Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kembang Jepun

Rate this book
Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar; dan pernah berantakan, tapi kini kembali menggaung, karena nurani yang tidak pernah menyerah. Ia dipijak, dianiaya, diperkosa, dan dipaksa untuk mati, tapi tak pernah ia merasa kalah, tak pernah ia binasa...

DDC: 813

325 pages, Paperback

First published January 1, 2003

22 people are currently reading
288 people want to read

About the author

Remy Sylado

34 books144 followers
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
131 (23%)
4 stars
168 (30%)
3 stars
199 (35%)
2 stars
49 (8%)
1 star
11 (1%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
Profile Image for Melody Violine.
Author 27 books45 followers
May 1, 2012
Kemegahan Cinta Selama Tiga Zaman

Plot utama dalam novel ini adalah kisah cinta antara Keke dan Tjak Broto. Perjuangan mereka mengarungi hidup dan mempertahankan cinta mereka telah melalui tiga zaman: zaman kolonial, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Mereka dipermainkan oleh nasib, dipisahkan oleh jarak, diasingkan oleh waktu. Berkali-kali mereka bersilangan sampai hampir pupus harapan. Akan tetapi, takdir mempertemukan mereka kembali karena mereka masih saling cinta.

Pada zaman kolonial atau zaman penjajahan Belanda, Keke dan Tjak Broto bertemu untuk pertama kali. Saat itu, Keke adalah geisha bernama Keiko di Shinju, sebuah tempat usaha milik orang Jepang di Kembang Jepun, sedangkan Tjak Broto wartawan surat kabar di Surabaya. Cinta tumbuh di antara mereka. Sebagai simbol cinta mereka, Tjak Broto memberi Keke sebuah liontin yang terpatri mantra supaya pemakainya dikasihi. Beberapa tahun kemudian, Keke meninggalkan Shinju untuk menikah dengan Tjak Broto. Mereka menikah di rumah Mbah Soelis, nenek Tjak Broto dari pihak ayah, karena kurang disetujui oleh ibu Tjak Broto.

Pada zaman penjajahan Jepang, hidup semakin sulit. Tjak Broto membawa Keke pindah dari Surabaya ke Blitar untuk menjadi petani di tanah milik Mbah Soelis. Karena suatu kesalahpahaman, Tjak Broto ditangkap dan hendak dieksekusi oleh Jepang. Sayang dalam usahanya membebaskan Tjak Broto, Keke malah harus menghadap Hisroshi Masakuni, seorang pelanggannya dulu ketika masih bekerja di Shinju. Komandan Jepang itu menahan dan memaksa Keke menikahinya. Pada zaman pendudukan Jepang ini jugalah persilangan yang pertama terjadi. Pada saat orang-orang Jepang diasingkan ke Kalisosok, Keke melihat Tjak Broto di antara keramaian pribumi. Akan tetapi, Keke yang dipaksa mengenakan seragam tentara Jepang oleh Hiroshi Masakuni tidak tampak oleh Tjak Broto. Keke “dipulangkan” ke Jepang.

Pada zaman kemerdekaan, Keke dan Tjak Broto terpisah ribuan kilometer jauhnya. Keke harus menjalani tahun-tahun pertamanya di Jepang sebagai “istri” Hiroshi Masakuni. Setelah sampai kabar bahwa Hiroshi Masakuni tewas dalam tugas di Korea, Keke keluar dari rumah keluarga Masakuni. Dengan bantuan Yoko, rekannya sesama geisha di Shinju dulu, Keke mulai mengumpulkan uang untuk kembali ke Indonesia.

Sekembalinya di Indonesia, Keke menemui Mbah Soelis di Blitar. Ternyata Tjak Broto sudah menikah lagi karena mengira Keke sudah lama tiada. Keke memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Minahasa walaupun di sana sedang terjadi pemberontakan Permesta. Dalam perjalanannya, Keke ditangkap dan ditahan oleh antek-antek Permesta karena dituduh sebagai mata-mata pemerintah pusat.

Bagaimana Keke dan Tjak Broto dapat bertemu lagi 25 tahun kemudian merupakan mukjizat Yang Maha Kuasa. Meskipun keduanya sudah tua dan tidak cantik lagi, meskipun zaman telah berganti dua kali, mereka masih saling cinta, sebagaimana Keke masih menyimpan liontin pemberian Tjak Broto beberapa puluh tahun silam. Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar, dan pernah berantakan, tapi kini kembali, karena nurani yang tidak pernah menyerah (Sylado, 2003: 317).

Remy Sylado berhasil menggambarkan cinta yang murni dan tidak egois. Tjak Broto tulus mencintai Keke walaupun wanita yang dikasihinya itu tidak dapat memberikannya keturunan. Keke juga tidak segan-segan pergi ke Surabaya demi mengusahakan pembebasan Tjak Broto ketika suaminya itu hendak dieksekusi oleh Jepang. Ketidakegoisan tampak manakala Keke tidak memaksa untuk bertemu dengan Tjak Broto yang sudah menikah lagi.

Profesi Keke sebagai geisha amat mempengaruhi pola pikirnya. Sebagai geisha, Keke menganggap pekerjaannya melayani banyak lelaki adalah suatu kebenaran. Akan tetapi, sejak menerima lamaran Tjak Broto, Keke mulai mempertanyakannya. Selain itu, nilai-nilai kehidupan Jepang yang diajarkan padanya selama di Shinju bercampur dengan nilai-nilai sebagai wanita Indonesia modern yang ditanamkan oleh suaminya. Keduanya mempengaruhi hidup Keke baik dari pola pikir maupun sikapnya.

Latar belakang yang kuat adalah ciri khas dari novel-novel karya Remy Sylado. Kembang Jepun, seperti yang telah disebutkan di novelnya, adalah nama sebuah jalan tak jauh dari Jembatan Merah di Surabaya. Kembang Jepun tadinya bernama Handelstraat. Kupu-kupu malam dari Negeri Sakura yang menjadi bagian dari geliat malam jalan tersebut membuat orang-orang memberinya julukan Kembang Jepun. (www.arsitekturindis.com)

Selain latar belakang tempat, latar belakang waktu juga digarap oleh Remy Sylado dengan sangat teliti. Tiga zaman yang dialami Keke digambarkan sesuai dengan catatan sejarah yang ada. Pada akhir cerita, Remy dapat membuat pembacanya bertanya-tanya apakah cerita dalam novel ini benar-benar pernah terjadi atau dengan kata lain, apakah Keke dan Tjak Broto benar-benar (pernah) ada.

Kembang Jepun dapat dibandingkan dengan Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden karena keduanya sama-sama mengangkat cerita kehidupan seorang wanita yang (pernah) menjadi geisha. Perbedaannya adalah, Memoirs of a Geisha menggambarkan kehidupan seorang geisha secara menyeluruh dan lebih mendetail. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama (akuan), Kembang Jepun lebih berhasil dalam menyentuh hati pembacanya. Perasaan Keke lebih tersampaikan pada pembaca daripada perasaan Chiyo, tokoh utama dalam Memoirs of a Geisha.

Kemegahan cinta Keke dengan Tjak Broto selama tiga zaman dalam Kembang Jepun memberi kita gambaran akan cinta yang tulen, cinta yang sungguh, atau yang kerap kali disebut-sebut sebagai cinta sejati. Cinta yang seperti itu tidak pernah merasa kalah karena ia selalu mengingatkan orang untuk selalu bertahan dalam penyerahan kepada-Nya.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
September 29, 2015
Pasca Ca Bau Kan sama Namaku Mata Hari, baca buku karangan Remy Sylado berarti harus siap sama detail sejarah yang tanpa lubang. Angkat cerita mulai zaman penjajahan Belanda, Jepang, balik Belanda lagi, butuh riset yang nggak sedikit. Remy Sylado memang nggak main-main sama sejarah. Keren!

Ambil latar belakang Soerabaia tempo doeloe, yang kebetulan selalu bikin saya tertarik banget, Remy memang nggak sedetail penggambaran Lan Fang di bukunya Perempuan Kembang Jepun. Bukan berniat membandingkan, tapi dengan tema yang sama, bagi saya, Lan Fang seakan lebih paham Surabaya.

Keke - Tjak Broto seakan blessing in disguise lah, ya. Apa aja halangan, rintangan, badai menghadang, cerita mereka ibarat pengejawantahan "yang namanya jodoh, nggak bakal lari ke mana". Jarak beribu kilometer, dan sekian banyak cerita menyayat yang dilewati, tapi hati tetap di satu orang. Salut!

Lima bintang amat sangat pantas buat buku ini.
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
February 17, 2021
Saya merasa aneh. Karena kendati membaca sebuah roman sejarah, saya tidak ditinggalkan dengan perasaan sentimental setelah membaca seperti ketika membaca roman-roman sejarah lainnya, katakanlah seperti ketika membaca Bumi Manusia, atau Jane Eyre, atau mungkin Count of Monte Cristo. Ada nuansa jepang yang sangat terasa dalam buku ini. Keindahan yang sublim dan lembut, sama sekali tidak tergesa-gesa dan meledak-ledak. Malahan terkesan dingin. Tidak ada keistimewaan dalam gaya bercerita atau plot tertentu. Tidak ada drama-drama yang berlebihan. Semua sederhana. Tapi dalam kesederhanaan itu ada pesan kemanusiaan yang sangat kuat—tentang keyakinan, pengampunan, ketabahan, keteguhan dsb.

“tidak perlu bersedih pada masa lalu yang menyakitkan, tidak perlu risau pada masa depan yang merisaukan, hiduplah saja untuk hari ini dengan ketabahan dan penerimaan..kenanglah kehidupan sebagai sesuatu yang indah dan sakral, maafkan manusia, maafkan…hiduplah dan berbahagialah”..

Penulis pandai sekali sekali meramu imajinasi dan data sejarah—yang saya belum verifikasi dan saya rasa tak perlu; karena, seperti tokoh kekeh yang bertutur dalam kisah ini, dia tak tertarik dan kurang mengerti politik. Dia manusia sederhana yang menyukai keindahan, jatuh cinta dan kebetulan hidup di masa-masa yang penuh gejolak. Pesan penulis soal kemanusiaan yang kuat, dan saya pikir buku ini akan sangat dekat dengan pembaca terlepas latar belakang manapun.

Saya agak kecewa, pada bagian akhirnya. Saya menanti-nanti, mungkin akan nada sedikit penyingkapan, moment of revealation dari si Keke, sebagai orang yang bercerita..mengingat Keke adalah tokoh utama yang didera dengan penderitaan sepanjang cerita. Tidak ada. Saya rasa bagian akhir ditutup dengan sangat tergesa-gesa dan tidak komplit, sangat beda rasanya ketika membaca bagian awal dan tengah yang terasa lebih pelan dan dalam.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
October 14, 2009
Sebagai penggemar historical fiction saya suka dengan buku ini. Remy secara detil menggambarkan latar belakang situasi sejarah saat itu. Isi cerita adalah drama percintaan namun menjadi unik karena tokohnya seorang perempuan manado yang menjadi seorang geisha, perempuan penghibur ala Jepang.

Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
November 17, 2015
Saya suka kalimat pertama dan kedua dalam novel ini: Saya geisha. Dan saya suka menjadi geisha. Dua kalimat ini yang membuat saya langsung cus ke perpustakaan kampus untuk meminjam novel ini yang ternyata lumayan banyak persediaannya di perpus kampus saya. Pada bab tiga, baru saya temukan siapa sesungguhnya si ‘saya’ yang sedang bercerita ini. Tokoh utama dalam novel ini adalah ‘saya’, yang bernama Keike, atau sebenarnya Keke, dan suaminya, Tjak Broto. Dalam novel ini ditekankan berkali-kali bahwa geisha bukanlah pelacur, mereka adalah semacam seniman, dan karena itulah Keiko bangga menjadi geisha. Dan Tjak Broto, menurut saya, adalah gambaran laki-laki pribumi ‘vokal’ (progresip repolusyoner) yang hidup pada zaman penjajahan Belanda dan juga Jepang.

Tapi terdapat beberapa kejanggalan dalam novel ini, di antaranya; kegelisahan Keke kecil yang baru meninggalkan keluarganya kurang diperlihatkan, memang sejak awal lebih fokus pada Keke dewasa, yang telah menjadi dan bahkan bangga menjadi geisha, tapi jimat apakah yang dimiliki Keke kecil sampai bisa menjaid begitu tangguhnya ketika harus hidup jauh dari orang tua? Lalu, Paimin seperti tokoh yang ‘diada-adakan’.

Endingnya terburu-buru. Karena mungkin novel ini tujuannya sebagai representasi keadaan Indonesia pada zaman penjajahan dan pra revolusi, tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Namun, saya tetap tidak terlalu menikmati bagian akhirnya, terburu-buru, menurut saya, sehingga rasanya tidak seperti ketika membaca bagian awal sampai bagian tengah.
142 reviews
October 8, 2009
Buku yang menarik. Pengarang menguasai variasi materi yang dituturkannya dalam cerita.

Yang lucu dari hasil membaca buku ini ialah: saya baru tahu kalau "brug" itu bahasa belanda, selama ini saya pikir itu bahasa Jawa!! Sejak kecil saya menggunakan kata itu dalam percakapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa daerah tanpa menyadari asal katanya. Ha..ha..
Profile Image for Danu Primanto.
15 reviews1 follower
February 17, 2010
Suatu cerita tentang kolonialisme, peperangan dan masa awal revolusi, dengan cara paling personal & intim dari seorang Geisha, pelayan seni keindahan para laki-laki, yang dengan caranya sendiri mencoba menjadi waras, setia dan yang terpenting, memahami situasi yang terjadi, untuk bisa bertahan di masyarakat yang kala itu menjadi merosot hidupnya karena kekacauan dan kemelaratan.
Profile Image for Haifa Afifah.
36 reviews1 follower
September 18, 2019
[ Book Review ]
Kembang Jepun - Remy Sylado
Gramedia 2003

Cerita tentang Keke, gadis minahasa yang dibawa kakaknya Jantje ke Surabaya bertemu Kotaro Katamura yang mendirikan restoran Jepang.

Ada 5 anak berumur 9 tahun yang dibawa Jantje, tapi sebagian cacat kecuali Keke dan anak satunya.

Jantje awalnya akan menyekolahkan Jantje ke Batavia, tapi karena perundingannya dengan Kotaro gagal akhirnya Keke belajar adat budaya Jepun dan menjadi Geisha di Shinju.

Keke yang berubah nama menjadi Keiko sampai umur 13 tahun ia dididik menjadi Geisha oleh Yoko, Geisha senior di Shinju.

Selama ia mendalami pekerjaannya sebagai Geisha ia bertemu dengan Tjak Broto yang mengajaknya menikah,

Dan dari situlah awal petualangan Keke selama penjajahan Belanda-Jepang-Eropa.

Banyak konflik yang tak diduga, seperti tidak direstui oleh ibu Tjak Broto, kaburnya Keke dari Shinju yang membuaf Kotaro mencari cari.

Pergi ke blitar bertemu Mbah Soelis menikah disana, kembali ke surabaya, Tjahaya Soerabaya ditutup balik lagi ke blitar menjadi petani, dijajah jepang dalam romusa lalu difitnah bersekongkol dengan tentara PETA dan hampir dihukum mati.

Tjak Broto bebas tapi Keke dipaksa kawin oleh antropolog jepang yang sementara jadi polisi militer.
Lalu hirosima dan nagasaki di bom amerika dan jepang dinyatakan mundur.

Keke masih tertawan sampai ia harus ke jepang dibawa pergi dan tak satupun surat mengabarkan kepada Tjak Broto kalau Keke masih hidup.

Konfliknya sangat banyak, alur berjalan maju penuh drama, tak mampu saya ceritakan disini semua karena memang sangat banyak.

Intinya Keke mengalami banyak perlakuan buruk juga Tjak Broto, meski akhirnya Tjak broto menjadi pengusaha sukses sementara Keke tinggal dihutan selama 25tahun.

Dibalik konflik peperangan terdapat kisah cinta yang tulus.

Tentunya pembaca takkan pernah dibuat bosan. Ini tidak seperti Novel Romance pada umumnya.
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
December 26, 2017
Kisah sebuah kehidupan geisha dengan setting Surabaya sekitar tahun 1940-an. Kisah cinta Keke seorang gadis Minahasa yang dididik menjadi geisha dan berubah nama menjadi Keiko. Dalam kehidupannya sebagai geisha, Keiko jatuh cinta kepada Cak Broto seorang wartawan pejuang. Perjuangan dan penjara telah memisahkan mereka, namun cinta mereka tetap teguh mengarungi gelombang kehidupan.

Membaca buku ini, kita dihadapkan pada kepiawaian Remy Sylado dalam melakukan riset sejarah dan juga detail-detail budaya kehidupan geisha. Dia bisa menggali kedalaman budaya geisha dan tidak hanya dari sisi kulit luarnya. Luar biasa!!!!
Profile Image for Beatrix.
35 reviews1 follower
October 3, 2017
Tajam tetapi mengayun emosi.
Indah tetapi sekaligus keji.
Beberapa kali meluap tetapi ingat cerita ini fiksi. Patut angkat topi.

Kata kata yang membekas di bagian awal adalah.... "...istiadat selalu meminta orang untuk berpihak padanya, dan siapa yang berpihak pada istiadatnya, selalu akan mencurigai istiadat orang lain".

Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
July 12, 2019
Aku suka karakterisasi tokoh-tokohnya, suka jalinan sejarah yang melingkupinya, juga suka endingnya. Tapi setengah perjalanan, terasa alurnya tiba-tiba jadi kelewat cepat dan terburu-buru. Mungkin karena penulisnya enggan menceritakan penderitaan Keke yang *sungguh terlalu* itu. Juga, episode di hutan itu juga... apa ya... janggal, terlalu dipaksakan sih menurutku.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
August 21, 2020
Bagus sih, suka ama sejarah nya. Tapi apa iya, kok setiap ditahan, keke diperkosa. Sejelek itu kah semua laki2 yang ditemuin dalam hidup nya?
2 reviews
April 25, 2022
Premis yang baik, sebuah cerita romansa yang dibalut dengan sejarah. Saya suka dengan beberapa dialognya yang matang, serta penceritaan berbobot yang dilakukan Remy Sylado.
Profile Image for Om Wawan.
43 reviews2 followers
January 19, 2023
Membaca buku ini, kita dibawa pada suasana tempo dulu dengan berbagai keterbatasannya, hasil olah data dan olah bahasa yang mumpuni...

Gaya ceritanya mengingatkan kita pada tulisan2 Pram di tetralogi pulau buru, mirip

Meski sy agak terganggu pada episode terlalu mudah dan kebetulannya pertemuan broto dan keke di tahun 1985 namun secara keseluruhan buku ini sangat direkomendasikan.., luar biasa

Ini cerita tentang cinta yang tak terkandaskan
Profile Image for Ria.
113 reviews
September 28, 2014
Pertama, maafkan saya jika memberi rating pada buku ini hanya karena saya jatuh cinta pada ceritanya. Pada roman dan sejarah. Kedua, membiarkan diri saya sendiri berkali2 membaca satu atau dua halaman buku ini berkali-kali, lalu meninggalkannya sebelum bada akhirnya benar-benar membaca buku ini dengan serius dan tuntas. Beginilah nasib pembaca moody ^_^ (tapi yang pasti saya bukan sekadar pembaca, halah!)

Perjumpaan saya dengan buku ini pertama kali adalah di JBF beberapa bulan lalu, sempat hendak meninggalkannya karena merasa over budget belanja. Tapi, berkali kali meraba sampulnya, merasa buku ini minta dibawa pulang. Setelah menawarnya, akhirnya penjualnya memberikan buku ini sebagai bonus tambahan dari 5 buku lain yang berhasil saya tawar. (pembeli gak tahu diri hihihi).

Ini adalah perkenalan pertama saya dengan Novel Remy Sylado karena sebelumnya saya hanya mengenal beliau lewat kumpulan puisi membling. Dan ternyata, rasanya setelah ini saya pasti akan mencari karya-karya lain dari beliau. Sungguh, saya terpukau dengan detail, kronologis sejarah, dan ketelatennya dalam buku ini. Juga catatan kaki penjelasan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda, Jepang, Jawa dan Menado. Sangat membantu kenyamanan membaca novel ini, tentu saja.

***

Jika novel ini selalu dikaitkan dengan buku Memoirs of Geisha, rasanya saya kurang setuju. Toh, cerita tentang Geisha ini bukan hal yang harus selalu dikaitkan dengan tulisan sebelumnya yang lebih mendunia. Geisha yang ada dalam buku ini adalah Kembang Jepun. Geisha yang dibawa ke Indonesia (Surabaya) puluhan tahun silam. Dan lagi, buku ini tidak menceritakan tentang apa dan siapa itu Geisha seperti dalam buku Arthur Golden. Tapi menceritakan tentang seorang perempuan Minahasa yang dibawa oleh kakak kandungnya sendiri untuk diserahkan pada seorang Jepang yang membuka Shinju. Sebuah kawasan di jalan Jembatan Merah Surabaya. Setelahnya dikenal sebagai jalan Kembang Jepun. Keke, perempuan itu akhirnya juga kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia, karena sejak usia 9 tahun dia sudah dididik sebagai Geisha, sebagai orang Jepang.

Lalu apa yang terjadi dengan Keke yang akhirnya diganti namanya menjadi Keiko? Ah, saya rasa saya seperti biasa, sinopsis buku ini pastinya sudah ada yang menuliskannya. Silahkan dibaca review2 yang lain atau mungkin lagi2 saya sarankan membaca bukunya.

Seperti kebanyakan buku roman sejarah, biasanya terlihat membosankan. Itu dikarenakan cerita selalu dikaitkan dengan keadaan sekitar pada masa itu. Dalam cerita ini, dari mulai sejarah pendudukan Belanda atas Indonesia, berganti Jepang, lalu menuju jaman peralihan kemerdekaan Indonesia dan sesudahnya. Kalau boleh saya bilang seperti masa tiga jaman dengan tiga kronologis sejarah sebelum dan sesudah kemerdekaan negara ini. Ada sisi kisah patriotisme, sampai roman tentang cinta dua orang yang dipisahkan oleh keadaan, ketidakpastian kondisi pasca perang. Jadi bagi saya, buku ini tidak membosankan kok. Sebuah roman biasa yang menjadi tidak biasa dalam balutan sejarah. Dan satu lagi, Remy Slyldo dalam buku ini menyajikan hubungan lintas suku dan keagamaan. Pluralisme.

Akhir kata ijinkan saya mengutip beberapa kalimat penutup dari buku ini.

Inilah kemegahan cinta yang tulen, yang pernah berakar, dan pernah berantakan, tapi kini kembali, karena nurani yang tidak pernah menyerah. Cinta yang sungguh memang tidak pernah merasa kalah, tak pernah ia binasa. Sebab demikian cinta yang tulen itu diboboti nurani, bahwa ia bukan peristiwa memanfaatkan kesempatan dalam waktu-waktu yang tidak tetap, melainkan ia adalah suatu mahkamah Ilahi yang terus dan tetap mengimbau-imbau orang seorang untuk bertahan dalam penyerahan kepadaNya. (317)

Tabik.
Profile Image for Virencia.
35 reviews12 followers
October 19, 2015
Sejatinya Remy Sylado laksana dalang.

Tokoh-tokohnya adalah wayang. Artifisial, monodimensional. Ada demi tersampainya cerita dalam kepala. Titik. Tidak hidup, bukan manusia. Tapi toh berterima.
Untung maha untung, Remy Sylado piawai menembang dan berdalang rupanya.

Sepanjang kisah kita dimbimbing narasi Keiko alias Keke, geisha oplosan tanah Minahasa. Saya mudah kasmaran pada buku dengan khas bertutur; dan Kembang Jepun, lewat suara Keiko, membawa kita sepanjang cerita dengan dayuan ala Melayu. Dashyat memikat pada kerlingan pertama.

Namun, pembaca boleh tertegun menyimak Keiko bercerita laiknya kepada pewawancara, suatu waktu di masa tuanya, di mana semua kejadian hidupnya tak lebih dari kenangan belaka. Sungguhpun hidupnya banyak naik turunnya, sesak oleh momen-momen yang menggetarkan sukma, toh mereka rasanya hambar saja. Kalau mahu kita lihat secara peristiwa, hidup Keiko penuh sejuta siksa sesungguhnya. Dijual. Ditampar. Direndahkan. Diperkosa. Dikawin paksa. Diculik. Diperkosa lagi. Beramai-ramai pula.

Bisa kita bayangkan perkembangan batin Keiko sebagai manusia, didera itu semua. Namun takjubnya saya, Keiko menepis itu semua atas nama kekuatan cinta dan dengan ungkapan pamungkas, "Terserah nasib saja." Keiko bukannya karakter yang tidak dinamis. Beberapa kali ia membenci dan mendengki. Namun dalam semesta Keiko, air mata melarutkan semua rasa. Tatkala ia bertangisan dengan lawan batinnya, selesai sudah semua perkara.

Jalan pintas macam ini tampak pula pada karakter-karakter lain. Pada Yoko, misalnya, yang semula bersikap sebagai kakak pembimbing, kemudian jadi rival yang mendengki, hingga akhirnya jadi sahabat sehidup semati.
Penuh gejolak, namun Remy Sylado memilih untuk tidak berlama-lama menggambarkan perkembangan karakter-karakternya. Kuat duga saya, lantaran ia punya agenda lebih besar di balik sekadar mengurusi hidup Keiko yang penuh derita.

Lebih dari sekadar kisah kasih yang mendayu-dayu, kehidupan Keiko tak ubahnya teropong antropologis akan kehidupan rakyat nusantara pra kemerdekaan. Remah-remah detail disusun begitu seksama, hingga percayalah kita bahwa Keiko mungkin tidak nyata, namun sejatinya mewakili sekian jumlah wanita tanpa nama yang menjalani kehidupan sebagai geisha oplosan dan jadi saksi pemerintahan tiga zaman. Dengan atribut bahasa tiga (atau lebih) (saya yakin lebih) budaya, angka-angka berlandaskan fakta, nukilan sastra negara tetangga, KEMBANG JEPUN utuh selaku ensiklopedia metaforis.

Kendati, Remy belum tuntas membuktikan diri. Seolah tidak ingin eposnya goyah, di akhir cerita KEMBANG JEPUN memang masih kukuh berpegang pada "kekuatan cinta mengalahkan segalanya". Namun jalan menuju ke sananya agak canggung terasa. Menuju akhir cerita, Keiko didera semakin gila dan tetiba menerima mukjizat bernama karma. Pemerkosa Keiko menemui ajal akibat kejut luar biasa. Keiko selamat karena si ini ternyata kenal si itu yang ternyata anu. Apa bukan tergesa, ketika ini semua habis tertuang dalam dua halaman saja? Hela napas kecewa jadi wajar rasanya.

KEMBANG JEPUN tidak sukses sebagai epos cinta, namun kekayaan semestanya bulat jadi pelipur lara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Riani.
34 reviews
November 1, 2012
yak... akhirnya novel ini berpulang juga, setelah dipinjam lebih dari seminggu hingga di denda. tapi meski pinjam lebih dari seminggu tetap saja buku ini tidak sepenuhnya selesai saya baca. mungkin tepatnya 'loncat-loncat kayak kangguru'(jauh-jauh) ketika baca buku ini.

yang aku rasa saat baca buku ini sih, bosaan, jaman dulu banget, dan bukan tipeku banget.

inti ceritanya sih dapat, dikit-dikit:
buku ini menceritakan tentang Keke, seorang gadis indonesia yang tidak sengaja dijual oleh sang kakak kepada seorang Jepang, Kotaro Takamura, yang membangun restoran + geisha di Surabaya. Keke didandani mirip Jepang dan diberi nama baru, Keiko. ia dijadikan geish direstoran yang dinamai Shinju. di Shinjulah Keke bertemu dengan Tjak Broto, suaminya kelak, seorang jurnalis yang semasa penjajahan Indonesia, bolak-balik masuk penjara. suatu ketika, pada masa penjajahan Jepang. Tjak Broto yang telah berstatus suami keke, dituduh sebagai pendukung pemberontakan dan dimasukan kepenjara. karena inilah Keke harus pergi menemui petinggi Jepang untuk memohon kebebasan suaminya, namun sebagai ganti kebebasan Broto, Keke terpaksa terkekang oleh Masakuni yang ingin menjadikannya istri.
disinilah mereka mulai terpisah dan baru bertemu kembali 40 tahun kemudian.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
April 28, 2015
Salut untuk segala hal tentang geisha, budaya Jepang selama masa pendudukan Belanda di Indonesia, pengetahuan Remy Sylado tentang bahasa (Jepang, Belanda, Jawa, Manado) serta haiku. Jujur, gw angkat topi untuk kerja keras beliau dalam mendalami semua itu, karena gw yakin, menyusun novel ini dengan atribut-atribut tersebut di dalamnya bukan pekerjaan mudah dan cepat.

Namun, gw nggak terlalu suka temanya yang roman banget. Kisah cinta Keiko a.k.a Keke dengan Joesoep Soebroto a.k.a Tjak Broto yang banyak banget rintangannya. Jujur gw akui, Keke ini manusia yg kuat. Diinjak, diremukkan, diperkosa, namun masih bisa bertahan meski tertatih-tatih. Hanya saja endingnya amat sangat berbau kebetulan, sehingga buat gw pribadi agak-agak bikin..yah, segampang itu-kah? Atau mungkin karena gw yg bacanya kepotong-potong, sehingga feel-nya jadi kurang?

Yang jelas, ini bacaan bagus dan gw rekomendasikan buat semua penggemar fiksi sejarah terutama sejarah Indonesia di masa-masa Revolusi.
Profile Image for Sandra dewi.
97 reviews7 followers
December 23, 2010
bosan....

duuuh dengan tidak mengurangi rasa hormat yang sangat besar pada pak Remy, tapi waktu baca novel ini bahkan di 2 bab pertama gw udah disergap rasa bosan yang amat sangat. Tidak ada rasa penasaran yang bisa bikin gw untuk terus membacanya....

jadi alhasil cuma baca 2 bab pertama dan 2 bab terakhir....

terlepas dari itu semua, novel ini membawa tema yang sangat menarik paling nggak dari segi sejarah. ga pernah nyangka bahwa pada tahun segitu pernah ada geisha (punya orang jepang) di Surabaya. Novel ini juga keren secara perasaan dipelaku yang notabenenya adalah seorang "pelacur" yang kalo digambarkan secara "sinetron" pasti penuh dengan penderitaan. Tapi dinovel ini Pak Remy tidak terperangkap dengan ide itu, dia tetap menampilkan keke atau keiko sebagai manusia lengkap, yang punya perasaan lengkap sedih, bahagia, senang, marah dll (bukan cuma sekedar sedih dan penderitaan seperti sinetron)...

jadi sampai sini sajalah pengalaman saya membaca "Kembang Jepun"..... ;)
Profile Image for melati hp.
13 reviews
Read
January 27, 2011
Lagi-lagi tugas kuliah. Tapi lupa mata kuliah apa. Ada kaitannya sama bahasa Indonesia deh. Kembang Jepung merupakan karya Remy Sylado yang tidak terlalu cemerlang karena kadung tenggelam dengan Ca Bau Kan dari penulis yang sama. Kalau melihat referensi buku dan film yg pernah aku lahap selama ini, buku ini yang bisa aku sebut kisah cinta sejati. Ga pake aksi bunuh diri, g pake jadi gila. Tetapi benar-benar penantian. Setia. Mengambil setting 3 babak kenegaraan sekaligus agak membuat dahi berkerut, apa ada yg masih hidup selama itu?
Kisah seorang geisha lokal-utk mengurangi biaya. Jepang mendidik geisha2 lokal. Seingatku inilah referensi pertamaku tentang definisi geisha sebagai seorang pekerja seni bukan pekerja seks. Dan penjelasannya memang make sense. Agak terganggu karena pemeran laki-laki utamanya disebut beragam Islam tp yah itu kan imajinasi orang.
Pengen banget baca buku ini lagi, dan lagi, dan lagi!
6 reviews
July 31, 2015
Pertama kali mengenal Remy Sylado adalah melalui buku ini, dan waktu itu memang sedang hangat-hangatnya tema Geisha diangkat sejak keluarnya film Memoirs of Geisha dan saya sendiri sangat tertarik untuk mempelajari mengenai Geisha meski sembunyi-sembunyi karena saya masih SMP pada waktu itu. Novel ini lah yang benar-benar membuat syaa terkejut, bahwa di Indonesia Geisha pun pernah ada. saya sendiri tidak tahu, seperti apakah sejarah Geisha di Indonesia karena selain buku ini dan satu novel lain ang membahasa mengenai Geisha di Surabaya, saya belum pernah melihat referensi lain.

Ditulis dengan bahasa khas Remy Sylado, santai tapi berisi, bagaikan membaca ensiklopedi dalam bentuk novel. Iri hati saya pada kemampuan Remy Sylado dalam mencari fakta sejarah, karena memang ini yang paling sulit dilakukan ketika akan menulis novel fiksi sejarah Indonesia, mengumpulkan data-data dari masa lampau.

Setelah buku, ini saya jadi ketagihan dan membaca hampir seluruh karya Remy Sylado.
Profile Image for Tantri Setyorini.
323 reviews21 followers
February 12, 2014
Bisa-bisanya kelupaan masukin buku ini ke read shelf. padahal bacanya udah bertahun-tahun lalu. Jadi buku ini bercerita tentang geisha bernama Ara, perempuan asal Menado. Geisha yang dimaksud di sini bukan geisha yang seperti di Memoirs of Geisha, tapi PSK yang dididik ala geisha Jepang dan beroperasi di daerah Kembang Jepun untuk memuaskan keinginan para pria Jepang yang saat itu menjajah Indonesia. Dari prakteknya sih lebih cocok disebut oiran daripada geisha, karena intinya memang sebagai wanita pemuas nafsu.
Ceritanya masih setipe dengan Ca Bau Kan, PSK yang lugu ketemu pria berkuasa. Bagus kok, masih kaya riset dan trivia aneh-aneh tapi seru ala Remy Sylado. Tapi karena aku termasuk aliran yang berpendapat 'yang pertama selalu lebih baik' jadi aku tetap lebih suka Ca Bau Kan. Lagipula di sini intriknya nggak sekental Ca Bau Kan.
13 reviews1 follower
October 6, 2008
the best part of the novel is the way the author write the story. From the first beginning, the novel itself has had an introduction that will make every heads turns. At first, the story might seem a little boring, but if you really understand the story, it will be very interesting. Well, I had read it for around 5 times now, and i haven't bored. Won't that tell something about this novel? every episodes when Keiko(Keke)faces seems like just real. Well, the story itself us written in a way a next door girl would gossip...still, this book is worth reading, coz the author is meticulous enough to include every aspect of history of Surabaya pre and post war, not to mention the surroundings of Japan.
Profile Image for Eki Oktavia.
4 reviews6 followers
January 25, 2016
Cerita fiksi yang dikemas dengan menarik karena disertai dengan riset mengenai kisah hidup Kembang Jepun, yang merupakan sebutan lain dari Geisha di kawasan Surabaya. Diceritakan dari sudut pandang Keke, perempuan asal Manado yang dipaksa mengaku berkebangsaan Jepang demi menjadi Geisha untuk menarik pengunjung datang ke Shinju, sebuah rumah pelacuran milik Kotaro Takamura. Salah satu kutipan yang paling terngiang di pikiran saya, yang diucapkan oleh Tjak Broto, suami dari Keke,
"Nanti pada suatu waktu kau akan membenarkan, bahwa perempuan harus juga bicara, dan bicaranya harus didengar. Perempuan bukan hanya dilihat mukanya dan dinikmati badannya, tapi juga harus didengar bicaranya."
Profile Image for Karlina.
Author 1 book1 follower
January 6, 2015
Berkisah tentang perjalanan hidup Keke, perempuan asal Menado yang pernah menjadi geisha di Shinju, Jl. Kembang Jepun, Surabaya milik lelaki Jepang. Ia kemudian berubah nama menjadi Keiko dan bertemu wartawan koran lokal, Broto dan kemudian saling jatuh cinta. Keke kemudian meninggalkan Shinju dan menikah dengan Brot namun pernikahannya tidak bahagia karena keluarga Broto tak menyukainya. Kehidupan cinta Keke pun kemudian jatuh bangun seiring dengan pergolakan politik di sekelilingnya: Penjajahan Jepang, kekalahan Jepang, Pemberontakan Permesta...

Sebuah cerita yang terasa sangat drama.
Profile Image for Laksmi.
22 reviews3 followers
August 29, 2007
i bought this book in the hope that it would tell such things like geisha world as in the memoirs, but i found out that this book was more about historical revolution and its upheaval struggle for independence in indonesia. the heroine in the story was having harder and more brutal live than chiyo from the memoirs
dissapointment disturbed my concentration when i going through this book and blurred the whole story. considering to re-read it someday
Profile Image for Rini.
17 reviews2 followers
October 19, 2007
Buku ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan kisah Memoar of Geisha. Tentunya Remmy Silado si pengarangnya jg tdk ada maksud utk meniru-niru menulis fiksi ttg Geisha supaya karyanya laris.

Buku ini benar-benar cerita "lokal" Indonesia dgn setting masa perjuangan, atau katakan zaman indonesia masih setengah urdu. Tentang seorang "penghibur" yg oleh "mami" nya disulap agar mirip perempuan Jepang. Kalau gak salah settingnya di Surabaya.

Sedikit klise. Tp nggak jelek juga kok.
1 review
November 24, 2007

Cerita ini sangatlah menarik, cerita yang menggambarkan lika-liku cinta yang penuh denga warna-warni. Cinta yang tidak akan pernah habis dimakan oleh waktu, cinta yang memerlukan segenap pengertian dan pengorbanan. Selain itu, cerita di dalam novel ini bukan hanya memaparkan perjalanan cinta antara dua insan tetapi juga mampu mengangkat dan menyesuaikan jalan cerita dengan sejarah penjajahan di Indonesia serta memadukannya dengan sedikit unsur-unsur kebudayaan Jepang.
Profile Image for Grace Yuwono.
12 reviews1 follower
March 19, 2013
Saya penggemar historical fiction. Jadi saya suka sama novel ini. Dan karena Remy salah satu penulis jagoan dalam genre ini. Telaten dan teliti dalam menggambarkan setting sejarah.

Secara garis besar, ceritanya memang seperti roman klise. Tapi tidak jadi membosankan sebab angle nya unik. Geisha asal manado. Fakta sejarah yang jarang sekali diangkat. Saya pikir bagus juga kisah sejarah yang berat dibungkus dalam kemasan roman. Meringankan dan memudahkan dalam membaca
Displaying 1 - 30 of 72 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.