Tahukah anda kenapa babi diharamkan? Kenapa bertarekat kok jadi edan? Membela Islam kok malah radikal? Benarkah agama adalah racun peradaban? Benarkah belajar tanpa guru, gurunya syetan? Dan benarkah beragama tak boleh menggunakan akal? Semuanya dijawab tuntas dalam buku fenomenal Beragama Dengan Akal Sehat.
"Ketika gemuruh peradaban menghasung manusia menuju jurang kehancuran yang sangat dalam Ketika kebebasan berpikir menjadi 'agama baru' yang menakutkan, membingungkan dan menyesatkan Ketika kepentingan telah menjadi tuhan-tuhan yang sulit dibedakan dari tuhan yang sebenarnya ...... Ketika wajah dunia dan kemanusiaan telah demikian coreng morengnya Inilah saatnya bagi manusia untuk menegakkan akal sehat dan hati nuraninya" Agus Mustofa, Saatnya menegakkan akal sehat
Penggalan sajak diatas menjadi pembuka buku "Beragama dengan Akal Sehat" karya Agus Mustofa yang sekaligus menjadi pemaparan tentang kondisi manusia saat ini. Beliau menjelaskan bahwa saat ini banyak kita temui orang yang beragama maupun tidak beragama namun tak jelas perbedaannya. Hingga pada akhirnya spiritualitas tak keruan juluntrunganya, kasih sayang berganti wajah menjadi penjajahan dan terorisme, dan kebenaran adalah milik kelompok tertentu saja, adalah terjadi saat mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayatNya, kecuali orang-orang yang menggunakan akalnya.
Di dalam buku ini, Agus Mustofa mengajak para pembaca supaya lebih luas dalam memandang sesuatu, tidak hanya terkungkung pada dogma saja. Hal itu dijabarkan lebih luas diawal bab yang membahas tentang agama vs dogmatisme. Beliau menyampaikan bahwa islam adalah agama fitrah, sebuah agama yang sesuai dengan 'pembawaan' kita sebagai makhluk sempurna. Oleh karena itu, jika seseorang menjalankan agama ini dengan benar maka tidak akan terjadi rasa keterpaksaan (Q.s.Al Baqarah : 256)
Akan tetapi sayang, banyak dijumpai saudara-saudara kita yang menjalankan agama secara dogmatis, yang mana tidak menerima celah perbedaan disana. Bagi mereka, barang siapa yang menjalankan agama tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya, maka ia menganggap sesat. Agus pun menjelaskan bahwa dalam beragama tidak mungkin diseragamkan sedetil-detilnya, hasilnya pasti saja tetap berbeda. Meskipun Rasulullah telah mengajarkan tentang koridor dan substansinya, namun tetap saja harus ditoleransi perbedaannya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Point utama dalam buku ini adalah melawan dogma. Islam adalah agama yang meraikan akal. Islam menyuruh umatnya berfikir. Islam datang dengan bukti, bukan dogma.
Ternyata, kita perlu sama-sama bermuhasabah bagaimana cara kita beragama.