Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bilangan Fu #1

Het getal Fu

Rate this book
Het getal Fu geeft een beeld van de veranderingen zoals die zich nu in de Indonesische samenleving voltrekken. De maatschappelijk geëngageerde Ayu Utami is inmiddels de belangrijkste schrijfster van Indonesië en geniet vooral onder jongeren zowel nationaal als internationaal groot aanzien.

De vrienden Parang Jati en de jonge bergbeklimmer Sandi Yuda zijn vaak te vinden in de bergen van Oost-Java. Tijdens het klimmen verbeeldt Yuda zich regelmatig een verleidelijke gedaante te zien, een vrouw met een wolvengezicht, die hem een magisch getal toefluistert: het getal Fu.

Deze mystieke ervaring lijkt in scherp contrast te staan met de politieke betrokkenheid van zijn vriend Parang Jati en diens verbeten strijd tegen fanatieke religieuze groeperingen.

461 pages, Kindle Edition

First published January 1, 2008

283 people are currently reading
2709 people want to read

About the author

Ayu Utami

37 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,021 (33%)
4 stars
1,121 (36%)
3 stars
645 (21%)
2 stars
187 (6%)
1 star
72 (2%)
Displaying 1 - 30 of 408 reviews
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
July 13, 2011
ada rasa sedih dan marah setiap kali seorang kawan pemanjat menikah. aku tahu pernikahan bearti akhir petualangan panjat tebing. mereka akan segera pensiun, untuk mencari nafkah dan memberikan kehidupan yang stabil bagi kaum pembujuk itu dan anak-anak tuyul yang akan mereka lahirkan. lalu satria pun akan menjadi sudra (hlm. 7) dan buku pun ditutup.

buku yang tepat di saat yang tidak tepat. baru tiba di halaman 7 dan langsung tutup buku. sepenggal paragraf yang tidak sesuai dengan emosi si pembaca (saat itu) membuat buku ini terpaksa menunggu 1 minggu untuk dibuka kembali. dan ketika halaman-halaman berlalu seiring berlanjut na cerita, maka....

sebenar na siapakah yang bercerita, yang ingin bersuara dan mengabadikan kisah ini? yuda melalui tulisan ayu utami atau justru ayu utami melalui karakter yuda? pria yang perempuan atau perempuan yang pria? konsep androgini kental ditemui dalam kisah ini melalui karakter nyi ratu kidul, semar, ikan pelus, sebul, dan ki ajar cemara. namun, kenapa hanya perempuan yang bisa menjadi pria sedangkan pria tidak bisa menjadi perempuan? sentimentil penulis na yang notabene adalah perempuankah?

banyak karakter dalam kisah ini yang memiliki 2 sisi. sisi kuat dan lemah na, sisi terang dan gelap na, seakan ingin mengenapi bahwa tak ada yang sempurna di dunia, yang ada hanyalah penetralan dari segala na. seperti konsep yin dan yang.

banyak sekali hal yang ingin disampaikan dalam kisah ini. melalui kliping koran yang disertakan maupun penceritaan dari tokoh yang ada. seakan banyak hal yang selama ini dibungkam ingin dikuak kembali. menghadirkan peristiwa-peristiwa yang ditutupi menjadi pengetahuan umum. masa bungkam telah padam dan kini saat na semua dibicarakan. mungkin jika tulisan ini dikeluarkan pada masa sebelum reformasi, pastilah penulis na sudah kena cekal. wajar, ketika yuda sebagai pencerita baru bisa mengungkapkan na sekarang, 13 tahun kemudian (walau ada yang aneh dengan angka ini, kita bahas kemudian).

reformasi, pencerita mampu membawa pembaca ke masa kejadian. tidak semua orang mengetahui sungguh apakah yang terjadi pada masa itu dan setidak na pencerita mampu memberikan gambaran yang cukup untuk situasi yang terjadi saat ini. masa di mana orang banyak dibungkam demi kepentingan kekuasaan, kebenaran yang jatuh ke bumi, kebenaran yang ditancapkan, bukan kebaikan yang disangga (begitulah konsep menurut parang jati). ketidakadilan yang dialami banyak pihak karena kebenaran yang diusung oleh penguasa. persetan menurut kalian, asal penguasa senang dan aman, itulah yang akan dilakukan. itulah... kebenaran yang ditancapkan hanya untuk kepentingan kekuasaan. bahkan untuk urusan keagamaan.

teringat masyarakat samin yang terpaksa mengaku 'islam' hanya untuk kepentingan birokrasi. buat sim perlu ktp, pasang listrik perlu ktp. sedangkan ktp perlu agama, dan agama di indonesia hanya mengakui 5. kebanyakan agama langit, dimana tuhan adalah 1. agama bumi yang menghormati banyak hal, banyak pemujaan menurut sistem birokrasi bukan agama, lalu apa? mereka dianggap murtad hanya karena status yang perlu dicantumkan. dengan alasan: tidak ada di sistem komputer kami. begitulah jawaban petugas kelurahan dan kecamatan kepada masyarakat samin yang ingin memiliki ktp untuk kepentingan-kepentingan tadi. adilkah? jika memang tuhan itu maha adil, kenapa dia tidak adil kepada para pemeluk agama bumi?

banyak realita kekuasaan dan cara pencapaian na yang semene-mena diungkapkan di dalam na. demi kepentingan kekuasaan, orang mencari keresahan dengan bertameng laskar-laskar. ketika kekerasan tak lagi mempan, maka kekerasan dan massa yang dikerahkan. sekalipun itu harus mengunakan kedok agama.

lagi-lagi pendapat netral, dalam konflik yang ada. perempuan yang ditempatkan sebagai manusia. tokoh penggoda sekaligus penetral. ayu utami masih konsisten pada penetralan ini. saat pria digambarkan sebagai setan dan malaikat, perempuan na juga tak sekedar digambarkan sebagai sosok yang lemah. sungguh, mengusung tak hanya persamaan hak manusia, tapi juga persamaan perlakuan kepada pria dan perempuan. ayu-yuda, bukankah nama itu identik? masih tetap tak tau siapakah yang ingin bersuara sebenar na.

melalui cerita yang dilengkapi kliping koran ini, sedari awal mungkin sudah bisa diketahui ending na. saat tulisan seperti menceritakan jati sebagai pusat dan peristiwa lain sebagai gelombang di sekitar na. jati yang melulu menjadi fokus penceritaan yuda, seakan membuat kisah ini sebagai biografi seorang parang jati. memang na ada apa dengan parang jati? dan pertanyaan itu sudah terjawab di halaman 228. namun, walaupun akhir yang demikian sudah dapat diketahui oleh pembaca, buku ini tetap tidak kehilangan kisah na. halaman yang tersisa masih menarik untuk dijelajahi. dan....

parang jati mengenakan kemejanya kembali. itulah saat terakhir aku melihat ia menatapku. dengan mata bidadarinya. yang malam itu bukan polos, melainkan dalam dan sedih. (hlm. 506) buku ini kembali ditutup.

bukan karena waktu yang tidak tepat. tapi.... kenapa harus dia, harus pria yang lahir pada 21 juni ini? tokoh sebaik ini. dengan kebaikan dan kemampuan seperti na. mengapa banyak orang baik, kecerdasan emosi dan pikiran harus dilenyapkan? saat otak menjadi incaran orang-orang yang hanya mengandalkan kekuasaan, bukan otak. bukan bearti manusia yang mengandalkan kekuasaan ini tak punya otak, karena pada dasar na semua manusia punya otak. hanya mampukah mereka menggunakan otak na dengan benar, tanpa diperbudak dan menjadi robot dari otak yang terprogam. jika demikian maka mereka tak ubahlah sebagai mesin, tanpa hati.

...mengukur yang metaforis secara matematis, yang spiritual secara rasional

itulah gejala otak yang terlalu diandalkan, tanpa mendengar suara hati. maka... hati-hati terhadap gejala na supaya kita lebih peka terhadap bisikan hati.

nb: untuk yang terlahir 21 juni, ntah fiksi atau nyata, bukan kebenaran yang penting tapi kepercayaan akan sesuatu itu ada. turut berduka untuk kepergianmu. 531 halaman cukup bagi ku untuk mengenalmu walau kau tak kenal aku. bukan rasa kasihan karena kasihan hanya ada bagi mereka yang tak mampu melakukan apa-apa. tapi ini adalah duka yang nyata.
teruntuk:
pemilik-mata-polos-nyaris-bidadari
Profile Image for Maulida Raviola.
63 reviews6 followers
July 23, 2008
Yang diperlukan untuk membaca karya Ayu Utami, selalu, adalah keterbukaan pikiran. Terlebih lagi dengan Bilangan Fu. Namun kritik-kritik Mbak Ayu terhadap Modernisme (atau modernitas), Monoteisme, dan Militerisme--sebagai 'dalang' keserakahan dan superioritas manusia modern terhadap sesama manusia dan lingkungan--sepenuhnya amat thought-provoking.

Dikemas dengan gaya bahasa yang lebih padat dan filosofis dibanding Saman dan Larung, juga dengan banyak analogi dari lakon-lakon pewayangan dan Babad Tanah Jawi, Bilangan Fu menawarkan juga kajian ulang (dan terutama sudut pandang baru) terhadap apa yang selama ini dianggap takhayul. Ketidakpercayaan terhadap takhayul ternyata tak lebih dari superioritas seorang modernis-fasis.

Tidak ada suatu hal pun yang dapat dilihat secara hitam ataupun putih. Saya rasa, lewat Bilangan Fu, Mbak Ayu sukses menawarkan spiritualisme-kritis sebagai cara pandang terbaik bagi seorang postmodern. Bagaimana kita mampu membedakan kritis dengan anti. Bukan menolak kebenaran, melainkan menunda kebenaran. Panggullah kebenaran, sebab kebenaran yang jatuh ke tanah hanya akan mewujud kekuasaan.

Inspiratif dan informatif. Saya selalu tidak sabar untuk membaca--dan membaca ulang--setiap tulisan Ayu Utami.
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
November 2, 2020
Setelah Saman terbit (1998) dengan segala kehebohannya, citra penulis vulgar seolah-olah melekat pada diri pengarangnya, Ayu Utami (40). Citra ini bahkan tersiar sampai ke luar Indonesia. Fakta ini baru saya ketahui kira-kira dua minggu silam dari percakapan saya dengan 6 orang teman dari Malaysia yang mengaku sebagai “ulat buku”, sebutan di negeri jiran itu untuk kutu buku. Saat mereka berkunjung ke Jakarta pada acara Pesta Buku Jakarta 2008 yang lalu, mereka emoh menuruti saran saya untuk juga membeli (dan membaca) novel-novel Ayu Utami selain tetraloginya Pram lantaran kabar yang mereka dengar buku-buku Ayu itu porno.

Citra porno yang telanjur menempel pada perempuan lajang bertubuh ramping ini juga sempat membuat teman-teman saya yang hendak membeli (dan membaca) buku ini mempertanyakan, masih sejenis nggak ya buku ini dengan Saman?

Setamat saya membaca novel setebal 500-an halaman ini, saya baru bisa mengatakan bahwa buku ini berbeda dengan karya Ayu terdahulu, Saman dan Larung.

Bilangan Fu barangkali akan menjadi sebuah cerita yang “berat” seandainya Ayu tidak menuliskannya dengan bahasa yang gurih, sebab ia, novel ini, memuat gagasan dan kritik Ayu pada tiga hal yang dianggapnya sebagai ancaman kebebasan dan demokrasi, yakni 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Tema yang serius, bukan? Namun, secara cerdik Ayu menyiasatinya melalui jalinan kisah dua pemuda pendaki tebing yang tampan dan cerdas: Yuda dan Parang Jati.

Kedua lelaki muda yang sehat itu menjadi simbol dan sekaligus para pahlawan di novel ini yang memerangi segala bentuk penzaliman dan penganiayaan kepada alam dan manusia. Yuda dan Parang Jati tidak berdiri berseberangan sebagai dua orang seteru, tetapi justru bahu-membahu menjadi protagonis melawani musuh bersama, ya 3 M itu.

M yang pertama, modernisme, menurut Ayu menjadi penyebab utama rusaknya lingkungan akibat eksploitasi manusia modern yang kelewat batas dan lupa menghormati alam. Manusia modern tak percaya lagi pada segala bentuk keramat dan cerita-cerita takhayul ihwal roh-roh halus penunggu pohon besar, sungai, gunung, dan samudra. Padahal kepercayaan pada takhayul dan keberadaan roh-roh halus yang dahulu “diimani” masyarakat adat telah mampu menyelamatkan alam dari kebinasaan. Kerena percaya bahwa setiap benda dan tempat ada yang punya, mereka tak berani berlaku sewenang-wenang. Tetapi kini seiring dengan semakin lunturnya kepercayaan tersebut, semakin parahlah perusakan yang terjadi.

Kritik dan kampanye anti-perusakan lingkungan ini disampaikan Ayu dengan memilih dunia panjat tebing sebagai latar kisahnya. Yuda dan Parang Jati mengenalkan agama baru mereka, pemanjatan bersih atau yang lebih ekstrem lagi sacred climbing, yaitu teknik memanjat dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tidak melukai tebing-tebing dengan alat-alat panjat modern seperti bor dan paku.

M yang kedua adalah monoteisme. Ayu meyakini bahwa agama-agama langit yang monoteis memiliki persoalan mendasar dalam menerima perbedaan. Ayu menggambarkannya melalui permusuhan antara Kupukupu dan Parang Jati. Kupukupu adalah lambang mereka yang merasa diri paling benar dengan agama yang mereka peluk dan lalu merasa berhak mengadili serta mengafirkan orang lain yang menganut kepercayaan yang berbeda dengannya. Mereka tak menyisakan ruang bagi perbedaan. Fundamentalis, begitulah tepatnya. Pada bagian inilah Ayu memperkenalkan filosofi bilangan fu yang lebih bermakna metaforis ketimbang matematis. Ini menyangkut pengertian akan Tuhan yang satu yang sering diartikan secara matematis.

Dan M yang ketiga adalah militerisme. Pendapat Ayu bahwa militerisme merupakan musuh utama demokrasi berangkat dari masa Orde Baru ketika peran militer sangat dominan. Dengan kekuatan dan caranya sendiri, militer menebar teror, ketakutan, dan kekerasan di masyarakat demi mempertahankan kekuasaan. Kebebasan pers dibungkam, acara-acara seni dan sastra dimata-matai, diskusi dan kumpul-kumpul dianggap makar, sebversi. Kita yang sempat mengecap hidup di masa gelap tersebut tentu tahu betul rasanya.

Novel dengan beban gagasan seberat itu tentu akan terasa membosankan jika tak pandai-pandai mengemas dan menyajikannya. Bilangan Fu nyaris terjerumus menjadi novel demikian seandainya Ayu hanya fokus pada ide besarnya itu dan melupakan unsur-unsur “hiburan” dalam bukunya ini. Unsur-unsur hiburan itu di antaranya bumbu seks, asmara, dialog-dialog yang bernas, plot yang tidak linear, dan humor. Kendati saya sempat terserang jenuh juga oleh banyaknya kutipan kliping surat kabar dan majalah, “artikel” serius Parang jati, serta dialog panjang lebar Yuda dan Parang Jati yang sangat ilmiah, namun secara keseluruhan novel ini enak dibaca.

Lantas, bagaimana dengan cinta segitiga seperti yang diiklankan dalam sinopsis di sampul belakang buku ini? Ah, rasanya saya tidak menemukan adanya asmara tiga sisi di novel ini. Ayu tidak pernah secara terang-terangan menampilkan percintaan segitiga antara Yuda, Marja, dan Parang Jati. Marja itu pacar Yuda yang dengan tersirat dan samar-samar–melalui dugaan-dugaan Yuda–diceritakan juga menaruh hasrat kepada Parang Jati. Jadi, jika Anda berharap akan bertemu kisah cinta segitiga yang menggelora dalam novel ini, siap-siaplah kecewa.***
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
June 11, 2019
1. Saya "mual" dengan novel-novel yang memberitahu bagaimana seorang pembaca mestinya bertindak atau bersikap. Sepanjang bacaan, terlalu banyak "ceramah", sayangnya miskin cerita. Tidak, ini bukan karena saya tak suka ide-idenya, sebaliknya; saya gandrung dengan ide-ide serupa stoisisme, mistisme, pantheisme, taoisme, dan segala isme-isme lain yang mengajarkan kembali ke alam. Hanya, bagi saya, saking luasnya tema, pembumian ide-ide tersebut ke dalam cerita terasa "dipaksakan", saya jadi tegang melulu bacanya. Seperti mendengar orang nyerocos terus, tapi tidak membiarkan pembaca berpikir untuk dirinya sendiri. Buat saya cerita buruk, ide-ide yang banyak disemprotkan dengan tergagap dan sporadik. Kadang saya mesti geli sendiri, menemukan pemborosan kata-kata hanya untuk menjelaskan kejadian atau peristiwa yang sama secara berulang-ulang. Dewi Lestari sudah bikin kenyang, gak lagi deh. Duh!

2. Karya yang baik adalah karya yang hidup dan lepas dari penulisnya. Mereka yang posmo, seperti nuansa dalam buku ini yang kental, pasti bakal bilang, subjek tak lepas dari objeknya, tak ada yang bebas nilai. Oke, saya paham, tapi maksud saya adalah metaforis, artinya ketika suatu karya lahir dan telah selesai ditulis, dia bicara tentang dirinya sendiri, bukan tentang penulis. Serupa ruh yang ditiupkan oleh ibu, dan jadilah dia kehidupan sendiri.

Buku ini itu seperti bayi yang lahir dari rahim seorang ibu, besar dan dididik olehnya, tapi sampai dewasa pun si Ibu takut dan tak mau melepaskan anaknya. Ibu yang penuntut mencampuri segala urusan si anak, sekalipun anak ini sudah dewasa dan sudah mampu berpikir untuk dirinya sendiri. Si anak berbicara, tapi yang keluar dari mulutnya bukan suaranya, suara si "mamaknya".
Profile Image for Randu.
9 reviews
December 10, 2008
buku bilangan fu punya saya ditulisi nomor 6 oleh sang pengarang (artinya buku gratisan keenam...hehehe). dan saya baru membacanya 6 hari setelah peluncurannya. dan menyelesaikannya 60 jam kemudian (hampir 6 hari).

dalam buku ini ayu menggunakan analogi-analogi keagamaan yang sudah diakrabi oleh kebanyakan orang. tapi melalui simbol-simbol yang familiar itu, ayu menampar pembacanya: hayo, kamu pasti belum tahu yang ini! bahwa suatu peristiwa bukanlah semata kebetulan. bahwa pandangan kita akan nasib, ternyata dipermainkan oleh maksud-maksud politis orang-orang yang di atas sana (sedihnya, itu bukan tuhan). bahwa kita telah jauh dari alam, dan terbutakan dari daya magisnya. bahwa kita terlalu normal, sehingga kita membenci keanehan dan melupakan bahwa kita pun tak kalah aneh dari kodok bertanduk tiga.

bilangan fu mengobrak-abrik kepala, mencabik akal sehat, lalu menjahitkan lagi dengan kesimpulan-kesimpulan tak terbantahkan. dan lucunya, itu bukan kesimpulan ayu, tapi kesimpulan kita. demikianlah semesta bekerja. tak terhingga.

Profile Image for Julaybib.
44 reviews1 follower
March 31, 2009
Saya membeli buku ini karena saya suka gaya menulis dan bercerita Ayu Utami, dan terus terang saya tidak kecewa sudah membeli buku ini. Ceritanya lumayan menarik, gaya berceritanya enak diikuti, dan ada pesan moral yang disampaikan. Cuma saya banyak tidak setuju dengan pesan neo spiritualisme yang diusung di buku ini.

Di sini Ayu mengajak kita melakukan laku kritik, yang intinya agar mentolerir dan menerima norma-norma di sekitar kita sebagai kebenaran yang tertunda. Tapi di lain sisi nampak juga penolakan yang terlalu kuat terhadap 3 M, yaitu modernisme, militerisme dan monotheisme. Bukankah ini namanya plin plan? 3 M itu menurut saya juga punya kebenaran tersendiri, dalam konteks yang tepat.

Yang paling fatal menurut saya adalah anggapan bahwa monotheisme tidak memiliki ruang untuk toleransi terhadap nilai-nilai yang lain. Ini jelas keliru. Sudah ada begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa dari sejak didirikannya, pengikut monotheisme menunjukkan sikap toleran terhadap yang lain, sedang pengikut polytheisme dan atheisme juga tidak kebal terhadap fanatisme dan radikalisme (lihat saja militansi pengikut Hindu di India). Musuh yang sebenarnya ya fanatisme dan radikalisme itu. Dengan menembak musuh yang salah kita malah bisa celaka semua.

Penolakan terhadap modernisme dan penerimaan terhadap takhayul serta adat juga dalam konteks tertentu bisa berakibat fatal. Tahayul dan tradisi menurut saya timbul karena orang dianggap tidak akan bisa diberi penerangan secara logis (karena kita malas atau menganggap mereka bodoh), sehingga perlu diciptakan mitos-mitos yang harus diikuti dan dijaga oleh kekuatan supranatural (yang tidak bisa diraba oleh manusia). Misalnya, anak-anak akan diculik makhluk halus kalau keluar setelah maghrib (karena sulit menerangkan ke anak-anak kalau malam itu gelap, banyak ular, kalau ilang juga susah nyarinya). Masalahnya, hanya perlu satu orang yang selamat dari culikan makhluk halus saat keluar malam untuk meruntuhkan mitos ini. Begitu yang lain ikut mencoba dan tidak terjadi apa-apa, runtuhlah keangkeran mitos ini dan kita harus menciptakan mitos baru agar mereka mau tetap di rumah.

Kenapa tidak dari awal diterangkan yang sebenarnya saja? Dengan begitu kan kita jadi punya generasi muda yang lebih rasional. Jangan membabat hutan karena hutan menjaga tanah dari erosi, mempengaruhi iklim dan suplai air, dll, daripada menyuruh orang bikin sesajen dan membuat ritual yang aneh-aneh sekedar biar orang gak membabat hutan semaunya? Apa ini karena jauh di dasar lubuk hati beliau tertanam kepercayaan bahwa cara berpikir manusia pedesaan itu selamanya begitu dan tidak akan mempan diisi dengan fakta-fakta ilmiah yang rasional? Bukankah itu namanya diskriminasi dan stereotyping?
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
May 28, 2021
Dua buku Ayu Utami yang pernah saya baca sebelumnya, Parasit Lajang dan Larung, menorehkan kesan yang biasa saja. Kritis dan butuh dibaca dengan pikiran terbuka, benar. Namun demikian, terasa tidak terlalu ada kebaruan. Ide2 yang disampaikannya, yang bagi banyak orang mungkin rebel, tidak terasa mempan saat saya baca, mungkin karena saya sendiri telah melalui beberapa proses dekonstruksi dari cara merenung dan berpikir yang kaku soal dogma2.

Membaca novel ini cukup meningkatkan respek saya terhadap Ayu Utami. (Mungkin) novel terbaiknya sejauh ini. Kompleksitas pemikiran dan perenungan serta risetnya terasa, dan ada frase kunci yang sudah pernah beberapa kali saya dengar namun baru kini saya pahami makna yang ingin digagasnya: spiritualisme kritis.

Saya menikmati jahit-menjahit antara beragam ilmu dan topik dalam novel ini. Geologi, antropologi, spiritualitas dan mitologi monoteis maupun lokal (utamanya Jawa) bahkan pagan, juga sejarah, dan, yang saya paling rasakan pengaruhnya, filsafat pascamodernisme.

Kisah ini awalnya saya sangka adalah semata kisah cinta-cintaan dan kecemburuan berlatar pendakian tebing. Ternyata, kisah berkembang menjadi kumpulan tegangan ide dan kekuatan: antara skeptisisme modern dan laku kritis dengan penghormatan pada kearifan lokal, spiritualitas monoteis dan timur, agama dan aliran kepercayaan, kepenuhan dan kekosongan, kerakusan khas peradaban manusia dengan keinginan menjaga alam, militerisme dengan non-kekerasan.

Yuda dan Jati menggawangi keseruan petualangan begitu berharga yang mengubahkan relasi maupun sikap hati mereka berdua. Mereka bagaikan iblis dan malaikat yang saling bertarik-tarikan mempengaruhi namun juga menyeimbangkan. Marja bukanlah tokoh tambahan, malah tokoh yang setara dengan Yuda dan Jati, menghadirkan aspek keceriaan, keriangan, dan spontanitas khas manusia telah menjalani hidup kompleks namun berupaya mempertahankan kepolosannya.

Petualangan mereka yang dimulai dari pertemuan awal, seks, intimasi, pendakian-pendakian, tukar pikiran dan debat, penyingkapan rahasia masing-masing, hingga upaya bersama untuk melestarikan alam dan lokalitas di tengah gempuran 3M (modernisme, militerisme, monoteisme), membantu mengajak kita merenung. Untuk menggumuli kebenaran, kebaikan, dan keindahan dengan kritis, namun tanpa kehilangan empati. Untuk menunda penghakiman, sebab keyakinan menguasai kebenaran bisa menjadi candu yang memabukkan dan menghadirkan kekerasan.

Poin yang paling saya nikmati dari pembahasan spiritualisme kritisnya: berimanlah sekuat2nya, namun tundalah sejauh2nya keinginan membenarkan dirimu. Belajarlah terus mempertanyakan kebenaran yang kamu percaya tanpa berhenti meyakini kekuatannya dalam hidupmu.

Saya menikmati novel ini, menyegarkan walaupun kadang perlu googling mengenai topik2 Kejawen, cerita rakyat, dan ilmu geologi hahaha.
Profile Image for Wikupedia.
65 reviews29 followers
October 14, 2008
Setelah vakum agak lama dalam menulis novel, ayu utami hadir lagi dengan membawa sebuah kisah berjudul bilangan fu. Novel ini berkisah dengan latar Watugunung dan kegiatan panjat tebing, yang bagi saya sudah merupakan nilai yang unik. Namun teryata itu semua belumlah apa. Kisah dan konfilk di dalamnya lebih menggetarkan lagi.

Bercerita tentang 4 tokoh utama, Yuda, Jati, Kupukupu, serta Marja. Tentang pertemanan dan persahabatan dalam cinta yang bening antara yuda, Marja dan Jati, serta konflik panjang mengenai perbedaan pendapat menganai spiritualisme (agama) antara Parang Jati dan Kupukupu. Dan ternyata itu pun belum cukup untuk merangkum kisah dalam novel ini.

Dalam perjalanan kisahnya Yuda dan Jati bertemu dengan berbagai konflik khas bangsa Indonesia, iri dengki serta kedangkalan pemahaman akan banyak hal, terutama mengenai spiritualisme. Pertentangan yang rumit antara agama bumi dan agama langit dibentangkan dalam jalinan bahasa yang tidak biasa. Di lengkapi juga dengan semacam data yang difiksikan mengenai kliping-kliping koran mengenai berbagai kejadian yang mendukung alur cerita, dan bila pembaca jeli ternyata berbagai kliping koran dan berita didalamnya pernah mampir dalam hidup kita. Dan terlebih lagi, mengenai sebuah bilangan, yang diberi nama Bilangan Fu.

Membaca Bilangan Fu seperti membaca sebuah masa lalu kelam, masa lalu masyarakat Indonesia, yang gamang akan banyak hal, yang prematur dalam memahami banyak hal. Isme yang ingin di perlihatkan Ayu memang berulang-ulang hadir di pikiran saya dalam beberapa waktu ini, mengenai pendapatnya tentang kebenaran yang tidak melulu harus langsung diungkapkan, namun harus dipanggul terlebih dahulu, juga mengenai sikap lalu kritik yang begitu bijaksana, serta tentu , mengenai spiritualisme kritis itu sendiri.

Bangsa kita dibangun oleh kebudayaan yang panjang, kebudayaan yang tidak bisa diberantas atas nama apapun, dalam konteks itulah sebaiknya kita membaca Bilangan Fu dan memaknainya secara bijaksana.
Profile Image for Delasyahma.
242 reviews124 followers
February 19, 2019
Akhirnya setelah kurang lebih 30 hari buku ini selesai juga aku gak pernah bisa berkata2 banyak. Selalu, untuk buku yang selalu kukasih rate 5 bintang. Rasanya, banyak yg harus disampaikan, tapi bingung mau menyampaikan apa. Intinya, kalau mau baca buku ini kalian harus dulu membuka pikiran dan hati kalian. Karena namanya karya sastra akan ada saatnya bergesekan dengan banyak hal.
Profile Image for Helvy.
Author 72 books948 followers
August 1, 2008

Bahasanya terpelihara...
tapi semua tokohnya Ayu Utami :D
Profile Image for Sam.
184 reviews17 followers
December 29, 2009
aku mungkin bukan pemanjat tebing sejati
di antara napas satu-satu aku bukannya untuk menakluk

aku mungkin bukan pemanjat tebing sejati
karena sesampainya di puncak aku lebih suka menyendiri
mencoba mengingat jalan yang kulalui - wat have i missed..

pemanjat tebing sejati
lahir untuk bersidekap dengan raga bumi,
mencari percikan dahaga dari pitch, caving dan belay
memenangkan taruhan dengan alam..

para pemanjat sejati seumpama pertapa
ia tahu kerajaannya bukan dari dunia ini
ia adalah pejuang dari selepas batas hutan



hanya mencari.. tidak berhenti...



aku bukan pemanjat tebing sejati
yang mejauhi hiruk pikuk kota dan merasakan udara kebebasan di antara awan-awan
aku hanya perlu udara segar
melepaskan kepenatan agar bisa kulihat belahan jiwaku semakin dekat dipeluk awan-awan

aku bukanlah mereka...
aku sendiri...

bersama bilangan fu merunuti rumus mati
berharap di antara lebam tangan dan sesak napas itu
ku diberikan jawaban


a
g
a
r

t
i
d
a
k

t
e
r
u
s

mencari...


tapi sudah menemukan.

http://privateservice.blogspot.com/20...


buku yang 'berbobot',
sejarah dilapis dengan kisah cinta bersegi yang ganjil.. ini bukan lg kisah cinta segitiga antara Yuda, Jati, Marja, tp ada Segul, lalu Dayang Sumbi.. bayangan demi bayangan.. cerita masa lalu, takhayul dan ke-kini-an -- walo kadang terkesan dipaksakan

sayangnya justru,
mendekati bab-bab terakhir aq jd agak bingung dg muasal dan tujuan cerita.. ini soal babad tanah jawi, sewugunung, ato si pendaki kotor yg re-birth menjadi sacred climber.. hhmmm..

lucu ya,
politisasi, humor dan kejenakaan yang tidak pada tempatnya justru menjadi klimaks perhatian dalam buku yang cukup bt jd pemberat kepala ini.. justru mkg di situ uniknya mempelajari perhitungan fu.. ataukah hu..
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
June 18, 2012
Perhatian: review ini ditulis dengan sangat sedikit laku kritik dan sangat banyak bias yang disebabkan oleh dua pemuda seksi yang sangat menekankan penerapan laku kritik.

Spiritualisme kritis. Hal itulah yang diangkat oleh Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu ini. Dengan ceritanya, kita diajak untuk memikirkan ulang mengenai kepercayaan dan takhyul. Dengan idealisme Parang Jati dan skeptisisme Yuda, kita diajak untuk mengkritisi 3M yang dianggap menghambat posmodernisme: Militerisme, Monoteisme, dan Modernisme.

Saya sangat suka dengan argumen-argumen yang dikeluarkan Ayu Utami dalam novel ini, juga sempilan fakta-fakta yang dimasukkan berupa klipingan koran yang memang nyata. Pemahamannya mengenai kebudayaan Jawa dan sejarah agama membuat saya kagum. Dan yang saya salut dari Ayu Utami, argumen-argumen Parang Jati (yang menurut saya menjadi sentral dari kisah ini) tidak dihadirkan dengan kemutlakan yang seakan menggurui. Selalu ada argumen-argumen penentang dari Yuda, sang Skeptik kita, yang membuat Parang Jati menata idealismenya kembali menjadi lebih down to earth.

Ide tentang Bilangan Fu juga menarik, menurut saya. Sebuah bilangan bukan rasional (tapi juga bukan irasional) yang memiliki kedua unsur 0 dan 1; melingkar seperti 0 namun mempunyai ujung terbuka seperti 1. Dan dengan bilangan ini pula Jati mengkritik monoteisme:

"Agama-agama timur sangat menekankan pada ketiadaan, kekosongan, sekaligus keutuhan. Konsep ini ada dalam kata sunyi, sunyat, shunya. Konsep ini ada pada bilangan nol. Sebaliknya, monoteisme menekankan bilangan satu. Tuhan mereka adalah SATU.

Persoalannya, sesungguhnya ada pertanyaan besar: apakah ketika mereka merumuskan itu manusia sudah menemukan bilangan nol? Apakah konsep nol sudah ada ketika manusia mencatat wahyu bahwa Tuhan itu satu?" (hal. 321)


Hubungan antarkarakter yang ada di kisah ini juga sangat saya suka, dimana Yuda, Jati, dan Marja terlibat oleh cinta segitiga, dan menurut saya segitiga mereka itu benar-benar sama sisi; tidak terfokus pada satu puncak, melainkan mempunyai pembagian sudut-sudut yang sama untuk tiap titik.

"Adakah aku merasa cemburu. Aku tak merasa persis begitu. Aku tahu Marja menyukai Parang Jati, sebagaimana aku menyukai sahabatku itu. Aku hanya tak senang jika aku dan Parang Jati diletakkan berlawan-lawanan. Aku pun tahu bahwa Parang Jati menyukai Marja, sebagaimana aku menyukai kekasihku itu. Aku juga tahu bahwa kedua-duanya menyukai aku, seperti aku menyukai keduanya." (hal. 364)

IT'S A MENAGE PPL!!

Saya sebenarnya bukan penikmat kisah cinta menage m/f/m, tapi entah kenapa saya menikmati hubungan segitiga Yuda-Marja-Jati. Interaksi ketiganya sangat manis, terutama -ehem- Yuda dan Jati (yes, you fujoshis out there, FANGIRL MOMENT!!). Rasa sayang Yuda kepada Jati sangat tulus meskipun tetap dibumbui dengan persaingan paham di sana-sini. Dia selalu menginginkan yang terbaik bagi Jati; ingin mengeluarkannya dari Saduki Klan, ingin menuruti apa saja keinginannya, bahkan sampai rela membagi Marja hanya demi melihat Jati bahagia! Dan setiap membaca bagian sentimentil Yuda mengenai perasaannya terhadap Jati, rasanya saya siap mati bahagia kapan pun. no, my fujoshi default cannot be turned down by this flood of hints everywhere.

So yes, intelligent content, good plot, great characters, and nice hints! could make me throw all my 5 stars for this novel.

Bias much, eh? Just let me go back and keep fangirling over Yuda and Jati, please.

Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
December 26, 2008
Akhirnya selesai juga membaca buku berat nee..
bukan berat kilo-annya, tapi juga isi ceritanya..
tak rela aku membabatnya tanpa benar-benar mengunyahnya sampai 30 kunyahan hehehe..(ngawur).
Yup, karya Ayu Utami, kali ini menggeser urutan Saman dan larung dalam daftar buku yang kusuka. really I like it.

Novel ini berkisah tentang perjalanan persahabatan 2 lelaki pemanjat tebing, Yuda dan Parang Jati. Pertemanan keduanya mengalirkan dialog-dialog pemikiran yang kemudian bersinggungan dalam 3 ide yang di kritik oleh novel ini. yaitu:Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme. Perselingkuhan cinta segitiga (3M), dalam novel ini di telanjangi sebagai alat kekuasaan. Kekuasaan yang merusak alam. Dan cara agar tak terjebak menjatuhkan kebenaran menjadi kekuasaan adalah "laku kritik". Mau tau apa itu laku kritik?..baca sendiri lah. :)

Novel ini cenderung lebih banyak memuat buah pemikiran, dari pada alur cerita dan dinamika tokoh-tokohnya. Dan ini pula yang membuat Novel ini menarik bagiku.
Terutama teori tentang bilangan Hu dan Fu. Bilangan satu dan nol, yang jika bilangan apapun yang dikalikannya dengannya adalah satu.

Simbolnya mirip pusaran air. Penasaran ku untuk Ayu Utami, apakah bilangan Fu ini dari pemikirannya sendiri atau ada sumber lain?. Ulasannya begitu menggelitikku untuk terkagum-kagum. Kok bisa iseng banget memikirkan bilangan yang dari dulu, dari jaman kuno dulu ada, dan tak pernah dipertanyakan dalam jenjang sekolah-sekolah formal. Mempertanyakan kenapa angka nol harus 0, atau kenapa satu di simbolkan 1?.

Novel serius banget. Paparan data sejarah yang seperti kliping dalam novel ini, justru membuatku was-was dan merasa novel ini berusaha memberitahukan sesuatu di balik kesamaan sejarah disekitarku. Seperti, iya, masa itu aku juga pernah baca beberapa rumah sakit kelebihan pasien. Ada isu dukun sentet, kolor ijo dan banyak macam. Dan kukunyah sebagai informasi, bukan kebenaran.

Selesai membacanya, buku ini dihiasi lipatan-lipatan bagian penting yang kusuka. kelak akan ku buka lagi, dan kukunyah lagi.

Review ini kunyahan pertama ku. :)
Nyam..nyam.
Profile Image for Irwan.
Author 9 books122 followers
May 29, 2009
Buku yang menarik dan menyajikan ide-ide yang layak disimak dan direnungkan mengingat merebaknya fenomena 3M di masyarakat Indonesia.

Pada awalnya aku cukup skeptis dengan buku ini. Karakternya terasa agak artifisial, stereotipikal dan sekedar menjadi alat corong suara untuk ide-ide yang ditampilkan. Seperti yang dilakukan Dan Brown dalam Angels and Demons yang mempertentangkan agama dan sains. Foto Ayu Utami yang terpampang di kulit belakang buku juga terus membayangi suara maskulin tokoh utama novel yang bersudut pandang orang pertama ini. Terutama penggunaan ungkapan-ungkapan yang menggambarkan persepsi dan fantasi seksual khas pria. Sedikit kesangsian diawal ini perlahan menyusut karena konsistensinya sepanjang cerita.

Menurutku ini adalah sebuah novel ide yang surealis. Sanggahan-sanggahannya tegas tapi tidak garang. Karena kegarangan hanya akan memicu reaksi yang kontraproduktif. Ayu Utami tampaknya lebih memilih "to show" alih-alih "to tell". Sebagai pembaca saya mencatat ide-ide seperti keterjebakan monoteisme dalam kontradiksi klaim penyelamatan dan penguasaan. Bagaimana secara inheren isme ini tidak bisa koeksis dengan isme lain, seberapapun gencarnya pengikutnya mengklaim "toleransi", dsb. Karena masing-masing menilai kebenaran diri dan (kesalahan) yang lain dengan kerangkanya masing-masing. Pada tingkat ekstrem, modusnya adalah "tunduk atau musnah".

"Laku kritik" adalah jalan tengah yang ditawarkan. Sebuah solusi pragmatis yang saya rasa diambil dari kebutuhan koeksistensi. Novel ini sendiri mungkin bisa dilihat sebagai suatu manifestasi laku kritik tersebut. Saya akhiri pembacaan novel ini dengan harapan akan lebih banyaknya novel, ide atau ungkapan kesadaran serupa di masa mendatang.


Profile Image for Nun.
48 reviews6 followers
January 3, 2009
ayu utami.... dari mana inspirasi buku ini awalnya? duh bisa jadi cerita kek gini brapa lama pencarian datanya ya... bagaimana otakmu memproses semuanya...

its amazing.....

bagi yang tidak mau menerima perbedaan sebaiknya tidak membaca buku ini, daripada ntar bukunya dibakar hehehe....

Persahabatan Sandhi Yuda, Parang Jati, dan Marja menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan pemikiran-pemikiran penulisnya yang dianalogikan sebagai pemikiran Yuda sebagai tokoh utama. Buku ini benar-benar mengusung Spiritualisme Kritis seperti yang digemborkan. Selama ini, bahkan sebagian kita tidak bertanya –baik tidak boleh atau tidak ingin bertanya- tentang hal-hal yang berbau Tuhan dan agama, seakan semuanya harus dijalani saja, bahkan hanya mempertanyakan tentangnya adalah sebuah dosa, apalagi melakukan pengkajian dan analisis keilmuan. Menguaknya seperti kita menguak mitos dalam acara ‘usut asal’
Tuhan menurunkan nabi untuk membawa firmanNya yang terbungkus dalam ‘agama’ untuk memperbaiki moral dan ahklaq segenap manusia. Agama memasang aturan ibadah serta dosa, balasannya adalah surga atau neraka. Lalu bila tidak ada lagi korelasi antara ibadah dengan moral, masihkan agama diperlukan? Maksud ku di sini : di jaman ini, tidak selamanya, atau tidak lagi seseorang yang beragama adalah sosok dengan moral baik dan sebaliknya. “Bila dunia ini hanya ada kebaikan, kita tak memerlukan malaikat, karenanya kita juga tak memerlukan iblis”
Profile Image for lex.
140 reviews32 followers
March 21, 2025
Dit had geen roman moeten zijn maar non-fictie. Leest voor geen meter.
Profile Image for Fitrah.
46 reviews7 followers
June 15, 2021
Udahlah ya, Ayu Utami itu gilak banget emang buku-bukunya, kacau banget aku suka parah sama buku ini. Ini novel tapi rasa essai, komplit banget isi novel ini.
3 reviews
October 11, 2008
This week, the court for Habieb Rizieq was held on the accusation of provoking group of mass attacking their ‘enemies.’ Still well-remembered, two groups of people, two different beliefs, two truth of self-assumption, were confronting each to each, they say, attempting to erect the truth. Truth? For whom? The mentioned-case is an notable example of how easy to fertilize hatred to the outsiders of certain ‘non-believers.’ Pluralism, even Islam recognizes the fact, is no longer, for this nation-Indonesia, a potency to leverage the prestige, or, even the welfare. Pluralism is nothing but tool: tool to power. On-the-name-of-religion conflicts are common here, and, now.

Self-truth: which is just self-assumption, is prominent and visible threat for this post-modernism. Self-truth tends to negates others. It is the problem of how to set the viewpoint in order to see and judge everything in proper manners.

One proposal comes fro Ayu Utami, launching her new novel, Bilangan Fu. Concerns to the above case, she comments through the novel: the needs of critical spiritualism. It needs to develop the act to critic (laku kritik) in a framework of respecting each to each without being trapped to any black-and-white dogmatic preach.

The novel comprises three major issues: modernism, monotheism, and militarism. All, she said, are the major antagonist to perform the act of post-modernism. The novel utilizes the setting of climbing activities in Watugunung, described as a place attempting to defend itself from the attack of modernism. Ayu Utami, still, creates her characters beautifully elaborated, equipped with her technique of polyphonic. She employs all: narrative and news article and journal and interior monologue. What makes this novel amazing is the fact that she must perform huge research before composing the story. She grasps the traditional myths and Bible and puppet (wayang).

Yuda, her major characters, represents an idea of modern that views everything from modernistic viewpoint: rationalism and capitalism. The language he knows is bet (p.6). he doubts everything: social values and myth and others. He is ‘the devil.’ However, this character is the opening gate for another character to show: Parangjati. He is ‘the angel’: the preacher. Yuda doubts and questions, Parangjati answers.

The first section, Modernism, is the confrontation of rational viewpoint and act to traditional life’s way and myth. The preacher: Parangjati, has these:
1. Superstitious is considered wrong due to the emergence of modern thinking, though modern thinking cannot fully free from it.
2. People freed from superstitious, through modern thinking, are those who gain benefits: the capitalist.
3. Modernism is private intended tools to utilize superstitious.
4. Superstitious, indeed, is required.

Critique to monotheism is becoming the central point of the second section. It criticizes the Semitic religion: monotheism, as those who frequently involved in the conflicts. Parangjati compares concepts of god in monotheism to those in eastern religion in order to figure out the grass root of the tendency. Parangjati says that the concept of one-ness in monotheism tends to negate others. God comes in negation. It differs in eastern religions, recognizing the concept of shunya (zero) in god. This, he concludes, creates an atmosphere that can accept outsiders as shunya is able to be everywhere. Of course, the faults are in the bearers.

Parangjati yells the needs of considering the ancient tradition: the rites and the myth and beliefs, to maintain the order of life. Earth, he says, is not solely provided for human, but, other creatures: the visible and the invincible.

‘The only thing to manifest today is goodness; truth must be held high, and not to touch the Earth, not manifest today. For, if truth manifest today, it is nothing but power (p. 408).’

The third, Militarism, is his conclusion and emphasis to the enemies of post-modernism. Modernism, monotheism, and militarism are tools only for those attempting to gain self-benefit.

‘The people of post-modern are behaving act to critic. No longer they tend and behave anti to attempt the liberation of others from the dark. Act to critic is awareness that truth is everywhere and, behind dark shadow of the will to power. What we can do is to criticize the power persistently: not to ruin it, but to balance. In this case, monotheism needs to learn from eastern religion, that does not view people between the war of God vs. devil, but as the act of equalizer.

Outward, act to critic represents the balancer of over powers. Inward, act to critic hold high self-truth. Truth is mystery, if down-to-earth, will manifest to laws: pipe and infuse pumping hallow breath.

For self, act to critic hold the mystery of truth and laws, higher than surface, so that good and peace may develop naturally on earth.’ (pp. 470-80)
Profile Image for Iko Wahyu P.
2 reviews
May 28, 2011
lagi liat katalog eh ada ni buku satu,hehe mumpung belum terlalu lama selesai bacanya dan terbilang masih sangat segar (thanks to dinni karena udah bikin gw ga tidur 2hari buat nyelesain ni buku hhahaha) serta kbetulan (yang gak betul) hari ini emang "my another lazy day" yaudah iseng aja ngreview ni buku. --intro

Ini buku Ayu Utami pertama yang saya baca. dan juga novel tertebal pertama yang saya telan.
novel ini sangat unik..secara jujur, saya mengaku telah ditelanjangi habis2an sama ni buku tebel. prinsip rasional dan ego idealisme saya mengenai logika seperti disayat2 pelan terlebih dahulu dengan elemen abstrak yg disebut 'keyakinan' tapi tidak dibunuh dan dtinggalkan begitu saja agar empiris saya menyaring kembali. tapi justru karena kontrasnya itu buku ini berhasil bikin saya berkontemplasi tinggi tentang spiritualitas.

buku 'abu2' antara fiksi dan non fiksi ini terasa peka dengan dimensi zaman. singgungan mengenai 3M(Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme) diramu kental dengan kombinasi anologi filosofi akulturasi jawa-sundanya.
buku dengan 500 lebih halamannya ini benar2 sajian new special main course, singkatnya benar berat isi dan terpaket rapi dengan simpul sudut pandang baru yang agak pahit dan kontradiksi dengan rona penglihatan kita selama ini (bukan fasis dan bukan anti namun kritis)..yang selebihnya harus dibaca sendiri dengan ketiga mata serta sediakan pemikiran lebih luas untuknya.

hahahaha..dan lagi2 cuma menambahkan kalau saya sangat rindu dengan sosok marja dalam buku itu. sosok malaikat abu2 yang polos, manja, sempit, namun sangat terlalu indah hangatnya. sosok itu tergambar sangat mirip dengan 'kamu si hatiku'. miss you...
Profile Image for tata.
111 reviews5 followers
January 2, 2023
Membaca Ayu Utami ialah membuka diri pada kemungkinan besar bahwa saya akan jatuh cinta pada laki-laki red flag dan hubungan “aneh” yang ia tulis. Saya belum membaca Ayu Utami karena alasan-alasan sederhana: (1) novelnya begitu tebal, (2) belum kuat memikirkan hal yang ia tulis, dan (3) tema yang ditulisnya kurang menarik bagi saya.

Kalimat tersebut pernah saya tulis di salah satu cuitan saya (more or less) tentang bagaimana rasanya di awal tahun, saya justru menata ulang rak buku saya (yang tidak banyak isinya karena saya terlalu miskin untuk membeli buku fisik), kemudian menemukan bahwa pacar saya pernah membelikan Bilangan Fu (yang sebelumnya belum pernah saya baca). Karena rasa gabut yang gatal dan hawa musim-musim akhir tahun yang menyedihkan, saya pun menariknya dari rak dan mulai membacanya.

Pada 2022, salah satu buku Ayu Utami, yang menjadi buku pertamanya yang saya baca, berjudul Manjali dan Cakrabirawa. Meskipun banyak mengisahkan hal menarik dan penulisannya yang luar biasa magis, saya tetap memberi nilai hanya 3/5 dan menjadikan saya “trauma” dengan Ayu Utami. Hal menarik tentang saya sebagai anak sastra, dalam hal ini membaca sastrawan sebernama beliau, ialah saya enggan membacanya karena ia sudah terbiasa dibaca dan didiskusikan di kalangan pecinta sastra juga. Saya berani sumpah jika saja saya bercerita kepada semua orang bahwa saya hanya membaca Pram dengan satu buku saja, Bumi Manusia, dan masih enggan membaca karyanya yang lain; mungkin saya sudah dicap sebagai Yudas.

Membaca Manjali dan Cakrabirawa tidak membawa kesenangan yang menggugah bagi saya, apalagi tentang geologi dan arkeologi yang disenangi Ayu Utami merupakan hal yang sangat tidak menarik bagi saya. Di Bilangan Fu, yang kali ini saya baca, anehnya saya melupakan Manjali dan Cakrabirawa, melupakannya sama sekali dan seolah-olah baru mengenal ekstasi dari ganja yang tanpa sadar pernah saya coba.

Bilangan Fu menggunakan sudut pandang Sandi Yuda, seorang laki-laki perkasa yang gemar militerisme, dan sedikit banyak membenci perempuan, kecuali kekasihnya sendiri, Marja Manjali (di berbagai sisi juga dia tetap sentimen terhadap perempuan). Namun, pertemuannya dengan Parang Jati, seorang malaikat yang mengenalkannya pada pemanjatan bersih dan membuat mereka bertiga terlibat dalam cinta segitiga yang aneh, membuat Yuda mulai “merevisi” banyak hal dalam hidupnya. Kisah cinta segitiga ini menjadi salah satu drama yang membuat novel ini menjadi tidak membosankan, tapi juga sekaligus benang merah dari cerita karena mengandung pesan penting. Kisah cinta itu sangat tidak biasa karena mereka mengetahui dengan pasti ada segitiga tak kasat mata yang justru membuat mereka “nyaman” berbagi.

Namun, hal lain yang mengesankan tentang Bilangan Fu ialah porsi bercerita dari Yuda yang justru banyak diisi oleh ceritanya mengenai Parang Jati. Yuda menceritakan Parang Jati seperti menceritakan kekasih, menceritakan dari mana Jati berasal dan masa kecil sahabatnya yang bermata sepolos bidadari itu. Saya meyakini bahwa Yuda tidak hanya mencintai Marja dan tidak bermasalah Marja membagi cintanya dengan Jati, tapi Yuda juga teramat mencintai Jati.

Bilangan Fu merupakan buku spiritual yang epik. “Spiritualisme kritis” yang ditulis Ayu Utami memungkinkan saya berkali-kali terkesiap dengan apa yang saya baca. Membahas tentang alam, kepercayaan, agama, dan bentuk-bentuk ketuhanan; yang dilapisi unsur sejarah nan kental membuat novel ini menjadi salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Gaya bahasa dan tulis Ayu yang vulgar menjadikannya salah satu dari beberapa penulis Indonesia yang paling saya senangi. Meskipun rangkaian novelnya ini tidak saya baca dengan urut, tetapi sejauh ini tidak menjadi masalah bagi saya. Ayu Utami menuliskan banyak riset, banyak pemikiran, banyak unsur-unsur spiritual yang mungkin tidak begitu dipahami pembaca; tetapi menjadikan pembaca tercenung dan berpikir. Dengan ending yang mendebarkan, Bilangan Fu menjadi buku terbaik yang saya baca sebagai pembuka di tahun 2023.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
December 21, 2020

“Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebeneran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan. Tapi kau juga tak boleh membuang kebenaran dari pundakmu seperti benda tak berharga. Sebab, jika demikian, engkaulah si congkak berhati degil itu.”


Akhirnya... Setelah perjuangan ± 2,5 bulan, buku ini bisa aku tamatin juga... Huft....!! Membutuhkan waktu yang panjang buatku untuk menyelesaikan 'Bilangan Fu’ ini, jika dibandingkan dengan karya Ayu Utami yang lain yang pernah aku baca—Saman, Larung, Cerita Cinta Enrico. Selain halaman bukunya yang tebal, isinya pun bikin orang mikir 😁

Bisa dikatakan buku ini, adalah buku dengan kategori pembahasan berat. Bahkan aku menyebutnya bukan sebagai novel. Sebab, garis besar isi dari ‘Bilangan Fu‘ adalah bentuk kritik dan tentang sudut pandang si penulis mengenai beberapa hal.

Yakni mengenai 3M: Modernisme, Militerisme, Monoteisme. Tema yang berat bukan? Ini kalo nggak pinter-pinter cari selingan bacaan lain.. bisa 'dnf‘. Seperti yang aku bilang tadi, bahwa buku ini berisi kritik, tentang sudut pandang si penulis.

Jadi bisa dipastikan, isinya berupa deskripsi panjang yang menjelaskan tentang hal-hal yang menyangkut dengan tema yang di angkat penulis. Dan, bagi aku pribadi, jalan cerita dari kehidupan para tokoh di buku ini, hanya sebagai bonus, sebagai hiburan, karena kita berhasil menamatkan buku ini.

Dan, lagi lagi, dalam 'Bilangan Fu‘ ini, aku di buat takjub dengan sosok Ayu Utami. Seperti pada buku sebelumnya, beliau begitu berani dan lugas dalam memberi kritik dan menunjukkan sudut pandang beliau mengenai suatu hal. Ya.. Walau tidak semua yang beliau kemukakan aku setujui.

Ada beberapa hal dari apa yang beliau ungkap tidak cocok dari sudut pandangku. Tapi, aku juga tidak begitu mempermasalahkan sudut pandang beliau. Karena, bagaimana pun juga setiap orang memiliki sudut pandangnya tersendiri akan suatu hal.

Hmmm.. Akan sangat panjang kalo membahas tentang penulis yang satu ini beserta karyanya. Jujur saja, banyak banget yang pingin aku bahas dalam review setiap kali aku habis baca karya beliau. Tapi, kadang suka bingung gimana menyampaikannya... Karena saking banyaknya yang ingin aku utarakan betapa 'Badass-nya’ penulis satu ini beserta pemikiran-pemikirannya.


Kalian hanya perlu baca karya Ayu Utami biar tahu gimana 'Badass-nya‘ beliau ini. Tapi, sebelum baca karyanya.. Terlebih dahulu yang harus kalian lakukan adalah membuka pikiran seluas-luasnya. Sebab, bisa jadi, apa yang beliau kemukakan tidak akan cocok dari sudut pandang kita.


Karena itu, dibutuhkan keterbukaan pikiran, kelapangan hati untuk menerima sesuatu yang berbeda dari sudut pandang kita. Takutnya, orang yang tidak biasa menerima perbedaan bisa jadi tidak terima bahkan mungkin tersinggung dengan pemikiran-pemikiran beliau.


Well, sampai di sini dulu review suka-suka dari aku. Semoga bisa bermanfaat buat kalian sebagai info tentang sekelumit karya Ayu Utami, barangkali di antara kalian ada yang belum pernah membaca karyanya. Dan, syukur-syukur kalo review-ku ini bisa jadi penggerak kalian untuk membaca karya-karya beliau... 😊


Akhir kata aku mau ucapin makasih untuk waktu yang kalian sempatkan demi membaca review ini.. Mohon maaf kalo ada pendapatku tentang buku ini yang tidak pas di hati kalian.. Karena review ini adalah bentuk penilaianku pribadi mengenai buku ini... 😊
Oke, sampai ketemu di review suka-sukaku selanjutnya ya... 😉
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
August 11, 2019
Saya mulai membacanya pada bilangan hu dan berakhir pada bilangan las. Rasanya cukup beruntung ketika saya membelinya dari seorang penjual buku loak di basement Blok M karena saya tak sanggup kalau beli cetakan baru yang harganya tentu saja sudah naik dua kali, dan ini masih cetakan pertama berumur 11 tahun tepat.

Bilangan Fu sebetulnya tidak begitu terlintas dalam benak saya untuk membacanya, rasa penasaran itu muncul tatkala saya mulai gandrung dengan rasa bahasa dan kalimat narasi yang dimiliki mbak Ayu dalam dwilogi Saman-Larung, bagaimana ia mendobrak batas-batas bahasa Indonesia dengan memasukkan beberapa kata dalam bahasa jawa agar kalimat lebih luwes sekalipun itu tidak sesuai dengan kaidah bahasa.

Buku ini dikatakan sebagai roman, tapi ini bukan soal romansa pemuda pemudi belaka, ini tentang berpikir--menjadi kritis dalam spiritualisme, tentang kebenaran yang harus diolah dan tak harus dipaksakan dengan nafsu agar bisa menyesuaikan dengan pola pikir. Semua itu memang membuat buku ini memiliki bobot tersendiri dalam dimensinya sebagai spiritualisme kritis.
Soal romansa tiga manusianya, entahlah, saya orang tak begitu menikmati kisah cinta (tapi ini bukan soal itu, ini lebih pada bagaimana pemikiran seseorang berbenturan dengan pemikiran orang lain sehingga menghasilkan cara pandang yang berbeda).

Saya merasa hubungan Yuda dan Parang Jati bisa termasuk sebagai bromance (tapi entahlah kenapa saya terpikir bahwa mereka bisa saja pasangan gay/biseks dan membayangkan ada orang yang terpikir fanfiksi mengenai hubungan khayali dua orang ini dalam imajinasinya).

Saya suka pemikiran dan cara pandang Parang Jati, tapi saya sendiri pun juga memiliki sifat yang sama seperti Yuda yang jengkel pada isi televisi (terasa pas saja ketika di momen saya membaca ini banyak orang-orang sudah muak terhadap apa yang tersaji pada layar kaca hari ini)

Dan tentu saja ada bumbu erotis nyaris fantasi dan seperti waktu membaca Larung, ada kesan seperti cerita horor.

N.B. Saya tak sepenuhnya setuju soal ancaman 3M itu, bahkan yang ada sekarang pun perlu dipertimbangkan kewaspadaannya akan radikalisme, fanatisme, dan entah apalagi yang bisa terjadi kedepannya.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
October 2, 2022
Setelah melewati kembang kempisnya semangat dalam proses membaca novel Bilangan Fu ini, akhirnya tiba juga pada kelegaan karena berhasil merampungkan kisah Sandi Yuda, Parang Jati dan Marja secara utuh. Novel ini adalah salah satu novel yang saya baca dengan sangat l a m b a n. Bukan tanpa alasan, karena banyak sekali hal yang harus saya serap dalam sekali waktu. Novel ini bercerita tentang Sandi Yuda seorang pemanjat tebing yang merupakan kekasih dari gadis bernama Marja. Pada suatu ketika Yuda bertemu dengan Parang Jati seorang pemuda istimewa yang kemudian dalam prosesnya banyak merubah sudut pandang dan pola pikir Yuda dalam menjalani kehidupan. Kisah mereka menjadi begitu menarik karena dibentuk dengan perpaduan beragam unsur didalamnya seperti politik, agama,tradisi, mitos yang beredar di masyarakat,keluarga dan juga asmara sehingga terciptalah semesta "Bilangan Fu" yang unik.

Secara garis besar novel ini dibagi menjadi 3 bagian yang masing-masing menyoroti spesifikasi cerita berdasarkan urutan kejadian yang saling berkaitan. Cerita berjalan dengan cukup lambat namun sungguh padat karena memang novel ini sendiripun cukup tebal, yaitu 560 halaman. Penulis mengisahkan adegan demi adegan dengan cukup terperinci bahkan pada beberapa bagian diberikan ilustrasi yang menarik untuk mempermudah pembaca memahami maksud dari cerita tersebut. Selain itu untuk memperkuat karakter, pilihan diksi juga sangat diperhatikan oleh penulis. Disepanjang cerita akan banyak ditemukan kata-kata yang mungkin saat ini jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dimana hal tersebut dapat juga diartikan bahwa penulis ingin menciptakan karakter atau tokoh yang mempunyai pemikiran kritis dan juga berwawasan luas.

Menurut saya, novel ini akan menjadi membosankan jika dilihat dari sudut pandang jalannya cerita yang lambat. Tetapi menjadi sungguh menarik jika kita bersedia tenggelam dan berkelana bersama para tokoh yang ada dalam cerita. Pada akhirnya, setiap cerita akan bertutur dengan caranya masing-masing. Kembali kepada bagaimana pembaca memaknainya.
Profile Image for Rei.
366 reviews41 followers
January 16, 2019
7/50 for 2019⁣
#finishedreading Bilangan Fu oleh Ayu Utami.⁣

Modernisme: sikap manusia modern yang tidak lagi mempercayai takhayul dan kekeramatan alam, sehingga mereka berbuat semena-mena karena tak lagi takut akan konsekuensinya.⁣
Monoteisme: mempercayai hanya ada satu tuhan sehingga tidak menoleransi kepercayaan lain, tidak menyisakan tempat untuk perbedaan.⁣
Militerisme: menyalahgunakan kekuasaan militer untuk menebar kekacauan dan kekerasan demi mendapatkan kekuasaan.⁣

Berlatar belakang pasca-reformasi dimana kekuasaan sedang goyah, Ayu Utami mengangkat ketiga tema di atas untuk mengritik gaya hidup modern yang sewenang-wenang dalam memperlakukan alam dan sesama manusia. ⁣

This book is mindblowing! Aku dibuat takjub dengan pemaparan fakta-fakta sejarah dan cerita-cerita rakyat yang melegenda. Penggambaran karakternya sangat kuat, dan walau dialognya panjang-panjang, tapi mudah untuk dipahami dan sangat menyentil (kecuali untuk segala tetek bengek tentang bilangan itu, aku kurang paham). Namun dengan tema yang sensitif seperti ini tentunya kita membutuhkan pola pikir yang terbuka, dapatlah kukatakan kalau dalam buku ini, tidak ada hitam dan putih.⁣

"Manusia di masa ini harus menduga peta dan memasang bor untuk menemukan sumber air. Sebab mereka membunuhi makhluk- akhkuk yang membukakan bagi kita jalan-jalan kepada air kehidupan. Ikan-ikan keramat yang memiliki gerigi pada ujung raut, untuk menyerut liang-liang kepada sungai-sungai rahasia. Ikan keramat itulah yang memunculkan kepada kita sendang-sendang istimewa. Kini kalian membunuhnya." -hal 490.⁣
Profile Image for Ririenz.
62 reviews26 followers
November 11, 2009

BILANGAN HU ( )
Ayu Utami
Kepustakaan Populer Gramedia, Juni 2008
573 Halaman

Rasanya lumayan panjang juga jeda yang aku butuhkan untuk menikmati lagi karya lain Ayu Utami ( AU ) selain “ Saman “. Khas AU memang jika dia selalu membuat kening pembacanya berkerut penuh tanya. Kali ini AU datang dengan “ Bilangan Fu “ untuk meneror para penikmatnya. Ia menyuguhkan sebuah konsep spiritual yang boleh jadi hal itu di luar pemahaman kita sebelumnya. Atau kita sebenarnya sudah paham tapi terkadang sulit untuk mengkomunikasikannya dengan orang-orang disekeliling kita.

Bilangan Fu merefleksikan kekecewaan dan keprihatinan AU atas penganiayaan juga kesewenang-wenangan terhadap lingkungan serta budaya yang terjadi di sekeliling kita. Manusia ( yang katanya ) bertindak sebagai khalifah di bumi ternyata tidak mampu menunjukkan rasa hormatnya kepada lingkungan dan budaya yang tercipta di masyarakat, bahkan tega-teganya berusaha untuk mengangkangi demi memantapkan ideologi kapitalis. Hal ini diungkapkan AU pada halaman 452 ;

“ Agama langit terbukti tidak bisa menyelamatkan alam. Agama bumi secara sistematis memelihara alam. Sayangnya agama-agama bumi ini telah terlindas nilai-nilai baru untuk : modernisasi, monotheisme dan militerisme “.

Agama bumi ini maksudnya adalah kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh nenek moyang kita, contohnya kepercayaan yang masyarakat jawa kuno, yang disebut kejawen. Kebudayaan kejawen ada yang masih dilestarikan hingga kini misalnya acara tedak siten dan tujuh bulanan pada bayi.

Lalu AU menawarkan sebuah gagasan baru yang dinamakannya “ Neo-Kejawan “ dengan sinkretisme sebagai teksnya. Gagasan ini menekankan pada pemahaman dan kegiatan yang berupa laku kritis, seperti yang dipaparkan pada halaman 384-385.

“… Perbedaan utamanya terletak pada daya kritisnya. Spiritualitas jawa lama tidak merumuskan daya kritis. Spiritual lama tersedot pada rasa dan cipta tapi mengabaikan logika. Menekankan pada inspirasi tapi tidak analisa sama sekali. Spiritualias baru ini milik orang-orang yang rasional namun sekaligus kritis pada rasionya. Milik orang-orang yang telah mengenal modernisme tapi tidak tertelan pada modernisme. Milik orang-orang postmodernis.”
“… Spiritualitas baru ini senantiasa kritis pada asal dan tujuan hidup. Karena itu ia menundanya dan memusatkan cipta dan karsanya pada bumi ini.”
“… Spiritualias ini lebih tertarik pada bumi dari pada langit. Lebih wigati pada dunia ketimbang akhirat.”

Aku setuju dengan gagasan AU soal laku kritis ini, tetapi seperti aku tidak sepaham soal cara pandang AU terhadap agama langit. Sebagai muslim yang sejak kecil sudah dijejali doma-dogma yang termaktub dengan pasti dalam Al-Qur’an, aku percaya bahwa Tuhan YME sebenarnya sudah memberikan aturan yang baik untuk bumi dan alam semesta ini beserta isinya hanya saja daya nalar kita sering tidak mampu dan terengah-engah memahami petunjuk Tuhan YME, karena memang kita adalah makhluk-Nya yang sangat berbatas. Dan bagusnya pada novel ini AU tidak terjebak dalam pergulatan dogmatis yang terkadang bisa berujung perpecahan.

Apakah Bilangan Hu ( Fu ) itu ? Bagaimana bentuknya ? Dari mana asalnya ?

Bilangan hu adalah tanda tentang sesuatu yang ketetapannya adalah gerak. Ia mengambil bentuk sesuatu yang berpusar ( ), tidak berbentuk cakra tertutup, seperti nol ( O ) atau berbentuk bindi hitam ( ). Perangkatnya adalah :

Ji Ro Lu Pat Mo Nem Tu Wu Nga Luh Las Sin Hu

Hu adalah bilangan sunyi, dimana satu dan nol menjadi padu. Sebab ia bukan bilangan matematis, melainkan bilangan metaforis. Dia bukan bilangan rasional, melainkan bilangan spiritual.

Ada dua tokoh protagonist dalam novel ini, yang bernama Yuda berkiblat ke kiri sedangkan Parang Jati berkiblat ke kanan. Otomatis visi, misi serta kehendak mereka berdua banyak yang berseberangan meski satu tujuan. Mereka berdua akhirnya bersepakat ingin membangun dunia yang lebih baik dengan Neo-Kejawan yang berbasis sinkretisme. Sedangkan Kupu-kupu --- adik Parang Jati --- dengan paham monotheisme mengambil posisi berseberangan dengan mereka berdua. Diantara Yuda dan Parang Jati ada Marja --- kekasih Yuda --- yang kehadirannya melengkapi dan menjembatanai hubungan antara kanan dan kiri. Dengan lihai AU meramu idenya itu dalam jalinan kisah yang sangat mengagumkan. Novel ini bersetting di sebuah tempat yang kaya akan batuan kapur bernama Watu Gunung.

AU menjadikan Watu Gunung sebagai contoh atau lebih tepatnya potret dari sebuah negara atau dunia beserta permasalahan yang menyelimutinya. Semua kejadian yang terjadi di Watu Gunung adalah gambaran kongkret permasalahan-permasalahan akibat modernisasi dan kapitalisasi yang berujung pada eksploitasi di berbagai bidang kehidupan. Selain bisa mengikis kadar spiritual seseorang atau kelompok, modernisasi dan kapitalisasi membuahkan percikan-percikan api akibat gesekan yang terjadi antara golongan dan kepentingan. Kaum agamis fundamentalis dan moderat saling berhadapan untuk mempertahankan dan menyelamatkan argumennya masing-masing. Modernisasi dan kapitalisasi tentu saja melibatkan peran militer agar bisa lebih berkembang. Jika sudah demikian pasti akan ada pihak-pihak yang terdzolimi lahir – bathin yang akhirnya mau tak mau membebek pada pemenang.

Novel ini banyak menyajikan dialog-dialog cerdas yang memperkaya wawasan pengetahuan kita. AU juga banyak memperkenalkan kosakata bahasa Indonesia yang sepertinya jarang dipergunakan dalam bahasa lisan dan tulisan, misalnya; periferi, menabal, bergoler-goler, miang, terpelecok mendebik, membeting dan masih banyak lagi --- sampai capek bolak-balik buka kamus bahasa Indonesia ---.

Aku suka Bilangan Fu, karena menunya lumayan komplit, ada serius, ada humor, ada romantis, ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada yang memuakkan, ada yang “ bunglon “ dan pula ada sex-nya. Sepertinya aku sedikit terganggu dengan kehadiran guntingan-guntingan berita koran di beberapa halaman novel. Tapi aku menyukai artikel yang dibuat oleh Parang Jati yang berjudul “ 3M : Tiga Musuh Dunia Postmodern “ dan 3M itu adalah Modernisasi, Monotheisme dan Militerisme.

Covernya juga unik seperti lukisan kalung etnik padahal sepertinya itu symbol dari Bilangan Fu. Dan ternyata lukisan cover itu karya AU sendiri.

Jadi…Baca deh Bilangan Fu…



~* Rienz *~













Profile Image for Vioo.
121 reviews12 followers
May 11, 2022
diksi yang cantik, untaian kata yang halus, dan sudut pandang tokoh utama yang unik.
kalimat deskripsi yang rinci, eksotis cenderung vulgar dan menyegarkan
the writing style is really friggin captivating,
analoginya juga aaaaa cakep betulllll
sorry but cant help to compare this work with her previous novel (saman), this book is supah dupah depth and immaculate
hhh please, i like the writer way's to describe the intimate feeling

"rasa ini tak bisa dicari atau dibagi. ia sungguh intim sendiri. membaginya sangat berbahaya menjadi penyesatan. kata-kata hanya bisa memuat apa yang terukur, padahal ia tak terukur."

ada beberapa bagian yg repetitif tapi kekurangan ini gue maafin soalnya istg diksinya cantikkkkk bgt
banyak kosa kata yg baru gue tau juga haha
trus juga gue ngerasa sedikit aneh dibagian ketika deskripsiin penulis asli (ayu utami) dari sudut pandang orang yg cerita skksk
tapi plis banyakkkkk bgt quotes yg gue suka juga huhu

novel ini banyakkkk bgt ngasih pelajaran, terutama:
1. besikap satria lan wigati (omg plisss contoh parang jati yg sopan santun dan bersikap politically corect)
2. filter data
3. bersifat laku kritik sebagai manusia postmodern agar menguasai pengetahuan, bukan dikuasai pengetahuan

sebenernya intrik kisah cinta mereka bertiga ga terlalu kerasa tapi HUAAAA KOK MALAH GUE JATUH CINTA SAMA MEREKA BERTIGA????

uhmazing!!!!
Profile Image for Ares Reva.
63 reviews2 followers
September 28, 2020
Bagus sih tetapi membaca ini harus banyak berpikir. Atau mungkin buku ini termasuk sastra berat.
Saya jatuh cinta sama semua tokoh di sini. Ceritanya canpur aduk tetapi stabil. Gimana ya jelasin ya? Ada kejawen, ada spiritualnya, ada feminisnya, ada modernismenya, militerismenya, semuanya campur aduk di sini.
Novel ini kayak menyindir semua hal tentang dunia dari si darwin bilang monyet sampai sekarang.
Awalnya saya tertarik dengan ikisah romansa triangle love itu tetapi ternyata ini tidak seperti bayangan saya. Benar-benar kisah yang rumit tetapi stabil kayak memang pantas tiga orang ini terlibat seperti ini
I give ⭐ : 4.0
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 3, 2018
Cerita bagus dengan muatan sarat pesan, tapi entah kenapa gak klik di hati. Mungkin karena itulah, muatannya terlalu berat buatku, laku kritik 3 hal sekaligus, modernisme-monoteisme-militerisme. Aku suka dialog-dialog Parang Jati/Sandi Yuda, tapi kemudian jatuhnya malah menyiratkan idealisme Parang Jati yang pada akhirnya -tidak bisa tidak- meminta tumbal sangat besar. Aku mungkin seperti Yuda, pengecut yang mewarisi dunia, sedangkan Parang Jati adalah visioner yang membentuknya namun tak pernah sempat menikmati.

#GD
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
May 6, 2019
Ini pembacaan saya kedua setelah tahun 2008 sewaktu masih menjadi mahasiswa sastra. Tidak bisa dipungkiri, semakin dewasa seseorang, semakin mendalam pula pembacaannya. Dalam pembacaan kedua ini, saya lebih merasakan sosok Parang Jati; bagaimana perjuangannya dan hidup dengan jalan pikirannya yang berkebalikan dengan banyak orang.

10 tahun sudah Bilangan Fu terbit, dan selama itu pula buku ini dibutuhkan untuk dibaca orang Indonesia karena temanya masih relevan hingga sekarang.
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
May 21, 2018
Yuda. Parang Jati. Marja.

Buku ini bukanlah buku yang bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Ya karena 500an halaman ya tentang ceritanya yang memang perlu dipahami. Monoteisme, tentang cerita legenda rakyat Jawa, tentang perwayangan hingga bagaimana cara pandang Parang Jati tentang kepercayaan, agama, dsb dsb.
Displaying 1 - 30 of 408 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.