Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati.

256 pages, Paperback

First published September 20, 2012

58 people are currently reading
856 people want to read

About the author

Ayu Utami

27 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
270 (22%)
4 stars
438 (36%)
3 stars
391 (32%)
2 stars
91 (7%)
1 star
26 (2%)
Displaying 1 - 30 of 144 reviews
Profile Image for Maulida Raviola.
63 reviews6 followers
October 12, 2012
Tema "Menolak Lupa" juga barangkali menjadi salah satu muara inspirasi bagi Mbak Ayu. Setelah prahara politik Orde Baru (dalam tingkatan tertentu) usai di 1998 dan kegelisahannya tertuang dalam Saman, Mbak Ayu kini menggugat generasi yang lupa pada Borobudur. Karena mengingat Borobudur bukan hanya mengingatnya dalam konteks yang besar dan muluk, seperti bahwa ia adalah candi Budha terbesar di dunia atau ia masuk dalam warisan sejarah dunia versi Unesco. Mengingat Borobudur juga dapat dilakukan dalam konteks yang personal dan intens, dan di sinilah Mbak Ayu meramunya dengan konsep axis mundi: pusat diri, ambang kesadaran dan ketidaksadaran, sampai dengan kegegapgempitaan penghayatan atas jagat raya.

Kita banyak lupa. Tapi, datang dari generasi yang dibodohi, dengan mudah saya bisa berkelit bahwa saya tak pernah tahu. Tentu, bagaimana bisa lupa jika tak pernah tahu?

Lalita membawa misinya tersendiri untuk menolak lupa dan ketidaktahuan. Setidaknya hanya tahu, itu cukup. Soal percaya atau tidak, setuju atau tidak, itu masalah lain dan bisa diperdebatkan dalam forum-forum lain.

Dalam Lalita saya seperti merasakan gelegak penulis. Begitu banyak dan begitu kaya informasi, serta ketidaksabaran untuk memaparkan semuanya agar para pembaca tahu bahwa bahkan mitos mengenai Drakula pun bisa berkaitan dengan struktur Mandala. Sebagai seorang penikmat fiksi, saya terkesan pada buku ini. Dan sebagai penggemar tulisan-tulisan Ayu Utami, saya tidak pernah merasa ia "turun kasta" sejak Saman dan Larung--ia tetap hadir dengan misinya untuk membuat kita tahu (bagi yang tidak pernah tahu) dan ingat (bagi yang lupa).
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
October 3, 2012
Sejujurnya, buku Lalita ini adalah buku Ayu Utami yang paling ruwet buat aku. Sepertinya aku harus baca ulang kalau punya waktu. Sejak pertama baca Ayu Utami aku sudah suka dengan cara menulisnya. Walau banyak yang bilang tulisannya agak vulgar, yah. Tapi menurutku sih biasa-biasa saja. Nggak sampai menimbulkan getar-getar yang gimana gitu. Ada sih, penulis perempuan yang juga menulis lebih vulgar dari Ayu Utami.

Yang aku suka dari seri Bilangan Fu ini adalah bahasan heritagenya. Sejak aku baca Bilangan Fu dan jatuh cinta dengan Parang Jati, aku senang karena Ayu selalu memasukkan sejarah, sedikit ilmu kejawaan, yang aku sendiri sebagai orang Jawa belum pernah tahu. Walaupun bukan untuk diamalkan, tapi simbol-simbol dan analisisnya menarik untuk diikuti. Mengingatkan bahwa bangsa ini punya sejarah yang demikian kaya untuk dieksplorasi dan ditelaah sebenarnya bukan hanya di tangan seorang penulis sastra. Di buku kedua seri ini, Manjali Cakrabirawa, juga menceritakan tentang kisah Ratna Manjali anak Calon Arang dan lambang Bhairawa Cakra, juga tentang candi-candi di kawasan Jawa.

Kisah Lalita ini membungkus kisah lainnya yang membungkus kisah intinya juga. Cara penceritaan ini menarik. Dari luar ke dalam. Dari Arupadhatu, Rupadhatu, sampai Kamadhatu. Ini memang kisah tentang Borobudur, di negeri pada masa penduduknya tidak terlalu menghargai kebudayaan. Tentang bagan mandala yang menjadi pusat dunia. Tentang Buddha Gautama.

Bagian yang membuat aku ruwet adalah bahasan Drakula, Sigmund Freud, Ansel, dan Carl Gustav Jung. Entah bagaimana, aku yang memang nggak ngerti filsafat ini (selain dijelaskan oleh Jostein Gaarder), nggak kunjung mengerti mengenai bahasan psikoanalisa ini. Apabila ada banyak yang memuji buku ini karena bahasan Freudnya, nah, itu hak mereka. Kecakapan dan ilmu yang dipelajari tentang ini memang mempengaruhi penilaian seseorang. Baru bisa paham lagi ketika kakek Ansel tiba di Borobudur dan membahas lagi tentang mandala.

Pada bagian-bagian akhir ketika ada bahasan tentang culture dan heritagenya lagi tentang Borobudur yang bisa membuatku melanjut oleh Marja Manjali dan kecerdasannya untuk menganalisis. Perempuan yang belajar interior ini menjelaskan budaya dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Ah, iya Marja. Di dalam desain selalu diajarkan sejarah.sebelum melangkah selanjutnya. Kalau cuma minimalis saja atau gaya sekarang saja, desainnya tidak akan kaya, cuma kosong korban ikut-ikutan. Baru juga aku mengerti bahwa ceritanya memang sengaja dituliskan seperti buah bawang, berlapis-lapis dari luar ke dalam.

Yang paling aku suka, sampulnya yang dilukis sendiri oleh Ayu Utami. Di Cerita Cinta Enrico aku baru tahu bahwa selain menulis, Ayu juga suka melukis. Suka juga karena aku mendapat mouse pad cantik sebagai hadiah pre order.
Profile Image for Eresia N. Winata.
25 reviews3 followers
March 22, 2013
Ayu Utami itu simbol dari misteri dengan kabut gigih yang menjulang, perkasa yang semerbak dan diksi yang menantang. Dari taun jebot sampe sekarang, saya terguling-guling dan selalu menunggu karya-karyanya.

Dulu, jaman taun 1999-an, saat saya masih duduk di kelas 6 SD dan sering mendengar tentang novel "SAMAN" sebagai novel yang berani mencongkel lembar-lembar lumpur orde baru, saya benar-benar ingin membaca novel itu. Apalagi nama pengarangnya belum seakrab NH Dini, Matu Mona, dan Marah Rusli di telinga saya. Tapi kala itu ada beberapa orang yang kontan memukas usai mengetahui keinginan saya, "Jangan baca deh, Nindi masih terlalu kecil. Itu bukunya orang dewasa". Twewew... jadilah hingga detik ini, Saman menjadi satu-satunya karya Ayu yang belum saya baca. :(

Buku Kedua dari seri Bilangan Fu, LALITA, sekali lagi menjahit keterkaitan antara seni, sejarah, mistisisme, dan tentu saja erotisme. Di sini, Yuda, Parang Jati dan Marja Manjali terhisap dalam keagungan masa lalu candi Buddhisme terbesar di dunia, BOROBUDUR.

Semua dimulai ketika Yudha bertemu sosialita pemilik sebuah galeri Seni bernama Lalita. Atau sebut saja ia 'menganggap' namanya seperti itu. Yudha menyadari bahwa wanita ini terlalu ingin bersembunyi dari dunia. Riasannya sangat tebal, sepatunya selalu tinggi, outfitnya selalu gemerlap. Seolah, di saat yang sama, ia ingin dunia memperhatikan sekaligus menutupi dirinya serapat mungkin. Yudha menamainya: Perempuan Indigo. Indigo adalah nama lain dari warna biru yang mendekati ungu.

Pertemuan-pertemuan Yudha menyeretnya pada hidup Lalita yang saling berkelindan dengan obsesinya, ketakutannya, masa lalunya, keinginannya. Hingga akhirnya Yudha mengetahui bahwa Lalita bernama asli Ambika Putri. Ia mengambil nama 'Lalita' dari kitab Lalitavistara, perkamen yang menceritakan masa hidup Buddha di kehidupan sebelum ia memilih menjadi Buddha.

Masalah mulai mencuat saat Yudha mendapat kabar Marja akan diperkosa, dan di saat yang sama Lalita dianiaya di rumahnya sendiri. Semua demi sebuah kitab: INDIGO.

Yudha mengajak Parang Jati memulai ekspedisi berliku ini. Meneliti kehidupan Lalita, bayangan-bayangan masalalunya, obsesinya pada mandala/bagan-bagan, hingga semua memusat pada sosok kakek Lalita : ANSHEL EIBENSCHUTZ. Seorang pengikut teosofi yang berdarah Austro-Hongaria, pernah berada dalam lingkaran diskusi psikoanalis Sigmund Freud, dan menghabiskan seluruh masa senjanya di Magelang Jawa Tengah.

Kitab Indigo adalah rekam jejak perjalanan spiritualitas hingga akademis Anshel. Seluruh usahanya dalam ilmu gelombang (kymalogi) demi menemukan bentuk-bentuk abadi dunia terjilid rapi di sana. Anshel menulis tentang darahnya yang dialiri langsung oleh Vlad III (Dracula/Pangeran Ordo Naga), anak raja Hongaria yang dititipkan pada Kekhilafahan Turki untuk dididik dan dibina. Saudara Vlad III, Radu, mampu menyerap dengan tulus semua ilmu dan kebersihan ajaran Islam, hingga akhirnya Radu masuk Islam atas kesadarannya yang utuh. Namun tidak bagi Vlad, ia memiliki bibit kebengisan dan dendam dalam hati yang ia tuai hingga dewasa. Dan saat akhirnya bisa membebaskan diri dari Turki, Vlad menjadi penyula yangbegitu kejam. Ia menyula (menusuk tubuh manusia dengan pasak-pasak panjang dan runcing hingga mati) semua orang yang tidak disukainya.

Warisan genetis yang dimiliki Anshel dari Vlad III membuatnya begitu membenci sejarah keluarga -apalagi saat ayahnya dibunuh saat pengusiran Dracula- hingga ia menjauh dan menekuni theosofi. Ia mulai tergerak untuk mempelajari tentang mimpi, alam bawah sadar manusia, dan bentuk-bentuk konsentris ketika ia tergabung pada lingkarang diskusi psikoanalisa yang dikomandani oleh Sigmund Freud. Di sana Anshel bertemu Carl Gustav Jung, karena mereka memiliki kecenderungan minat yang sama. Semuanya berkembang saat Anshel berkunjung ke Nepal, tempat Dalai Lama, dan ia menemukan mozaik tentang persinggahan Buddha di Asia jauh. Jawa.

Trio Yudha, Parang Jati dan Marja berkejaran untuk lebih dulu mengetahui apa sebenarnya yang ditemukan oleh Anshel Eibenschutz, pertalian jenis apa yang menghubungkan Dracula, Buddha, Borobudur, Lalita, dan mandala.

Untuk tau jawabannya, kamu harus rela berenang dan tenggelam di sini. Ikut menelan dunia Ayu yang kuat dan lugas.

Selamat baca! ;)
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
December 26, 2012
Lalita. Kependekan dari sebuah relief Lalitavistara (Candi Borobudur). Wanita itu mengakui dirinya sebagai keturan klan Dracula, yang dipercaya lebih sadis dibanding vampir. Dan Sandi Yuda serta merta terpukau dengan kecantikannya. Wanita itu jelas lebih tua darinya. Tapi jangan bayangkan Lalita, seorang wanita tua yang haus dengan daun muda, memiliki bokong tepos, dan wewangian kemenyan bau busuk. Wanita itu mengajarinya tentang axis mundi, sebuah tahap di mana lingga dan yoni bersatu. Axis mundi tak dapat diraih dengan mudah. Tidak semua orang dapat meraupnya. Karena setiap wanita memiliki sebuah liang dalam dirinya; dan pria tak dapat berkeras diri untuk memasuki liang itu. Mereka perlu mengalah, memiliki jiwa yang elastis untuk menggapai semua itu. Dan Yuda memahaminya dengan bantuan Lalita. Wanita tua itu seakan mengapit jiwanya, membawanya pada nirwana, kendati ia harus mengkhianati sang kekasih, Marja dan sahabatnya, Parang Jati.

Seri ketiga dalam Bilangan Fu karya Ayu Utami. Sangat kompleks dari segi penyampaian. Tak heran banyak pihak yang kurang cocok dengan cara Ayu Utama kala menuliskannya. Lalita dan Bilangan Fu menelanjangi spiritualitas manusia dari segi meditasi. Indah dan begitu unik. Jika Dee membahas tentang meta-fisika dan segala kerupawanannya. Ayu Utami lantas mendasari Lalita dengan biodata Anshel, seorang fisikawan yang malih menjadi spiritualis.

Di bagian pertama, Indigo. Lalita menyuguhkan kisah cinta terlarang antara Lalita dan Yuda. Sedangkan Hitam. Memang bagian buku ini dikesankan kelam. Gulita lebih tepatnya, dan gue kerap didera kejenuhan. Banyak berkas-berkas kompleks yang mengungkap Count Drakula yang tiba-tiba berhubungan dengan Candi Borobudur. Dan Yang terakhir. Merah. Adalah kesetiaan Parang Jati dan apa yang tengah diungkapkannya pada Marja.

Keselurahan 5 dari 5. Cerkas dan cepat dari penyampaian. Elok dari segi ide. Cantik karena keruwetan. Namun, kejenuhan pada bagian "Hitam" memang sangat diperlukan untuk mengungkap keseluruhan jalan ceritanya.
Profile Image for Dani Noviandi.
229 reviews16 followers
April 19, 2013
Sastra. Mudahnya, sastra merupakan sebuah tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Dalam cakupan yang (sangat) sempit, menurut saya pribadi sastra merupakan tulisan yang di dalamnya mengandung kata-kata yang tidak lazim dipakai. Dengan kata lain, sebenarnya kata-kata tersebut memang ada dan masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun sangat jarang orang mempergunakannya dalam kegiatan dan percakapan sehari-hari. Bahkan, sekedar artinya pun kebanyakan orang tidak tahu. Maka itulah definisi sastra menurut (kesempitan pandangan) saya.

Sastra Indonesia. Setiap karya sastra yang dibuat di Indonesia, maupun yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai akarnya, dapat dikategorikan sebagai Sastra Indonesia. 28 April, sebagai hari wafatnya Chairil Anwar “dahulu” diperingati sebagai hari sastra nasional, ini sebelum adanya “pengesahan” pemerintah yang akhirnya menetapkan 3 Juli sebagai hari sastra nasional.

Salah satu angkatan yang ada pada dunia sastra di Indonesia ialah Angkatan 2000-an. Angkatan ini melahirkan sastrawan-satrawan yang mempunyai karya sastra yang tidak kalah dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Bahkan, ada beberapa karya angkatan ini yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa asing, sungguh sebuah prestasi yang tidak main-main. Ayu Utami merupakan salah satu sastrawan yang masuk ke dalam Angkatan 2000-an ini. Salah satu bukunya yang terbit pada tahun 2012 kemarin, Lalita, dalam pandangan sempit saya bisa dikategorikan sebagai karya sastra, karena tidak sedikit kata-kata yang beliau gunakan merupakan kata-kata yang asing dan sastra banget.

Dalam buku ini banyak disinggung mengenai Pusat dan Bayang-bayang. Penjabaran sederhana tentang “pusat” dan “bayang-bayang” ini secara cerdas Ayu menggunakan sebuah daun semanggi (clover). Pusat; ia memberikan contoh sebuah Peta Daun Semanggi (Clover Leaf Map) karya Heinrich Bünting, dimana sebuah kota yang bernama Jerusalem ia gambarkan sebagai pusat dunia yang berada di tengah-tengah benua Asia, Eropa, dan Afrika (lihat gambar). Bayang-bayang; ia gambarkan juga sebuah daun semanggi berwarna hijau dengan titik hitam di tengahnya. Apa kaitannya dengan bayang-bayang? Akan saya jabarkan kemudian melalui percobaan sederhana di akhir bahasan ini.







Seperti buku-buku yang telah Ayu tulis sebelumnya, ia membagi buku ini ke dalam beberapa bagian yang terdiri dari beberapa bab. Lalita ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Indigo, Hitam, dan Merah. Perlu diingat dan diketahui, Lalita ini merupakan serial dari buku Bilangan Fu, jadi tokoh-tokoh utama yang ada di dalam Bilangan Fu, yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja, menjadi tokoh utama pula di dalam buku ini.



Indigo
Latar belakang cerita berada di Jakarta. Warna-warna digunakan Ayu sebagai gambaran tentang kota Jakarta yang menjadi bagian kehidupan Sandi Yuda. Warna kusam-kumuh dan hitam-putih untuk suasana jalanan Jakarta yang penuh polusi dan kendaraan umum yang semrawut. Warna digital untuk Plaza Indonesia yang begitu gemerlap, penuh dengan lampu dan berkebalikan seratusdelapanpuluh derajat dengan suasana di luar. Di bab awal ini pulalah Yuda bertemu dengan Lalita, seorang perempuan indigo, baik dalam arti tersirat maupun tersurat.

Indigo. Sebuah warna biru keunguan. Indigo. Kemampuan indera keenam, melihat hantu, meramal masa depan, bahkan melihat masa lalu. Secara tersurat, Lalita berpenampilan indigo, tanktop ungu ketat, sepatu biru gelap, lensa kontak nila, sepuhan mata warna bulu merak, sampai menghisap rokok ramping ungu. Secara tersirat, Lalita mengakui bahwa ia indigo, bisa melihat masa lalu, bahkan mengakui bahwa ia telah hidup di masa lalu. Abad ke-9 ketika pembangunan candi Borobudur berlangsung; pada suatu masa di Tibet; dan di Transylvania, ketika dongeng, mitos, cerita tentang vampir dan drakula secara luas beredar.

Lalita. Nama lengkapnya ialah Lalita Vistara. Nama ini diambil dari sebuah relief di candi Borobudur yang menceritakan tentang riwayat hidup Buddha. Bisa dibilang Lalita sangat tergila-gila pada sejarah Borobudur ini, sehingga nama Lalita ini ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula pengaruh pastlife-nya ketika hidup di abad ke-9 yang menyebabkan ia mengganti namanya menjadi Lalita Vistara. Lalita ini seakan hidup dibalik topeng indigonya. Jarang orang melihat ia tanpa kostum dan riasan indigo-nya, bahkan kakaknya sendiri menyatakan bahwa Lalita berpenampilan tanpa indigo hanya ketika ia mati.

Indigo di bagian awal buku ini pun merujuk kepada sebuah buku. Dinamakan buku indigo karena warnanya. Isinya bukan sembarangan, karena buku ini merupakan warisan turun-temurun dari kakek Lalita yang berhubungan dengan kehidupan di Tibet, Borobudur dan sebuah ilmu yang dipelajari oleh kakeknya bersama dengan Sigmund Freud, seorang tokoh nonfiksi, yaitu ilmu psikoanalisa.

Di dalam bagian indigo ini pula saya menyimpulkan buku ini termasuk kategori sastra. Kata-kata seperti wewajah, pepohon, merupakan kata yang sangat jarang digunakan. Bahkan, Ayu pun dengan jeli memadukan kata-kata tersebut dengan kata-kata modern, seperti jayus, futuristik, robotik, sehingga tercipta sebuah karya sastra yang enak dibaca, tidak terkesan lawas tetapi juga masih memiliki unsur “lawas” tersebut.



Hitam
Dari Indonesia, sejenak kita beralih ke Paris, sekitar tahun 1889. Anshel Eibenschütz, kakek dari Lalita, pemilik sekaligus penulis buku indigo yang dimiliki oleh Lalita. Selain Sigmund Freud, muncul pula tokoh nonfiksi yang dengan apik di-mix oleh Ayu Utami dengan cerita fiksi ini. Tokoh ini ialah Carl Gustav Jung, seorang psikolog. Di sini diceritakan bahwa Carl ialah sahabat kental Anshel. Mereka berdua berguru pada guru yang sama, yaitu Sigmund Freud. Namun semuanya tampak hitam bagi Anshel. Perbedaan prinsip dan pandangan antara dirinya dengan Freud membuatnya dicampakkan oleh Freud. Hal ini memaksanya berjalan sendiri di keyakinan yang diyakininya.

Hitam bagi Anshel bukan dalam hal ini saja, ketika kehilangan ayahnya pun Anshel mengalami hal yang tidak mengenakkan. Ayahnya tewas dan hilang begitu saja ketika sedang mengalami perjalanan. Faktor keyahudian beliaulah yang membuatnya tewas. Dari sinilah Anshel merasakan hitamnya akalbudi manusia yang telah mati.

Di bagian “hitam” ini, diceritakan pula kakek moyang dari Anshel. Siapa yang tidak mengenal Vlad Dracula? Ya, Dracula merupakan kakek moyang Anshel. Berhubungan dengan hitam dan kegelapan pula, siapa yang tidak mengenal kekejaman Dracula? Salah satu tindakan terkenal dan tersadisnya ialah menyula. Menyula ialah suatu cara untuk membunuh manusia dengan pasak kayu yaitu dengan cara menusukkannya lewat punggung menembus dada/perut, atau dari lubang (maaf) dubur hingga menembus mulut. Tidak hanya itu saja, Dracula mempunyai suatu kebiasaan ganjil, yaitu membariskan mayat-mayat yang ia sula secara rapi dan berjajar. Ilustrasi di buku ini dapat dilihat pada halaman 91.

Sula dan menyula pun menjadi sebuah kata baru bagi saya, dan semakin menegaskan karya ini sebagai sebuah sastra. Sekali lagi, dalam pandangan sempit saya.




Merah
Kembali lagi ke masa kini dan kembali berlatarbelakang di Indonesia. “Merah” kembali bercerita tentang Yuda, Jati dan Marja. Lalita menjadi tokoh yang dicari oleh Yuda pada bagian ini. Bukan hanya Lalita, buku indigo-nya pun banyak dicari orang dengan berbagai motif. Salah satu pihak yang mencari buku ini ialah negara berbendera warna merah yang mempunyai masalah dengan negeri Tibet. Bahkan negara itu sampai mengirim intelnya untuk merebut buku tersebut.

Satu hal lagi yang menarik tentang pencampuran fiksi dan nonfiksi di dalam buku ini ialah munculnya Buddha Bar. Ya, sebuah tempat yang cukup kontroversi beberapa waktu lalu ini diceritakan “sejarah fiksinya”, mulai dari pesta pembukaannya, hingga penutupannya. Jujur saja, saya sangat kagum atas kejelian Ayu Utami melihat dan menceritakan serta menggabungkan faktor fiksi dan nonfiksi ini.

Terakhir, berkaitan dengan paragraf-paragraf awal di atas. Mengenai “bayang-bayang” dan hubungannya dengan warna merah. Hal ini sebenarnya tercantum di bagian belakang cover Lalita ini, sebuah percobaan yang cukup sederhana. Tataplah gambar daun semanggi berwarna hijau di atas tepat pada titik hitam di tengahnya selama sekitar 20 detik, lalu pejamkan mata atau alihkan pandang ke suatu bidang putih. Bunga merah muda akan tampak sebagai bayangan, ya, sebuah bayang-bayang. Mengapa? Karena hijau dan merah adalah pasangan yang berkebalikan.




Setiap kita memiliki bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan. (p. 233)
Profile Image for Elsita F..
120 reviews6 followers
July 12, 2017

Tertarik baca buku ini pertama, karena penulisnya Ayu Utami. Kedua, karena review di Ijak sebagian besar bilang bukunya keren. Ketiga, pengalaman berkata, bahwa bacalah buku berdasarkan review yang diterimanya. Keempat, tolak ukur saya dalam baca buku adalah lihat review berdasarkan tulisan dan juga jumlah bintang yang diterima antara 3 sampai 5. Kelima, buku ini banyak dapat 4 bintang. Tapi, setelah baca bukunya, saya malah bingung menarik kesimpulan haha

Kalau dilihat dari materi, buku ini lebih pada cerita perjalanan spiritual Anshel yang lahir dari keluarga Yahudi namun memilih jalan Buddhisme. Ia adalah seorang "figur ilmuan" yang dekat dengan nilai spiritual Buddha. Nilai yang dikenalnya secara tak sengaja saat berwisata ke menara Eiffel di Paris bersama Ayahnya. Buku ini memuat ban tersendiri yang menjelaskan tokoh Albert, dan dengan sangat menyesal saya harus mengakui bahwa saya nyaris tidak paham. Saya bisa menjelaskan perjalanan hidup Anshel sedikit, tapi tentang sesuatu yang dirumuskannya sebagai alam nirsadar, titik pusat diri, entah, nggak bisa masuk. Mungkin memang benar seperti kata Marja, nilai sejarah dan budaya Hindu lebih mudah dipelajari daripada Buddha. Dan itu memang saya rasakan.

Buku ini masih merupakan bagian dari perjalanan Yuda, Marja dan Parang Jati yang juga merupakan tokoh utama dalam novel Bilangan Fu, dan jujur saya bingung apa ini adalah buku keduanya, pertamanya atau malah ketiganya. Meski ketiganya nyaris tidak bisa dibilang sebagai tokoh utama disini, karena sesungguhnya ada Lalita yang jadi judul novel ini, serta bab yang membahas kakeknya secara panjang.

Hal positif yang saya ambil dari buku ini adalah saya mendapat sedikit pelajaran mengenai sejarah Buddha meski hanya sedikit, dan memang kalau diperhatikan secara baik, buku-buku Ayu Utami memang selalu memuat hal edukatif, di samping percampurannya dengan "sastra wangi" yang memang dikenal vulgar. Tapi kemudian, sekali lagi sayang, hal edukatif itu tidak bisa benar-benar melekat dalam kepala saya, kecuali unsur candi Borobudur yang memang merupakan salah satu simbol spiritual Buddha yang terbesar pertama di dunia yanh terletak di Yogyakarta. Dalam penjelasannya, candi Borobudur secara garis besar dapat dikatakan adalah tempat spiritual yang menjelaskan tentang diri manusia, tapi karena yang saya tahu disana juga terdapat relief yang mirip dengan kisah Nabi Sulaiman a.s dalam Islam, saya jadinya tidak setakjub Marja dan kawan-kawannya. Saya hanya mengambilnya sebagai warisan budaya dari Dinasti Syailendra.

Poin cukup menarik dalam buku ini adalah penjelasan singkat tentang sejarah pervampiran atau kepercayaan bahwa Transylvania adalah tanah leluhur vampir yang ternyata berkaitan dengan perang Turki dan Eropa. Saya mengapresiasi sang penulis pada kelihaiannya mengawinkan sejarah, budaya dan fiksi juga kehadiran Sigmund Freud yang beberapa teori psikologinya sangat saya sukai. Saya juga suka dengan interaksi Marja dan Parang Jati, ataupun Marja dan Yuda minus adegan ranjang mereka yang notabenenya belum menikah (namanya juga sastra wangi ya, jadi pasti berani meski itu hal setabu sex), tapi yah sebatas itu. Hampir dikatakan saya tidak bisa menarik garis kesimpulan tentang Lalita selain sebagai wanita dengan hidup yang complicated dan telah memberikan Yuda pengalaman tutup botol sampanye axis mundi.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
January 28, 2021
“Setiap kita punya sisi gelap, setiap kita punya bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan.”

“Apakah hanya karena sesuatu tidak abadi maka sesuatu itu tidak berharga? Kalau orang tidak bisa menghargai sesuatu karena tidak abadi, kukira itu justru.... jahat. Itu mengingkari kemanusiaan. Sebab manusia memang tidak abadi. Kenapa kita tidak bisa menerimanya?”


Hellow.. gimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian selalu baik-baik saja 😇. Ketemu lagi dengan aku yang kali ini akan me-review—suka-suka—buku ‘Lalita’ karya Ayu Utami.

Kalian pasti nggak asing dong ya dengan buku ini. Sebab buku ini adalah seri dari buku‘Bilangan Fu’ yang notabene adalah salah satu buku bestseller-nya Ayu Utami.

Buku ini masih spin off-nya buku ‘Bilangan Fu’, yang merupakan sekuel dari buku ‘Manjali dan Cakrabirawa’. Di mana dalam buku ini, Ayu Utami menghadirkan tokoh baru bernama Lalita. Dan bermula dari Lalita-lah, Yuda, Marja dan Parang Jati melakukan petualangan ke Candi Borobudur.

Di seri kali ini, Ayu Utami lebih menonjolkan tentang sejarah, budaya dan juga spiritualisme. Yaitu tentang sejarah Borobudur dan tentang peradaban Budha. Jujur pas baca buku ini, ada beberapa bagian yang kubaca hanya sekedar lewat.

Ada bagian yang aku nggak ngerti sama apa yang dibahas sama penulis. Terutama di bab ‘Hitam’, tentang perjalanan hidup Kakek Lalita. Aku agak berat pas baca bab tersebut. Rasanya pingin skip, tapi sayang.

Sebab, beberapa kali baca karya Ayu Utami,aku jadi lumayan terbiasa. Di balik keruwetan cerita yang disajikan Ayu Utami, selalu ada sesuatu yang mengesankan. Aku udah buktiin dari beberapa karya beliau.

Sebenernya, buku ini keren banget. Banyak banget pengetahuan yang bisa di ambil dari buku ini. Tapi dasar aku ya, yang otaknya ber-IQ Melati, jadi ya banyak nggak nyambungnya dari pada ngertinya 😁. Aku sih lebih menikmati kisah petualangan Yuda, Marja dan Parang Jati.

Nah, buat temen-temen yang pingin tahu kisah petualangan Yuda, Marja dan Parang Jati.. Dan pengetahuan apa saja yang bisa di dapat dari buku ini.. Kalian silahkan baca buku ‘Lalita’ karya Ayu Utami ini...
Selamat membaca... 🤗
65 reviews
June 25, 2018
Review ini bersifat subjektif

Seperti biasa, Ayu Utami membagi bukunya menjadi tiga/empat bab. Kali ini dia membagi menjadi tiga bagian: Indigo, Hitam, dan Merah.

Di bagian Indigo hampir keseluruhan membahas tentang seks, jika kamu tidak bisa fokus ke hal lain. Bagian kedua, Hitam, terasa begitu ilmiah dan membosankan cara penceritannya (bercerita tentang asal-usul kakek Lalita, Anshel). Bagian teakhir, Merah, sebagai akhir cerita tidak dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi saya, salah satu pembaca.

Dibandingkan buku yang saya baca sebelum ini, Bilangan Fu (saya membaca Seri Bilangan Fu secara tidak berurutan: Manjali dan Cakrabirawa-Maya-Bilangan Fu-Lalita), Lalita ini tentu tidak memiliki daya tarik bagi saya pribadi.
Profile Image for Biya.
8 reviews1 follower
June 8, 2022
Buku ini bagian dari seri Bilangan Fu. Aku melahapnya dalam kurun satu bulan (sepertinya lebih). Banyak jeda, banyak diam, banyak berpikir lama, banyak mengulang.

Aku suka bukunya, karena memuat edukasi (ciri khas dari Ayu Utami yan kita tahu) yang di sini memasukkan sejarah tentang Candi Borobudur, Buddha, bahkan Yahudi atau cerita-cerita dari percakapan kakek Lalita yaitu Anshel dan Babhuska, simbol-simbol konsentris dan edukasi tentang fotografi serta warna negatif dimana "Anak-anak abad digital akan kehilangan mengenai bayang-bayang".

Bahasa yang digunakan cukup berat untukku. Mungkin lain kali, aku akan membacanya lagi dengan lebih fokus. Namun, ini adalah pengemasan sastra yang amat bagus menurutku. Kata-kata yang digunakannya sangat vulgar, tetapi dikemas intim dan jelita yang menurutku masih bisa kubaca.

Buku ini tidak berfokus pada perjalanan Anshel (kakek Lalita) yang mencari "titik nol-nya" atau apa yang disebut peta borobudur di alam semesta, tetapi lebih kepada perjalanan antara Sandi Yuda si lelaki bertubuh liat, Parang Jati dengan mata bidadari dan lesung pipinya, juga Marja dengan ular cerdik dalam dirinya yang kecantikannya mirip Drupadi yang dicintai lima anak Pandu.

Di awal, aku memang dibuat berkali-kali menjeda, tetapi ketika perjalanan kisah ketiga sahabat (dua diantaranya bercinta) dimulai, cerita ini benar-benar bagus dan perlu diteruskan, walaupun agak ruwet untukku.
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
December 5, 2012
Lalita masih bercerita tentang Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja. Kali ini tentang penjelajahan spiritual seputar candi Borobudur yang (secara) tidak sengaja berkaitan dengan mereka.

Hal yang menarik dari novel ini (buat saya) adalah penjelajahan makna ajaran Buddhisme yang tersimpan dalam Candi Borobudur, ajaran Lingkaran Penuh. Pembaca diajak untuk ikut melakukan perjalanan spiritual sehingga bisa menemukan betapa menakjubkan pengetahuan struktur jiwa manusia dari para pembuat candi ini. Sementara alurnya sendiri terasa masih mentah. Bahkan saya merasa cerita ini diselesaikan dengan tergesa-gesa, sepertinya Ayu kebingungan (atau lupa? atau? ah, saya tidak bermaksud meremehkan) bagaimana mengakhiri cerita ini tanpa mengabaikan keberadaan beberapa tokoh, seperti Janaka alias Jataka, yang katanya sejak awal tertarik dengan kitab indigo, bahkan sampai menculik pria-pria yang menjadi kekasih Lalita demi mendapatkan benda berharga itu. Di akhir cerita tidak diceritakan tentang Janaka dan usahanya merebut kitab indigo itu. Setelah mengembalikan Yuda kepada Parang Jati dan Marja, tidak diberitahu usaha apa lagi yang dilakukan Jataka untuk mendapatkan benda berharga itu. Maksud saya, kok cuma sampai di situ? Tidak terlalu meyakinkan kalau dia begitu terobsesi dengan kitab yang katanya menarik minat banyak ilmuwan dunia. Di akhir cerita tokoh ini menghilang (atau dhilangkan) begitu saja. Lalu usaha Marja mengetahui tentang misteri Lalita, menurut saya, terlalu mudah. Jataka yang bisa mengetahui gerak-gerik Yuda termasuk apa yang telah dia lakukan selama berdekatan dengan Lalita, kok tidak bisa membaca tindakan Marja juga? Marja dengan mudah menyamar, bekerja paruh waktu dan memasuki dunia Lalita. Lalu Jisheng? Apa-apaan ini? Saya sempat mengutuk, karena tiba-tiba saja tokoh yang tidak diperhitungkan ini, malah yang membuka tabir misteri dan membuat Marja kembali menjadi cerdas. Maksud saya begini, tanpa ada ancang-ancang, atau petunjuk sama sekali tentang peranan lelaki berkacamata lodong ini, tiba-tiba...voila, dia menjadi kunci keberhasilan Marja mengungkapkan misteri. Terasa bolong di sana-sini.Dibandingkan Novel Manjali dan Cakrabirawa, misteri dalam cerita ini terasa tidak masuk akal, bahkan saya tidak menemukan korelasi antara cerita Dracula dengan Borobudur (Kecuali bahwa Lalita ternyata masih keturunan dari Drakula)

Saya ingin memberi bintang 2, tapi saya pikir, novel ini tidak sebegitu mengecewakan dari buku sebelumnya yang saya baca (maksud saya, Cerita Cinta Enrico), meski juga tidak bisa terbilang istimewa. Jadi bintang 3 dengan mengabaikan kesalah eyd dan typo di sana sini.
Profile Image for Martha A.H..
85 reviews12 followers
January 7, 2013
Dapet doorprize di bioskop IRF Desember 2012 kemarin. :)
---

Ini ternyata buku ketiga dari Seri Bilangan Fu ya. Saya baru pertama kali ini membaca karyanya Ayu Utami.

Kesan tentang novel ini campur aduk. Bagian awal bisa saya nikmati, cukup sukalah dengan romansa segitiga Yuda, Marja, dan Parang Jati. *btw unik bener namanya bawa-bawa benda tajam dan kayu keras* Bagian kemunculan si Perempuan Indigo juga masih suka.

Mulai lieur waktu flashback ke kehidupan Anshel. Buku Indigo, mandala, bagan jiwa, psikoanalisa, Buddhisme, vampir, drakula, misteri Borobudur. Saya gagal merasakan apa istimewanya (buat saya) bagan jiwa, mandala, Buku Indigo, yang diburu oleh berbagai pihak di novel ini. Struktur bangunan Borobudur itu mencerminkan sebuah mandala. Trus? Apa pentingnya pengetahuan/teori/konsep itu (yang tertulis di Buku Indigo)? Kok ya sampai-sampai ada pihak yang bersedia melakukan pemerkosaan dan penculikan demi itu?

Entahlah, mungkin karena kadar spiritualisme saya yang rendah saja makanya saya gak mendapat perasaan "Oohh..", "Waaww", "Ahh ternyata begitu", walaupun novel ini menyajikan sebuah perjalanan spiritual yang harusnya bisa menyentuh jiwa. :) Atau karena terlalu banyak paradigma yang dijejalkan dalam buku setipis ini? *membela diri*

Setelah melewati bagian tengah novel, menjelang akhir, baru deh otak saya "nyambung" lagi, setelah terungkap sebuah motif yang ternyata tetep UUD kok.

Bagi pembaca yang menaruh minat dengan topik spiritualisme, mungkin bakal bilang buku ini bagus atau bagus banget. Kalau buat saya.. antara 2 bintang dan 3 deh.
Profile Image for Rangga Sukmawijaya.
1,510 reviews8 followers
December 10, 2012
Terus terang, dorongan awal kenapa kemudian saya membeli Lalita adalah karena muncul di benak saya "Oh, ternyata serius juga Ayu Utami meneruskan Bilangan Fu." Dua buku sebelumnya saya baca, lantas lupa.

Lalita memang buku yang bagus, dalam arti buku ini berusaha menyampaikan berbagai wawasan yang cakupannya luas. Membentang dari Borobudur hingga soal Drakula. Hanya saja, ada kesan yang tertangkap bahwa sungguh sulit bagi Ayu Utami(dan memang biasanya benar-benar sulit) untuk merangkum sekian banyak perihal hanya dalam 250an halaman.

Walhasil, di beberapa bagian, buku ini kehilangan keasyikannya. Acap saya tidak merasa sedang membaca sebuah novel tapi seperti membaca sebuah riwayat hidup yang "kering"(terutama ketika Ayu bercerita tentang perjalanan hidup Anshel). Akibat lainnya, beberapa soal yang seharusnya bisa lebih mendalam terpaksa hanya diulas permukaannya saja. Hilang intensitasnya. Barangkali inilah yang membuat banyak komentar bernada "saya akan membaca ulang novel ini", sebab memang sulit untuk memahami isi rumah apabila kita hanya berhenti di ambang pintunya.

Namun, bagaimanapun saya salut. Ayu Utami berjalan begitu jauh dan berupaya menyampaikan apa yang dilihat diperjalanannya itu kepada kita. Meski terbata-bata.

Profile Image for ALKA.
2 reviews2 followers
July 1, 2015
Ya, satu lagi dari Ayu Utami yang bikin saya tambah tertarik dengan sejarah Candi, Lalita. Buku yang bercerita masih dengan tiga karakter utama yaitu: Parang Jati, Sandi Yuda dan Marja. Oh, tidak lupa tambahan karakter yang sangat menantang bernama Lalita Vistara. Mungkin memang tidak sepadat Bilangan Fu, tapi ide cerita tentang Vampir, Psikoanalisa dan Borobudur patut diancungi jempol. Cukup mampu mengobati kekecewaan saya terhadap Manjali dan Cakrabirawa. Bagan konsentris tentang jiwa manusia dan Borobudur sebagaimana digambarkan Ayu Utami sangat menarik, apalagi bagian rupa dan tak berupa. Karakter Lalita juga cukup membuat saya senang, apalagi dengan sifat berkuasa dan permainan yang dimainkannya terhadap Sandi Yuda. Tapi sayang, karakter Lalita yang lama-lama terasa pudar membuat saya memberi rating 3 bintang terhadap buku ini. Semoga penantian untuk buku selanjutnya memberi kejutan yang lebih dari Lalita :)
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
April 21, 2016
** Books 90 - 2016 **

3,2 dari 5 bintang!

Makin tahu lebih banyak tentang Candi Borobudur! Tapi jujur saya lebih menyukai buku kedua Manjali dan Cakrabirawa karena dibuku ini terlalu banyak kisah kegalauan cintanya Marja, Yuda dan Parang Jati :)

Selain itu saya juga merasa kurang klik dengan kisah drakula yang tiba-tiba menyempil disini mungkin saya disuru baca buku Dracula bram stoker dulu kali ya biar nyambung :')

Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya
Profile Image for Wendy Utji.
12 reviews
December 24, 2012
Buku ini seperti diktat kuliah yang diselundupkan dalam sebuah novel. Di tengah-tengah, tiba-tiba kita seperti terjerumus dalam ruang kuliah psikologi dengan paham2 Freud dan Jung. Bagian akhir buku, baru novel itu bersambung kembali. Memang bagian tengah itu perlu dan menjelaskan bagian akhir, namu kecepatan baca saya melambat di bagian itu. Bukan kecepatan baca menikmati novel, tapi kecepatan mencerna teori dan pemaparan paham-paham yang tidak cukup lancar dicerna dengan cara baca sekali duduk.
Lepas dari semua itu, Lalita adalah bacaan menarik dan memintarkan pembacanya.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
June 18, 2015
Buku-bukunya mbak Ayu Utami memang sepertinya bukan selera saya. Lebih tepatnya sik, orak saya nggak nyape! xD terlalu berat.

Buku ini membuat saya mengalami pengalaman berkebalikan seperti yang sempat dituturkan penulisnya sendiri di buku ini. Contohnya, saya ngerti tapi juga nggak ngerti, saya suka buku ini tapi juga tidak suka.

2 bintang bukan berarti jelek loh, tapi memang nggak semuanya masuk ke otak saya.
88 reviews1 follower
October 6, 2012
rasane beda dengan waktu baca manjali dan cakrabirawa. walo aku bukan penggemar ayu utami, tapi waktu baca bilangan fu and manali dan cakrabirawa, at least aku masih bisa paham dan menikmati alurnya. tapi waktu baca ini.. serasa kepada dung-dung-dung alias kurang dapet di otak alias kurang dapet chemistry
Profile Image for Josefine Yaputri.
14 reviews11 followers
November 10, 2014
Lalita offers another romance story. Though it is a part of Bilangan Fu series, I could still be able to enjoy it alone without reading the other books. This book was quite sexy, and the words were beautiful.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
September 30, 2024
Dalam novel Lalita, Ayu Utami membawa saya ke dalam labirin pikiran yang penuh warna, namun tak jarang terasa seperti perjalanan ke pasar malam yang berantakan. Di balik keindahan bahasa dan simbolisme yang berlapis, terdapat kritik tajam terhadap masyarakat dan eksistensi manusia.

Siapa sangka, dalam upaya menemukan identitas dan makna hidup, saya malah tersesat di antara vampir dan Candi Borobudur? Seolah-olah Utami ingin mengatakan, "Hei, tidak peduli seberapa dalam kamu menyelami sejarah, pada akhirnya kamu tetap akan menemukan dirimu terjebak dalam mitos." Vampir di sini bisa diartikan sebagai daya tarik yang menipu, sementara Candi Borobudur, simbol kebangkitan, malah menjadi jembatan menuju kekosongan eksistensial.

Kita semua pernah mengalami momen autis, ketika dunia seakan menjauh dan semua suara menjadi bising. Yuda, tokoh protagonis, adalah representasi sempurna dari generasi yang kehilangan arah. Dalam upaya untuk berhubungan, ia malah terjebak dalam kebisingan pikirannya sendiri. Ini adalah sindiran terhadap bagaimana teknologi dan modernitas membuat kita semakin terasing, meskipun terhubung secara fisik.

Lalita, si perempuan indigo, adalah gambaran dari idealisasi feminin yang berlebihan. Dengan penampilan yang mencolok dan perilaku yang eksentrik, ia menciptakan harapan yang tidak realistis tentang apa artinya menjadi wanita. Dalam dunia yang mengagungkan kecantikan dan penampilan, Utami seolah berteriak, "Lihatlah, apa yang kamu anggap cantik itu sebenarnya adalah topeng!"

Melalui karakter Yuda yang sering merasa kurang berpengetahuan, Utami menyoroti ironi pendidikan dan pengetahuan di masyarakat. Saya dipaksa untuk mengingat, bahwa banyak dari kita lebih suka berpegang pada kebodohan yang nyaman daripada menghadapi kenyataan pahit bahwa kita tidak tahu segalanya. Dalam dunia yang terus berubah, ketidaktahuan sering kali lebih menenangkan daripada kesadaran.

Secara keseluruhan, Lalita adalah sebuah parodi kehidupan yang cerdas, di mana setiap karakter dan peristiwa berfungsi sebagai cermin bagi saya. Di balik keindahan narasi, terdapat pesan mendalam tentang pencarian jati diri, ketidakpuasan, dan absurditas eksistensi. Utami mengajak saya untuk tertawa, meskipun dengan pahit, saat menyadari bahwa makna sejati mungkin hanyalah ilusi yang terus saya kejar—seperti bayangan di tengah malam.

Dengan gaya satir yang tajam, Ayu Utami berhasil menciptakan sebuah karya yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah pemikiran. Dan siapa yang tahu, mungkin kita semua adalah karakter dalam novel absurd ini, mencari makna di antara kegelapan dan cahaya.
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
June 2, 2018
Cerita sejarahnya menarik dan bagus sih. Jadi kayak menyadarkan pembaca bahwa sebenarnya Indonesia itu punya sesuatu lho yg ngga dimiliki negara lain, tapi masyarakat Indonesianya sendiri kebanyakan ngga tau dan ngga peduli dengan peninggalan sejarah yg dimiki tsb (re: Borobudur salah satunya). Tapi entah karena bahasanya terlalu tinggi, bahasannya terlalu rumit, atau memang penjelasan penulisanya yg cuma sekilas, sehingga banyak bagian dari penjelasan sejarah tsb yg saya miss dalam menangkapnya. Intinya, yg saya tangkap dari sejarah Borobudur ini adalah bahwa Borobudhur itu satu2nya peninggalan Budha terbesar di dunia, ada sangkut pautnya dengan sejarah Vampir di Transylvania, ada hubungannya dengan Tibet, serta ada juga menyinggung tentang ajaran agama Abraham yg secara sekilas digambarkan mengandung banyak ketidakdamaian ajaran dan penganutnya. Intinya, penulis berusaha menjelaskan bahwa Agama Budha adalah agama yg bersih dan memiliki filosofi panjang yg menarik serta menjadi yg pertama berjaya di Indonesia.
Saya kurang suka sih dengan cara penulis menyuratkan isi pemikirannya. Tapi saya suka dengan bahasan buku ini yg akhirnya membuat saya SEDIKIT penasaran dengan sejarah Budha dan Borobudur. Dan terakhir, saya masih heran dengan kegamblangan penulis buku2 fiksi sejarah yg kebanyakan menyandingkan sejarah dengan narasi vulgar berisi perjalanan seks tokoh2nya. Rata2 buku fiksi sejarah yg pernah saya baca, pasti menampilkan deksripsi dan narasi peristiwa seksualitas tokohnya, baik secara ekstrim maupun tersirat. Juga, yg saya sayangkan adalah bahwa penggambaran kegiatan bercampurnya pria-wanita yg bukan pasangan sah, digambarkan secara sah2 saja tanpa ada penjelasan bahwa hal2 semacam itu seharusnya tidak lumrah dan tidak baik terjadi. Ah, saya rasa semuanya tergantung tingkat keagamaan penulis sih dalam merancang tulisannya.
Profile Image for Adhinda Puteri.
69 reviews27 followers
May 16, 2017
Lalita merupakan kisah lanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa, yg sebelumnya adalah lanjutan dari buku Bilangan Fu. Seperti dua buku sebelumnya, Lalita juga masih mengisahkan kehidupan tiga tokoh yg sama yaitu Parang Jati, Marja dan Yuda.

Namun di buku ini, Yuda lah yg menjadi pusat centernya. Yuda yg bertemu dengan Lalita di sebuah resto jepang melalui perantara seorang temannya. Lalita sendiri merupakan seorang wanita usia empat puluhan yg wajahnya tidak pernah lepas dari dandanan. Gemar memakai atau memiliki sesuatu yg berwarna ungu. Yuda menjuluki wanita ini sebagai perempuan indigo-yg mengaku mempunyai pastlife dan sebagai keturunan seorang drakula.

Perempuan indigo ini mencintai fotografi dan memiliki galeri foto yg memajangkan foto-foto candi borobudur dari Kassian Cephas. Yuda diajarkan banyak hal oleh Lalita. Mulai dari dasar-dasar fotografi, prinsip-prinsip cuci cetak, kamar gelap (dan axis mundi kecil). Lalita memiliki sebuah buku bersampul ungu yg disebut-sebut sebagai buku indigo-yg merupakan warisan dari kakeknya. Buku yg kelak menjadi perebutan dan segala sumber masalah, sejarah serta petualangan.
*********

Buat saya, cerita Lalita lebih seru daripada buku sebelumnya, kenapa? Konfliknya lebih banyak dan merembet ke mana-mana. Yuda yg berselingkuh dari Marja, bukan hanya melecut kemarahan dari Parang Jati. Tapi juga rasa ingin merebut Marja dari Yuda. Penculikan Yuda yg pada akhirnya memicu perjalanan yg dilakukan oleh Parang Jati dan Marja ke Candi Borobudur. Kemarahan dan rasa terluka Marja akibat perselingkuhan Yuda yg diketahui melalui kiriman foto. Astaga, semua itu benar-benar memacu semangat baca saya sampai akhir. Mixed feelings antara greget, sebel, marah jadi satu semua.
Profile Image for Reisa.
62 reviews
January 3, 2019
Serial ketiga Bilangan Fu, setelah "Bilangan Fu" dan "Manjali dan Cakrabirawa". Masih konsisten dengan tema serialnya, novel ini pun membedah berbagai teori dari sisi "spiritualisme kejawen".

Bilangan Fu membedah Islam di daerah bekas kekuasaaan Mataram.

Manjali dan Cakrabirawa membedah Hindu di Jawa Timur.

Lalita membedah psikoanalisis Freud dan arketipe Jung dan kaitannya dengan agama Buddha di Borobudur.

Agaknya memang bagi saya serial ini lebih enak dijadikan sarana kontemplasi dan penambah wawasan ketimbang dinikmati plot cerita maupun perkembangan karakternya. Karena rasa2nya prinsip karakternya semakin kemari kok semakin tidak konsisten. Sandi Yuda yang awalnya dibawakan sebagai playboy tanpa ikatan perasaan, lama2 jadi lebih mellow dan dikit2 baperan. Kompleksitas karakter Parang Jati di Bilangan Fu telah menyusut drastis, dan sekarang dia hanya berfungsi sebagai semacam kamus kejawen yang benci militer. Perkembangan karakter yang terasa positif justru Marja, yang baik di Manjali maupun Lalita terlihat sekali mulai belajar hal2 baru.

Plot ceritanya juga cukup sederhana, dengan beberapa hgal sengaja ditinggalkan tanpa konklusi, khas novel-novel Ayu Utami. Yang berbeda barangkali ke-nyaris-absen-an bashing terhadap golongan militer dan pemerintah, karena memang isu kali ini tidak ada hubungannya dengan pemerintah sama sekali.

Untuk teori dan kontemplasi spiritual yang disajikan, saya tidak ada protes. Seperti biasa, selesai membaca buku ini pun saya merasa diajak untuk berpikir.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
April 3, 2020
55 - 2020

Melanjutkan seri Bilangan Fu yang ketiga.
Buku kedua, Manjali dan Cakrabirawa saya baca dan suka, buku ketiga ini sebenarnya juga menarik. Masih sekitar Sandi Yuda, Marja Manjali dan Parang Jati, tapi kali ini ada tokoh Lalita yang misterius.

Sandi Yuda bertemu dengan Lalita, yang diceritakan berusia 40an tahun dengan riasan tebal. Pertemuan keduanya menjadi intim dan Lalita bercerita banyak seputar siapa dia sehingga dia menyebut dirinya perempuan indigo.
Memasuki bab kedua, Hitam, saya awalnya masih tertarik, tapi bagian keturunan drakula ini yang rasanya 'meh'. Saya merasa fantasi banget menambahkan cerita keturunan drakula dalam cerita Lalita ini, sungguh.

Seperti buku sebelumnya, sejarah masih seputar budha, borobudur dan segala macem sejarah tentang ini itu. Menarik seperti biasanya, hanya itu aja sih yang ngeselin, kenapa harus drakula? :D


Barangkali manusia tidak punya kapasitas untuk mengampuni. Yang bisa dilakukan adalah berdamai.
Profile Image for Laila.
4 reviews1 follower
February 11, 2024
Lalitavistara: Biografi Sidharta Gautama, relief pada Candi Borobudur.

Para tokoh utama buku ini masih sama dengan buku 1 dan 2 series Bilangan Fu (Yuda, Marja, dan Parang Jati), hanya saja cerita berpusat ke wanita eksentrik yang bernama Lalita; wanita pemilik “buku indigo” yang berisi bagan mandala dan konsep axis mundi atau pusat diri.

Seperti buku Ayu Utami lainnya, buku ini bertema spiritualisme dan dari baca buku ini bisa tipis-tipis sedikit tahu tentang filsafat Buddhisme: kemelekatan pada hal-hal membawa manusia pada nestapa. Meski jujur saya ga paham-paham banget sebenernya sama penjelasan terkait spiritualisme di buku ini, tapi as always, saya selalu suka dengan diksi indah yang dipakai Ayu Utami dalam buku-bukunya; rangkaian kalimatnya tidak bikin saya bosan dan capek bacanya.
Profile Image for M. Iqbal.
121 reviews1 follower
March 15, 2023
Mengikuti Seri Bilangan Fu ini awalnya hanya ingin mengetahui bagaiman kelanjutan kisah Yuda, Marja, dan Parang Jati. Seiring kisah petualangannya dituturkan, saya menjadi semakin tertarik dengan latar kisah/tema yang ketiga tokoh jalankan.

Ada kesan sederhana yang saya dapata ketika membaca buku ini. Ternyata kesederhanaan itu lah kekuatannya. Pasalnya, jika melihat dari proses pembuatannya ternyata menakjubkan ya. Tidak hanya soal ceritanya, tapi terkait ilustrasi yang ada.

Itulah yang menjadi nilai lebih menurut saya. Saya betah bacanya. Terima kasih penulis. Terima kasih telah menciptakan seluruh tokoh, terutama Yuda, Marja, dan Parang Jati yang sukses menuntun pembaca dalam setiap petualangan lembar demi lembar..
Profile Image for Firda Mahdanisa.
57 reviews5 followers
June 20, 2020
"Dia yang tidak bisa melhat bayang-bayangnya sendiri, dia tidak akan mendapatkan kebebasan."

Sebenarnya ini buku yang menyinggung terkait spiritualisme buddhisme yang dikemas melalui cerita menarik yang tentunya menggairahkan. Menakjubkan bagaimana Ayu Utami menggabungkan antara drakula (Vladimir III), psikoanalisis (Freud dan freudian), dan Borobudur (sebagai axis mundi/pusat dunia).

Diceritakan tentang penerimaan diri sampai tiba berada di tingkat arupa yaitu tidak adanya lagi rupa, di mana hematku menyimpulkan tentang momen untuk menyerahkan segala yang kamu miliki dan ketahui kepada Tuhan, demi menemukan kedamaian yang hakiki.
Profile Image for Aisy.
62 reviews1 follower
June 26, 2020
Buku ini kelanjutan dari Bilangan Fu, buku ketiganya kalo ga salah. Bisa dikatakan Bilangan Fu lebih smooth dan meyakinkan sih daripada dunia di Lalita. Pengenalan terhadap Lalita sendiri seperti dipaksakan. Perpindahan adegan-ke-adegan juga terasa dipaksakan menurutku. Tapi penulisan di bagian luar negeri (??? yaampun lupa itu dimanaaa) bagus banget, juga pas penulisan di bagian candi-candinya. Membuat pembaca beneran berada di era itu, ada di tempat itu, sekalipun gak pernah kesana. Buku ini juga cukup singkat - teramat singkat malah - kalau dibandingkan dengan Bilangan Fu. Tapi enjoyable dan unik sih. Sampai sekarang belum ada karya Ayu Utami yang gak 'enak' menurutku.
Profile Image for Alvin Qobulsyah.
75 reviews1 follower
July 15, 2020
The concept of "axis mundi" and "autist moment" did really exaggerating. The second parts of Anshel and Jung in Freud's Bergrasse also well researched.
.
And the Dracula parts? It's almost as "like true" as Bekambetov's Lincoln Vampire Hunter. But the third part was not so great, the twist were too predictable. But still gonna make you buy ticket to Yogya and go visit Borobudur complex.
.
It's been 8 years since I read "Bilangan Fu" and still missed "Manjali & Cakrabirawa" until now. The way of Ayu Utami writing a sex scene is always "intimidating" for a man. It ain't a cheesy BDSM, but how you loosening your muscle on reaching that so called "axis mundi".
Profile Image for Hasita Visakha.
147 reviews
August 1, 2020
Sindiran yang sangat keras terhadap sejarah nusantara. Betapa masih banyak orang-orang yang nggak peduli dgn sejarah, nggak menghargai.

Ada beberapa hal yang paling saya suka dari novel Lalita ini:
1. Tentang reinkarnasi yang dipercaya oleh Lalita. Ini menarik banget tapi sayang nggak dijelakan lebih lanjut.
2. Cerita drakula yang dibawakan Nenek Ansel. Otomatis kebayang Hotel Transylvania hehe.
3. Kegigihan Ansel waktu udah menetap di Indonesia. Ini salah satu part yang dapet banget sindirannya. Pokoknya gitu susah dijelasin pake kalimat.
4. Nama Lalita Vistara dan Jataka. Sebagai Buddhis bahkan saya baru tau ada kitab Lalitavistara.


Udalah ya segini aja. Intinya saya suka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dinda.
118 reviews6 followers
February 12, 2021
Punya buku ini sudah lama banget, tapi entah kenapa plastiknya bahkan belum dibuka 🥲. Tapi begitu baca susah buat berhenti. Pertama mungkin karena kaget kenapa ada Bang Oscar disitu 😂. Lalu jadi gregetan sendiri kenapa ini ceritanya kok sampe ke transylvania segala, padahal ujung-ujungnya Borobudur juga.

Sebuah kutipan dari dalam buku ini menohok sekali: "Semua anak indonesia merasa tahu apa itu Borobudur. Tapi sesungguhnya Borobudur mengajari kita bahwa jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui tentang dia daripada yang kita ketahui.”

Tapi jadi pengen ke Borobudur lagi sih. I think i will never see Borobudur in the same way after this book.
Displaying 1 - 30 of 144 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.