Sebuah cangkir dan poci yang terbuat dari tanah liat kusandingkan bersama teh bubuk dan gula batu. Wangi melati perlahan menari di udara. Dalam setiap hirup kurasakan nyaman, dari tegukan demi tegukan yang melewari kerongkongan. Sedikit asam dan pahit berpadu dengan manis yang samar-samar. Kemudian, satu per satu rekaman cerita bermain dalam kepalaku. Terselip cerita lama yang harus kubuka kembali demi sebuah permintaan.
**** Karena rasa mampu merekam cerita, dan setiap cerita mempunyai rasa. Rasa Cinta berisi kumpulan kisah yang dibalut analogi rasa. Sudut pandang dan cara bercerita 7 penulis dari latar belakang dan selera yang berbeda membuat ceritanya beragam. Mulai dari merasakan bika ambon yang serupa dengan kenangan manis masa lalu, nasi goreng khas buatan ibu yang selalu mengingatkan pada kasihnya, sampai secangkir teh poci yang mampu menggantikan hangat sebuah pelukan. Selamat mengecap rasa (ikon love).
Baiklah, gue akan menilai objektif buku ini terlepas dari salah 3 penulisnya (Roy, Ariev, dan Dwika) yang gue kenal baik.
Gue suka!
Pertama, temanya jelas beda. Belum pernah nemu yang begini sebelumnya. Memadukan makanan dan cinta. Udah gitu, adonannya pas :)
Kedua, bahasanya ringan. Jarang gue bisa melahap habis kumcer, kebanyakan cuma 1 2 lalu buang. Karena, rata-rata pada berat dan bikin mikir gitu kumcer yang udah ada, ngabisin umur banget bacanya.
Berikut notes gue untuk berbagai ramuan milik ke-7 penulisnya:
Roy dan Ariev, ceritanya make twist yang luar biasa, nggilani, bikin gue bilang eaaaaa...bangkek! Keren abis. Inget permen jaman dulu yang meledak-ledak di mulut? Ya begitu rasanya, mengejutkan. Sama kayak ending cerita mereka.
Punya Dwika, gue bacanya sih gini. Ibarat makan, gue mesti ngunyah berkali-kali sambil mencermati ini gimana ya rasanya...perlahan-lahan gue terus kunyah, sambil terus mikir, sampe akhirnya di detik gue telan gue bisa bilang: Aha! Keren! Ya, meski alur agak muter tapi endingnya oke banget.
Punya Popok, ya ya ya...mirip kudapan yang lebih dipilih orang untuk dikonsumsi saat kekenyangan banget. Ringan dan lucu khasnya Popok. Meski ada beberapa bagian yang aneh (dalam salah satu ceritanya terdiri dari dua bagian cerita yang nggak nyambung tapi dipaksakan dengan analogi makanan). Tapi ya namanya juga kudapan, mengandung MSG yang ngak sehat aja banyak yang doyan :p
Dewi, Loli, dan Anita. Menurut gue, ibarat masakan kayak lodeh, kangkung, dan bayam. Beda sih, tapi sama-sama sayuran masakan rumah. Setipe, hanya dibedakan gaya penulisan saja. Dewi dengan diksi tingkat tinggi, Loli dengan tulisannya yg quotable (gue suka bgt!), dan Anita yang dalem. Catatan untuk Anita, ada salah satu ceritanya yang panjang banget. Sebenarnya bagus, tapi kepanjangan dan nggak dapet poinnya. Gue sampe harus bolak-balik bacanya.
After all, gue kasih bintang bukan 3 ya, tapi 3.5 cuma gue nggak ngerti caranya bikin setengah hehe. Kenapa nggak dibuletin ke atas aja jadi 4? Karena porsi suka banget di bagian Roy dan Ariev aja, sisanya suka aja. 2 out of 7.
Seperti kumcer yg lain, ada cerpen bagus, biasa saja dan jelek. Kumcer ini lebih banyak di dua kategori yg terakhir. Ceritanya tidak ada yg berhasil memukau. Namun demikian, saya punya cerita favorit di buku ini yakni Mengulang Salah yg dituturkan dg jenaka tapi tetap mempunyai pesan moral.
I borrowed this book at Gramedia with my lovely cousin, Maudy Anggita. One of my favorite poem is "Rhyme in Ice Cream Flavour" by Dwika Putra. To sum up, I recommend you to read this book.
This entire review has been hidden because of spoilers.
bukunya bagus dengan kisah yang bermacam-macam. baca buku ini seakan dibawa ke berbagai kehidupan cinta, dari cinta sejenis, cinta berbeda agama, cinta dengan perbedaan usia yang besar, cinta di dalam keluarga, sampai drama di dalam drama. terkadang akhir dari sebuah cerita di buku ini tidak terprediksi, dan membacanya bagai menghisap candu, tidak dapat berhenti hingga akhir.
cerita-ceritanya terlalu pendek untuk cerpen. Awalnya menarik tapi lama kelamaan kok cerita-ceritanya jadi seragam ya? Dan nggak terlalu ngerti bedain Appetizer, Main Course, sama Dessert kecuali berdasarkan pilihan makanan di cerita. Dari isi ceritanya sih sepertinya nggak dikategorikan ya. Sepertinya cuma bagus di kemasan. Tapi ada beberapa cerita yang oke lah idenya.
suka sama layout dan kemasannya yang menarik. begitu membuka halaman pertama, daftar isi dibuat seperti daftar menu (agak sedikit mengingatkan aku dgn unforgettable nya Winna Efendi). Ceritanya sendiri beragam (to be honest aku lebih suka baca kumpulan cerita yg ditulis oleh beberapa penulis sehingga lebih variatif dan gak bosen, daripada ditulis oleh 1 orang saja).
Buku ini saya baca pas liburan kemaren, karena kehabisan buku dan jalan2 di toko buku, nemu deh buku ini. Cerita tentang cinta dari berbagai background, some sweet stories, shocking and disgusting, overal bagus keseluruhannya, gak ketebak jalan cerita dari cerita2 ini, representas cinta melalui makanan dan minuman. Maybe some of you will think that the stories is so "gueh banget" gitu deh...-__-
This entire review has been hidden because of spoilers.
ngubek-ngubek stock buku-di-kantong-plastik-hitam-miliknya-yang-tak-habis-dibaca, dan gak sengaja nemu ini buku dan karena ada nama Roy Saputro jadinya gue baca. yang ceritanya menarik cuman dari Roy sama Lolita aja, yang lainnya terkesan ditambahkan atau dipaksakan atau juga dilucu-lucukan. dibagi ke 3 fase hidangan yang menurut gue jadi dipaksain sama ceritanya.
paling suka sama cerita Dua Tangkup Cinta by Roy Saputra, dibagi 3 cerita di masing-masing appetizer, main course, dan dessert. Dijamin bikin ketawa! Ceritanya sangat tak terduga. Pokoknya bagus, layak baca bagi yang suka kumcer.