Completely ada di Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas ini. Seperti sangat adil membagi satu kisah agama yang berbeda dalam cerpen-cerpennya. Ide-idenya matang dan pastinya unik.
"Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?" ujar si nenek dalam 'Salawat Dedaunan.' Karya Yanusa Nugrono ini mendadak bikin gw merasa penuh dosa gitu. :( Pesan moral yang dibawa nenek bersifat religius bahwa jangan meninggalkan rumah ibadah. Awalnya si nenek datang untuk memungut seluruh sampah yang hanya harus dilakukan oleh dirinya sendiri, sebagai penebus dosa-dosanya. Anehnya, kenapa penulis hanya memfokuskan hal itu untuk menebus dosa-dosa si nenek tanpa melakukan apa yang seharusnya dilakukan di mesjid, yaitu salat.
Berlatar kerusuhan Mei 1998. Bahwa konon, kunang-kunang adalah jelmaan dari roh perempuan-perempuan yang diperkosa. "Kunang-kunang di Langit Jakarta" tak akan pernah dilupakan Jane. Peter, seorang zoologist yang tertarik dengan dunia hewan, plus Jane yang terpesona dengan kunang-kunang sejak masa kanak-kanaknya memiliki sebuah kenangan di langit Jakarta yang dipenuhi kunang-kunang. Kepergian Peter dan kunang-kunang menjadikan Jakarta sebagai tempat kembali Jane. Pangeran Kunang-kunang itu pastaslah dinobatkan pada Agus Noor seorang.
Tentang ketidaksetiaan yang bersanding erat dengan kesetiaan. Ironi. "Ibu Pulang" setelah beberapa waktu yang cukup lama pergi karena merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Anaknya adalah replika kesalahannya. Nenek, malam Natal, dan sebuah album foto meluruskan segalanya. Karya Dewi Ria Utari ini bikin sedih sekaligus speechless.
Ilmiah. Cerpen ini mengingatkan saya akan cerpen Kucing Kiyoko. Tentang seorang perempuan bisa begitu dingin dengan tindakannya membunuh dengan keji seekor kucing yang telah merusak daun-daunnya. "Kak Ros" adalah cerpen yang ditulis oleh Gus Tf Sakai, ingin sekali bertemu dengan beliau.
"Perempuan Tua dalam Kepala" menurutku adalah 'gerakan hati yang lain' yang dimanifestasikan dalam sebentuk sosok perempuan jahat. Dia dan hati (dalam pengertian perasaan) hidup seperti sisian dua ujung jembatan yang tak kan pernah bersatu. Dilatari oleh cinta sejenis dan broken home. Begitulah khas Avianti.
Sebuah momen yang selalu menjadi tradisi dan ditunggu-tunggu. Ibu dan kenangan-kenangannya tersusun rapi dalam lemari. Lemari yang selalu menyimpan sejarah hidupnya: manis dan pahit. Sampai kematian Bapak mengubah segalanya dan potongan-potongan itu sekarang menjadi "Kain Perca Ibu." Karya Andrei Aksana pertama yang kubaca dan suka.
Kehidupan mama berbanding lurus dengan pohon cincau. Senyawa. Seiya sekata. Pohon cincau yang semakin keropos karena dimakan usia dan sering diambil oleh anak-anak kampung, pun Mama yang perlahan tapi pasti dihunus kesepian dan kenangan pahit: tidak lagi didatangi oleh anak-anaknya yang seolah lupa karena kesibukan masing-masing. Ketika usaha pamungkas Mama dalam menyelamatkan daun-daun terakhir dari pohon cincau, Mama terjatuh dan hidupnya pun berakhir. Doni Jaya, hujan (yang banyak mengambil perannya dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas ini), dan Juni (bulan penerbitan sekaligus bulan saya membacanya) mengingatkan saya akan SDD.
"Laron" pun jika ia tahu umurnya bakal tak lama akan lebih memilih tetap menjadi rayap. Begitu juga seorang manusia, tak akan mau diciptakan tidak sempurna, cacat. Tapi si ayah tak sabar, meneriaki nasibnya sendiri yang memiliki seorang anak yang lemah dan pencinta hewan bersayap itu, sayap yang dikiranya sayap peri.
"Malam di Kota Merah" sangat absurd dan kelam. Seperti sebuah sindiran di mana terdapat repetisi dalam pengungkapan ingin bertemu Tuhan sebelum kematian.
"Mar Beranak di Limas Isa" untuk belasan kalinya. Kodrat yang seperti tak boleh ditinggalkan oleh orang-orang Tanah Abang: memiliki anak bujang. Anak bujang yang akan menegakkan dan meneruskan limas keluarga. Setelah empat belas kali mengandung dan melahirkan anak perempuan, akhirnya Bi Mar diberi sebuah 'syarat' oleh Kajut Muya.
"Tradisi Telur Merah" dalam perayaan Bibi yang baru saja dikarunia seorang anak. Seperti mengulang kisah yang sama pada masa silam. Sebuah kelahiran yang dipaksakan jalan takdirnya. Ketika nyawa harus dibayar dengan nyawa. Sedih.
"Orang-orang Larenjang" yang telah termaktub sedemikian rupa bahwa tidak boleh melanggar pantang dan larang, yaitu kawin sesuku. Tentang Julfahri, selain melanggar ketentuan adat, dia juga telah melecehkan Pangulunya, orang yang dituakan di kampung, orang yang telah mengangkat derajat Julfahri. Lalu rentetan demi rentetan terjadi mengubah hidupnya. Beberapa kali membaca karya Damhuri Muhammad dan kekentalan akan budaya di karyanya membuat saya naksir.
"Nenek" yang selalu dikisahkan baik, suka mendongeng, atau sering memberi uang jajan tidak ditemukan dalam cerita ini. Semua adalah sebaliknya; suka merokok, berkata kasar, dan mungkin juga semua terjadi karena jalan hidup nenek yang ditinggalkan orang terkasihnya. Manusia memang tidak bisa di-generalisasi. :)
Suka. Dua kali membacanya. Merinding membaca akhir ceritanya. Tentang sekolah pemerintah vs sekolah kehidupan. Ya, sekolah kehidupan di laut karena mereka orang laut. Sekolah pemerintah yang tidak bisa menjawab bagaimana menjelaskan arah angin, membaca rasi bintang, membelah ombak, atau pun mengarah tombak, hingga bagaimana cara membuat "Ikan Kaleng." Ikan yang diambil dari laut mereka, tapi dibuat oleh orang lain (di sini disebut Banyuwangi) lalu dijual mahal sekali. Ada bahasa daerah, setting cerita begitu kental Indonesia-nya. Bintang lima untuk cerpen ini.
Selalu ada kemewahan di setiap cerpen SGA. Dan juga senja (ada apa dengan senja dan SGA, ya?) Kali ini "Pring Re-Ke-Teg Gunung Gamping Ambrol" telah benar-benar diambrolkan oleh sederet prasangka terhadap kampung candala yang mereka-orang-orang baik itu- tuduhkan sebagai kampung perampok, pencuri, pelacur, dan pembunuh. Kampung candala, kampung yang berubah status sosialnya sejak pembangunan jalan aspal dan bukit kapur seperti dicemburui oleh kampung yang didiami oleh orang-orang baik. Kampung candala dengan penduduk tidak sampai seratus orang akhirnya diserang karena Mirah yang telah diperkosa. Dia dalam diamnya telah mengatakan bahwa pelaku adalah anak Pak Lurah sendiri, orang yang begitu keras memerintahkan melakukan penyerbuan.
"Biografi Kunang-kunang" ternyata adalah perubahan wujud dari seorang ibu yang telah pergi baik meninggal ataupun minggat, khusus bagi mereka yang berasal dari kampung di tepi Sungai Logawa. Tapi kemudian seekor kunang-kunang ditemukannya lalu mengiringnya hingga ke mimpi dan masa lalunya terkuak. Nalea. Dia bertemu dengan ibunya walau hanya dalam mimpi.
Kata Kakek Wiro, dalam kegelapan mata terpejam kita bisa lebih banyak melihat. Panggilannya "Wiro Seledri" karena dia hidup dari menjual seledri yang ditanam di dekat gubugnya. Si kakek sering menghadiri takziah terkait dengan angan-angannya yang telah memuncak. Eks tapol ini merindukan sebuah ketenangan abadi, beberapa kali bertemu dengan Malaikat Izroil sebelum suatu pagi permintaannya benar-benar dikabulkan.
Membaca "Pakiah dari Pariangan" saya merasa tergelitik. Sebuah fenomena sosial yang 'cadiak buruak.' Cerdik yang buruk, tidak baik. Pakiah adalah remajanya pendekar yang 'dikurikulum' untuk turun ke masyarakat: meminta namun bukan mengemis, adalah untuk mendidik sifat rendah hati dan papa. Dulu, pakiah ini begitu terkenal hingga sebuah masa menjadikannya label sebuah seni pertunjukan. Belakangan, Inyiak Pakiah Babanso hadir lagi dalam bentuk dunia pesantren. Pakiah kembali marak terlebih karena telah memenangkan 'duel' dengan preman pasar. Masyarakat senang, mereka rela memberi apa saja kepada pakiah. Lalu para cadiak buruak itu datang. Nek Minah seperti saksi hidup yang tahu pakiah mana yang asli dan yang palsu. Satu-satunya penulis yang dua cerpennya masuk dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas. Salute!
"Batas Tidur" bernuansakan sebuah religi yang kental. Jika seseorang bisa meraih detik ketika ia tertidur, maka ia akan terjaga, rohnya bisa melihat raga sendiri. Niscaya ia pun bisa memilih kematiannya sendiri. Guru Tung dan pedukuhan Astungkara kian populer dan sebaliknya wisata rohaniawan lain seperti yoga pun ditinggalkan peminatnya. Mereka yang mengendus bahwa telah terjadi sebuah kematian napi yang akan dieksekusi membuat mereka menyerang pedukuhan itu.
"Burung Api Siti" menceritakan kisah kelam September 1965. Alam mempunyai cara sendiri untuk melindungi anak-anak untuk tidak melihat kebringasan manusia dewasa. Ayah Siti yang akan diserang karena tidak ingin bergabung dengan kelompok mereka (lagi-lagi, mengatasnamakan orang baik dan berlindung di balik agama). Kisah kebaikan hati alam, burung, dan semesta yang juga mengingatkan kita akan kisah Burung Ababil di zaman Nabi.
Namanya "Kimpul" seorang tukang pangkas yang di usia enam puluh lima-an masih menggantungkan hidup dari rupiah-rupiah yang begitu kecil, namun lihatlah kebesaran hatinya dan kejujurannya, begitu dalam. Dia tidak serta merta menerima uang yang diberi oleh seseorang yang juga dengan kebaikan hati berhutang setelah lima tahun. Memang tidak jelas apakah dengan begitu hutangnya lunas atau tidak, tapi mereka berdua memiliki sesuatu yang sudah jarang ditemui akhir-akhir ini.
"Tart di Bulan Hujan" menjadi lebih manis. Tersentuh sekali bagaimana seorang dhuafa berusaha keras selama dua tahun menabung dalam usahanya untuk membahagiakan anak-anak panti asuhan. Dua tahun, waktu yang sangat lama bagi kita hanya untuk membeli kue seharga empat ratus ribu kurang. Ber-setting cerita di malam Natal.