Prof. Miriam Budiardjo adalah pakar ilmu politik Indonesia dan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Istri Ali Budiardjo, seorang tokoh perjuangan Indonesia, ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 1974–1979.
Saya rasa judul Demokrasi di Indonesia kurang tepat bahkan mereduksi makna dari seluruh substansi isi yang ditulis Prof Miriam, sebab buku ini tidak hanya bicara mengenai demokrasi, namun juga HAM, ideologi, sistem ekonomi, politik kekuasaan, sistem pemilu distrik vs proporsional dan tentunya sejarah. Kumpulan karangan tulisan Prof Miriam ini awalnya terpisah-pisah kemudian dikumpulkan menjadi satu buku yang sangat komprehensif dan dalam. Penulisannya yang jelas, runtut dan tajam menjadi kekuatan buku ini. Saya menjadi paham mengenai asal-usul paham Sosial Demokrat serta Marxisme-Leninisme dari tulisan-tulisan Prof Miriam.
Banyak bagian dari buku ini yang merupakan favorit saya. Tetapi, apabila diharuskan memilih satu, saya akan memilih mengenai topik sejarah sosialisme serta konsensus Demokrasi Sosial. Saya yang bukan berlatar pendidikan politik maupun sejarah dapat dengan mudah mencerna serta mengikuti alur cerita dari Prof Miriam. Bahwa klaim sosialisme sayap kanan (sosial-demokrat) sebagai tahap pertama komunisme total runtuh ketika konsep komunisme hancur bersamaan dengan rubuhnya Uni Soviet. Buku yang sangat apik dan epik.
Beliau juga menjelaskan bahwa dasar yang membedakan antara demokrasi sosial dan komunisme adalah kecepatannya melakukan perubahan serta pembangunan struktur sosialnya. Demokrasi sosial mendorong jalan evolusi, persuasi tanpa kekerasan dan memilih jalan pemilu serta parlementer dalam perjuangannya. Komunisme sebaliknya, melakukan dekstrukturisasi sosial secara masif dengan revolusi dan kedikatoran proletarian.
Pada tahap awal, Lenin menganggap demokrasi sosial sebagai pembuka jalan dimana ekonomi berpegang pada prinsip bahwa "setiap orang memberi menurut kemampuannya dan setiap orang menerima sesuai karyanya". Pada tahap komunisme penuh, prinsip ekonomi berkembang menjadi "setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya dan setiap orang menerima sesuai kebutuhannya".
Uniknya, prinsip sosialisme malah dinilai berhasil ketika diterapkan oleh partai-partai di Skandinavia yang berkuasa selama 44 tahun. Kesejahteraan masyarakat di negara-negara ini dinilai terjamin sejak lahir hingga mati.
Buku ini juga memperkenalkan saya kepada ekonom John Manyard Keynes yang memperkenalkan mahzab Keynesian dimana ia mengkritik pasar bebas yang tak terkendali. Kapitalisme murni hanya akan menciptakan kesenjangan pada level ekstrem, sehingga pemerintah wajib melakukan intervensi pada pasar untuk melindungi kaum papa. Inilah salah satu peletak dasar dari sistem perhitungan PDB dimana belanja pemerintah yang menstimulus putaran uang digunakan untuk menghitung angka pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Nikita Krushchev melakukan de-stalinisasi untuk menghimpun kekuatan ekonomi negara. Marxisme-Leninisme mengalami peninjauan ulang terkait relevansinya. Proses ini menimbulkan keresahan di negara penganut Moscow sehingga sebagian dari mereka mengembangkan komunisme sesuai dengan kondisi negaranya masing-masing. Gagasan ini disebut polycentrism. Di Indonesia, Sukarno memperkenalkan marhaenisme, sebuah konsep sosialisme baru yang dinilai tepat dengan kondisi bangsa.
Kondisi gejolak ini menimbulkan banyak pemikiran baru, baik filsafat, ideologi maupun ekonomi. Peristiwa ini disebut sebagai revisionisme. Saya baru paham mengapa Romo Magnis Suseno menulis buku berjudul Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme sebagai kritik terhadap Marx.