanya.
***
Profile Image for Djangkoeng Wis Setå.
18 reviews
March 2, 2022
avianti, ifa. 2012. My Avilla. Solo. Indiva Media Kreasi.
Jumlah halaman: 184 hal
Isbn: 978-602-8277-49-5

Beralur sorot balik. Dengan penokohan akuan.

Diawal cerita kita dikenalkan dengan trudy yang baru pulang dari norwegia setelah beberapa tahun. Dijemput oleh sopir keluarganya menuju pulang kerumahnya. Sampai rumah bertemu semua keluarganya papa, mama, dan terutama kakaknya margriet..

Lalu kita dibawa kemasa lalu, kemasa remaja. dari kisah margriet, kisah trudy, kisah fajar. Lalu balik kembali mengalir kemasa sekarang.

Margriet diawal kisah adl mahasiswi sastra inggris UI yang tertutup, soliha, dan belum pernah sama sekali berpacaran tetapi berprestasi dan membina ekskul SMA nya sebelumnya.

Trudy adik dr margriet diawal kisah adl siswi SMA yang mudah bergaul, aktif diberbagai macam kegiatan, tapi teledor dibidang akademik. Selalu merasa iri dengan kakaknya yg selalu menyayanginya tetapi memilih bersaing dibidang yang berbeda. Dia juga menyukai fajar teman sekolahnya.

Fajar adalah cowok pendiam, cerdas, tapi merasa kebingungan dengan agama disebabkan ayahnya islam dan ibunya katholik. Disaat seperti itu dia menemukan sosok margriet yang bisa menjadi teman berdikusi yang cocok dan mulai jatuh cinta.

Well terjadi kisah cinta segitiga, fajar yang merasa membuat margriet kebingungan dan menangis memilih pergi belajar di italia, juga agar lebih bisa memahami pusat agama di italia.

Margriet yang sebenarnya sudah mulai mencintai fajar malah ditinggalkan fajar lalu menjadi dosen di universitas swasta internasional di jakarta dan menikah dengan bule gila yang menjadi muallaf karena mencintai margriet.

Lalu trudy stelah ditolak fajar yang mencintai kakaknya malah bergonta-ganti pacar dan berakhir putus.

Bagaimanakah kisah selanjutnya hehe... bersama siapakah fajar selanjutnya menikah?? Apakah trudi? Atau margriet?? Atau tuhan maha membolak-balik keadaan. Dan dimanakah letak kebahagiaan trudy? Silahkan dibaca ya!!..

Tulisan almh. Ifa avianty sangat segar dan khas gaya bicara remaja.. terimakasih untuk karya-karyanya.. dan do'a kami selalu buat beliau almh. Ifa Avianty semoga tenang disisinya 🤲 amiin..
Profile Image for Muhammad Rasyid Ridho.
273 reviews4 followers
December 27, 2013
Kisah Sang Pencinta Mencari Tuhan

Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Afra-Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit : Februari, 2012
Jumlah Halaman : 184 halaman
ISBN : 978-602-8277-49-5
Ukuran : 20 cm
Harga buku : Rp 26.000
Peresensi : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Tema pencarian Tuhan selalu saja tak pernah lekang oleh waktu untuk dibahas dalam sebuah buku. Baik dalam buku nonfiksi atau fiksi semacam novel. Dari buku-buku penulis barat seperti Karen Armstrong sampai penulis Indonesia pun semangat menuliskan tema tersebut dalam karyanya.

My Avilla, sebuah novel karya Ifa Avianty. Novelis yang banyak melahirkan karya-karya Islami. Aktivis Forum Lingkar Pena ini dengan kekhasannya dalam merakit sebuah novel percintaan dan keluarga yang tak berarti picisan, namun ada kumpulan hikmah yang bisa kita cicipi ketika membacanya.

Begitupun novel ini bercerita tentang kisah cinta segitiga Antara Margriet, Trudy, dan Fajar. Masing-masing tokoh bercerita dengan sudut pandang aku di setiap babnya. Seperti biasa walaupun novel ini kental dengan pencarian Tuhan setiap tokohnya, namun seperti dalam buku-bukunya yang lain novel ini masih saja mampu ditulis dengan gaya bahasa yang renyah, namun tetap berisi dengan penuturan yang simple dan interesting.

Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto. Salah satu tokoh utama ini adalah teman sekelas Trudy yang masih kelas 1 SMA di Jakarta. Ia adalah anak yang cerdas, penderita low vision (minus 10), dan agamis berdasarkan dua agama. Ia lahir dalam keluarga yang berbeda agama. Ayahnya Islam dan Ibunya Katolik. Dia remaja yang lebih dewasa dari usianya, Dia seringkali berpikiran bahkan bisa dikatakan mengimpikan untuk menjadi pelayan Tuhan seperti para pendeta di Gereja-Gereja dan meninggalkan semua yang bersifat duniawi. Itu sering terjadi ketika dia khusyuk solat dan mendengarkan merdunya nyanyian gereja.

Trudy Carissa Hasan merupakan adik kandung dari Margriet Avilla Hasan. Jika dibandingkan soal kecantikan, Trudy masih lebih cantik ketimbang Margriet. Nah di sinilah letak cinta segitiga mereka. Trudy yang cantik, model, sering bergonti-ganti pacar akhirnya diam-diam menyukai Fajar yang orangnya cenderung pendiam.

Namun berbeda dengan Trudy, Fajar justru diam-diam menyukai kakak Trudy. Margriet Avilla Hasan cukup berbeda dengan adiknya, sangat pandai, suka sekali ketika membaca buku, organisatoris, suka seni, pintar memasak, cantik, ramah dan mandiri. Kuliah di sastra UI semester 4, aktif di Rohis Jurusan, mengajar privat, dan masih tetap menjadi pembimbing eksul di SMAnya dulu, sekolah Fajar dan Trudy.

Dari inilah Fajar mengenalnya. Rasa kagum itu semakin menggunung ketika ternyata dia harus datang ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bersama. Dia sempat berbicara atau lebih tepatnya berdiskusi dengan Margriet tentang banyak hal. Paling penting dan paling banyak dia bicarakan tentang Tuhan. Ya, dia galau memikirkan Tuhan. Hasil pembicaraannya dengan Margriet dia semakin kagum padanya lantaran jawaban demi jawaban terhadap pertanyaannya cukup memuaskan yang berarti wawasan dan kemampuan beragama Margriet yang luas dan banyak. Akhirnya tanpa dia sadari kagum itu pun semakin menjadi rasa yang bernama cinta. Bahkan dia pun menginginkan-mengangakan- Margriet menjadi istrinya dan membimbingnya kepada jalan Tuhan.

Banyak sekali usaha Fajar untuk menyatakan cintanya pada Margriet dari menyetel lagu-lagu romantis yang dikhususkan pada Margriet saat dia siaran, sampai nekat datang ke kampus Margriet untuk memberinya sebuah cincin. Semakin shock saja Margriet dengan tingkah anak SMA ini, bahkan ketika dia menolak Fajar berkata akan menunggunya sampai menerimanya. Namun di sisi lain, semakin Fajar mengejar-ngejar Margriet, rasa haus ingin dekat dengan Tuhan pun ia rasakan. Ia bingung, ia galau dibuatnya. Di sini ruh pencarian Tuhan dalam sebuah cinta terasa.

Apatah lagi akan terasa kental pula ketika teman sesama Dosen Margriet yang ateis mengejar-ngejarnya, hingga singkat cerita Phil menjadi seorang muslim yang taat dan menikah dengan Margriet. Akhir dari kisah ini mungkin cukup disangka karena nantinya cinta Fajar dan Avilla bersatu dan Trudy pun mulai menyadari bahwasanya bahagia itu begitu sederhana. “Kini tiba saatnya untuk menjelang kebahagiaanku sendiri. Entah di mana dan kapan. Yang jelas, kini aku tahu bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.” (Hal 182)

Novel bertema sama tentang pencarian Tuhan, juga pernah ditulis oleh penulis FLP pula, Azzura Dayana yang berjudul Zukhruf Kasih. Bedanya, novel Dayana bercerita tentang tokoh utama yang keluarganya Nasrani semua. Tokoh utama mencari Tuhan dan belajar Islam kepada temannya yang aktif dalam kegiatan keislaman di sekolah.

Jika ditelisik novel tentang peralihan agama (muallaf), dari tidak tahu agama menjadi lebih baik secara agama banyak ditulis oleh penulis FLP. Bagi sebagian khalayak memang novel seperti ini sudah mengalami kejenuhan. Namun, tidak dapat disangsikan hingga saat ini masih selalu saja ada pembaca setia novel semacam ini. Walau secara marketing tidak bisa menjangkau semua pembaca, pembaca setia dari aktivis rohis yang semakin bertambah seharusnya memang tetap dijaga. Jika memang penulis juga termasuk penerbit ingin jangkauan pembaca semakin luas dari berbagai kalangan, maka harus melakukan inovasi dalam menulis. Tetap menulis kebaikan, namun dengan cara dan tema-tema yang lebih kreatif.

Menyoal setting tempat dalam novel ini mungkin kurang dieksplor oleh penulis. Jika Jakarta, Oslo, Vatikan bisa digambarkan jelas oleh penulis, maka akan membuat novel ini semakin sempurna. Jika setting bisa dideskripkan lebih, maka akan semakin mantap novel ini. Terlepas dari kekuranganya, novel ini layak untuk dimiliki dan dibaca banyak kalangan. Walaupun agama tak membolehkan semua hal tentangnya dirunut dengan akal pikiran, namun tetap ada beberapa tentangnya yang bersifat ta’aqquli-untuk dipikirkan dengan akal. Sehingga dogma tak hanya menjadi landasan beragama, namun dengan keyakinan akal akan terlengkapi dan merasuk keseharian pemeluknya.

Resensi ini juga pernah dimuat di wasathon.com 24 September 2012 http://wasathon.com/resensi-/view/201...
juga dimuat di blog buku saya http://ridhodanbukunya.wordpress.com/... silakan berkunjung :)
29 reviews1 follower
June 20, 2017
Novel ini memiliki pembukaan yang sangat bagus. Pembaca langsung disuguhi dengan konflik. Hal ini membuat pembaca penasaran dengan latar belakang konflik tersebut. Dikisahkan, Trudy yang kembali ke rumah –setelah sekian lama pergi- dan disambut dengan penuh haru oleh keluarganya, termasuk kakakknya, Margriet, yang selama ini dianggapnya sebagai rival utama.

Setelah pembukaan yang bagus tersebut, novel ini berjalan dengan alur maju yang renggang. Sedikit “aksi” yang disuguhkan, sebagian besar berupa konflik bantin masing-masing tokoh. Konflik batin inilah yang menjadi kekuatan novel ini. Pengarang berupaya mengajak pembaca untuk menyelami karakter masing-masing tokoh. Pembaca diajak ikut mencecap apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan oleh para tokoh.

Salah satu kriteria novel yang baik –menurut saya- ialah karakter tokohnya yang kuat. Dalam hal ini, penulis mampu mengeksplorasi konflik batin setiap tokoh. Setiap tokoh menyampaikan masalah yang dihadapinya dan dilema yang menekan perasaannya. Penulis mampu menggambarkan karakter tokoh dengan baik sehingga setiap tokoh mempunyai karakter yang kuat.

Saya menulis resensinya secara lebih lengkap di: http://www.sukrisnosantoso.com/2014/0...
Profile Image for Linda Satibi.
38 reviews39 followers
December 20, 2013
Sebentuk Cinta dalam Sebuah Pencarian

Ini kisah tentang kakak beradik dengan karakter berbeda. Margriet yang lembut dan serius, sedang adiknya, Trudy, gadis populer yang selalu tertantang pada sebuah kompetisi. Mereka mencintai lelaki yang sama, Fajar. Cowok ganteng yang pendiam, serius, dan pemalu.

Margriet yang empat tahun lebih tua dari Fajar, berusaha menyangkal perasaannya. Sedang Trudy, dengan caranya sendiri, melampiaskan kekecewaan akibat mengalami penolakan telak dari Fajar. Sementara Fajar, tak peduli pada bilangan usia yang terpaut jauh, ia sudah benar-benar jatuh ke kedalaman cinta karena pesona Margriet. Bahkan ia punya panggilan istimewa untuk Margriet: My Avilla.

Fajar yang bingung mencari jalan Tuhan, merasa klop bertanya dan berdiskusi dengan Margriet. Keduanya sama, dalam kegelisahan menuju jalan Tuhan. Namun Margriet lebih mantap bermuslimah, sementara Fajar gamang dalam kebimbangan bermuslim di tengah Mama dan kakak yang Katolik. Sedang ia sendiri saat itu beragama Islam karena Papanya seorang muslim.

Lalu, di tengah perjalanan kisah, muncul Phil. Ia rekan kerja Margriet, sesama dosen di sebuah universitas internasional di Jakarta. Seorang atheis yang kemudian memilih menjadi muslim dan menemukan kedamaian di dalam Islam. Meski niat awalnya demi menunjukkan kesungguhan cinta kepada Margriet, namun secara alami Phil menemukan makna mencintai dalam hidupnya, mencintai Tuhan.
*****

My Avilla, novel drama cinta yang indah, karya Ifa Avianty. Penuturannya mengalir dengan bahasa yang ringan, soft dan feminin, khas penulis ini. Namun berbeda dengan karya Ifa Avianty sebelumnya, My Avilla tidak sekadar menghadirkan kisah cinta. Di dalamnya tergambar sebuah pencarian. Pencarian akan Tuhan, dengan segenap pertanyaan yang berkelindan. Perlukah sebuah agama untuk mengenal Tuhan? Apakah seseorang harus menentukan satu jalan saja untuk menuju Tuhan? Apakah tidak bertuhan merupakan salah satu pilihan jalan?

Fajar dalam lorong pencariannya, merasa berada dalam labirin, berputar-putar dengan beragam pertanyaan yang berjejal memenuhi benaknya. Jiwanya gelisah. Yang jelas, keinginan Fajar sangat kuat untuk melayani Tuhan. Namun apakah dengan berkhidmat dalam dzikir kepada Allah, atau menempuh jalan selibat di hadapan altar Al-Masih? Fajar sungguh bingung.

Jangan membayangkan ini sebuah novel berat dan serius, yang dipenuhi kajian kritis yang akan membuat dahi berkerut. Diskusi-diskusi tentang pencarian Tuhan, dikemas ringan. Seperti yang diakui penulis pada lembar awal, bahwa ia bukan ahli ilmu perbandingan agama, maka jangan berharap dalil-dalil memadati buku ini. Tapi pilihan kalimat-kalimatnya tetap bernas karena menampilkan pemikiran-pemikiran cerdas dengan sedikit teori-teori dari buku karya filsuf barat.

Cerita bergerak flashback. Diawali dengan prolog dari sudut pandang Trudy dan Margriet. Kemudian mengalir dari masa remaja hingga ujung cerita dalam kehidupan berumah tangga. Ifa Avianty, seperti dalam karya-karyanya yang lain, selalu berhasil menghadirkan banyak tokoh dengan karakter yang kuat. Tokoh-tokoh itu berbicara bergantian, membentuk jalinan cerita yang runut.

Saya paling suka pada tokoh Margriet. She’s like an angel. Meski mengalami pergolakan-pergolakan batin, tapi ia mampu mengelola hatinya sehingga sikapnya teraplikasi dalam bingkai muslimah yang shalihah. Kegalauannya akan perasaan cinta kepada Fajar, tidak serta merta menjadikannya lemah. Ia teguh memegang prinsip menjaga kesucian hati.

Kisah cinta segitiga Margriet-Fajar-Trudy terasa mengaduk emosi. Dialog dan narasi yang sangat kuat menggambarkan olah emosi para tokoh, cukup membawa pembaca larut terhanyut di dalamnya. Dengan bahasa yang segar dan lincah, dijamin membuat pembaca tak ingin beranjak hingga halaman terakhir. Sedang alur kisah cintanya sendiri jauh dari monoton, karena ada beberapa kejutan tak terduga yang mewarnai. Irama alurnya menyenangkan, tidak terlalu cepat pun tidak mengalun lambat.

Entah apa karena saya demikian jatuh cintanya pada novel ini, maka sulit rasanya mencari kelemahan kisah ini. Hanya saja memang untuk detil deskripsi setting tempat, tidak begitu menonjol. Semisal ketika Fajar bersekolah teologi di Roma, ‘rasa’ Roma-nya tidak tercium tajam. Tapi seorang penulis tidak harus hebat dalam semua unsur kan?

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mengiringinya, bagi saya novel ini memiliki dua sisi yang berkombinasi dengan baik. Sebuah pencerahan tentang kesadaran bertuhan. Tentang makna keimanan. Keimanan nggak bisa ditukar semudah menukar pakaian hanya karena kita merasa nggak cocok. Keimanan adalah sebuah konsekuensi logis dunia dan akhirat yang kita tidak bisa mengambil sebagiannya dan membuang sebagian yang lain (halaman 54).

Pada sisi lainnya, “My Avilla” menyuguhkan pemaknaan sebentuk cinta. Betapa cinta adalah sesuatu yang indah dan berefek pada kebahagiaan. Ia tidak rumit, karena kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan (halaman 182).

Novel ini sukses membuat saya tersenyum dan meluruhkan airmata. Ia menggedor bilik kesadaran saya. Membuat saya bergegas menujuNya, meraih cintaNya. Semoga Anda pun demikian setelah membaca buku favorit saya ini. It’s so recommended book.
Profile Image for Krisyanti.
8 reviews
November 10, 2016
Novel menarik tentang kisah pernikahan dengan perbedaan latar yang berbeda .. tentang cinta kasih sayang dan perseteruan..
4 reviews2 followers
November 21, 2013
Judul : My Avilla
Penulis : Iva Avianty
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tebal : 184 halaman
Ukuran : 14×20 cm
Terbitan Pertama : Februari, 2012
ISBN : 978-602-8277-49-5
Harga : Rp 39.000

***

My Avilla novel karya Iva Avianty ini berhasil menyabet gelar juara III lomba penulisan novel inspiratif dari penerbit Indiva. Gelar tersebut tak urung membuat saya penasaran, sebab sepanjang pengetahuan saya, novel-novel terbitan Indiva Media Kreasi biasanya tak hanya inspiratif, juga kaya nilai-nilai Islam di dalamnya. Dengan diganjarnya My Avilla sebagai novel inspiratif, tentunya novel ini memiliki kualitas lebih.

Cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan (halaman 16)

Cerita dimulai dengan kedatangan tiba-tiba Trudy saat sang nenek meninggal setelah bertahun-tahun ia dan keluarganya putus komunikasi. Kepulangan Trudy ke Indonesia setelah sekian lama berpetualang di Oslo itu tak hanya memberikan kejutan pada keluarganya, juga membuka cerita lama keluarga ini.

***

Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto, lelaki pencari Tuhan ini besar dalam keluarga perkawinan campuran Muslim dan Katholik. Sejak TK ia menderita low vision, cacat yang menyebabkannya menjadi pribadi pendiam yang tak memiliki teman maupun sahabat. Baginya, sahabat yang selalu menerimanya apa adanya dan selalu membuka tangan-Nya kapan saja ia mau hanyalah Tuhan. Tuhan dalam agama apapun! (halaman 32)

Pertemuannya dengan Margriet saat pembekalan pelajar berprestasi oleh alumni siswa yang diwakili Margriet tak urung menggetarkan hatinya. Margriet, perempuan religius itu ternyata kakak Trudy, perempuan yang akan dijodohkan papa untuknya yang ia ketahui saat kunjungannya ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas sekolah.

Trudy Carissa Hasan. Ia lahir sebagai The Queen Bee alami ini selalu haus akan tantangan. Baginya, hidup adalah kompetisi. Semua harus dilombakan. Siapa unggul, dia dapat kesempatan. (halaman 24) Termasuk bersaing dengan kakaknya sendiri, Margriet. Tak terkecuali dalam memperebutkan Fajar, teman satu sekolahan yang mulai menarik hatinya.

Doktrin itu ia temukan seiring dengan apa yang ia temui sehari-hari. Sejak kecil Trudy sering sakit-sakitan dengan penyakit aneh yang membuatnya malu. Rasa malu yang pada akhirnya memunculkan semangat dalam dirinya untuk bersaing dengan Margriet.

Margriet Avilla Hasan, anak pertama keluarga Hasan ini tak hanya cantik. Ia memiliki segudang prestasi. Tak hanya pintar di sekolahan, ia pun pintar bahasa asing, pandai menyanyi, memasak dan membuat kue, dan pintar segala macam kesenian dan keterampilan. Margriet adalah The Crown Princess dalam keluarga Hermawan Hasan.

Kereligiusan Margriet membuat Fajar kagum padanya. Rasa kagum yang tumbuh menjadi rasa cinta itu ternyata bersambut. Margriet ternyata memiliki perasaan yang sama. Namun sayangnya, perasaan itu coba ditepis Margriet karena ia tahu Trudy juga memiliki perasaan yang sama pada Fajar. Belum lagi usia mereka yang terpaut cukup jauh yakni empat tahun. Dan itu cukup menjadi alasan bagi Margriet untuk menganggap Fajar sebagai adik dan meminta Fajar untuk pergi dari kehidupannya.

Setelah kejujurannya melukai dua bersaudara tersebut, Fajar akhirnya pergi, menjauh dari mereka dan memutuskan untuk melanjutkan jenjang perguruan tingginya di Polintificial Gregorian University, Roma agar ia semakin dekat dengan Tuhan dan bisa melayani-Nya.

Waktu berlalu, Trudy tetap dengan cintanya pada Fajar, begitu pula dengan Fajar, ia tetap memimpikan dipertemukan dengan Margriet. Sementara Margriet tenggelam dalam kesibukkannya sebagai dosen hingga suatu hari, seorang koleganya yang bernama Phill mengganggu kehidupannya.

Phill yang ateis itu tergerak untuk menjadi mualaf disebabkan cintanya pada Margriet. Saat akhirnya Margriet menerima Phill, hati Margriet tetap dilanda kebimbangan sebab ia tetap masih menyimpan nama Fajar dalam hatinya. Cinta, perhatian dan kelembutan serta keteguhan Phill dalam mempelajari Islam meluluhkan hati Margriet.

……kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.

Novel ini sukses membuat saya meleleh. Apalagi saat membaca kisah di bab-bab akhir. Terutama saat akhirnya takdir mempertemukan kembali Margret dan Fajar dalam ikatan perkawinan. Kebersamaannya dengan Fajar yang dulu didambanya ternyata tak seindah kebersamaannya dengan Phill yang diawali dengan keterpaksaan.

Novel yang kaya akan diksi ini memberi porsi penceritaan yang seimbang pada tiap-tiap tokohnya sehingga pembaca memahami karakter masing-masing tokoh. Alur novel ini mengalir dan enak dipahami, hingga pembaca tak perlu mengerutkan dahi walaupun tema yang diusung penulis sejatinya tema “berat”.

Sayangnya, latar tempat novel ini yakni Jakarta, Oslo dan Roma kurang tergali apik. Dengan tema yang berbobot serta alur yang mengalir, pastinya novel ini lebih menggigit jika di dukung latar yang di-explore secara detil dan mendalam oleh penulis.
Profile Image for Aisyah Sariasih.
15 reviews3 followers
December 23, 2013
My Avilla: Tentang Sebuah Pencarian
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : AFRA Publishing
Tebal buku : 184; 20 cm
ISBN : 602-8277-49-5
Harga : Rp. 26.000,-

Margriet dan Trudy, adalah kakak adik yang saling mengagumi satu sama lain. Margriet mengagumi Trudy karena kecantikan yang dia miliki, kemampuan bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa dilakukan oleh Margriet yang memiliki karakter tertutup dan pemalu. Sedangkan Trudy mengagumi Margriet dengan segala keahlian dalam segala bidang yang Margriet miliki. Cantik, cerdas, terampil, atlit, dan juga sosok anggun dengan jilbabnya.
Adalah Fajar, teman sekelas Trudy yang juga mengagumi Margriet dan akhirnya jatuh cinta karena diskusi tentang pencarian Fajar akan Tuhan. Kegamangan, kebingungan, dan kegelisahan Fajar, mendapatkan tempat ketika Margriet bersedia menjadi tempat curahan hati atas semua yang Fajar rasakan. Dan rasa kagum yang Fajar rasakan perlahan berubah menjadi rasa suka seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Hingga ada panggilan sayang yang Fajar sematkan untuk Margriet “My Avilla”.
Phil, sosok lain yang kemudian hadir dalam kehidupan Margriet paska kepergian Fajar. Sosok yang juga mencari Tuhan. Jatuh hati pada Margriet yang pada akhirnya mereka menikah. Kehidupan rumah tangga yang membahagiakan sebelum akhirnya sebuah musibah terjadi dan kembali mempertemukan Trudy, Fajar, dan Margriet dalam kisah cinta segitiga mereka.
Bagaimana akhir dari kisah ini? Bisa dengan mudah diketahui dari sinopsis di sampul belakang. Namun, yang membuat betah membaca novel ini hingga akhir adalah penuturan yang indah dari tiap tokohnya tentang kegelisahan mereka akan pencarian terhadap Tuhan. Mengikuti tiap kegelisahan yang dirasakan oleh tiap tokoh akan membuat kita tidak akan menghentikan membaca hingga akhir kisah.
Sudut pandang orang pertama dari tiap tokohnya membuat kita mengenal secara detail masing-masing tokoh yang ada dalam kisah ini. Namun, ada yang agak aneh ketika mencoba mengenali sosok Fajar masa SMA. Bagi saya, dia terlalu dewasa sebagai siswa SMA kelas 1. Fajar seperti seusia Magriet yang merupakan mahasiswa tingkat dua. Dan proses yang dialami Phil yang terasa sangat cepat dari seorang atheis menjadi penganut islam yang taat, yang sangat mencinta agamanya.
Beberapa kalimat indah yang dapat dikutip dari novel ini;
“Kecewalah kita jika berharap kepada manusia. Hanya Allah lah sebaik-baik tempat kita melabuhkan harap. Dan Dialah sebaik-baik Penolong” (hal. 81)
“Mencintai seseorang yang akhirnya tak bisa kita miliki memang hanya akan membuat kita merasa menjadi pecundang yang bahkan mengangkat wajahpun tak sanggup” (hal. 85)
Dari seorang Trudy, kita belajar bahwa; “Kebahagiaan itu sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.” (hal. 182)
Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
October 2, 2012
Cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan. Keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan

Pernah nggak, ngerasain kagum yang sebegitunya sama seseorang. Namun di saat yang bersamaan api kecemburuan pun makin meluap-luap. Itulah yang dirasakan Trudy terhadap kakaknya, Magriet. Magriet yang lembut dan penyayang disayangi semua orang. Maka Trudy berusaha mati-matian untuk terlihat lebih menonjol dibanding kakaknya tersebut.

Lalu muncul fajar, pemuda kharismatik yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi dengan cepat merebut perhatian Trudy. Namun makin lama ia makin menyadari begitu banyaknya persamaan antara Fajar dengan Magriet. Dan Trudy pun tidak bodoh untuk tidak melihat binar-binar di mata fajar ketika menatap Magriet, yang kemudian ia panggil Avilla.

Kenyataannya, Magriet malah lebih memilih Phil. Seorang muallaf yang tak kalah charmingnya. Namun beberapa kejadian membolak-balik takdir ketiga anak manusia ini. Bahkan ketika Trudy mendapat kesempatan untuk hidup bersama Fajar, hati kecilnya akhirnya sadar. Ia memang tak setegar dan seikhlas Magriet, ia tak bisa menerima keadaan Fajar.

***

Novella dengan alur yang sangat cepat, namun tetap saja sesekali berhasil membuat saya berhenti menarik napas karena ikutan emosiaonal. Mbak Iva Afianty memang jagonya bikin drama-drama melankolis romantis seperti ini. Sebelumnya saya juga sudah merasakan sensasinya di serial romantic girls dan Facebook on Love. Walaupun tema di buku ini agak sedikit lebih "berat" sih dibanding novel-novel mbak Iva sebelumnya, apalagi disertai dengan pencarian makna ketuhanan. Namun di situlah poin lebihnya. Dengan space yang sangat terbatas (hanya 184 halaman) dengan konflik rumit tersebut, mbak Iva tetap mempertahankan keapikannya dalam penceritaan. Konflik dan penyelesaiannya dirasa pas dan tidak terburu-buru. Tambahan lagi dengan penceritaan model catatan harian dari masing-masing tokoh utamanya. Sehingga penokohannya benar-benar kuat.

Dan menariknya, kualitas cetakan dari penerbit Indiva makin bagus saja. Kualitas kertas di novel ini udah bagus banget, covernya juga udah keren banget dan lebih artistik. Dominasi warna jingganya pas banget ngegambarin ceritanya. Dari segi editing juga udah perfect, nyaris gak ada typo yang ganggu di buku ini. atau mungkin karena bukunya tipis kali yah. Hehe, :D Yang masih ganggu menurut saya cuman itu, sinopsis di back covernya yang kepanjangan dan nyaris ngasih tahu semuanya. Pas baca jadi berasa kurang twistnya. :(, tapi overall semuanya udah oke koq. Saya kasih empat bintang di GoodReads :)

... ... kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.
more on : http://bugot.wordpress.com
Profile Image for Ummi Maya.
68 reviews
July 27, 2013
kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur dan ketulusan mencintai serta memaafkan.

My Avilla, di buka dengan prolog kepulangan Trudy Hasan, salah satu tokoh utama, ke Indonesia karena kematian oma tersayangnya. Kepulangan Trudy masih membawa sakit hati dan trauma di masalalu.

Trudy, The Queen Bee yang sangat populer dengan kegemerlap kehidupan modelling, selebriti dan kehidupan malam. Tampil sebagai anak kedua di keluarga Hermawan Hasan, ia menjadi pribadi yang mudah iri, selalu merasa harus berkompetisi dengan kakaknya dalam hal apapun, pemberontak. Trudy dengan pesonanya selalu berhasil bergonta-ganti cowok dalam waktu cepat, hingga ia melihat sosok yang demikian unik untuknya. Dia merasa harus mendapatkannya dengan berbagai cara. dialah Fajar Lintang Bagaskara.
Margriet, sosok Snow Princess yang sangat menjaga diri, pandangan dan hatinya. menyayangi Trudy teramat sangat dan tulus, tak pernah sadar bahwa ia dicemburui oleh Trudy padahal ia pun cemburu pada sosok Trudy yang begitu populer. Margriet dengan keihlasannya mencari Tuhan, di pertemukan dengan Fajar Lintang Bagaskara.
Fajar Lintang Bagaskara, lelaki pendiam, pemalu, minder yang terkucilkan di keluarganya, mencari Tuhan dalam semua agama yang ia kenal dan begitu ingin mengabadikan dirinya kepada Tuhan, diberi tugas mendekati Trudy malah jatuh cinta pada Margreit.

para pencari Tuhan ini, mencari dengan cara mereka masing-masing. Trudy dengan jiwa kompetisi dan petualangnya, serta kecemburuan yang selalu ia simpan untuk Margriet, bahkan setelah ia tahu bahwa fajar menjauh dari kakaknya. Fajar menyatakan cinta pada Avillanya, karena ia merasakan mereka sama-sama sedangkan mencari dan mengabadikan diri kepada Tuhan. sayang cintanya tak sejalan dengan takdir Tuhan. Margriet yang sangat ingin mengetahui rasanya ditembak cowok, malah jatuh cinta pada sosok Fajar, dan kala cinta mengetuk ia memilih menyimpannya dalam hati, hingga ia menemukan pelabuhan cintanya dalam sakralnya ijab qobul.

Bagaimana Trudy, Margriet dan Fajar menemukan muara Cinta Tuhan yang begitu hebat untuk mereka? akankah Mereka ada yang berjodoh atau tidak sama sekali? ngabuburit akan terasa lengkap di temani My Avilla

alur maju yang di pergunakan penulis begitu sistematis dan detail. Dengan berlatar Roma dan Indonesia, tapi tidak terlalu fokus dengan latar kota tersebut. hanya saja akhir cerita yang agak kurang gregetnya apalagi di saat Fajar, Trudy dan Margriet dalam kondisi pembelajaran akan takdir yang mereka terima.

secara keseluruhan novel ini bisa di baca siapa saja, bahkan menjadikan pemuas dahaga untuk saya yang sedang dalam pencarian juga. saya menangis di akhir cerita menyadari bahwa bisa memaafkan itu sama dengan mencintai dengan tulus.
1 review2 followers
September 13, 2015
Dalam kehidupan, akan ada dimana hati kita berdecak kagum kepada kesempurnaan makhluk ciptaan Allah. Entah itu dalam bentuk secara fisik maupun berupa daya pikirnya yang cerdas. Sehingga muncul rasa ingin sepertinya, cemburu yang tidak terpendam, dan akhirnya timbul iri hati. Mungkin jika kita memfokuskan bahwa sesuatunya milik Allah SWT yang tidak akan ada artinya di dunia tanpa ketakwaan terhadap-Nya.

Novel yang berjudul “My Avilla” karya Ifa Avianty ini mengangkat tema perjalanan sebuah hati anak manusia. Antara pencarian cinta sesungguhnya kepada Allah, lika-liku gejolak cinta anak remaja, hingga kekaguman kepada makhluk ciptaan Allah yang menuai cemburu buta.

Trudi, gadis yang selalu merasa dirinya selalu kalah oleh kakaknya Margriet. Margriet, begitu memiliki pesona yang menawan dan tercipta begitu sempurna, kecantikan, keteguhan hatinya, kecerdasan, serta keramahan dan kelembutan hatinya yang selalu terpancar. Membuatnya begitu banyak mendapat curahan cinta dari keluarga dan teman-temannya.

Margriet yang begitu teguh pendiriannya memakai jilbab diusia muda, selalu menjaga hatinya untuk tidak tergoda pada cinta semu remaja. Hampir goyah pertahanan hatinya ketika seorang Fajar datang dengan pancaran mata teduh menawarkan cinta yang begitu gigih. Begitu mesra memanggil Magriet dengan sebutan “My Avilla”. Kebimbangan Fajar dalam pencarian Tuhan yang sesungguhnya dan antara cinta sejatinya yang membuatnya mundur jauh ke Roma untuk melupakan cintanya pada Magriet.

Kesucian hati Magriet yang terjaga hingga datang seorang lelaki bule rekannya sesama dosen dan ingin melamarnya. Lelaki bule bernama Phill yang akhirnya menyemat diri sebagai mualaf, jatuh cinta yang membawanya menemukan Cahaya Ilahi yang menentramkan hatinya. Bahtera rumah tangga yang indah hingga tertanam benih cinta.

Trudi yang begitu ambisi akan harapan cintanya kepada Fajar, nyaris sempurna ketika gerbang menuju pernikahan didepan mata. Namun, Fajar tetaplah lelaki berwajah sedih dengan cinta yang sama di masa lalu. Membuat Trudi menyadari bahwa ia tak sesempurna Magriet yang dapat menerima lelaki cacat dan penyakitan seperti Fajar dengan ikhlas sepenuh hati.

Novel cinta yang romantis dan penuh inspirasi dalam setiap karakter tokoh dalam pencarian mencari Tuhan dan pertahanan keimanan.

Detail Novel :
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva
Tahun terbit : Cetakan ke 2, Maret 2013
Jumlah Halaman : 184 Halaman
ISBN : 978-602-8277-49-5

http://www.ernawatililys.com/2015/09/...
Profile Image for Pertiwi.
72 reviews13 followers
March 17, 2015
dulu saya beli buku ini karena murah, sih, haha. kalau nggak salah nggak sampai 30.000, jadi saya samber aja deh, lagipula yang nulis ini juga penulis favorit saya huahaha.

awalnya, saya beli ini waktu dalam masa-masa jenuh membaca, udah lamaaa banget buku ini nangkring di rak buku tanpa saya sentuh sedikitpun, malah walau udah dibuka segelnya, tetep nggak saya baca. baru hari ini saya bener-bener bacanya daaaan.....

subhanallah. memang bukunya mbak Ifa Avianty nggak pernah mengecewakan saya. jujur saya sempat nggak mau baca karena sinopsis di belakang buku yg kurang meyakinkan karena isinya cinta-cinta aja. dalam ceritanya ternyata nggak sedangkal itu yg cuma ngomongin cecintaan terhadap manusia, di dalamnya juga diceritain cinta terhadap sang pencipta dan pencarian akan Dia. pokoknya bikin hati saya serasa diremas-remas, gitu deh (apalah). entah ini nyeri karena selesai membaca buku ini atau malah sakit yang lain saya juga kurang tahu. tapi yang pasti buku ini bagus!
Profile Image for Lathifah Kadarminto.
3 reviews
Read
September 30, 2013
My Avilla
Novel ini menceritakan tentang drama cinta yang romantis, bahagia dan sekaligus penuh haru. Bercerita tentang perjalanan cinta Margriet Avilla Hasan, Trudy Hasan dan Fajar (lebih banyak cinta Margriet nya sih. Megajarkan hakikat kesucian cinta dalam pandangan Islam. So far, novel ini seru banget! Memang sih bahasannya agak berat, namun tetap cocok dinikmati kaum muda.
Profile Image for Yurie Zhafiera.
9 reviews
November 23, 2014
Buku mbak Ifa yang kedua saya tamatkan. Seperti sebelumnya, bahasa yang digunakan sederhana, ngalir tapi pas ngenanya. Cara mbak Ifa mengangkat tema perbedaan agama juga digambarkan apik dan rapi. Tidak banyak bertele-tele, tidak pake mutar-mutar tapi okelah. dan seperti biasa, mbak Ifa menggunakan POV pertama untuk empat tokoh novelnya. Luwes juga ya... Hehe.
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
November 8, 2012
Agak berbeda dengan beberapa novel mbak Ifa, seperti FB On Love 1 dan 2, Friendloveship, novel ini lebih serius. Kata teman-teman sih, pada berlinangan air mata saat membaca novel ini. Kalau saya, biasa-biasa aja, meski emosi lumayan teraduk-aduk juga.
Profile Image for Hairi.
Author 3 books19 followers
June 7, 2013
Selesaaaaiiiiii....
Kini aku tahu bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.

review nyusul... InsyaAllah :D

Review ada di sini : http://coretanyanti.wordpress.com/201...
Profile Image for Dewayanie prasetio.
151 reviews140 followers
July 18, 2012
Judulnya romantic.. ceritanya cukup mengharu biru dengan berbagai perenungan...
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
April 30, 2013
Novel dengan isi yang sangat menarik. Sayangnya, saya rasa eksplorasi tokoh-tokohnya masih kurang.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.