Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan. Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana. | Keigo
Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh. Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu. | Sakamura Jin
Bagus banget... Awalnya ragu untuk baca buku ini karena ada unsur jepang didalamnya. Bukan berarti gue nggak suka negara jepang, tapi berhubung terlalu banyak buku yang menggangkat tema korea dan jepang. Jujur saya sedikit bosen. ;p
Tapi untuk buku ini, gue akuin sangat..sangat bagus. Dari ceritanya yang punya alur bagus banget, tokohnya dan yang pasti bisa membuat gue membaca sampai habis.
Oke mulai review. Buku ini menceritakan tentang perempuan bernama Sakura. Dalam sepanjang hidupnya, Sakura tidak tahu siapa ayahnya ditambah lagi dengan adanyanya Keigo, yang menjadi kakak laki-laki namun tidak ada ikatan darah. Hidup berdua dengan Keigo ditambah dengan banyak rahasia membuat Sakura bertanya-tanya. Perlahan-perlahan rahasia terbuka, salah satunya yaitu Sakura mempunyai kakak tiri yaitu Jin.
Awal pertemuan dengan Jin yang tidak disengaja dan sikap Jin yang kasar terhadap Sakura tidak membuat Sakura menyerah. Sakura bersih keras untuk membuat Jin mengakuinya sebagai adik. Keigo yang tahu bahwa Sakura menemui Jin merasa sedikit cemburu. Entah cemburu sebagai kakak atau sebagai pria. Perasaan Keigo terhadap Sakura sang adik yang tidak ada hubungan darah berubah seiring waktu berjalan.
Terlalu banyak rahasia dalam buku ini, yang membuat yang baca buku penasaran. Dan sekarang gue bingung buat reviewnya. hmm,, Pokoke dibaca sendiri ya..
Buku ini ceritanya kompleks tapi seru, bikin penasaran pokoknya. Pastinya happy ending. :)
Slamat baca. Oia, 5 bintang untuk buku ini dan kagum sama penulisnya..
Buku ini bercerita tentang romance yang menurutku.... aneh.
Entahlah ya. Menurutku hubungan cinta yang baik itu adalah hubungan di mana kedua orang yang terlibat merasa bahagia ketika bersama. Jadi menurutku hubungan di antara kedua orang itu bukan cinta. Lebih tepat disebut pelarian satu sama lain.
Harus kuakui sejujur-jujurnya kalau aku nggak suka karakter Sakura. Egois, manja, cengeng, keras kepala, galau lagi. Kombinasi yang mematikan. Nggak jelas kenapa semua orang nggak tega nolak permintaan cewek egois itu. Hanya karena Sakura imut dan cantik, dengan matanya yang mungil, bibirnya yang mungil?
*muter mata*
Udah gitu di akhir cerita karakter Sakura ini sama sekali nggak berkembang. Tetep aja dia ngedapetin apa yang dia mau, tanpa peduli (yah, peduli sih, tapi dikiiiiit banget) sama orang sekitarnya yang mungkin terluka gara-gara kekeraskepalaan dia. Aku lebih memilih kalau Sakura ini kena batunya, jadi dia belajar kalo dunia itu nggak muter di sekelilingnya. Misalnya dia diapa-apain orang waktu keluar malem-malam padahal udah dilarang Keigo. Atau dia dibolehin kuliah di Tokyo, tapi harus dengan biaya sendiri, karena ayahnya menolak untuk membiayai dia. Jadi kan Sakura nan manja itu bisa belajar kalau setiap pilihan ada harganya.
Mau tahu nggak, kalau anak kayak gini nggak kena batunya sedari awal, bakal jadi orang kayak apa dia? Bakal jadi cewek egois yang seenak jidat, maksain kehendak sana-sini, dan manyun + merengut + nangis kalo perlu kalau keinginannya nggak diturutin.
Singkatnya, cewek N.Y.E.B.E.L.I.N. I know, I've known one.
Karakter Jin juga nyebelin ah. Galau nggak jelas. Pengen bersikap dingin tapi sebenernya dalam hati merana. Singkatnya, muka Rambo hati Rinto.
Apa emang gini ya karakter anak SMA? Seingetku aku maupun temen-temenku nggak segalau ini waktu kami SMA dulu.
Karakter Keigo juga kadang nyebelin. Apanya yang Harimau Hitam? Kok bisa-bisanya takluk cuma sama anak SMA manja nan egois? Asli, aku nggak ngerti.
Logika cerita ini juga masih harus diperbaiki di beberapa tempat. Aku nggak bisa nerima alasan Sakura memaafkan ayahnya. Tapi dengan mudahnya Sakura memaafkan laki-laki itu, dengan alasan Segalanya adalah untaian takdir, tidak seharusnya ia (Sakura) menyalahkan siapa pun..., bahkan ayahnya sekalipun." SALAH, Non. Semua yang terjadi dalam hidup ini adalah pilihan, dan apa yang terjadi pada Sakura adalah hasil atau konsekuensi dari pilihan ayahnya.
Kalaupun Sakura bisa memaafkan ayahnya, menurutku lebih logis kalau atas dasar hal-hal yang telah pria itu lakukan untuk menebus pilihannya yang salah. Memaafkan ayahnya dengan alasan semua hanyalah takdir adalah alasan yang salah, belum lagi nggak logis, menurutku.
Lanjut, aku cuma mau nanya, Shimizu kok nyerangnya pakai pisau, bukan pakai pistol ya? Pistol itu bukan senjata yang aneh buat yakuza. Dan menurutku lebih praktis menyerang seseorang dengan pistol. Bisa ditembakkan dari jauh (tanpa perlu mendekat dan mengambil resiko si penyerang justru diserang balik sama korbannya), bisa tanpa suara (kalau dipasangi peredam), dan yang pasti nggak perlu ada bekas darah yang nempel di senjata (nggak kayak pisau) yang nantinya bisa dipakai buat bukti penyelidikan (eaaa, kebanyakan nonton CSI nih).
Aku jadi curiga senjata yang digunakan adalah pisau sehingga orang yang ditusuk masih bisa selamat (karena kalau pakai pistol biasanya langsung diarahin ke kepala atau jantung, dan sekali tembak orangnya bisa langsung mati), demi kepentingan plot.
Penulisan cerita ini juga masih harus diperbaiki. Masih ada typo di sana-sini. Ada beberapa hal yang salah tulis, seperti Jin yang sempat digambarkan pakai sepatu olahraga (hal. 231) tapi lalu di halaman berikutnya digambarkan pakai sepatu bot. Nara beberapa kali salah ditulis jadi Tokyo. Ada kalimat-kalimat yang kekurangan kata, atau malah kelebihan kata (Kotaro mengikuti di belakangnya, perasaannya tidak enak. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ia tidak memiliki firasat buruk - hal. 215)
Penulisan adegan-adegannya juga kadang lompat-lompat. Di satu paragraf, Sakura sedang mengamati Jin ketika mereka sedang berada di dalam kereta menuju Enoshima. Tapi pada paragraf berikutnya tiba-tiba Sakura sudah digambarkan menapakkan kaki di tanah, tanpa diceritakan kalau kereta itu sudah sampai di stasiun dan Sakura serta Jin sudah turun. Jadinya aku ngebayangin kalau gerbong kereta yang ditempatin Jin dan Sakura itu lantainya tanah.
Adegan Sakura dan Jin di penyeberangan jalan juga nggak jelas, padahal seharusnya itu jadi key moment yang amat sangat romantis. Masalahnya, di satu paragraf digambarkan kalau Jin dan Sakura masih di pinggir jalan, baru akan nyebrang. Eh di paragraf berikutnya digambarkan kalau Sakura udah di tengah jalan, dan Jin meratap dalam hati kalau Sakura akan pergi karena dia yang menyuruh gadis itu pergi. Eh, kapan nyuruhnya Mas? Bukannya tadi masih pandang-pandangan di pinggir jalan? Kok tiba-tiba adegannya udah lompat, kayak film?
Secara keseluruhan cerita ini sebenarnya punya potensi yang cukup besar. Sayang tindak-tanduk karakter-karakternya kurang logis, logika ceritanya juga perlu dibaiki, dan penulisannya, walaupun sudah cukup rapi, namun masih perlu dibenahi lagi.
Kisahnya agak rumit karena berkaitan dengan masa lalu antara dua keluarga (dan yang ditutupi), namun pencarian kebenaran dan tindakan yang dilakukan Sakura menarik untuk diikuti. Selain itu, cerita dibawakan dengan bahasa yang masih ringan.
Saya suka melihat romance antara perempuan yang penurut dengan laki-laki yang dingin dan ketus. Sakura juga digambarkan memiliki determinasi yang tinggi, yang dari sanalah salah satu resep membuat laki-laki yang dingin bisa jatuh hati haha. Sangat imut ketika Jin menjadi protektif ketika Sakura terus mendatangi bar tempat ia bekerja (sebagaimana bar tempat yang berbahaya untuk orang-orang yang terlihat innocent).
Saya cukup kaget ketika Sakura memasuki apartement Jin, di cerita tertulis "Sakura melihat kardus mie instant yang termanufaktur dari Indonesia", saat itu saya berpikir kekuatan mie bangsa kita benar-benar kuat hahaha.
Buku ini bercerita tentang kehidupan Nishikado Sakura yang sepanjang hidupnya hanya tinggal bersama kakaknya, Kawaguchi Keigo. Kehidupan Sakura berjalan layaknya remaja perempuan lainnya. Dengan Keigo di sampingnya, Sakura tidak merasa kurang sesuatu apapun karena Keigo sangat menyayanginya. Meskipun Sakura sendiri sudah tahu bahwa Keigo bukanlah kakak kandungnya, namun ia tetap menyayanginya sebagai kakak.
Pada suatu malam, Sakura bersama teman-temannya pergi ke tempat karaoke. Sewaktu ia pergi ke telepon umum untuk mengabari Keigo bahwa ia pulang terlambat, Sakura bertemu dengan seorang nenek/ Nenek tersebut memiliki sebuah toko yang menjual dango. Tak disangka, ada sebuah cerita dari sang nenek yang membuat Sakura terkejut, tentang ibunya.
Selama ini Sakura tidak pernah mendengar apapun tentang ibunya dari Keigo. Seakan-akan Keigo merahasiakan semua itu darinya. Semua teka-teki dimulai sejak Sakura memutuskan untuk sesekali tidak menuruti nasihat Keigo. Ia ber[acaran dengan Kirishima Seta dan hampir mendapat masalah ketika berkencan di Kabukicho, sebuah tempat yang penuh bar dan dunia malam.
Di Kabukicho, Sakura merasa ketakutan karena hampir diperlakukan kasar oleh Seta, namun akhirnya ada seorang pemuda yang menolongnya bahkan memberikannya jaket. Lelaki bertato dan beranting itu kelihatan tidak tega melihat Sakura yang lemah. Sampai suatu hari, Sakura kembali lagi ke bar tempat dimana lelaki itu bekerja.
Teka-teki mengenai keluarga Sakura masih berlanjut. Sakura yang mengetahui latar belakang ibunya, kakak tirinya (Sakamura Jin), dan ayah tirinya. Ia akhirnya ingin mencari tahu tentang Sakamura Jin. Sakura berpikir bahwa akan lebih baik bertemu dengan kakak tirinya. Dan ketika pertemuan itu terjadi, ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, juga Jin yang saat itu menganggap kalau Sakura bukan adiknya. Ya, memang bukan, Karena ayah Jin tidak pernah menikahi ibu Sakura. Jin membenci Sakura, terlebih pada ibunya.
Pencarian jati diri dan romantisme masa muda dalam balutan budaya Jepang melekat kuat dalam buku ini. Perasaan sayang yang diam-diam tumbuh dalam hati Sakura pada Keigo juga berlaku sebaliknya. Tetapi mereka tetap menyimpannya dalam hati. Hubungan antara Sakura dan Jin juga berubah setelah Sakura tahu bahwa ia memang bukan adik Jin.
Pergulatan diri Jin sejak kematian ayahnya membuat dirinya tampak seperti pecundang. Ia harus menyembunyikan identitasnya, berpura-pura menjadi orang lain. Ia ingin membuang semua masa lalunya. Bertemu Sakura sesungguhnya waktu yang tepat untuk balas dendam, tapi hatinya tidak bisa melakukan dendam itu dengan tuntas. Ia jatuh cinta pada gadis itu.
Keberadaan ayah Sakura terbongkar sudah. Ketika ia tahu bahwa ayahnya adalah ayah Keigo juga.
"Itulah ayahmu-- ketika ia tudak bisa mendapatkan sesuatu, ia akan mengejarnya dengan keras kepala. Ketika yang begitu ia inginkan ada di hadapannya, ia ketakutan untuk mengambilnya karena ia takut setelah mendapatkannya ia takut kehilangan." - Toshihiro. (p. 304)
Cerita yang cukup rumit bagi saya untuk persoalan kakak-adek zone ini. Hahaha. Ya, cukup untuk hiburan saja. Buat saya, romantisnya kurang mengena. Tetapi untuk bagian penggambaran Jepangnya cukup jelas meskipun tidak detail.
Saya tidak akan menuliskan sinopsis novel ini, silahkan baca sendiri hihi yang jelas novel ini keren!Terus terang ini novel bersetting Jepang pertama yang saya baca, asli serius, i don’t tell a lie. Saya mengenal Jepang dari lagu dan film pada awalnya. Novel ini berhasil membuat saya seperti tengah menjadi bagian dari tokoh-tokoh di dalamnya, beberapa kali berhenti membaca hanya untuk membayangkan suasana Jepang seperti yang diceritakan novel dan itu wow banget nyampe ke hati hahah entah karena ini novel Japan themed pertama yang saya baca sehingga saya belum bisa compare dengan novel-novel Japan lainnya tau memang karena penulisnya yang benar-benar lihai dalam mendeskripsikan segala sesuatunya atau mungkin karena keduanya, entahlah yang jelas saya benar-benar bisa merasakan feelnya. Tempat, suasana sampai makanan khas Jepangpun terbayang-bayang dalam ingatan saya.
Saya sendiri gak terlalu mudeng arti Hanami itu apaan, awalnya dikira nama cewek jepang yang giginya gingsul, kulitnya putih, pake rok mini yang lompat kesana kemari hahah tapi setelah saya nyempetin buat nengok goodreads buat liat berapa bintang yang diperoleh ini buku akhirnya saya menemukan wacana tentang Hanami yang berarti melihat bunga sakura di musim semi atau apalah saya rada lupa *tepok jidat* Serius, bingung milih karakter cowok favorit di novel ini, Keigo yang baiknya ampun-ampunan, perhatian, penyabar, berwibawa dan ah perfect! Sampai dia bersedia menegambilkan apapun yang Sakura butuhkan (saya sempet mikir juga, ini babu atau kakak? --“) atau Jin yang cueknya ampun-ampunan juga, dingin, galak, penuh dendam, kesepian yang kalau bicara liar, kasar, gak pernah mikirin perasaan orang haha melted waaaaa.
Hal yang menarik dala novel ini, mengangkat tema yang lebih ke percintaan antara keluarga dan sedikit membahas mengenai organisasi Yakuza yang saya sendiri sangat excited. Ceritanya complicated parah namun sedikit membingungkan karena terlalu banyak flash back dan menceritakan orang-orang yang namanya benar-benar susah sekali saya ingat ya ampuuuun *sigh* sempet bolak-balik halaman hanya untuk mengingat nama-nama yang tengah diceritakan, terlalu banyak nama jepang dan itu tidak semudah saya menghapal nama Korea wkwk tapi ini mungkin bukan salah penulis, saya saja yang terlalu bodoh :’)
Di 3-4 bab terakhir saya lebih merasa deg-degan, ketika Jin yang telah berjanji akan membuat Sakura jatuh cinta lalu menghempaskannya tiba-tiba saja merasa benar-benar jatuh cinta dan tak bisa menepati janjinya, jangankan menghempaskan Sakura, ditinggalkan sebentar saja dia mohon-mohon haha dan ini moment romantis merekaaaaa ah waktu Jin peluk Sakura dari belakang dll tapi aku ngerasa kasian juga sama si baik Keigo huhu namun sayang ini terlalu cepat dan tiba-tiba menurut saya, kurang begitu megalir dan endingnya pun kurang wow, hm sedikit mainstream heheh over all, kereeen! Aku sematkan 3,5 bintang untuk Hanami, untuk ide cerita yang luar biasa, untuk kalimat-kalimatnya yang juga luar biasa, untuk menciptakan karakter Keigo juga Jin yang berbalik 180 derajat (but not for Sakura, saya gak suka karakter dia, entah mengapa) Great job cici Fenny ^^
Novel ini cukup membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikannya, bukan hanya karena novel ini cukup tebal dari segi halaman, tapi terlalu banyaknya kepingan puzzle yang terurai membuat aku ingin menyelesaikannya sedikit demi sedikit agar bisa menikmati setiap kepingan yang terungkap satu per satu.
Novel ini bukan tentang cinta, lebih kepada drama keluarga di masa lalu dan cinta yang hadir di tengah perjalanan.Ini tentang Sakura, yang hidup bersama Keigo, seseorang yang dianggap "kakak" yang selalu menjadi pelindung dan rumah tempat dimana dia selalu pulang dari segala masalahnya. Segala pertanyaan Sakura akan siapa keluarganya, membawa dia bertemu dengan sosok-sosok di masa lalu, yang merangkai kisah hadirnya di masa lalu dan siapa ayah kandungnya? Akhirnya kepingan demi kepingan mulai terurai, pertemuan Sakura dengan Sakamura Jin, yang awalnya dipikirnya adalah kakak kandungnya, bisa mengungkap sedikit misteri tentang ibu, dirinya dan rahasia dimasa lalu ^^
Walau awalnya sikap Jin terasa sangat tidak menyukai kehadiran Sakura, karena selalu mengingatkan akan kepahitan dan rasa sakit di masa lalu, Jin tidak bisa menepis kehadiran Sakura dan perlahan-lahan rasa cinta mulai hadir diantara keduanya. Walau perjalanan kisah Sakura-Keigo-Jin seperti mengurai benang kusut, pelan-pelan semua kepingan rahasia mulai mencapai titik terang dan mulai terangkai menjadi sebuah puzzle yang utuh. Sakura akhirnya tahu siapa ayah kandungnya? Mengapa ayahnya memilih hidup jauh darinya? Siapa Keigo? Siapa Sakamura Jin? Ada hubungan apa Sakura dengan keduanya? Dan segenap kepingan yang lain.
Well, aku cukup suka dengan novel ini. Setting Jepangnya cukup kerasa, cara bercerita yang maju mundur karena diselingi flashback cerita dimasa lalu menjadikan kepingan ini menjadi cukup menarik, membuat kita mulai mereka-reka akan ada rahasia apa lagi? akan seperti apa akhir cerita ini?
Nishikado Sakura, gadis remaja yang cantik dan polos, tinggal bersama Kawaguchi Keigo yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri. Usia mereka terpaut cukup jauh, dan mereka juga tidak ada hubungan darah, namun dari kecil mereka sudah tinggal bersama. Sakura tidak tahu sama sekali tentang keluarga dan juga latar belakangnya. Ia sering bertanya pada Keigo, namun Keigo tidak pernah menjawabnya. Pernah sekali Keigo memberikan sebuah foto. Di dalam foto tersebut ada seorang pria, wanita, dan seorang anak laki-laki. Dan dibaliknya ada tulisan Nishikado Tsubaki.
Selama ini, Sakura percaya bahwa Nishikado Tsubaki adalah ibunya, pria dalam foto adalah ayahnya, dan anak lelaki itu adalah kakaknya, namun ia tidak tahu mengapa keluarganya tidak tinggal bersamanya sekarang. Ia juga tidak tahu siapa nama pria dan anak lelaki dalam foto. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang nenek yang mengenal Tsubaki dan juga pria dan anak laki-laki tersebut. Pria itu bernama Kyosuke, sedangkan anak laki-lakinya bernama Jin.
Takdir pun membawanya menemui Sakamura Jin, yang ia percaya sebagai kakaknya. Namun, Jin tidak mengakui Sakura sebagai adiknya. Sakura juga belum mengetahui misteri tentang orang tuanya.
Misteri pun mulai terungkap. Siapa sebenarnya Sakura, mengapa Jin tinggal sendirian, dan mengapa selama ini Keigo-lah yang tinggal bersama Sakura, semua itu dilatar belakangi oleh orang yang sama.
Novel yang sebenarnya cukup bagus untuk ukuran teenlit/young adult, namun entah mengapa aku tidak merasa entertained ketika membacanya. Padahal gaya bahasanya bagus dan enak dibaca. Mungkin karena aku agak jengkel dengan karakter Sakura yang polos dan kekanak-kanakan. Seperti ketika ia berhadapan dengan Jin, Sakura terlalu memaksakan kehendaknya, sehingga aku mengerti kenapa pada awalnya Jin membenci Sakura.
Aku paling suka dengan tokoh Keigo yang lembut dan bertanggung jawab. Tipe lelaki idaman. Sakura sangat beruntung karena mempunyai kakak seperti Keigo, meskipun bukan kakak kandung.
Dari awal liat di toko buku sudah suka dari covernya. Aku sudah skeptis gitu, soalnya pernah membaca novel dari si penulis ini, aku tidak terlalu suka dari ceritanya. Tetapi itu musnah setelah berhasil menyelsaikan bab awal.
aku suka buku ini. Bahasa yang sederhana, kalimat yang tak berbelit-belit. Membuat buku ini layak aku beri bintang 4
Ceritanya sih berawal dari Nishikado Sakura seorang perempuan muda yang ditanggal berdua dengan kakaknya Kawaguchi Keigo. Tanpa ada pertalian darah mereka berdua hidup berdampingan. Sakura sudah menganggap Keigo kakak kandungnya. Tetapi tidak berlaku dengan Keigo yang merasakan cinta lawan jenis.
Pada suatu hari, Sakura mempertanyakan siapa ayah kandungnya ? kenapa ayahnya tidak pernah hadir dalam kehidupannya ?.
Sakura menyelidiki siapa ayahnya sampai dia bertemu dengan seorang nenek yang mengetahui masa lalu ibunya. nenek itu memberikan sebuah foto ibunya bersama dengan seorang pria dan seorang anak laki-laki kecil.
Sakura bertekad mencari kakaknya. Dan bertemu dengan Sakamura Jin. sakumara jin adalah Kakak Sakura, Itu anggapan Sakura setelah bertemu dan mengetahui siapa itu Sakurama jin.
Keigo cemburu karena Sakura begitu bertekad ingin bertemu ayah dan kakak laki-lakinya. Padahal ada sebuah permeasalahan yang rumit didalamnya.
HANAMI artinya : Acara melihat bunga sakura di musim semi. Mungkin diberi judul hanami karna kebahagiaan tokoh di novel ini, terjadi pada saat hanami.
Di novel ini, aku bisa nangkap : sesempit itukah dunia hingga semua tokohnya berhubungan?
Aku suka cerita yang diangkat dari si penulis, beda aja gitu sama novel-novel roman lain. Trus setting Jepangnya yang buat aku nyaman. Tapi terlalu banyak nama tokoh Jepang yang diceritakan, buat aku bingung.
Seperti drama Indo, love in paris. Ada cowok yang sayanggggg banget sama satu cewek, namanya sakura. Dia selalu ada utk menjaga dan melindungi sakura. Cowok itu bernama Keigo.
Sampe akhirnya sakura ketemu sama cowok yang bernama Jin. Hanya dalam waktu singkat, sakura bisa cinta sama Jin. Mengalahkan perasaannya pada cowok yang selalu ngelindungi dia, walau cowok itu udah menemani sakura sejak dia lahir.
Coba deh jadi keigo. Kasian amat kan? Aduhhh!!! Disini aku cinta mati sama karakternya yang luar biasa baik. Aku benci pas sakura lebih milih Jin. Tapi memang cinta gak bisa memilih dan gak bisa dipaksakan, kan?
"Aku begitu sedih kemarin ketika tahu mungkin Ayah telah membuangku... Namun, dalam pelukan Keigo tadi, aku sadar, pikir Sakura dalam hati, tersenyum pada foto yang dipegangnya, untuk apa mengejar-ngejar orang yang tidak menginginkanku... ketika yang begitu menyayangiku ada tepat di hadapanku?"
Nishikado Sakura, seorang gadis yang tidak pernah tahu tentang keluarganya. Satu-satunya orang yang ia kenal adalah Kawaguchi Keigo - lelaki yang tinggal bersamanya sejak kecil dan ia panggil Kakak, meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah dan mempunyai marga yang berbeda. Sakura selalu mempertanyakan tentang masa lalu dan orangtuanya kepada Keigo, tetapi ia tidak pernah memperoleh jawaban. Hingga suatu saat takdir menuntunnya, mempertemukan Sakura dengan jawaban yang selama ini ia cari-cari....
sangat menikmati saat menulis backcover buku ini. biasanya, saya menulis backcover saat "terhanyut" cerita dalam naskah. dan cerita buku ini, benar-benar "menghanyutkan".
tak banyak penulis yang mampu menulis panjang tetapi tidak membosankan. Fenny Wong adalah salah satu dari tidak banyak itu.
emotional roller coaster for me - Buku yang cukup menarik dengan alur cerita serta penokohan yang jelas tergambarkan membuat novel ini mudah dan asik untuk dibaca. Tapi harus diakui memang heroine di novel ini rada nyebelin hahaha.
One of my favorite romantic novels. I read it twice. Rereading this novel brought me some core memories when me being a teenager. How the story hurt still felt surreal I couldn’t resist.
Nishikado Sakura, Kawaguchi Keigo, dan Sakamura Jin...
Ketiganya tanpa sadar memiliki masa lalu yang saling terkait. Semuanya disembunyikan demi melindungi perasaan masing-masing.
Dimulai saat Sakura bertemu dengan seorang nenek yang ternyata mengenal ibunya di masa lalu. Selama ini Sakura selalu bertanya-tanya siapakah orang tuanya dan kenapa ia hanya tinggal berdua dengan Keigo. Di mata semua orang, kesan tinggal berdua dengan seorang laki-laki sangatlah buruk. Namun Sakura hanya menganggap Keigo sebagai kakaknya.
Keigo yang dulu memiliki reputasi yang bagus dalam kelompok Yakuza. Namun seorang Sakura mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya ingin berubah demi melindungi gadis itu. Dialah yang selalu setia menunggu di rumah dan menyediakan kebutuhan untuk Sakura. Dia jugalah yang selalu siap menolong Sakura setiap kali masalah datang.
Jin memendam kebencian yang sangat dalam kepada ibu Sakura. Pertemuannya dengan Sakura membuatnya senang karena akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya. Ia ingin menyakiti Sakura dan menyalahkannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena keberadaan Sakura, ia harus kehilangan ayahnya dan juga masa kecilnya yang bahagia.
Saat benang masa lalu itu mulai terjalin, apakah Sakura siap menghadapi kenyataannya? Dan di akhir... siapa yang akan dipilih Sakura, Keigo yang selalu setia melindunginya atau Jin yang membencinya?
Kesan: Hal pertama yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah sinopsis di belakang bukunya. Sinopsis itu hanya berupa ungkapan perasaan Keigo dan Jin kepada Sakura. Entah kenapa saya langsung tertarik membacanya begitu saya membelinya. Biasanya saya suka menyimpan buku yang baru dibeli di urutan bacaan terakhir.
Cerita ini sangat berbau Jepang. Saya harus memuji Fenny karena bisa menciptakan suasana dan menyajikan budaya Jepangnya dengan sangat baik. Bahkan tokoh-tokohnya pun sangat "komik Jepang".
Pada dasarnya, saya tidak suka dengan tipikal tokoh yang selalu menjadi pusat perhatian dan dilindungi terus-menerus oleh orang lain. Banyak tokoh cewek di komik Jepang sekarang yang begitu. Hampir setiap lembarannya dipenuhi air mata dan kalimat, "Tolong lindungi aku!" Ini sih masalah selera. Hanya saja Sakura dalam buku ini juga seperti itu walaupun tidak terlalu berlebihan seperti komik-komik itu. Dan karena ini novel berbau Jepang, saya terima saja karena mungkin memang begitulah cewek-cewek Jepang. Saya kan tidak tahu aslinya seperti apa.
Plot cerita ini rapi. Alurnya cepat namun saya tidak merasa kalau semuanya diburu-buru. Bahasanya ringan dan enak dibaca. Bahkan perpindahan antara masa lalu dan masa depannya cukup mengena dan tidak terasa aneh.
Dan yang paling saya suka dari buku ini adalah ikatan masa lalu antara Sakura, Jin, dan Keigo. Jenius! Entah kenapa saya merasa sedih dan nyenyes sewaktu segalanya terbuka. Kasihan Jin, kasihan Sakura, kasihan Keigo... Ketiganya harus kehilangan orang tua masing-masing karena perbuatan orang yang sama.
Saya mengenal tulisan Fenny sudah cukup lama, mungkin ada kali 10 tahun. Jadi, saya bisa merasakan perubahan yang besar dari gaya penulisannya. Hanami ini menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Dibandingkan dengan Moonlight Waltz (karya pertamanya) dan beberapa karyanya yang lain, Hanami ini almost perfect sampai saya bingung mau komentar apa. Haha...
Yang jelas saya akan terus menunggu karya-karya Fenny yang lain.
Akhirnya setelah sekian lama novel ini nangkring manis, selesai juga dibaca. Hanami, novel pertama karya Fenny Wong yang saya baca. And I luv it!
Cerita dengan setting Korea-tepatnya di Tokyo ini berkisan tentang seorang gadis- Sakura yang berusaha menggali ingatan kisah masa lalunya. Sakura tumbuh besar tanpa pernah bertatap muka dengan orangtuanya bahkan ia tidak mengenal orangtuanya. Ia tumbuh besar bersama Keigo- yang ia kenal dan sayang sebagai kakak tirinya tanpa perlu tahu asal-usulnya. Sampai akhirnya, Sakura tahu kalau ia punya seorang kakak tiri beda ayah- Sakamura Jin. Pertemuannya dengan Jin, tak terduga saat ia sedang berkunjung ke Kabukicho dengan Kirishima-san dan terpisah jalan dan mendapati dirinya diganggu oleh pria bertato dan diselamtakan oleh seorang yang datang dari bar sekitarnya. Pertemuan mereka pun berlanjut, Sakura yang penasaran dengan Jin, akhirnya mencari tau keberadaan kakak tirinya itu, dan sampailah ia kembali kepada lelaki yang menyelamtkannya tempo hari. Silver-begitu orang-orang mengenal Sakamura Jin sehari-hari sama sekali tak menyangka Sakura tiba-tiba muncul dihadapannya dan memanggilnya dengan sebutan "Jin-nii". Jin membantah Sakura. Namun, Sakura pantang menyerah,ia terus-menerus menyakinkan Jin dan akhirnya Jin luluh.
Satu persatu potongan kisah masa lalunya pun terkuak. Kenyataan bahwa ia adalah anak yang lahir karena suatu kecelakaan membuat Sakura teramat terpuruk. Dan, kenyataan pahit bahwa ibunya diperkosa oleh lelaki tua yang mengaku sebagai ayahnya itu- dan meninggal membuatnya membenci Ayahnya. Sakura lari dari rumah Ayahnya di Nara, meninggalkan Keigo dan Ayahnya dan memutuskan pergi bersama Jin. Jin yang awalnya berniat menyakiti Sakura dengan pura-pura menyukainya dan membuat Sakura mencintainya lalu mencampakkan Sakura- berniat membalas sakit hati yang ditorehkan ibu Sakura-Tsubaki dahulu pada masa lalu padanya dan Ayahnya. Namun, perlahan-lahan perasaannya berubah menjadi benar-benar menyukai Sakura sebagai seorang lelaki. Ia jatuh hati pada gadis bernama Sakura itu.
Membaca Hanami, mengajak saya larut dalam emosi setiap tokoh, ikut galau, sedih, sakit hati bersama Sakura dan masa lalunya. Sepanjang membaca, seringkali tebakan saya akan kelanjutan cerita salah- cerita-cerita masa lalu, kenyataan yang terkuak tentang hubungan Keigo-Sakura-Sakamura Jin-Matsukaze Tomoe membuat saya tertegun takjub atas kemampuan penulis menciptakan karya yang sulit ditebak dengan ceritanya yang masih terterima akal, walau ribet di sana-sini. Bagaimana pun saya suka novel ini.
Karena kekaguman saya pada ide brilian penulis dan cerita yang unpredictable ini, 4/5 star for this! Sinopsisnya juga membuat saya berkali-kali membalikkan novel ini dan membacanya berulang-ulang.
Kepada Sakura, .....Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu. -Sakamura Jin
Judul : Hanami Penulis : Fenny Wong Tebal : 456 halaman Penerbit : Gagasmedia
Sinopsis Kepada Sakura
Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan. Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana. | Keigo
Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh. Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu. Sakamura Jin
Review Tampilan fisik Covernya manis menunjukkan Jepang banget. Tulisannya dengan font yang ramah untuk mata. Judul Masyarakat Jepang memiliki tradisi khusus untuk merayakan mekarnya bunga Sakura yang disebut Hanami. Arti Hanami berasal dari Hana (bunga) dan Mi (melihat). Jadi artinya melihat bunga. Tradisi ini dikenal sejak abad 7 saat pemerintahan zaman Nara, namun khusus diperuntukkan buat kalangan bangsawan. Baru memasuki zaman Edo sampai kini tradisi Hanami bisa dilakukan oleh siapa saja. Masyarakat Jepang akan beramai-ramai menuju taman-taman yang dipenuhi pohon bunga Sakura. Sambil duduk-duduk beralas tikar mereka menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Tentu Sake diminum bersama untuk menghangatkan badan, namun tak sedikit pula yang akhirnya mabuk. Warung-warung tenda yang dibangun selama Hanami juga tersedia, dengan menjual makanan dan minuman seperti Takoyaki, Yakisoba, Yakitori, ayam goreng, makanan ringan, soft drink dan ice cream. Perayaan Hanami hanya berlangsung singkat, sekitar 10 hari saja. Pada umumnya bunga sakura mekar dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat, seperti pulau Okinawa, lalu merambat ke utara, dan berakhir di Hokkaido. Sedangkan arti Hanami di novel ini nggak terlalu kentara. Yang menunjukkan kalau ini berlatar Jepang hanya namanya doang. Karena ceritanya bukan mengenai melihat bunga mekar, tapi lebih tepat ketika Sakura mekar dia tahu akan masa lalunya
Segi cerita Ceritanya mbulet, muter muter, di buku ini terlalu banyak yang namanya kebetulan. Karena yaa, emang benar. Ceritanyal terlalu sempit. Sempit banget malah.
Tapi, tetep mbuat penasaran kok. Jadinya selesai juga baca buku ini. I give 3 star for this book! :)
Kurasa, aku memang tidak cocok dengan buku ini. Padahal mengenai budaya Jepang, tapi aku merasa budaya Jepang di sini sekadar tempelan saja.
Kalau diubah settingnya dan nama-namanya, tidak akan jadi masalah juga. Penuturannya terlalu datar, dan karena ada begitu banyak kebetulan di sini, aku sulit untuk menyukainya. Eh, tahu-tahu Sakura bertemu nenek yang mengenal ibunya waktu masih mengandung dirinya. Eh, tanpa sengaja ia bertemu orang yang ia kira kakak tirinya. Lalu, wah, ternyata Keigo bertemu lagi dengan cewek yang dulu meminta kancing gakurannya waktu dia masih SMA. What. Are. The. Chances!?
Menurutku, akan lebih bagus kalau Sakura tipe yang aktif mencari tahu masa lalunya. Katakanlah entah menyewa detektif, atau ia sendiri yang mengumpulkan petunjuk sehingga kepingan masa lalunya sedikit demi sedikit terkuak. Tidak hanya pasif dan tahu-tahu entah karena nyasar di tempat yang asing, bertemu orang-orang yang berkaitan dengan masa lalunya.
Karakternya pun datar dan menurutku tidak terlalu istimewa. Sebenarnya ada beberapa misteri yang mungkin akan menarik minat pembaca, tapi aku malah tersiksa. "Get on with it," pikirku, dan akhirnya mandek baca di bab 9 dan lanjut membaca beberapa bab terakhir saja. Ada beberapa kepingan yang mungkin hilang, tapi ternyata aku tidak sekaypoh itu untuk mencari tahu segalanya.
Kovernya padahal manis, dan sinopsisnya menggugah rasa ingin tahu (walau aku tahu, seringnya sinopsis di belakang kover penerbit ini tidak nyambung dengan isi, hiks). Apa ya, yang tidak cocok denganku? Penuturannya? Karakternya? Konfliknya? Emosinya yang kurasa kurang? Entahlah...
Bukan cangkir tehku, memang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya selalu suka cara nulisnya Mbak Fenny. Dan saya juga suka tulisannya di buku ini. Banyak Jepangnya, kota, tradisi, makanan, semuanya serba Jepang. Tapi masih kurang Jepang. Maksudnya, agak kurang didalami hehe. Saya ngerasa klop dan mikir, "Ini baru kerasa Jepangnya," pas di bagian Jin dan Sakura ngelakuin Hanami bareng. Di situ bener-bener saya bisa bayangin letak dan suasananya dan saya suka banget.
Mengenai cerita, complicated. Menarik, sih. Tentang yakuza dan klannya yang hampir punah. Tapi sayang banget musuh klannya cuma ditaruh di akhir, kayak cuma pelengkap. Apa memang mungkin bukan ceritanya ya? Padahal kalo lebih dikembangin mungkin seru. Karakternya, saya suka kecuali Sakura. Bahkan saya lebih suka karakter Bapaknya dibandingkan Sakura sendiri. Sakura memang digambarkan sebagai anak manja dan keinginannya selalu dipenuhi. Banyak yang sirikkin, karena meski dia selalu merana dari awal sampai akhir cerita toh dia akan baik-baik saja karena ada Keigo. Sampai akhir pun Keigo tetap begitu. Saya sempet mikir, mungkin saya ngga akan se-ngga-suka ini sama Sakura kalau di akhir dia diberi kesempatan untuk merenungi kemanjaannya. Misal, Keigo menjauh atau tidak menuruti keinginannya, atau bagaimanalah. Terlalu mulus jalan yang ditempuh oleh si Sakura itu.
Saya masih kuat baca novel ini karena diksi dari novel ini dan Keigo. :3
Very Japan-ish. The characters, setting, and plot. Keigo and Jin are definitely typical manga boys. Sakura, although she is lovely, really bugs me with her childish attitude sometimes. (Or it's just me with my own allergy to the main-character-who-gets-the-spotlight cliche? I guess I've mentioned it before?). And somehow, Keigo, Jin, Sakura, and Toshihiro really reminded me of the similar characters in Orizuka's Fate. :| Seriously.
Well, what bother me most are the grammar and diction, especially the "Mengapa?" which feels less proper than "Kenapa?". And typos. But then again, this book has a profound message I personally admire. I don't know how to describe it-_- And I loved the plot twist, the bittersweet life bites and also the undeniable truth about this life. Even though in the beginning it felt too hasty for the characters to meet their destiny (so many "coincidences"), but the more I flipped through its pages until the last one, the more I got impressed by the author. Whether it was because of the plot twist, or the way the author has developed such a better writing than before (Moonlight Waltz) that surprised me coz I was really astonished by this one. Overall, a sweet reading though.
Well, I gotta say that I regret bought this book. Maybe if I just borrow it, I won't be so disappointed.
The character is surreal. Even with his dark past, Keigo is still too perfect. He is handsome, capable for doing household, caring even a bit protective. He'll do everything for Sakura. And why the author keep mentioning whether Keigo is wearing shirt or not after he showered? It's distracting. ha..ha.. Sakura is should be a lovable, cheer up and naive girl but I was annoyed by the way she depends on other people. She is spoiled and manipulative. She knows that all she need to do is crying and whining to get what she want, especially from Keigo. Jin's character is okay. He had a harsh childhood that made him cold towards people. But the way he fell for Sakura is just too easy and too fast. Maybe because Sakura resembles her mother?
However, the mystery Sakura's background is quite interesting. I can't help to be curious. It is the only thing that made me keep reading the book. Well, I can neglect so many coincidence that lead Sakura to find the truth. But I just wonder why her father didn't tell her who he was and why she can't meet him? Sakura is already 17 years old anyway. Oh yeah, I forgot. She's childish crybaby.
Sedikit curhat ya, saya waktu pertama buka segel dan baca beberapa lembar tiba-tiba mood baca saya hilang akibat tugas menempuk segunung. Akhirnya, beberapa bulan setelahnya ketika mood baca saya membaik saya lihat novel ini dan tergerak baca dari awal.
Berawal dari cerita seorang gadis SMA bernama Sakura, gadis ini hanya tinggal berdua dengan seseorang yang mengaku sebagai kakaknya, Keigo. Keigo sejak kecil di didik untuk menganggap Sakura sebagai adiknya walau tak memiliki hubungan darah sama sekali. Lalu, suatu hari Sakura menemukan sebuah rahasia kecil disebuah rumah tua yang dulunya adalah sebuah toko dango. Rahasia kecil itu membuat rahasia besar semakin lama semakin terungkap. Akibat sebuah rahasia kecil yang diungkap pemilik toko dango, membuat sakura mencari-cari Jin.
siapa itu Jin? Rahasia apa yang terkuak didalamnya? baca saya sendiri novelnya :p
Sejujurnya saya menyukai Keigo dari pada Jin, entahlah saya benar-benar jatuh cinta pada sosok Keigo yang digambarkan penulis *-*
Akhir-akhir ini aku emang lagi males baca, makanya setiap baca buku suka lamaaaaa banget. Tapi setidaknya waktu baca To Kill A Mockingbird aku masih bisa menikmati dan terhubung dengan cerita dan juga setiap tokohnya. Tapi untuk Hanami ini... aku gak ngerasain itu.
Rasanya gak ada masalah soal kelas penulis di sini, karena aku biasanya bisa relate langsung ke suatu novel baru dengan berbagai genre dan gaya penulisan setidaknya sesudah memasuki bab 2. Nyatanya kali ini aku gak bisa relate terus, hiks.
Kalo secara garis besar sih aku mengerti jalan cerita di novel ini. Tapi rasanya ada sesuatu yang membuatnya kurang indah. Entahlah, pokoknya aku keseringan gak nyambung sama narasinya. Settingnya pun gak begitu kental sih menurutku. Dan sejujurnya aku gak suka bagian cerita yakuza-nya. Soal hanaminya jadi berkurang. Karena aku mengharapkan pure romance saat memutuskan untuk beli novel ini.
Anyhow, rasanya kalo dijadiin film sih mungkin akan lebih menarik untuk dinikmati hehehe.
Sinopsisnya bagus. Walaupun banyak kalimat yang saya nggak ngerti -dan akhirnya saya tahu setelah tanya sama teman-. Covernya menunjukkan Jepang banget. Tapi, menurutku ceritanya terlalu berat. Agak membingungkan. Terlalu berputar-putar juga. Sorry to say. Setelah baca review yang sebelumnya, saya setuju sama yang bilang kalau ini latarnya diganti pun nggak akan mempengaruhi ceritanya. Karena sebenarnya arti Hanami disini nggak terlalu kentara. Yang menunjukkan kalau ini berlatar Jepang hanya namanya doang. Saya juga setuju kalau ada yang bilang di buku ini terlalu banyak yang namanya kebetulan. Karena yaa, emang benar. Ceritanya terlalu sempit. Sempit banget malah. Sorry to say lagi. Tapi, tetep mbuat penasaran kok. Jadinya selesai juga baca buku ini. I give 3 star for this book! :)
I was attracted to the simple paragraph written at the back of this book. As it says "Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh". It hooks me as this is the very reason I decided to walk away from someone I love the most in my whole life..
As I read, I found the book enjoyable. Nice and well written. But somehow, I skipped most of the second part of the book and go straight back to find the ending. Simply because I want to get the answer for all the puzzle written throughout the life of Sakura. Yet, this book excels in making all the puzzle but not strong enough to hold me go through all the hassle to enjoy the puzzle.
All in all, if you want some light reading on something related to Japan, this book is not a bad choice
hanami.. kalau penyuka anime,komik,dorama pasti familiar banget dengan kata hanami, dari judulnya saja sudah bisa membayangkan bunga sakura yang sedang mekar. Secara keseluruhan ceritanya bagus, apalagi setting di jepang, jadi mikirin kegiatan selain hanami, tapi hanabi (nonton kembang api) juga wkwk, tokoh nya membuat saya berandai-andai dengan karakter atau aktor di dorama hahaha, mulai dari Takeru satoh, Miura haruma, Fukushi shota, Kanata hongo, atau mungkin Oguri shun? tapi paling fav Yamazaki kento hehehe. Novel gagasmedia memang bacaan yang mudah kita cintai karena mengusung tema yang sering terjadi dikehidupan kita.. bagi penyuka bacaan ringan, rata-rata novel dari gagasmedia recommended semua~ hehe
Saya berusaha keras menyelesaikan buku ini. Sempat berpikir untuk menutup buku ini tanpa menyelesaikannya, kalau saja Jin dengan karakternya yang kesepian itu tidak muncul :)
Tapi tapi, kesan yang terbangun dari setting jepang dalam buku ini tidak menggugah saya. Lebih mirip manga. Mungkin kalau dibuat jadi manga saja akan lebih menarik kali ya. Saya nggak suka dialog-dialognya yang kaku dan mirip terjemahan komik itu.
Dan yang pasti saya nggak suka endingnya. Terlalu biasa.
Cerita yang manis tentang 'sang kakak' yang harus menjaga 'sang adik' yang ternyata masing-masing dari mereka memiliki rasa. Keseluruhan dari cerita ini benar-benar tidak bisa ditebak. Siapa sangka 'Kakak-Adik' ini pada akhirnya tidak bersatu? Siapa sangka ternyata bukan sang adik yang pada akhirnya menelan kekecewaan? Siapa sangka sang adik jatuh cinta ke orang yang benar-benar tak terduga? All my thumbs to the author!
Aku lupa kapan tepatnya membaca buku ini, yang jelas, masih di tahun 2013. Dari pertama kali liat sinopsisnya, aku udah penasaran. Makanya waktu itu pun langsung kutamatkan membaca seharian penuh. Dan aku gak nyesel. Ceritanya menarik, banget malah. Konfliknya keren. Perasaan kita ikut diaduk-aduk saat baca novel ini. Ditambah lagi, latar cerita kebetulan di Jepang. Aku memang tertarik hal-hal berbau Jepang :D Novel ini recommended banget buat kalian yang suka romansa penuh drama :p