Menurut Mansour Fakih, setidaknya ada 5 ciri pendirian neoliberalisme. Pertama biarkan pasar bekerja; kedua, kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak produktif seperti subsidi untuk pelayanan sosial. Pendirian yang ketiga adalah deregulasi ekonomi; keempat, keyakinan terhadap privatisasi; dan kelima, gantikan gagasan “barang-barang publik”, solidaritas sosial atau komunitas seperti “gotong royong” dengan paham “tanggung jawab individual”.
Paham neoliberalisme sekarang sedang berjaya menguasai dunia setelah berhasil menggeser paham sebelumnya, yaitu developmentalisme. Bagi rakyat miskin, keduanya sama saja, yaitu bagai keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Buku ini akan membongkar apa itu neoliberalisme, apa saja strategi neoliberalisme dan mitos neoliberalisme, serta bagaimana neoliberalisme menjerumuskan kita ke dalam jurang kemiskinan. Kemiskinan bukan disebabkan karena kita malas atau bodoh, kemiskinan adalah kesalahan kebijakan sistem neoliberalisme. Buku ini mengajak kita semua untuk menciptakan dunia yang lain, yaitu dunia yang bebas dari neoliberalisme.
MANSOUR FAKIH (1953–2004), kelahiran Bojonegoro, menyelesaikan sarjana teologi di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta tahun 1978, dan meraih Master dan Doktor bidang Pendidikan di University of Massachusetts at Amherst, Massachusetts, USA, pada tahun 1990 dan 1994. Pernah bekerja sebagai tenaga penyuluh lapangan pada program pengembangan industri kecil di LP3ES Jakarta dan Lembaga Studi Pembangunan (LSP). Lantas menjadi koordinator Program Pendidikan dan Pengembangan di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Tahun 1993-1996 menjabat sebagai Country Representative Oxfam-UK/I di Indonesia, serta menjadi anggota Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pada tahun 1994, dia bergabung dengan sembilan kawan (Roem Topatimasang, Zumrotin K.Susilo, Wardah Hafidz, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Fauzi Abdullah, Mahendro, August Rumansara, Roy Tjiong, Sugeng Setiadi, dan Wilarsa Budiharga) mendirikan Resources Management & Development Consultants (REMDEC) di Jakarta, suatu lembaga pelayanan fasilitasi dan konsultasi pengembangan kemampuan (capacity building) organisasi-organisasi non pemerintah dan masyarakat.
Pada rentang 1996-1997, Mansour Fakih bersama Roem Topatimasang menginisiasi suatu bentuk organisasi yang memfokuskan diri sebagai sistem pendukung gerakan sosial, terutama pada aras lokal dan akar rumput. Mereka berdua lalu mengajak beberapa kawan lama_para pegiat dan fasilitator senior ORNOP Indonesia seperti Rizal Malik, Sri Kusyuniati, Sita Aripurnami, Fauzi Abdullah, dan Wilarsa Budiharga mendirikan Institute for Social Transformation (INSIST) di Yogyakarta.
buku "marah-marah" dari Fakih. kritiknya lebih tajam -meski bukan berarti selalu ada hal baru- dibandingkan 'Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi.' mengutip Lentera, buku ini adalah -saya pikir, "sumbangan Fakih untuk Indonesia..."