Dalam menjelaskan konsep Tauhid, sebenarnya Faruqi menjelaskan keseluruhan pokok struktur pikirannya dalam dua bab pertama, yaitu the essence of religious experience dan the quintessence of Islam. Adapun bab- bab lanjutannya merupakan penjabaran bagaimana Tauhid berdampak pada setiap perspektif kehidupan, baik itu sosial, ekonomi, politik dan budaya (estetika/ seni).
Berbicara tentang Tauhid artinya berbicara mengenai keesaan Tuhan secara umum (monoteisme) dan keislaman secara khusus. Esa berarti singularitas, tiada komparasi, satu zat pengkreasi kehidupan sebelum kehidupan muncul hingga binasanya kehidupan oleh kehendakNya pula. Setiap muslim mengakui dan mengarfirmasi bahwa hanya ada satu Tuhan melalui syahadat: Laa Illa Ha Illallah (Tiada Tuhan Selain Allah) Muhammadurrasulullah (Muhammad utusan Allah).
Afirmasi yang sederhana ini adalah core/intisari Islam yang berdampak secara dahsyat pada dirinya dan lingkungannya. “Tiada Tuhan selain Allah” menghilangkan politeisme, mereduksi Tuhan dan dewa-dewa (Deva, Daeva, Deus, Tivurr ) menjadi satu Illah yang normatif, final, dan unik. Ini adalah ekstensi sempurna dari pemikiran para filsuf yang menganggap Tuhan sebagai Deus Otiosus yaitu Tuhan yang menciptakan lalu dunia akan berjalan pada hubungan kausalitas tanpa campur tanganNya, atau pemikiran para teleolog yang meyakini Tuhan ada dalam kehadiranNya yang agung (Divine Presence) di setiap hubungan kausalitas tadi. Inilah perbedaan mendasar seorang Muslim dari filsuf dan teleology. Bagi seorang Muslim, Tuhan tidak hanya sekedar hadir namun Tuhan menjadi kunci dari hukum (core of normativeness) segala aspek kehidupan. Core of normativeness inilah yang selalu didengungkan Faruqi sepanjang tulisannya.
Pengalaman religi yang berujung pada core of normativeness hingga muncul iman yang kritikal dan rasional (p. 41) adalah tema sentral tauhid Faruqi. Adalah suatu kejanggalan bahwa saat membahas religious experience yang berbicara tentang “rasa” dari pengalaman, Faruqi justru menekankan aksi manusia atas aturan Tuhan, menegasikan “rasa”/ mistisisme: “At the core of the Islamic religious experience, therefore stands God Who is unique, and Whose will is imperative and guide for all men’s life.” (p.4)
Tauhid yaitu afirmasi bahwa tiada Tuhan selain Allah membentuk peradaban dan sejarah. Inilah worldview dari Tauhid. Pada intinya Tauhid terdiri dari lima prinsip yaitu duality, ideationality, teleology, capacity of men and malleability of nature, dan responsibility and judgment.
Duality berarti ke-dua-an/ binari. Ada Tuhan dan mahlukNya, ada Pengkreasi dan yang dikreasi artinya tidak mungkin terjadi peleburan antara Tuhan dan makhluknya. Berbeda dengan konsep Syaikh Siti Jenar yang menyatakan bahwa manusia dapat melampaui kemanusiaannya (Sunyoto, 2004: 149)
“Sesungguhnya seorang adimanusia yang sudah melampaui kemanusiaannya dan menduduki derajat wakil Allah di muka bumi… mewakili citra asma’, shifat dan af’al Allah”
Prinsip duality menetapkan dengan tegas ketidakmungkinan ini.
Prinsip kedua adalah Idetionality. Melanjutkan prinsip duality, idetionality ini menegaskan bahwa manusia dibekali pemahaman atas realitas duality. Manusia dengan fungsi- fungsi memori, imajinasi, akal, observasi, intuisi and pemahaman akan mampu menyadari keinginan Tuhan melalui ciptaanNya.
Prinsip selanjutnya adalah Teleology. Prinsip ini menegaskan bahwa tidak ada satupun di dunia yang diciptakan tanpa tujuan. Dunia ini diciptakan dalam keadaan sempurna, tidak secara kebetulan. Ini berlaku ke segala hal kecuali satu; yaitu perilaku manusia. Manusia diberi kebebasan untuk melakukan pilihan- pilihan. Pilihan tersebut dapat berupa pemenuhan keinginan Tuhan (divine will) atau penyimpangan dari keinginan tersebut.
Kebebasan ini masuk dalam prinsip selanjutnya yaitu kapasitas manusia dan keberbentukan (malleability) alam. Kapasitas manusia atau tujuan diciptakannya (QS 2: 30) bergantung pada moralnya. Tentu saja dengan Tauhid maka manusia diharapkan merubah dirinya sendiri, berlanjut pada ummah (p. 104), keluarga (p. 129), dan lingkungannya, apakah itu sosial (p. 85), politik (p. 141), ekonomi (p. 157), budaya/ estetika/ seni (p. 195) ataupun keteraturan dunia secara keseluruhan (p. 185).
Sebenarnya dalam setiap bab, Faruqi menjelaskan secara gamblang implikasi tauhid pada perspektif- perspektif berikut runtunan yang terstruktur khususnya di bab empat. Namun peletakan bab- bab selanjutnya seakan melompat- lompat misalnya prinsip ummah didahulukan daripada prinsip keluarga padahal Faruqi menjelaskan bahwa keluarga adalah constitutive unit dari suatu masyarakat. Begitupula dengan prinsip world order yang didahulukan dari prinsip estetika. Walau sedikit mengganggu, namun hal ini tidak mengurangi esensi pembahasan.
Tanggung jawab untuk merubah dirinya, masyarakatnya dan lingkungannya merupakan prinsip Tauhid yang ke lima. Tanggung jawab ini berakhir pada judgment yaitu dua hal. Pertama, kemenangan (falah) apabila mengikuti divine will yang berakhir pada surga, dan kedua, kesengsaraan apabila menyimpang dari divine will.
Perlu dicermati sesuatu yang sangat menarik dari tulisan Faruqi yaitu absennya kata neraka (hell), walaupun kata surga (paradise) digunakan (p. 75, p 148). Hal ini sebenarnya mengindikasikan penekanan konsep khalifah pada manusia dibandingkan konsep abd (hamba). Di dalam tulisannya khususnya pada bab empat mengenai prinsip dari etika, Faruqi menekankan pada actionalism sebagai kebebasan manusia yang berkaitan dengan kepatuhan pada Tuhan. Namun ia tidak membahas secara khusus prinsip ubudiyah (penghambaan) manusia.
Great book!!! Faruqi got shot and died just like Syari'ati because of this piece. However, it is written in a strict manner as an overemphasize in the presence of man as khalifatullah fil ardh, less stress on his/ her being an abd to Allah. Worth reading..