Puisi-puisi Willy adalah racikan yang pas antara puisi liris dan kekinian yang riuh dan kacau. Lirisisme menariknya menuju romantik, tetapi kekinian membetotnya ke arah kesantaian. Hantu puisi Indonesia terus menggodanya jadi sepanas Chairil, tetapi Rawamangun hari ini mengajaknya nungguin hujan di Atelir Ceremai. Suatu tarik-ulur terus menerus antara api dan es boba.
Membaca puisi-puisi Willy adalah seperti melihat Chairil Anwar jualan bakso cuanki di masa pandemi, melihat Afrizal Malna magang jadi kasir Indomaret, melihat keseluruhan puisi Indonesia dikemas dalam satu saset kopi susu. Di sana puisi telah menjadi tulang lunak, lama terpanggang hidup dan siap menjadi begitu santai. Seperti kata Willy dalam puisi berjudul Puisi: Sudah menggonjreng di lampu merah. / Pake topeng. Pake motor sport kayu. Pergi ke pasar. / Pasarnya udah ada yang ngatur. Sip.
(Martin Suryajaya, penulis dan doktor filsafat STF Driyarkara)
Setiap hari aku mati di banyak tempat yang tak kukenal.
Viva la vida, capitalism.
Di atas kasurmu yang empuk dan mager itu, kau mungkin pernah monontonnya bersama cinta gelapmu.
Apakah kau menemukan uwu pada kematianku?
____________
Seperti melarikan diri dari kamar kos yang aliran airnya sedang innalillahi, membaca puisi-puisi kontemporer Agis menjadi pelarian yang kurang lebih menyenangkan. Lagi pula, keran air di kamar kos akan menyala kembali, dan kita akan membasahi diri meskipun esok kotor lagi.
"Unboxing", istilah yang belakangan ramai dipakai untuk menggambarkan kegiatan membongkar paket kiriman yang baru datang, digunakan oleh Willy Fahmy Agiska sebagai judul dari buku puisi terbarunya. Tak hanya itu, Willy juga mengandaikan bagaimana kalau yang kita "unboxing" adalah diri kita pribadi. Perasaan sedih, amarah, cemas, kesepian, dan jenis perasaan lainnyalah yang Willy coba bongkar di dalam buku puisinya ini. Tentu saja dengan gaya yang terkesan sinis, cuek, dan sedikit melankolis--yang saya sukai dari buku puisinya sebelumnya (Mencatat Demam). Willy juga mencoba keluar dari pakem bahasa Indonesia yang terlampau baku. Sebagai seorang bocah yang besar di belahan bumi Priangan nan jelita, Willy memasukkan beberapa kata sunda ke dalam puisinya. Hal itu membuat saya tersenyam-senyum ketika dipadukan dengan gaya yang sinis, namun berkelindan dengan tema percintaan yang gagal, lihat puisi "Saat Maneh Berjanji Tapi Gak Nepati, Tanpa Komunikasi", atau "Sajak Cinta Pemula Kalo Maneh Gak Hepi". Dengan rentang puisi yang ditulis pada tahun 2020 - 2022, Willy juga menggambarkan bagaimana pandemi Covid-19 mempengaruhi pribadinya, lihat puisi "PPKM." Lama bergelut di skena sastra, Willy tak lupa menceritakan bagaimana para penyair suka bertingkah aneh-aneh, lihat puisi "Apa lagi sih, Penyair". Pada akhirnya, Willy tak hanya membongkar dirinya pribadi, tetapi juga ikut mengajak para pembaca untuk membongkar diri mereka masing-masing dan mengucap, "Anying!!!"
unik, seru, baru kali ini menemukan puisi seasik ini. but for some reasons, the poetry sounds too personal so i didnt get the point at all. or myb i should reread again to finally enjoy it 💁♀️
Puisi² dalam buku ini dijamin relaks, lentur, & fleksibel. Bahasanya cair, sebagaimana kosakata kita hari² ini. Dalam dunia permabukan orang papa, kita mengenal oplosan, dan inilah puisi hasil oplosan meme, algoritma medsos, bacotan warga, hingga yang personal.
Unboxing juga memberi sensasi berseluncur di perosotan kolam renang Ancol yang tinggi, tapi tiba-tiba mampet di tengah, lalu pantatmu ditabrak warga yang bikin kamu meluncur lagi, lalu byur. Pas nengok ke belakang, warganya banyak, kamu nggak bisa asal nuduh, tapi kamu tahu yang nendang pasti sastra indonesia.
Puisi ini bahasa nya sangat santai. Saya jarang sekali menemukan puisi dengan bahasa yang sangat santai (mungkin karena bacaan saya saja yang kurang wkwk)
Apalagi ada puisi-puisi sundanya, yang entah kenapa lumayan relate untuk saya pribadi yang orang sunda :) Ditunggu, karya-karya yang lainnya lagi ❤️
Membaca puisi-puisi di buku ini seperti merasakan pengalaman kelisanan lewat efek keseleo atau kepeleset lidah tiap membaca larik-larik puisinya. Ungkapan-ungkapan daerah yang dicampuraduk dengan ungkapan-ungkapan gaul anak kota, disusun dalam bangunan ‘yang tersekat’ dan ‘yang tersaruk-saruk’. Gaya ucap semacam ini seperti mengurung ‘aing-lirik’ dan ‘aku-lirik’ (sekaligus pembaca) dalam situasi ‘mental block’. Mental block yang bila dibayangkan ia juga menggunakan sekat-sekat yang ada seperti pada bangunan puisi sehingga menghasilkan gambaran (mirip) sebuah paket. Di dalam paket itulah segala hal yang berhubungan dengan ‘aing-lirik’ dan ‘aku-lirik’ terkurung. Ketika paket itu di-‘unboxing’ impresi yang tiba ke permukaan ialah keputusasaan, kesepian, ketertindasan seorang pekerja, dalam gerumbulan gerundelan yang tak ada habis-habisnya, ocehan-ocehan yang terdengar sepele, namun sudah berubah menjadi situasi genting dalam dunia aing/aku-lirik sehingga yang sepele itu menerima sekian gerundelan yang membawa aing/aku-lirik ke dalam situasi penegasan tentang apa yang ‘sedang’, ‘akan’, ‘kemungkinan’, dan ‘sudah’ dialaminya.
Sebagaimana tiap pengalaman kelisanan seringnya tak berjalan linear, kita bisa bicara topik A sekarang, lalu sepersekian detik kemudian berubah menjadi topik Z, hal itu juga tampak dalam puisi-puisi di buku ini. Ada puisi ‘Follow Me’ dan ‘Spada’ yang terkesan tiba-tiba dimunculkan. Dua puisi yang dalam tingkat tertentu memunculkan kesan berbeda di di tengah puisi-puisi sebelum dan sesudahnya. Gerundelan dalam dua puisi itu menyerempet ke hal yang secara tersirat filosofis, di mana yang jatuh bukan batu melainkan nama-nama (Follow Me); ada “salam-salam untuk surga// dari mamah-papah/dan keluarga yang berdoa/” dengan cemoh pada diri sendiri menyebutnya tak lebih peran pembantu yang mewujud “sebagai sepetak halaman belakang/untuk semua jenis kesunyian.// (Spada). Ada emosi yang terputus dan berubah menjadi turunan emosi yang berbeda-beda tergantung bagaimana gerundelan itu disampaikan.
Membaca puisi-puisi dalam buku ini adalah pengalaman menikmati kelisanan dalam bentuknya yang penuh gerutuan, bersungut-sungut tak habis-habis, dan peran “puisi” dan “penyair” selalu disebut-sebut di tengah kejadian kasak-kusuk itu. Baik sebagai penenang maupun pemantik untuk memulai membicarakan segala yang berada di ‘halaman belakang’; baik itu cinta, kejengkelan, pekerjaan, deadline, dompet kering, keluarga, rumah, hingga “... senja dan negara (yang) pulang dan mager bersama.”
Setelah membaca buku puisi Unboxing karya Willy F. A., saya menangkap beberapa hal bahwa buku asyik ini menuntun saya untuk unboxing diri sendiri sebagai pemuda yang bekerja di kota besar dengan segala hiruk-pikuknya. Saya diingatkan untuk sejenak beristirahat dan menemui kedalaman diri saya sendiri. Lewat puisi-puisinya, Willy menjadi provokator dari kehidupan kita dan menggambarkan bagian-bagian menyesakkan yang sering kita abaikan tentang ekspetasi orang lain, cinta yang gagal, perpisahan, masa lalu yang traumatis, dan masalah klise lainnya dalam berhubungan dengan manusia. Kata Willy, "Aku keluar mengangkut banyak orang lain dari diriku.", Bisakah kau bayangkan betapa sesaknya kedalamanmu? Maka, mari sejenak beristirahat, membaca buku ini, dan menata kembali hidupmu.
puisi-puisi Willy Fahmy Agiska dalam Unboxing memiliki gaya yang menyerempet mbeling. pemilihan-pemilihan diksinya pun agak unik dengan menyisipkan beberapa istilah bahasa sunda. tapi meski demikian, realitas-realitas yang dibangun sangat kuat. wassalam, deh