"Unboxing", istilah yang belakangan ramai dipakai untuk menggambarkan kegiatan membongkar paket kiriman yang baru datang, digunakan oleh Willy Fahmy Agiska sebagai judul dari buku puisi terbarunya. Tak hanya itu, Willy juga mengandaikan bagaimana kalau yang kita "unboxing" adalah diri kita pribadi. Perasaan sedih, amarah, cemas, kesepian, dan jenis perasaan lainnyalah yang Willy coba bongkar di dalam buku puisinya ini. Tentu saja dengan gaya yang terkesan sinis, cuek, dan sedikit melankolis--yang saya sukai dari buku puisinya sebelumnya (Mencatat Demam). Willy juga mencoba keluar dari pakem bahasa Indonesia yang terlampau baku. Sebagai seorang bocah yang besar di belahan bumi Priangan nan jelita, Willy memasukkan beberapa kata sunda ke dalam puisinya. Hal itu membuat saya tersenyam-senyum ketika dipadukan dengan gaya yang sinis, namun berkelindan dengan tema percintaan yang gagal, lihat puisi "Saat Maneh Berjanji Tapi Gak Nepati, Tanpa Komunikasi", atau "Sajak Cinta Pemula Kalo Maneh Gak Hepi". Dengan rentang puisi yang ditulis pada tahun 2020 - 2022, Willy juga menggambarkan bagaimana pandemi Covid-19 mempengaruhi pribadinya, lihat puisi "PPKM." Lama bergelut di skena sastra, Willy tak lupa menceritakan bagaimana para penyair suka bertingkah aneh-aneh, lihat puisi "Apa lagi sih, Penyair". Pada akhirnya, Willy tak hanya membongkar dirinya pribadi, tetapi juga ikut mengajak para pembaca untuk membongkar diri mereka masing-masing dan mengucap, "Anying!!!"