Buku Sifat Shalat Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam karya Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah karya yang sangat fenomenal dan terkenal, termasuk di Indonesia, terlepas apakah yang membacanya sepakat sepenuhnya dengan buku tersebut, sepakat sebagian menolak sebagian, ataupun menolak sepenuhnya.
Di antara ulama yang menolak syaikh Al-Albani dan buku Sifat Shalat Nabinya adalah syaikh Hassan Ali As-Saqqaf. Beliau bahkan menulis buku khusus dengan judul yang juga mirip, صحيح صفة صلاة النبي , yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Sifat Shalat Nabi SAW yang Shahih Dari Takbir Sampai Salam, sebagai buku bantahan, dan juga sebagai buku alternatif mengenai sifat shalat Nabi yang shahih.
Dalam muqaddimahnya, syaikh As-Saqqaf membahas tentang akhlaqul karimah adalah sifat orang yang rajin shalat. Jadi orang yang rajin shalat seharusnya memiliki akhak yang mulia. Jika ada yang rajin shalat tapi masih memiliki akhlak yang buruk seperti suka mencela, menghina, menyesatkan, membid'ahkan, dll, berarti shalatnya patut dipertanyakan.
Masih dalam muqaddimah syaikh As-Saqqaf juga membahas tentang wajibnya menuntut ilmu dan berbagai hal penting lainnya seperti bahaya menjauhi ilmu dan larangan mengikuti pendapat ringan karena hawa nafsu.
Pembahasan inti tentang shalat dibahas tuntas, lengkap, dan detil mulai dari takbir hingga salam. Pembahasan mengenai menghadap kiblat, tidak beralas kaki, sutrah, berdiri, dan niat juga dibahas dengan baik di sini, begitupula pembahasan mengenai mengusap khuf, dzikir berjama'ah, shalat jama'ah, shalat qadha, shalat jama dan qashar, waktu shalat & batas akhirnya. Semua dibahas dengan penjelasan yang mantap dan berdasarkan dalil yang paling shahih menurut syaikh As-Saqqaf tentunya. Dan karena syaikh As-Saqqaf ini adalah ulama bermadzhab Syafi'i, wajar saja jika semua pendapat yang dipilih dan dianggap paling shahih adalah pendapat para ulama madzhab Syafi'i.
Karena buku ini juga buku bantahan, ketika ada suatu pembahasan yang menyebut pendapat yang dipilih oleh Al-Albani yang dianggap tidak kuat oleh syaikh As-Saqqaf, maka beliau membantahnya dengan bantahan yang tegas, misalnya ketika membahas mengenai menggerak-gerakan jari pada tasyahud. Beliau menganggap semua hadits mengenai hal tersebut tidak ada yang shahih, sehingga pendapat yang benar menurut beliau adalah berisyarat dengan mengangkat jari telunjuk pada saat mengucapkan “asyahadu an laa ilaha illah” dan tidak menggerak-gerakkannya. Bantahan beliau rata-rata tegas bahkan keras. Contoh lain ketika beliau mengatakan posisi tangan ketika i'tidal adalah lurus (pendapat ini sama dengan pendapat Al-Albani), namun beliau juga menyatakan bahwa yang bersedekap saat i'tidal adalah bi'dah, pelakunya ahli bid'ah dan secara pasti menjauhi sunnah, dan masih ada contoh lain. Beliau juga sering menyebut syaikh Al-Albani dengan sebutan syaikh yang suka inkonsistensi karena menurut beliau syaikh Al-Albani banyak melakukan kontradiksi dalam pendapat-pendapatnya. Namun syaikh as-Saqqaf pun belum tentu bisa lepas dari inkonsistensi juga.
Pada akhir buku syaikh As-Saqqaf menutup dengan membahas hadits dua perkara yang ditinggalkan Rasulullah. Sayang sekali pembahasan ini kurang mendetil dan kurang tuntas sehingga dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam memahami maksud syaikh As-Saqqaf. Hal yang saya pahami adalah syaikh As-Saqqaf berpendapat yang shahih adalah “Al-Qur'an dan Ahlu Baitku”, sedangkan hadits “Al-Qur'an dan Sunnah-ku” adalah riwayat dhaif (lemah) bahkan maudhu (palsu). Padahal menurut Ahlussunnah, ulama ahlu hadits maupun ahli fiqh, termasuk madzhab Syafi'i, justru berpendapat yang shahih adalah “Al-Qur'an dan Sunnah-ku”, sehingga ini menjadi pendapat syaikh As-Saqqaf yang janggal padahal ia adalah ulama madzhab Syafi'i juga. Dan jadi berkesan syaikh As-Saqqaf menghapus semua pembahasan buku ini dari awal sampai akhir yang membawakan banyak sunnah Nabi Muhammad SAW. Bukankah ini juga termasuk inkonsistensi? Atau ini semua hanya kesalahpahaman akibat pembahasan penutup yang tidak detil? Wallahu a'lam.
Buku ini sungguh sangat istimewa bagi saya, banyak ilmu yang bisa didapat, bahkan secara umum hampir semua sifat shalat yang ada di sini saya gunakan pada praktek shalat saya, walau ada beberapa hal yang tidak saya pilih karena saya berpendapat lain. Kesimpulan akhirnya secara umum buku ini sangat bagus, penuh ilmu, dan disertai dengan penjelasan detail, namun keistimewaan buku ini agak ternodai akibat bantahan syaikh yang juga keras dan pembahasan hadits al-qur'an dan ahli baitku yang berkesan inkonsistensi dan menghapus apa yang sudah dibahas sebelumnya.