Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ladang Perminus

Rate this book

328 pages, Paperback

First published January 1, 1990

8 people are currently reading
76 people want to read

About the author

Ramadhan K.H.

31 books20 followers
Ramadhan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadan Karta Hadimadja (lahir di Bandoeng, 16 Maret 1927 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006 pada umur 79 tahun) adalah seorang penulis biografi Indonesia.

Ramadan pernah bekerja selama 13 tahun sebagai wartawan Antara. Lalu, dia minta berhenti karena tak tahan melihat merajalelanya korupsi waktu itu. Dia tercatat sebagai mahasiswa ITB dan Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, kedua-duanya tidak tamat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru.

Semasa hidupnya Ramadan terkenal sebagai penulis yang kreatif dan produktif. Ia banyak menulis puisi, cerpen, novel, biografi, dan menerjemahkan serta menyunting.

Kumpulan puisinya yang diterbitkan dengan judul "Priangan Si Djelita" (1956), ditulis saat Ramadan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa pada 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya, Jawa Barat, sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.

Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. "Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti," papar Sapardi.

Ramadan pernah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain "Hadiah Sastra ASEAN" (Southeast Asia Write Award) pada 1993. Pada tahun 2001 ia diangkat menjadi anggota kehormatan Perhimpunan Sejarahwan Indonesia. Selain itu Ramadan juga merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ramadhan....

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (27%)
4 stars
14 (25%)
3 stars
18 (32%)
2 stars
6 (10%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Awanama.
85 reviews6 followers
March 6, 2017
Ladang Perminus berisi intrik di kalangan petinggi di Perusahaan Minyak Nusantara pada tahun ‘70an, saat berita tentang minyak ramai di surat kabar.

Gaya hidup petinggi perusahaan itu dimunculkan berulang-ulang. Kerjanya sehari-hari adalah menerima tamu yang kebanyakan adalah kontraktor asing maupun lokal. Tamu itu datang dalam rangka lobi untuk mengegolkan proyeknya. Kalau petinggi itu pergi ke luar negeri –dalam buku ini yang sering didatangi adalah Singapura, bos-bos kontraktor di sana menjamunya semaksimal mungkin, dari mengurusi transportasi, akomodasi, sampai gadis-gadis untuk menemani. Hadiah-hadiah diberikan sebagai oleh-oleh. Lobi-lobi juga dilakukan dalam keadaan yang tidak formal, seperti dalam jamuan di suatu pulau atau sambil main golf. Tapi, pada suatu adegan yang menentukan digambarkan juga lobi yang menegangkan: perundingan terjadwal antara tim Perminus dan sebuah kontraktor Belgia yang melibatkan tim-tim ahli.

Adalah lazim seorang petinggi memiliki obyekan dengan (mantan) rekan bisnisnya. Obyekan ini dijadikan celah untuk mengeruk keuntungan dari kantornya. Pada suatu kunjungan kerja seorang petinggi ditawari kontraktor-kontraktor untuk mendirikan perusahaan kapal, penerbangan, dan penginapan untuk menunjang proyek kerja sama antara mereka. Seringkali lewat relasi dengan kontraktor di luar negeri petinggi itu membuat perusahaan di luar negeri. Obyekan dan segala hadiah ini adalah upaya untuk menjaga hubungan baik demi kelancaran tender.

Dalam keadaan demikian saling sikut tidak terelakan. Kontraktor berlomba-lomba untuk menjadi yang paling pemurah di mata petinggi-petinggi. Orang yang dekat dengan petinggi dipepet supaya berpihak pada mereka. Kalangan petinggi sendiri tidak jarang mengorbankan bawahannya demi menyelamatkan kedudukannya, seperti terjadi pada saat tersiarnya berita yang mengindikasikan ada korupsi di Perminus. Orang-orang jadi saling curiga. Yang jabatannya tidak terlalu tinggi mendekati bagian pengamanan yang dikuasai oleh orang militer supaya aman. Orang yang punya relasi dengan orang medialah yang kena, tidak peduli apakah memang dia orangnya yang membocorkan informasi atau bukan. Kalau seorang petinggi tidak menyetujui kemungkinan kenaikan derajat bawahannya, dia bisa saja menjatuhkannya lewat relasinya dengan pejabat-pejabat di lembaga lain. Tidak jarang bawahan mesti memberikan hadiah yang didapatnya dari kontraktor pada petinggi. Para pegawai diam atas dasar tahu sama tahu.

Tapi, dalam buku ini keadaan korup itu tidak dikesankan seburuk itu. Semua itu ditampakkan seperti sesuatu yang biasa saja karena dilihat dari mata salah seorang petingginya, Hidayat Martakusumah. Sebagai orang yang pernah menjabat sebagai kepala Badan Koordinasi Kontraktor Asing dan asisten Wakil Direktur sebelum memutuskan pensiun, dia sudah biasa melihat semua penyelewengan itu. Meskipun begitu, sebagai veteran yang punya visi kebangsaan warisan Angkatan ’45, dalam kebungkaman itu diam-diam memanfaatkan jabatannya untuk membantu orang yang tidak lebih beruntung darinya. Tiap kali diisyarati kontraktor yang ingin memberinya upeti dia malah menyuruh mereka untuk mempekerjakan tenaga Indonesia dan mengurangi jumlah tenaga asing di perusahaannya. Banyak orang susah yang dibantunya mendapatkan pekerjaan lewat jabatannya. Dia mengajak teman-temannya semasa sekolah di zaman Jepang –orang-orang yang lebih disenanginya ketimbang orang-orang yang sehari-hari ditemuinya di kantor—untuk membantunya membangun ekonomi warga di Kadudampit, di kaki Gunung Gede.

Ketinggian budi ini ditekankan lagi lewat keisengannya dengan seorang pramugari muda. Perempuan itu sangat kesengsem padanya, sedangkan dia yang sama sekali tidak punya pikiran seksual terhadap perempuan itu memperlakukannya seperti anaknya. Pada perempuan itu dia mengakui status perkawinannya. Pada istrinya, yang tidak kalah tinggi budinya, dia santai saja bercerita tentang pramugari itu. Hubungan ini dikontraskan dengan perselingkuhan temannya yang merupakan wujud penyalahgunaan kekuasaannya, padahal Hidayatlah yang memberikan jabatan itu padanya. Hidayat ditampilkan sebagai manusia teladan keterlaluan di tengah lingkungan yang korup. Makanya, wajar kalau kemudian dia dicalonkan teman-temannya untuk jadi gubernur Jawa Barat.

Tapi, agaknya kontrol diri yang tampak dipermukaan itu adalah hasil pembendungan gila-gilaan kedongkolannya. Dalam obrolannya tentang nasib orang susah tersirat amarahnya pada para koruptor. Dia juga sebenarnya gampang panasan terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak becus menjalankan tugasnya sebagai pejabat tinggi, seperti yang ditunjukkannya saat akhirnya menyetujui pencalonannya karena yang dikabarkan akan menjadi calon gubernur juga adalah orang yang dianggapnya sangat korup. Malahan sekalinya bendungannya jebol kesehatannya langsung terpuruk, seperti saat dia menyadari perselingkuhan temannya atau saat dia dikabari bahwa atasannya yang korup dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia kena serangan jantung sampai harus diopname.

Sekalipun seorang yang berbudi tinggi dan punya daya dijadikan tokoh utama untuk menghadapi lingkungan korup itu, kesan yang ditunjukkan buku ini adalah kekalahannya. Memang, lambang korupsi dalam buku ini pada akhirnya kalah. Tapi, kekalahan itu dibikin mudah saja. Dimatikan begitu saja dan korupsinya terbongkar. Sudah. Selain itu, pada akhirnya Hidayat mengiyakan juga bahwa zaman ini bukan untuk orang-orang seperti dirinya.

Ladang Perminus adalah suatu gambaran pesimistis tentang perlawanan terhadap korupsi sekalipun dari sudut pandang sosok yang punya daya.

Ulasan ini bisa dibaca juga di http://al-ulas.blogspot.co.id/2017/03...
20 reviews
September 20, 2020

Hidayat, seorang karyawan perusahaan minyak milik negara, bekas pejuang kemerdekaan berhadapan dengan ekosistem kerja yang bertentangan dengan cita-cita ideal yang tertanam di dalam jiwa dan kepribadiannya.

Manipulasi angka dan data, sogok menyogok, penyalah gunaan wewenang dan tindakan-tindakan koruptif lainnya dilakukan dengan nyaris terang-terangan dan tanpa malu-malu pada segala strata di institusi tempat dia bekerja. Dan itu sudah dianggap lumrah belaka.

Pada awalnya Hidayat, sama seperti kolega-koleganya yang lain, terpaksa untuk menerima saja keadaan seperti tersebut apa adanya demi keberlangsungan hidup dan bahkan ikut menikmati 'rizki' dalam bentuk gratifikasi yang sering diterima dari kontraktor dan rekanan yang berterima kasih atas advis dan bantuannya.

Namun pada suatu momen Hidayat tak dapat lagi menoleransi kegilaan budaya rasuah di kantornya yaitu ketika atasannya, Kahar, dengan senaknya 'me mark-up' kembali nilai proyek jutaan dolar yang semula telah berhasil ia --- dengan susah payah dan mengerahkan seluruh pengalaman dan ilmunya --- negosiasikan turun cukup signifikan dari proposal awal yang diajukan oleh kontraktor konsorsium tiga negara asal Eropa. Hidayat merasa profesionalitasnya bersama staf ahlinya tidak dihargai dan alih-alih orang lain dengan kekuasaan yang besar mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi secara sangat tidak wajar dengan motivasi kerakusan yang di luar nalar.

Tindakaan Hidayat yang secara frontal mengungkit hal tersebut langsung kepada Kahar tak pelak membuat yang terakhir berang dan ini jelas membahayakan karir Hidayat.

**********

Tema korupsi selalu kontekstual dan relevan.

Novel ini terinspirasi dari karut-marut manajemen Pertamina dan anak-anak perusahaanya di era1970an yang membuat perusahaan minyak milik negara tersebut nyaris bangkrut dan berbuntut dilengserkannya Ibnu Sutowo dari posisi Direktur Utama yang telah didudukinya bertahun-tahun.

Karakter Kahar sangat jelas adalah representasi dari tokoh nyata bernama Haji Achmad Tahir dengan kasus korupsi Pertamina yang sempat menggemparkan. Setelah yang bersangkutan meninggal dunia Pemerintah Indonesia mengejar aset-asetnya. Salah satu yang menghebohkan dan menjadi berita utama di tahun 1990an adalah sengketa deposito di Bank Sumitomo Singapura di antara Pemerintah RI dan Kartika (isteri kedua Tahir).
Profile Image for Reiza.
193 reviews7 followers
September 4, 2024
Duh dengan premis yang ditawarkan, sejujurnya berharap banget ini sangat dar der dor. Nyatanya…ku membaca ini seperti buku yang minim konflik. Satu bab si tokoh utama, Hidayat, mengeluh soal dirinya kena lay-off, bab berikutnya tiba-tiba terjadi kompromi dan ya konflik sebelumnya beres aja gitu…kupikir rangkaian ceritanya bakal terfokus ke dalam satu jalinan konflik besar (we can argue with this, mungkin bakal ada yang bilang “ya konfliknya kan korupsi di institusi Perminus?”) Tapi yang ku rasa, konfliknya gak menggigit dan terkesan tertutupi oleh tokoh Hidayat yang berusaha digambarkan penulis sebagai tokoh yang idealis dan serba bisa.

Yah begitulah. Saya cukup kecewa. Ini buku terasa Orba vibes banget haha.

Mungkin ada referensi bacaan political thriller yang menarik?
Profile Image for Hippo dari Hongkong.
357 reviews198 followers
Want to read
August 4, 2009
yak! didapat dengan harga 15 rebu saja di lapak buku bekas. gak sempet nawar karena terpana dengan argumen penjualnya yang ternyata melek dengan buku sastra.

"ini kan buku sastra." gitu yang jualnya bilang *apa hubungannya?*
masalahna gw nemu buku ini di tumpukan buku2 NC. begitu nyabut bukunya langsung ngacungin ke penjualnya yang langsung dengan sigap menyebutkan harganya 15 rebu.
"15 rebu?"
"inu kan buku sastra." *pede abis*
"jadi kalo buku sastra 15 rebu? gitu yah?"
"iyah." *teteup pede*
*ngelirik tumpukan buku2 NC tempat buku ini "berasal". jangan2 buku NC itu juga di golongkan sastra ama dia, hehehehe... karena ngerasa kalah menyan, ahirnya langsung dibayar aja bukunya tanpa sempet nawar sampai titik darah penghabisan sambil garuk2 jidat.


yak! kata tinkerbell tanggal 6 ampe 8 agustus bakal ada pementasan buku ini di bandung. walaaah, kudu baca dulu atuh biar afdol nontonnya. tapi gimana neh, utang bacaannya masih banyak? gimana yah?

yak! dan kudanil pun jadi bingung sendiri
Profile Image for Palsay  .
259 reviews38 followers
June 5, 2008
bagi yang mau tau kebusukannya salah satu perusahaan negara terkemuka di Indonesia di tahun-tahun 70an (sampe sekarang kayanya masih relevan sih), silakan baca buku ini.
kalo menurut saya ini juga fiksi sejarah...yang dibelokin adalah nama-nama tokohnya.

Kalo kata ayahku yang juga sempat bekerja di dalam perusahaan negara yang terkemuka ini, kejadian dalam novel ini ada yg bener-bener nyata. Cuma sekali lagi, tidak ada kesamaan (nama) tokoh..hehehe...

Gaya Ramadhan KH menulis di novel ini seingat saya sungguh mengasyikkan, apalagi waktu baca buku ini saya masih SMP kalo ga salah...(ga tau ya kalo bacanya sekarang...)

Profile Image for Nurliah.
26 reviews2 followers
Read
March 12, 2012
Bersama buku gm n trilogi romo mangun sy memperoleh buku ini di toko buku yg nyaris bangkrut. Alhasil dgn harga 8000 buku ramadhan kh ini jd koleksiku. Inilah untungx menyukai sastra ketika seangkatan belum suka hehehe

beruntung saya membaca buku ini, soalnya sangat relevan dgn kondisi saat ini dimana pemerintah ingin menaikkan harga BBM dan mengkonversi BBM ke BBG. Penolakan thdp kebijakan itu, saya pikir akibat tak transparannya pemerintah terkait BBM. ketidakpercayaan pd penguasa dan dosa turunan dr rezim lama jd formulasi penolakan rakyat. so, buku ini kontekstual deh
Profile Image for Risda Nur Widia.
10 reviews6 followers
August 12, 2015
Novel yang sangat mencerdaskan. Begitu relefan sebagai bahan refeleksi diri masyarakat Indoensia. Kritis berbicara tentang praktik korupsi dan prilaku lalim yang banyak dilakukan oleh para petinggi negara. Novel ini tetap menjadi bacaan yang segar; terus hidup sesuai zaman seorang pembaca memuali kalimat pertama dalam novel (kontekstual).
Profile Image for Irfa.
11 reviews6 followers
March 2, 2022
I remember reading this for a school reading task back in high school. I've explored every page and analyzed every sentence and I can proudly say that this book provides a real-life moral story, of how one fell into temptation in just a short time.
Profile Image for lita.
440 reviews68 followers
Want to read
February 14, 2010
pinjam dari Aldo
Profile Image for Wahyu Awaludin.
365 reviews10 followers
May 18, 2014
tidak terlalu bagus. ramadhan kh lebih cocok menulis biografi
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.