Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seven Request

Rate this book
Erin hidup dalam keluarga yang amat memuakkan. Ia selalu membenci ayahnya yang telah membuat keluarganya menjadi berantakan. Di saat suasana hatinya sedang kacau, pelarian Erin adalah keluarga orang lain. Salah satunya keluarga Luthfan, sahabatnya sejak kecil.
Suatu hari, Luthfan menemui Erin yang kabur dari rumah dan memberikan sahabatnya itu tujuh permintaan. Pada awalnya semua berjalan lancar. Permintaan-permintaan dari Erin bisa ia kabulkan. Namun di permintaan ketujuh, ternyata tidak semudah permintaan-permintaan sebelumnya. Terlebih karena sebelumnya Erin dan Luthfan seringkali berselisih. Dan tepat setelah itu, nyawanya terenggut karena kecelakaan.
Erin tidak pernah merelakan kematian sahabatnya yang begitu cepat, masih banyak hal yang janggal di pikirannya. Hingga suatu saat, ia menemukan sebuah peninggalan dari Luthfan yang disembunyikan di dalam rak bukunya, serta surat yang seharusnya ia baca sebelum Luthfan meninggal.
Semuanya serba terlambat bagi Erin untuk mengetahui kenyataan pahit di balik semua hubungan persahabatan mereka selama belasan tahun itu. Keinginan untuk menyusul Luthfan ke alam sana sempat terpikir olehnya, walau akhirnya Erin lebih memilih mempertahankan apa yang masih ia miliki di dunia ini.

184 pages, Paperback

First published January 1, 2012

7 people are currently reading
137 people want to read

About the author

Amira Budi Mutiara

1 book5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (44%)
4 stars
18 (17%)
3 stars
21 (20%)
2 stars
11 (10%)
1 star
7 (6%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Irmaningsih.
11 reviews
June 8, 2020
"Biarin aja memori-memori yang ngga enak itu lepas dengan sendirinya. Ngga usah sengaja dilupain, yang ada malah entar keingetan terus."
- Metha, Seven Request

Buku ini saya pinjam dari Nina sekitar 3 tahun yang lalu tapi baru dibaca bulan februari kemarin (dan udah dibalikin, hehe. Maaf yaa, Nin!), waktu itu Nina yang merekomendasikan karena katanya bagus sekali.

Tokoh utama di buku ini namanya Erin. Anak SMA yang punya sahabat cowo bernama Luthfan.
Erin dan Luthfan adalah tetangga sedari kecil dan baru berteman sejak suatu tragedi terjadi.
Mereka deket banget. Erin cerita semua hal ke Luthfan, terutama tentang keluarganya, yang saat itu sangat kacau. Karena itulah, untuk menghibur Erin, Luthfan memberikan Erin 7 permintaan.
Lama bersahabat, ternyata keduanya sama-sama punya perasaan. Tapi karena salah paham, perasaan itu nggak pernah sampai pada masing-masing mereka.
Erin dan Luthfan akhirnya harus berpisah karena permintaan Erin yang ke-7. Apakah permintaan itu? Baca aja yaaa, bagian itu adalah bagian-bagian tersedih, hehe.

Well, overall, ceritanya menghibur!

Saya dulu suka banget teenlit, sampe sekarang juga masih suka. Tapi bagi saya yang sudah melewati masa-masa teens itu, udah ga begitu relate dengan latar waktunya (SMA).
Mungkin kalo saya baca novel itu saat SMP atau awal SMA saya bakalan baper sih, hehehe.
Ceritanya mengalir, enak dibaca, tapi bagi saya yang suka plot twist, agak kecewa karena rasanya hampir nggak ada plot twist.
Ending cerita mudah ditebak dan sesuai ekspektasi, padahal ada harapan terjadi hal out of the blue. But that's ok. Saya suka novel ini sebagai bacaan ringan untuk mengingat-ingat masa remaja dulu haha (udah kayak tua banget aja).

That's it. 3.9 bintang yang saya bulatkan menjadi 4 di goodreads :)
Profile Image for Devi Liandani.
32 reviews
March 3, 2014
Seven Requests? Seven Requests... Seven Requests... hmmmm. Ah! Well, saya baru menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu. Mungkin Jum'at—entahlah! Yang pasti saya masih mengingat dengan jelas kesan pertama begitu tuntas 'melahap' novel teenlit berjumlah 174 halaman ini : bingung. Ya, bingung. Bukan bingung karena saya tidak paham alur cerita. Bukan. Namun saya sungguh-sungguh bingung mengapa orang yang meminjamkan novel ini kepada saya (baca : Melani) keukeuh mempromosikan bahwa novel ini luar biasa seru. Tolong garis bawahi LUAR BIASA SERU!!!

“Melan sampe baca novel ini tujuh kali saking ramenya,” ujar Melan menggebu-gebu. Padahal—ah, sudahlah selera orang berbeda-beda. Saya boleh bilang ‘tidak suka’ tapi masih banyak orang lain di luar sana yang berkata ‘suka’ atau malah sangat suka.

Sejujurnya novel ini tidak seburuk yang saya katakan di muka. Saya berkomentar demikian sadisnya sebab di awal sudah diiming-imingi pujian ‘luar biasa seru’ tadi. Akibatnya ekspektasi saya terhadap novel tersebut amat-sangat tinggi namun berangsur kecewa setiap membuka halaman demi halaman novel. Saya kecewa. Jalan cerita yang disajikan tidak sesuai harapan saya.

Teknik bercerita yang digunakan penulis cenderung ‘tell’ dibanding ‘show’. Dan karena belakangan ini saya kembali hobi melahap nonfiksi terjemahan, penggunaan bahasa ‘tidak baku’ aka ‘bahasa gaul’ dalam narasi yang digunakan Amira Budi Mutiara ini sedikit banyak mengusik kenyamanan membaca saya. Penilaian yang sangat subjektif memang. Tapi inilah kesan yang saya dapatkan selama membaca Seven Requests.

Terdapat beberapa ‘ketidakkonsistenan’ yang saya tangkap dalam novel ini :

1. Coba tengok halaman 73 paragraf 4 dan 5, kemudian halaman 83 paragraf 5. Baca dan pahami kelabilan yang saya maksud. Nah, itu! Di halaman 73 dikatakan si cewek (baca: Hena) satu SMP dengan Erin, sekelas malah. Tapi coba baca di halaman di halaman 83 Mbak Amira Budi Mutiara justru menulis : ‘Bahkan, saat di SMP mereka tidak satu sekolah pun, Hena masih sering menghubungi Erin.’ Bingung? Iya, saya juga.

2. Ini kenapa di halaman 84, saat penulis beralih ke sudut pandang Erin sebagai pelaku utama, kata ganti ‘aku’ mendadak jadi ‘gue’? Walaupun suasana hati Erin saat itu sedang tidak karuan, mestinya penulis tidak semena-mena mengganti kata ganti ‘aku’ menjadi ‘gue.

3. Halaman 100. Perhatikan dialog antara Servio dan Erin. Di sana tertulis : “Keadaan lo menyedihkan lo. Pulang sana.”

Tampaknya di sana ada dua kali pengucapan ‘lo’ yang menjadikan kalimat kurang efektif. Namun begitu kalian membaca paragraf ke-12 halaman 101, kalian akan sadar bahwa penulis telah salah ketik atau istilah kerennya typo. Itu tadi bukan lo (kamu) dan lo (kamu), melainkan lo (kamu) dan Io (panggilan Servio). Dia lupa menggunakan haruf ‘I’ kapital.

4. Paragraf 3 halaman 165 : Erin tersentak. Galasin sampai lepas dari genggaman tangannya.
Itu Erin lagi main layangan kan, ya? Mungkin maksudnya gelasan gitu ya, bukan galasin. Da setau say amah galasin teh nama permainan, bukan nama benda.

Di samping ketidakpuasan yang saya ungkapkan di atas, novel ini cukup menghibur. Walau kadang bahasa tidak baku dan lebih banyak tell dibanding show (hal yang membuat pembaca kurang berimajinasi dan tidak dibiarkan berpikir sebab segala sesuatu dijelaskan secara gamblang. Dan tentu membuat bete)—narasinya sangat mengalir. Jauh lah dengan narasi saya yang sangat ‘amburadul’. Amira berhasil menerbitkan bukunya saat duduk di kelas X? Hebat. Dia muda dan berbakat. Oke, ini adalah novel perdana penulis (CMIIW). Barangkali ke depannya penulis lebih memperhatikan unsur ‘kelogisan’ serta ‘kekonsistenan’. Keep nulis, eah! *minjem istilah Bang Ichi*

Nb : Oh ya, pas baca halaman 27, saya kira Luthfan bakal meninggal gara-gara suatu penyakit mematikan gitu deh… Soalnya kan di situ disinggung-singgung Luthfan lagi di RS dan dia ngejawab pertanyaan Erin dengan nada aneh gimanaaa gitu. Eh taunya malah meninggal gegara kecelakaan. Jadi yah… istilahnya keberadaan Luthfan di RS itu bukan apa-apa. Kalau bagian ini dihilangin pun gak ngaruh ke jalan cerita.

Oke deh saya udah cape ngetik. Mohon maaf apabila buanyak kesalahan. Babay!!!
Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
June 21, 2013

Buku yang saya ambil secara random di tempat persewaan buku. Sengaja milih teenlit dari penerbit yang bersangkutan, sebab saya punya rencana mengikuti beberapa lomba yang mau penerbit tersebut adakan. Selain itu, pilihan jatuh pada novel ini karena sampulnya menarik, meskipun sinopsis di belakang bukunya nggak nyambung sama isi.


Pada dasarnya saya memang nggak terlalu suka teenlit, sih. Bukan tipe bacaan yang tepat untuk umur yang udah segini. ><;; Tapi ternyata, meskipun novel Seven Requests ini termasuk teenlit, ceritanya nggak tentang cinta remaja yang lenje dan menye-menye. Malah menurut saya cukup bagus, penuh pesan moral.

Tema besarnya termasuk sangat umum: cowok-cewek (Luthfan dan Erin) yang bersahabat sejak kecil, tapi kemudian perasaan mereka berkembang menjadi lebih. Entah semesta nggak mendukung atau bagaimana lah ya, mereka selalu salah paham sehingga perasaan masing-masing tidak sempat tersampaikan.

Gaya penulisan di novel ini lebih banyak bertutur--telling, not showing. Beberapa tahun belakangan ini, gaya show not tell sangat diagung-agungkan di Indonesia, tapi saya pribadi nggak pernah bermasalah dengan gaya tell. Menurut saya gaya itu nggak ketinggalan zaman, kok. Memang, penggunaan gaya itu di novel ini membuat adegan-adegannya jadi ringkas dan banyak banget yang terkesan di-skip, tapi bagi saya hal itu nggak perlu dipermasalahkan karena cukup pas dengan keremajaan yang diusung. Ceritanya tetap bisa dinikmati.

Saya cukup salut dengan penokohan Erin yang ditulis Amira Budi Mutiara. Dapet banget dark-nya! Labil, cengeng, emosional, punya sisi gelap yang cukup parah. Yang bikin saya salut lagi, meskipun karakter Erin-nya seperti itu, nuansa novelnya sendiri nggak gelap sehingga saya tetap bisa membacanya dengan santai tanpa merasa berat.

Untuk karakter Luthfan-nya sendiri .... Well, lumayan lah. Meskipun dikatakan secara gamblang bahwa Luthfan itu "malaikat" (sesuatu yang bikin saya nggak respek duluan sama dia), kenyataannya Luthfan nggak se-malaikat itu, jadi saya cukup bisa nerima karakternya.

Alur novelnya ketebak, tentu saja. Saya nggak akan banyak komentar soal alur .... Mungkin sedikit aja soal latar: di bagian menjelang akhir, ketika latarnya tahun 2025. Rasanya itu nggak kayak tahun 2025, deh. ^^a Terkesan kurang modern. Itu seperti tahun 2012-2013 aja di mata saya.

Oya, satu hal lagi yang cukup saya suka dari novel ini adalah bagian surat Luthfan untuk Erin yang sengaja dipotong-potong. Bagus, jadi nggak terlihat klise dan membosankan (ayolah, terkadang males banget kan baca penjelasan akan suatu hal dari sebuah surat panjang lebar). Dengan pemenggalan adegan baca surat itu, adegannya bisa jauh lebih variatif dan nggak bikin bosan, walaupun efek sampingnya ya kadar kemelankolisan suratnya jadi sedikit berkurang.



Secara umum lumayan lah .... Bacaan yang ringan dan cepat untuk otak yang sedang nggak pengin mikir berat-berat.


Profile Image for Mezza Hafizhah Nirwanto.
17 reviews
December 6, 2012
Penulis : Amira Budi Mutiara
Penyunting : Hutami Suryaningtyas
Penerbit : Bentang Belia
ISBN : 978-602-9397-49-9
Cetak I : September 2012
Halaman : 184 Halaman (vi + 174 Halaman)


Febrina Adista atau biasa disapa Erin adalah gadis yang berasal dari keluarga kecil dengan ayah yang memilih untuk meninggalkan keluarganya demi menikah lagi dengan wanita lain. Dan setelah itu, ibunya harus mati-matian membesarkan dirinya dan Gelar, adiknya, dengan berdagang baju kecil-kecilan demi menyambung hidup. Sungguh sebuah situasi yang sulit untuk seorang remaja SMA seperti Erin. Untunglah ada Luthfan Febrio atau biasa dipanggil Luthfan.

Sebuah tragedi kecebur sungailah yang mempersatukan mereka berdua. Dulu, dulu sekali waktu mereka masih kecil, Luthfan pernah hampir tenggelam di sungai akibat dorongan dari teman bermainnya yang iseng. Erin yang tidak sengaja melewati sungai itu mau tidak mau harus mencari bantuan demi menyelamatkan nyawa Luthfan. Dan sejak saat itulah keduanya bersahabat.

Namun ketenangan dalam hidup Erin kembali terusik semenjak Ayahnya kembali kembali ke rumah dan mulai membuat onar. Erin sering kali mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Namun lagi-lagi karena Luthfanlah dia bertahan.

Waktu membaca kisah mereka, saya jadi teringat sebuah kalimat yang diucapkan Shahrukh Khan di film Kuch Kuch Hota Hai waktu dia ditanya apa makna cinta menurut pendapatnya. Dan dia menjawab bahwa "cinta adalah persahabatan". Dan kisah Erin dan Luthfan pun sama seperti kalimat itu. Kebersamaan yang mereka jalani selama bertahun-tahun membuat Luthfan dan Erin saling membentuk ikatan tak kasat mata dalam hati mereka masing-masing. Bahkan Luthfan sampai tahu kemana Erin akan kabur dari rumahnya ketika dia merasa jenuh dengan pertengkaran kedua orangtuanya.

Dan pada momen kabur itulah percakapan ini berlangsung:

"Kuberi kau tujuh permintaan, asalkan tidak melewati batas kemampuan."

"Serius, nih?"

Luthfan mengangguk, wajahnya tidak kelihatan sedang bermain-main.

"Kok tujuh? Biasanya jin mana aja juga cuma ngasih tiga."

"Kenapa, ya? Anggep aja gue jin murah hati, beda dari jin lainnya. Lagian, kan, tujuh tuh, angka kesukaan lo."

"Top, deh, kalau semua jin kayak lo," Erin nyengir. "Oke, langsung aja boleh, ya? Permintaan pertama gue, tolong bilangin ke Bunda dan Papa kalau gue nggak bakalan pulang untuk seeeelama-lama-lamanyaaa... Kecuali kalau keadaan rumah udah damai, aman, tenteram, sentosa, jaya, abadi, subur, dan makmur!"

Luthfan langsung memberengut. "Heeeh! Di luar batas, tuh!"

Erin ketawa. "Becanda!" (hlm. 22)


Baca review selengkapnya di sini
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
February 1, 2013
Saya kebanting oleh ekspetasi sendiri hahaha
Entah kenapa belakangan saya sering terlalu berharap sama penulis-penulis baru hahaha
*ketawa garing*

Ehem. Oke.

Kurang suka gaya menulisnya. Bahasanya yang tidak formal bikin kurang enak dibaca. Yah, buat saya sih, karena saya lebih senang baca buku yang bahasanya baku, yang bener-bener memperhatikan EYD, tata bahasa, pokoknya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dikiranya novel ini juga demikian, tapi ternyata... Agak kecewa, walaupun temanya menarik. Banyak bagian yang seharusnya gak diperlukan, intermezo doang, gak penting. Tanda baca juga banyak yang mubazir. Banyak orang yang baca novel ini sampe nangis-nangis karena salah satu tokohnya mati, tapi saya poker face doang, malah mengerut-ngerutkan kening, "mananya yang sedih?". Barangkali kalo saya baca lagi, dengan penghayatan yang lebih, saya baru bisa nangis-nangis :P

Diceritaken si Erin tuh berjiwa seni, tapi jiwa seni itu cuma label doang, gak terlalu ditekankan. Kamarnya banyak benda seni, tapi ya cuma gitu aja. Suka ngelukis... tapi ya gitu aja, gitu aja! Banyak informasi lain yang awalnya saya pikir bakal jadi 'pegangan' selama baca, tapi ternyata yaaah... cuma informasi numpang lewat doang kayak iklan. Dan entah kenapa saya ngerasa, novel ini ada unsur 'autobiografi terselubung'-nya. If you know what I mean, Mbak Amira Budi Mutiara :3

Cukup 3 bintang. Semoga di novel selanjutnya bisa lebih.

Novel ini: bacaan ringan saja.
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
June 25, 2013
Ini novel dapat dari #TwitTalkPenulisBentang sekitar bulan November. Udah dibaca pas liburan akhir tahun 2012 juga sih. Hanya baru sempat nge-review sekarang.

Cover. Kavernya bagus. Ada tujuh burung-burung kertas yang bergantungan. Menggambarkan adanya 7 permintaan dari si cewek yang harus dipenuhi oleh si cowok karena cowoknya yang minta.

Ceritanya bagus dan bisa ketebak. Yaiyalah! Prolognya aja udah spoiler endingnya. Jelas banget malah. Gaya berceritanya enak walau agak bertele-tele.
Nah, bagian yang pas penceriteraan di masa depan itulah yang bikin gak enak. :( . Kurang modern.

Loh, kenapa aku kasih 4 bintang? Soalnya pengarangnya sebaya denganku. Jadi, baguslah kalau sudah bisa bikin novel yang mampu membuat teman-teman yang kupinjami novel ini mengucurkan air matanya. :D Entah kenapa kok aku gak. :D
Profile Image for Rula.
58 reviews2 followers
February 8, 2016
Kisah persahabatan antara Erin dan Luthfan sejak kecil. Luthfan yang memberikan 7 permintaan untuk Erin, yang akan selalu dikabulkan oleh Luthfan. Permintaan ke-7 Erin yang (sebenarnya) tidak bisa dikabulkan Luthfan. Dan beberapa konflik yang ringan.

Ceritanya mengalir seperti air. Agak sedikit memahami posisi Erin dengan Papa yang seperti itu. Dan, lagi-lagi, tidak ada yang murni dalam sebuah persahabatan antara lelaki dan perempuan.

Btw, di halaman 165 "Galasin sampai lepas dari genggaman tangannya.
Di bab sebelumnya gada penjelasan tentang galasin. Yang ada malah layang-layang. Mungkin maksudnya gelasan kaliyaaa??
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
July 3, 2014
Ketemu ini. satu2nya buku fiksi yg blm saya baca, dan ada di rak buku kosan. Krn selebihnya, pada di rumah. heuheu.

sorry to say, it must be 1.5 stars actually. this thin book made me bore.

ceritanya terlalu pasaran, penokohan yg terlalu sering dipake: tentang cewek abg, suka sama luthfan -cowok dingin-, ada kenny -cowok anggota basket, dsb, bahasanya msh labil, logika cerita yg bikin mengernyit, dan selipan dialog bahasa Inggris yang menurut saya kalau dibuang juga nggak ngaruh apa-apa. tp entah, kenapa harus dipake juga. hmm...

intinya, not my cup of coffee. sorry...

-AF;)
Profile Image for Ainu Athifah.
195 reviews
June 21, 2013
hm.
temanya emang udah biasa, tapi tetep aja terakhirnya pake acara nangis. hiks.
ceritanya..hm yah seru aja ngebacanya hahaha. Pertamanya mikir "oh gini toh ceritanya" tapi terakhirnya, pas si tokoh ceweknya baca surat gitu-gitu, baru deh terharu.

baca novel ini itu greget sama kesalahpahamannya hahahaha. duh sayang banget, tapi ini bagus.
Profile Image for Sherelyn Melinda.
10 reviews9 followers
February 4, 2014
well, sebenernya ceritanya lumayan klise sih. tapi yang namanya aku, selama masih dibaca, dibaca aja sampe habis hehehehe.. lumayan lah buat hiburan dari pada bengong. terus aku suka cover sama pembatasnya lucu banget hehehe
4 reviews
June 18, 2013
Buku ini bagus banget. Cerita membawa kita ke alur kesedihan.. I like it
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hippópòtamus.
76 reviews1 follower
August 12, 2016
Cerita romance yang menurutku sudah biasa. Sahabat ➡ cinta ➡ salah paham ➡ bertengkar ➡ salah satu meninggal ➡ yang ditinggal menyesal.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.