Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mencoba Sukses

Rate this book
“Scene 40 take 4!”
Semua hening dan camera rolling.
Tiga puluh detik berlalu.
Enam puluh detik berlalu.
Tiga menit berlalu.
“CUTTTT!!!! LO NGAPAIN LAGI SIH, CONG?” tanya Sutradara emosi.
“Penghayatan, Men. Bunuh orang kan gak gampang. Nyawa orang itu berharga.”
“Lha, tukang bajaj kemaren?”
“Itu sih gue laper,” ujar Pocong tanpa merasa bersalah.
“GAK PAKE PENGHAYATAN, CONG. BUNUH AJA LANGSUNG! INGET, TIGA PULUH DETIK!!”
“Kayaknya gue gak bisa.”
“KENAPAAAAAAAAAAA???”
“Nih ya gue jelasin. Waktu Christine Hakim main di Pasir Berbisik, untuk menyiapkan mental adegan bunuh orang, dia butuh enam jam, Men.”
“TRUS, MAU LO APA?”
“Gue butuh dua belas jam.”
“LAKUIN SEKARANG! LAKUIN SEKARANG JUGA! LAKUIN ATO GUE SURUH SEMUA ORANG DI SINI NGAJI BIAR LO BERASEP!”

Ketika dunia perfilman mengandalkan tokoh dari dunia lain untuk memerankan aktor utama, kehadiran sosok Pocong kemudian menghancurkan semua imajinasi para pembuat film. Ditemani sahabatnya, Babi Ngepet, Pocong akan membuat kita terbahak-bahak lewat kisahnya mempertahankan eksistensi di jagat industri film.

204 pages, Mass Market Paperback

First published July 1, 2012

3 people are currently reading
151 people want to read

About the author

Adhitya Mulya

20 books702 followers
Adhitya Mulya (Adit) aspires to be a story-teller.

At early age, Adit learned and enjoyed story telling thru visual mediums like movies and drawings. This, inspired little Adit to take up drawing as a child, and later photography in his teen years.

As a young adult, Adit tries to expand his storytelling medium thru novels. Jomblo (2003) is his first novel (romantic comedies) and was national best-seller - and later made into a movie by the same title (2006). He went on to write another rom-com novel Gege Mengejar Cinta (2004).

Adit uses novels as a medium to try new genres. Travelers Tale (2007) was the amongst the first Indonesian fiction novels with traveling theme before becoming mainstream in Indonesia. Mencoba Sukses (2012) was his effort to try on horror-comedy which later found, not working very well.

He released Sabtu Bersama Bapak (2014), a family themed novel which again became national best seller, well received, and also made its' way into motion picture (2016).

His latest novel, Bajak Laut & Purnama Terakhir (2016) - is his effort in learning how to make a thriller-history novel.

Adit's passion towards storytelling branches out from drawing, photography to novel and move scripts, which amongst other are,
Jomblo (2006)
Testpack (2012)
Sabtu Bersama Bapak (2016)
Shy-Shy cat (2016).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (16%)
4 stars
31 (13%)
3 stars
84 (35%)
2 stars
64 (27%)
1 star
18 (7%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
August 12, 2012
"Kenapa harus klep jantung yang gua ambil?"
"Karena gua gak punya klep bajaj." Sutradara gusar.



Sebagai sebuah komedi horor, "Mencoba Sukses" harus dipahami dalam konteks yang disampaikan dalam bagian pengantarnya. Bagaimana buku ini harus dibuat seringkas, ringan, dan sekomedik mungkin. Demi tercapainya tujuan-tujuan yang disebutkan dalam pengantarnya.

Disini, pembaca tidak akan repot dipusingkan soal karakterisasi. Karena, pada umumnya pembaca sudah lebih dulu akrab dengan tokoh-tokoh seperti Pocong, Babi Ngepet (belakangan ganti nama jadi Babi Nge-Pad setelah punya iPad), Genderuwo, Suster Ngesot, Kuntilanak, dan sahabat mereka lainnya.

Personifikasi pada berbagai karakter tadi turut menyumbang sebuah pemaknaan baru. Mereka dibiarkan bermain dan hidup dalam alam imajinasi pembaca. Dari situlah sebuah komedi tampil menampakkan wujudnya. Permainan antara jalan cerita dengan imajinasi pembaca.

Bersiaplah untuk tertawa sepuasnya dengan dialog-dialog yang mengocok perut. Ditambah dengan ilustrasi yang anti mainstream dan cenderung jadi parodi. Belum lagi, fenomena urban yang dirangkum "Mencoba Sukses" jadi bumbu tawa tersendiri.

"Mencoba Sukses" (versi saya) dimulai dengan sebuah email dari Pocong yang jobless usai akting terakhirnya. Untuk pembaca yang belum tamat 'Empat Musim Cinta' tentu saja ini adalah hal baru. Jadi, harus baca dari awal.

Pocong yang baru join di mailing list hantuindonesiaunite mencoba peruntungannya kembali dengan mencari info soal job yang mungkin bisa didapatkannya. Pernah bayangin memedi yang tadi disebutkan saling kirim pesan di milis? Nah, jawabannya ada disini. Mana sampai ada guyon soal Hantu Indonesia Perjuangan, akibat isu keretakan di milis hantuindonesia unite.

Singkat cerita, Pocong bertemu dengan Babi Ngepet dan mulai merencanakan sebuah aksi agar mereka berdua bisa main film. Untuk itu, mereka mencoba segalanya, mulai dari minta tips dari Kuntilanak hingga mendatangi produser yang desperate ingin membuat tiruan film Ayat-Ayat Cinta.

Namun, ketika peluang itu datang, Pocong seakan lupa pada nasib Babi Ngepet. Karena terlalu jumawa mendapatkan peran utama. setelah itu, Babi Ngepet pun serasa kehilangan. Maka, ia pun kembali menikmati facebook dengan iPad barunya. Penasaran kenapa sampai Babi Ngepet bisa punya iPad?

Proses syuting pun berjalan. Ternyata, sebagai pemeran utama akting Pocong tidak seperti yang diharapkan. Diam-diam, Kuntilanak dan Suster Ngesot merencanakan Pocong untuk diganti dengan Jin Tomang. Hal ini juga yang menyebabkan judul film ikut diganti: Ayat-Ayat Jin Tomang.

Dengan harga diri yang berceceran Pocong harus meninggalkan proyek film yang prestisius itu. Apapun alasannya, Pocong tetap tersingkir. Sampai suatu ketika, Pocong kembali mengaktifkan dirinya di milis hantuindonesiaunite dan menemukan sesuatu yang aneh. Babi Ngepet segera menghubungi Pocong.

Babi Ngepet kembali menemui Pocong untuk memberikan sebuah penjelasan. Tak lama, terkuaklah semuanya. Dengan bantuan Toni a.k.a Syaitonirojim, Babi Ngepet berhasil membubarkan syuting film itu. Penjelasan Babi Ngepet itu memang berharga mahal karena membuat mereka berhutang pada Toni.

Adakah solusi untuk membayar hutang itu? Menyadari bakatnya, Babi Ngepet pun menjelaskan idenya pada Pocong. Dengan segera, disaksikan kerlingan bintang kejora, Pocong pun mengumpulan seluruh kepercayaan dirinya, demi satu judul: Pocong Cenat Cenut.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Menyenangkan rasanya melihat penulis favorit kita menulis lagi. Melihat judulnya sepintas 'Mencoba Sukses' membuat saya teringat judul album The Changcuters 'Mencoba Sukses Kembali'. Apa ada hubungannya? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, @adhityamulya penulis "Mencoba Sukses" yang saya kenal itu tergolong penggemar girlband @Princess_Ind.

Tapi, kalau dipikir lebih lanjut, soal judul tadi mungkin ada hubungannya dengan buku-buku @adhityamulya sebelumnya: Gege Mengejar Cinta dan Jomblo. Dua judul dengan predikat bestseller dan terbaik dimasanya (if i may add). Pemilihan nama "Mencoba Sukses" barangkali ada hubungannya dengan dua buku itu tadi. Sebagai representasi sebuah harapan bahwa buku yang baru terbit setelah Catatan Mahasiswa Gila ini meraih kesuksesan yang setara dengan pendahulunya, #GMC dan #Jomblo.

Sungguh sebuah kejutan karena "Mencoba Sukses" adalah sekuel lanjutan dari cerpen "Scene 40 Yang Bermasalah Itu" yang dimuat dalam antologi 'Empat Musim Cinta' (GagasMedia,2010). Ide yang disampaikan dalam "Mencoba Sukses" termasuk sederhana. Justru, dalam kesederhanaannya buku ini malah bisa bercerita banyak. Walau tidak se'berat' #GMC dan #Jomblo.

"Mencoba Sukses" sebagai sebuah bentuk novel ringan bergenre komedi horor mampu berperan ganda. Selain sebagai antitesis mainstream untuk film komedi horo esek-esek juga sebagai penangkap beberapa fenomena yang lazim terjadi di zaman media sosial seperti sekarang ini. "Mencoba Sukses" adalah novel yang berkonteks kekinian yang dipadukan dengan unsur-unsur klenik. Paduan keduanya menghasilkan komposisi jalan cerita yaang ringan, menghibur, walau sedikit absurd.

Dengan demikian, agaknya tujuan @adhityamulya sudah tercapai. Mencoba sukses untuk mendidik Alde dan Arza dan sukses menghibur pembaca yang setia menunggu karya terbarunya.

Pharmindo, 11 Agustus 2012.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
December 12, 2015
Dulu, saat buku ini baru-baru terbit, aku sama sekali belum pernah baca tulisan Adhitya Mulya (sekali pun masterpiece-Jomblo). Sempat mau baca, tapi ditunda karena konon buku ini banyak mendapat tudingan miring.

Sampai akhirnya aku berburu karya beliau yang lain dan mulai ketergantungan (yes, hampir lengkap ngoleksi), aku baru ingat kalau harus baca novel ini juga.

Mencoba Sukses ibarat sebuah karya eksperimental yang ditulis dengan iseng. Seperti coretan di belakang buku tulis yang ditulis asal oleh murid cerdas-tapi-pemalas, kemudian coretan itu terbaca oleh gurunya, dan guru itu terhibur. Kemudian sang guru ujug-ujug mengirim tulisan itu ke penerbit. Lalu terbitlah. Kira-kira seiseng itu.

Kang Adhit harusnya nggak perlu menerbitkan novel ini. Tapi novel ini beruntung ditulis oleh Kang Adhit.
Profile Image for Natanael Christianto.
54 reviews6 followers
June 30, 2017
Gak dapet feel sama sekali pas baca novel ini, sih. Beberapa part lucu dan khas mas Adhitya Mulya. Sayang di beberapa bagian lain terkesan biasa saja & garing.

Mungkin seharusnya novel ini gak dibuat dan cukup buat jadi cerita pendek aja.
Profile Image for Isabella Ramadhanti.
20 reviews1 follower
October 31, 2017
kayaknya buku ini ditulis pas kang adit masih muda kali yaa? *sotoyyy*
gaya penulisannya ga berubah, tapi kematangan ceritanya jauuhh bedanya.
diantara buku2 kang adit, buku ini sih yg kurang mateng.
tetep suka dan nunggu karyanya kang adit selanjutnya sih.
forever love for kang adit. huehehehe
Profile Image for Nanien.
70 reviews1 follower
May 22, 2025
Keknya bneran telat 1 dekade saya bacanya. Metanya masih awal banget
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
September 13, 2012
Let me tell you a story...
Untuk beberapa orang yang sudah kenal saya di luar GR, mungkin udah eneg baca cerita ini lagi X). But I still wanna tell it anyway :p.

Settingnya beberapa tahun yang lalu, saat Adhitya Mulya baru saja mengeluarkan novel pertamanya : Jomblo.
Kala itu, saya menulis review yang yah...gitu deh, sesuai kebiasaan saya lah kalo nge-review. Dan gak tau gimana, Adhitya tau tentang review itu. Dia cuma bilang : "Makasih udah sediain waktu buat baca dan review" ato something yang seperti itu.

Dan sejak itu, saya respect sama Adhitya.
Ada banyak penulis lokal yang saya sukai, sebagian besar saya hormati. Namun hanya beberapa yang saya support secara loyal dengan membeli bukunya, sekacrut apa pun buku tersebut. Dan Adhitya termasuk yang "beberapa" itu.

Sewaktu buku Mencoba Sukses ini baru terbit, saya gak buru-buru membelinya walopun emang udah diniatkan. Saya mo liat dulu reaksi pembacanya gimana. Reaksi ini saya pantau dari timeline twitternya Adhitya (iyaa...emang oksimoron kok). Dan salutnya, Adhitya meng-RT beragam reaksi tentang bukunya, baik yang puas mau pun nggak.

Menurut saya wajar kok kalo penulis hanya meng-RT komentar-komentar bagus tentang bukunya. Kan itu cara promosi mereka. Buat saya, sudah cukup kalo mereka tetap menanggapi baik segala komentar negatif yang ditujukan. Tapi meng-RT segala komen buruk yang masuk menunjukkan kebesaran hati selain juga kedewasaan.

And so...itulah alasan kenapa gak ada review kacrut kali ini walopun buku ini punya beberapa unsur kacrut :s.
(PS : Hanjiiisss...ini kenapa komen tentang penulisnya aja panjang gini?)

Novel ini bercerita tentang seikat pocong-banci-tampil yang kepengen banget bisa eksis di dunia entertainment. Bersama teman barunya, Babi Ngepet, Pocong pun berusaha menapak jalan menuju kesuksesan. Demi kesuksesan yang diidamkan, Pocong sampai berguru pada Kuntilanak, hantu tersukses di bidang entertainment, dan Suster Ngesot, salah satu hantu gagal. Pocong juga harus menghadapi persaingan sesama hantu dan pengkhianatan dari teman hantu lainnya (terdengar sangat dramatis).

Ide dasar novel ini lumayan baru sih sebenarnya. Jarang ada novel lokal yang menjadikan hantu sebagai tokoh utamanya dan bergenre komedi.
Sewaktu membaca kata pengantarnya pun, saya sudah nyengir lebar. Sayang, itulah satu-satunya saat saya bisa nyengir saat membaca buku ini.

Bab pertama yang ada di blurb novel ini sebenarnya memang lucu. Tapi saya sudah membaca bagian ini 2x sebelumnya (pertama di blognya Adhitya, kedua di Kumcer Empat Musim Cinta). Sehingga saat saya membacanya untuk yang ketiga kalinya di novel ini, yang terasa adalah bosan. Pake banget.

Humor yang ada dalam novel ini masih humor khas Adhitya yang tajam dan menyentil. Sayangnya, kali ini saya merasa terlalu banyak hal yang ingin disentil Adhitya dalam novel setipis ini. Bayangkan, dalam novel setebal 192 halaman, Adhitya menyindir tentang Facebook yang sudah mirip Tanah Abang, hobi jiplak sineas Indonesia, percobaan iseng remaja karang taruna dengan oplos minuman yang berakibat ketemu sama dewa maut, sampai ke trend sinetron masa kini yang bisa mencakup ratusan episode. Bahkan Adhitya masih sempat menyentil tentang betapa vitalnya keindahan fisik dalam dunia entertainment.

Apakah lucu? Yah awalnya sih sedikit lucu. Baca kenyinyiran orang kan emang (biasanya) lucu. Tapi setelah 100an halaman lebih, yang kerasa adalah "ugh-it's-enough".
See...nyinyir is fun, seru, lucu. But try to overdo it, and it becomes gengges (ganggu).

Lagipula topik yang disentil Adhitya berasa random. Maksud saya, pada intinya ini tentang dunia entertainment kan? Kenapa kudu bawa-bawa FB dan minuman oplosan ya?
Oke...saya ngerti Adhitya bermaksud menyelipkan pesan moral di buku ini. Apalagi novel ini diniatkan untuk kedua putranya, sebagai cara mendidik agar mereka gak takut sama segala demit dan menganggapnya hiburan (bener gak ya?).

Tapi Kang Adhit, kenapa gak fokus ke itu aja? Kenapa mesti nyentuh topik-topik lain di luar itu?
Rasanya jadi "too overwhelming" aja.
Dan pesan-pesan moral yang niatnya diselipkan dalam novel ini, karena udah kebanyakan malah bikin males. Ada semacam perasaan "yea-yea-yea...enough-about-it-will-you".

Gimana dengan humornya? Entahlah...mungkin sense of humour saya yang lagi drop, ato mungkin emang gak satu selera (etapi biasanya selera saya cocok lho sama novelnya Adhitya), ato mungkin jugaaa karena saya udah senep baca semua sentilan itu. Yang pasti, sepanjang baca novel ini, saya selalu kepikir : "Wait...tadi itu mestinya lucu ya? Gw mestinya ketawa?". And laugh never feel that rempong before.

Tapi Adhitya Mulya (dan istrinya Ninit Yunita) tetap salah dua novelis favorit saya, yang akan selalu saya tunggu kemunculan buku-buku berikutnya. So keep on writing, kang. Dan semoga buku Mencoba Sukses-nya beneran sukses.
Profile Image for Lou Trulymay.
27 reviews4 followers
September 5, 2012
*ketawa dulu*

Alasan ketawa :
1. Bukunya penuh kelucuan
2. Ketawain diri sendiri yang udah tertipu dengan judul paling besarnya!

Yup!
Pertama kali gue ngeliat buku ini di twitternya Adhitya Mulya (@adhityamulya), judulnya 'MENCOBA SUKSES' itu cukup menarik perhatian. Wah jarang-jarang nih orang nulis tentang motivasi. Biasanya kalo nggak novel, humor, atau cerita tentang pengalaman-pengalamannya lah. Pokoknya gak 'seserius' ini. Penasaran dong gue. Sama sekali nggak ada pikiran untuk ngecek tulisan-tulisan lain di cover buku tersebut. Maklum gue lihatnya pake handphone, jadi tulisan-tulisan kecil itu nggak terbaca. Gambar-gambarnya juga nggak jadi pikiran berlebih buat gue. Gue cuma suka covernya.

Akhirnya gue minta tolong temen gue beli. Dia yang pertama baca. Terus dapat BBM "ngakak gue!"
Lho?? Kok 'ngakak'? Apanya yang lucu?

Akhirnya gue baca daaaaan, ternyata itu cerita 'sebuah komedi horor' sesuai tulisan kecil di bawah judul besar itu. Astaga! Dan gue baru perhatiin itu ada gambar si Pocong dan Babi Ngepet.. :D

Sempat berpikir males buat nerusin baca buku ini. Tapi kepalang tanggung, kalo udah baca dikit wajib gue selesaiin. Dan gue ketawa terus dari awal sampai akhir, walaupun ada juga bagian-bagian yang sangat membosankan.

Ceritanya tentang si Pocong (artis yang mulai nggak laku karena banyak tingkah) dan si Babi Ngepet (baru mau memulai karir keartisannya dengan belajar dari Pocong) yang sama-sama mencari peruntungan untuk sukses dan populer di dunia perfilman Indonesia. Tentu saja mereka menemukan banyak cobaan untuk mewujudkan impian mereka tersebut. *udah mulai ngerasa aneh dengan tokoh utamanya?*

Pocong dan Babi Ngepet mulai mengumpulkan tips untuk sukses dari rekan-rekan perhantuan yang sudah mulai terkenal atau sukses bahkan dari yang gagal sekalipun. Diantaranya ada Kuntilanak (artis yang lagi naik daun banget karena filmnya banyak dengan judul beragam), Suster Ngesot (artis yang sudah padam dan bekerja di bagian administrasi kamar jenazah RSCM), Genderuwo, dll. Setelah mereka mengumpulkan tips dari para senior mereka, saatnya mendatangi produser-produser dan mengusulkan skenario film yang mereka buat. Semuanya ditolak, kecuali satu yang berjudul Ayat-Ayat Pocong. Akhirnya syutingpun berlangsung. Di dalam proses syutingpun masih ada saja cobaan yang datang.

Jujur, cerita mulai membosankan. Tapi ternyata nggak lama kemudian lembaran-lembaran dibuku pun menipis. Habis. Dan gue masih ketawa-ketawa garing aja tuh. Apalagi ending-nya yang masih aja menerapkan 'kegagalan' yang sudah dibahas di bab-bab berikutnya. Spontan gue ketawa lagi.

Ya, ceritanya sangat amat ringan, 'cetek', garing. Tapi sangat menghibur, apalagi untuk bacaan ringan pelepas stres setelah bekerja penuh tekanan. Hehehehe. Setidaknya Adhit sudah berhasil memberikan pelajaran agar kita nggak perlu takut pada makhluk halus dan sejenisnya. karena tokoh 'horor' itupun bisa dijadikan bahan komedi seperti novelnya tersebut.

Well, 2 bintang cukup yah.. bintang untuk bikin gue ketawa dan menghilangkan stres! :)
Profile Image for Afifah.
151 reviews9 followers
August 3, 2012
5 bintang???? kaga salah???
Yupp, mungkin penilaian saya cenderung subyektif (ya iyalah ya, namanya juga penilaian pribadi, kalo bukan subyektif apaan namanya?) karena terus terang saja, Adhitya Mulya adalah salah satu penulis favorit saya, sejak 'Jomblo', saya selalu mengikuti setiap hasil karyanya, bahkan yang cuma kumcer sekalipun. Makanya begitu tahu kalo si akang Adhit ngeluarin buku lagi, langsung deh capcuss ke gramedia terdekat buat beli.
Dan yes, kang Adhit tidak pernah mengecewakan saya. Novel ini, menurut saya benar-benar jenis novel humor yang wajib dibaca siapa saja yang ngakunya penggemar novel humor. Dan khas tulisan kang Adhit lainnya, novel ini juga nggak sekedar 'lucu', tapi juga ada 'isinya'. Meskipun novel ini menceritakan kisah sepak terjang Pocong dan beberapan teman sebangsanya, sumpah deh, ini novel gag ada serem-seremnya sama sekali. Sarat dengan pesan moral yang juga sama sekali nggak berkesan menggurui. Bahkan dengan maraknya novel bertema sama belakangan ini, yaitu horor-komedi, novel ini tetap berhasil menampilkan ciri khas-nya sendiri, yaitu humor cerdas dengan kata-kata yang terdengar intelektual khas kang Adhit (menurut saya loh ya).
Akhir kata (halah, kayak cramah), menurut saya judul 'Mencoba Sukses' seharusnya diganti menjadi 'Sukses', karena novel ini sudah sangat sukses, sukses membuat saya sakit perut karena kebanyakan ketawa. Yang jelas, saya akan selalu inget dengan pesan kang Adhit di novel ini, yaitu jangan berteman dengan yang namanya Toni, alias Syaitonirrojiim.
Profile Image for Nina Ardianti.
Author 10 books400 followers
September 5, 2012
Saya merupakan penggemar Mas Adhit sejak bukunya yang Jomblo. Tapi habis itu, yang saya suka hanya Catatan Mahasiswa Gila aja. Oh, dan part Jusuf di Traveler's Tale: Belok Kanan barcelona. Tapi saya mengagumi pemikiran Mas Adhit yang kelihatan di blog atau twitternya. Cerdas dan lucu. Melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Jadi ketika buku ini dibilang mau terbit, saya excited banget buat membaca. Sampai preorder segala biar dapet tanda tangannya, hehehe...

But apparently, ekspektasi saya nggak sesuai dengan kenyataan. Menurut saya buku ini masih agak mentah. I dunno, mungkin jalan ceritanya yang nggak jelas, humornya yang agak maksa, atau just simply not my cup of tea. Tapi diperparah dengan cetakan yang menggunakan font besar-besar, setting yang kurang rapi, well, memang nggak memengaruhi substansi, tapi memengaruhi kenyamanan membaca.

So, saya sih sebagai pembaca dan penggemar Mas Adhit, mudah-mudahan berikutnya bukunya bisa jadi lebih bagus lagi, jalan cerita yang rapi dan humor yang witty dan sharp, sehingga pembaca bisa tertawa dengan natural. Tanpa terpaksa atau mengernyitkan dahi berpikir, "Ini seharusnya saya ketawa ya ketika membaca adegan ini?"

Well, goodluck Mas Adhit. Ditunggu karya selanjutnya.
Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
August 3, 2012
Entahlah, ya. Entah temanya yang tidak kena bagiku. Atau penuturannya yang menurutku kurang sreg di hati.

Membacanya aku capek, padahal buku ini tidak terlalu tebal, font besar, dan spasinya cukup lebar pula. Mungkin karena bagiku terlalu banyak adegan marah-marah menggunakan capslock. Dan sepertinya cukup sering suasana humor yang dibangun dengan salah satu pihak marah-marah sementara satunya lagi cenderung cuek. Jadi, bagiku, membacanya kurang menyenangkan.

Dan menjelang akhir aku merasa, eh... sudah nih? Begitu saja? Mungkin karena melihat kovernya aku menduga karya ini ditulis dalam bentuk skrip atau apalah. Tidak ternyata. Dan meski disinggung twitter sekilas, tapi malah lebih banyak naskah dituliskan dalam format email dan wall facebook. Tidak masalah sih. Mungkin, yah, karena bukan cangkir tehku saja, sehingga aku tidak berhasil untuk menikmati.
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
July 17, 2012
Akhirnya karya terbaru dari salah satu penulis komedi fave! *dance*
Tidak lama setelah kabar beredarnya buku ini di tokbuk, langsung pergi buat beli.
Dan tidak mengecewakan!
Bukunya ngocol banget. Bikin kangen dengan penulisnya #lho #shot :))
Nggak deh. Tapi bikin ngerasa hantu-hantu itu tidak semenyeramkan yang tergambar di film-film. :p
Bahkan menelan sepinggan betis tukang becak aja bisa bikin ngakak. =)) *istilah yang disuka di buku ini*
Pokoke kalau ngaku suka dengan buku-buku komedi, mesti banget baca buku ini. XD
Profile Image for Ika Natassa.
Author 25 books2,368 followers
August 15, 2012
buku adit yang udah gue baca itu jomblo, travelers' tale, catatan mahasiswa gila, dan ini. yang paling gue suka itu travelers' tale, dan yang di urutan kedua adalah mencoba sukses ini. why? i think adit is effortlessly hilarious here. kalimat2nya sharp, lucu tanpa memaksa, sindiran halusnya terhadap trend terkini juga lucu. gue baca buku ini sampai tamat ga lepas cuma 2 jam aja. kalau nanya gue, ini salah satu dari 10 buku yg akan gue rekomendasikan orang2 utk baca di tahun 2012 ini. you're awesome dit!
Profile Image for Ratrichibi.
53 reviews8 followers
November 24, 2012
Buku ini memang tidak selucu atau sekeren buku Adhitya Mulya yang terdahulu.
Cuma butuh waktu satu jam buat melahap habis buku ini.
Lucu sih, tapi kaya yang kurang gregetnya. Kalo dulu baca buku2 Adhitya Mulya kaya Jomblo, gege Mengejar Cinta, atau Traveler's tale, rasanya waaahh gitu. Bikin keinget2 terus jalan ceritanya sampe udah selesai baca pun ketawa2 sendiri.
tapi di buku ini saya cuma senyum-senyum aja sih, walaupun ada bagian yang bikin ketawa. tapi nggak sampe bikin pengen baca ulang gitu.
Tapi lumayanlah buat mengobati rasa kangen akan guyonan khas Adhitya Mulya.
Profile Image for Laras.
30 reviews54 followers
March 21, 2013
YEEE! Adhitya Mulya bikin buku baru!!
isinya nggak jauh jauh dari komedi koplak. tapi yang beda, buku ini sebenernya buku serem kalo bukan ditulis sama Adhit. jadi buku ini buku comedy-horror. buku ini tentang POCONG, KUNTI, SUNDELBOLONG, SUSTERNGESOT dan kawan-kawannya, yang ternyata hidup seperti kita juga! mereka bisa ngutang, bisa pengangguran, bisa selingkuh, bisa berubah jadi asep kalo dibacain Yasiin=)) sumpah ngakak! cuman tadi gua bacanya sambil ngantuk jadi yah.. gitu deh. bintang 3 setengah deh :)
Profile Image for Langit Amaravati.
Author 12 books22 followers
October 27, 2013
Humornya sinis dan sadis. Suka! Saya sih sudah membaca bagian awal buku ini di blog-nya Adit dan wondering aja ketika tahu cerita pocong nyebelin itu dijadiin buku. Sukses membacanya dalam waktu kurang dari dua jam.
Selera humor Adit yang nyinyir menjadikan buku ini berisi komedi yang cerdas, terutama tentang dunia perfilman Indonesia yang memang sudah tiarap. Enggak ada narasi-narasi lebay seperti kebanyakan buku komedi, kecuali font kapital yang bikin sakit mata.
Profile Image for Melita.
41 reviews2 followers
November 7, 2012
Buku ini bisa jadi lebih cerdas daripada penampilannya. Entah memang niatan penulisnya atau si sinis yang ada pada diri saya, pada banyak cuplikan lelucon satir di buku ini kita bisa dapat pengetahuan cukup banyak tentang industri film semi-komedi-semi-horror-semi-porno.

Sayangnya, buku ini juga semi-semi saja. Semi lucu, semi serius, semi menarik, serba nanggung.
Profile Image for Nurnajmi.
207 reviews17 followers
December 12, 2012
saya kini sadar, saya tidak suka tema seperti ini. mengkhayalkan babi ngepet dan pocong menjadi artis. saya tidak suka lelucon yang hanya khayalan. membayangkan kedua setan tersohor di indonesia itu melucu menurut saya tidak lucu dan tidak menarik (maaf) hehehe tapi adhitya mulia akan tetap menjadi salah satu penulis yang lucu :)
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
February 26, 2013
cocok itu dijadikan hiburan. meski bergenre komedi, tetap ada pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. dan yang paling saya suka adalah "belajar sukses ala babi ngepet". mau tau apa? caru tahu sendiri aja dengan membaca bukunya ;)
Profile Image for Romeka Sari.
13 reviews2 followers
December 6, 2012
Seharusnya, seorang Adhitya Mulya bisa lebih baik dari ini. Agak garing ya.. tapi ya sudahlah..
Nice try..
Suka sama pengantarnya malah, pingin ngasih cerita hantu yang ga serem buat anaknya. Such a family man, yeah?
Profile Image for Zahidah Zahra.
14 reviews5 followers
June 1, 2013
di depan cover bukunya saya liat komennya alit dan vabyo, pada saat itu saya menaruh ekspektasi besar sama isi bukunya. but, unfortunately, ditengah-tengah baca justru saya menutup bukunya dan memilih buku lain untuk dibaca. atau emang saya yang belum nemu sisi kocak buku ini? :)))
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
May 26, 2020
Tentang pocong sungguhan yang ingin sukses menjadi bintang film. Di sini, film horor Indonesia disindir karena kualitasnya yang memprihatinkan. Selain itu, ada banyak juga hantu-hantu lain lokal seperti babi ngepet dan suster ngesot.
Profile Image for Rina Purwaningsih.
82 reviews1 follower
July 19, 2012
Haha, bisa-bisanya si Adhit ini mbahas Top 10 Hantu di Indonesia dengan begitu detil dan nyata. Tulisan detil khas Adhitya Mulya yang mengocok perut emang selalu aku suka!
Profile Image for Utami.
163 reviews16 followers
July 22, 2012
Funny, but not hilarious. However, saya tetap suka gaya humor Adhitya Mulya yang menurut saya tidak kasar seperti yang banyak ditemukan dalam buku-buku komedi yang bertebaran saat ini.
Profile Image for Obin.
1 review125 followers
August 11, 2012
lucu, ringan, menghibur, but over-priced. buku yg bikin lo pengen minjem dari temen, bukan beli.
Profile Image for Danang Bees.
25 reviews3 followers
August 23, 2012
Bacaan ringan ditengah-tengah kesibukan, cocok untuk mengisi waktu luang atau hanya sekedar melepas kepenatan
Profile Image for Nur Fauziah.
109 reviews
August 30, 2012
bukan penggemar komedi, tapi cara Adhitya Mulya menuliskan cerita memang baik dan bagus. Hampir tidak ada kejanggalan meskipun yg diceritakan sangat fiktif
Profile Image for Rizka.
11 reviews25 followers
November 5, 2012
It was just OK, but not that good.
Funny but not that funny.
Expecting more from Adhitya Mulya.
Displaying 1 - 30 of 45 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.