Jatuh cinta adalah hak setiap orang, juga orang-orang yang tinggal di Metropolitan. Gaya dan lagaknya macam-macam.
Sheila yang baru berumur 21 tahun jatuh cinta pada dokter setengah umur yang wajahnya mirip Sean Connery. Tentu saja papanya keberatan. “Masa Papa punya menantu yang umurnya hanya berselisih dua tahun dengan Papa?” Tapi bukan alasan papanya yang membuat Sheila memutuskan hubungan, melainkan apa yang ditulis dalam blog anak Pak Dokter.
Pertama kali Pedro mengajak ceweknya brunch bersama Mami dan Papi di Hotel Shangrila, ceweknya bersendawa. “Hadeuuuh, Pedro, Mami gak mau ya kalau harus mengajarkan etiket pada calonmu. Carilah gadis dari strata sosial yang sama dengan kita.” Setelah mendapat gadis dari strata sosial yang sama, Mami berteriak, “Aduh, mamanya pacarmu itu tukang tembak!”
Amanda yang memiliki Papa setampan Javier Bardem mengaku pada sahabatnya, “Papaku tuh Don Juan tulen, untung kamu menolak ajakannya, kalau nggak, apa iya aku harus memanggilmu tante?”
Sabrina yang mirip Kate Middleton malu setengah mati atas kelakuan ayahnya yang berpacaran dengan tante suaminya. “Papa pulang ke Solo siang ini ya. Nanti saya antar ke airport. Saya maluuu sekali.”
Kisah-kisah di buku ini macem-macem. Ada yang bikin ketawa, ada yang bikin sebel dan ada juga kisahnya yang sediiiih banget. Yang sedih banget ini adalah kisahnya Alex, si cowok obesitas yang cinta mati sama Dewi. Dewi sendiri anaknya baik, tapi dia deket dan mau temenan sama Alex cuma dengan tujuan ingin memperkenalkan hidup sehat padanya. Dan itu berhasil. Tapi setelah itu Dewi pelan-pelan pergi dari kehidupannya dan membuat Alex bingung. Dia pun semakin giat menguruskan badannya hingga akhirnya mereka bertemu lagi. Namun pertemuannya ini justru membuat hidup Alex semakin terpuruk hingga dia akhirnya meninggal. Pokoknya ini cerita yang paling sedih. Ada juga yang kisahnya serupa sedihnya. Soal Sherley yang mencintai seorang pria ganteng berpenyakit jantung bernama Andrew. Orangtuanya sudah mewanti-wanti untuk meninggalkannya dengan membeberkan berbagai konsekuensi yang merugikan Sherley. Meski akhirnya mereka putus baik-baik, Sherley tetap membiayai semua perawatan dan pemakaman Andrew. Jadi dia bisa tetap manut sama orangtua tanpa mengabaikan pria yang dicintainya. Cerita yang lucu bin aneh di sini polanya lumayan sama. Si komediannya itu adalah tokoh lelaki yang anak mami banget atau tokoh suami yang berada di bawah kaki istrinya. Jadi diem aja kalo harga dirinya diinjak-injak sang istri, hahaha. Ada juga tokoh ayah tapi dia genit minta ampun. Masa dia nggak malu berkunjung ke rumah temen anaknya lalu tiba-tiba ngajakin nonton di TMI? Untung si temen anaknya ini nolak dengan alasan anaknnya si om nggak diajak. Ini baru perempuan cerdas! Dan melalui buku ini pun aku seperti diajarkan untuk bersikap rasional meskipun kita lagi jatuh cinta. Nggak selamanya berbelaskasihan pada orang itu bagus, entah itu untuk kita ataupun orang yang kita kasihani. Buktinya, si suami yang drug addict itu malah menggadaikan surat rumah milik istrinya tanpa izin. Padahal usahanya udah bangkrut sewaktu dia di rehab. Lalu dia mau menebus surat itu pake apa? Ya akhirnya istrinya juga yang repot. Pokoknya hampir semua kisah di buku ini berkesan banget buatku dan memberikan pesan moral yang mendidik. Top deh. Aku sih suka cerita-cerita seperti ini. Apalagi, sekali lagi, ini berdasarkan kisah nyata. Mantap. Dan perlu diketahui, ternyata meskipun seseorang tersebut berasal dari kalangan atas dan berpendidikan tinggi, tetap saja itu nggak menjamin kelancaran dalam hidup mereka. Banyak juga kok orang-orang kaya dan pintar tersebut yang bermasalah dan tidak harmonis dalam rumah tangga mereka. Dan akhirnya yang utama adalah akhlak dan pendidikan budi pekerti yang kita miliki.
Lower your expectation when you are about to read this book. Gw baca buku ini terus nyesel, sebenernya premis ceritanya bagus-bagus tapi eksekusi dalam kalimatnya lebih condong ke arah curhat kayak di diary anak SMP.
setuju dengan beberapa pendapat: tidak jelek, tapi juga tidak ada yang istimewa. ditambah lagi, saya bukan penyuka kumpulan cerita. saya pun tak menyukai fiksi based on blablablabla...
meskipun terkesan jadul (setuju juga dengan salah satu pendapat), gaya menulisnya lumayan ngalir. coba saja dibikin novelet atau sekalian novel mengambil salah satu ceritanya, mungkin lebih dapet. mungkin ya.
Kumpulan cerita bertema menarik yang diceritakan dengan tidak menarik. Mungkin bila sang nenek dengan dua orang cucu ini digantikan oleh penulis yang lebih muda, cerita di buku ini bisa lebih menarik dengan bahasa yang lebih enak dibaca. Pilihan kata yang cenderung kaku dan kurang menarik ditambah istilah gaul yang sudah out to date belasan tahun yang lalu mendominasi buku ini. Bahkan, aku sampai berulang kali mengelus dada ketika ada narasi yang diimbuhi dengan komentar subyektif penulis. Sangat tidak nyaman dibaca. Dengan penulisam yang demikian, wajar kiranya bila cerita dalam buku ini terkesan monoton dan kurang variatif
Yang menggelitik dari buku ini adalah betapa saya begitu mudahnya tertarik mendengar cerita-cerita di balik roman orang-orang metropolitan ini. Kadang kisahnya yang menarik, kadang gaya penulisannya yang gamblang mbikin cerita tersebut jadi spesial, kadang sepertinya saya saja yang segitunya sama gosip sehingga ikut-ikut tertarik seperti ibu-ibu di pagi hari.
Tapi, kilasan mengenai kisah-kisah cinta di buku ini membuat saya semakin sadar bahwa kita melihat sejauh terlihat. Di balik pintu, selalu ada rahasia jauh tersimpan.
nggak ada hal jelek yang bisa saya katakan, tapi gak ada juga yang terlalu istimewa. kesan awal dari cara penulisannya kok terasa jadul banget ya meskipun settingnya pada zaman sekarang. ternyataaaa memang penulisnya sudah cukup berumur, hehe... bukan hal yang buruk sih. ceritanya ngalor ngidul dan kadang nggantung begitu saja. lumayanlah untuk ide2 yg mungkin bisa dikembangkan jadi kisah lebih panjang, tapi jangan berharap kisah yang tuntas dan memuaskan. kadang malah agak aneh dan bikin kesal.
review dibuat malam hari saat pembaca sudah mengantuk berat. sekian.
agak jauh dari ekspektasi sih yaa. ngirain tadi ini novel tentang 5 orang metropolitan dan romannya masing-masing terus nanti dipertemukan,dsb. Karena ngeliat dari sinopsisnya. ternyata bukunya isinya cerpen dengan 1 tema. yaitu roman org metropolitan. setelah baca cerpennya lumayan yaa ,bikin mikir juga. memang beginilah roman org metropolitan . lumayan menarik hanya tidak sesuai dengan ekspektasi saya.
covernya menarik, kalimat-kalimat di belakang bukunya juga menggoda. menggoda banget. seolah ada rahasia besar yang menarik. tahukan semacam gosip underground yang kamu harap bisa terkuak dari skandal-skandal orang metropolitan. tapi... kenyataannya: nothing. ini hanya seperti kolom di pojok koran yang sayangnya, hanya seperti deskripsi-deksripsi cerita asmara kebanyakan.
buku ini adalah salah satu bukti: bukan hanya ide yang harus menarik, namun eksekusi juga harus (lebih) menarik.
Menariknya ada tulisan based on true story di cover. Jadi penasaran seperti apa sih cerita2 roman (yang katanya) asli dari orang2 metropolitan itu. Kalau baca buku ini bakal menemukan banyak versi love story mulai dari affair, secret admirer, perselingkuhan, sampe kisah-kisah yang "duh kok bisa gitu ya". Sebenarnya idenya menarik, cuma penulisannya yang terlalu simpel. Mungkin kalau ceritanya bisa digali lebih dalam lagi bakal oke.
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang menceritakan tentang kehidupan roman kaum "jetset". Perselingkuhan, pernikahan nggak bahagia, perceraian, semua ada. Hmm... kenapa aku nggak suka buku ini, aku juga nggak tahu kenapa; mungkin gaya bahasa, cara bercerita, atau ceritanya itu sendiri, I don't know.
Tapi, buku ini cukup bagus untuk mengisi waktu senggang. So two stars it is.
Actually this is nice book. There is many stories that can make me know how is love story in metropolitan life. But because there are so many stories that make this book is less on details, characters. But for those readers that really want to know the metropolitan love story this book is recommended.
Baru pertama kali baca buku Threes Emir. Formatnya yg ini mirip kumcer tapi... beda. Gaya ceritanya bukan kayak cerpen juga. Lebih mirip kayak teman lagi cerita tentang nasib teman yg lain atau org asing bahkan. (Mungkin juga krn mirip sama gaya menulia suami saya sih...)
Anehnya, saya suka juga. Malah jadi pingin nyoba buku TE yang lain :)
membaca novel ini seperti mendengar obrolan gosip ibu2 di depan komplek rumah setiap mereka berkumpul. suka sih dengan novel ini, cuma dengan baca 280 halaman saja kita sudah mendapat banyak life lesson.
menguak roman kehidupan orang metro. kebanyakan sih soal perselingkuhan dan hubungan roman yang "aneh" dan bikin saya mengernyit dan kadang geleng-geleng kepala juga saking herannya. bikin saya bergumam dalam hati, "semoga saya nanti ga gitu,"
Dapat di obralan, isinya kumpulan cerpen. Entah apa karena aku kurang metropolis atau apa.., rasanya gak nyambung sama ceritanya~ Ya gak menghibur, ya gak menyentuh... Disebut 'camilan' pun rasanya kurang bergizi ""( > ,<)
sangat menarik, menceritakan hidup kaum Jetset yang juga punya sisi manusiawi meskipun kelasnya berbeda dg kebanyakan. banyak juga merk-merk yang namanya saja sudah Bikin pusing tapi worth lah buat skedar tahu