File 1 : Kasus penusukan siswa-siswi SMA Harapan Nusantara.
Tertuduh : Erika Guruh, dikenal juga dengan julukan si Omen. Berhubung tertuduh memang punya tampang seram, sifat nyolot, dan reputasi jelek, tidak ada yang ragu dialah pelakunya. Tambahan lagi, ditemukan bukti-bukti yang mengarah padanya.
Fakta-fakta : Bukan rahasia lagi tertuduh dan korban saling membenci. Perselisihan keduanya semakin tajam saat timbul spekulasi bahwa tertuduh ingin merebut pacar korban. Tidak heran saat korban ditemukan nyaris tewas di proyek pembangunan, kecurigaan langsung tertuju pada tertuduh. Masalah tambah pelik, karena sewaktu disuruh mendekam di rumah oleh pihak kepolisian, tertuduh malah kabur dengan tukang ojek langganannya yang bergaya preman. Akibatnya, tertuduh terpojok. Tertuduh juga orang pertama yang tiba di TKP korban-korban berikutnya.
Misiku : Membuktikan tertuduh tidak bersalah dan menemukan pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller. Seorang Sherlockian, penggemar sutradara J.J Abrams, dan fanatik sama angka 47. Saat ini Lexie tinggal di Bandung bersama anak laki-lakinya, Alexis Maxwell.
Bagus banget. Novel mystery-thriller pertama yang aku baca. Awalnya gak tertarik sama novel ini tapi karena kata temenku novelnya lexie xu bagus dan ini yang terbaru, jadinya kepingin baca dan ternyata emang bagus! Ceritanya tentang sepasang saudara kembar yang beda banget dimana yang satu feminin dan idola sekolah sedangkan yang satunya lagi urakan dan penuh masalah. Sang kakak yang urakan dijuluki omen oleh keluarganya sendiri karena dikira pendendam dan suka membunuh sejak kecil padahal itu hanya kenakalan anak-anak biasa dan si keluarga yang berlebihan akibat terlalu sering menonton film horor. Orangtua mereka pun pilih kasih, sayang pada adiknya dan benci pada kakaknya. Aak heran kenapa ada orangtua seperti itu padahal sama2 anak mereka dan saudara kembar pula. Keanehan muncul ketika sang adik ditemukan dalam kondisi sekarat dengan tusukan pisau dan si kakak dituding ingin membunuh adiknya. Berbagai bukti memang mengarah ke kakak sebagai pelaku. Nah disini kak lexie bagus banget ceritain alurnya. Sampe terakhir itu aku masih gak bisa tebak siapa antagonisnya dan hasilnya emang di luar dugaan. Tapi ada sedikit yang membuatku bingung dan masih kepikiran sampe sekarang. Overall, recommended banget buat yang suka novel genre begini ataupun yang tidak.
Wuih wuih Penyelesaiannya oke banget. Praduga tak bersalah ku salah. Gila deh pokoknya. Tp udah nyangka sih si Ojek tu siapa. It's good story. Udah berpikiran siapa pelakunya, tp clue nya kurang. Bahasanya doang sih yg masih menggambarkan ini teenlit. Selebihnya gak berasa klo lagi baca teenlit.
"Jelas saja, ulahku membuat aku makin dibenci. Lalu, memangnya kenapa? Tanpa semua itu pun mereka sudah mengecapku macam-macam. Setidaknya, dengan cara ini, aku puas bisa memberi mereka pelajaran. Biar mereka tahu bahwa biarpun aku masih kecil, aku tidak bisa diremehkan begitu saja." [h.37]
Saya penggemar buku dan film thriller. Bagi saya kehadiran novel-novel Lexie Xu sangat menggembirakan. Saya tidak mengenal banyak penulis novel Thriller di Indonesia.
Saya mengikuti Johan Series, walaupun buku ketiganya baru saya dapatkan dan belum sempat dibaca. Saya memilih lebih dulu novel Omen ini.
Sejak bab awal saya sudah menebak akan kemana jalan cerita novel ini. Tapi saya berusaha keras untuk membacanya dan menolak pemikiran saya.
Novel ini bercerita tentang anak kembar, isu yang sensitif buat saya yang kembar. Saya berharap Lexie menuliskan tentang anak kembar yang nggak tipikal (secara buku dan film) dimana si kembar akan digambarkan sebagai bawang merah dan bawang putih.
Saya menemukan banyak cerita tentang anak kembar yang satu feminin dan yang satu tomboy, tak apalah, memang kenyataannya banyak juga yang begitu (termasuk saya). Saya menemukan kemiripan nasib dengan tokoh utama, walaupun itu cuma perasaan saya saja. Ada hal yang tepat digambarkan oleh Lexie dalam novel ini,yaitu perasaan kesal mendalam karena selalu dibandingkan. Namun ada yang alpa dalam novel ini, bagaimana anak kembar punya cinta yang suci seperti seorang ibu.
Yang membuat saya harus memberi novel ini dua bintang adalah: 1. Lexie menyelipkan banyak candaan khas remaja, termasuk pada saat adegan tegang sehingga ketegangannya banyak berkurang.
2. Satu paragraf dengan POV Valeria Guntur membuat saya sangat kecewa dengan buku ini. Begini tulisannya:
"Menurut pengamatanku, Erika adalah cewek bengal yang baik hati. Dia memang jutek, tapi kejutekannya itu hanyalah benteng pertahanannya terhadap orang-orang yang memandang rendah padanya. Dia cerdas luar biasa, terutama karena daya ingat fotografisnya yang terkenal itu, dan gayanya juga menarik. satu-satunya kekurangannya adalah dia punya saudara kembar yang menonjol dan populer, membuatnya sering dibanding-bandingkan--dan kalah hanya karena dia berbeda standar manusia-manusia pada umumnya. Tanpa Eliza, pastilah Erika tak sebengal sekarang, musuh-musuhnya tak akan sebanyak saat ini, dan kecerdasannya pasti akan jauh lebih dihargai daripada yang diterimanya saat ini ..."
Maaf jika saya berlebihan menilai paragraf ini. Karena buat saya paragraf ini adalah kekerasan secara psikologis yang harus diterima anak kembar. Menjadi anak kembar itu sangat berat, tak akan ada yang mengerti kecuali anak kembarnya itu sendiri. Paragraf ini menyakitkan karena seolah-olah berbicara: "SEANDAINYA MEREKA TIDAK KEMBAR". Seolah-olah terlahir menjadi kembar adalah kesalahan. Manusia tidak akan bisa memilih takdir kelahirannya.
Cukup anak kembar saling menyangkal keberadaan kembarannya kemudian akhirnya bisa menerima (menurut saya setiap anak kembar akan melalui fase ini), tak perlu mereka dihujat oleh orang lain bahwa menjadi kembar itu menyedihkan atau menyakitkan.
3. Ending yang mudah ditebak dan tipikal cerita anak kembar yang satu jahat dan yang satu baik. Maaf saya mengabaikan tampilan luar, yang saya garis bawahi adalah hati anak kembar.
Kenapa harus Eliza yang menjadi dalang semua kejahatan? Kenapa harus kembarannya? Tebakan ending seperti ini yang mati-matian saya jauhi namun akhirnya terbukti.
Buat saya buku ini tidak memberi khazanah yang baik untuk melihat anak kembar dan bagaimana lingkungan harus memperlakukan mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya belum banyak membaca novel-novel misteri/thriller, tapi sepertinya ini akan jadi genre favorit saya. Apalagi kalau ada pembunuhannya, yang sebagai pembaca kita semacam 'dituntut' untuk menebak siapa pembunuhnya, dengan beberapa gejala yang ada. Jadi sebagai pembaca, kita nggak hanya membaca, kita juga menganalisis, menjatuhkan praduga kita kepada seseorang dengan analisis yang telah kita buat. Benar-benar mikir, dan itu yang saya rasakan ketika membaca novel ini.
Apalagi ketika kasus penusukan itu terjadi, saya langsung penasaran dan mulai menebak-nebak siapa yang melakukannya. Dan saya menikmati proses pencarian pelaku--yah walaupun saya merasa interaksi tokohnya agak berlebihan dan kurang real. Dan, saat pelakunya keluar, BUM tebakan saya salah! Keren bisa unpredictable banget, tapi menjadikan si A sebagai pelaku aslinya itu berasa kurang... logis. (saya sebut pelakunya si A ya supaya nggak spoiler-spoiler banget)
Pertama, sejauh membaca halaman per halaman, saya nggak pernah melihat sisi gelap dari si A. Pembunuhan itu bukan hal mudah seperti menjaili orang lain. Sejauh membaca, saya nggak pernah merasakan kegelapan si A, atau gejala-gejala dia akan melakukan pembunuhan.
Kedua, bahkan ketika si A telah mengajukan alasan-alasan dia melakukan semua ini, tetap terasa kurang... logis. :( Kalau hanya karena itu, sampai membunuh itu rasanya terlalu jauh. Kalaupun memang ia harus membunuh, mungkin ada satu kejadian yang lebih 'klimaks' sampai muncul sosok gelap dari dalam dirinya. Karena yang saya rasa, si A itu hidupnya baik-baik aja.
Ketiga, operasi plastik itu... err, agak gimana ya. :( Pertanyaannya adalah, masa orangtua nggak bisa mengenali bahwa ini bukan anaknya?
Keempat, ke mana si A pergi selama ini? Mungkin ini nggak perlu dijawab, tapi saya penasaran banget.
Kelima, lalu apa maksud prolog tersebut? Saya belum menemukan jawabannya sampai sekarang.
Saya juga nggak bisa menerima perlakuan orangtua Erika&Eliza kepada Erika, nggak adil banget, hanya karena si Erika ini suka ngerusakin boneka dengan sadis sampe Eliza nangis.
Pada akhirnya, saat buku ini ditutup masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Tapi bukankah ini nilai seni dari novel misteri? So, okay. :)
*
Saya berharap Lexie Xu bisa menerbitkan buku-buku misteri yang lebih 'serius', lebih 'dalam', tapi tetap masih bisa dibaca oleh remaja. Ditunggu karya berikutnya. :)
Oh, dan alasan saya memberi dua bintang karena saya menikmati proses pencarian pelaku dan kejadian yang bertubi-tubi itu, yah meskipun hasilnya mengecewakan saya. :(
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini pasti adalah teenlit lokal paling batshit insane yang pernah aku baca. Dalam banyak arti, ceritanya lumayan melampaui ekspektasi.
Ceritanya dimulai dengan sepasang cewek remaja kembar yang saling benci satu sama lain karena perbedaan mereka. Lalu satu, yang lebih populer, ceritanya jadi korban penusukan. Terus si kakaknya, yang berandalan dan dikenal bengal, kemudian jadi tertuduh yang harus membersihkan nama baiknya.
Kalau membaca blurb-nya, sangat mudah untuk mengira ini novel misteri. Lalu memang settingnya itu seperti novel misteri. Tapi nyatanya... sebenarnya enggak juga. Malah, mungkin aku bisa bilang kalau ini semacam novel action. Ada lumayan banyak... uh, baku hantamnya. Tapi bukan cuma itu aja.
Yang bikin aku beneran terkejut dari Omen adalah gimana di sepanjang penceritaannya, ada begitu banyak hal yang bikin aku terperangah. Yah, antara itu, sama ternganga, nepok jidat dan facepalm. Lalu begitu beres baca, dengan sedikit enggan mesti kuakui kalau aku menikmati setiap halamannya, sekalipun ada narasinya yang sedikit berlebihan, serta ceritanya sendiri yang kurang masuk akal soal beberapa hal.
Gampangnya, pengalamanku kayak, ada film baru nih yang baru muncul di bioskop. Aku enggak tahu apa-apa tentang film itu sebelumnya. Tapi judulnya kayaknya menarik. Namun setelah aku nonton, filmnya enggak sebagus yang aku kira. Mungkin malah rada keju, konyol, atau kacangan. Cuma, aku puas nontonnya.
Novel ini seriusan menghibur, ibarat film yang mau kamu tonton karena 'rame' daripada 'bagus'. Aku hampir enggak bisa berhenti ketawa selama baca (walau mungkin adegan-adegannya enggak benar-benar dimaksudkan sebagai komedi), dan aku puas sesudah tamatnya.
Ya, blurb-nya sangat misleading. Karakter Val ternyata berperan hanya menjelang akhir, walau dirinya memang memainkan peran penting. Lalu perasaanku juga campur aduk agak-agak gimanaa gitu saat tahu kalau novel ini ternyata punya sejumlah sekuel, dengan karakter-karakter yang kayaknya bakal nambah banyak serta cerita yang bakal enggak kalah gilanya.
Keputusan untuk membaca Omen pada dasarnya disebabkan oleh tantangan membaca yang saya lakukan bersama kawan saya, Chita @chitamania. Tema pertama yang dipilih untuk kali ini adalah genre horor dan thriller. Jadilah saya terpikir untuk membaca ulang Omen karya Lexie Xu. Iya, jadi saya sebetulnya sudah membaca Omen sebelumnya, akan tetapi, saya bermaksud untuk membaca ulang karena saya ingin membaca semua series-nya.
Lexie Xu merupakan tipikal penulis yang menciptakan universe tersendiri. Maka dari itu, saya merasa kurang sreg ketika saya ingin lanjut membaca seluruh series tapi saya lupa detail ceritanya. Maka dari itu, akhirnya saya memutuskan untuk membaca ulan buku pertama dari Omen Series ini.
Kapan sih Lexie Xu gak bikin deg-degan para Lexsycopath? Tentu aja, Omen gak kalah seru dari Johan Series. Meskipun harus diakui kalau Johan masih tetep nangkring sebagai psikopat nomer satu. Cerita yang diangkat pun gak jauh-jauh dari cerita anak sekolahan. Tapi dikemas dengan format yang beda. Kita dibawa berputar-putar dan disuruh menebak siapa dalang dari semua kejahatan yang terjadi. Auranya mencekam, dan sialnya aku baca waktu malem-malem. Kerasa banget kan horrornya. Aku suka banget sama tokoh Erika. Dia keren banget dan bikin ngeri. Apalagi ingatan fotografisnya yang bikin ngiri sejuta umat manusia khususnya para pelajar. Pokoknya keren banget lah novel ini. Aku berharap akan ada lanjutan atau sekuel atau side story atau apalah dari kak Lexie. *Lexsycopath, mari kita berdoa agar kak Lexie diberi inspirasi untuk menghadirkan sederetan mimpi buruk kembali.
"Omen" bercerita tentang sepasang anak kembar: Erika, si biang kerok yang suka membuat pusing para guru dan orang tuanya; serta Eliza, si malaikat yang menjadi pujaan guru dan teman-temannya, serta si anak emas bagi orang tua mereka.
Suatu hari terjadi kasus penusukan yang melibatkan Erika. Bukti-bukti mengarah padanya. Orang-orang di sekitarnya yakin bahwa dialah pelakunya. Apakah Erika memang si pelaku penusukan itu? Apalagi Erika sadar bahwa ada sesuatu yang terbangun di dalam dirinya, sesuatu yang gelap dan berbahaya. Sesuatu yang tidak bisa dia bendung.
Di komentar singkat saya sebelumnya, saya menyebut kalau novel ini 'jauh panggang dari api'. Itulah yang saya rasakan saat membaca blurb, lalu isi novel ini. Kesan awal saya adalah: ini sebuah buku misteri detektif, tapi ternyata hal ini tidak begitu benar. Tidak ada tuh penyelidikan yang dilakukan Valeria. Pembaca sama sekali tidak dibawa ke dalam analisanya. Bahkan saat masuk ke satu-satunya bab POV Valeria sekalipun, pembaca tidak diajak untuk menganalisa kasus tersebut. Bisa kubilang kalau Omen ini lebih ke arah thriller daripada misteri detektif.
Saya sebelumnya sudah membaca novel Obsesi dari sang penulis, dan saya rasa eksekusi novel itu lebih baik dari Omen ini. Saya kurang begitu dapat aksi serta ketegangan yang ada di Obsesi. Motif, pelaku, trik, serta sebab-akibatnya juga tidak begitu menawan. Cenderung lemah malahan. Tambah lagi saya bisa menebak pelakunya dari desain karakternya.
Untuk pembunuhan-hipnotis seperti ini, sayangnya saya masih lebih suka salah satu ceritanya Detektif Kindaichi. Di Detektif Kindaichi, penggunaan hipnotisnya mirip, tapi masih lebih menarik (dan lebih bisa diterima).
Selipan humornya juga terlalu banyak di tempat yang kurang tepat. Bagian yang seharusnya dibuat tegang justru terasa lucu karena leluconnya Erika atau si Ojek. Tapi, di sisi lain, saya juga suka dengan interaksinya Erika dan si Ojek ini. Di tempat yang tepat, mereka chemistry dan lucunya dapat banget.
Oh, iya, karakter favorit saya di novel ini adalah Pak Mul, sopirnya Valeria yang hanya muncul di dua bab, tapi mampu meninggalkan kesan yang mendalam :)).
Secara keseluruhan, saya sih tidak puas dengan novel ini. Gaya bahasanya ringan dan lucu. Banyak bagian yang membuat saya senyum-senyum. Sayangnya, misteri yang ada tidak begitu memikat dan tidak mengejutkan.
pertama saya bingung siapa sih nih ojek, siapa sih orang yang mau aja dipanggil sama erika guruh dengan panggilan yang nggak masuk akal itu. nah makin terus bacanya makin ketagihan. semakin kepertengahan saya malah makin kagum dengan ojek. nah nih ojek kok kesannya melindungi erika banget. apakah ada fallin in love antara ojek dengan langganannya yang tukang hutang itu? semakin kesini makin seru saat valeria guntur ikut bergabung. awalnya saya kira ngapain sih anak lemah alias cupu ikut acara berantem ginian, yang ada juga situ sendiri kan yang susah. tapi valeria membuat saya terpukau. jeng-jeng, dia itu jago banget berantemnya. beda banget dari penampilannya. nah dasri sini juga saya tau kalau ojek itu adalah viktor yamada. orang yang pernah disebut-sebut sama frankie cahyadi pas pengurus mos harus mati. dan voila semua sudah terjawab. tinggal menunggu siapa dalang semua ini. awalnya saya berpikir orang yang suka hipnotis ini jangan-jangan johan lagi. tapi saya meleset. saya pikir johan udah die nggak mungkin dia bangkit lagi kecuali ada kembarannya.
hal yang saya suka disini saat erika yang mau mencoba nusuk vik pake pisau akibat terpengaruh hipnotis. saya udah teriak, "bego kalau elo sampai mau ngebunuh dia." dan ketakutan saya untung tidak berhasil. fiuhh, selamat si vik.
tapi saya suka kok endingnya, bagus. walaupun vik nggak ada romantis-romantisnya sama erika. cuma yaaah, keren aja endingnya. cuma masih nggak terima aja, udah tau eliza, kembarannya dalam kata lain yang idiot itu bersalah tetap aja keluarganya ngebelain dia. bener-bener keluarga yang bego menurut saya. salah kok dibela? sedangkan yang bener kenapa malah dikucilkan kayak gini?
dan saya masih nggak suka dengan erika yang nggak dianggap, dibeda-bedakan. entah kenapa saya nggak sreg sama kak lexie tentang hal ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
sempat ragu sebenernya buat baca, liat covernya aja udah berdarah-darah begitu. tapi dugaanku salah selama membaca buku ini dari awal hingga ke tengah. ternyata betul-betul banyak komedinya. banyak banget adegan-adegan dan dialog-dialog kocaknya yang menghibur.
dari awal aku penasaran berat, siapa sih, si Ojek itu? bagaimana sejarah pertemuannya dengan Erika, dll, karena aku suka banget dengan karakternya. dan setelah tahu siapa dia sebenarnya, aku langsung jatuh cinta sama dia!
dari tengah ke belakang aku dibawa masuk ke konfliknya yang cukup menegangkan. sempat juga merasa kecewa karena ternyata porsinya si Valeria Guntur nggak sebanyak yang aku kira, tapi begitu selesai membacanya (tentu saja setelah terpecahkannya misteri itu, yang membuatku nggak nyangka), rasanya cukup memuaskan. :)
oh iya, suka banget sama twist kisah cinta pada ending buku ini, menurutku lucu banget dan unyu. :D
dan menurut rumor, buku ini bakal ada lanjutannya ya? ditunggu banget lhoo.
akhir kata, I'm bloody in loooooooove with si Ojek!! (nggak akan dikasih tahu namanya, spoiler :p)
Yap seperti Johan Series, Omen juga punya ending yang gak terduga-duga. Keren paraahh! >,< Tadinya sih cuma pengen dijadiin selingan iseng dikala TO, biar gak stres-stres amat gitu. Eh malah keterusan saking bikin penasarannya.
Novel ini menceritakan tentang saudara kembar, Eliza dan Erika. Dimana si Eliza digambarkan sebagai cewek feminin, suka jaim, pokoknya tipe cewek populer banget deh. Kebalikan dengan Erika, cewek tomboy, suka bolos, dan beberapa sifat jelek lainnya bikin mereka berdua selalu dibandingkan oleh orang-orang, bahkan oleh orang tua mereka sendiri.
Perbedaan perhatian dan kasih sayang itulah yang membuat salah satu dari mereka ingin melenyapkan saudara kembarnya. Hmm selanjutnya... baca sendiri :p
Gue cuma kasih 4 bintang karena sayangnya ada beberapa kejadian yang gak dijelasin di akhir cerita, jadi gue masih kepo sama keseluruhan kejadian di awal yang biasanya suka dijelasin di akhir cerita. Apa gue yang gak ngeh mungkin ya gara-gara pas baca yang bagian akhir mata gue udah 5 watt jadi gak begitu konsen :p
Bukan karena gaknbagus atau apa, kok. Cuman emng aku raga gakn "in" aja ama percakapannya. Gaya teenlit banget dan aku udah gakntahu berapa lama gak baca teenlit. Menurutku ada percakapan-percakapan yang dibikin lucu tapi gak lucu menurutku. Selain hal itu aku suka ceritanya. Walaupun kupikir bukunya baklah suspense banget, ternyata enggak. Itu karena ku udah berkespektasi pembunuhan sadis. Sebenernya sadia kalau lebih detail, tapi karena target pembacanya remaja makanya smooth banget. Pelakunya pun gak diduga-duga dan alasan kejahatanya pun masuk akal. Serius lah aku kaget waktu tahu siapa pelakunya. Heuheu. Belum lagi ku suka semua karakternya, lumayan kuat dengan background yang jelas pula. Walopun ku gak ngerti ama jalan pikiran ortunya eliza ama erika.
WOW! Serius, aku seperti baru saja membaca komik conan tapi versi novel. Dari dulu hingga sekarang aku tetap menyukai hal-hal berbau misteri, dan omen salah satu yang berhasil.
dimulai dari prolog yang sebenernya, bagiku sih ya kenapa harus ada prolog kalau bagian itu sebenernya cuma kamuflase si penulis. kenapa tidak di beri prolog saja?
saat pertama-tama baca novel ini, kecurigaanku mengarah pada seseorang, tapi ternyata bukan. tanpa diduga-duga seseorang yang sejak awal di gambarkan secara manis dan semacamnya itulah penjahat yang sebenernya.
intinya sih, saya suka novel ini karena harus mikir dan menebak-nebak pelakunya xD
Selalu suka tulisan Lexie Xu yang sama sekali nggak bikin bosan. Kalau sebelum-sebelumnya sudah mencoba membaca novel misteri ala-ala anak SMA, i must say, nggak ada yang semenghibur buku ini. Ketegangan yang digambarkan jadi nggak terlalu bikin suasana serta-merta jadi dark, malah sebaliknya.
Perpaduan misteri dan psychological thriller-nya sangat memuaskan, dengan kata lain berhasil membuatku nyaris tertipu dan sempat ragu apakah pelaku sebenarnya adalah "orang itu". Aku jadi teringat dengan buku "In A Dark, Datk Wood" karya Ruth Ware yang sempat membuatku sempat meragukan apa benar tokoh utamanya adalah pelaku utama? Kemudian, bantahan kalimat dari si Ojek menamparku juga sebagai pembaca, "Kamu tahu ungkapan bahasa Inggris, Don't put the words in my mouth? ... Itu artinya, ada yang mencoba memanipulasimu, mengucapkan kata-kata yang sebelumnya tidak terpikir olehmu, lalu menyuruhmu mengatakannya agar kamu berpikir seperti yang dia katakan." — pg. 235.
Penggambaran Kak Lex ke karakter-karakternya lucu dan judgemental. Judgemental dalam artian walaupun kehidupan Erika adalah sosok yang bakal dihindari kebanyakan orang, selalu punya cara tersendiri agar hidupnya terasa nggak ada yang salah. Erika bukan sosok yang terlalu buruk sampai-sampai bakal balas dendam—dengan—pada setiap orang yang berani membandingkannya dengan Eliza. Begitupun plot twist dari karakter Valerie dan si Ojek. Yah, karena sebelumnya sudah menyelami lebih dulu Johan Series, jadi siapa pelaku dan adanya karakter-karakter nggak terduga semacam ini sudah diantisipasi sejak dulu.
Dan humornya itu lho haha, sumpah menghibur banget karena jarang ditemui genre misteri, thriller, dan humor jadi satu tempat! Tapi ini yang jasi ciri khas Kak Lexie, dan i looooove it! Bakal lanjut seri keduanya xixi
Ending yang tidak terduga! (atau mungkin saya yang jarang baca cerita misteri?)
Mengandung cukup humor yang lumayan bisa mengurangi rasa sebal dan tegang, jadi aku sanggup menamatkan dalam sekali duduk. Ada beberapa bagian yang bikin aku sebel, contohnya ketidakadilan orang tua si kembar dan orang-orang sekitar yang justru berandai-andai "kalau aja mereka gak kembar", dan masih ada beberapa plot-hole yg mungkin akan terjawab jika saya lanjut baca series Omen sampai tamat. Oke, bakal lanjut baca buku kedua!
Actual rating 2.5⭐ Awalnya mau ngasi full 3, tapi kok gak masuk akal twist-nya karena aku merasa nggak dikasih serpihan-serpihan clue yang mengarah ke sana, alias terasa maksa. Ditambah aku kesel di hampir 50% bagian awal isinya cuma monolog Erika yang mati-matian kalo dia "not like the other girls"
Buku ini kubaca setelah selesai baca Teror dan kawan-kawannya. Ternyata, aku suka. Oke, mungkin tokoh dalam cerita ini karakternya gak sekuat yang ada di Johan series, tapi aku suka. Kenapa ya, Eliza dan Erika bisa bertolak belakang banget banget banget sifatnya? Seenggaknya, ada satu atau dua sifat mereka yang sama, gitu. Soalnya, setahu aku, ikatan batin antara anak kembar itu lebih kuat daripada ikatan batin saudara kandung biasa yang sekedar kakak adik aja. Nah, terus, aku heran kenapa mereka bisa suka sama orang yang sama; Ferly. Cowok kayak gitu kok, direbutin, sih... masih banyak cowok lain kan, di sekolah itu. Bahkan di sisi Erika ada tiga orang cowok...
Bicara soal Eliza yang berusaha sempurna, entah kenapa aku kurang sreg sama tokoh yang satu ini. Semua serba sempurna, emangnya bisa? Yang namanya manusia itu gak akan pernah bisa jadi sempurna sekeras apapun dia mencoba. Udah kodratnya manusia itu sebagai tempat salah dan lupa, selamanya gak akan bisa sempurna. Itu yang aku gak suka dari prinsip Eliza. Selain itu, aku juga gak suka sifat Eliza yang pendendam... buktinya, dia niat banget sampai melukai orang-orang cuma demi ambisinya bikin Erika terpuruk. Erika aja yang dari dunia asalnya udah nakal edan gak sampai segitunya, berarti Eliza itu nakalnya udah lebih, dong? Eh, jahat deh, bukan nakal lagi...
Erika yang nakal kukira emang nakal dan parah banget, gak taunya, dia jauh jauh jauuuuuuuh lebih mending daripada saudara kembarnya. Aku suka gimana seenaknya dia dalam berbuat, gimana dia ngomong asal ceplos even ke si Ojek, gimana dia bertahan menghadapi orang tuanya yang udah ngecap dia sebagai "pembunuh anak kesayangan mereka di dunia", dan sebagainya. Aku sedih waktu ngebaca pengorbanan temen-temen cowoknya yang sesama berandal itu... mereka bikin "seolah-olah" mereka dipukulin, padahal aslinya Erika juga sakit hati waktu mukul mereka. Itu... gimana, ya? Seneng aja liatnya, walau yaaah, mereka harus "seolah-olah" nyelamatin penjahat yang ternyata bukan dia.
Ojek alias Viktor Yamada... ya ampun, dia orangnya kayak gimana, sih? Ganteng, tajir pula, kayaknya keren banget. Tapi... sayang, nyebelinnya maksimal juga. Jadi, emang kegantengan dan ketajirannya dilengkapi dengan betapa nyebelinnya dia. Sedih, tapi mau gimana? Namanya juga manusia; gak ada yang sempurna.
Aku sebel ngeliat betapa so sweet-nya Vik ke Erika... mereka lucu deh, kalo udah debat yang gak jelas mana awalnya dan mana akhirnya. Pokoknya, mereka tetep lucu di mataku (meski setelah baca Tujuh Lukisan Horor ternyata aku lebih suka Les-Val dibanding dua anak ini). Dan mereka sama-sama kuat, serem ngebayanginnya...
Yang paling aku suka dari cerita Lexie itu pergantian sudut pandang orang yang terkadang jomplang. Dari Val ke Erika, itu kan, jelas-jelas berbeda jauh. Sayang, di Omen ini, aku gak menemukan pergantian sudut pandang sesering yang kutemukan di Obsesi, Permainan Maut, dan Teror. Itu sih, satu point yang sayang banget gak ada di sini.
Aku tetap suka cerita Lexie kayak biasa. Buatku, ceritanya gak ketebak dan selalu bikin aku ikut deg-degan. Entah cuma aku yang lebay atau gimana, yang jelas aku emang suka. Efek yang dikasih kata-kata dalam novelnya itu bikin aku terbang dan untuk sesaat meninggalkan semua jejak-jejakku di bumi. Seolah-olah, aku ada di sana, menyaksikan mereka, tapi gak bisa apa-apa.
perasaanku membaca ini sangat campur aduk, deg2an, takut, gemes, kesel. pelakunya menurutku sangat plot twist dan tidak ada dari daftar pelaku versiku yang mendekati. bagian akhirnya juga deg2an parah
It is the first time I read thriller/mystery/horror genre by Indonesian author. It's really made me curious and ended up bought and read it. Actually I knew this book from my friend, she said it's a really good mystery-thriller with spice of romance book, and she really want me to read it. So I want to thank her hihihi.
(in bahasa;) Jadi buku ini tentang sepasang anak kembar identik yang kepribadiannya gak identik. Eliza Guruh adalah orang yang cantik, populer, lembut, idola sekolah, dan idaman cowok-cowok sekolahnya. Sementara Erika Guruh yang tak lain kembaran Eliza punya sikap yang tengil, berandal, preman, dan suka berantem. Naah orangtua mereka ini pilih kasih dan lebih sayang sama Eliza, kenapa? karena mereka salah paham sama Erika, mereka kira Erika lah yang jahatin Eliza, ngerusak/mutilasi boneka mainannya Liza pas masih kecil, kenal istilah membunuh dari kecil,etc etc. Intinya ortunya bener-bener gasuka liat sika Rika yang berandal. Bukannya introsepksi diri Rika malah lebih bikin ulah dan bandel.
Untungnya Erika punya ingatan fotografis. Apa sih ingatan fotografis? ingatan itu adalah kalo dia baca/lihat/dengar sesuatu dia pasti bakal inget sama semua itu sampe kapanpun juga, intinya Erika ini anak jenius. Itulah salah satu faktor dia belum dikeluarin dari sekolah.
Hero kita adalah Si abang tukang ojek yuuup! *biar penasaran lo lo semua xixixi* husss jangan mikir buruk dulu si ojek ganteng pisan kok, gentleman lagi, perhatian lagi, cukup cukup jng fangirling disini. Intinya si ojek inilah yang bantuin Rika. Ada juga Valeria Guntur cewek "cupu" yang Rika palakin sepatunya di toilet kamar mandi supaya gak dihukum. Sebenernya sih Valeria ini kecee banget diem" cupu tapi aslinya jago bela diri and tsundere parah.
Nah di sekolah mereka ini ada kasus yang menghebohkan, sepasang kakak kelas mereka hilang tanpa jejak, gatau mati/hidup, ataupun ada dimana. Semuanya dimulai dari saat ditemukannya Eliza dalam keadaan sekarat di sebuah rumah yang belum selesai dibangun. Dan yang dituduh adalah Erika?!
Erika tentu aja gak nerima dong, nah seru kann makanya baca yaaa! dijamin gak bakal ngecewain hihihi mau dong punya tukang ojek pribadi gitu :( hiks
SPOILERS AHEAD YOU'VE BEEN WARNED!!!!!
PS: jujur ada beberapa hal yang menurut gue kurang logis, kayak operasi plastik muka korban (yg menurut gue impossible bgt sampe ga dikenalin), sampe ortunya yg nyebelin parah masa sih ada ortu yg kayak gitu apa ini msh jaman Siti Nurbaya??, terus gue gapercaya aja betapa gampangnya ilangnya kepercayaan konco-konconya Erika si Daniel, Welly, sama satu lg lupa namanya. I mean they're friends and you don't believe your friend? like bullshit!, and ilusionis gila yg nyembunyiin "zombi-zombi" that's just out of everyone's mind. Some part kayak dipaksain, gue agak geli juga sih sama si ojek yg ngomong aku kamu, di kepala gue membayangkan dia ngomong aku pake logat jawa hahaha *ketawangakak* but it's a really good book, apalagi yg bikin orang Indo bangga banget deh! :DD Regards @renchrst
"Dan sesuatu yang sedari tadi mengintai dari jauh, langsung menyeruak masuk ke hariku saat mendengar Amir mengucapkan kata ‘membunuhnya’. Sesuatu yang terasa mengerikan sekali. Perasaan itu begitu kuat mencengkeram hatiku dan berusaha menguasai, membuatku merasa seperti di ujung kewarasan." – halaman 176
Erika dan Eliza adalah saudari kembar identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Sang adik terkenal sebagai siswi cantik dan populer, sementara kakaknya punya reputasi buruk karena sering membuat onar di rumah dan sekolahnya. Erika bahkan diberi julukan ‘Omen’ karena saat usianya baru menginjak dua tahun, dia sudah bisa berbicara dan tingkah lakunya tidak menunjukan seorang balita. Ada satu persamaan dari saudari kembar itu, mereka sama-sama menyukai seorang kakak kelas, Ferly. Eliza yang berhasil lebih dekat dan menjadi pacar Ferly. Makanya kemunculan foto Erika dan Ferly berpelukan di malam hari membuat satu sekolah heboh. Erika sendiri marah, menuduh Eliza, dan mengancam akan membunuhnya.
Saat Eliza ditemukan bersimbah darah dengan luka tusukan, semua tak ragu untuk menunjuk Erika sebagai pelakunya. Bahkan teman baik Erika, Daniel, Welly, dan Amir, berniat menyerahkan Erika ke polisi. Hanya Ojek langganannya dan siswi cupu, Valeria, yang masih percaya kepada Erika. Hari-hari selanjutnya, Erika dan si Ojek bersembunyi dari polisi sambil mencoba mencari pelaku aslinya. Tetapi semakin lama Erika jadi ragu dengan dirinya sendiri. Dia sepertinya melakukan hal-hal tertentu tanpa sadar dan dia tak bisa berbohong sisi gelapnya memang menginginkan Eliza mati.
--
Omen memadukan cerita remaja dengan misteri mengerikan dan begitu berani menempatkan Erika, tokoh yang punya banyak sisi negatif, sebagai karakter protagonis. Semakin lama kita mengenalnya, kita malah menemukan banyak sisi positif dirinya. Sempet sampai kesel karena orang-orang sekitarnya mengabaikan ketidakadilan yang diterima Erika. Kejam banget, lah. Namun, berbekal sejarah kenakalan Erika yang panjang, agak ragu juga menentukan siapakah pelaku penusukannya. Apa betul dia hanya dijebak atau memang dia pelakunya? Erika sendiri sudah mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri. Ceritanya jadi tak hanya seputar misteri, tapi juga menguak sisi kelamnya yang selama ini terpendam. Bingung, bingung sendiri jadinya. Begitu jawabannya dikuak, aku antara percaya tak percaya. Tak terduga sama sekali. Twist yang begitu ‘sakit’ sekaligus cerdas!
Found this hidden gem for only 15k! Hahaha. Di Gramedia Matraman Shocking Sale. Saya udah punya Tujuh Lukisan Horor, tapi belom dibaca beberapa halaman gara-hara nggak ngerti. Jadi begitu melihat buku ini di tumpukan nggak teratur cuci gudangnya Gramed, nggak pake mikir langsung saya gebet.
Sebagai fans berat dari Johan Series, saya luar biasa hoam baca buku ini. Johan Series nggak kebanyakan basa-basi dan langsung kelihatan action di sana-sini. Yang satu ini.... Halaman demi halaman yang saya baca rasanya kayak blur. I kept flipping the page, nyari-nyari scene pembunuhan atau penyelidikan, tapi hasilnya dikit. Saya lumayan terhibur sih di chapter saat Erika dihipnotis dan keromantisannya dengan Vik sesudahnya, tapi berikutnya... antiklimaks.
Adrenalin saya baru memuncak setelah Erika jadi buronan dan pindah ke rumah Les. Baru di situ kelihatan titik terang, mau dibawa ke mana cerita ini. Saya nggak bisa brenti baca di poin itu. This book is simply unputdownable. Semua yang mereka lakukan udah bukan blur lagi, lumayan udah ada bayangnya, lah.
Anyway, salah satu faktor yang bikin buku ini rada hoam sebelum scene Erika jadi buronan adalaaaah... banyak banget kata yang repetitif. Beberapa yang saya hafal setengah mati saking seringnya: idiot, cemberut, melotot, masam, pengecut, tolol. Trus ada beberapa jokes yang bukannya bikin cengar-cengir malah bikin dahi saya mengerut saking garingnya, apalagi jokes di geng Amir, Welly, dan Daniel. Kontras sama Vik yang jokes-nya blunt, bikin miris, tapi sukses bikin cengengesan. I love Vik so much.
Berhubung saya udah dibocorin spoiler-nya sama temen, dari awal saya udah tahu soal Eliza, hehehe, jadi udah nggak se-surprise itu. Tapi saya tetep aja terkecoh di bagian Eliza-nya ditusuk. Nggak taunya cuma pengganti yang mukanya dioperasi. Niat banget ye.
Nggak kayak Johan Series yang lebih condong ke arah action yang isinya orang-orang main fisik, Omen main otak juga. Bikin mikir. Porsinya lebih berat. Ada materi psikologinya pula. Nilai plus banget.
Oh iya. Waktu saya baca sinopsisnya, saya kira cerita ini bakal dari PoV-nya Valeria. Memang sih ada jatahnya, tapi tetep aja, lebih banyak giliran Erika.
Yah, tapi nggak pa-pa sih. After all, bukunya Lexie Xu emang bikin nagih, nggak terkecuali yang satu ini. Lumayan mengocok adrenalin, cocok dibaca pas lagi stres.
Terus terang awalnya aku tidak sedikit pun tertarik untuk membaca buku ini.. Lihat saja covernya yang cukup menyeramkan ditambah dengan kasus pembunuhan itu.. Tetapi, atas saran dari kedua adikku yang katanya omen ini "recommended" untuk dibaca yaa jadilah aku sedikit tertarik.
Tidak seperti bayanganku sebelumnya yang mengira akan disuguhi kisah-kisah tragis (ada sih cuma masih bisalah diterima.. hehe), ternyata di sini ada unsur kocaknya.. Dan semakin membaca buku ini halaman demi halaman, semakin menarik untuk membaca halaman berikutnya.
Well beberapa dalang yang aku curigain itu, *awalnya aku curiga si Anus, maksudnya Martinus :D ini sebagai pelaku mengingat perlakuan Erika udah kayak apa ke dia. *terus aku beralih ke salah satu geng gong nya si Erika.. Kalo ga si Amir ya si Welly itu.. Aku susah ngebedain kedua orang ini haha *sempet juga sih mikir apa mungkin si Erika nya karena pengaruh 'hipnotis'
Eh ternyata ga diduga-duga si pelakunya ternyata 'diaaaaaaaaaaa' (rahasia buat yang belum baca :p) Aku benar-benar ga nyangka.. Ga ada clue yang merujuk ke dia..
Apalagi si Valeria ini, kirain dia bakal jadi narator di sini kalo ngeliat konsep d bagian belakang cover buku ini. Dan kirain dia emang bener-bener cupu tapi ternyata berbeza haha..
Dan aku kecewa berat sm geng-gong nya Erika especially si Daniel ini.. Aku kira mereka bakal punya peran cukup penting di sini sebagai penolong Erika mengingat sahabat Erika ya mereka. Dan aku benar-benar dikecewakan.
PS: aku mau punya tukang ojek kayak si Viktor Yamada ini :p
Ahh, harus kuakui kalau aku senang dapat menyelesaikan buku ini. Aku sudah tergoda dengan judul dan juga penampakan covernya bahkan sebelum bukunya dinyatakan beredar di pasaran. Hingga saat untuk pertama kalinya aku melihat buku ini, tak perlu pikir panjang untuk membaca.
Bisa dibilang bukunya bikin sulit ditutup. Berkebalikan dari buku Obsesi yang ditulis oleh penulis yang sama (aku belum selesai membaca buku itu hingga keempat bukunya terbit semua), buku yang ini terkesan beda. Entah karena aku yang sudah lama tidak membaca buku misteri remaja, atau bagaimana. Yang pasti misteri yang diulas oleh penulis di dalam buku ini oke.
Aku tidak akan membahas isinya, tentu, akan mengandung banyak spoiler bila aku membahas isi dari buku semacam ini, dan aku tidak akan setega itu membuat pembaca yang lain tidak seru lagi dalam membaca. *puppy eyes* Tapi satu kisi-kisi saja ya, entah kenapa saat membaca, aku sempat merasakan dejavu. Abaikan. Anggap saja hanya perasaanku sendiri.
Umm, sempat berharap jatah porsi Valeria Guntur lebih banyak, mengingat nama dia yang terpasang di back-cover, tapi itu angan belaka. Bisa dibilang porsi nona muda itu sangat sedikit. Yahh, itu saja seh berharapnya. Overall, misterinya dapet banget. Karakter tertuduhnya juga dapet. "Pahlawan"-nya seh inginnya lebih banyak lagi porsinya, tapi bolehlah yang sekarang. Ohh, satu lagi, halaman 217 kocak banget! *selamat membuka bukunya kalau penasaran ;p*
Em..oke. Awalnya aku gak terlalu tertarik. Tapi ini novel recomended banget dari temen-temen. Aku juga pernah baca karya Kalex yg Johan Series (yg pertama Obsesi, lainnya belum =D) jadi, kenapa enggak? Akhirnya aku kepo dan baca selembar demi selembar. Alhasil aku jatuh cinta!
Semua tokoh unik, gak ada duanya. Yes, aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama Erika Guruh. Dia tomboy, benar-benar tomboy walaupun itu hanya untuk menutupi bahwa dia tidak ingin mirip Eliza Guruh. Juga blak-blakan--kasar, cuek, judes, seram untuk tamengnya. Tapi dia membuktikan dia menjadi dirinya sendiri and it's totally fantastic! A good friend, of course. Viktor Yamada menjadi moodboster di sini (untukku xD). Ku kira dia beneran tukang ojek, ternyata oh--mengagetkan. Well, selain Martinus, aku juga pernah curiga sama Vik sebagai dalangnya. Saat pagi-pagi buta di markas dia dan Erika, pagar rumah terbuka sedikit (mendadak curiga) dan dia selalu tau tentang Erika (maaf Vik). Aku kagum, dia setia dari awal sampai titik akhir dia membantu, menemani, dan memecahkan peristiwa itu--hanya demi Si Tengil Erika.
Aku gak bisa menahan bahwa selain Erika dan Si Ojek, eh, Viktor maksudnya, aku juga jatuh cinta pada Valeria Guntur. Dua kata untukmu Cewek Cupu. Unpredictable and Surprise!
Sebenernya, ada typo sedikit yang seharusnya menuliskan nama Eliza tapi keliru menggunakan nama Erika. But, no problem. Keren Kalex!
jadi, novel ini kubaca setelah perjuanganku(?) mendapatkan restu buat minjem dari 'baginda ratu' alias kakaknya temenku. :v #okeabaikan. ok, secara garis besar, novel ini kerasa (banget) misterinya dan bikin penasaran. cuma yah, sayangnya temenku ini udah ngasih spoiler yang-sangat-laknat sehingga tanpa baca pun, aku udah ngerti endingnya. #ehgadeng. setelah menyelesaikan novel ini selama, ehm mungkin 2 jam, aku cukup menikmati jalan ceritanya. dari mulai pengenalan tokoh-tokohnya kayak erika, eliza, temen-temennya, gebetan si eliza yang-aku-lupa-siapa, sampe tukang ojek kecenya erika yang dengan sangat mengherankan pake motor ninja. ceritanya ngalir, walaupun waktu menuju ending, aku ngerasa kayak, apa ya? seperti dipaksakan gitu. dan aku juga sempat bingung sama cerita operasi plastiknya yang menurutku kurang masuk akal, plus adegan hipnotis bagi para korban penculikannya. kok bisa gitu ya, 'mengendalikan' para korban yang lagi dihipnotis sama si (siapa ya? lupa) dengan merebut alat pengendalinya, yaitu 'stapler'. rada aneh aja sih, atau mungkin aku yang aneh ya? oke lupakan. tapi, secara keseluruhan, novel ini bagus dan cucok bagi kalian yang suka novel misteri dan berlagak jadi detektif. hahaha. karena novel ini ada tujuh, dan aku baru baca yang pertama, jadi pengen baca yang selanjutnya deh. penasaran sama akhir kisahnya si erika ini. semoga langgeng ya ama tukang ojek :)))
yang membuat aku ingin membaca novel ini adalah karena ini salah satu novel karya lexie xu.. aku menyukai karya kak lexie saat menghabiskan novel johan series.
aku sudah jatuh cinta duluan dengan karya kak lexie, dan saat beliau akan meluncurkan buku dengan judul " omen " aku adalah salah satu dari ribuan fans kak lexie yang menunggu buku itu.. dan setelah buku itu di tangan ..dan gak bisa berenti dari lembar per lembar. hahaha penasaran iya penasaran ada apa di lembar berikutnya berikutnya dan berikutnya..
novel ini bercerita tentang si kembar erika dan eliza, dua sosok dengan wajah sama tapi karakter yang sangat berbeda, erika sang brutal dan eliza sang adik manis. sama sama bersekolah di SMA Harapan Nusantara sekolah. Erika yang brutal dan ganas menjadi tertuduh pada kasus penusukan siswa siswi SMA Harapan dengan fakta - fakta yang memang tertuju padanya. saat itu muncul valeria guntur yang pemalu dan tidak menonjol di Sekolah salah seorang korban penindasan Erika yang siap menjadi penyidik kasus ini.. dan hasilnya monggo di baca sendiri.