Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sengsara Membawa Nikmat

Rate this book
Midun tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Kacak-penghulu yang kaya raya, bangsawan tinggi kemenakan raja di kampungnya menaruh iri dan dendam kepadanya, yang hanya seorang rakyat biasa? Midun merasa tidak melakukan perbuatan yang salah, menyinggung atau menyakiti orang lain. Ia tidak menyadari, justru kehalusan budi pekerti dan kerendahan hatinya menyebabkan ia begitu disayangi dan dibela oleh orang-orang sekampung, sehingga menerbitkan rasa cemburu dan benci Kacak.

Tak habis-habisnya Kacak mencari akal untuk menjebak, menyiksa, bahkan menghabisi nyawa orang yang tak disenanginya. Niatnya tak pernah sampai karena penjagaan ayah dan guru silat Midun. Tetapi akhirnya upaya Kacak berhasil juga, Midun dihukum penjara karena kesalahan yang sengaja ditimpakan kepadanya.

Menjadi orang hukuman benar-benar suatu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Midun. Walaupun demikan, ia mencoba menjalani dengan tabah dan berani. Hari-hari di dalam penjara terasa berat, bahkan masa depan pun tidak jelas. Apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki nasib? Midun memilih untuk tidak menyerah.

Bagaimana selanjutnya perjuangan Midun untuk bertahan hidup? Dapatkah ia mengubah nasibnya yang kurang beruntung? Dan bagaimana akhir permusuhannya dengan Kacak?

192 pages, Paperback

First published January 1, 1929

45 people are currently reading
788 people want to read

About the author

Tulis Sutan Sati

6 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
208 (27%)
4 stars
189 (25%)
3 stars
268 (35%)
2 stars
66 (8%)
1 star
18 (2%)
Displaying 1 - 30 of 62 reviews
Profile Image for Hasanuddin.
254 reviews16 followers
July 14, 2008
Ini novel pertama yang aku review. Aku ingat banget, waktu itu masih kelas 5 SD ada tugas akhir catur wulan (kalo sekarang pake semester) membuat ringkasan dan pendapat dari isi buku yang ada di perpustakaan sekolah. Aku tanya ke sana kemari gimana caranya ringkas dan buat pendapat tentang isi novel. Hasilnya? Seneng banget, hasil ringkasan dan komentar ku dibacakan di depan kelas.
Profile Image for Ariefmai Rakhman.
143 reviews25 followers
October 23, 2012
Yang kebayang itu ingatan sama tentang kecantikan Desi Ratnasari sang pemeran Halimah, dalam adaptasi novel ini di serial TVRI tahun 90an, walaupun waktu itu masih kecil (sd) tapi rasanya ceritanya begitu membekas dalam ingatan.

harusnya dibuat film barunya, dengan versi modern, cocoknya yang jadi midun itu Iko Uwais dan Halimah hmmmmm tetep Desi Ratnasari lol
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 6, 2016
"Sengsara Membawa Nikmat" bercerita tentang Midun, seorang pemuda asal Sumatera Barat (dari sebuah lembah yang tidak jauh dari Bukittinggi). Midun adalah seseorang yang disegani dan disenangi di kampungnya. Kemahirannya dalam ilmu bela diri serta kebaikan hatinya membuatnya menjadi kesayangan banyak orang.

Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa pun.


Popularitas Midun ini ternyata menciptakan kedengkian di hati Kacak, salah seorang pemuka kampung. Kacak, yang tidak senang melihat Midun lebih disukai daripada dirinya, kemudian mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan Midun.

Hmm... bagaimana, ya? Saya awalnya suka dengan ceritanya, tapi lama-lama saya makin kurang tertarik. Di awal cerita, saya suka bagaimana penulis menggiring pembaca untuk melihat kehidupan Midun di kampungnya, keakrabannya dengan sahabatnya-Maun-, hingga bagaimana Kacak berusaha menyingkirkan Midun. Ceritanya masih asyik sampai si Midun akhirnya masuk penjara.

Nah, saya mulai kurang suka ceritanya dari titik itu. Di penjara, yang awalnya digambarkan menyeramkan, hidup Midun justru biasa saja. Awalnya saya kira akan digambarkan kesengsaraan hidup terpenjara, tapi ternyata... Aduhai (*ketularan diksi novel ini), lebih banyak tell daripada show-nya.

Di penjara Midun hanya berkelahi satu kali, lalu dia mendapat perlindungan dari narapidana yang paling disegani. Setelah itu kesusahan Midun hanya diberitahukan saja.

Hampir-hampir tidak terderita oleh Midun pekerjaan yang dikerjakannya itu. Apalagi melihat Midun mengerjakan pekerjaan yang amat hina, timbul kasihan Turigi. Tampak nyata oleh Turigi, Midun hampir tidak kuat lagi menahan siksaan pegawai penjara.


Kering, bo. Sama sekali tidak terasa penderitannya Midun. Kalau misalkan dibandingkan dengan Ben-Hur (review), yang ceritanya sama-sama tentang seorang pria yang menjadi tawanan karena fitnah, saya jauh lebih bisa merasakan penderitaannya Ben-Hur. Dalam kasus ini, show akan jauh lebih menarik simpati daripada tell.

Lalu cerita kemudian berkembang ke pertemuan Midun dengan Halimah (yang cukup oke buat saya), Midun yang tertipu (yang membuat saya pusing, sebenarnya Midun bisa baca-tulis tidak, sih? Di cerita disebutkan kalau dia bertukar surat dengan Halimah, tapi setelah dia masuk penjara lagi, diceritakan kalau dia belajar baca-tulis. Si penipunya itu tulis surat kontrak pakai bahasa apa memangnya?), lalu ada pertemuan kembali dengan adik-adiknya (yang tidak pernah disebutkan sebelumnya), lalu mencapai akhir yang... ah, baca sendiri sajalah.

Intinya, saya suka awal ceritanya, tapi dari tengah ke belakang, rasanya ada banyak teknis penulisannya yang saya kurang suka. Ceritanya kurang detail dan saya tidak dapat emosinya.

Btw, ada yang unggah drama adaptasi novel ini di Youtube. Kayaknya bagus, nanti coba nonton, deh.
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
June 30, 2012
Novel yang dibuat tahun1929 bahkan sebelum Indonesia merdeka, dengan cover warna orange cerah, warna yang sangat mencolok dan salah satu warna favoritku..dengan wajah sepasang pria dan wanita muda belia bertatap mesra berlatar rumah gadang ala cover novel romance..romance ala Indonesia.

Kisah dimulai disebuah kampung atau nagari di Bukittinggi Sumatra Barat, tentang permusuhan Midun dan Kacak, Midun si protagonis dan Kacak sang antagonis, dipermulaannya kita akan disungguhkan betapa benci dan dengkinya Kacak kepada Midun, segala daya upaya ia lakukan demi menjatuhkan dan membuat Midun dibenci oleh warga kampung, tetapi semakin Kacak habis-habisan mengerjai Midun, semakin besar simpati dan rasa sayang warga kampung pada Midun.

Sampai pada suatu peristiwa (Kacak-lah otak dibalik peristiwa ini) , Midun harus menjalani hukuman sebagai tahanan dan ia diasingkan diPadang, sampai kira-kira setengah halaman novel ini belum menemukan si tokoh utama wanita masih menunggu-nunggu, kita (masih) akan disungguhkan terus menerus perseteruan Kacak Vs. Midun. Ketika Midun menjadi tahanan di Padang, berjumpa-lah ia dengan Halimah, seorang gadis asal Sunda. Singkatnya ketika Midun habis masa hukumannya, Halimah meminta tolong Midun untuk diantarkan ke Jawa menemui ayah kandungnya, berangkatlah Midun dan Halimah ke Jawa.

Dan dari sinilah kisah Midun yang di-ibaratkan sebagai Sengsara Membawa Nikmat, seorang mantan tahanan tanpa uang, tanpa pekerjaan, tanpa kekasih, tanpa keluarga, jauh dari kampung halaman (sengsara). Akibat benih dari kesabaran, kerja keras dan pantang menyerah. Ia pada akhirnya dapat memetik buah ‘(nikmat) dan bahagia’ .

Kacak juga mendapatkan balasan yang setimpal, segalanya berjalan adil (andai saja dunia seperti ini, tapi sayangnya dunia tidak seperti ini).
25 reviews1 follower
November 6, 2019
Cerita ini dimulai dengan tokoh utama yang bernama Midun, seorang pemuda yang disegani dan disukai oleh orang-orang di kampungnya. Ia merupakan anak sulung seorang petani biasa. Hal itu karena didikan ayahnya yang menjgajarkan hal kebaikan kepada Midun. Sehingga Midun dapat belajar mengaji, sekaligus ilmu silat kepada guru mengajinya, Haji Abbas dan Pendekar Sultan.
Kepandaiannya dalam ilmu bela diri itu tidak menjadikannya sombong dan menang sendiri, sebaliknya ia tetap ramah dan berakhlak baik.
Di salah satu desa di Padang, tempat midun tinggal terdapat kepala desa yang bernama Tuanku Laras, yang mempunyai seorang keponakan bernama Kacak. Merasa mamaknya sebagai kepala desa yang disegani serta tergolong keluarga kaya, Kacak mempunyai sikap yang berkebalikan dengan sikap Midun. Sikapnya yang angkuh dan sombong sungguh tak di sukai orang-orang di kampung itu.
Kacak tak menyukai orang-orang di kampungnya yang menyukai dan memuji tabiat pemuda miskin itu yaitu Midun. Lalu, dicari-carinya kesalahan Midun. Lebih dari itu, Kacak juga mengajaknya berkelahi. Namun dengan sabar Midun berusaha menghindari keributan. Ia meras lebih baik mengalah daripada ribut atau berkelahi yang tidak bermanfaat itu. Namun, kacak yabg mengaggap Midun sebagai musuhnya, justru menyerangnya secara membabi-buta. Berkat ilmu silat yang dimiliki pemuda penyabar itu, serangan-serangan Kacak selalu dapat dihindarinya. Terlalu mudah baginya mematahkan setiap serangan orang yang sudah dirasuk amarah itu.
Penderitaan selama Midun bertemu dengan Kacak terus menerus bertambah. Karena dengkinya Kacak kepada Midun, ia sampai memfitnah midun dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kacak senang akhirnya musuhnya di penjara dan dia dapat bebas berbuat semaunya di kampungnya.
Kemudian setelah bebas ia juga mendapat ujian dan penderitaan. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah ia tetap berikhtiar dan bertawakal. Ia juga mencintai gadis yang bernama Halimah dan menikahinya. Sementara itu, karena Midun memperlihatkan prestasi yang baik dalam pekerjaanya, ia diangkat sebagai menteri polisi Tanjuk Priok. Suatu hari, Midun di tugasi untuk menumpas penyelundupan di Medan. Ketika sedang menjalani tugasnya, secara kebetulan, ia bertemu dengan Manjau, adiknya. Midun mendengarkan adiknya bercerita panjang lebar tentang kampung dan keluarganya.
Sekembalinya dari Medan, ia mengajukan permohonan kepada Hoofdcommissaris agar tugasnya di pindahkan ke kampung halamannya dan permohonan itu dikabulkan. Bahkan di tempat tugasnya yang baru, Midun diberi jabatan sebagai Asisten Demang. Kacak yang sekarng menjadi penghulu kampung, menjadi ketakutan dan serba salah ketika mengetahui Midun kembali ke kampungnya dan membawa jabatan sebagai Asisten Demang. Tidak lama setelah itu, Kacak dijebloskan ke penjara di Padang karena telah menggelapkan uang negara. Akhir dari cerita ini yaitu penderitaan Midun berakhir dan Midun hidup bahagia bersama keluarganya.
Tulis Sutan Sati adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Beliau lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan meninggal zaman Jepang pada tahun 1942. Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Tulis Sutan Sati pernah menjadi guru. Kemampuan mengarangnya kian terasah ketika ia menjadi salah satu redaktur di penerbitan, yang pada masa itu milik Belanda. Nama penerbitan tersebut adalah Balai Pustaka. Sutan Sati merasakan masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang sehingga ada karya-karyanya tentang penderitaan dan susahnya hidup seperti novel ini.
Karya-karyanya yang asli berbentuk roman adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian (1932), sedangkan karya-karya sadurannya dalam bentuk syair adalah Siti Marhumah Yang Saleh (saduran dari cerita Hasanah yang saleh), Syair Rosina (saduran tentang hal yang sebenarnya terjadi di Betawi pada abad lampau), Sabai nan Aluih (saduran dari sebuah kaba Minangkabau dalam bentuk prosa beriman).
Walaupun merupakan sastra lama, cerita yang tersaji begitu memikat para pecinta sastra sehingga tak mengherankan jika novel ini mengalami cetak ulang yang kedua puluh pada tahun 2010. Novel ini adalah salah satu karya sastra yang memperkaya horison sastra Indonesia pada zamannya.
Novel ini penggambaran cerita dengan suasana adat yang membuka mata pembaca untuk melihat kehidupan Minangkabau. Seperti pada angkatan Balai Pustaka yang sastrawannya banyak menceritakan adat Minangkabau, karena berasal dari Sumatera. Gambaran pengembaraan yang diceritakan cukup realistis serta tidak terpaku di wilayah Sumatra saja namun juga sampai ke pulau Jawa. Novel ini merupakan sastra melayu dengan bahasa kuno sehingga sulit dipahami. Kalimat terlalu dilebih-lebihkan seperti majas dalam puisi. Banyak kalimat yang tak sesuai EYD dan kata-kata tak lazim digunakan. Sepasi antar paragraf pun terlalu kecil membuat sedikit pusing apabila dibaca. Alurnya biasa namun konsisten dengan cerita kehidupan sehari-hari sehinga mudah ditebak oleh pembaca.
Tema yang terdapat dalam novel tersebut sudah tergambar pada judulnya “Sengsara Membawa Nikmat” yaitu tentang perjuangan pemuda yang baik (Midun) yang berasal dari keluarga sederhana di kampung Minangkabau untuk merubah nasibnya yang penuh dengan kesengsaraan dalam menjalani hidupnya, hingga akhirnya sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dicapainya.
Alur dalam novel ini menggunakan alur maju atau progresif. Hal yang dapat diteladani setelah membaca novel Sengsara Membawa Nikmat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah sabar menghadapi ujian, karena setiap orang tak terlepas dari cobaan dan musibah yang telah Allah SWT. berikan kepada manusia untuk menjadikannya bersyukur dan ikhlas menerima apa yang telah diberikan-Nya serta untuk lebih mendekatkan kepada-Nya. Kita sudah seharusnya seperti tokoh Midun, ketika diberi ujian tidak langsung menyerah dan berhenti mencoba, mencoba mencari pekerjaan, mencoba berbuat kebaikan dan mencoba untuk memulai. Dan sebagai manusia kita harus yakin bahwa di setiap ujian yang menimpa pada diri kita pasti akan ada pelajaran yang dapat dituai serta akan ada kebahagiaan setelahnya. Sebagai manusia kita tak boleh seperti Kacak yang sombong, angkuh, tamak, ingin menang sendiri dan lainnya agar kita disukai dan disegani orang lain.
Profile Image for Tidar Rachmadi.
32 reviews9 followers
January 10, 2011
Pertama baca kelas 6 sd, tp karena 'gak kuat' n kebosenan cuma selesai setengahnya aja. Waktu kelas 2 sma, dibaca kembali untuk keperluan tugas membuat film dari karya sastra. Akhirnya beneran, saya remake novel ini menjadi karya film dengan jalan cerita yang diadaptasi untuk lebih 'kekinian'. Seru!!! Tokoh Kacak saya bikin bener2 jahat dan Midun pun merubah kesengsaraannya menjadi kenikmatan melalui kontes Indonesian Idol, hahaha. Waktu itu tahun 2005, kontes semacam itu lagi naik daun. Buku inipun menyimpan banyak kenangan buat saya.
Profile Image for Abdika.
11 reviews
November 7, 2013
Sebuah roman yang sangat banyak nasehatnya bagi para pemuda. ditulis dengan gaya bahasa minang yang diterjemahkan ke Indonesia. Banyak petatah petitih yang mungkin sudah terasa asing bagi pemuda minang kebanyakan. Ingin segera kembali menonton filmnya yang diangkat ke layar lebar pada tahun 1990an.
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
May 12, 2014
Ceritanya bagus, menarik untuk diikuti.
Profile Image for Jenny Meike.
314 reviews31 followers
December 2, 2015
Membaca ulang buku ini, seperti flashback zaman SMP, minjem bukunya di perpus sekolah... Ah selalu suka baca karya sastra zaman dulu. Jadi inget si Midun versi Sandy Nayoan sebelum dia melebar :)
Profile Image for Zacky Putra.
11 reviews
Want to read
December 2, 2019
Secara umum, kisah ini bercerita mengenai suka duka Midun yang menghadapi banyak cobaan sebelum hidup bahagia bersama isteri dan keluarganya. Salah satu cobaan terbesar Midun adalah rasa dengki dari Kacak. Ia sering dicurangi dan difitnah oleh Kacak. Pernah isteri Kacak terseret arus sungai, karena Midun berada di tempat yang sama, ia langsung menolong dan menyelamatkan isteri Kacak. Namun, bukannya berterimakasih, Kacak malah memfitnah Midun hendak memperkosa isterinya. Kacak melaporkan hal tersebut pada pimpinan desa dan mereka mempercayai fitnah tersebut. Dan sebagai akibatnya, Midun dihukum untuk melakukan pekerjaan tanpa digaji. Ia melakukan hukuman tersebut di bawah pengawasan Kacak.
Tidak berhenti sampai di situ, Kacak masih gerah melihat Midun masih berkeliaran di desa mereka. Ia akhirnya merencanakan sejumlah hal dengan tujuan membunuh Midun. Usaha tersebut selalu gagal tetapi Kacak masih bisa memfitnah Midun sehingga pada akhirnya ia dijebloskan ke dalam penjara. Di dalam penjara Midun menjadi seorang yang disegani sebab ia memiliki hati yang baik dan kepandaian dalam bela diri. Dalam menjalani masa tahanannya, Midun suatu hari bertugas menyapu jalanan. Secara tidak sengaja ia melihat seorang gadis cantik yang duduk termenung sendiri. Setelah gadis itu pergi, Midun bermaksud menyapu di tempat gadis tersebut tadi duduk. Ia kaget dan mendapati sebuah kalung yang tercecer milik gadis tersebut. Akhirnya setelah mengembalikan kalung tersebut, ia bisa berkenalan dengan gadis yang ternyata bernama Halimah tersebut. Halimah hidup bersama dengan ayah tirinya. Ia merasa tidak bahagia dan berniat mencari ayah kandungnya di Bogor. Midun berjanji setelah menjalani masa hukumannya, ia akan membantu Halimah mencari ayahnya di Bogor.
Singkat cerita, Midun akhirnya keluar dari penjara dan membawa Halimah lari ke Bogor mencari ayahnya. Setelah menemukan ayah Halimah, Midun menetap di rumah tersebut selama 2 bulan. Dia merasa tak enak dan kemudian memutuskan berangkat ke Batavia mencari pekerjaan. Saat di Batavia, Midun mendapat banyak sekali cobaan dan rintangan. Ia meminjam uang pada rentenir dan memulai usahanya yang akhirnya sukses. Si renternir menjadi iri dan memfitnah Midun. Akhirnya, ia masuk ke penjara sekali lagi. Setelah bebas, ia berjalan ke pasar baru dan secara tidak sengaja menolong seorang sinyo Belanda yang diganggu penjahat. Sinyo Belanda tersebut ternyata anak seorang pejabat terkenal. Sebagai rasa terimakasih, Midun diberi pekerjaan dan akhirnya ia ke Bogor menikahi Halimah. Seiring perjalanan waktu, karir Midun menanjak dan dipercaya memimpin sebuah operasi di Medan. Hal tersebut mempertemukannya dengan sang adik bernama Manjau. Manjau bercerita bahwa keadaan keluarganya sangat menyedihkan. Akhirnya sekembali ke Batavia, Midun meminta agar ditugaskan di kampung halamannya. Ia akhirnya kembali ke sana dan bertemu dengan keluarganya juga Kacak. Kacak sangat menyesali perbuatannya dulu pada Midun. Dan pada akhirnya, mereka hidup bahagia di kampung halamannya.

hubungan antara isi dan judul berkesinambungan. karena pada novel tersebut menceritakan tentang judul pada bagian awal sampai akhir.

Novel ini dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Pendekatan tersebut digunakan karena novel yang berisi cerita-cerita dengan latar utama di Minangkabau ini sangatlah patut untuk dibaca. Menggabungkan tema seperti persahabatan, kekeluargaan, asmara, adat, dan lain-lain Tulis membuat pembaca merasakan kehidupan jaman dahulu ditambah nuansa adat Minang yang kental. Mengisahkan dua orang pemuda yang bermusuhan oleh sebab rasa iri dan dengki yang timbul. Ialah Midun, anak peladang yang arif dan soleh. Serta Kacak, kemenakan Tuanku Laras yang berkarakter bengis dan pendendam. Apapun dipermasalahkan, terutama yang menyangkut soal Midun si musuh bebuyutannya.
21 reviews
January 27, 2025
Aku membaca novel ini karena reputasinya sebagai awal mula sastra modern Indonesia. Novel ini amat terkenal. Tapi kukira, tidak seperti karya klasik Barat, novel ini diingat orang bukan karena kualitasnya yang tak lekang oleh waktu, tapi karena posisi strategisnya dalam sejarah sastra. Seandainya ia terbit di zaman lain, tidak akan ada yang memandang novel ini dua kali. Novel ini sungguh2 seperti sinetron.

Diceritakan Midun adalah pemuda Minangkabau yang sempurna budi pekertinya. Bayangkan si Entong versi Minang. Musuh bebuyutannya adalah Kacak, pemuda di kampung yang sama juga. Tapi kalau Midun bagian dari keluarga orang biasa, Kacak adalah kemenakan tokoh penting di kampung. Kacak adalah kebalikan total dari Midun. Jikalau Midun sempurna budi pekertinya, maka Kacak sama sekali rusak. Di antara kedua orang ini tidak pernah bisa akur, tentu karena Kacak yang memulai (dan Midun menyikapi dengan penuh kesabaran seperti seorang santo), tersebab oleh iri hatinya akan kecintaan orang sekampung kepada Midun. Demikianlah dinamika hubungan di antara kedua orang ini menggerakkan banyak konflik dalam cerita, sedemikian rupa hingga satu titik Midun harus minggat dari kampungnya untuk menghindari ulah Kacak.

Satu lagi yang cukup menarik perhatianku adalah penggambaran pemerintahan kolonial pada masa itu. Boleh jadi ini sebetulnya suatu bentuk penjilatan, bagaimanapun juga konon katanya Balai Pustaka (penerbit novel ini) itu didirikan Belanda, tapi hidup di bawah penjajahan sepertinya tidak banyak berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia sesudah merdeka. Digambarkan orang-orang Minang dapat hidup di kampung mereka berdasarkan asas kebudayaan mereka sendiri, dengan struktur masyarakat tradisional Minang (tapi aku pernah baca: gelar "tuanku laras" yang dipegang oleh pamannya Kacak itu sebetulnya adalah jabatan bikinan Belanda, tapi ini tidak disebutkan. Karena Tuanku Laras digambarkan sebagai tokoh antagonis, mungkinkah ini bentuk sindiran terhadap pemerintah kolonial?); orang-orang dapat berdagang, mengumpulkan kekayaan, memiliki tanah dan sawah dan rumah. Hampir semua tokoh dalam cerita adalah pribumi. Ada satu tokoh peranakan Belanda (indo?) yang berperan sebagai anatagonis. Ada satu tokoh Belanda yang menolong Midun dan digambarkan amat adil dan baik (penjilat!).

Hal lain yang aku amati: sepertinya konsep kebangsaan belumlah umum di tengah masyarakat awam. Novel ini terbit 1929, dan Sumpah Pemuda terjadi di 1928, jadi semestinya konsep kebangsaan itu sudah cukup dikenal di antara kaum terpelajar. Tapi tokoh-tokoh pribumi dalam novel ini bukan kaum terpelajar. Diceritakan bagaimana Midun merantau ke Pulau Jawa, dan signifikasinya sudah seperti pergi ke lain negara. Di Jawa, Midun bertemu dengan tokoh-tokoh non-Minang. Sepertinya Midun tidak membedakan antara non-Minang yang pribumi dan yang bukan pribumi. Bagi Midun sepertinya dunia ini terbagi ke dalam Minang dan bukan-Minang. Tidak ada yang menghubungkan dia dengan orang Jawa seperti tokoh Halimah, kecuali sama-sama manusia. Bagi Midun sepertinya tidak ada bedanya antara orang Jawa, orang Arab, orang Aceh, orang Indo, orang Belanda --- semuanya sama-sama non-Minang.
Profile Image for Widodo Aji.
21 reviews2 followers
November 7, 2019
Novel “Sengsara Membawa Nikmat” karya Tulis Sutan Sati ini merupakan novel yang terbit pada periode 20-an, yaitu tepatnya pada angkatan “Balai Pustaka”. Novel ini memiliki ciri khas, yaitu penggambaran mengenai kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920-an. Selain itu, tema dan juga cara penceritaan daripada penyair atau Tulis Sutan Sati sendiri, banyak yang diangkat dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, dan juga menyentuh tentang masyarakat Minangkabau. Menurut A. Teeuw, pengarang daripada novel “Sengsara Membawa Nikmat”, yaitu Tulis Sutan Sati, menceritakan tiap babak dan bagian dalam novel dengan sangat menarik, dan kelincahan si pengarang membawa pembaca ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawi. Sehingga, gambaran dalam novel ini dirasakan lebih menunjukkan realitas-realitas, dan seolah-olah peristiwa ini benar-benar terjadi ketika zaman dimana novel ini diciptakan.
Novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini mengambil tema yaitu mengenai perjuangan seorang tokoh bernama Midun, yang ia selalu mendapatkan kesengsaraan dan kemalangan karena pihak yang tidak suka dengannya, hingga akhirnya ia menjadi seorang yang berhasil dan mendapatkan nikmat tiada tara. Novel ini menggunakan alur maju dan juga menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, hal tersebut dibuktikan dengan adanya penyebutan nama tokoh oleh sang pengarang. Dalam novel ini banyak menggunakan bahasa Minangkabau, seperti “Amboi, bunyi yang kami takutkan itu, kiranya “Cempedak hutan” yang baru jatuh. Selain itu, dalam novel ini juga menyematkan penggunaan peribahasa, seperti “Belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas”, dan “Ilmu padi kian berisi, kian merunduk”.
Dalam novel ini juga banyak nilai yang terkandung, yang dapat kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi agama, novel ini penuh dengan nilai keagamaan. Hal tersebut tergambar melalui tokoh Midun. Dimana ia merupakan seseorang yang selalu taat dalam beribadah, pintar mengaji dan mengamalkan ilmu agamanya. Dalam aspek pendidikan, novel ini memberikan pengajaran agar senantiasa belajar hal yang memiliki sifat positif, karena akan berguna dimasa depan. Seperti Midun yang selalu belajar mengaji, bersilat, berdagang dan baca tulis. Penyair pun juga mengisyaratkan agar manusia senantiasa mensyukuri apa yang dimiliki dan menjalani kehidupan dengan sabar dan ikhlas, karena kelak dibalik kesengsaraan itu ada kenikmatan yang menunggu. Pada intinya, dalam novel ini penuh akan nilai rohani, kehidupan, pendidikan, dan nilai yang dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara ciri dalam novel “Sengsara Membawa Nikmat” dengan karakteristik karya sastra dalam angkatan “Balai Pustaka” tercermin melalui, pertama, roman diciptakan sesuai dengan realita masyarakat, artinya novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini mengangkat akan kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920-an. Kemudian, karya sastranya masih berbentuk roman, belum memiliki bentuk-bentuk lain, sama dengan novel ini juga berbentuk roman. Kemudian, bahasa yang digunakan dalam novel “Sengsara Membawa Nikmat” ini juga masih menggunakan campuran dari bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah Minangkabau itu sendiri. Terakhir, dengan adanya nota ringkes, karya sastra di periode ini masih terbelenggu dalam keterbatasan akan membahas mengenai situasi dan kondisi masyarakat.
Profile Image for Nila Mahardika.
20 reviews
November 5, 2019
Tulis Sutan Sati lahir pada tahun 1898. Dia hidup pada zaman penjajahan Jepang dan Belanda. Pada tahun 1928, pengarang melahirkan sebuah novel yang berjudul“sengsara Membawa Nikmat”. Dari novel terssebut pengarang melukiskan/menggambarkan kehidupan masyarakat Minangkabau pada saat dijajah Jepang dan Belanda tidak jauh berbeda. Ternyata kehidupan masyarakat Minangkabau pada zaman dahulu penuh dengan penderitaan. Masyarakat yang mendapat hukuman karena kesalahan yang tidak tentu dilakukan oleh masyarakat tersebut, dipaksa bekerja keras, kerja paksa (Rodi). Seperti dalam kutipan (…..mengirik ke sawah istri Kacak itu, adalah pada pikirannya sebagai menjalankan kerja rodi… SMN, 2010: 29). (…. Sehari-hari itu Midun bekerja paksa. Tak sedikit jua ia dapat berhenti melepaskan lelah.. SMN, 2010: 97. (….seakan-akan orang ia kerja paksa seharian itu. SMN, 2010: 97). Selain itu pengarang ingin menunjukkan bahwa nasib seseorang bisa berubah, jika seseorang gtersebut berusaha, sabar dan berdoa, walaupun seseorang tersebut dari kalangan bawah, yang tidak berpendidikan dan berasal dari kalangan yang tidak mampu. Seseorang tersebut dapat berpeluang menjadi orang yang sukses diemudian hari asal seseorang tersebut mau bekerj keras dan berusaha mengubah nasib hidupnya. Seperti dalam kutipan (…saya sudah berjanji dengan diri saya, dikalau saya lepas dari hukuman, akan tinggal mencari penghidupan di Padang. Kalau tak dapat di Padang, dimanapun jua, asal dapat mencari rizki untuk sesuap pagi dan sesuap petang… SMN, 2010: 127).
Pengarang menggambarkan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, suka bergotong royong, dan tolong menolong sesuai dengan penciptaan novel ini. Terbukti ketika Midun akan mengirik sawah. Banyak masyarakat dengan suka cita membantu keluarga Midun. Hal ini disebabkan karena peragai Midun yang baik kepada siapapun. Seperti dalam yang tercantum dalam kutipan, (Sudah umum pada orang kampung itu, manakala ada pekerjaan berat suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang dilakukan bukan dengan upah hampir tidak ada… diseluruh tanah Minangkabu… suka bertolong-tolongan itu. Misalnya dalam hal sawah, mendirikan rumah dan pkerjaan lain. SMN, 2010: 26).
Pembuatan novel ini dilakukan ketika masa penjajahan maka Pada masa itu, para pemuda Indonesia sedang semamgat untuk melawan penjajah. Hal tersebut digambarkan jelas melalui tokoh Midun. Pengarang telah bergelut pada masa itu, sehingga novel ini sarat akan makna kehidupan. Pengarang tidak setuju dengan penjajahan dan kekuasaan memerintah.
Jiwa pengarang pada masa itu adalah semangat yang berkobar. Adanya pembeda antara penjabat dan rakyat dalam hukum, sehingga menimbulkan kebencian dihati pengarang. Terbukti dari semua perlakuan Kacak dan keluarga tunku Laras terhadap Midun dan masyarakat di kampung. Tetapi, kenyataannya Midun menghadapi semua perlakuan tersebut dengan sabar dan tabah.
19 reviews1 follower
Read
November 19, 2019
Novel Sengsara Membawa Nikmat merupakan roman karya salah seorang sastrawan asal Minangkabau, yaitu Tulis Sutan Sati. Novel ini termasuk Angkatan Balai Pustaka atau Periode 1920-an karena terbit pada tahun 1929. Dengan latar belakang adat budaya Minangkabau, novel ini berkisah tentang pengembaraan tokoh utamanya yang bernama Midun. Seperti pada angkatan atau periode yang lain, angkatan Balai Pustaka ini memiliki karakteristik yang mencirikan karya-karya yang termasuk dalam Angkatan Balai Pustaka.
Pada angkatan ini, muncul anggapan jika bukan dinamakan karya sastra jika karya tersebut tidak berbentuk roman. Pernyataan ini sesuai dengan Novel Sengsara Membawa Nikmat, diceritakan dalam novel tersebut Midun dan Halimah saling mencintai hingga lanjut ke jenjang pernikahan dan menjadi keluarga yang bahagia. Dalam Angkatan Balai Pustaka sendiri terdapat pembatasan karya-karya sehingga para pengarang tidak bisa menentang aturan yang ada pada nota rinkes.
Sutan Sati sendiri memiliki latar belakang agama Islam yang teguh dan kuat. Sehingga dalam kara-karyanya pun tercermin nilai-nilai agama Islam. Hal tersebut bisa dilihat dalam roman Sengsara Membawa Nikmat yang didalamnya mengandung nilai-nilai Islam. Hal ini sesuai dengan kutipan berikut “Dalam sebuah surau...” (halaman 9). Surau disini maksudnya adalah pesantren. Seperti yang kita ketahui pesantren merupakan tempat belajar bagi orang Islam.
Dalam Angkatan Balai Pustaka, karya-karya yang dihasilkan oleh pengarang merupakan sebuah gambaran kehidupan keseharian masyarakat sesuai realita. Dimana dalam kehidupan ini pasti terdapat orang yang dengki dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Roman tersebut digambarkan terjadi di Negeri Minang. Karya-karya yang dihasilkan tidak lagi berhubungan dengan kehidupan raja-raja, dewa, atau kejadian tidak masuk akal seperti halnya dengan cerita-cerita lama. Melainkan berhubungan dengan kenyataan atau fakta kehidupan masyarakat pada masa itu. Seperti yang diceritakan pada novel ini, yaitu Kacak yang mempunyai sifat dengki terhadap keberhasilan Midun.
Bahasa yang digunakan dalam roman Sengsara Membawa Nikmat adalah bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, dan bahasa daerah. Pada novel Sengsara Membawa Nikmat ini menggunakan Bahasa Daerah Mingkabau dan menggunakan Bahasa Melayu Umum. Penggunaan bahasa Melayu dan bahasa daerah Minangkabau sesuai dengan karakteristik peiodisasi Balai Pustaka bahwa karya pada saat itu banyak menggunakan bahasa Melayu dan bahasa daerah.
Karakteristik yang menonjol pada Angkatan Balai Pustaka adalah karya sastra yang dihasilkan diharapkan bisa mendidik para pembacanya. Hal ini sesuai dengan Novel Sengsara Membawa Nikmat dimana Midun harus bersakit-sakit dahulu, hidupnya dipenuhi dengan cobaan. Namun Midun tetap sabar menghadapi semua cobaan dan akhirnya ia mendapa nikmat setelah ia berlaku sabar.
Profile Image for Eko Ramadhan.
20 reviews1 follower
November 25, 2019
kisah ini bercerita mengenai suka duka Midun yang menghadapi banyak cobaan sebelum hidup bahagia bersama isteri dan keluarganya. Salah satu cobaan terbesar Midun adalah rasa dengki dari Kacak. Ia sering dicurangi dan difitnah oleh Kacak, seperti memfitnah Midun hendak memperkosa isterinya. Kacak melaporkan hal tersebut pada pimpinan desa dan mereka mempercayai fitnah tersebut. akhirnya, Midun dihukum untuk melakukan pekerjaan tanpa digaji. hingga suatu hari kacak merencanakan sejumlah hal dengan tujuan membunuh Midun. Usaha tersebut selalu gagal tetapi Kacak masih bisa memfitnah Midun sehingga pada akhirnya ia dijebloskan ke dalam penjara. pada saat masa tahanan ia bertemu denga Halimah. Disana Halimah hidup dengan ibu kandung dan ayah tirinya. ia tidak betah hidup dengan ayah tirinya dan memutuskan untuk mencari ayah kandugnya di bogor. singkat cerita midun mengantarkannya. setelah bertemu dengan ayah kandung Halimah, Midun pergi kerentenir untuk memulai usahanya yang akhirnya sukses. Si renternir menjadi iri dan memfitnah Midun. Akhirnya, ia masuk ke penjara sekali lagi. Setelah bebas, ia berjalan ke pasar baru dan secara tidak sengaja menolong seorang sinyo Belanda yang diganggu penjahat. Sinyo Belanda tersebut ternyata anak seorang pejabat terkenal. Sebagai rasa terimakasih, Midun diberi pekerjaan dan akhirnya ia ke Bogor menikahi Halimah. eiring perjalanan waktu, karir Midun menanjak dan dipercaya memimpin sebuah operasi di Medan. Hal tersebut mempertemukannya dengan sang adik bernama Manjau.Akhirnya sekembali ke Batavia, Midun meminta agar ditugaskan di kampung halamannya. Ia akhirnya kembali ke sana dan bertemu dengan keluarganya juga Kacak. kacak ketahuan berbuat curang dan akhirnya Midun menghukumnya. Dan pada akhirnya, midun hidup bahagia di kampung halamannya.
.
hubungan anatara judul dengan isi adalah sangat berkaitan. karena, judul tersebut sangat menggambarkan sekali tentang sesorang yang pada mulanya sengsara namun pada akhirnya dapat meraaan nikmatnya.
.
novel ini dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan pragmatik yang memandang karyasastra sebagai media yang digunakan pengarang untuk mencapai tujuan tertentu,berupa nilai moral baik tokoh protagonis, nilai moral tidak baik tokoh antagonis,dan amanat.
.
novel ini jika dihubungkan dengan masa sekarang yaitu bahwa semua pasti akan merasakan kesengsaraan terlebih dahulu untuk mencapai sebuah keinginan atau kenikmatan. jika kita sabar dan kuat dalam menghadapi sengsara tersebut maka kenikmatan akan terasa begitu indah,
20 reviews1 follower
November 11, 2019
Novel Sengsara Membawa Nikmat yang diterbitkan oleh balai pustaka merupakan novel klasik bertema tentang kesabaran seseorang dalam menerima penderitaan. Dalam novel ini tokoh harus bersabar dalam menghadapi kehidupan karena taka da kehidupan yang tanpa ujian ataupun cobaan, dan percayalah dibalik itu semua pasti ada hikmah yang tersembuyi. Jika dilihat dari bahasanya novel klasik ini bahasanya melayu yang tidak lain yakni bahasa yang digunakan adalah bahasa Minangkabau. Bahkan adat yang digunakan juga adat dari Mingkabau. Dalam Minangkabau ekonomi yangdigunakan ialah ekonomi menengah kebawah, namun sebagian besar di Minangkabau beragama islam. Namun berbeda dengan novel Ayat-Ayat Cinta yang diterbitkan oleh pujangga baru merupakan masa kini yang bertema tentang cinta dan kehidupan sosisal mahasiswa Al-Azhar dan pendidikan dakwah yaitu perjuangan Fahri dalam menuntut ilmu di Kairo, Mesir. Dalam novel ini peran kita tokoh saat merencanakan sesuatu pasti aka nada halangan dan rintangan yang menghadang, tujuan yang hendak dicapai di depan mata belum tentu akan berjalan dengan mulus. Semakin banyak ilmu atau pengetahuan yang diterima atau didapat maka akan semakin banyak pula hambatan dan godaan yang harus dilewati. Dengan hati yang sabar dan ikhlas kita harus yakin bahwa aka nada hikamah dibalik semuanya. Bila dilihat dari bahasanya novel ini menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan runtut serta mudah dimengerti. Adat yang diterapkan pada novel ini adalah budaya mesir dan ekonomi yang ada pada novel ini termasuk ekonomi menengah. Tokoh yang ada pada novel ini juga menganut agama isam.
Novel Sengsara Membawa Nikmat ini merupakan salah satu novel klasik Indonesia yang sangat populer. Bahkan kisahnya telah diangkat ke layar kaca dan menjadi tontonan wajib di masanya. Kisah ini pada intinya bertemakan cinta yang dibalut intrik-intrik. Tokoh utama novel Sengsara membawa Nikmat ini adalah seorang pemuda berdarah Minang bernama Midun. Ia seorang yang santun, berperangai baik, taat agama, pandai ilmu silat dan rendah hati. Karena sederet kebaikan inilah sehingga Midun sangat disukai warga sekampungnya. Hal ini mengusik rasa iri hati serta dengki pemuda lainnya bernama Kacak. Kacak sendiri digambarkan sebagai seorang yang congkak, sombong dan angkuh. Ia merupakan keponakan orang terpandang di Padang. Ia sangat iri pada Midun karena ia menganggap Midun tak pantas disayangi banyak orang sebab ia hanya anak seorang petani miskin.
Profile Image for Faiz • فائز.
362 reviews3 followers
January 28, 2025
Dalam buku Antologi Biografi Tiga Puluh Pengarang Sastra Indonesia Modern, Tulis Sutan Sati, pengarang novel ini diletakkan sebagai pengarang period 1930-an hingga 40-an. Beliau pernah menjadi guru, kemudiannya berpindah tugas sebagai pegawai di Balai Pustaka. Ketika inilah, beliau menghasilkan Sengsara Membawa Nikmat, yang juga pernah diadaptasi menjadi sinetron, melalui carian saya di Internet.

---

Alur cerita di dalam novel ini sederhana sahaja. Midun, anak seorang petani, dimusuhi Kacak, anak kepada seorang pembesar di kampung yang terletak di Bukit Tinggi. Beliau diperlakukan dengan bermacam-macam khianat oleh musuhnya itu sehingga dijebak ke dalam fitnah yang begitu besar—tercampak ke Padang untuk menjalani hukuman penjara selama empat bulan lamanya. Di sini, Midun menjalani segalanya dengan penuh kesabaran sehingga dibebaskan. Pertemuannya dengan Halimah sejurus selepas dibebaskan pula membawa beliau ke lembar kehidupan yang baharu. Dari pulau Sumatera, beliau berlayar ke Pulau Jawa. Bermula daripada menjadi seorang peniaga, ditipu, kemudian beralih kerja daripada pejabat menjadi mata-mata. Berkat kesungguhan, kesabaran dan ketekunan dalam menjalani kehidupan, beliau menjadi menteri polisi dan pulang semula ke kampungnya.

Walaupun sederhana ceritanya, kekuatan novel ini pada hemat saya ialah kemampuannya menggambarkan budaya orang Minang itu bagaimana—sikap mengalah untuk tidak berbalah, sistem sosial masyarakat dan keteguhan sanak-bersaudara. Yang paling jelas terpancar ialah bagaimana sistem masyarakat yang terbina dengan kelas-kelas ini mencelakakan. Misalnya, dalam banyak hal, orang kampung berpihak kepada Midun, namun kerana kuasa yang ada pada bapak Kacak, mereka terpaksa akur dengan keputusan yang bersikap berat sebelah dan merugikan Midun.

Ketidakadilan dalam satu-satu masyarakat/sistem/organisasi, wajar ditentang. Meski sudah berakar lama sebagai tradisi, yang batil tetap jelas batil dan yang haq tetap jelas haq. Mereka yang beranggapan bahawa keamanan lebih utama, sedang kezaliman berleluasa adalah manusia yang tolol.

Satu hal lagi yang mampu saya kutip dalam novel ini: banyak ujian, banyak pula pengajaran dan jauh perjalanan, luas pengalaman. Kutiplah nasihat daripada mereka yang tua dan berbuat baiklah sentiasa. Berhati-hatilah dalam mengorak langkah—andai tersalah, teruslah berpatah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
20 reviews
December 5, 2019
Dikisahkan kehidupan seorang pemuda laki-laki bernama Midun di negeri Minang. Midun dikenal sebagai pemuda yang memiliki perangai baik, sholeh, pandai, rajin dan santun. Sehingga para warga kampung pun sangat menyukai Midun. Hal tersebut membuat Kacak merasa iri terhadap Midun. Kacak mencoba menyingkirkan Midun dari desa itu, hingga Midun harus dipenjara.

Saat menjalani hukuman menyapu, bertemulah Midun dengan seorang wanita bernama Halimah. Hingga takdir menyatukan mereka dengan Midun yang menyelamatkan Halimah dari kesengsaraan hidupnya saat ia terlepas dari hukuman. Midun membawa Halimah kembali ke negeri asalnya, Pulau Jawa.

Kenikmatan hidup mulai dimiliki Midun setelah ia menolong sinyo yang akan celaka. Midun mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor hingga setelah beberapa bulan saja sudah diangkat sebagai kepala polisi. Midun segeralah meminang Halimah dan hidup berdua di Tanjung Priuk. Kehidupan mereka berdua pun sangat bahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak.

Dalam roman Sengsara Membawa Nikmat terdapat perselisihan mengenai harta pusaka. Di mana saat mamak meninggal seluruh harta pusaka akan menjadi milik kemenakannya. Pada saat itu terjadi perselisihan diantara keluarga Midun dan kemenakan Bapak Midun hingga dibawa ke perkara. Keputusan yang disepakati adalah harta pusaka Bapak Midun jatuh kepada Kemenakannya.

Roman Sengsara Membawa Nikmat merupakan cerita yang ada atau terjadi di suatu ruang lingkup masyarakat. Dimana dalam kehidupan ini pasti terdapat orang yang iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Roman tersebut digambarkan terjadi di Negeri Minangkabau. Novel ini berhubungan dengan kenyataan atau fakta kehidupan masyarakat pada masa itu.

Dalam roman Sengsara Membawa Nikmat, pembaca dapat memperoleh pembelajaran yang bisa diteladani dan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Pembelajaran tersebut berupa bagaimana sikap dan tingkah laku yang seharusnya dimiliki seseorang dalam hidup bermasyarakat, seperti yang digambarkan pada tokoh Midun. Kemudian memberikan pelajaran bagaimana seseorang harus memiliki pikiran yang dingin, tidak mudah iri dan dengki dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Serta dalam menjalani kehidupan ini seseorang harus selalu berjuang dan melawan rasa takutnya.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
October 18, 2024
Konflik dalam Sengsara Membawa Nikmat adalah tradisi-tradisi yang merugikan manusia menciptakan lingkungan yang penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan tekanan sosial. Novel ini mengajak saya untuk merenungkan dampak negatif dari norma-norma yang kaku dan tidak adil, serta pentingnya mengevaluasi dan merombak tradisi yang tidak lagi relevan. Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera, diperlukan keberanian untuk menantang dan mengubah tradisi yang merugikan.

Tradisi hierarki ini merugikan karena mengabaikan potensi individu. Kualitas seperti kebijaksanaan dan kejujuran tidak dihargai jika tidak disertai dengan status sosial. Masyarakat yang terjebak dalam pola pikir ini menjadi stagnan, karena tidak memberikan kesempatan bagi individu berbakat untuk bersinar.

Tradisi ini sangat merugikan karena menciptakan siklus kekerasan yang tidak pernah berakhir. Alih-alih mencapai penyelesaian, konflik hanya memunculkan dendam dan kebencian. Masyarakat yang mengandalkan kekerasan sebagai solusi akan terus terjebak dalam ketidakstabilan dan ketidakamanan.

Menjaga kehormatan keluarga dengan cara yang ekstrem bisa merugikan individu. Tekanan untuk bertindak sesuai dengan harapan tradisi dapat menyebabkan stres dan konflik internal. Ketika individu lebih mementingkan citra keluarga daripada nilai-nilai pribadi, mereka berisiko kehilangan jati diri dan kebahagiaan.

Menghindari konfrontasi dapat mengarah pada ketidakpuasan dan penumpukan masalah. Jika individu tidak berani menyuarakan ketidakadilan, maka situasi akan terus berulang. Tradisi ini mengajarkan bahwa ketidakadilan dapat diterima, yang pada gilirannya merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Akhirnya, novel ini bukan sekadar tentang perjuangan melawan tradisi, melainkan juga tentang bagaimana kita memilih untuk merespons absurditas kehidupan. Saya seakan diingatkan, bahwa hidup di bawah naungan tradisi yang kaku bisa menjadi komedi yang tidak ada habisnya.
30 reviews1 follower
November 5, 2019
Periode balai pustaka merupakan periode dimana para sastrawan yang unggul mulai muncul dan menampakan dirinya. Periode ini sangat identik dengan tema mengusung adat istiadat daerah pengarangnya. Pada periode ini juga mulai bermunculan karya sastra yang sangat luar biasa dan beberapa diantaranya dapat bertahan hingga menembus periode milenial.
Kawin paksa merupakan tema yang kebanyakan diambil oleh pengarang pada periode balai pustaka, selain itu kisah-kisah romansa juga mulai bermunculan kepermukaan. Salah satu karya dari periode balai pustaka yang melegenda hingga saat ini adalah, roma Sitti Nur Baya karya Marah Rusli. Karya buahtangan dari Marah Rusli memiliki cerita yang sesuai pada keadaan zaman saat itu, sehingga jika membacanya masih akan terasa unsur budaya dan adat yang dicantumkan di novel tersebut.
Pada periode ini juga para pengarang mulai berlomba-lomba membuat karya sastra yang bertemakan kawin paksa dan perjodohan. Pada periode ini juga karya sastra sudah sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa inti dari karya mereka. Pengarang pada periode ini juga banyak pengarang yang berasal dari tanah Sumatera. Mereka adalah, Marah Rusli, Abdul Muis, Tulis Sutan Sati dan semuanya berdarah Minang. Selain itu ada juga, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, Merari Siregar, dan masih banyak lagi.
Jadi hampir sama denga karakter karya sastra yang terbit pada periode ini, mengambil tema kehidupan bermasyarakat yang terjadi sehari-hari dengan ciri khas pada zamannya. Memang itulah ciri atau karakter yang terjadi pada periode balai pustaka.
23 reviews
November 6, 2019
Tulis Sutan Sati lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat tahun 1898. Ia adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Beliau merasakan masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Novel Sengsara Membawa Nikmat yang diterbitkan oleh balai pustaka merupakan novel berbentuk klasik bertema tentang kesabaran seseorang dalam menerima penderitaan, bernuansa adat Minangkabau. Novel yang satu ini bisa dikategorikan novel klasik terbitan Balai Pustaka. Ia menandai zaman dimana sastra Indonesia masih didominasi penggunaan bahasa melayu yang kental. Adapun tema umum novel yang satu ini adalah kehidupan percintaan dan polemic antar teman. Novel ini mengangkat konflik zaman dulu yang masih kental dengan adat istiadat. Bahasa yang digunakan masih Melayu klasik tetapi masih mudah dipahami, yang tidak lain yakni bahasa yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau.
Novel Sengsara Membawa Nikmat dianggap karya yang paling bernilai dari Tulis Sutan Sati. Novel ini memperincikan tentang kehidupan masyarakat Minangkabau pada tahun 1920. Temanya berpusat pada perantauan tokoh utamanya, menampakkan realita seolah-olah peristiwa ini beanr-benar terjadi.
19 reviews1 follower
Read
December 6, 2019
Midun adalah lelaki yang baik dan disegani di kampungnya. Namun ada seseorang yang sangat membenci Midun, yaitu Kacak. Kacak selalu berusaha menghancurkan hidup Midun dengan segala cara. Sampai akhirnya Midun tidak kuat lagi menghadapi cobaan itu, Midun pun memutuskan untuk merantau agar tidak bertemu Kacak lagi. Semasa perantauan, hidup Midun tidak berjalan dengan baik. Ia bolak balik dipenjara karena fitnah yang ia terima.

Hingga suatu hari, Kacak menemukan cobaan hidupnya, sementara Midun menemukan titik tertinggi di dalam hidupnya di mana ia mencapai kehidupan yang sukses di tanah perantauannya hingga kampung halamannya.

Novel ini menarik sebab membawakan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan. Agar pembaca dapat menerima manfaat setelah membaca novel ini.
Profile Image for Muhammad Fachreza Rahmadian.
25 reviews
September 28, 2025
Novel ini diakui bisa mendeskripsikan secara apik lokasi-lokasi yang ada di Sumatera Barat (dibarengi Bogor dan Batavia/Betawi yang muncul di pertengahan hingga akhir cerita). Perlu dimaklumi karena novel ini pertama kali diterbitkan pada 1929, maka kaidah bahasa Indonesia tidak (sepenuhnya) sama seperti sekarang dan penuh dengan peribahasa. Hal yang akan memusingkan pembaca adalah dialog bertele-tele yang sebenarnya bisa diucapkan dalam satu atau dua kalimat singkat, tapi bisa dibilang kalimat panjang lebar menjadi ciri khas penulis zaman ini. Hal lain yang bisa diperbaiki adalah pengenalan beberapa karakter yang agak mendadak dan membingungkan di akhir buku dan penyelesaian konflik terhadap antagonis yang hanya muncul di paragraf terakhir dan terlalu singkat.
Profile Image for Abdoel.
36 reviews
March 18, 2025
"Dengan sabar dan tulus ichlas diterimanja segala tjobaan atau bahaja jang me-nimpa dirinja. Hatinja tetap, kemauannja keras dan berani serta sabar menentang bahaja. Biarpun apa djua jang terdjadi atas dirinja. Midun tidak pernah berputus asa, karena ia maklum, bahwa tiap-tiap tjelaka itu ada gunanja atau ke-sengsaraan itu kerap kali membawa nikmat. Imannja teguh dan tidak permah hilang akal, kendatipun silih berganti ben-tjana jang datang kepadanja. Karena pengharapannja jang tidak putus-putus itu, selalu ia mengichtiarkan diri akan memperbaiki nasibnja."

Sangat tergambarkan sekali seorang yang teraniaya macam Midun,akan tetapi ia tetap teguh hatinya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alvi Tita Wijaya.
35 reviews
December 3, 2019
Makna yang terkandung pada novel ini sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari karena setiap orang baik pasti ada saja yang tidak menyukai. Setiap orang yang melakukan akan terlihat menjengkelkan apabila kita tidak menyukainya. Lalu seorang yang baik itu akan selalu mendapatkan musibah yang nantinya akan membuatnya hidup bahagia. Novel ini memiliki alur yang mudah ditebak, menggunakan bahasa yang susah dipahami dan termasuk kedalam novel yang tipis. Makna yang ingin disampaikan sebenarnya bagus namun plotnya terlalu biasa
35 reviews1 follower
December 4, 2019
Setelah membaca novel ini mungkin ada yang kecewa dalam deskripsi kisah Midun ketika di penjara. Dia berimajinasi penjara yang menakutkan sehingga kehidupan Midun semakin mencekam, tetapi dalam kisah ini kehidupan sang tokoh utama biasa saja. Saya pikir pengambilan deskripsi itu untuk memperkuat karakter tokoh Midun yang baik hati kepada siapapun, baik warga sekitar maupun orang yang jahat karena sudah menjadi narapidana. Gaya cerita romance klasik yang dibalut dengan karakter bahasa budaya melayu, karena dia mengambil dari sisi budaya minang, Sumatra Barat.
Profile Image for Fara.
14 reviews
December 5, 2019
Bahasa yang digunakan dalam novel ini merupakan Bahasa Melayu secara keseluruhan sehingga cerita cukup mudah dipahami. Namun banyak kosa kata yang tak banyak dikenal oleh pembaca jaman sekarang. Dari keseluruhan cerita, novel ini tentu saja membawa pesan yang sangat baik bagi para pembacanya. Dalam novel tersebut kita telah mendapat sebuah pembelajaran agar kita sebagai manusia tidak boleh sombong dan merasa dirinya lebih hebat, kita harus rendah hati, dan sabar. Karena buah dari kesabaran akan membawa kenikmatan di kemudian hari.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Zera Putrimawika.
54 reviews9 followers
January 6, 2020
Banyak unsur kebudayaan dan istilah minangkabau dalam novel ini, yang pastinya menambah wawasan saya mengenai suku bangsa tersebut. Tentunya, hal ini membuat unsur budaya terasa sangat kental dalam tulisan Sati (dibandingkan dengan tulisan Moeis yang juga berlatar belakang suku minangkabau). Walaupun alur ceritanya cenderung lebih sederhana; kesabaran seorang Midun yang bolak balik masuk penjara dan difitnah terus menerus, hingga kesabaran itu membawanya pada kehidupan yang lebih baik dan menaikan derajatnya sebagai seorang manusia.
13 reviews
June 2, 2020
An old Indonesian novel (1929).
This story captures the life of a suffering boy. He constantly encountered misfortunes throughout the story (poverty, exile, etc), yet he never gave in and kept going. In the end, he got a life he deserved (although even more problems rose).
I forget most details from the book since I read it a long time ago (7 years ago, I think). But it certainly left a good impression on me.
A good book to pass the time.
Displaying 1 - 30 of 62 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.