Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bicycle Diaries

Rate this book
Buku ini berisi catatan-catatan terpilih dari seseorang yang berusaha memahami dunia dari sudut pandangnya selama menjadi mahasiswa. Ia membicarakan ketidakadilan di Indonesia, kemunafikan pejuang-pejuang kampus yang mengatasnamakan rakyat, hingga kebebalan diri sendiri. Catatan yang terdapat dalam jurnal online lamanya yang sudah tidak diperbaharui lagi, kini dipilih dan ditulis ulang menjadi buku.

Vox audita perit, literra scripta manet. Suara yang terdengar akan hilang, kalimat yang tertulis akan tetap tinggal.

206 pages, Paperback

First published July 1, 2012

1 person is currently reading
19 people want to read

About the author

Nadia Aghnia Fadhillah

2 books43 followers
not a writer. just a reader who write.

do not judge me from the books i read.
judge me from the books i read and rated them by 4-5 stars.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (8%)
4 stars
3 (25%)
3 stars
6 (50%)
2 stars
2 (16%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews117 followers
August 15, 2012
Catatan Kecil untuk Nadia
Kata Pengantar

Pernah suatu kali seseorang bertanya pada saya, apa arti bahagia sebenarnya? Dalam beberapa kesempatan saya membahas persolan itu dengan sang penanya, berdiskusi cukup panjang dan lama, termasuk hal-hal lain di luar itu. Sampai suatu kali ada kata-katanya yang membuat saya terdiam tanpa kata karena begitu tepat mengena, membuat saya tertegun beberapa saat.. Dan beberapa saat lagi. #SpeechlessItuSederhana.

Dan orang itu adalah Nadia, perempuan muda penulis buku ini.

Dari tulisan-tulisannya, saya melihat Nadia adalah orang yang berani jujur apa adanya menuliskan perasaan hatinya. Sesungguhnya tak banyak orang yang berani dan mampu menuliskan kisah diri sendiri sampai ke ruang-ruang perasaan yang paling dalam dan pribadi, termasuk menyangkut kisah orang-orang terdekat seperti teman dan keluarganya sendiri.

Ya, saya mengenal Nadia beberapa bulan lalu dari goodreads, sebuah situs klub buku di dunia maya. Dari sanalah saya mulai mengenal bacaan dan tulisan-tulisannya. Sampai pada suatu waktu ia meminta saya untuk menuliskan kata pengantar di bukunya. Saya sempat agak kaget dan hampir tak percaya mendengarnya. Apalah artinya diri saya di mata seorang Nadia. Selama ini saya memang tidak pernah menulis kata pengantar untuk sebuah buku. Tapi saya merasa tidak bisa dan tidak sampai hati untuk menolak permintaannya. Saya merasa tersanjung dan terhormat atas permintaannya. Dan saya juga sangat menghargainya. Maka dengan ini pula, kata pengantar ini jadi yang pertama buat saya. Terima kasih atas kesempatannya, Nadia.

Yang saya tau kemudian, bacaan Nadia cukup beragam. Sudah ratusan buku yang dibacanya. Dari mulai buku anak-anak, komik, novel grafis, sampai buku ‘kipas’ , fiksi dan non fiksi. Tapi ia mengaku yang paling digemarinya adalah buku sejarah dan sosial politik. Memang bukan termasuk selera bacaan anak perempuan kebanyakan atau pada umumnya. Ia sendiri bilang tentang selera bacaan di profil goodreads nya: “bukan buku yang semua orang suka,” katanya.

Dalam catatannya tertanggal 5 April 2007 yang berjudul ‘Jangan Takut Mati’, Nadia mempertanyakan tentang apa arti hidupnya yang sudah berusia 18 tahun ketika itu. Dia bertanya kenapa dirinya pantas dilahirkan ke dunia. Semacam kegelisahan, sebentuk kegalauan yang boleh jadi dialami setiap orang seusianya dalam fase hidupnya yang menjelang semakin dewasa.

Buat apa Nad, selama 18 tahun ini kamu hidup? 18 tahun hidupmu itu habis untuk apa? Hanya untuk bermain-main saja kah atau bagaimana? Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan 18 tahun itu, Nad? Kenapa kamu pantas dilahirkan? Seharusnya kamu punya alasan untuk itu, karena kalau tidak, kamu tidak berguna dilahirkan di dunia.

Begitulah yang dia tulis.

Dalam satu kesempatan lain, Nadia juga sempat menyatakan ketidaksukaannya pada kota Jakarta, tempat dia dilahirkan. Seperti yang dibilangnya pada tulisan bertanggal 14 Mei 2008 berjudul “Tinggal di Jakarta? Tidak, terima kasih”

Tidak, terima kasih. Aku tidak terobsesi menaklukkan dunia. Aku hanya ingin dunia lebih nyaman dan lebih ramah pada kemanusiaan. Bukan dengan cara menaklukkan yang lain dan mengeraskan hati dari kepekaan.

Karena sesuatu yang peka memang buat kita jadi masalah, Nad.

Kemudian yang menarik tentang kegemarannya menulis, suatu kali dia pernah bilang:

Menulis buku itu sama saja omong kosong kalau tujuannya agar terkenal, atau agar sombong karena sudah menulis buku, sama saja dengan omong kosong kalau yang dicari hanyalah uang. Menulis kemudian mempublikasikannya secara massal, harus dengan sebuah idealisme. Bahwa tulisan itu membawa banyak perubahan bagi hidup orang lain. Harus ada kebaikan di dalamnya. Bukan hanya sekedar menjual kertas, tinta, dan lem, kemudian merasa bangga karenanya. (Temanku menulis buku, Aku?, 10 Juli 2009)

Dalam keseluruhan isi buku ini, yang ditulisnya sejak 2007 hingga 2010 semasa ia masih kuliah, kita bisa menemukan seorang Nadia yang berani menggugat, mempertanyakan dunia sekelilingnya, mengkritisi sekitarnya dan begitu mencintai tanah airnya, Indonesia. Di dalamnya juga kita bisa melihat sosok Nadia yang punya idealisme, punya keyakinan, punya rasa kemanusiaan, dia juga ikut aksi di jalanan, dia juga kerap menangis, sedih, senang, marah, kesal, gembira, Nadia yang juga menganalisa, bisa tertawa, lucu, lugu, polos, patah hati, jatuh hati, dan segala hal yang dialami dalam kehidupannya sehari-hari.

Semua itu ia tuliskan apa adanya, dengan segala kejujuran, keterusterangan, keluguan dan kepolosan yang ia miliki. Tak ada yang salah dengan itu. Karena melalui tulisan-tulisannya inilah Nadia berkembang menjalani fase kehidupannya untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih matang, dan dewasa, baik dari segi pikiran maupun tindakan. “Orang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”. Ingatlah kata-kata Pramoedya itu, Nadia.

***

Bukan, aku bukan sedang bercerita. Tapi di buku ini aku menulis tentang kehidupan yang aku alami, kebaikan yang aku temukan, keburukan yang aku evaluasi, dan hal-hal yang aku pikirkan di kepalaku selama aku hidup.

Aku berjuang dengan menulis. Aku memperbaiki kondisi masyarakat dengan menulis. Aku memperbaiki kondisi Bangsa Indonesia dengan menulis. Aku memperbaiki kondisi dunia dengan menulis. Aku pun memperjuangkan kebenaran dengan menulis.

Yang paling penting, aku menemukan diriku sendiri dengan menulis. Aku menjaga idealismeku dengan menulis. Aku menjadi manusia dengan menulis. Menulis sangat penting bagiku.
(Aku Ngapain?, 11 Juli 2009)

Begitulah, Nad, tugas manusia adalah menjadi manusia, kata Multatuli. Dan dengan menulis, suaramu akan jauh, akan mengalir sampai jauh, abadi selamanya. Karena seperti yang Kartini pernah bilang dan sering kamu ingat, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulislah terus, Nad, asah terus kemampuan, belajarlah sepanjang hayat, sampai ajal menjemput.

Dengan ini pula saya salut dan kagum dengan kemauan dan keberaniannya membuat buku ini sendiri, dari mulai proses menulis hingga ke tata letak dan desain sampulnya ia kerjakan sendiri, termasuk mencurahkan tenaga, biaya dan distribusi sendiri.

Semoga buku karya Nadia ini sedikit banyak memberikan manfaat bagi para pembacanya. Paling tidak membukakan kesadaran dan cakrawala bahwa di luar sana masih ada orang-orang, anak-anak muda mahasiswa yang masih peduli dan tak menyesal mencintai negerinya meski dengan hati yang kadang letih, penuh luka dan kecewa. Sebagian hanya bisa terdiam tanpa kata, galau dalam segumpal tanya, sebagian lagi menulis, berbuat, bergejolak, bergemuruh dalam kata dan tindakan. Sebab apa arti tanah air bagimu, Nad, di dunia yang kian tak berbatas ini, selain tempat di mana kita masih bisa merasa bertaut dan bergetar karenanya?

Sebagai penutup dari catatan kecil ini, saya kutipkan salah satu puisi Rendra yang saya suka dan rasanya cocok untuk bukumu ini, Nadia.

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata


Pandasurya
Jakarta, Juli 2012

Maaf sudah membuatmu menunggu lama..
Profile Image for Ivan.
79 reviews26 followers
August 16, 2012
Sebuah buku yang dibuat berdasarkan kumpulan tulisan di blog Nadia, mulai tahun 2007 sampai 2010. Buku ini menyajikan pergulatan pemikiran, sikap kritis, cita-cita, idealisme, makna hidup, penyerahan diri, emosi dan harapan dari seorang anak manusia. Di beberapa bagian nadia juga menyelipkan cerita lucunya. Ketika pada saat pemandu disuruh menghafalkan lagu Hymne UGM, pada saat itu Nadia tidak hafal lagu Hymne UGM.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku disuruh menghafal Hymne Gadjah Mada. Sebuah lagu yang biasa dinyanyikan saat Ospek. Dan memang benar, saat Ospek tahun ini, pemandu diperintahkan untuk menghafal untuk dinyanyikan saat upacara.

Buatku, yang auditorinya sangat buruk, tidak cepat hafal lagu, tidak kenal nada tapi warna, sangat sulit menghafal Hymne Gadjah Mada. Kalu boleh jujur, aku sebenarnya tidak hafal keseluruhan Indonesia Raya. Temanku meragukan aku orang Indonesia atau bukan. (15 Agustus 2008)

Lucu juga, jadi teringat masa dulu masuk kampus IPB, dimana saya juga mengalami kesulitan untuk menghafal Hymne IPB yang menurut saya kepanjangan untuk ukuran sebuah lagu Hymne. Untung ada teman saya yang bersedia menuliskannya dan saya menghafal dari tulisan teman saya itu.

Sobongkah idealismeku juga ditantang ketika membaca 'First Case' (19 Agustus 2008):

"Aku ingin marah, Nad! Mana keadilan?! Kenapa orang-orang pengawas itu bangga kalau mereka independen, namun berhadapan dengan masalah saja takut?! Sama, saya juga takut, tapi kenapa kita tidak bersatu saja?!"

Ada orang yang merasa diri mereka penting karena mereka membuat undang-undang dan menjadi pengawas sehingga merasa jabatannya berada di puncak. Mereka mondar mandir merasa penting karena independen, tapi ternyata tidak berani tegas atas suatu masalah.

Dibagian terakhir pada 'Melawan Arus Aku juga Bisa' (6 Juli 2009) Nadia menulis mengenai siapa salah satu sosok yang menginspirasinya sehingga dia begitu menggebu-gebu menyelesaikan buku ini.

Buku yang ditulis Mas Ridho ini berisi kumpulan-kumpulan tulisan yang ditulisnya sehari-hari sebagai catatan harian dan kemudian dipublikasikan

Karena sebenarnya, kalau aku mau, aku juga bisa membuat buku seperti itu. Tulisan-tulisanku, pandangan-pandanganku tentang hidup, atau perasaan-perasaanku juga bisa aku kirim ke penerbit

Untuk urusan percintaan, penulis mungkin berpikir dua kali untuk dibagi kepada khalayak. Padahal cerita cinta dan bagaimana seseorang tersebut menghadapinya pasti dialami oleh wanita remaja manapun. Dan itu bisa menarik perhatian orang untuk membacanya.

Tetapi secara umum aku acungi jempol untuk penulisan buku ini. Bagaimana Nadia begitu bersemangatnya untuk membagikan buku ini kepada orang-orang. Dimana dia mengorbankan uangnya untuk menerbitkan buku pertamanya ini. Dengan uangnya sendiri. Suatu bentuk totalitas dalam perjuangan.






Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 27, 2012
Sebenarnya aku nggak begitu suka baca buku blog. Aku lebih suka baca blog dalam bentuk blog. Lebih komunikatif. Lebih up-to-date. Lebih afdal.

Tetapi setelah menghabiskan sesorean membaca catatan harian Nad antara 2007-2010 ini, tidak ada rasa sesal ataupun sia-sia. Membaca diari Nad berarti menjadi lebih kenal Nad. Pada ide-ide-nya, pada keluguannya, pada kesinisannya, pada idealismenya. Dan lebih kenal Nad, berarti lebih mengagumi jiwa muda dan kedewasaannya.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.