Terminal, bandara, pelabuhan, stasiun: Tempat persinggahan, keberangkatan, perhentian.
Ada banyak kisah tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang orang-orang yang menanam kakinya di sana. Mereka yang berbagi luka dan cinta. Tentang rindu yang diam-diam dipendam. Tempat yang selalu ingar bingar, tetapi juga melesapkan sepi yang menggerogoti jiwa—tanpa suara.
Seorang lelaki menapak tilas jejak kekasihnya yang hilang ke sebuah dermaga, lelaki lainnya memancing bintang. Di stasiun, pak tua berpeci lusuh duduk menanti mataharinya setiap dini hari. Di bandara, koper-koper tertukar, dan ada cinta yang menemukan pelabuhannya. Di terminal, panas kopi membakar lidah dan hati.
Sebelas penulis merangkai kenangan di tempat tempat persinggahan. Mengantar pergi, menjemput pulang.
Jia Effendie lahir di Garut tanggal 21 Juni. Senang menulis fiksi sejak SMP. Cerpen pertamanya yang dimuat adalah “Fla Je’t Aime” di majalah Aneka Yess! tahun 1999. Sejak itu, karya cerpen dan puisinya dimuat di berbagai media nasional dan lokal di Indonesia. Pada tahun 2008, Jia menerbitkan kumpulan cerpen Nyonya Perca.
Tahun 2010, cerpennya yang berjudul Mera Berbie terpilih menjadi salah satu cerita yang dijadikan FTV dalam rangka ulang tahun SCTV yang kedua puluh: Sinema 20 Wajah Indonesia dengan judul Susuk Barbie. Kumpulan cerpen keduanya, Ya Lyublyu Tebya, terbit bulan Oktober 2010. Buku Jia yang lain adalah Menuai Sajak di Kebun Raya Bersama Sapardi Djoko Damono (2011), Empat Elemen (2011), Kaki Mimpi (2011), Cerita Sahabat (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Perkara Mengirim Senja (Penerbit Serambi, 2012), dan Cerita Sahabat 2: Asmara Dini Hari (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Singgah (Gramedia Pustaka Utama, 2013), Glenn Fredly 20 (Entermedia, 2015), dan After Office Hours (Pastel Books, 2016).
Jujur saja, membaca kumcer Singgah ini mengingatkan saya pada mantan kekasih. Saya melepasnya di Terminal Karya Jaya, Palembang. Kala itu dia melanjutkan studinya di Indramayu. Sebagai pacar yang baik, sudah seharusnya saya mengantarnya, mengucapkan selamat jalan dan selalu berharap dia kembali ke tempat asalnya; ke hatiku. Ciieeeee! :D Itu sekelumit kenangan yang gak bisa lepas dari ingatan saya, meski sekarang saya gak lagi bersamanya.
Saya paling suka dengan cerita Menunggu Dini. Speechless, haru, duh saya hampir nangis. Cerita-cerita lain juga gak kalah seru. Hiii, tapi cerita Jantung oleh Jia Effendie bikin serem. Salah satu kumcer favorit nih kayaknya. :D
Tertarik sama buku ini gara-gara sang penerbit ngasih sedikit "teaser" di fanpage facebooknya. Entah mengapa cerpen-cerpen di buku ini kurang berkesan buat saya. Mudah dilupakan.
JANTUNG - JIA EFFENDI Seorang wanita yang dalam perasaan kalut dan tidak tahu harus ke mana memutuskan untuk singgah ke sebuah stasiun kereta. Di sana dia bertemu nenek aneh yang menginginkan "sesuatu" darinya. Genre cerpen pertama ini lebih ke misteri dan sedikit thriller, tapi membaca cerpen ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya.
DERMAGA SEMESTA - TAUFAN GIO Bercerita tentang seorang pemuda yang mengenang kekasihnya dengan datang ke pelabuhan dan pulau tempat kekasihnya pernah pergi.
MENUNGGU DINI - ALVIN AGASTIA ZIRTAF Laki-laki yang sedang menunggu temannya menjemputnya di stasiun bertemu dengan laki-laki tua yang sedang menunggu kekasihnya. Cerpen ini cukup menarik tapi endingnya mudah ditebak.
MOKHSA - YUSKA VONITA Perempuan keturunan India yang jatuh cinta pada laki-laki yang bukan keturunan India. Orangtua sang perempuan tentu saja menentang hubungannya dan mereka sudah menyeiapkan calon suami untuknya. Nah, akhirnya ada juga cerpen yang saya suka. Kelebihan cerpen ini adalah penceritaan tentang budaya India yang khas.
KEMENANGAN APUK - BERNARD BATUBARA Apuk, seorang anak yang tinggal dekat sungai Kapuas sering diledek oleh teman-temannya karena Apuk tidak bisa berenang. Suatu hari Apuk memutuskan untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa dia juga seorang anak Kapuas sejati. Cerpen ini juga banyak menimbulkan pertanyaa, seperti, Apuk tinggal bersama siap selama ini kalau kedua orangtuanya sudah meninggal? Berapa umur Santi sebenarnya sehingga sifatnya bisa sangat dewasa? Apa benang merah cerpen ini dengan "singgah"? Kenapa saya terus bawel bertanya? Apa salah saya? Salah teman-teman saya? Apa mading cinta sekarang udah terbit? *abaikan pertanyaan yang nggak penting*
LANGIT DI ATAS HUJAN - DIAN HARIGELITA Tentang Kinan yang terlibat hubungan dengan pria lain padahal dia sudah punya kekasih.
SEMANIS GENDHIS - ANGGUN PRAMESWARI Cerpen yang satu ini punya tema yang sedikit berbeda. Intinya bercerita tentang cinta terpendam dan dibalut dengan peristiwa demo karena terminal yang akan digusur.
RUMAH UNTUK PULANG - ANGGUN PRAMESWARI Arum, seorang istri dan ibu. Arum memutuskan untuk pulang, bukan kembali ke suami dan anak-anaknya, tapi pulang ke rumah lain. Bingung ya? Saya juga bingung apa yang sudah saya tulis :D baca sendiri aja deh. Cerpen yang satu ini juga bagus menurut saya. Satu kekurangan cerpen ini, kok nggak ada ilustrasinya?
MEMANCING BINTANG - ADITIA YUDIS Persahabatan dua manusia. Yang satu suka memancing, yang satu lagi terobsesi pada bintang-bintang.
PARA HANTU & JEJAK-JEJAK DI ATAS PASIR - ADELLIA ROSA Bingung mau cerita apa soal cerpen ini, intinya tentang kehilangan. Cerpen yang ini juga cukup menarik.
KOPER - PUTRA PERDANA Saya salut dengan penulis cerpen ini. Saya juga dibuat merasakan kebingungan sang tokoh utama ketika mengetahui kopernya tertukar. Sebenarnya cerpen yang satu ini juga menarik, tapi banyak misteri-misteri yang belum terkuak kebenarannya, termasuk apa sebenarnya isi koper misterius itu? Siapa sebenarnya wanita yang punya mata sejernih pantai Mali di Alor?
PERSINGGAHAN JANIS SI PELABUHAN CERITA - ARTASYA SUDIRMAN Venus, yang baru kehilangan ayahnya memutuskan untuk tetap melanjutkan rencananya dengan ayahnya, pergi mengunjungi Andreas di Athena lalu berkeliling ke Jerman. Di perjalanan, Venus bertemu Nancy, yang kemudian menyadarkan Venus.
PERTEMUAN DI DERMAGA - JIA EFFENDI Seperti judulnya, bercerita tentang pertemuan dua manusia di dermaga.
Dari 13 cerpen di buku ini yang saya suka hanya : Mokhsa, Rumah Untuk Pulang, Para Hantu & Jejak-jejak di Atas Pasir.
Sekian review singkat dari saya, 2 bintang untuk buku ini.
Jujur saya tak mengharapkan apa-apa dari buku ini. Selain saya penasaran dengan karya beberapa teman yang saya kenal di twitter. Saya sudah bisa mengira cerita-cerita yang akan ditampilkan dalam buku ini dan perkiraan saya terbukti. Satu-satunya cerpen yang beda adalah karya Adellia Rosa meski saya agak berat memahaminya. Buku ini cocok untuk teman diperjalanan lalu dilupakan saat sampai tujuan.
wow! kumpulan cerita yang bikin aku teriak wow! (oke ini lebay). buku pertama yang kubeli di bulan Februari 2013 ini, bikin emosi tercabik-cabik. basically cerita-cerita di buku ini punya genre yang beragam. ada cerita cinta mendayu-dayu, cerita yang manis, cerita misteri horor, dan ada juga misteri thriller seperti Jantung yang menjadi pembuka buku ini. personally aku suka Memancing Bintang nya Aditia Yudis yang benar-benar manis (ceritanya, bukan orangnya) dan Langit di Atas Hujan nya uni Dian Harigelita yang manis tapi tajam di akhir. well, buat sebuah buku antologi cerita, kesemuanya punya kekuatan sendiri-sendiri. that's why semua yang sudah membaca buku ini punya cerita favorit yang beda, satu orang dg orang lain. nicely done! kutunggu buku selanjutnya
Konsepnya sudah bagus- kisah pertemuan dan perpisahan di tempat persinggahan; terminal, bandara, pelabuhan, stasiun dan hentian. Banyaknya berkisar hal cinta dan rindu. Paling aku rasa yang tidak boleh lupa adalah Menunggu Dini dari Alvin. Kisahnya simple saja, namun cara penceritaannya yang biasa-biasa itu mampu buat aku memahami perasaan hati si Pak Tua. Aku juga suka kisah dari Taufan Gio- lain ideanya, ala jalan cerita drama atau filem.
Cerpen-cerpen yang lain okay juga, walau ada yang meleret-leret tanpa hujung tapi tidaklah terlalu membosankan.
I put a high expectation on this book, because previously, the editor has made a good choices in her former book,"Perkara Mengirim Senja," but I was disappointed. Only two-four stories that stealing my attention,the story from Alvin Agastia Zirtaf,Artasya Sudirman and Taufan Gio. The rest seem to out of the main theme.
sejak ikut menulis di Nokturnal jadi suka baca kumpulan cerpen. dan Singgah bagus! paling suka kisah milik mba Jia yang pertama dan kisah tentang koper di bandara :D
Inilah kumpulan cerpen yang sudah kedengeran gaungnya sejak tahun lalu. Akhirnya terbit juga. Dan gue beruntung ikut launchingnya, hehehe. Singgah berisi 13 cerita yang ditulis 11 penulis dengan latar bandara, pelabuhan, stasiun, dan terminal. Sebuah ide unik, mengingat keempat tempat ini sudah akrab dengan kita. Tempat persinggahan sementara tetapi ada banyak cerita bisa terjadi di sana. Gue tahu kumpulan cerpen ini karena Jia sempat mengadakan sayembara untuk mengisi tempat di dalamnya bagi dua penulis. Sempat ikutan sih tapi gagal. Tapi yang kepilih kebetulan gue kenal dua-duanya dan tahu kualitas tulisan mereka kayak apa. Beberapa penulis gue kenal, baik secara personal ataupun sebatas timeline saja. 1. Jantung by Jia Effendie Inilah penggagas kumcer ini. Jujur, gue tahu Jia penulis tapi belum pernah baca bukunya (my bad). Komentar gue tentang cerita ini: nggak ngerti. Gue bertahan baca karena berharap di akhir ada penjelasan, tahunya nggak ada. Mungkin kapasitas otak gue yang nggak bisa mencerna cerita berat (nyastra) dan butuh pemahaman lebih lanjut. Sorry Jia, Jantung is not my type. 2. Dermaga Semesta by Taufan Gio Love that story. Sederhana tapi nendang. Ya, gue memang cocoknya dengan tulisan-tulisan sederhana yang bisa langsung dimengerti. Ceritanya pun sedih. Melihat penggambarannya, gue nggak yakin ini tulisan fiksi pertamanya Mas Badai. Kecenya pakai badai, hahaha. Dermaga Semesta bercerita tentang seorang cowok yang datang ke sebuah pulau penuh kenangan antara dia dan mantan pacarnya. Dia membawa beberapa foto. Lalu di sana dia melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang ada di dalam foto untuk melepas kenangan akan sang mantan yang ternyata sudah …. *no spoiler*. Sedih dan manis at the same time. 3. Menunggu Dini by Alvin Agastia Zirtaf One of my favourite. Tentang pertemuan nggak sengaja seorang cowok di stasiun Tugu dengan seorang Pak Tua. Pak Tua yang menunggu kekasihnya Dini. Lalu Pak Tua pun bercerita tentang Dini. Endingnya gue udah bisa nebak tapi tetap aja gue bertahan bacanya. Manis dan sedih. *lap air mata*. Gue nggak kenal siapa Alvin sebelumnya, tapi mungkin abis ini akan baca tulisan Alvin lainnya. 4. Moksha by Yuska Vonita Gue udah baca cerita ini berkat kemurahhatian Mbak Yuska ngasih izin baca begitu cerpen ini selesai ditulis. Namun gue masih betah baca ulang. Kebetulan sebelumnya juga sudah baca cerita dengan tokoh sama. Cerita ini benar-benar tipikal mbak Yuska. Nyerempet budaya yang memang kesukaan beliau. Kali ini budaya India. Cerita ini based on true story dan gue pernah diceritain tentang kelanjutan yang sebenernya. Percayalah, sedih banget. Moksha bercerita tentang seorang cewek India yang pergi ke India untuk menenangkan bathinnya dan bisa memilih siapa yang akan mendampinginya kelak. Panji, pacarnya yang Jawa tulen atau Vikram, si India yang dijodohkan keluarganya. Karena berlatar keluarga India, ada banyak istilah di footnote. Capek sih bacanya tapi menambah pengetahuan. 5. Kemenangan Apuk by Bernard Batubara One of my favoutite too. Cara Bara bercerita dari sudut pandang anak kecil di Kapuas benar-benar pas. Bahasanya pun disesuaikan dengan bahasa Kapuas. Hanya saja, ini terlalu singkat. I want more. Gue berharap ini lebih dieksplore lagi aja. Ceritanya sederhana. Tentang Apuk yang capek diejek teman-temannya karena sebagai anak Kapuas, dia nggak bisa berenang. Apuk pun bertekad akan membuktikan dirinya anak Kapuas sejati dengan bisa berenang. Spoiler: sedia tisu sebelum baca. 6. Langit di Atas Hujan by Dian Harigelita Ini cerita jleb banget. Kenapa? Because I see my self in this story. Kinan is soooo me. Karena Kinan mencintai Angga, si idealis yang hidup dari hari ke hari. Kinan pun berharap bisa seidealis Angga. Angga si cerdas. Angga si santai. Namun Angga hanya bisa dimiliki di imajinasi. Karena realita nggak memungkinkan hidup bersama Angga. Realita memaksa Kinan berpikir realistis. Bekerja dan pacaran dengan si mapan. A Cinderella syndrome story. Ceritanya sederhana. Tapi gue ngerasa sama kayak Kinan. I need someone like Angga. Dan hidup dari hari ke hari kayak Angga. Dan sama seperti Kinan, gue hanya bisa mengikut apa kata realita. Hiks. 7. Semanis Gendhis by Anggun Prameswari Ceritanya semanis judulnya. Juga sedih. Bukan tipe gue sebenarnya karena nyerempet masalah sosial hahaha. Tapi syukurlah bisa menikmatinya. Gaya bercerita Mbak Anggun yang jadi penyelamat. 8. Rumah Untuk Pulang by Anggun Prameswari Satu kata: nggak ngerti. Harusnya, cerita yang menyinggung masalah sosial atau kehidupan sehari-hari seperti ini bisa dengan mudah dicerta. Mungkin, there is something wrong with my brain yang sudah lama terkontaminasi Sex and The City dkk jadi nggak begitu masuk dengan tipe cerita kayak gini. 9. Memancing Bintang by Aditia Yudis Sama seperti Moksha, gue udah baca cerita ini begitu baru aja selesai ditulis. Ini salah satu pemenang sayembara yang dibikin Jia. Komentar gue dulu ke Adit: gue pengin memancing bintang jodoh saja hahaha. Tipikal cerita Adit, deskripsinya manis dan mengalir lancar. Ceritanya sederhana tapi manis. Nah, cerita-cerita kayak gini sih gampang banget nyantol di otak gue, hihihi. PS: Dit, mancing bintang jodoh bisa dapat Aidan nggak? Hehehe. 10. Para Hantu & Jejak-Jejak di Atas Pasri by Adellia Rosa Mbak Adel ini pembeli pertama online shopku (OOT) dan jadi salah satu pemenang sayembara juga. Judulnya bikin serem karena gue takut banget sama hantu hahaha. Gue suka baca blog mbak Adel dan takjub dengan cerpen dia yang dibagi ke beberapa subbagian dan dikasih judul. Unik. Cerpen ini juga kayak gitu. Kalau boleh gue bilang, ini bukan cerpen tapi dongeng, karena bacanya kayak baca dongeng. Sedih sih tapi karena cara mbak Adel nyeritainnya unik jadinya seru. 11. Koper by Putra Perdana Gue memulai baca cerpen ini dengan ekspektasi tinggi. Harapan gue: akhirnya ada juga cerita action di sini. Tapi sepertinya gue terlalu berharap banyak. Memang sih begitu baca otak gue langsung mengimajinasikan cerita action di bandara yang penuh aksi kejar-kejaran. Gue bacanya semangat. Tapi di ending, jlebb… langsung turn off dengan ending tanpa penyelesaian. Ish, nggak pernah suka sama cerita gantung kayak gini, hahaha. 12. Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita by Artasya Sudirman Ini keberatan judul. Atau mungkin Tasya begitu piawai memilih judul? Ceritanya sederhana dan mengambil latar Yunani. Juga kapal pesiar. Aaakkkk keren. Namun ceritanya sendiri yaaaa not badlah. Manis sih, haru juga. Tapi gue nggak puas aja. 13. Pertemuan di Dermaga by Jia Effendie Setelah nggak ngerti di Jantung, akhirnya Jia memuaskan keinginan gue di cerita ini. I like it. Oh no, I love it. Dan pelajaran yang gue tangkap: please deh, kalau masih cinta jangan gengsi. Makan tuh gengsi, hahaha. So far, Singgah is not my type. Memang ada beberapa cerita yang memuaskan tapi kalau dinilai secara keseluruhan, gue nggak terlalu masuk ke dalam cerita. Eh, ini penilaian pribadi ya. Memang gue aja yang sukanya sama cerita-cerita cinta ringan dengan bahasa lugas apa adanya. Tapi launchingnya seru loh, hihihi.
dari awal beli memang tidak berharap banyak terhadap isi buku ini. memang kumpulan cerpen yang keroyokan kayak gini kadang lebih banyak menuai kekecewaan dari pada kepuasan saat membacanya. setidaknya buat saya sih begitu. lantas kenapa saya masih juga beli dan baca buku ini? karena....ya karena penasaran sama isinya. gitu aja masih nanya. hih.
oke...oke...kita bahas bukunya ajalah ya. secara keseluruhan buku ini memiliki benang merah yang sesuai dengan judulnya, yaitu singgah. kata 'singgah' di sini ditunjukkan dengan tempat-tempat seperti terminal, bandara, stasiun atau pun pelabuhan. yang ternyata, tempat-tempat tersebut kadang tak hanya sebagai tempat persinggahan semata tetapi juga tempat menetapnya kenangan dan emosi.
dari ketiga belas cerita yang ada, cerita yang saya suka tidak lebih dari setengahnya.
1. Jantung dibuka oleh cerita yang bergenre thriller, membuat saya berhenti cukup lama untuk melanjutkan baca. mungkin kaget kali ya, kok awal-awal langsung dikasih cerita yang kayak gini. kayak gini gimana sih? jadi ceritanya itu tentang seorang cewek yang menginginkan jantung cowoknya karena dia merasa dengan begitu ia merasa selalu dicintai. akhirnya ia menyimpan jantung cowoknya itu di ice box dan membawanya ke mana pun ia pergi. di samping itu, ternyata ada seorang nenek yang menginginkan janin yang ada di dalam rahim si cewek.
2. dermaga semesta setelah jeda cukup lama dari cerita pertama, saya lanjut baca lagi. dan saya senang karena cerita kedua menurut saya bagus. cowok yang melakukan kebiasaan ceweknya, yaitu mengembalikan foto-foto ke tempat semula diambilnya foto tersebut. saya suka cara penulis menuturkan ceritanya. tepat sekali "membukanya" satu per satu. tidak terlalu cepat pun terlalu lambat.
3. menunggu dini arya bertemu dengan seorang lelaki tua di stasiun tempat ia menunggu dijemput oleh temannya. sembari menunggu, ia terlibat perbincangan dengan si lelaki tua mengenai perihal apa yang sedang dilakukannya saat itu. meski dari awal sudah agak bisa ditebak bagaimana akhirnya, namun saya cukup menikmati cerita ini.
4. moksha seorang gadis keturunan india harus memilih antara Panji, lelaki yang dicintainya tetapi merupakan orang "luar" atau menuruti orangtuanya untuk menikah dengan Vikram, lelaki keturunan india yang juga merupakan sahabatnya. untuk sebuah cerpen, cerita ini sarat akan budaya india. penulis membawa kita ke dalam suasana India yang cukup kental. cukup untuk menambahkan "asupan" bagi isi kepala saya.
5. kemenangan apuk apuk adalah anak yatim-piatu yang tinggal di pinggir sungai kapuas. meski kehidupannya dekat dengan sungai, ia sama sekali tidak bisa berenang. hal ini menjadi bahan olokan teman-temannya. hingga suatu hari apuk mengalahkan ketakutannya dan ingin membuktikan kepada mereka bahwa ia bisa berenang. cerita ini biasa aja menurut saya. nggak bagus, nggak jelek. tapi jelas tidak menimbulkan kesan bagi saya.
6. langit di atas hujan kinan selama ini hidup dalam kebiasaannya yang sudah ia buat. hingga akhirnya Angga datang dan mengubah hidupnya. tapi bisakah ia bersama Angga jika ia sudah memiliki Ardy? ini cerita tentang perselingkuhan. saya suka. hmmm...mungkin jika dibuat sedikit panjang dalam bentuk novelet atau novel, akan lebih menarik.
7. semanis gendhis sebuah kisah dari riuhnya terminal. terminal yang sudah lama menghidupi banyak manusia, akan dipindahkan. mereka tidak terima. tapi apa yang bisa dilakukan jika harus melawan yang berkuasa? mereka diusir secara paksa karena kini terminal tersebut sudah hangus terbakar. hal ini sangat membuat hati sukro bersedih. ia bukan hanya kehilangan tempat tinggalnya, tetapi juga wanita pujaan hatinya yang akan balik ke kampung halaman setelah kehilangan suaminya yang ikut terbakar bersama rumahnya. satu-satunya cerita yang memilih terminal sebagai latar tempat.
8. rumah untuk pulang arum terjebak dalam kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. mimpinya bisa kuliah dan menjadi wanita karier. kenyatannya, sehari-hari ia sibuk berkutat dengan urusan rumah tangga. meski 24 jam ia berada di rumah, ia tidak merasa sudah pulang. ia ingin mencari rumah tempat hatinya berpulang. saat membacanya, saya bisa merasakan kebingungan sosok arum. ending-nya pun saya suka. membuat pembaca menebak-nebak apa yang akhirnya akan dipilih oleh arum.
9. memancing bintang cerita tentang dua sahabat. yang satu suka memancing, yang lainnya menyukai bintang. komentar tentang cerita ini? saya suka! :)
10. para hantu & jejak-jejak di atas pasir isssshh, bingung mau bikin sinopsisnya. baca ajalah sendiri. yang jelas buat saya cerita ini sih biasa aja.
11. koper seorang lelaki yang kopernya tertukar saat di bandara. koper misterius tersebut malah menyulitkannya. kisah ini cukup panjang dan terasa agak melelahkan saat membacanya. kenapa? lelah sama apa yang dilakukan si tokoh. juga lelah kok ceritanya nggak selesai-selesai. udah capek-capek gitu, di akhir saya cuma bisa berkata "hah? ini apaan sih? saya nggak ngerti." mungkin otak saya saja yang agak dong-dong. atau mungkin pembaca yang lainnya juga merasakan yang sama?
12. persinggahan janin di pelabuhan cerita venus pergi berlibur ke yunani dan jerman. ia tetap merealisasikan rencana liburan tersebut meski ayahnya telah tiada. tidak disangka,perjalanannya menuju jerman mengubah pandangan terhadap ibu yang selama ini ia sangka tidak peduli dengannya. meski saya suka dengan ceritanya, saya masih bingung sih sama judulnya. apa maksud kata "janin" yang ada pada judul?
13. pertemuan di dermaga hilya dan adam bertemu secara tidak sengaja di dermaga. pertemuan yang membawa hubungan mereka lebih dekat meski akhirnya putus juga. dan mereka bertemu lagi dengan cara yang sama saat awal jumpa. menyimpan perasaannya masing-masing.
well, itulah review singkat dari setiap cerita. kalau disuruh memilih cerita favorit, pilihan saya jatuh pada Dermaga Semesta dan Memancing Bintang.
Beberapa cerpen bikin saya baper. Tapi ada beberapa yang kurang mengena buat saya. Mungkin karena efek pengalaman hidup. Tapi bagi saya buku ini tidak begitu mengecewakan maupun tidak begitu menakjubkan.
Kumpulan cerpen yang bercerita perihal singgah. Beberapa menyentuh. Ada pula yang cukup menegangkan. Setidaknya setelah membaca, hati semakin baper karena terlalu sering disinggahi tanpa ada yang berniat menetap (eh maaf curhat)
Jujur, ekspektasiku sedikit berlebih terhadap buku ini. Aku langsung pasang ekspresi kayak "Emmm...okeee...". Sukses ternganga. Jadi, ini ya, reviewnya.
Jantung (Jia Effendi) Ini ceritanya thriller gitu, tentang perempuan yang pergi ke stasiun kereta, bingung mau kemana. Tapi, entah kenapa aku ngerasa ini belum selesai.
Dermaga Semesta (Taufan Gio) Cerita tentang penelusuran seorang lelaki ke sebuah dermaga, berperang dengan kenangan. Awalnya aku bingung ini sudut pandangnya siapa? Laki-laki atau perempuan. Agak lemot aku memang.
Menunggu Dini (Alvin Agastia Zirtaf) Kisah ini lebih tertuju kepada bapak tua yang menunggu istrinya di stasiun kereta untuk pulang dari Jakarta. Ceritanya aku rasa udah bisa ketebak.
Moksha (Yuska Vonita) Bercerita tentang perempuan Hindu yang terbang ke India untuk mencari jawaban hidupnya. Ceritanya bener-bener spesifik. Asik.
Kemenangan Apuk (Bernard Batubara) Kisah tentang pembuktian seorang anak Kapuas kepada teman-temannya. Yang menghubungkannya sama cerita lainnya, apaya? Mungkin adanya unsur dermaga yang notabene adalah tempat per"singgah"an. Tapi, ceritanya tidak mudah di tebak saat pertama.
Langit di Atas Hujan (Dian Harigelita) Ini tentang perempuan yang mungkin bisa dikatakan jatuh di dua hati *ciailah*. Tapi, aku suka perbincangan yang terjadi di dalamnya. Endingnya juga gantung.
Semanis Gendhis (Anggun Prameswari) Tentang kehidupan yang terjadi di terminal dengan permasalahan yang sering terjadi. Ya, gitu.
Rumah untuk Pulang (Anggun Prameswari) Kisah perempuan yang dilanda kebimbangan dengan kata "tempat tinggal" dan "rumah". Dua kata yang saling berhubungan. Cerita ini menurutku mengenai prinsip dan keteguhan seseorang. Ceritanya asik.
Memancing Bintang (Aditia Yudis) Bercerita tentang dua orang sahabat laki-laki dan perempuan yang menghabiskan senja di dermaga untuk memancing. Yang satu menyukai memancing, yang satu tertarik pada angkasa. Mungkin sudah bisa ditebak kemana larinya. Hihihi.
Para Hantu & Jejak di Atas Pasir (Adellia Rosa) Kisah anak perempuan kembar yatim piatu yang hidup di tepi pelabuhan. Sebenernya aku agak nggak ngeh sama ceritanya, jadi nggak bisa ngasih komentar banyak-banyak :|
Koper (Putra Perdana) Cerita yang satu ini bener-bener bikin bingung! Tentang laki-laki dan kopernya di sebuah bandara. Tapi, serius, ini ceritanya gimana? Ada beberapa hal yang aku nggak ngerti. Aku dibiarin nanya-nanya "Itu siapa?", "Kenapa gitu?", "Sebenernya itu apa?". Lagi-lagi tanpa akhir.
Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita(Artasya Sudirman) Tentang seorang perempuan yang menempuh perjalan sendiri ke Yunani, kemudian Jerman menggunakan kapal. Perjalanan tersebut membuatnya menemukan hal-hal yang luput atau mungkin sengaja "di"luputkan dari ingatannya. Lantas, janin apa?
Pertemuan di Dermaga (Jia Effendi) Laki-laki dan perempuan lagi. Dermaga lagi. Tentang pertemuan dan perpisahan. Lagi-lagi harus menelan akhir yang belum berakhir.
Jadi, menurutku, yang menghubungkan cerita yang satu dengan yang lainnya dalam buku ini adalah adanya tempat-tempat yang menjadi persinggahan, entah itu dermaga, terminal, bandara, pelabuhan, dan tempat lainnya. Mungkin inilah cerpen, cerita singkat yang terkadang tanpa akhir. Aku suka "Dermaga Semesta", "Moksha", "Memancing Bintang" sama "Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita".
Ceritanya bagus-bagus. Masing-masing penulisnya punya gaya tersendiri dalam menyajikan ceritanya. Banyak yang bagus banget, dan sisanya bagus.
Meski begitu, saya merasa kecele dengan promosi yang digambarkan dari awal, bahwa cerita2 di Singgah menggunakan 4 tempat (stasiun, bandara, dermaga, terminal) sebagai latar. Karena nyatanya kebanyakan cerita di dalamnya tidak berkutat di sana. Memang ada adegan di tempat2 tersebut, tapi sedikit. Hanya ada beberapa cerpen yang lokasinya didominasi tempat2 yg dimaksud.
Cerita mbak Jia yang Jantung keren, sadis tapi mistis. Cerita satunya yang Pertemuan di Dermaga juga bagus, mengena karena semua orang mesti pernah mengalami seperti itu, tapi alurnya kurang panjang. Cerita Taufan juga bagus, dan saya belum ngerti gadisnya itu kenapa, apakah mati ato putus. Cerita Alvin, flashback yang mengharukan. Tapi karakter si anak muda itu saya ga ngerti buat apa, karena ceritanya bukan tentang dia. Cerita Mbak Yuska ini keren, kelihatan sekali hasil risetnya, segala istilah dan budaya India dituturkan. Kalo masalah riset, pasti Moksha ini yg juara di antara cerita lain. Cerita Bara yang paling pendek, dan ya saya kira mestinya dipanjangin lagi. Sementara cerita Putra yg Koper yang paling panjang, dan ya mestinya diperpendek, karena deskripsi yang terlalu mendetail tentang apa yg dipikirkannya, dengan plot yang singkat. Cerita Artasya mirip travel log. Catatan perjalanan, dan hampir tidak ada plot selain perjalanannya. Cerita Adellia, umm, ini tentang masalah kejiwaan kan? Cerita-cerita Mbak Anggun rasanya yang paling bagus di antara lain. Cerita di terminal tentang realita orang-orang kecil itu yg terbaik di antara cerita lain. Tapi kalo masalah cerita yang paling saya suka, yg pertama ceritanya uni harigelita, familiar. Satu lagi cerita adit yang Memancing Bintang, very sweet.
Mari kita bahas kumpulan cerpen keluaran gramedia ini. Dari covernya standar dengan satu warna yang tidak mencolok mata sama sekali, banyak ruang kosong yang harusnya bisa terisi. dari penyusunan cerita sieditor Pinter nyusun penempatan cerita yang mana harus dibaca terlebih dahulu.
Dimulai dengan cerita jantung-jia effendi,tema cerita kaya gn jarang gw baca *bisa diartikan sendiri apa mksd gw*, dermaga semesta - taufan gio, nyanyi Lagu dee *pembaca juga tahu cerita ini juaranya* pendeskripsian tempat dan tokih ditambah alur cerita yang kuat menjadikan cerita satu ini juara, next kita ada menunggu Dini - Alvin agastia zirtaf (susah baca nama terakhirnya), ceritanya haru biru membuatku tak henti bersendu #eaaa tp diawal pas diakhir itu dah ketebak walaupun penyusunan kalimat dan Katanya agak berbeda dengan cerita yang sama, moksha - yuska vonita, cerit dengan settingan di India dengan tata bahasa asing menurut gw itu menarik gak lebih (masih soal cinta2an dan pilih2an), kemenangan apuk - Bernard batubara, kasian apuk *pukpuk* apuk udah sebatang kara, gak tau diri lg *eh. Ideanya bagus tapi selama ini apuk tinggal sama siapa ? Ko Santi dewasa bgt kalo apuk enggak? Pas bagian doa apuk kemana aja?, rumah untuk pulang - anggun prameswari, dear arum kamu gila. Memancing bintang - aditia yudis, ceritanya so sweet bgt kaka, next para hantu dan jejak-jejak diatas pasir -adelia Rosa, suram tapi bikin penasaran.
Udah semua cerita gw jabarin kan ya? Gak ada yang kelewat? Yakali kelewat berarti ceritanya gak bagus bertele4(?), atau standard. UDAH *sebelum kepanjangan*
Buku kumpulan cerpen, terasa sudah sangat biasa. Tapi kali ini Jia Effendi dan kawan-kawan membentuknya dengan cara berbeda. Kumpulan cerpen dengan garis besar yang sama, tempat singgah kendaraan. Bandara, dermaga, stasiun, dan terminal. Keempat tempat tersebut adalah tempat datang dan pergi, tempat kita untuk sekedar singgah. Singgah untuk pergi atau untuk pulang. Sebelas cerpen yang berbalut cinta. Cinta pada kekasih, cinta pada sahabat, dan cinta kepada orangtua. Melalui cerpen-cerpen dalam Singgah dikisahkan bahwa tempat-tempat tersebut terdapat cinta, benci, harapan, ego, dan kenangan. Sekalipun hanya tempat singgah namun tempat-tempat itu dapat membawa kita tak hanya ke tempat yang kita akan tuju, namun juga membawa kita pada perih, bahagia, duka, suka, manis, bahkan pahit. Singgah membuat saya takjub sekaligus berpikir. Ternyata tempat seperti dermaga, bandara, stasiun, dan terminal bukan sekedar tempat singgah, bukan sekedar "melalui ini saya pergi atau pulang". Tapi juga ada kehidupan didalamnya yang sangat menyentuh untuk bisa dibuat suatu cerita. Ceritanya bukan sekedar menyentuh tapi juga cerdas. Di beberapa cerita baru di kalimat terakhir saya akhirnya bisa menyimpulkan maksud dari cerita tersebut.
Tema yang diangkat bagiku menarik, mengenai berbagai tempat persinggahan, keberangkatan,pemberhentian. yang di dalamnya terdapat berbagai cerita. apalagi aku emang suka dengan cerita2 pendek seperti ini,dengan 11 penulis berbeda dan 13 cerita. 1.Jantung - Jia Effendie 2.Dermaga Semesta - Taufan Gio 3.Menunggu dini - Alvin Agastia Zirtaf 4.Moksha - Yuska Vonita 5.Kemenangan Apuk - Bernard Batubara 6.Langit di atas hujan - Dian Harigelita 7.Semanis Gendhis - Anggun Prameswari 8.Rumah Untuk Pulang - Anggun Prameswari 9.Memancing Bintang - Aditia Yudis 10.Para Hantu & Jejak - jejak di Atas Pasir - Adellia Rosa 11.Koper - Putra Perdana 12.Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita - Artasya Sudirman 13.Pertemuan di Dermaga - Jia Effendie
dan yang saya sukai yaitu. 1.Dermaga Semesta (ini paling bagus ^_^) 2.Menunggu Dini 3.Moksha 4.Semanis Gendhis 5.Rumah Untuk Pulang 6.Memancing Bintang 7.Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita 8.Pertemuan di Dermaga
dan dari 13 cerita,di dalamnya masing2 selalu terdapat kata "Singgah". mungkin itu syarat dalam buku ini kali ya,haha. tp bagus deh,ceritanya bagus. keunikan ceritanya memang beda. 4 BINTANG untuk buku ini. :)
Cerita yang paling saya sukai dalam buku ini ditulis oleh Taufan Gio berjudul Dermaga Semesta. Menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan untuk menapak tilas kekasihnya yang telah tiada. Sesosok wanita yang cinta petualangan dan memotret, mempunyai kebiasaan unik untuk memberikan foto-foto hasil jepretannya kepada objek foto, entah yang difoto adalah manusia, kucing, bahkan langit. Taufan berhasil menggabungkan kedalaman karakter serta ketajaman penggambaran suasana menurut saya. Sangat lezat.
Beberapa cerita yang saya kurang sukai dari buku ini bukan karena gaya penyampaiannya, tapi karena isi ceritanya yang menurut saya kurang berhikmah. Hanya penggambaran cerita biasa, seperti cerpen berjudul Koper dan Langit Di Atas Hujan.
Keseluruhan dalam buku ini terdapat 13 cerpen. Dan penulisnya adalah orang-orang yang sudah banyak menelurkan buku -minimal antologi- dan karyanya dimuat di media cetak nasional. Tidak rugi membacanya :')
Dan, saya tetap akan membaca cerpen-cerpen manis lain tentu di lain waktu. Tiga bintang untuk buku ini :)
dari 11 penulis dan 13 cerita ini gua suka setengah dari cerita yang ada di dalamnya. beberapa penulia yang terlibat di buku ini ada yang gua kenal dekat dan sering gua baca tulisannya, sehingga udah sangat familiar dengan gaya penulisannya. Sisanya, baru pertama gua baca, ada yang sesuai selera baca gua, ada yang tidak.
Cerita favorit gua di buku ini yaitu cerita Memancing Bintang nya Aditya Yudis dan Dermaga Semesta nya Taufan Gio. Ide cerita, narasi dan deskripsinya begitu memikat. Kalau dari segi gaya penulisannya, gua suka banget sama gaya penulisannya Jia Efdendi yang sedikit 'nyastra'. Gaya penulisan yang menggunakan diksi yang tidak biasa dan terasa romantis.
Ada satu cerita yang menurut gua terlalu maksa, yaitu cerpen Koper milik Putra Perdana. Bukan jelek, tapi terasa seperti bertele-tele. Cerita yang dibuat seolah seperti sengaja dibuat menjadi panjang. 25 halaman. Hampir 1/9 total halaman buku. Dan isi cerita diputar-putar tanpa arah.
Sisa cerita lainnya cukup menarik untik dinikmati. :)
Beberapa cerita membuat saya terhanyut, baik karena cara penceritaan, gaya bahasa, maupun alur ceritanya sendiri. Namun, beberapa yang lain, bukan saya banget.
Meski, secara garis besar, bagi saya cerpen-cerpen dalam antologi ini tidak benar-benar sesuai dengan tema yang diusung, yaitu "Singgah." Well, memang setting-nya di tempat-tempat persinggahan semisal stasiun, terminal, bandara, atau pelabuhan. Akan tetapi, kesan latar belakang tempatnya sendiri tidak terlalu kentara di beberapa kisah. Justu ada setting lain yang sedikin mendominasi.
Overall, cerpen-cerpen dalam "Singgah" lumayan menghibur dan asyik untuk dibaca. (Bahkan saya menyukai beberapa judul tertentu <3) Karena tidak bisa memberikan 2.5 bintang, jadi saya berikan 3 bintang saja. :D
Favorit saya: 1. Langit di Atas Hujan karya Dian Harigelita. Bagi sebagian orang, ceritanya mungkin biasa saja. Maksud saya, banyak ditemui di keseharian. Bagi saya pun begitu. Tapi yang membuat saya menyukai cerpen ini adalah gaya bercerita penulis. Saya larut aja gitu ke dalam ceritanya.
2. Para Hantu dan Jejak-jejak di Atas Pasir. Selalu suka sama gaya berceritanya Adellia Rosa. Dark-dark elegan. Halah. :D
3. Kemenangan Apuk. Pertama kalinya baca tulisan Bernard Batubara dan ya saya suka. Mungkin saya akan membaca Milana suatu hari nanti.
4. Moksha. Yuska Vonita niat banget risetnya. Tentang Hindu dan India. Ada beberapa istilah yang bahkan saya --yang Hindu saja, baru tahu di sini.
Buku ini adalah bukti nyata alasan kenapa gue--biasanya--males baca buku kumpulan cerpen.
Beberapa cerita seperti terlalu berfokus pada gaya penulisan yang--harus ya?--dipaksakan puitis tapi akhirnya ngebingungin. Ada juga yang ngegantung aja gitu, nggak jelas maksudnya mau ke mana. Mau nebak endingnya rasanya masih terlalu jauh ya.
Ada juga yang bagus, seperti cerita Dermaga Semesta, Menunggu Dini, Moksha, dan Semanis Gendhis.
Baca cerita Semanis Gendhis jadi inget Terminal Lebak Bulus. Bete gue, kenapa tuh terminal kudu ditutup! *halah curhat*
ini sebenernya bukan novel tapi kumpulan cerpen yang dinovelkan *halah* kalo boleh jujur ada beberapa cerpen yang aku gg mudeng *mungkin otak kaga sampai* hahahha :D tapi ada beberapa cerita (kayanya tiga atau empat cerpen) yang buat aku almost tear :'( dan ada cerita yang biasa aja ya cuma dibaca tanpa binggung atau mewek dan aku suka sama ilustrasi ditiap awal cerpen. Kalo ditanya kenapa beli novel ini alasan pertama murce cin #emak2doyandiskon dan judulnya itu ngingetin aku sama someone soal *keretaapi* yang dibuat qoutes gitulah...
Terkesan saat membaca konsep ide buku ini, yaitu tentang tempat persinggahan yang tanpa kita sadari penuh dengan cerita. Kerumunan orang-orang di tempat persinggahan itu asing, mereka itu strangers dan tak pernah kita pedulikan. Tapi mereka menyimpan seribu cerita saat harus melepaskan orang yang mereka sayangi pergi, dan semua ditampilkan dengan begitu manis dan ringan di buku ini. Dari segala genre. Dari segala sudut pandang dan karakter.
Diawal tertarik dg buku ini karena konsep ceritanya juga sampul depan yg membalutnya. Abaikan diri sendiri yg mmng sbnrnya krg menyukai kumcer, konsep tempat persinggahan menarik sekali. Saya sendiri tiap hari menyambangi tempat persinggahan, stasiun, dalam perjalanan pulang pergi kantor. Sudah membaca seluruh cerita, meski ada diantaranya cerita yg tidak kumengerti, but overall buku ini bagus menurutku.
Ini adalah kumpulan cerpen terbaik yang saya baca sepanjang 2013 berjalan :D
Kenapa?
Karena ide kesemua cerpennya tidak biasa, ataupun juga jalan penceritaannya yang baik. Di samping itu kalimat-kalimat yang digunakan mengalir, membuat cerpen-cerpen di buku ini 'hidup'
Saya menyukai hampir semua cerpen di buku ini. Tidak sabar untuk membaca karya-karya lain dari para penulisnya.
Some of the stories are pretty good- I like the one about twin sisters stranded in an island. But some have too similar tone - especially about losing lovers, waiting for the better days to come, or reminiscing the past. I don't really like too surreal stories - with many complicated symbols. I like simple short stories more, the ones that can move me with their simplicity. And I can't find too many of them in this book.
Padahal saya berekspektasi banyak akan kumcer ini. Tapi apalah daya, banyak kekecewaan yang saya dapatkan, kebingungan atas judul singgah dalam setiap cerpen rasanya tidak terlalu meresap dalam pikiran. Dan benar saja, sampai saya menulis ini, saya lupa pada beberapa cerpen yang ditampilkan.
Kalo saya disuruh memilih cerpen mana yang terbaik, maka pilihan saya jatuh pada Koper. 4,5 bintang untuk cerpen tersebut.
Setelah sedikit jenuh dengan bacaan novel yang panjang, saya rasa membaca cerpen-cerpen di dalam Singgah bisa menjadi obat bosan. Dan karena cerpen, maka bahasa dan kalimat-kalimat hampir semuanya kiasan dan menurut saya itu berkelas. Setiap cerpen memang harus dihabiskan untuk mengetahui inti ceritanya, tidak bisa baca setengah kemudian dilanjutkan. Ditambah penulis-penulis yang memang sudah kondang. Tidak mengecewakan
Sudah beli buku ini sekitar 2 tahun lalu, kemudian tercecer hilang di kamar rumah di tumpukan buku-buku sehabis pindah kosan, kemudia baru ketemu lagi beberapa bulan lalu, long weekend awal bulan Mei ini akhirnya saya membaca buku ini dan tamat dalam sekali duduk. Cerita-cerita di buku kumpulan cerita pendek ini sangat indah dan beberapa diantaranya sungguh menyayat hati dengan cerita mengenai persinggahan, pertemuan dan perpisahan. Kereen