Jump to ratings and reviews
Rate this book

A Cup of Tea for Writer

Rate this book
Belakangan ini, menulis terdengar sangat seksi. Begitu banyak orang yang ingin menjadi penulis. Motivasi mereka pun beragam. Dari mengisi waktu senggang, ingin terkenal, hingga mencari nafkah. Impian untuk menjadi seterkenal J.K Rowling pun melambung. Terkenal, royalti melimpah, tulisan difilmkan, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan seterusnya.

Namun, jalan menuju dunia penuh pesona itu tak selalu mulus. Banyak kerikil tajam yang harus dilalui. Terkadang, ada air mata tertumpah. Ditolak berkali-kali oleh penerbit dan media massa, ditentang oleh orang-orang terdekat, dipandang sebelah mata, royalti minim, hingga ditipu penerbit. Ada yang menyalahkan keadaan, ada yang menyerah dan menggantung pena. Hanya mereka yang bertekad kuat yang mampu bertahan. Hanya mereka yang mampu menjaga pijar semangat yang dapat terus melangkah di jalan ini.

A Cup of Tea for Writer membagi semangat itu pada para pembaca. Semangat itu akan menyala di hati. Menerangi. Menghangatkan.

Tips menulis persembahan dari Mbak Reda Gaudiamo tentunya akan menjadi bonus yang mengasyikkan di halaman terakhir. Selamat membaca sambil menikmati secangkir teh Anda.

195 pages, Paperback

First published September 1, 2012

6 people are currently reading
20 people want to read

About the author

Triani Retno A.

44 books16 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (15%)
4 stars
25 (48%)
3 stars
18 (34%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Epphy Arista.
19 reviews10 followers
November 29, 2012
Nice book.
Ini adalah salah satu buku yang mampu menghangatkan hati saya.
Thank you buat semua yang udah berbagi pengalaman tentang menjadi penulis di buku ini.
Cerita dari kalian kian memantapkan keinginan saya untuk jadi penulis, bukan sekedar ingin menjadi terkenal, menjadi sok keren ataupun mengejar materi, namun ingin memuaskan batin untuk terus menulis dan menyebarkan cerita, semangat dan wawasan bagi sesama.
Profile Image for Lalu Fatah.
Author 12 books35 followers
September 19, 2012
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer

Saat ulasan ini dibuat, kutipan Pram di atas setidaknya disukai oleh 300 orang di situs Goodreads. Tertinggi dibandingkan kutipan lainnya dari karya-karyanya. Saya pun salah satu penyuka kutipan tersebut. Ketika ia ditorehkan sebagai kalimat penyemangat di buku A Cup of Tea for Writer, saya tak ragu untuk langsung menggunakannya sebagai pembuka ulasan ini.

Bagaimana tidak? Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di lingkungan akademis, saya banyak menjumpai mahasiswa yang tidak begitu akrab dengan kegiatan tulis-menulis. Mereka hanya menulis tugas kuliah. Menulis karena kewajiban yang diberikan dosen. Kalaupun terlahir karya yang dianggap masterpiece, ya hanya skripsi itu saja. Untung-untung kalau skripsi itu bisa diaplikasikan pada masyarakat luas. Kalau cuma masuk lemari arsip di kampus?

Satu hal yang bisa dipetik dari fenomena tersebut adalah menulis belum benar-benar menjadi budaya di Indonesia. Menulis masih sering dikait-kaitkan dengan bakat. Menulis dianggap kegiatan yang membosankan dan hanya cocok dilakukan oleh mereka yang kurang gaul. Mereka yang ingin menekuni profesi menulis pun dianggap tidak punya masa depan. Apa yang diharapkan dari penulis? Memangnya penulis bisa kaya?

Monica Anggen, salah satu dari 14 kontributor dalam buku ini membuka tulisannya “Merangkai Mimpi” dengan petikan perkataan ayahnya.

“Cukup! Apa yang mau kau harapkan dari menulis? Kaya? Berapa banyak penulis yang kaya? Yang ada kamu bakal jadi gembel!” teriakan papaku bergema memenuhi ruangan. (hal. 81)

Tantangan dari orangtua, khususnya ayah, juga dihadapi oleh Ririe Rengganis. Dalam “Sebab Impian Ayah Bukanlah Impianku”, ia takkan lupa bagaimana ucapan ayahnya tersebut terdengar bagai kutukan.

“Mau jadi apa kamu nanti kalau sekarang ngotot kuliah di Fakultas Sastra?” tanya Ayah dengan amarah menggelegar di siang bolong.
“Jadi penulis,” jawabku singkat.
“Penulis tidak bisa hidup sejahtera di negeri ini. Masa depanmu akan suram bila kamu memilih jadi penulis!” (hal. 8)

Ya, penulis memang belum menjadi profesi andalan di negeri ini. Bukan isapan jempol lagi kalau banyak orangtua yang menguliahkan anaknya dengan harapan agar si anak kelak ketika lulus bisa diterima kerja di perusahaan atau jadi PNS. Jadi orang suruhan, digaji, kaya.

Suatu hal yang wajar saya kira karena orangtua pasti ingin anak-anaknya sukses. Namun, kerap kali sukses diidentikkan dengan kekayaan. Padahal, apalah artinya kekayaan materi jika tidak bahagia. Apalah artinya bergaji besar jika bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan passion? Tidak sesuai dengan panggilan hati? Hidup cuma sekali, mengapa harus menghabiskannya untuk sesuatu yang bukan menjadi lentera jiwa?

Namun, tidak menampik pula jika profesi penulis mulai menuai lirikan tajam belakangan ini. Banyak orang ingin menjadi penulis. Rupanya, berita kesuksesan J.K. Rowling, Kang Abik, atau Andrea Hirata menjadi salah satu pencetusnya. Novel mereka laris-manis di pasaran yang otomatis royalti pun menggembungkan pundi-pundi rekening mereka. Belum lagi karya mereka difilmkan atau diterjemahkan ke puluhan bahasa. Efek sampingnya, popularitas penulis pun meroket di masyarakat. Penulis menjelma selebritas baru di kancah dunia hiburan dan pengetahuan di Indonesia.

Tapi, apakah hal-hal semacam itu yang dikejar oleh Ika Natassa, misalnya? Salah satu dari empat penulis tamu dalam buku ini (lainnya adalah Ollie, Reda Gaudiamo, dan Dian Kristiani) justru tidak terobsesi untuk menjadi terkenal sebagai penulis.

“… just write. Don’t pay attention to fame or money or all of this. Just stick to your story. The only ones who deserve your attention is your story and its characters.” (hal. 136)

Bahkan, bagi penulis yang telah menghasilkan empat novel serta pernah dinominasikan sebagai Talented Young Writer di Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 ini, justru menulis untuk ‘menyentuh’ para pembacanya.

“Buatku, ini penghargaan terbesar. Touching lives with words. Sounds superficial and cheesy, but sometimes it happens, and when it does, I’m flattered.” (hal. 136)

See? Menulis, sebagaimana ragam pekerjaan lainnya, bisa didorong oleh beragam motivasi. Tantangannya pun tidak main-main. Misalnya, tentangan dari orang-orang terdekat, sebagaimana yang dialami oleh Ririe Rengganis dan Monica Anggen; ditipu penerbit sebagaimana dialami Ina Inong; atau ditolak oleh media massa dan penerbit berkali-kali sebagaimana yang dialami oleh hampir semua penulis dalam antologi ini.

Namuan, hebatnya para penulis dalam antologi ini adalah semangat mereka yang tak gampang padam. Mereka ceritakan lika-liku perjalanan mereka di jalan aksara dengan gaya ‘Chicken Soup’. Tak ubahnya mendengarkan curhatan teman lama. Akrab sekali. Emosi 20 penulis dalam buku setebal 195 halaman ini tersampaikan dengan baik. Ada amarah, sedu-sedan, bahagia, narsisme, ketakutan, asa, juga tawa.

Pembaca yang ingin merintis karier sebagai penulis pun, di halaman 174-177, mendapat bonus tips menulis dari Reda Gaudiamo. Namun, secara keseluruhan, para kontributor, editor, juga penulis tamu dalam buku ini juga menyisipkan tips dalam tulisan-tulisan mereka. Buku yang amat lezat dan bergizi.

Selebihnya, penulis, menurut saya, adalah orang yang tidak kapok belajar. Dia selalu rendah hati untuk menyerap berbagai ilmu. Pada akhirnya, dia selalu bersemangat untuk membagikan ilmu tersebut, walau secuil, melalui tulisan. Sebab, ia – penulis – sadar, tulisan akan membuat usianya lebih panjang.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)
Share this:
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
September 11, 2013
Buku ini adalah buku yang disusun oleh Penerbit Stilleto sebagai penyemangat hati. Seri “A Cup of Tea” adalah kumpulan kisah-kisah inspiratif dengan tema-tema tertentu. A Cup of Tea for Writer adalah buku yang disusun untuk memberi semangat pada para penulis, terutama penulis pemula yang pasti menghadapi banyak tantangan dalam meraih impian menjadi penulis yang well known. Selain A Cup of Tea for Writer ada pula tema lain seperti “A Cup of Tea for Single Mom” yang dari judulnya saja bisa kita tebak peruntukkannya. Ada pula “A Cup of Tea for Complicated Relationship” yang akan membagi 20 kisah cinta untuk para pembacanya bersama berbagai masalah dalam sebuah hubungan. Dan “A Cup of Tea – Menggapai Mimpi” adalah kumpulan kisah yang diharapkan mampu membuat pembacanya tidak menyerah dalam meraih mimpi mereka.

Seri A Cup of Tea ini bisa dikatakan seperti Chicken Soup versi Indonesia. Kisah-kisahnya akan terasa lebih dekat karena gambaran kehidupan, pola pikir, dan budayanya akan mirip dengan pembaca di Indonesia daripada buku Chicken Soup yang sebagian besar tulisannya berlatar belakang kehidupan di Eropa dan Amerika.

Buku A Cup of Tea for Writer sendiri menyuguhkan 20 kisah dengan masalah-masalah yang berbeda dari 20 orang penulis.
Keragaman latar belakang penulisnya cukup memperkaya buku ini. Ada penulis yang berstatus mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga single fighter (saya lebih suka menyebut mereka begitu untuk para orang tua tunggal). Selain itu usia penulisnya pun sangat beragam. Hal ini membuat masalah yang diceritakan menjadi semakin berwarna.

Buku di buka dengan cerita dari mbak Triani Retno yang menceritakan bagaimana menulis telah banyak membantunya melewati berbagai lika-liku kehidupan. Menulis ternyata bisa menjadi terapi bagi kehidupannya dan sekaligus memberi manfaat bagi kehidupan orang lain. Triani Retno menemukan bahwa menulis benar-benar memberi bantuan yang besar pada hidupnya.

Dalam buku ini kita juga akan menemukan bagaimana menulis tidak dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Hal ini membuat sejumlah penulis tidak mendapat dukungan dari keluarga mereka. Perjuangan mereka tidak hanya tentang bagaimana karya mereka bisa diterbitkan namun juga bagaimana mereka bisa membuktikan dan membuat orang-orang terdekat mengakui kemampuan mereka. Namun di lain pihak ada juga penulis yang mendapat dukungan besar dari keluarganya dan membuat mereka semakin bersemangat untuk menulis agar bisa terus membanggakan orang tua.

Selain itu dalam buku ini juga terselip sebuah cerita dari seorang editor yang akan memperkaya pengetahuan seorang penulis. Keberadaan editor itu bagai kawan yang jika tidak dimanage bisa jadi lawan. Komunikasi dan kerja sama seorang penulis dengan editornya akan membuahkan buku yang bagus untuk pembaca. Pengetahuan ini akan kita peroleh dari cerita Herlina P. Dewi yang merupakan editor in chief di Penerbit Stiletto.

Ya, membaca buku ini seperti memasuki sesi konseling untuk menumbuhkan kembali semangat untuk terus menulis. Semua penulis-penulis ini tidak ada yang mulus perjalanannya. Penolakan baik dari pihak penerbita hingga dari pihak keluarga pun mereka hadapi. Namun jika semangat mereka tidak surut kenapa yang lain harus menyerah? Di akhir buku kita akan diberi pula 10 tips menulis yang simple. Jadi, untuk para penulis yang semangatnya naik turun, buku ini layak untuk dijadi penyemangat.

Dari segi sampul, buku ini cukup simple dan manis. Menarik dan jelas menunjukkan tema bukunya. Penulisan judul di sampul pun eye catching. Tapi tulisan “Writer”nya warnanya agak tenggelam oleh latar belakang (^_^). Selai itu kutipan kalimat-kalimat dari dunia kepenulisan yang ada dia akhir setiap cerita sangat sesuai untuk mendukung para penulis untuk terus menulis.
Profile Image for Chi.
73 reviews3 followers
April 21, 2013
Buku ini berisi kumpulan cerita, dari mereka yang telah malang melintang di dunia kepenulisan, maupun mereka yang baru terjun di bidang kepenulisan. Buku ini seperti segelas teh hangat, akan mampu menghangatkanmu sekaligus memotivasi. Kamu bukanlah satu-satunya orang yang pernah gagal, naskahnya ditolak dan diremehkan. Kamu juga bukan satu-satunya orang yang ketika memilih jalan itu, keluarga menetang. Apapun itu, motivasimu menulis, siapapun kamu tetaplah menulis. Menulis dengan hatimu.

Salah satu cerita yang menarik bagiku dibuku ini adalah cerita yang ditulis Mercy Sitanggang, seseorang yang lahir dalam keluarga penulis, ayah beliau M.A Sitanggang seorang wartawan & abangnya juga penulis. Pun begitu, mercy tidak ingin menjadi penulis, namun takdir ternyata membawanya menjadi penulis. Setelah kematian ayah tercinta karena sakit & sang abang karena serangan jantung, yang tertinggal adalah kenangan, mesin ketik tua dan warisan buku-buku yang lebih berharga dibanding uang.

Sebuah nasihat bijak sang ayah pada Mercy yang membuat aku tersadar sekaligus tertampar. "Kalau kau akhirnya nanti menulis, tulis sesuatu yang jujur". Nasihat sederhana yang teramat dalam. Kapan terakhir kalinya aku menulis dengan jujur?? Buatku menulis dengan jujur adalah ketika aku membawa hatiku dalam tiap tulisanku.Aku punya prinsip dan aku selalu mengatakan pada siapapun: Puisi adalah hatiku! Ya, karena 90% yang kutulis di Blog, di Notes Fb yang berupa puisi adalah lahir dari apa yang aku rasakan saat itu. Tapi bagaimana dengan cerpen dan novel?? aku selalu merasa Cerpenku "Tumpul" dan Novelku "Stagnan", kenapa??? Karena nasihat inilah aku tersadar, mungkin aku memang menulis, tapi dengan banyak alasan, bukan dengan jujur tanpa membawa hatiku didalamnya, mungkin buat menang mungkin buat sekedar berpartisipasi dalam lomba saja!! Aku jadi ingat 2 buah cerpenku yang pernah masuk ke antologi cerpen nulisbuku.com, dan saat itu aku menulis membawa hatiku didalamnya dan terpilih. Hanya, sampai disitu saja, aku tak pernah lagi menang lomba cerpen.

Aku juga jadi ingat pula, saat aku dua kali menang lomba blog yang diadakan @salsabeela (ollie) dengan @salsabeelashop ( brand baju muslimah by ollie), aku menulis dengan hati, tanpa mengedepankan ingin menang *walaupun, siapa sih yang gak pengen menang??



Ya, hari ini, terimakasih yang sangat besar, buat Mercy Sitanggang dan alm M.A sitanggang, mereka membuka hati dan pikiranku, dan mengingatkan aku tentang bagaimana cara menulis. Menulislah, bawalah hatimu disana, dan kabar baik atau apresiasi orang lain otomatis akan mengikut saja tanpa diminta.

4 dari 5 Bintang buat buku ini. Hanya saja kekurangan dari penerbit stiletto adalah kualitas tinta untukmencetak, agak kabur.
Profile Image for Aira Zakirah.
173 reviews8 followers
September 9, 2017
"Karena kau menulis suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, di kemudian hari." (pramoedya ananta toer) hal 99.

wahh.. menggugah! sukaaaa sama cerita2 dalam buku ini. Awesome, membangkitkan kembali semangat menulis saya.
Profile Image for Antin Aprianti.
46 reviews1 follower
January 29, 2018
A Cup of Tea for Writer adalah buku terbitan Stiletto Book tahun 2012 yang bercerita tentang kisah-kisah inspiratif penyemangat hati beberapa penulis. Dibuku ini mereka bercerita tentang jatuh bangun, senang sedih, pengorbanan dan semangat yang dilakukan demi menulis. Dari buku ini kita jadi banyak belajar bahwa jika kita bersungguh-sungguh dan percaya pada kemampuan kita sendiri maka kita akan mendapatkan hasil yang manis.

Buat kalian yang punya cita-cita menjadi penulis atau yang hobi menulis, bolehlah dibaca buku ini karena sangat menginspirasi dan sangat banya quote-quote ciamik dibuku ini salah satunya adalah ini:

“sesuatu yang sederhana, tidak populer, dan mungkin diabaikan oleh orang lain, bisa menjadi sesuatu yang istimewa asal kita serius menjalaninya. Mengidolakan J.K. Rowling itu keren, tapi bermimpi mengalami keajaiban seperti seperti yang beliau alami adalah impian yang terlalu tinggi. Lakukan segera yang kita bisa, yang lebih relistis, dan ada di depan mata kita. Itu jauh lebih keren”

“ membacalah empat jam sehari dan menulislah empat jam sehari. Kalau kau tidak bisa meluangkan waktu untuk itu, jangan harap kau bisa menjadi penulis yang baik.” (Stephen King)

“Perempuan tidak melulu mengurusi kecantikan fisik tapi juga inner beauty nya. Perempuan tidak hanya memikirkan jambul khatulistiwa atau bulu mata antibadai katrina. Perempuan juga harus punya waktu untuk memberikan nutrisi pada otaknya dengan cara membaca buku.”

“Ketika membaca, seseorang tidak hanya menyerap makna suatu kata, kalimat, wacana, melainkan juga melakukan interpretasi, memperkaya wawasan, juga pengayaan gagasan.”

Nah untuk review lebih lanjut pernah gue bahas di sini >> https://diantin.com/2017/02/19/review...
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
September 18, 2013
Buku yang cukup tipis namun berisi kisah-kisah inspiratif dari para penulis. Saya merasa bercermin sebab ada beberapa kisah juga yang pernah saya alami. Lewat buku ini saya juga jadi tahu, ternyata Indonesia punya banyak penulis berbakat dan punya effort besar untuk terus menekuni passionnya di dunia literasi.
Profile Image for MY.
92 reviews14 followers
January 22, 2013
Simple, yet inspiring. :)

Bagus buat mereka yang mau mengisi hari-hari menulisnya dengan kepercayaan diri, ketenangan hidup dan berbagai energi positif lain. Cocok juga dibaca pas lagi kena writer's block. Haha.
Profile Image for Fitri.
13 reviews2 followers
October 4, 2014
Membaca buku ini meletupkan kembali semangat dalam hati saya untuk menulis kembali. Mimpi itu masih ada :)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.