Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari

Rate this book
Tujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita-cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik. Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah. Hampir semua tokoh utama adalah perempuan dari beragam usia, ras, budaya, dan agama. Mereka bergelut dengan pencarian jati diri, ketimpangan gender, cinta segitiga, hingga masalah-masalah sosial-politis yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek. Dilatari ilustrasi yang indah dan detail cerita yang unik, Lily Yulianti Farid menampilkan suara-suara perempuan paling jernih dalam meneriakkan kegelisahan, kemarahan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap terjadi di mana pun mereka berada.

264 pages, Mass Market Paperback

First published August 9, 2012

20 people are currently reading
433 people want to read

About the author

Lily Yulianti Farid

8 books4 followers
Lily Yulianti Farid, also known as "Ly" in short, is an Indonesian writer and journalist.

Lily Yulianti Farid was born and raised in Makassar, Indonesia. At present, she lives in Melbourne, Australia. She joined Hasanuddin University, Makassar as an agricultural engineering student, where she began her literary career with the campus’ publication, "Identitas". After graduation, she worked as a reporter of the "Kompas" daily from 1996 until 2000. In 2001, she went to the University of Melbourne for Master's degree in "Gender and Development". In 2010 she registered for Ph.D. in "Gender and Media" from the same university which is slated to be finished in 2014. While in Melbourne she continued her journalistic writing by working as producer of "Radio Australia" online during 2001-2004. From 2004-2009, Ly worked as a radio program specialist/producer of "Radio Japan NHK", Tokyo. During this period, in 2006 she also joined as a columnist for "Nytid News Magazine", Norway and is still associated with them.

Lily began her career in writing and journalism, and is now engaged in a number of independent projects also, namely: "Panyingkul!" (www.panyingkul.com), which is Indonesia's first citizen journalism web site launched on July 1, 2006 in Makassar to promote citizen's active participation in media; "Makkunrai Project", which is a gender awareness program through literature and stage performance launched in March 2008. Her first short stories compilation, Makkunrai, consisting of eleven stories based on the themes of gender, corruption, polygamy and politics from female perspective, was also released during the launch of Makkunrai Project, along with the active participation of seasoned writer and artist Luna Vidya. In September 2008, Maiasaura appeared as Lily's second collection of stories published by Panyingkul!. The stories are based on journals, news and documents of Women’s NGOs, Human Rights Organizations’ Reports and various media outlet.

Lily later produced another short-story collection, entitled , which was translated into English, along with Makkunrai and Maiasaura by the Lontar Foundation, and selected for the "Modern Library of Indonesia" series. Her short story, "The Kitchen", was published in the January 2009 issue of the Chicago based journal, "Words without Borders". In 2009, she appeared as a featured speaker on a panel about "Global Journalism and Organizing" at the "Women, Action & The Media 2009 Conference" in Cambridge. In 2010, she also established a culture house, "Rumata Artspace" as a joint project with film director "Riri Riza". "Rumata", which is a Bugis-Makassar word for "our house" aims to serve as an independent forum for the development of arts and culture in Makassar and revival of South Sulawesi's literary tradition.

She is also credited with the role of the initiator and director of the mid-June "Makassar International Writers Festival" (MIWF) in Makassar in 2011. Her strong belief in literary writing and reading tradition encouraged her to attend festivals of writers in several countries like Singapore, Australia, France, the Netherlands and Hongkong, besides Ubud, Bali, and Utan Kayu, Jakarta.

(from Wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (23%)
4 stars
54 (36%)
3 stars
49 (33%)
2 stars
7 (4%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
May 28, 2016
Lily Yulianti Farid memang merupakan nama baru buat gw. Namun, karyanya yg satu ini patut diperhitungkan. Cerpennya menggugah, indah dan sarat pesan. Paling suka Ruang Keluarga, Nua, Diani dan Laki-laki Bejat, Maiasaura, Kelas 1-9, Kecap, Dapur Api dan Kue Lapis (walah...kok hampir semuanya?). Ilustrasinya unik, nampak sekali pengaruh Jepang-nya. Semoga beliau menelurkan karya-karya seindah ini kelak. Karya macam ini yg bikin gw cintaaaaaaaaaaa banget sama cerpen Indonesia.
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
March 10, 2017
"Apakah yang lebih sedih daripada merayakan kelahiran yang juga adalah hari kematian Ayah?" (Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, halaman 11)

Cerpen pertama sekaligus menjadi judul untuk kumpulan cerpen ini, 'Ayahmu Bulan, Engkau Matahari', bercerita tentang seorang perempuan bernama Jannah yang ketika lahir terjadi ricuh di kampungnya. Ia kehilangan ayah tepat saat kelahirannya.

"Ayahmu bulan, engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling mencari, saling merindu, saling menjaga...."

Buku ini memuat 17 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2004-2009. Semuanya bercerita dari sudut pandang perempuan. Bagaimana perempuan memandang dan menanggapi persoalan hidup di dalam pun di luar rumah.

Perempuan dari mata seorang penulis perempuan.

Perempuan-perempuan dalam buku ini membawa banyak peran, membawa banyak emosi, membawa banyak kabar. Kegelisahan, kemarahan, penolakan, kesedihan, pencarian jati diri, masalah gender, cinta segitiga, pengkhianatan, dsb. Perempuan di ranah politik, perempuan dan kritik, perempuan dan posisinya di rumah, perempuan dan kenangan-kenangannya. Mulai dari dapur, urusan terigu, kecap, hingga konflik kemanusiaan di Ramallah. Mulai dari peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan sekitar tahun '60-an sampai Victoria Park.

Saya sebenarnya agak terlambat berkenalan dengan karya-karya Kak Lily, mengingat sudah sejak tahun 2012 saya mengikuti #MIWF, festival yang digagas oleh Kak Lily bersama Rumah Budaya Rumata'. *sungkem* Tapi, seperti kata orang, setiap buku akan menemukan pembacanya. Dan baru sekarang buku ini menemukan saya.

Kisah-kisah dalam buku ini mengalir dengan indah, tidak menggunakan bahasa berbunga dan membingungkan. Saya suka cara penulis bertutur dan menggunakan metafora dalam cerita-ceritanya. Latar belakang penulis sebagai jurnalis dan mengambil spesialisasi dalam bidang gender sangat tampak pada tulisan-tulisannya.

Hampir semua cerpen dalam buku ini saya suka, apalagi ditambah ilustrasi yang cukup menggambarkan isi cerita. Konfliknya kebanyakan sederhana, sering kita temui dalam sehari-hari, tapi penulis menyampaikannya dengan sangat apik.

"Di sini, di Ramallah, air mata sang janin di dalam rahim telah mengucur deras bersama tangis para ibu, di pos-pos penjagaan yang menjadi neraka tanpa perlu menunggu usia 30 minggu." (Maiasaura, halaman 81)

"Mengapa perempuan itu meninggalkanmu, Rei?"
"Klise. Sangat Klise. Cintaku bukan sebuah masa depan. Itu kata bapaknya."
"Kata bapaknya?"
"Ya ... kata bapaknya."
"Lalu apa kata perempuan itu?"
"Ia ikut kata bapaknya."
(Rie dan Rei, halaman 48)
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
March 29, 2014
Meski sudah kemecer dengan buku ini lama, berkali-kali membaca satu dua cerpen di sampel buku kalau menjelajahi Gramedia, berkali-kali melihat review di Goodread, baru sekarang buku ini masuk di rak buku.

Pertama buku Ayahmu Bukan, Engkau Matahari menarik dari rupa sampul yang cantik. Rupa cover sangat memengaruhi "nafsu" saya memiliki buku dan membacanya. Warna pastel susu lembut dengan ilustrasi yang cantik dengan dominasi kuning. Kedua buku ini istimewa juga masuk 10 besar Longlist Kathulistiwa Award 2013, jadi tidak ada ruginya mengoleksi buku Ayahmu Bukan, Engkau Matahari karya Lily Yulianti Farid. Satu lagi saat membeli kumpulan cerpen, ilustrasi dari setiap cerpen adalah hal yang kutunggu. Selain ulasan dari penulis atau kritikus yang kali ini absen disajikan dalam buku ini.

Meski penulis tidak setenar penulis-penulis cerpen dari kaum hawa lain, misal (sekadar menyebut nama penulis: Linda Christanty, Intan Paramadhita, Dewi Ria utari, Clara Ng, dll) tetapi ternyata penulis ini disebut-sebut Sapardi sebagai penulis perempuan yang memiliki gaya yang patut diperhitungkan. Meski dari ketujuh belas cerpen dalam buku ini, hanya ada tiga yang sudah pernah tayang di media massa. Hal ini juga sangat berbeda dengan kebiasaan para penulis cerpen yang membukukan karya-karya mereka yang sudah pernah berjodoh dengan halaman cerpen di koran atau majalah. Jadi buku ini bisa dikategorikan istimewa.

Cerpen pertama Ayahmu Bukan, Engkau Matahari, yang juga dijadikan judul menggetak dengan kalimat pertama yang berbenturan Ketika engkau lahir, malam seperti meledak. Lahir dan meledak memang bukan paduan yang biasa. Meski keduanya bisa diartikan secara makna fisik saat kata itu dipakai yaitu akan ada sesuatu yang keluar. Lahir akan melahirkan bayi, sedang meledak akan menimbulkan serpihan. Dan ternyata kelahiran si 'engkau' diiringi dengan konflik di kampungnya, ayahnya menghilang diculik dan mati, lalu ibunya linglung bisu stress. Jadilah engkau, yang kemudian dinamai Jannah dirawat neneknya. Hingga ia menjadi relawan PMI yang menjelajah di belahan bumi tempat konflik kemanusiaan. Dan di berbagai daerah konflik itulah, Jannah tahu bahwa dirimu ditakdirkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup para korban. Dan di daerah konflik, Kashmir, Jannah tahu bahwa sebenarnya ayahnya yang selama ini dianggap mati dan dimisalkan sebagai ayahmu bulan dan engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling merindu, saling menjaga, ternyata bisa bersama. Tetapi Jannah tetaplah wanita dengan suara batin laiknya wanita lain, yang selalu ingin menghabiskan hidup senang-senang. Tetapi ada suara lain yang mengingatkan (mungkin ini ayahnya): aku tak pantas memikirkan kesenangan lagi di saat di bagian di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan atau tewas percuma dalam konflik (h.11).

Di cerpen pertama ini ada satu hal yang menganggu, di halaman 3. Ada hal yang sepertinya salah posisi pada paragraf kedua di halaman itu. Paragraf itu dimuali bercerita tentang nama sementara tetapi dilanjut dalam satu paragraf tetap tentang gerilya ayahnya. lalu diparagraf selanjutnya pesta kelahiran Jannah. Jadi cerita gerilya ayahnya itu seperti 'nyasar'.

Dan sepertinya penulis tidak hendak ingin berakrobat dengan imajinasi.Di cerpen pertama ini penulis menyajikan imajinasi yang pas. Pertama membaca judul aku berasumsi ini bakal kayak cerita Karna anak Kunti dan Dewa Matahari (Indra). Ternyata itu hanya metafora dan pas.

Hal senada juga dipergunakan dalam cerpen SUARA. Cerpen ini berkisah dengan sederhana sekali, bahkan sempat berasumsi ini benar-benar tidak ada loncatan atau akrobat imajinasi yang biasa dipergunakan dalam cerpen-cerpen sekarang. Hanya berkisah tentang tokoh aku yang memiliki suara empuk disukai banyak orang. Termasuk seseorang yang tergila-gila. Juga seorang pejabat(ini asumsi pembaca) yang sudah menjadikannya simpanan. Yaaa biasalah. Si wanita mencintai laki-laki baru, sedang dia sudah terikat ikatan dengan pejabat itu. Dan penulis benar-benar ingin berkisah tentang hal asasi dari perasaan wanita, tentang debar dan getar yang mengguncang kesadaranku adalah perpaduan sempurna rasa cinta, rasa takut, dan demam tinggi(h.21)

Bahasa penulis juga orisinal, misal begini membawa berpeleton keberanian yang hendak dibaginya kepadaku(h.21). Penulis menggambarkan kalau ada keberanian yang besar, dengan jumlah yang besar (peleton:700-1000 tentara) dan dengan kata peleton sendiri, dimana dekat tentara yang punya keberanian baja. Good.

Penyimbolan yang bagus juga ada dalam cerpen Ruang Keluarga. Penulis menggunakan simbol sebuah ruang di mana biasanya keluarga berkumpul sebagai muara semua masalah keluarga. Ruang keluarga yang berada tepat di tengah keluarga (dan diskripsi Lily tentang ruang keluarga mirip seperti ruang keluarga di sinetron2) di kelilingi kamar-kamar anggota keluarga, ini agar kami sekeluarga tetap slaing akrab, saling menyapa saat melintas untuk menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga(h.35). Tetap ternyata ketiga anaknya bergantian menanam ranjau dan melempar dinamit di ruang keluarga ini. Ketiga anaknya dan bapak-ibu semua memiliki masalah masing-masing. si Aku menikah dengan Sukri karena keduluan hamil. Shilla mati OD. Jimmy menikahi gadis Taiwan tidak jelas. Bapak masuk penjara. Ibu menjadi selingkuhan pejabat. Kisah ini mungkin kisah-kisah keluarga metropolitan, jasadnya memang serumah tetapi sejatinya sudah mengelana sedemikian jauh.

Tetapi ada satu yang aneh dengan cerpen ini, yaitu Lily tiba-tiba menyebut ruang tengah. Aku tenggelam di ruang tengah yang serupa ceruk(h.32). Hal ini akan sempurna kalau Lily menulisnya dengan tetap ruang keluarga.

Selain memiliki bahasa yang jernih dan metafora yang tidak akrobatik, Lily juga punya teknik yang aduhai. Misal dalam cerpen Rie dan Rei (jujur aku kesulitan mengucapkan di awal). Dua sahabat ini sebenarnya saling menyimpan kegelisahan masing-masing. Rei (male) sedang putus cinta. Rie(female) mengelana demi pencarian jati diri, atau sedang melipura sakit hati? Teknik yang dipergunakan adalah pergantian POV. Ada 3: POV Rei, POV Rie, dan POV penulis. Good Job!

Seperti biasanya, penulis perempuan selalu mengeksplor feminisme dalam tulisannya. Termasuk Lily, menurut saya. Hal itu terasa dalam cerpen Nua, Diani dan Laki-laki Bejat. Kebencian perempuan ketika melihat laki-laki yang suka menduakan perempuan diekspresikan dengan keberandalan Riani yang suka melempari dengan batu rumah laki-laki bejat itu.Aroam feminis lain tampak di cerpen Maiasaura, dimana Lily mengungkap kisah-kisah wanita hamil di tepi barat Gaza yang tidak jarang harus mati karena dipersulit melewati pos pengecekan. Lily membuat terenyuh. Meski samar-samar ada aroma feminis dalam cerpen Kelas 1-9 dengan kisah Marayya. Kisah dalam cerpen ini sangat klise sebenarnya, tentang anak dari keluarga miskin yang berprestasi dan dimanfaatkan oleh anak-anak tajir. Ini cerpen biasa-biasa saja!

Hal unik dalam penyimbolan dipakai Lily dalam cerpen Kecap, Nayu beranggapan bahwa hidup seperti kecap, Semuanya kecap manis. Kecap nomor satu (h.115). Sebenarnya Lily tidak menjelaskan secara rinci maksud dari kecap. Namun saat jawaban itu dijelaskan tersirat dari keseluruhan cerita. Hidup Nayu seperti manis namun gelap, seperti kecap. Hidup keluarganya gagal karena ia tidak kunjung berbadan dua. Juga Nayu seperti dikejar-kejar oleh asumsi-asumsi masyarakat, seperti kecap nomor satu. Masyarakatlah yang melabeli nomor satu itu.

Tetapi, cerpen ini ada cacat tunggal yang luar biasa. Mengapa Lily harus menyinggung kisah pembantaian etnis Cina, yaitu Babah Liong si pengusaha kecap. Ini sebenarnya tidak penting. Hanya tempelan ala kadarnya. Mengapa tidak langsung disebutkan bahwa ketika hadiah ulang tahun Nayu adalah sebotol kecap. Ini justru lebih terkesan unik dan tidak perlu menyinggung-nyinggung kisah Babah Liong.

Kisah Miu, model wanita cantik yang mati OD di Singapura dan pada hari yang sama Rusti, seorang TKW juga mati. Dikisahkan oleh kakak angkatnya, yang diam-diam selalu mengkhayal yang bukan-bukan terhadap tubuh Miu yang aduhai. Cerpen Kamera ini tidak terlalu fokus. Ke kamera sebagai metafora? Bukan. Ke kisah hidup Miu? iya, tapi juga nggak. Tentang cinta diam-diam kakak angkat dengan Miu? iya, tapi kurang dalam. Atau kisah Miu yang tidak acuh pada keluarga? Disinggung saja.

Tidak suka dengan cerpen Kabar Dari Royal Park!

Lily ternyata begitu lembut. Mengisahkan akhir-akhir kehidupan Jois dalam cerpen Jois dan Sang Malaikat. Jois seorang pengasuh beragama nasrani dalam keluarga islam. Ternyata perbedaan itu tidak menghalangi untuk menyalurkan kasih sayang kepada anak tuannya. Cerpen ini memiliki gaya sederhana, tetapi isu yang dibawa tentang toleransi beragama dan pernghargaan kepada orang lain dalam. Lembut. Meski sebenere aku tidak suka dengan cerpen ending kematian, tetapi aku suka cerpen ini. Menyentuh. Satu lagi aku baru tahu ada malaikat Marut, Jarut, dan Al Ra'd.

Ya, benar mengakhiri cerpen dengan kematian tidak selamanya bagus. Bisa dicermati di cerpen Jendela untuk Bunga. Selain ending yang tergesa-gesa. Lily juga kembali mubazir dengan menghadirkan tokoh Tukang Puisi. Seandainya tidak ada pun tidak mengapa. Tidak merusak keseluruhan cerpen. Sayang saja cerpen yang sudah menarik harus dicoreng-morengkan dengan kehadiran tukang puisi dari Tanjung Priok yang tidak jelas seberapa penting kehadirannya dalam kisah rumah tangga Bunga-Raja itu.

Kelima cerpen terakhir memiliki judul-judul yang menjadi metafora dari kisah tokoh-tokoh dalam cerpennya. Gurita, Dapur, Api, Danau,dan Kue Lapis. Dan saya sangat suka cerpen Gurita. Hewan bertangan banyak itu benar-benar menjadi perlambang untuk sikap si ibu yang "memiliki" tangan banyak demi memupuk uang. Sedan Dapur meski tidak memiliki porsi besar sebagai perlambang, tetapi mengisyaratkan bahwa perempuan selalu dikaitkan dengan dapur-sumur. Terbukti si ibu yang pandai memasak di dapur akhirnya menjadi gundik pejabat. Di Danai kita menikmati kisah-kisah ilmiah yang dijelaskan Lily (aku nggak suka cerpen ini). Dan Api adalah perlambang dendam seorang ibu yang terus membara hingga kematiannya datang. Dan Kue Lapis yang disajikan sebagai desert dalam buku ini, melambangkan berlapis-lapisnya kisah hidup, sifat, rahasia Nek Halimah, Naya, Ibu dan keluarga besar di jalan Kenari 1, 3, dan 5. Tetapi mengapa harus kue lapis? Kenapa nggak bolu kukus? Kue arem-arem yang di dalamnya ada isi yang berbeda dengan kulitnya? Semar mendem? atau apa gitu....

Sebenarnya beberapa cerpen biasa saja, tetapi Lily bisa bercerita jernih hingga menahan untuk terus membaca hingga halaman terakhir. Oiyaaa dan saya sangat menyukai kalimat-kalimat Lily yang terkesan sangat orisinal. Juga metafora yang dipergunakan Lily sangat khas dan baru. Kue Lapis, Matahari dan Bulan, Gurita, dll. Satu lagi yang perlu dinoted dibold disimpan rapat-rapat adalah cerpen bagus tidak perlu akrobatik bahasa dan imajinasi yang sok nyurealis. Cukup sederhana dan mengena. eksplorasi emosi tokoh.

Sungkem Lily Yulianti Farid....!!! So damn good!
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
October 1, 2023
Tokoh dan kisah perempuan, latar Sulawesi Selatan, diversitas sosial-kultural tokohnya dan cerita tentang konflik dan harapan akan perdamaian - menjadi kekhasan karya Lily Yulianti Farid ini.

Desain sampulnya sendiri sudah bercerita sedikit-banyak tentang cerita pendek pertama, yang judulnya menjadi judul buku ini: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari. Di sepanjang halaman buku, sebelum memulai cerita baru, ada juga ilustrasi indah oleh Nani Puspasari. Saya sangat menyukai warna kuning yang kentara dan cerah dari sampul buku ini.

Dari 17 cerita pendek dalam buku ini, ada 5 cerita pendek yang menjadi favorit saya: Api, Jois Sang Malaikat, Kecap, Maiasaura, dan Ayahmu Bulan, Engkau Matahari.

Cerita pendek "Api" dan "Jois Sang Malaikat" paling menyentuh saya. Subjektif, tentu saja sebagai pembaca, karena kisah yang diangkat dalam dua cerita pendek ini sedikit-banyak relatable dengan saya.

Saya terkesan sekali dengan cara penulis menuturkan kisah pedih perang dan konflik di Jalur Gaza dalam cerita Maiasaura, perang kampung dalam cerita Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, kerusuhan Mei 1998 dalam cerita Kecap, emosi yang kompleks dari keluarga dan kerabat dari mereka yang hilang dalam memperjuangkan demokrasi dalam cerita Danau.

Beberapa bagian-bagian cerita yang sangat berkesan bagi saya, saya kutip sedikit disini.



"Kakak, hati-hati..."
"Kau yang harus hati-hati menjelajah negeri-negeri yang jauh, Zara..."
Zara ingin sekali kembali ke waktu dimana percakapan itu terjadi. Ia menyesal tak pernah menegaskan kekhawatirannya dengan sungguh-sungguh.
"Kakak yang seharusnya lebih hati-hati di negeri sendiri..."

(Danau, oleh Lily Yulianti Farid)


"Kira-kira kenapa ya, Sayang?" ini pertanyaan suaminya. Masih sopan tapi kedengaran tidak sabar.
"Apa kata dokter?" Nah kalau ini, adalah interogasi ibu mertuanya yang mengendus-endus seperti anjing pelacak.
Hasil diagnosa: di ovariumnya tumbuh myoma. Ada tumor jinak yang berkembang di luar dinding rahimnya. Bukan hanya itu. Ada endometriosis juga yang diidapnya sejak lama.
"Tidak berbahaya," kata dokter yang menjelaskan dengan senyum. "Tidak akan sampai menyebabkan kanker."
"Tak berbahaya bagi tubuhku, berbahaya bagi perkawinanku...," Nayu berusaha melucu.

(Kecap, oleh Lily Yulianti Farid)


Tapi di suatu hari kemarahan Ayah meledak. Ketika itu usiaku barulah sekitar lima tahun. Penyebabnya sepele: sayur buatan Ibu terlalu asin! (Oh ya... orang-orang di kampung gemar mengulang bagian cerita ini dengan menggumamkan kata s-e-p-e-l-e sambil menggeleng-gelengkan kepala.)
Kata guru mengaji di surau, iblis terbahak-bahak bila melihat orang marah. Iblis menyulutkan api ke hati orang yang marah. Sebesar apa api yang disulutkan ke hati ayahku waktu itu?

(Api, oleh Lily Yulianti Farid)


Lalu ada suara batuk yang menghentak. Ranjang terguncang.
Gelombang kenangan terhenti.
Rasa sakit tergambar jelas di garis wajah, di sorot mata, dan di jemarinya yang gemetar. Perempuan yang membesarkanku ini telah menjelma pohon ringkih yang kepayahan dihantam musim yang keji. Meranggas tak berdaya. Diawali stroke, lalu paru-paru yang bonyok, hasil diagnosa yang mengerikan, dan sikap keras kepala menolak dirawat di rumah sakit, membuat seisi rumah berada di puncak keputusasaan.

(Jois Sang Malaikat, oleh Lily Yulianti Farid)


Aku membuka bungkusan kue lapis dari pasar. Kugigit perlahan. Legit. Gurih. Sedikit asin. Ia terdorong ke dalam mulut bersama air mata dan kenangan tentang lesung dan dekik pipi yang sempurna serta nasihat yang selalu diulang, "Membuat kue lapis menegaskan kesabaran. Nasib yang tak begitu baik, jangan dikeluhkan..."

(Kue Lapis, oleh Lily Yulianti Farid)



Saya menikmati membaca buku ini dan merekomendasikannya :)
Profile Image for Truly.
2,769 reviews13 followers
January 7, 2023
Kumpulan cerpen yang luar biasa. Terdapat 17 kisah menawan dengan benang merah tokoh utama perempuan. Semua kisah seakan menyedot pembaca untuk larut perasakan apa yg dirasakan oleh tokoh utama dalam kisah.

Ilustrasi karya Nani Puspasari memberikan nilai tambah kenikmatan membaca kisah ini.

Dibaca saat santai sambil leyeh-leyeh ditemani teh hangat dan cemilan pada pagi hari yang dingin, membuat kualitas me time naik beberapa level ^_^
Profile Image for Suka - Suka Bob.
2 reviews
February 8, 2025
Baru pertama kali saya membaca karya kumpulan cerpen dari Lily Yulianti Farid. Menurut saya cerpen - cerpen yang ia tulis cukup menarik dan tentunya cukup puitis. Saya suka cara penulis menggambarkan suasana suatu adegan dari beberapa cerpen di buku ini, mudah diikuti dan ringan namun tetap memiliki ke khas - an dari penulis sendiri 👍👍👍
Profile Image for Qiny Shonia.
Author 1 book1 follower
April 21, 2018
Cukup sulit memilih cerita favorit saya di buku ini. Hampir semua tulisan Kak Lily sama mengangumkannya. Cerpen berjudul 'Api' membuat saya menangis pagi ini.
Profile Image for Tiyafauzi.
16 reviews1 follower
September 25, 2022
Penyampaian sederhana dengan segala kompleksitas kisah tokoh-tokohnya.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
January 18, 2015
*http://www.profesi-unm.com/2015/01/me...

Pembahasan tentang perempuan nampaknya memang tak pernah ada habis-habisnya. Dalam berbagai media, perempuan akan selalu layak untuk diperbincangkan. Mulai dari forum diskusi formal dan nonformal, karya seni, maupun karya sastra.

Dalam Alquran sekalipun, sebegitu istimewanya kaum hawa hingga memiliki nama surah tersendirinya. Apatah lagi, jika perempuan menjadi pokok bahasan yang ditulis dalam sebuah buku.

Lily Yulianti Farid, seorang penulis perempuan terbaik yang dimiliki Indonesia – seperti yang pernah diungkapkan penyair, Sapardi Djoko Damono. Lily menuangkan pemikiran tentang kaumnya lewat beberapa kumpulan cerita pendek. Rangkaian cerita tersebut kemudian menjadi kesatuan dalam buku Ayahmu Bulan, Engkau Matahari. Perempuan menjadi tokoh sentral dalam kumpulan cerita ini dengan berbagai konflik masing-masing.

Judul buku dikutip dari salah satu cerpen berjudul yang sama. Dalam “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari” diceritakan tentang kisah seorang anak perempuan, tak pernah sungguh-sungguh mengenal ayahnya. Namun tanpa pernah bertemu pun, si anak tetap merasa selalu dekat dengan si ayah. Berlatarkan kondisi Sulawesi Selatan di tahun ’60-an, Lily piawai menjabarkan konflik batin yang mungkin saja terjadi.

"Ayahmu bulan, engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling mencari, saling merindu, saling menjaga..."

Kisah perempuan lain yang cukup menggelitik ialah “Nua, Diani dan Laki-laki Bejat”. Menyiratkan pesan sarkastik, aksi dua pasang sahabat perempuan yang membenci laki-laki bejat. Nua dan Diani sampai melempari rumah laki-laki bejat dengan batu. Pengalaman pribadi memunculkan keberanian perlawanan, meskipun pada akhirnya sisi perempuan yang feminis mulai mencuat.

Cerpen “Rie dan Rei”, juga mampu memberikan kesan tersendiri. Tentang cinta yang malu-malu antara teman masa kecil. Tradisi perempuan yang seakan ditakdirkan untuk selalu menunggu dan menjemput bola. Kegundahan Rie dan Rei akan selalu lenyap apabila mereka bisa lebih jujur dengan diri masing-masing.

Keseluruhan buku ini mengisahkan 17 cerita pendek, dengan konfliknya masing-masing. Lily membawakan cerita-cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik. Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah. Penuturannya pun bervariasi, ada cerita yang cenderung menggunakan kalimat lugas, ada pula yang penuh dengan kiasan metafora. Sebabnya, tiap-tiap cerita akan merefleksikan berbagai hal-hal yang dialami perempuan.

Penggagas Rumata’ Artspace dan Makassar International Writers Festival ini boleh jadi mendulang keberhasilan untuk mengisahkan kaumnya lewat cerita-cerita fiksi. Buku ini mampu menjadi benang merah untuk melihat macam-macam sisi perempuan yang terkadang dikesampingkan. Meskipun bukan hal yang manusiawi bila menilai semua perempuan secara absolut tergambarkan dalam buku ini.

Dan tak dapat ditolak, setiap perempuan cantik dengan dirinya masing-masing. (*)
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
August 19, 2022
Meski Lily Yulianti Farid adalah nama baru dan ini pertama kalinya saya membaca karyanya, saya sulit memilih mana cerpen paling membekas di kumcer ini. Hampir semuanya saya suka. Ayahmu Bulan, Engkau Matahari (diksinya indah sekali, saya jatuh cinta), Ruang Keluarga (yang menggambarkan relita pahit dalam keluarga), Kelas 1-9 (soal kemiskinan struktural yang pada akhirnya mengantarkan si cerdas menjadi 'bayaran' orang-orang elit, saya suka pengembangan karakternya), Kecap (ini bagus sekali, mengajarkan soal kesederhanaan, saya sampai hampir menangis), Jois dan Sang Malaikat (yang menyajikan potret betapa indah keberagaman), Dapur (relate sekali dengan kehidupan saya yang punya ibu seorang pengusaha katering, memang praktik 'nota kosongan' itu sudah bukan rahasia lagi, pegawai negeri memang seperti itu, miris).

Waduh, intinya hampir semuanya. Isu yang diangkat juga beragam dan kompleks; kemanusiaan, ketimpangan gender, politik, agama, sosial-budaya, makanya saya mempertimbangkan lagi, "Masak iya saya cuma kasih bintang tiga atau empat? Bintang lima lah!". Ilustrasinya pun menarik, bahkan sekilas seperti ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Akino Kondoh. Jepang-jepang gitu lah. Mungkin lebih karena di beberapa cerpen disentuh oleh nuansa Jepang yang kental. Di sisi lain, saya juga suka pada permainan kata yang dimanfaatkan Lily buat menganalogikan sesuatu. Selalu pas, nggak dilebih-lebihkan, meski beberapa ada yang hiperbola.

Di atas meja, sebotol kecap menunggunya. Encer dan asin.
Kecap yang membuat keduanya bernapas lega karena rasa sedih yang dibayangkan ternyata bisa mereka halau dengan mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi di rumah ini. Nasib yang tidak begitu menggembirakan tapi bersikeras dikenang dengan baik.
"Ibumu harus tetap dikenang dengan baik, Nayu..."
"Sama. Suamiku, mertuaku, dan segenap isi rumah mereka juga akan kukenang dengan baik."
"Ya sudahlah."
Diam sejenak. Lalu tatapan keduanya sama-sama tertuju pada botol kecap mungil di atas meja. "Hidup ini seperti botol kecap ya, Yah...?" (halaman 144).


Halo, itu adalah kutipan paling getir tapi manis yang pernah saya baca selama ini. Seperti menonton drakor dengan alur cerita yang hangat, cuplikan dari cerpen Kecap di atas mengajarkan soal menerima, ikhlas, dan memahami bahwa kehidupan yang asin ini terkadang memang perlu sesekali ditertawakan. Yang lalu, biarlah berlalu. Yang sudah jadi bubur, ya sudah, tinggal dimakan. Hidup itu menyedihkan, namun terlalu sia-sia jika harus disesali.

Pokoknya, kumpulan cerpen yang menguras emosi ini saya rekomendasikan pada semua orang.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
September 15, 2012
Kecewa pada "Perempuan yang Melukis Wajah" tak membuat saya kapok untuk membeli kumpulan cerpen. Dan hasilnya, FANTASTIS. Saya sangat menyukai SEMUA cerita yang ada di buku ini.

Ketika saya membaca buku ini atmosfer yang saya rasakan sama seperti saat saya membaca karya-karya mbak Okky Madasari (Entrok, 86, dan Maryam). Saya suka itu. Jarang sekali ada karya-karya penulis wanita Indonesia yang kritis dan menyindir. Yang tidak hanya memberikan hiburan yang mudah dilupakan pembacanya.

Two thumbs up!
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
March 30, 2013
Tiga bintang untuk cerpen Ruang Keluarga, Kecap, dan Jois dan Sang Malaikat yang menyentuh. Selebihnya, saya tidak bisa bilang jelek (karena memang bagus), tapi tidak meninggalkan kesan. Itu saja, tidak pakai pertanyaan berawalan kenapa atau mengapa. ^^
Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
January 13, 2013
It is hard not to choose my personal favorite stories when reading a book that consist of so many different stories. Well I have two favorite stories from this book, 'Ayahmu Bulan, Engkau Matahari' and 'Jois dan Sang Malaikat'. Those stories were really really good. While the other was okay.
Profile Image for Bernard Batubara.
Author 26 books817 followers
August 10, 2014
banyak persoalan perempuan yang diangkat, dengan setting kampung sampai kehidupan urban. gaya bercerita lily terkadang mendayu, sesekali lugas. cerita-cerita yang cukup enak dibaca sambil minum teh di sore hari. beberapa cerpen lebih cocok untuk dikembangkan jadi novel.
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
December 14, 2013
#65 - 2013

yang paling meninggalkan kesan ada di Cerpen Kecap & Jois dan Sang Malaikat. 3 bintang untuk 2 cerpen itu. yang lainnya kurang 'kena' di saya. masalah selera saja kurasa.
Profile Image for Widsie.
24 reviews4 followers
December 9, 2013
weww.. semua cerita dari kumpulan cerpen ini keren!
Profile Image for Adien Gunarta.
Author 4 books15 followers
January 29, 2014
Ceritanya sangat pancawarna. Penjelajahan cerita yang bagus. Pesan-pesan feminisme yang kuat.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
May 23, 2016
Mantap!

saya membaca buku ini benar-benar tersentuh sekaligus tersindir karena berhasil membuat saya berfikir, iri, dan sekaligus kagum
32 reviews3 followers
January 5, 2016
Beruntung banget dapet buku ini cuma cuma di Gramedia Pucang dan dapet murah pula. Padahal ngincer dari tahun lalu masalahnya longlist KLA '13 hehe. Kelar secara cepat.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.