Jump to ratings and reviews
Rate this book

Melawan Lupa: Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali

Rate this book
Buku Melawan Lupa, sebuah buku yang tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan wajib dibaca oleh semua pihak. Buku hasil karya olah pikir anak muda Bali yang seing ngumpul di tikungan desa Kesiman Denpasar Timur. Sebuah desa yang cukup marginal dari hiruk pikuk gemerincing dolar industri pariwisata. Dalam bahasa banyolan, mereka sering menyebut dirinya PNS; Pasukan Nunggu Sore, karena ngumpulnya mulai sore, siangnya sibuk dengan kegiatan masing-masing sesuai peran dan dharmabaktinya pada dirinya sendiri.

Mereka gelisah akan negerinya yang sedang dikoyak koyak virus laten kapitalisme. sebuah virus yang maha dahsyat, tidak hanya menggeser perilaku masyarakat menjadi konsumtif materialistik, namun yang jauh lebih mendasar adalah menggesr memori/ingatan masyarakat ke wilayah lupa dan pelupaan.

Berteman secangkir arak, kegelisahan mereka mengalir menjadi sajian karya tulis yang bertutur dengan bahasa yang tulus, apik, dan jujur. Selamat menikmati !!!

184 pages, Paperback

First published July 1, 2012

2 people are currently reading
28 people want to read

About the author

Agung Wardana

6 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (27%)
4 stars
4 (36%)
3 stars
4 (36%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Ellena.
21 reviews8 followers
October 19, 2012
Di era yang disebut sebagai Orde Reformasi ini, kebungkaman dan pengalihan wajah dari upaya pelurusan sejarah tak kunjung ditanggalkan. Di sisi lain, dalam upaya pelurusan itu, akan selalu ada pertentangan di setiap generasi: yang 'tua', yang mengalami masa-masa barbarisme pemerintahan itu sehingga cenderung enggan menggali trauma, dengan yang 'muda', generasi yang mengenal bagian-bagiannya lewat sejarah dan enggan begitu kabur dalam memahami yang terjadi pada bangsanya.
Apa yang terjadi pada 1965 adalah luka, dan buku Melawan Lupa: Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali mengajak pembaca untuk menyelami lapisan-lapisan luka yang mengendap di Bali dalam upaya mengobati luka itu sendiri.

Tidak ada hipotesa dan argumen-argumen teori politik praktis untuk mendekati buramnya peristiwa 1965, yang ada adalah tulisan-tulisan dari para rekan-rekan komunitas Taman 65 yang pendekatannya begitu personal dalam memberikan gambaran luas dalam melihat bagaimana sejarah yang ditutup-tutupi telah berimbas pada lintas generasi secara individu hingga komunal: mulai dari ingatan tentang ayah dan kakek yang dihilangkan, konflik antar keluarga yang tinggal sebanjar bahkan serumah akibat saling tuduh sejak jaman pembantaian dan menurun hingga generasi yang sekarang, perihal lahan, hingga Bali secara menyeluruh dengan identitas kulturnya; kesemuanya ditulis dengan ke-Bali-an yang sarat dan berangkat dari problem sosial yang relevan dan kontekstual di Bali dewasa ini.

Latar belakang para anggota komunitas Taman 65 Bali yang beragam membentuk buku ini kaya akan pendekatan-pendekatan dan pivot dalam setiap tulisan yang ada. Meskipun beberapa tulisan agak "kering" dalam menuturkan, buku ini tetap luwes dalam menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam menyentuh kembali ingatan untuk melawan lupa. Melawan Lupa: Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali menjadikan pendekatan terhadap Peristiwa 1965 begitu personal, menjadikan proses untuk mengingat dan menyentuh kembali peristiwa itu lewat pendekatan yang lebih 'humanis', dalam artian mengenang manusia-manusia bukan dengan angka-angka korban dalam laporan-laporan kesejarahan, tapi dengan identitasnya yang tertutur dalam tulisan.

"Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa," ujar Milan Kundera.
Melawan lupa yang bisa dimulai dengan cara-cara sederhana: diskusi dan mencatat, layaknya Pramoedya A.T. yang berujar, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian", orang-orang muda lewat komunitas Taman 65 Bali merangkul kembali ingatan-ingatan itu lewat buku ini: bekerja untuk keabadian dan sedikit demi sedikit merawat luka, dimulai dari lingkupnya yang sederhana.
Melawan Lupa: Narasi-Narasi Komunitas Taman 65 Bali adalah buku layak baca.
Profile Image for Fatia Maulidiyanti.
6 reviews
February 20, 2017
Buku ini mengajarkan kita bagaimana masifnya dampak dari peristiwa pembantaian di tahun 1965 sebagai momok dari pelanggaran-pelanggaran HAM di tahun setelahnya yang menghalalkan negara untuk membunuh warganya sendiri dan membuat masyarakat mayoritas dibuat lupa dan dibuai dengan pembangunan ekonomi yang artifisial sehingga membuat masyarakat (khususnya di Bali) menjadi permisif akan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Buku ini menjadi refleksi untuk kita agar tidak diam dan terus melawan dengan cara apapun
Displaying 1 - 3 of 3 reviews