Bintang 2..
Hmm, lumayan seru sih cuma nggak begitu suka sama guyonannya karena dimomen-momen seriuspun masih aja disuguhi celetukan-celetukan jayus.
Jun!! Entah novel keberapa karya Kak Mia yang saya baca. Secara, beliau adalah salah satu novelis favorit dari jaman SMP wkwkw. Bercerita tentang Dira, si gadis kutu buku yang ceroboh banget (cenderung blo'on malah kesanya) cerewet dan heboh (yang pasti nggak klop banget sama imej kutu bukunya -_-). Dira baru saja pindah sekolah ke Bandung. Di sekolah barunya ia bertemu dengan Jun, teman SMPnya saat di Jakarta. Dulu Jun adalah seorang cowok yang baik, pintar, dan nggak neko-neko. Tapi sekarang, Dira seolah tak mengenal Jun. Jun yang dulu sangat berbeda dengan Jun yang sekarang. Jun yang sekarang adalah seseorang yang pemberontak, doyan tawuran (tapi pintar, menang olimpiade, nggak pernah bolos pelajaran and bla bla bla.. yang lagi-lagi nggak balance sama imej pemberontaknya -_-) dan dingin.
Dira berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan Jun berubah. Ia ingin Jun kembali seperti dulu, saat Dira diam-diam menaruh hati pada Jun. Namun ternyata usahanya tidak semudah itu. Jun terus-terusan bersikap judes, belum lagi Dira juga selalu dikerjai Aileen yang naksir berat Jun. Akankah usaha Dira berhasil? Apakah yang sebenarnya disembunyikan oleh Jun?
Well, novel ini menurut saya masih mentah banget ide tawuranya. Karena apa ya? Nggak menegangkan gitu loh. Udah bagus-bagus situasi dibikin genting ehhh malah disisipin tektokan tokoh yang garing dan jayus, bikin sebel! Belum lagi setiap tawuran isinya introoooo mulu. Mau mukul aja harus bilang "Lo rasain tangan gue!" Hadehhh, udah kaya Naruto aja tiap mau gerak harus disebutin dulu jurusnya. Ingat, kalian itu mau gelut jadi nggak usah kebanyakan dialog. Kalo ribut sama banci baru nohhh ngomong mulu.
*kesel *frustasi
Paling sebel scene waktu Jun mau tawuran dan Dira dihadang preman. Haduhh malah kaya orang blo'on semua, nggak ada serius atau tegangnya sama sekali. Isinya basa-basi dan obrolan nggak penting, malah lupa noh tawuran jadinya gimana. Aneh banget...
Mau yang lebih absurd lagi? Alasan mereka tawuran itu nggak ada! Yup, tiba-tiba berantem aja gitu scenenya, dan selalu begitu. Tauk deh alesan mereka main serang itu apa, klub bolanya kalah kali!
Hmm.. ada juga sih yang dijelasin kalau mereka tawuran karena perbuatan wilayah. Tapi buat apa gitu? Bukannya sekolah udah ditembok dan gerbang dari sononye ya? Mau nambahin wilayah buat apa lagi sih shayy. Emang mereka mau repot-repot ngurus surat tanahnya? Wkwk
Pokoknya pembahasan tentang tawuran ini nggak oke sama sekali. Problem slovenya juga menye-menye banget, dibuat mudah dan nggak berkesan. Haduhh masih keki banget kalau inget si Juna and the gank yang kebanyakan basa-basi dan malah nggak jadi tawuran sama sekali sampai cerita selesai!!
Sejujurnya saya nggak sreg dengan latar belakang Jun yang membuat cowok itu jadi dingin dan judes (ya walaupun sebenernya nggak sedingin itu sih, heran juga kenapa bisa ditakutin anak-anak). Kalau jadi doyan tawuran, oke lah karena dia begitu gara-gara korban. Tapi jadi dingin? Judes? Hmm. Mungkin dia jaim kali yah karena pentolan sekolah.
Terus karakter Dira yang arggg! Kayaknya semua karakter FL dari Mia Arsjad mirip-mirip deh. Cerewet, heboh, hiperbolis, rame, ceroboh cenderung oon dan ekspresif. Mau dia kutu buku kek, mak comblang kek, supel kek, pendiam kek sifat-sifat mereka itu samaaa. Tapi ya gimana? Emang itu cari khasnya Mia Arsjad nggak sih?
Terakhir tokoh Aileen yang tiba-tiba hilang. Lohhh kok bisa, saya juga bingung. Dibilang tukang bully tapi dia cuma pernah ngerjain Dira sekali doang terus wushhh, moksa dia.
Yahh.. maaf deh untuk novel kali ini saya nggak begitu suka. Karena kesan "gahar" atau "sangar" dari tawuranya itu nggak dapet sama sekali. Apalagi klimaksnya kaya begitu doang, kecewa deh saya.