Aku... nggak tahu kenapa akhirnya beli buku ini. Tanganku bergerak begitu saja. Mungkin karena keseringan liat iklan buku ini di halaman promosi Plot Point, mungkin karena kebetulan buku ini didiskon besar, mungkin... entahlah. Sudah terlambat bagiku untuk belajar komik lagi, sangat terlambat.
Tapi ternyata buku ini nggak ngomongin soal cara menggambar. Justru, hal mencengangkan yang ditawarkan buku ini pertama kali adalah, "Nggak bisa menggambar tapi pingin bikin komik? BISA!"
Eh?
Jadi buku ini lebih ngomongin soal metode storytelling dalam sebuah komik daripada tutorial cara bikin komik itu sendiri. Which makes me could relate myself somehow. Kurasa saat nulis pun aku bisa nyoba nerapin beberapa aspek di sini. Atau saat nge-doodle hehehe...
Buku ini mencontohkan banyak komik barat yang populer meski gambarnya nggak bagus-bagus amat. Dan kalau dipikir fenomena ini juga banyak merambah komik Indonesia, terutama yang online. Meskipun, aku yakin para komikus itu aslinya gambarnya dewa banget, tapi mereka lebih memilih bentuk-bentuk yang sederhana agar komiknya mudah diproduksi. Jadi lebih menekankan ke kekuatan story-telling.
Dengan banyak mengambil sumber dari "kitab suci" Scott McCloud's Understanding Comic, buku ini menjelaskan bagaimana konsep jukstaposisi dalam komik, konsep visualisasi gerakan, dan perpindahan antarpanel. Aku baru tahu kalau ternyata komik punya pakem hitungan panel tersendiri dalam satu halaman yang disebut "kisi". Komik Jepang jarang yang panelnya paten sih. Tapi buku ini bilang, sebelum bereksperimen macam-macam dengan panel, lebih baik kita menguasai panel-panel dasar. Hooo... Ada juga soal cara membuat skenario komik (dikit banget, sih), teknik permainan "kamera" dalam panel komik, gestur, mimik wajah, variasi bentuk caption dan efek suara, serta hal-hal teknis semacam itu yang dijabarkan dengan sederhana.
Pada halaman-halaman awal, daripada ngomongin soal teknis, buku ini lebih menjabarkan tentang filosofi dunia komik dan alasan orang bikin komik. Ternyata membuat komik pun punya efek terapi yang menyembuhkan. Garin Nugroho bahkan pernah mengatakan bahwa media yang paling banyak membantu pemulihan korban bencana pasca Tsunami Aceh 2004 adalah film dan... KOMIK. Sayangnya kemudian ternyata ajakan itu kurang disambut oleh para komikus tanah air.
Menarik lah. Mungkin kalau mau diterbitkan ulang lagi, judul bukunya bisa menjadi "Menyederhanakan Komik". Komik di sini diperlihatkan sebagai media penyampaian yang menyenangkan dan tidak rumit. Uniknya, layaknya buku teks, ada beberapa halaman latihan yang memberimu tugas untuk berlatih menggambar panel komik dengan tema tertentu. Memang bagus buat pemula yang ingin mulai menggeluti dunia komik, sih.