Novel “Sengsara Membawa Nikmat” karya Tulis Sutan Sati ini merupakan novel yang terbit pada periode 20-an, yaitu tepatnya pada angkatan “Balai Pustaka”. Novel ini memiliki ciri khas, yaitu penggambaran mengenai kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920-an. Selain itu, tema dan juga cara penceritaan daripada penyair atau Tulis Sutan Sati sendiri, banyak yang diangkat dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, dan juga menyentuh tentang masyarakat Minangkabau. Menurut A. Teeuw, pengarang daripada novel “Sengsara Membawa Nikmat”, yaitu Tulis Sutan Sati, menceritakan tiap babak dan bagian dalam novel dengan sangat menarik, dan kelincahan si pengarang membawa pembaca ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawi. Sehingga, gambaran dalam novel ini dirasakan lebih menunjukkan realitas-realitas, dan seolah-olah peristiwa ini benar-benar terjadi ketika zaman dimana novel ini diciptakan.
Novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini mengambil tema yaitu mengenai perjuangan seorang tokoh bernama Midun, yang ia selalu mendapatkan kesengsaraan dan kemalangan karena pihak yang tidak suka dengannya, hingga akhirnya ia menjadi seorang yang berhasil dan mendapatkan nikmat tiada tara. Novel ini menggunakan alur maju dan juga menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, hal tersebut dibuktikan dengan adanya penyebutan nama tokoh oleh sang pengarang. Dalam novel ini banyak menggunakan bahasa Minangkabau, seperti “Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya “Cempedak hutan” yang baru jatuh. Selain itu, dalam novel ini juga menyematkan penggunaan peribahasa, seperti “Belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas”, dan “Ilmu padi kian berisi, kian merunduk”.
Dalam novel ini juga banyak nilai yang terkandung, yang dapat kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi agama, novel ini penuh dengan nilai keagamaan. Hal tersebut tergambar melalui tokoh Midun. Dimana ia merupakan seseorang yang selalu taat dalam beribadah, pintar mengaji dan mengamalkan ilmu agamanya. Dalam aspek pendidikan, novel ini memberikan pengajaran agar senantiasa belajar hal yang memiliki sifat positif, karena akan berguna dimasa depan. Seperti Midun yang selalu belajar mengaji, bersilat, berdagang dan baca tulis. Penyair pun juga mengisyaratkan agar manusia senantiasa mensyukuri apa yang dimiliki dan menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas, karena kelak dibalik kesengsaraan itu ada kenikmatan yang menunggu. Pada intinya, dalam novel ini penuh akan nilai rohani, kehidupan, pendidikan, dan nilai yang dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara ciri dalam novel “Sengsara Membawa Nikmat” dengan karakteristik karya sastra dalam angkatan “Balai Pustaka” tercermin melalui, pertama, roman diciptakan sesuai dengan realita masyarakat, artinya novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini mengangkat akan kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920-an. Kemudian, karya sastranya masih berbentuk roman, belum memiliki bentuk-bentuk lain, sama dengan novel ini juga berbentuk roman. Kemudian, bahasa yang digunakan dalam novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini juga masih menggunakan campuran dari bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah Minangkabau itu sendiri. Terakhir, dengan adanya nota ringkes, karya sastra di periode ini masih terbelenggu dalam keterbatasan akan membahas mengenai situasi dan kondisi masyarakat.