Sejarah Arsitektur Modern Indonesia terbangun dari ketegangan pemikiran dan perdebatan tentang gagasan-gagasan arsitektural yang seringkali bertentangan. Namun, justru ketegangan-ketegangan itulah yang sampai sekarang mengakibatkan wacananya terus berlanjut, dan membangun bentang sejarah Arsitektur Modern Indonesia tersebut.
Perdebatan yang dibicarakan di atas juga terjadi di kalangan arsitek yang bekerja di Indonesia. Arsitek-arsitek muda Belanda yang bekerja di Indonesia di awal abad ke-20 menentang jenis arsitektur yang diciptakan oleh unit zeni militer di kepulauan jajahan. Beberapa arsitek seperti Schoemaker, Thomas Karsten dan Maclaine Pont merupakan arsitek muda yang progresif pada masanya. Kemudian masa sesudah tahun 1945, setelah Proklamasi Kemerdekaan, pertentangan antara pemikiran arsitektur baru dan yang mapan juga terjadi. Masa-masa ini ditandai dengan era arsitektur modern di Indonesia sebagaimana citra Indonesia yang ingin dibentuk oleh Sukarno.
Di masa 1950-an ada sebuah kelompok arsitek muda, ATAP, yang mengusung modernisme. Di masa setelah Sukarno ada Atelier 6 dengan konsep desain yang mencari lokalitas. Lalu, muncul sekelompok arsitek muda yang membentuk sebuah forum diskusi bernama Arsitek Muda Indonesia (AMI). Saat ini, muncul juga berbagai kelompok arsitek muda di beberapa tempat di Indonesia.
Memang, ada kalanya perdebatan-perdebatan tersebut kurang tampak pada permukaan. Tetapi, dari konsep-konsep desain, tampilan karya maupun pernyataan-pernyataan para arsitek dapat terlihat—albeit secara tersirat—adanya perdebatan antar generasi yang berbeda maupun antara arsitek-arsitek dari generasi yang sama. Perdebatan seperti ini masih merupakan kisah yang berlanjut hingga kini, sekalipun topik yang diperdebatkan telah berubah.
saya rasa, buku ini sudah ketinggalan issue. topik-topik yang diulas di dalam kumpulan esai di buku ini seperti mengaduk-aduk residu belaka. tidak banyak yang menulis untuk masa kini, tidak banyak yang baru. hanya mengulang dan menghadirkan fakta masa lalu. menulis sejarah arsitek dan arsitektur indonesia seharusnya tidak melulu mengulang-ulang cerita bagaimana AWAL penampilan arsitek dan arsitektur indonesia. CARA kita menetapkan awal itu sendiri perlu diusut. buku ini masih belum mengritisi hal itu. tapi ya sudahlah, setahu saya, buku ini disiapkan untuk terbit lima tahun yang lalu. jadi, saya paham bila isu-isu mutakhir tidak tertangkap darinya. atau, memang wacana di dunia arsitektur memang stagnan?
Saya mendengar banyak kritik atas buku ini, sehingga, sebelum membacanya, saya tidak terlalu berharap banyak. Namun, setelah membaca, saya kira buku ini patut mendapatkan pujian. Usaha untuk merekam sejarah arsitektur Indonesia (yang tidak punya dokumentasi yang baik) secara komprehensif, adalah langkah berani.
Para penulis pun akhirnya tidak bisa mengandalkan sepenuhnya pada data pustaka. Setiap kali ada pernyataan yang butuh cantuman referensi, saya pun tertarik untuk melihat sumbernya. Ternyata betul saja, sumber wawancaranya banyak yang unik: catatan kuliah, memo IAI, wawancara, atau bahkan surel.
Sebagai rekaman sejarah arsitektur, sekalipun dirunut berdasarkan waktu dan perspektif arsitektur saat itu, buku ini lebih menitikberatkan pada cerita perjalanan kelompok atau individu ketimbang pembahasan perspektif arsitektur itu sendiri. Tidak apa juga, saya pikir, karena catatan seperti itu juga penting, dan perlu ada yang melakukan hal tersebut. Itu tugas buku ini.
Penulis buku ini bukan satu, melainkan banyak. Beberapa tulisan terbaik dalam buku ini adalah "Pagi Hari dan Lekang Siang Seorang Sujudi" oleh Yuswadi Saliya, karena memiliki perspektif personal tetapi tegas atas perjalanan Sujudi, yang kemudian ditarik ke dalam konteks yang lebih luas yaitu arsitektur Indonesia; "Sukarno: Bapak Arsitektur Indonesia" oleh Bambang Eryudhawan (di antara dua tulisan lain tentang Sukarno), yang menceritakan runutan perjalanan Sukarno dalam koridor arsitektur, dari sejak ia kuliah, membuat biro, sampai menjadi presiden; dan "Kunjung Ulang AMI: Penjelajahan Meredup dan Catatan Tambahan" oleh Gunawan Tjahjono yang menceritakan, dengan tutur yang jujur, pandangannya atas perjalanan AMI.
This is definitely the book you need the most in order to understand further on the history of architecture in Indonesia, particularly in the end of 1800s up to present (2012).
I, as an oversea-architecture-graduate, find this book very comprehensive. It presents not merely about history, but also value and ideas of the architects relevant to the eras. If such book never exists, I would've never known about the architecture timeline in my own motherland.