Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lupa Endonesa #1

Lupa Endonesa

Rate this book
Tak malu korupsi? Tak malu berperilaku buruk? Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren?

Di buku ini, Sujiwo menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, atau tak memalukan tentang persoalan negeri ini. Juga cerita tentang orang-orang yang lupa akan bangsanya, Indonesia.

Dengan bahasa terselubung dan melibatkan Ponokawan, Jiwo menyentil banyak pihak dengan cerdas. Menohok, nyeleneh, tapi banyak benarnya. Pemikiran-pemikirannya akan membuat malu banyak pihak, terutama yang lupa bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

232 pages, Paperback

First published January 1, 2012

105 people are currently reading
1593 people want to read

About the author

Sujiwo Tejo

27 books431 followers
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".

Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
303 (41%)
4 stars
213 (29%)
3 stars
155 (21%)
2 stars
43 (5%)
1 star
16 (2%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for Retno.
232 reviews22 followers
January 7, 2013
Walaupun berdarah Jawa, sayangnya ke-Jawaanku cuma terbatas dengan nama dan bahasa Jawa pasif (ngerti tapi gak bisa ngomong). Dulu SMP pernah ikut ekskul gamelan Jawa yang kunikmati sekali. Buku ini Jawa (Tengah) sekali, banyak memuat tokoh-tokoh perwayangan (Mahabrata). Awal-awal kucoba untuk tidak memperdulikan, karena bisa saja tidak mengaitkan dengan sejarah tokoh itu sendiri.

Tapi lama kelamaan capek juga sih karena di setiap bab/rubrik muncul tokoh baru yang bikin aku mikir, ternyata memang perlu tau sedikit tentang latar belakang tokohnya. Sayang juga karena awal buku ini lucu dan bikin mikir tentang karakter bangsa kita.
Profile Image for Dian Pradikta.
42 reviews2 followers
March 8, 2023
Rasanya campur - campur, mulai dari lucu, nyegerin, sampai serius. "Lupa Endonesa" merupakan kumpulan cerita yang menarik. Kalau boleh dibilang, full kritikan namun disampaikan dengan cara yang beda. Jenaka, dipenuhi tokoh wayang, dan tentunya berani.

.
Berasa diajak nonton pertunjukkan wayang. Semua tokohnya dari pewayangan, jadi bagi yang belum pernah nonton berasa nonton secara live. Bahasa yang digunakan bahasa sehari - hari yang tentunya mudah ditangkap, tak lupa diselipkan banyolan. So, sangat menghibur.

.
"Lupa Endonesa" memiliki makna yang dalam. Buku ini berhasil menyampaikan pesan berupa kasih, keluarga, hingga permasalahan negeri ini. Buat kamu yang ingin nonton wayang dengan cara yang beda, boleh banget baca buku ini.
Profile Image for Rizqiaa Riska Misizuri.
4 reviews
February 8, 2022
Bukunya bagus dan saya menyukainya. Hanya saja saya yang bukan orang Jawa dan tidak mengetahui tokoh-tokoh wayang yang menjadi tokoh di cerita ini menjadi kesulitan menikmati isinya karena harus sambil mengingat banyak tokoh-tokoh didalam cerita. Sepertinya saya harus mengenal tokoh-tokoh wayang tersebut lebih dahulu dan membacanya lagi.
Profile Image for Fauzi Karo Karo.
22 reviews
July 1, 2019
Sebuah buku kritik yang cukup sarkas nan lucu. Hanya saja kesulitan membaca buku ini ada pada penokohan wayang karena wayang bukan bagian dari keseharian orang-orang Sumatera jadi perlu kembali mengingat-ingat soal tokohnya.
Profile Image for Risna Ristiana.
42 reviews5 followers
April 3, 2013
Sujiwo Tejo. Siapa yang tak kenal dengan “Dalang Edan” yang satu ini. Seniman eksentrik sekaligus wartawan senior asal Jember lulusan ITB yang selalu menuturkan sudut pandangnya terhadap berbagai polemik bangsa Indonesia dengan caranya yang terkesan nyeleneh, tapi menohok. Bahkan, ketika menjadi dalang dalam pertunjukan wayang, dia kerap kali membawakan cerita yang dibuatnya sendiri. Cerita-ceritanya dibuat berdasarkan keadaan sosial yang sedang hangat diperbincangkan di negeri ini. Begitu pula dengan tulisan-tulisannya yang masih bisa dibaca di beberapa media Nasional.

Tak berbeda dengan tulisan-tulisan Jiwo yang lain, dalam buku terbarunya yang berjudul Lupa Indonesa terbitan Bentang Pustaka, Jiwo masih saja memberikan kritik secara terbuka dengan bahasa humor satir sampai sarkartis tentang korupsi hingga perilaku pejabat negeri ini. Kritikan yang diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan penuh sindiran ini ternyata dapat menghasilkan karya yang layak untuk dinikmati dan direnungi. Ia juga menuliskan beragam kisah tentang orang-orang yang menurutnya telah melupakan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia. Bahkan, Dahlan Iskan, dalam pengantar buku ini mengatakan bahwa tulisan Jiwo memang kurang ajar. Meski terkesan ngawur, berbagai pemikirannya itu terbilang sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia.

Kemampuan Jiwo dalam mengkritisi segala persoalan sosial dan politik yang sedang terjadi dengan bungkus humor yang sarkartis namun cerdas, tak bisa disepelekan begitu saja. Di tulisan dan cerita wayangnya, segala masalah bangsa ini ditelanjangi habis-habisan, disuguhkan dalam bentuk humor cerdas yang menggelitik rasa ingin tahu siapa saja. Tak hanya itu, sindiran-sindirannya juga mampu membuka mata dan pikiran masyarakat tentang apa yang terjadi di negeri ini. Dan tentu saja semua itu dilakukannya tanpa ada rasa bersalah atau takut ke berbagai pihak yang “tertusuk” kritiknya.

Buku setebal 218 halaman ini merupakan kumpulan tulisan Sujiwo Tejo bertajuk “Wayang Durangpo” yang terbit setiap hari Minggu di harian Jawa Pos. “Durangpo” adalah akronim dari “Nglindur Bareng Ponokawan”. Nglindur (bahasa Jawa) artinya mengigau. Sedangkan Ponokawan adalah para abdi raja dalam cerita pewayangan, yang terdiri dari: Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Mbilung, Cangik dan Limbuk. Dalam pengantar buku ini, Sujiwo Tejo menyebutkan bahwa saat mengingau, apa saja menjadi tak mustahil terkatakan. Karena, saat seseorang mengigau yang diomongkan memang sekena-kenanya, tak ada yang salah, tak berpedoman, juga tanpa aturan dan batasan. Melalui para Ponokawan inilah Sujiwo mencoba membedah berbagai persoalan dalam alur cerita wayang khas miliknya.

Dalam buku yang terbagi atas 6 tema besar (Cinta Tanah Air, Dasar Manusia, Lupa-Lupa Ingat, Fulus Oh Fulus, Kecanduan Berharap dan Negeri Mimpi) ini Jiwo memaparkan pikiran-pikiran ngawurnya yang ternyata menggunah nurani. Sebut saja ketika Jiwo membuat cerita tentang banyaknya pejabat bejat ketika menjabat dalam Lakone Hanoman Ambasador (hlm 42-48). Lewat tiga tokoh utama dalam pewayangan, yakni Hanoman, Limbuk, dan Cangik, Jiwo berhasil menampilkan alur cerita yang sepertinya nyeleneh tapi sangkil. Melalui cerita versi pewayangan itu, Jiwo dengan lepas dan tanpa takut menyampaikan sumpah serapahnya terhadap pejabat korup yang memandang sebuah jabatan sebagai kondisi yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, bukan sebagai bentuk pengabdian kepada rakyatnya.

Cerita ini ternyata tak hanya memberikan kritikan yang dibumbui humor satir, namun juga bisa dijumpai berbagai mutiara kearifan yang bersumber dari nilai filosofi kehidupan. Contohnya dalam deskripsi tokoh Hanoman. Meskipun Hanoman itu berwujud monyet, namun hatinya tak ubahnya dengan hati manusia. Jadi, “kemanusiaan” seseorang tak tergantung bagaimana wujudnya, namun tergantung esensinya. Sesuatu yang tak berwujud manusia bisa saja disebut manusia karena punya esensi “kemanusiaan” seperti Hanoman itu.

Bukan hanya filosofi kehidupan, tulisan-tulisan Jiwo di buku ini juga menyiratkan tentang nilai-nilai agama. Contohnya pada lakon Lupa Endonesia (2-7), dalam dialog antara Dewi Sariwati dengan Gareng (suaminya), sang Dewi bertutur, “Ibadah sembahyang itu tidak untuk dipamer-pamerkan, yang penting niatnya”. Kemudian Gareng mengatakan bahwa, “Intinya, bagaimana sembahyang itu bisa mendorong seluruh hatimu untuk menolong orang lain. Itulah inti pergi ke masjid, gereja, vihara, kuil, dan sebagainya. Kalau sebagian besar warga sembahyangnya bener, artinya bergairah bantu-membantu, jutaan penganggur itu akan dapat ojir untuk membuka lapangan kerja sendiri”. Disini Jiwo mencoba menanamkan bahwa jika masyarakat sembahyangnya benar maka perilakunya juga ikut benar. Begitu juga sebaliknya.

Terlepas dari kekurangan yang ada, seperti pemberian judul setiap cerita dalam bukunya yang terkesan dipaksakan, Jiwo telah berhasil menanamkan pemikiran-pemikirannya tentang persoalan yang dialami bangsa ini dan bagaimana cara kita menyingkapinya. Bukan dengan apatis dan melupakan segala permasalahan bangsa, tetapi setidaknya berani mempertanyakan berbagai peristiwa tak pantas yang anehnya dianggap wajar oleh banyak orang.

@is_nna
Profile Image for Hilma Azhari.
33 reviews1 follower
April 10, 2022
Bukunya bagus, mungkin karena aku kurang mengerti politik sehingga menjadikan buku ini terasa agak susah dipahami.
Unik bukunya dan penyampaian pesannya.
Profile Image for Farhane.
29 reviews19 followers
March 8, 2017
(3,5/5)

dibaca tiga tahun lalu, baru diberi rating sekarang.
dasar pelupa.
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
December 15, 2014
Membaca buku Sujiwo Tejo ini membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Cerita-cerita yang singkat namun penuh dengan pesan tersirat, namun tanpa menghujat. Orang-orang yang membacanya pasti justru akan mesam-mesem membaca nama-nama yang "digojloki" alias disindir oleh si Dalang Wayang ini. Menggemaskan.

Kisah-kisah dalam buku ini diceritakan aktual (masa kini) namun dengan gaya pewayangan yang dikenal nusantara. Tak pelak, membuat saya banyak belajar tentang tokoh-tokoh pewayangan itu beserta asal-usulnya. Ada Bima, Arjuna, Karna, Pandawa, Kurawa,Kresna, dan khususnya para Punakawan seperti Gareng, Petruk, Bagong, dan Semar.

Ketimbang menonton film-film pewayangan India yang sekarang lagi marak di tivi, mending baca buku-bukunya.

Meskipun mengumbar dagelan politik secara ringan, namun buku ini nampaknya agak sukar dinikmati para pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa. Hampir sebagian besar isi dialognya berbahasa Jawa. Hanya sebagian yang dijelaskan artinya. Akan tetapi,bagi saya yang kebetulan bergaris-darah Jawa, masih bisa mengerti bahasa-bahsanya. Yah, meskipun tidak sapai pada bahasa Kromo alusnya.

Lagipula, semenjak kecil saya sedikit-banyak dicekoki bapak dengan cerita-cerita pewayangan. Dulu semasa kecil, saya juga mengoleksi komik oplosan Petruk dan Gareng.

Pokoknya, buku ini berisi sindiran kejadian-kejadian di dunia nyata, khususnya di nusantara. Segar. Saya pun jadi penasaran ingin membaca "Lupa Endonesa" yang lainnya, kalau ada. (*)

-----------------
"Semua yang terjadi di alam ini ada pertandanya. Kalau kamu bisa mengerti bahasa tanpa kata-kata, bahasa pertanda, bahasa sanepo, kamu baru akan memahami dunia..." --hal.26

"Mungkin aku akan salah, tapi bagaimana aku akan menemukan kebenaran kalau takut salah." --hal.27

"Demonstran saat ini sudah nyaris jadi profesi seperti modin alias penghulu, tukang sunat, dan juru dakwah." --hal.63

Limbuk berseru, "Wah, aduuuh, enak lho, Mas Juno Facebook itu, bisa membuat kita dekaaat dengan banyak orang..."
Arjuna kesal sambil meninggalkan Limbuk. "Betul... mendekatkan yang jauh. Tapi facebook menjauhkan yang jelas-jelas sudah dekat..." --hal.72-73

"Surga dan neraka itu sudah mak jlek ada di mayapada saat ini juga. Pada saat kamu berbuat kebaikan, pada saat itu juga kamu bahagia. Itulah surga."
...
"Sebaliknya, pada saat kamu berbuat jahat, hatimu akan kacau-balau. Berkecamuk. Panas. Kamu tersiksa. Nah, itulah neraka." --hal.131

"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." --hal.138

"Tapi, apalah enaknya diberi tahu tentang apa pun kalau disampaikan dengan wajah yang merengut?" --hal.149

"Harapan itu penting. Kita sanggup tahan seminggu tanpa makan minum, tapi tak sanggup kita hidup meski cuma sedetik tanpa harapan." --hal.167

"Cinta tak kenal pengorbanan. Ketika kamu mulai merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai meredup." --hal.171

Ingatlah pesan Semar, "Tahukah kalian pekerjaan yang paling sia-sia di muka bumi, yaitu memberi nasihat kepada orang-orang yang sedang jatuh cinta..." --hal.179

"Di alam mayapada ini salon terbaik adalah cinta. Orang yang sedang jatuh cinta akan tampak cantik, apalagi jika dilihat oleh orang yang diam-diam mencintainya." --hal.183
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
May 11, 2015
"Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita..." - Hal.138

Personally, ini adalah buku Sujiwo Tejo pertama yang saya tamatkan. Saya beli sepaket dengan dua buku lainnya yaitu dwicarita Rahvayana. Saya kira buku ini merupakan kumpulan artikel atau cerita soal lunturnya rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia dari Sang Dalang Edan yang rupanya pernah mengenyam hidup sebagai wartawan. Namun, saya menemukan satu bentuk pengalaman yang baru dalam mentafakuri kehidupan sejarah bangsa melalui buku ini.

Lupa Endonesa menggugat kehidupan bangsa ini pada satu periode sejarah yang dilambangkan dengan sosok seorang Presiden dari tanah Pacitan. Segenap persoalan negeri kala itu digamblangkan sedemikian rupa. Sujiwo dengan gagah menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, dan tidak memalukan tentang persoalan kehidupan bangsa Indonesia. Semua ceritanya, menyiratkan bahwa kita ini memang lupa berbangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Sujiwo menggunakan banyak perumpamaan dalam menyampaikan kritiknya atas satu keadaan tertentu. Kemunculan tokoh-tokoh punakawan dan main cast Mahabharata-Ramayana adalah satu unsur penyeimbang cerita. Betapa kenyataan masih bisa bermain dengan fiksi. Lepas dari pakem pewayangan pada umumnya. Penulisnya juga tidak lupa melibatkan para tokoh pewayangan itu dengan unsur modernitas yang kekinian.

Sepintas, cerita-cerita dalam buku ini terlihat sebagai cerita pendek karena selain habis dibaca sekali duduk mereka juga mempunyai unsur fiksi yang kental. Andai pun tidak dianggap sebagai cerpen, tidak salah juga bila kisah-kisah tuturan Sujiwo ini masuk kategori memoar. Memoar bergerak, dari satu kisah ke kisah lain dalam titimangsa yang sama.

Ada dua cerita yang jadi favorit saya disini. “Lakone Hanuman Ambassador” sebagai tandingan dari lakon “Hanuman Duta” dan “Jajak Pendapat para Dewa”. Sujiwo menjadikan seluruh tulisannya sebagai kritik sosial atas segenap peristiwa dengan mengawinkan unsur hiburan dan politik. Tulisannya ini bisa jadi hiburan bagi rakyat yang memang sudah kekurangan bahan tertawaan sekaligus kritik bagi pemimpin bangsa ini kelak di masa mendatang, agar sejarah tidak kembali terulang.
Profile Image for 3clair.
19 reviews4 followers
November 9, 2012
Rasa ingin tahu saya mengenai dunia perwayangan mulai tumbuh sejak membaca "Bilangan Fu" karya Ayu Utami yang membuka mata saya bahwa pada dasarnya kebudayaan hasil nenek moyang Indonesia ini mempunyai makna yang sangat dalam. Sayangnya saya belum sempat untuk memperdalam pemahaman dan pengetahuan saya tentang dunia perwayangan ini. Saat membeli buku "Lupa Endonesa", saya sama sekali tidak tahu bila isi buku ini akan erat kaitannya dengan dunia perwayangan. Dahlan Iskan pun mengungkapkan, pada bagian pengantar, bahwa buku ini adalah kumpulan pedalangan mingguan Sujiwo Tejo di Jawa Pos. Dan sang dalang pun menyebut wayangnya adalah wayang Durangpo (nglinDUR bAreNG POnokawan) dan "... karena nglindur, mengigau, apa saja menjadi tak mustahil dikata-katakan." Siapa yang menyangka kalau pedalangan pun bisa dituliskan?

Pedalangan wayang Durangpo ini sangat sarat dengan kritik dan pesan yang mendalam. Dan sekiranya punya pengetahuan yang cukup mengenai dunia perwayangan, saya kira saya akan mendapatkan lebih banyak saat membaca buku ini. Sesuai kepanjangan dari namanya yaitu ngelindur, cerita demi cerita dalam buku ini bisa dimulai dari mana saja dengan tokoh-tokoh yang beragam pula tapi pada akhirnya Sujiwo Tejo dengan cerdas akan mengakhirinya dengan pesan yang menyentil dan mengena.

Tulisan Sujiwo Tejo ini sarat dengan penggunaan bahasa Jawa yang diberikan catatan kaki untuk arti dari setiap istilah yang digunakan. Sayangnya tidak semua istilah diberikan catatan kaki. Mungkin penyunting buku ini menganggap istilah-istilah tersebut sudah cukup dikenal masyarakat tapi saya menemukan beberapa istilah yang tidak saya mengerti (walaupun tidak mengurangi keasyikan saya membaca buku ini). Dan buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang penasaran dengan sentilan dan pesan dari dunia pewayangan Durangpo dari sang dalang j*nc*k, dan secara umum untuk siapa saja yang masih peduli dengan bangsa Indonesia walaupun sempat lupa Endonesa.
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
March 5, 2014
Sudah menjadi khasnya Sujiwo Tedjo, "nyeleneh" dan diiringi ketersinggungan dengan dunia politik. Unik karena tokoh di simbolkan dengan tokoh pewayangan. Mungkin akan seru jika ditonton secara langsung saat dia menjadi dalang.

Kisah yang menjadi inspirasi saya adalah Wayang Tak Pernah Cuti di Hatiku.
"Ketuhanan Yang Maha Esa berarti seluruh warga terutama para pemimpinnya, lebih-lebih pemimpin puncaknya, yakni kepala negara, harus suwung. Suwung itu zero, tapi bukan empty. Pemimpin hanya melekat pada Tuhan. Dia tidak melekat pada yang lain, termasuk pada harta benda yang dimilikinya. Pemimpin boleh kaya dan berkuasa (berisi), tapi tidak boleh mempunyai kemelekatan pada harta benda dan kekuasaan tersebut (kosong)."

"Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berarti manakala kemaslahatan bersama dunia membutuhkan harta benda dan kekuasaannya, pemimpin terutama pemimpin tertinggi yang telah suwung harus merelakannya. Ini bagaikan Prabu Yudhistira yang bahkan merelakan darah dagingnya sendiri diiris. Bagaikan Nabi Ibrahim yang bahkan merelakan anaknya sendiri buat disembelih."

"Persatuan Indonesia berarti menjaga agar Indonesia tetap utuh, agar keanekaragaman di dunia tetap terpelihara. Tidak bisa seluruh dunia kita jadikan satu negara dan satu bangsa. Ini akan menyalahi kodrat lima unsur sumber daya alam, yaitu materi, waktu, energi, ruang, dan keanekaragaman."

"Selanjutnya hanya orang-orang yang terbukti mampu menjaga keanekaragaman dunia melalui persatuan Indonesia dalam ranah kemanusiaan atas dasar ketuhanan, itulah yang berhak memimpin musyawarah mufakat. Itulah seyogianya nuansa dari sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan."

"Tak boleh ada musyawarah apa pun yang agendanya bukan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seluruh rapat, kumpul-kumpul, yang agendanya bukan untuk itu, dinyatakan ilegal ..."


Profile Image for Roswitha Muntiyarso.
118 reviews7 followers
September 17, 2014
Dalang Edan sekali lagi memukau hati sang pemujanya ini. Lupa Endonesa merupakan salah satu cerita pewayangan yang dipadupadankan dengan unsur modernitas dan juga unsur-unsur yang sedang "in" masa kini. Sang dalang edan dengan beraninya mematut-matutkan tokoh-tokoh dalam pewayangan jawa yang juga akan "keder" jika ditaruh di zaman serba modern lagi serba laknat ini.

Kisah paling saya sukai adalah "Dicari, Menteri Pemberdayaan Laki-laki". Pada bagian ini diceritakan bahwa sesungguhnya lelaki pun mendapatkan beban moril yang besar karena beliau laki-laki. Jadi beban gender tidak hanya dirasa oleh perempuan namun juga laki-laki. Ditekankannya pemberdayaan wanita membuat beban laki-laki lebih berat lagi dan seringkali jadi korban penindasan kaum wanita atau kaum istri.

Kisah yang saya senangi lagi tentu saja adalah "Lakone Hanoman Ambassador". Bagian ini menekankan bahwa kemanusiaan itu adalah sesuatu yang dapat diraih dan bukan terlahir otomatis. Bahwa Hanuman yang seekor kera jauh lebih manusia ketimbang manusia yang bertahta sebagai wakil rakyat. Wakil rakyat yang berwujud manusia ini seringkali tidak memiliki jiwa kemanusiaan dan memerintah memikirkan dirinya sendiri saja.

Kritik sosial yang dituliskan oleh Dalang Edan ini benar-benar mengena lagi penuh humor. Berfungsi seperti pisau bermata dua: hiburan bagi rakyat yang sudah kekurangan bahan tertawaan kecuali menertawakan diri sendiri dan kritik sosial bagi pemimpin-pemimpin masa mendatang.

Saya menunggu untuk dapat membaca karya-karya Dalang Edan berikutnya.
7 reviews
February 1, 2015
Salah satu buku yang cukup menyentil pemerintahan saat itu. Penggambaran tokoh politik nasional dianalogikan dengan tokoh-tokoh wayang. Sayangnya, penulis seringkali menggunakan bahasa Jawa dalam penulisannya dan sangat jarang ditemui arti dari kata-kata yang digunakan. Selain itu, pengunaan tokoh wayang mungkin akan sedikit menyulitkan bagi sebagian orang yang asing bagi wayang. Walaupun begitu, sebagai orang yang sedikit mengerti mengenai bahasa Jawa dan nihil pengetahuan mengenai wayang sayang berhasil bertahan dan memahami maksud penulis.
Buku ini saya baca pada tahun 2015. Mungkin kasus yang disentil dalam buku ini telah dikatakan basi. Namun, arti dalam buku ini masih sesuai dengan pekembangan tahun :p.
Profile Image for Rina Purwaningsih.
82 reviews1 follower
October 8, 2012
Kalimat demi kalimat mengisahkan kekisruhan negeri Endonesa yang dibahasakan dalam pewayangan. Perumpamaan yang penuh makna. Beberapa hal menarik diantaranya seperti :
- Kemanusiaan tidak bergantung pada wujud. Tetapi pada esensi. Kalau kera lebih punya sifat manusiawi, maka bagaimana dengan manusia itu sendiri?
- Kalau para pejabat kita lebih lucu drpd ponokawan, asmuni, dan warkop DKI, masa depan nasib pelawak bisa tyerancam
- Dan masih banyak lagi....

Bisa mengerti silsilah wayang...pelan-pelan
Profile Image for Muhammad Rasyid Ridho.
273 reviews4 followers
April 8, 2013
Punakawan yang dalam sejarah Indonesia hanya ada dulu, ya di zaman dulu. Namun, di tangan Sujiwo Tejo punakawan terlahir kembali di zaman sekarang, di saat Indonesia sudah mengalami reformasi. Punakawan dengan gayanya yang unik, lucu, menggemaskan, kadang pula bikin mangkel setengah mati dengan hiburannya yang membuat kita tak lupa akan Indonesia. Ya, Indonesia dengan segala yang di dalamnya. Korupsi, permainan hukum, ketidakadilan. Benar-benar menghibur. Pemesanan bisa melalui fesbuk Bentang Pustaka.
Profile Image for Sayekti Ardiyani.
128 reviews3 followers
August 24, 2015
Imajinatif, membawa pikiran ke berbagai alam wayang yang beragam bercampur aduk antara Mahabarata, Ramayana, kitab India dan Jawa juga alam Indonesia kini. Lucu dan penuh kritik terhadap kondisi Indonesia saat ini. Namun kadang saya tidak mengerti sebab masalah yang dikupas tidak fokus sementara pengetahuan wayang saya nol. Buku ini membuka wawasan tentang masalah-masalah negeri, utamanya politik.
Profile Image for Yogi.
20 reviews1 follower
February 17, 2016
Buku yang kocak nan cerdas. Cerita wayang yang gak kuno aka kekinian. Imajinasi tingkat tinggi. Punokawan ternyata bisa bertemu dengan orang-orang yang menurut cerita "kuno" tak sezaman dengannya. Edan banget imajinasi Sujiwo Tejo.
Bacaan ini cocok bagi orang yang sudah hampir stress. InsyaAllah bisa sembuh dengan baca buku ini. Sesuai dengan rumus matematika, minus kali minus hasilnya plus. Edan kali edan hasilnya waras. hehehe
Profile Image for Tribun.
1 review
January 10, 2013
Tak malu korupsi? Tak malu berperilaku buruk? Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren? Sujiwo Tejo menyuarakan pandangannya mengenai bangsa Indonesia secara lugas dan penuh sindiran. Dengan menjuduli Lupa Endonesa, Sujiwo Tejo, si penulis, sepertinya sengaja memancing orang agar penasaran lalu tertarik membaca buku ini.
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
September 26, 2013
penggunaan kisah2 pewayangan digunakan Sujiwo Tejo untuk menanggapi fenomena2 sosial atau berita terhangat saat ini. Cara berceritanya yang buat saya sedikit 'mencla-mencle'/santai, pada awalnya menyulitkan saya untuk mengikuti alur-cerita, namun lama kelamaan hanyut juga saya dalam tulisannya.

buku bagus.
Profile Image for Hesti Rohmanasari.
12 reviews4 followers
Read
July 24, 2014
ini buku pertama yg unik yg pernah saya baca :D bikin ngakak terus di setiap lembarnya hahaha kental banget dah budaya jawanya. makin bangga jadi bagian dari orang jawa dan satu hal, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang perwayangan. siap2 baca yg Rahvayana aku lala padamu (tapi mau minjem temen dulu hehe)
Profile Image for Nurul Inayah.
118 reviews12 followers
September 17, 2014
Lupa Endonesa ini diambil dari kumpulan tulisan Sujiwo Tejo di koran. nah...asikan pasti kalau baca di korannya, karena lebih pas momennya..apa sih yang lagi hangat. kalau bacanya sekarang, hemm...rada ga nyambung.
ini bukan buku yang bisa dibaca cepet. baca separagraf saja perlu konsentrasi tinggi biar ngerti. ah..apalah aku ini, IQ kelas melati. hahahha.
Profile Image for Aldila.
48 reviews
January 10, 2015
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Mungkin pribahasa itu cocok disematkan pada buku ini. sekali membaca, kita dipaksa berkenalan dengan tokoh-tokoh wayang dan dialektikanya (bagi yang tidak kenal wayang), sekaligus mengkritik kejanggalan-kejanggalan dalam dunia politik, sosial, dan budaya di Nusantara.

Mbois Cuk! :D
Profile Image for Erin Saiof.
15 reviews
Read
August 1, 2022
Ada beberapa bagian di buku ini yang bagi saya susah diikutin karena saya bukan pengamat politik, apalagi era SBY. Tapi secara keseluruhan sangat entertaining dan sindiran-sindirannya banyak yang makjleb dan masih relevan, gak cuman untuk politikus dan PNS, tapi juga rakyat biasa, contohnya "Di negara Pancasila ini sebaiknya hidup saling menolong atau saling tersenyum?"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Adriyan Achda.
93 reviews7 followers
February 15, 2014
kumpulan tulisan beliau di jawa pos. dengan karakter2 perwayangan dan ceritanya dimirip2in dgn isu politik dan sosial yg lg hot. lucu dan menohok. bukuny uda agak lama jd harus sambil ingat2 lagi kejadian medio 2009-2012.
Profile Image for Yuna Gena.
16 reviews9 followers
May 17, 2014
Saya benar-benar kehilangan arah saat membaca buku ini, tidak mengerti pewayangan. Seharusnya biar bisa baca buku ini, baca dulu tokoh-tokoh di pewayangan, mengerti, megikuti geliat politik dan perkembangan Indonesia, baru bisa membaca buku ini. Ini sepertinya bukan buku populer.
6 reviews
August 8, 2014
Disini kamu akan dibawa ke dunia pewayangan yang telah diputar putar oleh sujiwo tedjo, tapi dibalik itu semua silahkan kaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Mungkin akan ada sedikit pencerahan disitu
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.