RAHVAYANA
MANUSIA diciptakan berpasang-pasangan. Dalam prakteknya, kebanyakan kita percaya itu artinya yang cakep dengan yang cantik, yang tidak ganteng dengan yang tidak cantik. Takdir adalah setimpal, adil, dan cinta sejati begitu artinya. Maka dari cerita Romeo-Juliet di Italia sampai Rama-Sinta di India peran pasangan ideal bukan ditunjukkan dari samanya kasta, melainkan serasinya rupa.
Kita akan merasa ganjil, dan mungkin tidak terima, kalau tokoh utama lelaki-perempuan bukan tampan-cantik. Juga pada keduanya tak boleh hanya baik salah satu.
Seperti itu juga kita melihat sampul buku Rahvayana: Aku Lala Padamu dari dalang Sujiwo Tejo yang terbit tahun ini. Dengan warna dominan kuning yang lembut desainernya, Fahmi Ilmansyah dan labusiam, meringkas tema besar buku itu dalam suatu adegan di mana satu sosok besar, yang kita kenal dengan Rahwana, tengah minum kopi, bersulang, dengan perempuan yang tidak lain kita bayangkan sebagai Sinta. Tidak boleh dilewatkan: tangan kiri mereka berdua saling menggenggam mesra.
Itulah yang terjadi: cerita tentang cinta raksasa yang punya sepuluh muka kepada manusia yang seperti bidadari. Sumber ide besarnya adalah cerita Ramayana: Rahwana, yang bertapa 50 ribu tahun untuk mati tapi malah dilarang mati oleh dewa-dewa, menanti cinta Dewi Sinta, pasangan yang dijanjikan untuknya, titisan Dewi Widowati. Sebelum menitis pada Sinta, Dewi Widowati menitis ke Dewi Sukasalya (yang disembunyikan Raden Dasarata) dan ke Dewi Citrawati (yang dilindungi Prabu Arjuna Sasrabahu). Penggemar Rahwana bisa lega: dalam Rahvayana cinta dan rindu Rahwana tak terhalang kisah heroik pangeran-pangeran tampan seperti Raden Dasarata, Prabu Arjuna, atau Raden Rama. Tak ada laki-laki lain selain Rahwana.
Dengan memakai sudut pandang “Aku”, Rahvayana (yang berarti “perjalanan Rahwana”) adalah kumpulan surat-surat Rahwana yang mesra kepada Sinta. Surat-surat itu, seperti diceritakan “Aku” sendiri, kadang dikirim dalam bentuk kapal-kapalan yang dihanyutkan di sungai. Atau dalam bentuk pesawat-pesawatan yang diterbangkan dari bocah ke bocah dari dusun ke dusun untuk sampai pada Sinta.
Memang dari awal, Sujiwo Tejo tidak mengatakan dengan terang benderang bahwa “Aku” dalam buku ini adalah Rahwana. Kita hanya mengetahui dari beberapa kalimat yang mengarahkan tokoh “Aku” pada sosok Rahwana, misalnya bagaimana Supiah mempermainkan tangan “Aku” seolah memainkan wayang Rahwana di bab Berlin, atau bagian surat saat “Aku” mengatakan “yang mana aku, yang mana Rahwana, sudah tak dapat kupilah-pilah lagi” di bab Lumba-lumba. “Aku” memposisikan diri sebagai Rahwana dalam Ramayana, dan di kesempatan lain sebagai Rahwana dalam Rahvayana. Barangkali Sujiwo Tejo tak terlalu tertarik memastikannya. Atau ia membebaskan pembaca dan yakin bayangan pembaca Rahvayana akan langsung pada sosok Rahwana yang kurang lebih sama: punya cinta pada seorang perempuan bernama Sinta.
Sujiwo Tejo juga membebaskan tokohnya. Sinta digambarkan bebas pergi ke mana pun, untuk bekerja apa pun. Dengan begitu, rayu-rayuan Rahwana pada Sinta tidak lagi terbatas pada satu tempat yang bernama Taman Argasoka. Dalam cerita Tejo, Sinta adalah perempuan yang suka membaca. Kecintaannya terhadap buku membuat Sinta sibuk keliling dunia untuk “mengumpulkan naskah-naskah cinta dari seluruh dunia sejak di alam semesta terdapat tangis manusia”. Naskah-naskah itu termasuk “Tristan dan Isolde” (yang memutus takdir pernikahan tua-muda untuk menjadikan pernikahan muda-muda), “Laila Majnun”, “Romeo dan Juliet”, “Scarlett O’Hara”, dan sebagainya.
Untuk tujuan itu, ruang dan waktu dibebaskan bagi Sinta: ia bisa hidup di zaman Cleopatra (hal. 76), atau hidup di zaman pasukan Tartar menyerang Babilonia (hal. 83), atau bisa ada di Kallang Theatre menyaksikan pementasan Les Miserables (hal. 91). Juga pada Rahwana: tokoh “Aku” mengaku hidup sezaman dengan Audrey Hepburn (hal. 77) dan sempat menghadiri upacara peresmian Burj Dubai, gedung berlantai 169 yang terkenal itu (hal. 23). Dalam Rahvayana, tokoh wayang telah dibawa seorang dalang, yaitu pengarangnya, untuk hidup di dunia modern (seperti testimoni Najwa Shihab di sampul belakang buku). Waktu tak penting bagi “Aku” Rahwana dan Sinta, barangkali karena dunia wayang telah terbiasa dengan umur yang beribu-ribu.
Buku Rahvayana, surat-surat kangen Rahwana kepada Sinta, menyelipkan cerita lakon di mana-mana. Suatu kali Rahwana menuliskan lakon Renuka dan Indradi dalam bab Dawet Ayu, kali lain lakon Lubdaka dari suku Nisada dalam Mata Sapi, juga lakon Danaraja yang bermata biru dalam Lokapala. Pengarangnya juga menyebut-menyebut Mandodari dalam Mandodari—saya tak tahu apakah Rahwana tergetar menyebut nama istrinya sendiri dalam surat kepada perempuan lain, meski agaknya tidak, karena Sujiwo Tejo menempatkan Rahwana dalam Ramayana dan Rahwana dalam Rahvayana sebagai sosok yang berbeda wujud.
Selain lakon-lakon itu memperkaya wawasan, saya kira terlalu banyak nama-nama—manusia, tempat, lagu, dll.—yang menyulitkan penyimpanan memori sehingga buku Rahvayana punya potensi bikin jenuh. Apalagi yang tidak terbiasa dengan cerita wayang yang memiliki banyak sekali tokoh berikut sifat dan senjata andalannya. Temponya lompat-lompat, dan pembaca seakan hanya dipameri pengetahuan penulisnya yang luas. Mungkin perlu saya sebutkan bab yang jelas dan ringan dipahami, misalnya paragraf Layang-Layang yang bagi saya cukup manis dan bab Soliloquy—yang artinya “percakapan dalam diri”—yang memunculkan ungkapan Trijata tentang Rama (yang membuat, lagi-lagi, muncul pertanyaan, apakah soliloquy itu milik Rahwana tokoh Rahvayana atau Rahwana tokoh Ramayana?).
Seperti dalam setiap buku-bukunya terdahulu, Sujiwo Tejo tetap pada karakternya untuk yakin tak ada yang selamanya tunggal benar dan baik dalam hidup. Pada bab Mandodari ia mengatakan kerelahatian Mandodari mengenai datangnya Sinta di Alengka sama artinya dengan kerelahatian Mandodari untuk kematian Rahwana. Makna-makna itu bukan hanya bisa dipahami secara filsafat, melainkan secara ilmu pasti, sebagaimana kita mengerti bahwa oksigen menghidupkan manusia sekaligus menuakan sel-sel manusia sehingga mematikan manusia. Dua sifat berlawanan selalu menetap dalam satu takdir yang diputuskan Tuhan.
Makna-makna yang ditampilkan Sujiwo Tejo, juga tentang Rahwana, adalah bagian dari spirit zaman yang semakin memandang bahwa tidak ada yang total benar dan total salah di dunia itu. Rahwana bukan lagi dipandang tunggal sebagai raksasa jahat yang mesti dilawan oleh raja baik dalam sosok Rama. Rahwana, seperti kata pengagum-pengagumnya, memiliki cinta yang dahsyat, tulus, tapi tak pernah memaksa: ia tak pernah menyentuh Sinta, meskipun hal itu sebenarnya mudah saja, sebelum Sinta sendiri yang mengatakan bersedia disentuh.
Sudut pandang tafsir ini memang bukan hal baru, terutama kalau kita pernah membaca Rahwana Putih yang ditulis Sri Teddy Rusdy (terbit pertama 2013) atau beberapa yang terbit lebih lama seperti Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto (2007) dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma (2004)—ketiga buku itu sendiri ada dalam daftar Pustaka Rahvayana, selain juga buku-buku lain yang punya nafas serupa.
Tafsir Rahwana dalam spirit zaman yang sama juga muncul dalam dunia penyair sajak. Sajak Triyanto Tiwikromo yang berjudul Kutukan Rahwana (2008) menyebut Rahwana sebagai “raja harum, resi wangi, … kekasih sejati” dan puisi Pembakaran Sinta (2009) menyebut Rahwana sebagai “raksasa santun”; sementara di sisi lain, Rama disebut sebagai “ksatria pengecut” yang kejayaan dan kebijaksanaannya diprotes oleh Sinta. Pada tahun 1985, dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo, Subagio Sastrowardoyo telah menulis Asmaradana (yang kira-kira berarti “api percintaan” ) dalam suara Sinta, atau Sita, yang erotis “di tengah nyala api”: Raksasa yang melarikannya ke hutan/ begitu lebat bulu jantannya/ dan Sita menyerahkan diri. Dalam pembakaran diri itu, yang dalam cerita diminta oleh Rama sebagai bukti kesucian, Sinta berada di pihak Rahwana: “Sita tak merasa berlaku dosa/ sekedar menurutkan naluri”. Yang erotis ini muncul juga pada bab Swan, saat Rahwana (atau tokoh “Aku” yang kita asosiakan Rahwana) dan Sinta mengobrol sambil sama-sama telanjang di Dubai—erotisme yang membuat novel ini mesti diberi label “D”, dari kata “dewasa”.
Meski begitu, kiranya perlu disebut mengapa spirit tafsir Rahwana “putih” yang dibawa Sujiwo Tejo memiliki kekuatan tersendiri, semacam momentum, untuk disebarkan pada khalayak. Sebabnya, Sujiwo Tejo tidak seperti Agus Sunyoto, Sri Teddy Rusdy, atau Triyanto Tiwikromo yang kurang populer di media dan anak muda. Seno Gumira Ajidarma amat terkenal sebagai cerpenis, tapi jarang muncul di televisi dan Twitter. Sujiwo Tejo berbeda: ia mengasuh kolom Wayang Durangpo di Jawa Pos, selalu aktif di Twitter dengan pengikut yang ratusan ribu, pernah dipanggil untuk mengisi TED Talks Indonesia yang rekamannya terpajang di Youtube, juga kerap diundang dalam acara-acara televisi terkenal bersama tokoh-tokoh penting di Indonesia.
Yang saya ingin katakan, Sujiwo Tejo mempopulerkan wayang beserta makna-makna dan tafsir yang berbeda dari tafsir umum dalam beragam media dan dengan cara yang digemari khalayak dan anak muda. Ia meneror kita dengan kedalaman makna suatu peristiwa, memaksa keluar apa yang liar dari otak kita yang terbelenggu pakem-pakem tertentu, setiap hari.
Setiap hari.