Suatu kebetulan membawa saya berkenalan dengan Alvi di Twitter. Hum, kalau enggak salah waktu itu ada satu teman saya yang memberi ucapan selamat kepada Alvi dan dengan sifat "kepo" saya yang tak tertahankan, saya berkenalan dengan Alvi. Waktu tahu kalau ia sudah berhasil menerbitkan bukunya, saya pun memutuskan buat beli.
Yang pertama, soal cover. Saya bukan anak desain, Kakak, jadi maaf kalau komen saya agak sotoy. Cover-nya bagus, sih, menurut saya. Sederhana dan enggak begitu rame, meski saya agak enggak ngerti sebenarnya apa maksud bunga matahari dan rumah burung (pagupon dalam bahasa Jawa-nya) di depan covernya ._. Terus, warnanya juga enggak begitu mencolok, kurang eye-catching, dan kayaknya bakalan kalah kalau disandingkan sama buku lain di display toko buku ._. Yeah, yeah, jangan nilai buku dari sampulnya, jadi saya beralih ke blurb-nya. (Cover: 3.5/5)
Ini masalah selera, sih, cuman saya agak enggak begitu menyenangi blurb buku yang bahasanya agak kriptis. Tujuan saya membaca buku itu buat mengerti isinya dan blurb yang entah isinya puisi atau sajak atau apalah itu kurang menggugah selera saya. (Blurb: 2.5/5)
Pembuka adalah bagian penting dari satu novel. Saya agak kecewa karena novel ini diawali dengan sebuah prolog yang kurang begitu menarik. Apalagi prolog-nya ternyata cuplikan dari salah satu adegan yang akan terjadi di dalam novel Dilema ini. (Pembuka: 2/5)
Satu hal yang menjadi keunggulan novel ini adalah ada cuplikan lagu yang bener-bener mewakili isi dari bab novel ini. Apalagi dicuplik dari penggalan lirik milik penyanyi favorit saya, Taylor Swift. Ada juga Demi Lovato, Carly Rae Jepsen, Vanessa Carlton, dan Rihanna. Saya tahu sekali bagaimana susahnya mencari lagu yang tepat mewakili satu keadaan meskipun saya seorang anggota divisi musik di radio di kampus saya (agak enggak penting, sih), tapi cuplikan lagu itu yang berhasil membuat saya penasaran kira-kira apa yang bakalan terjadi. (Nilai plus: 4/5)
Dari soal penceritaan, yah. Hum... Ini bakalan sangat panjang. Bab pertama diawali dengan adegan kayak bersudut pandang orang kedua. Awalnya saya enggak masalah, cuman setelah menemukan pembuka bab yang serupa, kok rasanya semakin menyebalkan dan gimana-gitu-lho. Rasanya kayak diajak ngobrol sama orang asing yang sok tahu sama kita. Maaf, Alvi, tapi saya enggak suka pembuka adegan yang ini.
Selanjutnya, saya mengeluhkan betapa lambatnya alur di bab-bab pertama. Saya butuh perjuangan tersendiri buat meneruskan membaca cerita ini. Saya enggak ngerti apa yang bisa bikin cerita ini bener-bener lambat di bab-bab awal. Narasinya, mungkin? Narasinya itu terasa patah-patah dan kurang begitu mengalir. Terus--duh, saya sukar mendeskripsikannya--ada kalimat-kalimat semacam ini: Namun, ini bukanlah kisah opera sabun dengan tokoh yang berani... (halaman 15) atau Namun, ini bukanlah sinetron, dengan adegan... (halaman 21). Rasanya aneh saja, sih. Narator di sini perannya jadi apa? Ia kesannya jadi orang sok tahu dan berisik begitu.
Cerita baru mulai terasa asyik dan seru ketika mulai ke pertengahan hingga akhir. Mungkin sejak pertengkaran Adri, Estrella, dan Kira. Di situ alurnya udah mulai agak cepat, tapi tak terlalu cepat sehingga masik asyik buat diikuti. Konflik yang disuguhkan--meski sudah sering digunakan, tapi, yah, saya maklum, sih, karena susah menciptakan sesuatu yang original--juga dapat dieksekusi dengan lumayan baik. Pertengkaran Adri-Kira dan Estrella-Kira lumayan terasa. Saya bisa mendengar teriakan Kira tepat di samping saya saat membaca buku ini. Sayangnya, penyelesaian konflik Kira dengan Adri dan Estrella terlalu terburu-buru atau terlalu ujug-ujug. Yah, saya tahu linimasa sudah bergulir selama sebulan, tapi bakalan lebih bagus kalau ada satu adegan/kejadian titik-balik yang bisa membuat Kira dan Estrella berbaikan kembali. (Narasi, teknik, alur: 3/5)
Tokoh-tokohnya, hum, cukup bagus. Semua tokohnya mendapat peran dalam cerita dan enggak ada karakter buangannya. Karakterisasinya, sih, juga sudah cukup bagus, meski perubahan sifat si Adri agak terlalu cepat. Estrella juga diciptakan menjadi karakter Mary Sue :). Kalau Kira karakternya cukup kuat. Secara umum, karakternya lumayan bagus. (Karakterisasi: 3.5/5)
Yang terakhir, tentu saja ending. Saya yakin sekali buku ini bisa ditutup pada halaman 313 sewaktu Estrella berangkat ke Australia. Terkadang, penulis memang harus tahu kapan ia harus menyetop satu cerita. Nah, begitu tahu ceritanya ini dilanjutin, bahu saya langsung melorot. Yah, saya pasti bisa memaklumi kalau banyak orang menghendaki akhir yang bahagia. Cuman, dalam kasus ini, begitu cerita yang saya pikir akan berakhir halaman 313 ini dilanjutkan dan berakhir dengan ending yang bahagia, rasanya jadi kurang greget. (Ending: 2.5/5)
Secara keseluruhan, novel ini bagus, sih. Apalagi ini debut novel Alvi. Setelah melihat potensi yang sebenarnya Alvi miliki, saya yakin kalau ia bisa menghasilkan karya yang lebih bagus di novelnya selanjutnya. Selamat, Alvi! Tunggu giliran saya *plak*