What do you think?
Rate this book


264 pages, Mass Market Paperback
First published August 9, 2012
"Kakak, hati-hati..."
"Kau yang harus hati-hati menjelajah negeri-negeri yang jauh, Zara..."
Zara ingin sekali kembali ke waktu dimana percakapan itu terjadi. Ia menyesal tak pernah menegaskan kekhawatirannya dengan sungguh-sungguh.
"Kakak yang seharusnya lebih hati-hati di negeri sendiri..."
(Danau, oleh Lily Yulianti Farid)
"Kira-kira kenapa ya, Sayang?" ini pertanyaan suaminya. Masih sopan tapi kedengaran tidak sabar.
"Apa kata dokter?" Nah kalau ini, adalah interogasi ibu mertuanya yang mengendus-endus seperti anjing pelacak.
Hasil diagnosa: di ovariumnya tumbuh myoma. Ada tumor jinak yang berkembang di luar dinding rahimnya. Bukan hanya itu. Ada endometriosis juga yang diidapnya sejak lama.
"Tidak berbahaya," kata dokter yang menjelaskan dengan senyum. "Tidak akan sampai menyebabkan kanker."
"Tak berbahaya bagi tubuhku, berbahaya bagi perkawinanku...," Nayu berusaha melucu.
(Kecap, oleh Lily Yulianti Farid)
Tapi di suatu hari kemarahan Ayah meledak. Ketika itu usiaku barulah sekitar lima tahun. Penyebabnya sepele: sayur buatan Ibu terlalu asin! (Oh ya... orang-orang di kampung gemar mengulang bagian cerita ini dengan menggumamkan kata s-e-p-e-l-e sambil menggeleng-gelengkan kepala.)
Kata guru mengaji di surau, iblis terbahak-bahak bila melihat orang marah. Iblis menyulutkan api ke hati orang yang marah. Sebesar apa api yang disulutkan ke hati ayahku waktu itu?
(Api, oleh Lily Yulianti Farid)
Lalu ada suara batuk yang menghentak. Ranjang terguncang.
Gelombang kenangan terhenti.
Rasa sakit tergambar jelas di garis wajah, di sorot mata, dan di jemarinya yang gemetar. Perempuan yang membesarkanku ini telah menjelma pohon ringkih yang kepayahan dihantam musim yang keji. Meranggas tak berdaya. Diawali stroke, lalu paru-paru yang bonyok, hasil diagnosa yang mengerikan, dan sikap keras kepala menolak dirawat di rumah sakit, membuat seisi rumah berada di puncak keputusasaan.
(Jois Sang Malaikat, oleh Lily Yulianti Farid)
Aku membuka bungkusan kue lapis dari pasar. Kugigit perlahan. Legit. Gurih. Sedikit asin. Ia terdorong ke dalam mulut bersama air mata dan kenangan tentang lesung dan dekik pipi yang sempurna serta nasihat yang selalu diulang, "Membuat kue lapis menegaskan kesabaran. Nasib yang tak begitu baik, jangan dikeluhkan..."
(Kue Lapis, oleh Lily Yulianti Farid)