Sadira Devi pernah jatuh cinta pada Zeus. Hubungan mereka sepertinya lancar sampai Zeus menjauhkan diri. Sadira berusaha meminta penjelasan, namun perlakuan Zeus yang dingin membuatnya patah semangat. Kemudian Sadira memutuskan untuk memulai lembaran baru. Ia pindah bekerja sebagai housekeeper di sebuah hotel di Tuathina.
Pertemuan kembali Sadira dan Zeus di Tuathina membuat gadis itu berdebar-debar. Namun setelah makan malam yang istimewa dan ciuman yang mesra, Zeus mencampakkan Sadira begitu saja.
Badai salju membuat Sadira terpaksa menjadi staf hotel sementara di tempat Zeus menginap. Di hotel itu pula Sadira bertemu Alvaro, rekan kerja Zeus yang dikenal maniak dan suka “menyiksa” para housekeeper. Begitu mengetahui ada masa lalu di antara Sadira dan Zeus, Alvaro menawarkan solusi untuk menjadi kekasih pura-pura Sadira, agar rasa cemburu Zeus tersulut dan mereka bisa kembali bersama.
Tawaran itu sungguh gila dan tidak masuk akal, dan Sadira sulit menolaknya. Tapi sebenarnya apa yang sulit dia tolak—kesempatan mendapatkan Zeus, atau sosok Alvaro sendiri?
Tidak menyesal karena membaca buku amore yang satu ini! XD
Kisah tentang Sadira, Zeus dan Alvaro benar-benar bikin senyum-senyum sendiri semalaman. Yah, setidaknya saat aku membaca bukunya dalam waktu 2.5 jam. Oh, jangan dibaca repiunya kalau tidak mau spoiler, karena spoilernya 'agak' tersirat. :p
Sadira punya hubungan khusus dengan Zeus semasa masih berkuliah. Hubungan yang membuat mereka akrab dan sempat saling membagi mimpi di masa depan. Sayangnya, tiba-tiba Zeus memutuskan untuk menjauh tanpa sebuah alasan yang jelas. Sadira yang tidak terima, mencari Zeus hanya untuk menuai rasa sakit hati yang teramat dalam. Kecewa terhadap Zeus, belum lagi kesulitan hidup serta kematian ibunya, membuat Sadira memutuskan untuk pergi ke sebuah negara kecil di dekat Italia bernama Tuathina.
Di negara itulah ia bertemu kembali dengan Zeus yang sudah mapan. Pertemuan mereka kembali berakhir pada sebuah jamuan makan malam serta sebuah ciuman yang membuat kaki Sadira terasa meleleh. Tatapan mata coklat Zeus yang serupa espresso kembali memikatnya. Namun bukannya menyelesaikan apa yang pernah mereka lalui bersama di masa lalu, justru Zeus kembali menyakiti Sadira di malam yang sama. Menghempas wanita itu dengan kata-kata yang menyakiti hati Sadira.
Sadira berharap itulah terakhir kalinya dia menggantungkan harapan pada Zeus. Dia kira lelaki itu berubah, ternyata tetap memandangnya sebagai seorang wanita murahan yang bisa dibeli. Dia memutuskan untuk pergi dari hotel mewah yang jadi tempat makan malam mereka, hanya untuk mendapati badai salju membuatnya terjebak. Membutuhkan tempat untuk beristirahat, Sadira mendapatkan tempat beristirahat di hotel itu dengan gantinya bekerja sebagai housekeeper.
Menjadi housekeeper adalah pekerjaan yang biasa ia jalani sehari-hari, hingga bukan masalah besar untuk melakukannya. Tentu saja, seandainya dia tidak memilik Zeus yang membayangi pikirannya. Saat itulah dia bertemu dengan Alvaro, yang gemar menyiksa para housekeeper. Pertemuan mereka bukan pertemuan yang istimewa, justru Alvaro yang mengerjai Sadira. Tapi malam itulah yang merubah Sadira-Alvaro-Zeus.
Alvaro yang mengetahui bahwa Sadira adalah orang dari masa lalu Zeus, teman dan rekan bisnisnya, memutuskan mengajak Sadira berpura-pura pacaran. Tujuannya adalah Zeus termakan umpan dan berkompetisi dengan Alvaro hingga kembali tertantang untuk merebut Sadira kembali. Namun rencana sebaik apapun tidak akan pernah berlangsung dengan baik saat hati terlibat di dalamnya. Karena itulah yang terjadi berikutnya.
Zeus tampan, namun terlihat dingin. Alvaro kocak dan tidak serius, namun bisa membuatnya tersenyum. Pilih mana? Hanya Sadira yang bisa menentukan...
Huaaaa, asli, tidak nyesel banget baca buku ini. Saking senengnya ngeliat Alvaro, jadi pengen bungkus satu buat dibawa pulang ke rumah! :p Awalnya aku sempat berpikir bahwa tokoh utama di kisah ini adalah Sadira dengan Zeus, terlebih karena adegan pembuka buku saat mereka berdua bertemu kembali di Tuathina, tapi ternyata tidak.
Sempet kesel karena Zeus yang pintar dan mapan itu begitu bodoh dalam menilai pribadi Sadira. Alih-alih mengonfirmasi kebenarannya, lelaki itu malah menilai Sadira sedemikian rupa dengan mudah. Lelaki seperti itu memang tidak pantas untuk ditemani. *smirk* Yah, walaupun aku akan lebih senang kalau pribadi Zeus lebih diperdalam lagi. Kesannya tokoh ini hanya sekedar tempelan biasa saja.
Oh, kepingin nyubit-nyubit Alvaro saat perbincangan mengenai pacaran pura-pura mereka. Alvaro gemesin banget! XD Bahkan sampai akhir, image gemesinnya tetap bertahan. *wink* Ih, lelaki yang seperti dia itu idaman setiap perempuan deh ah.~ Setidaknya buatku. *oops, curcol* ROFL
Buku ini sesuai dengan judulnya, Cinderella Tuathina. Karena memang Sadira tidak ubahnya seperti Cinderella. Ayah yang tidak bertanggung jawab dan pergi begitu saja. Ibu yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Dia sebatang kara. Pekerjaannya adalah asisten rumah tangga dan housekeeper di sebuah hotel. Dan menemukan seorang 'Prince Charming' yang merubah derajatnya dia. Bukannya itu Cinderella banget? ;)) Belum lagi nama negaranya yang bikin ngerasa masuk ke negeri dongeng. XD Aw, aw, jadi inget dongeng anak-anak dulu. :p
So, last but not least, bukunya worth buat dibaca. Meski mungkin terlalu banyak deskripsi yang tidak terlalu perlu, tapi tokoh-tokohnya tidak mengecewakan. Happy reading!
Welcome 2020! Nggak mau bikin resolusi muluk-muluk lah, minimal bisa baca 2buku tiap bulan, ehehe.
Kay, 1st book in 2020—ku kira bakalan mulai tahun sama bacaan yang oke, eh bukannya ini jelek banget gitu ya, tapi so-so aja gicuuu. Kayanya kalo baca sinopsis diback covernya juga udah kelihatan ceritanya jalan kemana dan endingnya begimana deh.
Sadira dan Zeus, keduanya dipertemukan lagi setelah sekian tahun pisah dalam kondisi yang nggak banget. Zeus ninggalin dan menjauhi Sadira gitu aja, tanpa penjelasan. Saat bertemu lagi Sadira yang emang masih menaruh harapan pada Zeus tentu menyambut uluran tangan Zeus. Bahkan saat Zeus menciumnya Sadira iya-iya aja, sampai Zeus tetiba mengusirnya dan luka itu datang lagi. Saat terluka itulah Alvaro datang bak ksatria berbaju zirah. Emang sih awal pertemuan Dira-Varo ini nggak ngenakin, tapi dari awal Varo kaya udah feeling aja buat ngelindungi Dira. Varo yang kebetulan juga sahabat Zeus akhirnya tahu kisah Dira-Zeus. Berbekal alibi bakal bantuin Dira buat dapetin hati Zeus lagi Varo ngajakin Dira buat pacaran boong-boongan—padahal ya tujuan Varo biar bisa lebih deket sama Dira. Zeus yang punya pandangan buruk soal Dira ngga terima kalo Varo sama Dira pacaran, mengingat status dan kondisi Dira mirip banget sama mantan pacar Varo yang super brengsek dan sempet bikin hidup Varo terguncang. Zeus bicara dengan Zira dan mencoba memisahkan keduanya. Karena status pacaran bohongan Dira-Varo, dan Varo yang berjanji bakal melepas Dira kalau ada tanda-tanda Zeus suka Dira, maka ketika saat itu tiba Varo yang salah paham langsung menyimpulkan waktunya “bermain” dengan Dira udah habis, the end. Dilain pihak Sadira malah jatuu cinta sama semua yang Varo usahakan buat Dira—Hilih! Tapi tenang aja gaes, konfliknya nggak separah itu dan bahkan cenderung ringan kok. Nggak lama Dira nyamperin Varo yang juga udah niat buat nyamperin Dira dan mengakui kalau sebenernya dia cinta mati sama Dira. Nggak lama setelah itu, kaya cerita Cinderella, sang pangeran pun menikahi si upik abu—eh sama emang ya? wqwq.
Alasan utama beli buku ini karena Gramedia mau ngadain Lomba nulis AMORE dan sebagai orang yg nggak pernah baca AMORE, jadilah dibeli.
Pertama, kaget karena tidak tercantum nama editor di buku ini. Apakah itu berarti naskah yg diterbitkan nggak melalui editor dulu?
Tapi setelah baca sampai akhir, sepertinya dugaan nggak ada editor itu bener. Aku nemuin beberapa hal yang sebenernya minor tapi buat orang yang teliti, akan jadi masalah.
Satu, ketidak konsistenan penggunaan kata 'tidak' dan 'nggak' oleh Dira dan Alvaro. Ada beberapa kalimat dimana mereka menggunakan kata 'tidak' ketika sebelumnya menggunakan kata 'nggak'. Kemudian, di hal 84, ada kalimat "Zeus menggeleng dan memiringkan kepala seolah bertanya" padahal dalam adegan itu, yang ada hanyalah Dira dan Alvaro. Yang terakhir, penggunaan kata "ibu". Dira menggunakan kata "Ibu" tapi kemudian menggunakan kata "bunda".
Menurutku, novel ini datar banget. Emosi tiap tokohnya nggak kerasa dan terkesan terburu2 ketika ada banyak hal yang perlu dijelasin. Terkesan terlalu mengadaptasi Harlequin hingga ciri penulis Indonesia-nya malah tidak terlihat. Totally flat from beginning to finish.
Overall, karena niat awalnya cuma buat referensi jadinya nggak ngarepin banyak ama buku ini. Apalagi di akhir halaman dijelaskan bahwa penulis sedang menyiapkan buku kedua dan ketiga lanjutan Cinderella Tuathina. Let's hope the 2nd and 3rd book won't be this flat.
Alurnya sangattttt buru-buru. Tidak ada masa lalu Sadira dan Zeus sama sekali. Juga tiba-tiba Alvaro sudah jatuh cinta kepada Sadira begitu saja. Waktu yang mereka habiskan gak ada sama sekali. Terus novel ini kebanyakan narasi deh kayaknya -__- Dialognya mungkin hanya 20%.... Well membosankan menurut saya. Jadi saya hanya baca lompat2
Masih sama dengan inti cerita dari kota Tuathina lainnya. Alur cerita di buku ini juga masih mengangkat tema yang hampir serupa tapi beda jalur dengan cerita lainnya. Keseruannya masih sama dengan setting cerita yang digambarkan dengan indah dan memukau dan jujur aku sampe googling lohh Tuathina ini beneran ada atau hanya fiktif belaka :D
Apa yang kita harapkan dari orang yang awalnya mengumbar kata-kata cinta tetapi akhirnya pergi tanpa meninggalkan sepatah kata? Berharap dia kembali kah? Ingin dia berlutut dan memohon diberi kesempatan lagi kah?
Sadira dibawa ke langit tertinggi oleh Zeus, lelaki yang ia cintai. Namun tanpa penjelasan sedikit pun, Sadira kemudian dihempas dengan kasar kembali ke bumi. Zeus pergi, bermesraan dengan wanita lain, mengoyak hati Sadira menjadi berkeping-keping. Tapi kemudian selang beberapa tahun, Zeus kembali. Sekali lagi ia menawarkan cintanya kepada Sadira. Cinta itu masih ada. Walau sakit, cinta itu masih disana, tumbuh dihatinya. Ketika Sadira dengan perlahan menyambut ajakan Zeus untuk kembali kepadanya, Zeus mematahkan bunga cintanya lagi.
Sakit hati bisa lebih menyiksa daripada sakit fisik. Setidaknya, pikir Sadira, kalau jarinya teriris pisau, ia tahu asal dirawat dengan seksama kemungkinan untuk pulih sangatlah besar. Sementara kalau masalah hati...
Sadira merasa bodoh dan dipermainkan. Betapa polosnya dia berharap Zeus akan mencintainya. Zeus memang menyukainya, tapi ia termakan perkataan orang lain. Ia buta tak bisa melihat cinta yang tulus dari Sadira. Desas-desus berkata Sadira yang bekerja sebagai housekeeper adalah wanita simpanan, milik semua orang, mudah disewa, asal pelanggan punya tips besar. Zeus yang awalnya cinta, menjadi benci dan jijik pada Sadira.
Sadira dihakimi secara sepihak. Tanpa perlawanan ia seakan menyerah, terlalu lelah untuk membela diri. Kemudian munculah Alvaro, rekan bisnis Zeus sekaligus sahabat baiknya. Ia menawarkan hubungan kontrak. Agar Zeus cemburu dan berbalik mengejarnya. Sadira tak yakin ia mau menjalani kebohongan ini, tapi Alvaro kelihatan tulus ingin membantunya. Lagipula, pesona Alvaro membuatnya bingung dan bimbang, apakah ia ingin menjalankan kebohongan ini semata-mata karena ingin melihat Zeus cemburu atau sebaliknya ia ingin berdekatan dengan Alvaro? =)
Kalau disuruh memilih, aku masuk Team Alvaro. Aku suka dengan dia yang menganggap wanita sederajat dengan pria. Alvaro dengan jelas meminta Sadira untuk jujur dalam mengungkapkan pendapatnya. Dalam suatu hubungan, baik Alvaro dan Sadira bukanlah guru, melainkan murid. Alvaro ingin mereka sama-sama belajar dalam membina hubungan yang mereka jalani.
Dulu sekali, Sadira Devi pernah jatuh cinta pada Zeus. Jangan heran saat tahu namanya yang.. wow. Zeus: tampan, keren, kaya, cerdas, pokoknya lelaki impian para wanita lah.
Ya, Sadira pernah mencintai Zeus. Pernah! Tapi sekarang ia dan Zeus sudah tidak bersama-sama lagi. Zeus tiba-tiba menjauhi Sadira seakan Sadira itu kuman atau penyakit. Tanpa alasan, Zeus pergi. Meninggalkan Sadira dalam tanda tanya.
Tapi.. takdir mempertemukan mereka kembali. Sadira mendapatkan pekerjaan di Tuathina--dimana setahu Sadira, Zeus ada di sana. By the way, Sadira ini seorang housekeeper. Di Tuathina pun ia menjadi seorang housekeeper di salah satu hotel. Di sanalah ia bertemu Zeus kembali. Dan anehnya, Sadira masih berharap Zeus masih mencintainya. (Susah banget ya, move on dari orang se-perfect Zeus? Bukan susah! Sadira cuman pengen tahu alesan Zeus menjauhinya, kok..)
Dalam pertemuan yang kebetulan itu, Zeus mengajak Sadira makan malam. Sadira yang berpikir mungkin dengan ini dia bisa tahu alasan Zeus menjauhinya dulu pun langsung mengiyakan. And yeah.. it's a romantic dinner. Tapi nggak lagi setelah Zeus mencium Sadira dan tiba-tiba mengusirnya pergi dengan kasar!!
Di tengah keterpurukan, Sadira bertemu Alvaro. Alvaro ini sahabat baiknya Zeus. And.. you know what? Setelah tahu perilaku Zeus terhadap Sadira, Alvaro langsung menawarkan diri untuk menjadi pacar pura-pura Sadira. Untuk memberi pelajaran pada Zeus! Nah, bersediakan Sadira menerima tawaran itu? Benarkah niat Alvaro membantu Sadira semata-mata hanya untuk memberi pelajaran pada Zeus? Baca sendiri. :)
Selesai, yeah \m/ buku pertama yang bergenre 'amore' yang kulahap dalam beberapa hari menjelang tidur saja. Hehehe. Tapi karena ceritanya yang mudah ditebak jadi ya kuberi bintang tiga saja dikarenakan juga pemakaian diksinya yang bagus. Pasti penulisnya ini tipe-tipe orang yang romantis, tidak seperti aku #dor. Pemakaian diksinya yang bagus ini mendukung penggambaran si tokoh dengan baik terlepas dari sedikit ketidakkonsistenan penggunaan kata dan kesalahan penulisan nama. Hihihi... pasti banyak yang sadar deh kesalahan nama itu kan.
Ini buku yang simple dan happy ending tentunya. Apa emang genre amore itu selalu happy ending ya? Entahlah...Namun dari ceritanya sih agak membosankan karena alurnya yang cepat dan kurang klimaks, datar-datar saja. Kurang gregetnya.
Ceritanya bermula dari Sadira yang jatuh cinta pada Zeus namun kemudian hubungannya yang tiba-tiba tidak berjalan karena Zeus yang menjauhinya tanpa sebab. Dan kemudian mereka bertemu kembali dan makan malam yang berakhir dengan Zeus yang lagi-lagi mencampakkan Sadira. Di hari yang sama dan malam yang sama, Sadira tidak diduga-duga bertemu dengan Alvaro yang menunjukkan sikap menyebalkan tapi memiliki kehangatan hati--dor--dan pria itu mau membantu Sadira dengan menjadi kekasih pura-pura. Dari sinopsinya aja dah ketahuan, pada akhirnya Sadira memilih siapa, bukan? (sory tidak mau spoiler, hihihi ;).)
Sebenarnya tidak apa sih endingnya gampang tertebak, dan awalnya ku berharap ada satu kejadian yang buat tidak biasa, tapi...silahkan baca deh. ya begitulah, tiga bintang saja. Cocok buat yang mau baca cerita simple dan ringan.
Pertama baca yang judulnya Putri Tidur Tuathina, lalu kedua baca ini. Gitu gue mah orang nya suka kebalik-balik kalo baca :(
Baiklah kalau dibanding buku pertama nya ini, entah kenapa gue lebih suka dengan buku ke3 PTT itu. Kali ini alir agak sedikit lamban dan jujur gue baca nya agak males2an karena merasa bosan. Bukan berarti cerita ini jelek, gue suka dengan tokoh2 nya terutama Zeus, yang kalo menurut gue cool gitu walau sinis. Untuk keseluruhan ceritanya juga lumayan oke walau agak sedikit ngenes.
Sadira yang dulunya berteman dengan Zeus ini tiba2 agak aneh karena Zeus menjauhi dirinya dan bersikap dingin. Padahal mereka saling mencintai. Hanya aja Zeus salah paham, dia mengira kalau Dira ini semacam cewek panggilan dan murahan. Dia gk tau kalau ternyata selama ini Dira kerja mati2an untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang sedang sakit. Saat ibunya meninggal pun, Zeus gk tau dan tetap memandang rendah Dira walau dia mencintainya.
Akhirnya muncul Alvaro, sahabat Zeus yang menawarkan bantuan untuk menjadi kekasih pura2 Dira dan membuat Zeus cemburu. Yang gk disangka kedua mya, mereka jatuh cinta dan ya sampai nikah juga.
Ngenes jadi si Zeus ini ya. Salah paham, sinis sama Dira, malah bikin dia keilangan cewek yang disayanginya.
Dengan begini jadi penasaran dengan buku kedua yang menceritakan kisah cinta Zeus selanjutnya.
Sadira Devi pernah jatuh cinta pada Zeus. Hubungan mereka sepertinya lancar sampai Zeus menjauhkan diri. Sadira berusaha meminta penjelasan, namun perlakuan Zeus yang dingin membuatnya patah semangat. Kemudian Sadira memutuskan untuk memulai lembaran baru. Ia pindah bekerja sebagai housekeeper di sebuah hotel di Tuathina.
Pertemuan kembali Sadira dan Zeus di Tuathina membuat gadis itu berdebar-debar. Namun setelah makan malam yang istimewa dan ciuman yang mesra, Zeus mencampakkan Sadira begitu saja.
Badai salju membuat Sadira terpaksa menjadi staf hotel sementara di tempat Zeus menginap. Di hotel itu pula Sadira bertemu Alvaro, rekan kerja Zeus yang dikenal maniak dan suka “menyiksa” para housekeeper. Begitu mengetahui ada masa lalu di antara Sadira dan Zeus, Alvaro menawarkan solusi untuk menjadi kekasih pura-pura Sadira, agar rasa cemburu Zeus tersulut dan mereka bisa kembali bersama.
Tawaran itu sungguh gila dan tidak masuk akal, dan Sadira sulit menolaknya. Tapi sebenarnya apa yang sulit dia tolak—kesempatan mendapatkan Zeus, atau sosok Alvaro sendiri?
Saya g suka gaya bahasanya yg terlalu mendayu2 dan puitis setengah mati sehingga kelebihan kadar dan rada membuat eneg. Saya pembaca setia buku roman, tp novel yg satu ini bnr2 lebay dlm penggunaan majas. Dan saya bnr2 g respek sama tokoh wanita yg terkesan 'murahan'. Sudah diperlakukan seperti itu oleh Zeus tp masih saja jatuh ke dalam perangkap yg sama. Buku ini... FTV sekali. Tidak bnyk yg bs saya katakan ttg buku ini. Setidaknya saya menyelesaikan, dibanding adik saya yg dengan cueknya memutuskan untuk tidak lanjut baca setelah 3 hlmn pertama.
sebenernya saya bukan penggemar novel amore. ini novel amore kedua yang saya baca setelah Lullaby. tertarik beli dan baca novel ini karena sinopsisnya yang terkesan seru dan bikin gregetan. tetapi setelah saya baca 10 halaman, saya merasa bosan karena kurangnya dialog di antara kedua tokoh. akhirnya saya baca dengan metode scanning. terlalu banyak narasi yang menggunakan analogi, ini malah membuat saya bingung.
berhenti di tengah. Bintang satu bukan berarti buku ini jelek. Cuma aja aku berada di titik bosan. Ide ceritanya ky skenario ftv kebanyakan. Karakter ceweknya kurang kuat. Gak bisa review banyak. Krna blm selesai baca. *review gak resmi* well, aku gak suka perempuan kayak gini. Gak menantang. Dan bukan aku banget, sebagai cewek, kalo udah disakitin sekali, kenapa mau disakitin lagi? Kayak jatoh ke lubang yang sama.
2 bintang untuk jalan ceritanya yg datar dan terkesan terburu-buru. Lack of chemistry di antara tokoh2nya. Terlalu banyak deskripsi miskin percakapan. Beberapa kali menemukan penulisan kata yg tidak pada tempatnya, kalimat yg sedikit janggal dan typo tentu saja. Editornya mana? Tapi plus 1 bintang untuk negara rekaan yang bernama Tuathina, negara kecil yang indah, berdekatan dengan Italia.
Kurang greget isinya. Ekspetasi dari sinopsisnya lebih dari ini. Karakter tiap tokohnya kurang digali lagi. Jadi terkesan biasa aja..Dan terlalu banyak narasi, percakapannya kurang jadi sedikit ga ngerti dengan maksud dari tiap adegannya..
Dialog yang membuatnya dapat bintang tiga. Entah itu antara para tokoh yang terlibat atau dialog internal dalam otak tiap tokoh. Bikin tergelak. Lumayan menghibur.
Bab-bab akhir sepertinya sudah tak sempat dicek lagi oleh editor. :(
beli buku ini karena suka cover nya pas baca sih datar aja saya gk butuh waktu 1 jam buat baca buku ini.cepet bgt bacanya soale emang gk tebel juga :))