Sebenarnya saya berniat untuk tidak akan pernah memberi rating kepada karya-karya saya sendiri. Penilaian adalah sepenuhnya hak pembaca, begitu prinsip saya. Meski demikian, khusus buku 'Menujuh' ini, ada enam penulis selain saya yang menampilkan cerita dan gaya menulis masing-masing, sehingga saya merasa perlu memberi penilaian pribadi juga.
'Menujuh' bukan hanya tentang menulis. Buku ini terlahir dari sebuah proses kreatif yang dikawal secara bersama-sama oleh ketujuh penulis. Dari pemilihan konsep penulisan, pemberian nama judul, pemilihan ilustrator, sampai pemilihan konsep promo adalah hasil musyawarah bersama. Terlibat menjadi 'seperdelapan' bagian buku ini (tujuh penulis plus Lala Bohang sebagai ilustrator) merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan!
Konsep awal membuat suatu kumpulan cerita dilemparkan pertama kali oleh Dilla (Maradilla Syachridar) melalui sebuah celetukan iseng di pertemuan pada suatu sore hari di kota Bandung. Saya langsung menyambut baik usulan tersebut, yang langsung dilontarkan lagi oleh Dilla kepada Theo (Theoresia Rumthe alias Perempuan Sore) dan Dea (Salamatahari). Ide pun lalu dimatangkan di Warung Ngebul milik Valiant Budi (Vabyo), yang pada akhirnya diajak pula on board. Pada akhirnya, kami pun menentukan bahwa penulis yang terlibat harus genap tujuh orang... eh ganjil maksudnya. Setelah itu, kami tinggal mencari dua penulis lagi untuk mengisi slot tersisa.
Dilla (lagi-lagi), mengusulkan agar kedua slot penulis itu diisi oleh pribadi-pribadi nyentrik dengan gaya tulisan unik. Akhirnya diajaklah Iru Irawan dan Aan Syafrani, dua orang teman baik yang langsung menyambut baik ajakan tersebut.
Lalu, akhirnya setelah melewati brainstorming dan diskusi kreatif yang berlangsung mulus tanpa pro dan kontra, akhirnya dipilihlah benang merah yang akan mengikat ketujuh konsep cerita yang berbeda-beda: yaitu nama-nama hari!
Senin: Aan Syafrani
Saya pribadi merasa cerita Aan sebagai pembuka memberi sesuatu yang fresh. Ceritanya yang kocak dan 'anak-muda-banget' menunjukkan potensinya yang selama ini terasah sebagai editor (sekaligus scout) naskah-naskah komedi. Meskipun mengaku baru pertama kali menulis naskah fiksi, namun Aan patut memperoleh apresiasi tinggi atas kedua cerpennya: 'Seninku Selingkuh' dan 'Seninmu Kuselingi'.
Selasa: Theoresia Rumthe
Theo adalah figur yang menarik. Terkenal sebagai penyiar radio di Bandung, Theo punya sisi lain di dunia internet. Blognya, http://perempuansore.blogspot.com, memiliki banyak penggemar setia di mana-mana. Di buku 'Menujuh' ini, kami semua memercayai Theo sebagai pimpinan project, yang sekaligus unjuk gigi dengan dua cerpennya, 'Hari Ketika Hujan Mati' dan 'Sebelum Hari Ketika Hujan Mati'.
Rabu: Iru Irawan
Saya sudah mengenal Iru sejak SD, dan selama ini ia dikenal sebagai pemain keyboard band indie Hollywood Nobody dan tukang bermain kata-kata yang kadang melankolis di Twitter. Ternyata Iru jago juga merangkai cerita di 'Haru Biru Kelabu' dan 'Baru Hari Rabu'.
Kamis: Valiant Budi
Selama ini saya mengagumi Vabyo sebagai pembuat cerita dengan alur misterius. Ketika mengajaknya bergabung ke project ini, kami sempat mengira ia akan menolak karena saat itu ia lagi sibuk-sibuknya mempromosikan Warung Ngebgul-nya dan buku nonfiksi kerennya, 'Kedai 1001 Mimpi'. Namun, ternyata ia kembali menghipnotis kita di dua cerita unik, 'Kamis, Puk-Puk' dan 'Simak! Kup-Kup'.
Jumat: Mahir Pradana
Ada gap waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan kedua cerita di sini. 'Follow Friday' saya selesaikan di pertengahan 2011, sebelum berangkat ke Swiss untuk kuliah. Cerita kedua, 'Moonliner', saya selesaikan di Swiss setelah memperoleh ilham pada saat pelaksanaan karnaval Fasnacht, Maret 2012. Semoga kalian suka.
Sabtu: Sundea (Salamatahari)
'Ke Mana Sabtu Pergi?' dan 'Ke Sana Sabtu Pergi' adalah dua cerita yang memang 'Dea banget'. Sebelumnya, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang unik dan enjoyable di http://www.salamatahari.com . Cara menulis Dea yang 'one of a kind' memberi warna tersendiri di buku rangkaian kisah tujuh hari ini.
Minggu: Maradilla Syachridar
Hari terakhir adalah harinya Dilla, teman sekaligus juga penulis muda yang (lagi-lagi) saya kagumi. Saya sempat mengira ia akan bermain-main dengan genre yang cukup absurd, seperti yang ia tunjukkan di novel-novelnya terdahulu. Ternyata, Dilla muncul dengan sentuhan manis di dua cerita bertema 'battle of sexes', 'Solo Stranger' dan 'Solo Stalker'.
Last but not least, lima bintang saya berikan bukan hanya karena saya ikut terlibat, melainkan karena proses penyusunan buku ini merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. :)
Menuju(h) berisi tujuh hari yang dikisahkan dalam cerita-cerita pendek. Ada pria yang punya hari libur di hari senin. Ada selasa ketika hujan mati. Rabu yang penuh kejutan tentang cinta. Ada Kamis yang penuh tipu daya. Ada jumat yang menemukan cinta. Ada hari Sabtu yang lari dari kalender dan berpura pura menjadi sabtu eh sabut kelapa. Ada seorang gadis yang menyelidiki sahabat mayanya di suatu hari Minggu.
Membaca kumcer ini membuat mood saya naik, padahal sebelumnya saya lagi males banget baca buku. Ceritanya ringan dan ngga butuh mikir berat buat memahaminya. Favorit saya ada di hari Seninnya Aan Syafrani dan Kamisnya Vabyo. Kocak XD
Judul : Menuju(h) Penulis : Aan Syafrani, Iru Irawan, Mahir Pradana, Maradilla Syachridar, Sundea, Theoresia Rumthe dan Valiant Budi. Penerbit : GagasMedia (2012) Halaman : 250 hlm
Buku ini adalah persembahan dari @salamatahari (Sundea) atas terpilihnya fotoku dalam #KuisMenujuh yang diadakan @salamatahari dan @GagasMedia. Kumpulan cerita ini adalah buku kumpulan cerita kedua setelah Filosofi Kopi yang menjadi salah satu favoritku. Menuju(h) bercerita tentang hari-hari yang bercerita. Hari-hari yang membentang selama satu minggu penuh. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu.
“Hari punya sistem pergantian yang teratur sehingga ia tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan” – Menuju(h)
Ya, begitulah hari. Dia setia mengiringi manusia dalam pergiliran waktu. Buku ini penuh warna. Masing-masing perncerita memiliki warna dan cara. Mencipta cerita berdasarkan nama hari-hari. Warna Senin tak sama dengan Kamis dan begitulah seterusnya. Mereka bercerita dengan hari-hari. Menghasilkan satu minggu penuh warna dan makna yang berwujud buku Menuju(h) ini.
Dan Jum’at, cerita di hari ini menjadi yang paling berkesan untukku. Mahir Pradana. Dia menulis dan bercerita tentang hari Jum’at. Dua ceritanya ‘Follow Friday’ dan ‘Moonliner’ adalah dua cerita yang terhubung, atau memang satu kesatuan cerita? Aku langsung menyukai sosok Safir meski di ‘Follow Friday’ dia jadi yang terintimidasi tapi itulaj proses dimana seseorang mulai menyadari bahwa dirinya pantas untuk mimpi yang lebih besar. Safir, sunggu dia akan menjadi penulis hebat masa depan.
‘Moonliner’ membawanya pada sebuah pemberhentian yang dia tuju, hati Regina. Jika kamu, Safir, benar ada, aku pasti akan senang membaca tulisan-tulisanmu.
Kak Mahir, Safir ini Kak Mahir sendiri, ya? Hihihi ^_^
Aku suka Menuju(h). Satu minggu yang berwarna-warni. Salut untuk ketujuh pencerita. Seandainya seminggu ada delapan hari, aku ingin menyelip di antara kalian. ^_^
Aku jatuh hati pada cover dan ilustrasinya. Jeffri Fernando selalu membingkis buku GagasMedia sehingga menawan hati. Dan untuk Lala Bohang, ilustratornya. Aku suka sekali visual yang kakak buat. It seems like to be childish drawings but they name their character!
Saya mengalami trauma membaca kumpulan cerpen banyak orang yang dijadikan buku semenjak membaca Cerita Sahabat 2: Asmara Dini Hari. Setelah mengeluarkan uang untuk membaca kumcer yang kurang dari setengah ceritanya yang bagus itu (dan kayak nggak ada editornya dan hanya mengandalkan selebtweet dan nama mbak Alberthiene Endah dan...--ah sudahlah, lupakan. Kita nggak lagi membahas buku itu) saya agak trauma membaca kumcer. Takut dikecewakan. Persis lah kayak orang yang baru patah hati setelah pacaran bertahun-tahun.
Tapi saya membaca buku ini karena ada nama Valiant Budi Yogi--yang saya suka banget semua bukunya *dadah-dadah ke Buhpy* dan mungkin karena ekspektasi saya nggak tinggi-tinggi amat, jadinya setelah selesai perasaan saya sama sekali nggak kecewa, hehehe. Jangan-jangan ternyata bener ya, life is all about managing expectation.
Saya mereview nggak memegang bukunya. Jadi saya nggak ingat siapa nulis yang mana, cuma ingat ceritanya aja. Saya suka bagiannya Aan Syafrani yang slengean dan lucu. Saya juga suka bagian Valiant yang kelihatan banget ciri khasnya di seluruh cerita. Saya suka bagian Mahir yang walaupun narsis berat pakai bawa-bawa Here, After di ceritanya, tapi feel-nya dapet kok (I feel you, Mahir. Memang ada titik dimana para penulis itu bawaannya pengen promosi terus menerus tentang karyanya. Tenang aja, I feel you... *jadi curcol*). Saya juga suka karyanya siapa ya, saya lupa namanya--yang tentang cewek stalking sampai ke Solo. Itu bagus.
Well, kayaknya saya hampir menyukai semuanya ya... (kecuali yang agak absurd. Atau mungkin itu otak saya aja yang nggak mampu mengolahnya). Big thanks to Aan yang menulis di awal. Kalau bukan karena dia, saya mungkin udah meletakkan buku ini entah dimana sebelum selesai dibaca. Dan kalau saya menyukai satu buku, saya akan membacanya terus menerus nggak berhenti-berhenti sampai buku tersebut habis. Terbukti saya menamatkan buku ini nggak sampai satu jam.
Mungkin, ini adalah buku kumpulan cerita favorit saya yang diterbitkan Gagas Media. Yang saya suka adalah Senin, Selasa, Kamis, Jumat, dan Minggu.
Senin. Baru pertama kali ini baca tulisan Aan Syafrani. Terhibur. Segar. Khas banget womanizer pas baca Seninku Selingkuh. :)
Selasa. Well said, aku penggemar Kak Theo mulai dari dua tahun lalu. Aku selalu baca blognya dan juga pengagum tweet-tweetnya, nggak tahu kenapa, saya suka sekalu dengan hidupnya dan caranya bercerita. Ceritanya bagus. Entahlah, kupikir dia mirip seperti Lala Suwages. (Komentarin bukunya, Diego, bukunya!):)
Rabu. Bagus aja. :)
Kamis. Saya baru sadar, setelah membaca hari Kamis, sepertinya Kak Vabyo nggak pernah nulis romance, ya? Kalo nggak pernah, aku mau tos dulu ah sama Kak Vabyo, berarti sama dong, aku juga bukan penulis romance. :)
Jumat. Suka banget sama moonlinerr, tapi lebih suka lagi sama Follow Friday. It's inspiring. Mengajak orang untuk nggak terjerumus selera pasar dan nggak berotak suam-suam kuku.
Sabtu. Bagus aja. :)
Minggu. Akhirnya menutup buku ini dengan sangat lega. Hari Minggunya paling cetar membahana badai! Saya suka cara Maradilla bercerita, seperti tidak ingin menghentikannya barang sedetik pun sampai ceritanya selesai. Dan, ketika selesai saya kemudian mengeluh, "Udahan?" Sebab itu artinya buku ini bagus sekali. :)
Kumcer yang unik karena yang nulis ada 7 orang, dimana setiap orang kebagian jatah menulis dengan tema hari (Senin s.d Minggu). Setiap orang punya 2 cerpen, yang saling nyambung antar satu cerita dengan cerita lainnya.
Saya suka sama cerita hari Senin dan Kamis. Yang lain agak susah ditangkap sama otak saya. Tapi bukan berarti nggak bagus, hanya kurang bisa saya nikmati :)
Novel yang unik, dimana berisi cerita selama 7 hari berbeda. Cerita-cerita yang unik yang dibawakan dengan apik dan khas para penulisnya. Cukup suka dengan novelnya, khususnya tulisan mbak Theoresia Rumthe :D
“Aku nggak suka diceritain ending suatu cerita, baik itu novel maupun film. Sebuah ending, baik bahagia maupun sedih, hanya berhak diketahui oleh seorang yang menjalani semua prosesnya. Nggak boleh loncat langsung ke ending. Nggak ada seninya” (Moonliner)
Buku ini jadi salah satu yang saya beli di pesta buku Gramedia sekitar 1 bulan lalu. Alasan memilihnya karena salah satu penulisnya adalah Sundea—yang blognya saya follow. Ternyata saya super sangat nggak menyesal membaca buku ini. Oke, honestly menyesal kenapa baru baca buku ini sekarang, padahal ini keluaran 2012. Setuju banget sama opening dari Ka Windy yang bilang kalau tema yang diangkat dari kumpulan cerita pendek ini sangat menarik, yaitu tentang 7 hari dalam seminggu. Mereka dikisahkan oleh 7 orang yang berbeda, dimana di setiap harinya ada 2 cerita. Hampir semua hari favorit bagi saya. Cerita “Senin” pembuka oleh Aan Syafrani juga oke. Seperti menyelami sudut pandangan cowok secara asli. Di “Selasa” milik Theoresia Rumthe, ide ceritanya nggak biasa dan membuat kita menikmatinya dengan mengerutkan dahi lebih dalam. Sorry to say, tapi aku nggak suka cerita “Rabu” milik Iru Irawan. Dan “Kamis” nya Valiant Budi menurutku super awesome. Ini sih yang ceritanya paling membekas di kepala. Nah “Jumat”nya Mahir Pradana di cerita keduanya (Moonliner) cukup sweet. Ini sih emang penilaian subjektif, tapi selalu falling in love sama love story yang punya lollipop moment berupa buku. And Moonliner tells about that. Sundea, yang menjadi daya Tarik kenapa saya beli buku ini juga mengisahkan “Sabtu” dengan sangat nggak biasa. Mengajak saya berimajinasi membayangkan Sabtu yang menyamar sebagai Sabtu kelapa dan tertawa mengikuti perjalanannya. Sementara Maradilla Syachridar menutup hari “Minggu” dengan cerita yang cukup sweet even has an ugly truth. Buku kumpulan cerita pendek ini sangat recommended dari saya. Selamat membaca
7 hari 7 penulis. Setiap penulis menuliskan 1 hari dalam 2 cerpen.
Senin sampai Minggu memiliki sisi yang berbeda. Ada yang bercerita secara gamblang. Ada yang berfilosofi. Ada yang romantis. Ada yang bikin sakit hati. Ada yang mengharubiru. Ada yang lucu.
Biasanya aku tidak begitu menikmati membaca cerpen. Tapi ketujuh cerita ini membuatku terpikat dengan semua hari-harinya.
Found this at my parents' house. A light read. Each story is unique in their on way. Some are thought-provoking, some are easy to resonate with, and some are astonishingly odd. The ones by Sundae — 'Ke Mana Sabtu Pergi' and 'Ke Sana Sabtu Pergi' — for me personally, take the spotlight. They are heartwarming and funny. Such a new perspective. None of the stories are cheesey, but raw and bold and full of surprise instead, which I adore with passion.
i love "Selasa" part because it has different feel than the others, deeper and darker. all of the story themselves are fine, entertaining, and enough as your travel friend.
pas selesai baca ini jadi mikir kira2 kalau saya diminta membuat cerita tentang hari, hari apa yang akan saya pilih ya?
setelah dipikir2, kayaknya nggak ada hari yang benar2 istimewa banget deh. misal kayak saya pernah memutuskan untuk membenci hari senin, tapi ternyata saat besar, banyak sekali rezeki yang datang pada hari Senin.
pernah membenci jumat sampai sedemikian benci juga, tapi ternyata setelah bekerja, banyak berkah tak terduga yang sering terjadi hari Jumat.
setiap hari menurut saya berharga dan istimewa. jadi mungkin kalau saya diminta untuk berpartisipasi disini bakalan susah wqwq
***
cerita yang kurang saya sukai ada 2. yang cerita dari mbak Perempuansore dan salamatahari. yang satu terlalu puitis yang satu terlalu imajinatif. menurut saya, cerita2 puitis tentang hujan dan kongankangen itu udah gak relevan lagi sekarang :'(
sisa 5 cerita yang lain saya suka banget! terutama ceritanya mas Mahir (MANIS BANGET). Vabyo. dan mbak Iru irawan. yang punya mbak iru irawan sih yang bikin ngakak banget. ceritanya relevan dengan keadaan saya banget wqwq
cerita mbak Iru ini benar2 cerita #DigitalLove banget. tentang 2 orang yang saling mengenal melalui internet. lalu suatu hari si A diam2 berkunjung ke tempat B untuk melihat ia secara langsung.
aaak, pokoknya harus baca sendiri. pas baca itu mesem2 sendiri. soalnya saya ada rencana lebaran nanti mau main ke Padang. ngapain? bertemu Rangga. lha bukan di Newyork (HADEEH, RANGGA SIAPADAH????)
kutipan kesukaan..hmm.. ini doang kayaknya
''kamu yang aneh. jangan menangis disini dan membuat orang lain tidak enak untuk meneruskan makan'' ''maaf. hanya saja segalanya membingungkan dan menyedihkan'' ''maka bertanyalah, temukan jawaban, lalu tersenyum kembali. seburuk apapun peristiwa yang kamu alami hari ini, yakinlah hari esok akan lebih baik''
TUH MAI. BERTANYA!
because if you never ask, the answer will always no.
Jadi ini tu kumpulan cerita dari 7 penulis dalam 7 hari ...well me"nuju" 7 gitu... Dari ketuju cerita ini aku paling suka yang "hari ketika hujan mati by ka theoresia" Agak bingung gitu awalnya eh tapi boom...😂 Sama yang Senin juga anjay bat✌️ wkwkwk
Beli di: Togamas - sale
Buku preloved ku ready di: SHOPEE
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Hari mempunyai sistem pergantian yang teratur sehingga tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan." // Seninku selingkuh & Seninmu keselingi // Cerita ini menceritakan tentang seorang lelaki yang bernama Dimas; ia mengaku bahwa ia adalah womanizer tapi sama sekali tidak mau disebut playboy. Karena, ia telah mempunyai kekasih yang telah berhubungan dengannya selama empat tahun, yaitu Fala. Dimas sering berhubungan dengan perempuan-perempuan lain karena Dimas dan Fala berpacaran jarak jauh.
Pekerjaan Dimas membuatnya harus kehilangan weekend, namun ia memilih hari lain untuk berlibur, yaitu hari Senin. Kebanyakan orang mungkin membenci hari Senin karena mereka harus kembali melakukan rutinitas pekerjaan. Tapi tidak bagi Dimas, hari itu ia jadikan hari untuk berlibur. Karena niatnya ingin membuat surprise, Dimas tidak tahu apabila Fala akan pergi ke Bandung, padahal ia ada jadwal nge-date bersama salah satu gebetannya. Sahabatnya yang bernama Rio, selalu menyelamatkan Dimas agar tak tertangkap basah oleh Fala. Namun Dimas tak pernah menyangka, bahwa ia berbalik diselingkuhi.
// Hari ketika hujan mati & Sebelum hari ketika hujan mati // Rainra adalah gadis yang mencintai hujan. Tak ada yang bisa menyimpulkan perasaannya kepada hujan. Setiap hari hujan, ia duduk di jendela dan memandangi hujan. Setiap hari selasa ibunya memandikannya dan memakaikannya baju. Tiap hari ia hanya menanti hujan.
Menurut Rainra, Hujan selalu menjaganya sama seperti seorang lelaki. Ia tak hanya menatap hujan, tetapi juga berbicara dengan hujan. Mereka bahkan sering berkirim surat yang diletakkan di bawah bantal. Ia merasakan cinta mereka semakin dalam meskipun mereka berbeda dimensi. Ayah Rainra selalu tidak percaya apabila anaknya tengah menjalin hubungan dengan hujan; sebuah hubungan yang tidak nyata. Namun Rainra selalu bersikeras mencintai hujan hingga membuat ayahnya marah dan merasa bahwa Rainra tidak normal. Ia tidak gila, hanya saja sedang jatuh cinta.
"Sebelum hari ketika hujan mati" akan menceritakan kisah yang masih bersangkutan dengan ini namun mempunyai sudut pandang yang berbeda.
// Kamis: puk-puk! & Simak: kup-kup! // Hari itu hari kamis, satu-satunya hari ketika Amel merasa nyaman untuk berbelanja di Pasar. Hari itu ada yang berbeda, pundaknya ditepuk oleh seseorang; "Puk, puk!" bernama Mita yang mengaku bahwa ia adalah teman smp Amel. Meski Amel sama sekali tidak mengingat apapun tentang Mita, ia juga sebelumnya belum pernah berbicara dengan perempuan itu, perempuan itu juga membuat Amel lupa apa yang akan ia beli di Pasar.
Saat tiba-tiba Amel merasa lemas dan matanya berkunang-kunang; membuat Amel mengundang Mita untuk pergi kerumahnya. Pembicaraan mereka mulai kelam ketika Mita mulai menceritakan tentangnya yang pernah hamil sebanyak 5 kali namun selalu keguguran, Mita bertekad untuk meminjam rahim Amel; seolah meminjam barang yang sama sekali tidak berharga. Anehnya Amel hanya menangguk saat Mita menawarkan hal tersebut. Tanpa berlama-lama, keduanya dengan segera memulai prosedur - Mita mengatakan bahwa ia mempunyai dokter khusus yang akan memeriksa Amel. Meskipun Amel terus-menerus bertanya-tanya dalam pikirannya - mengapa ia menurut begitu saja kepada teman SMP yang asing itu - semuanya tetap berjalan sesuai keinginan Mita. Tak lama kemudian, Amel tidak sadarkan diri - dan baru menyadari semua yang telah terjadi keesokan harinya.
Simak: Kup-kup! menceritakan hal yang serupa namun berbeda sudut pandang.
Biasanya aku tidak menyukai suatu kumpulan cerpen. Tetapi kali ini berbeda, aku sangat menyukai cerita-cerita 7 hari dalam buku ini. 1 hari dibagi menjadi 2 cerita. Selain itu aku menyukai ilustrasinya yang lucu dan membuat aku gregetan dan penasaran ingin membacanya sampai habis. Aku akan menuliskan pokok-pokok ceritanya saja:
SENIN: Seninku Selingkuh // Seninmu Kuselingi Aku sangat suka ceritanya yang lucu dan menarik. Dimas seorang womanizer (bukan playboy) selalu berkencan dengan banyak wanita, padahal ia sudah mempunyai pacar bernama Fala. Yang tidak disangka, ternyata ia malah balik diselingkuhi oleh Fala. Apalagi ternyata Fala berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
SELASA: Hari Ketika Hujan Mati // Sebelum Hari Ketika Hujan Mati KIsah ini menceritakan Rainra, yang sangat mencintai sosok hujan. Rainra selalu menanti kedatangan hujan. Ayahnya sendiri menganggap kalau anaknya sudah tidak waras. Aku sedikit bingung dengan jalan ceritanya, namun aku cukup terhibur dengan cerita yang tidak biasa ini.
RABU: Hari Biru Kelabu // Baru Hari Rabu Yang ini... hmmm. Bahasanya oke. Tapi aku kurang menyukai ceritanya. :(
KAMIS: Kamis: Puk-Puk // Simak! Kup-Kup! Dari keseluruhan cerita, aku sangat menyukai cerita hari Kamis. Hari Kamis adalah hari di mana Amel sangat nyaman untuk berbelanja. Di pasar ia bertemu dengan Mita, seseorang yang mengaku teman SMP-nya. Mita menepuk pundaknya "PUK,PUK." Singkat cerita, ia membawa Mita ke rumahnya. Di situ Mita mengutarakan keinginannya untuk meminjam rahim Amel. Anehnya Amel mengiyakan saja permintaan itu. Kisah selanjutnya? Bisa dibaca sendiri ;)
JUMAT: Follow Friday // Moonliner Cerita di hari Jumat ini banyak pelajaran hidupnya. Cuma untuk menjelaskannya aku terlalu malas :p
SABTU: Ke Mana Sabtu Pergi? // Ke Sana Sabtu Pergi Cerita ini malah lebih mirip seperti dongeng. Sabtu, hari keenam kabur meninggalkan keenam saudaranya. Ia malah menyamar sebagai Sabtu Kelapa. Ia berteman dengan sabut kelapa. Cerita kedua menjelaskan bayang-bayang yang menghantui Sabtu.
MINGGU: Solo Stranger // Solo Stalker Aku menyukai ceritanya. Sempat bingung, namun penyelesaian ceritanya sangat baik. Membaca 1 kalimat terakhirya saja membuatku terasa lega. 'Aimee i know it was you today. Stop stalking me."
Sudah cukup lama tertarik dengan buku ini. Lihat saja covernya. Dan tema-nya. Apalagi kutipan di balik lipatan cover depan. Hari punya sistem pergantian yang teratur sehingga tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan. Langsung jatuh hati.
Saya tidak terlalu suka kumpulan cerita pendek. Terlalu cepat selesai. Dan kebanyakan dibiarkan menggantung. Membuat saya berkelana menebak-nebak bagaimana kelanjutan hidup karakternya. Bikin gemes. Tapi bukankah itu yang membuat cerpen begitu mempesona. Dan itu pula pesona yang disajikan di buku ini.
Senin dimulai. Berbeda dengan image orang kebanyakan I hate Monday, buku ini memilih Senin dengan sesuatu yang tak terduga. Layaknya hari baru yang tak bisa kita tebak, Senin mengalir dengan candanya. Seolah menertawakan sibuknya Senin. Saya tertawa. Ringan.
Selasa ternyata lebih syahdu. Ditemani hujan dan mendung. Tapi lihat apa yang terjadi, selesai saat saya mulai menikmati. Bikin pusing berpikir bagaimana kelanjutan kisah mereka.
Rabu sang tengah minggu datang secara sophisticated. Tak banyak yang bisa diceritakan. Aah, cerita pertama sangat menarik.
Dan Kamis mengantarkan mistis. Aneh. Puk Puk dan Kup Kup. Namun berubah menjadi cerdas.
Jadi kepikiran kalau ternyata buku ini tidak sesuai ekspektasi. Walau entah apa ekspektasi saya terhadap buku ini. Tapi itu lah bahaya ekspektasi. Tidak mengerti, namun tetap menjadi definisi.
Jumat mulai bosan. Untung ini bukan hari Senin. Terlalu serius untuk bahasan Jumat.
Dan Sabtu datang membuat excited. Somehow, ekspektasi saya terhadap buku ini dipenuhi oleh Sabtu. Atau ide utamanya dimulai dari Sabtu? Sabtu memang hari saat hal-hal menarik bisa dilakukan. Secara tidak terduga.
Minggu tinggal dinikmati. Bersantai menikmati akhir untuk mengawali yang baru.
Hahaha. Cukup aneh bikin review seperti ini. Tapi ini yang ada dipikiran saat baca.
Biasanya saya lebih suka membaca kompilasi cerpen dari penulis yang sama, atau novel sekalian karena dengan begitu, saya tahu apa yang akan saya baca, dan saya harapkan dari satu penulis tersebut. Dengan adanya banyak penulis berkontribusi dengan berbagai cerita, biasanya saya akan suka dengan beberapa dan tidak suka dengan sisanya. Sangat jarang saya akan jatuh cinta dengan keseluruhan buku karena gaya tulis maupun tema cerita sudah jelas akan sangat berbeda satu sama lain.
Buku ini jatuh ke kategori pertama. Menggunakan tema tujuh hari seminggu yang menurut saya unik, juga dengan sampul yang sedemikian menggoda, plus nama salah seorang teman penulis yang saya kenal membuat saya membelinya tanpa banyak pikir.
Cerita satu, dua, tiga, saya pun membaca satu-persatu, meniti hari demi hari bersama mereka dan interpretasi masing-masing. Ada yang lucu, ada yang mellow, ada yang sedih, ada yang filosofis, ada yang konyol, ada juga yang bermakna dan ada yang terus terang saya bingung apa tujuan ceritanya.
Jadi membaca sebuah buku kompilasi cerpen itu buat saya tricky. Ada susahnya, ada senangnya. Beberapa jujur sangat saya sukai, terutama dari beberapa penulis yang pernah saya dengar namanya tapi belum pernah saya baca karyanya, dan jatuh cinta betul-betul (mbak Theoresia dan Iru, misalnya).
Membacanya mengingatkan saya akan masa-masa membaca dan menulis cerpen di Kemudian. Ragam yang ada membuatnya kaya, tapi juga menjadi senjata tersendiri. You don't know what to expect. In the end, it's a story about 7 days, dan dengan benang merah itu setiap penulis mengeksplorasi dan menginterpretasi.
Novel kumpulan cerita yang langsung menarik minat baca gue sekaligus menarik kantong (maklum masih pengangguran) yang berisi tujuh cerita mengenai hari - selalu setia menyertai hidup kita - yang dikemas secara apik oleh tujuh penulis berbakat, yang beberapa diantaranya, gue udah pernah baca novelnya (baca : Vabyo dan Mahir Pradana).Tujuh penulis tersebut, menceritakan hari dengan berbagai kisah sederhana yang mungkin (sering) terjadi dalam hidup. Seperti perselingkuhan, kecintaan akan hujan, hipnotis, teman dunia maya dll. Gaya penulisan yang berbeda antar penulis,membuat gue kadang menebak, ini maksudnya apa yah, lho kok kayak gini dan kok kok lainnya.
Dan, dari tujuh cerita yang ada, yang palingpalingpaling favorit adalah:
Selasa: Hari Ketika Hujan Mati Sebelum Hari Ketika Hujan Mati
** Dua cerita yang saling terkait dengan dua tokoh utama Rainra - yang sangat mencintai hujan - dan Rianra.
Kamis: Kamis : Puk-Puk Simak ! Kup ! Kup !
** Kaget gitu tau ini cerita mengenai apa, awalnya yah gue pikir tentang teman lama (Amel dan Mita) yang saling bertemu dan akhirnya saling membantu, eh ternyataaaaa.. *Kak Vabyoo, sayaa Puk-Puk kamu jadi Kucing :P*
Minggu: Solo Stranger Solo Stalker
**Kisah yang sangatsangatsangat mungkin terjadi dengan perkembangan zaman yang seperti sekarang ini, dimana banyak orang memanfaatkan fasilitas pak pos digital dengan berbagai orang dibelahan bumi lain. Dan gue sangat yakin, banyak orang seperti Aimee dan juga Wega di luaran sana..
Manusia hidup dan berteman waktu. Waktu selalu terbagi dari hari minggu sampai sabtu. Setiap hari punya kisah dari yang genggap gembita sampai haru biru. Dan disinilah cerita itu dirangkum untukmu. Menuju(h), kumpulan cerita hari-hari, tentang cinta, hidup, dan filosofi hati. Selamat menikmati ulasan dariku. Seninku Selingkuh – Senin kuselingkuhi by Aan Syafrani Cerpen ini punya cara bercerita ala stand up comedy. Bahasanya ringan, dan ada unsur humor. Jadi, meski kisahnya nyesek, tetep aja bikin senyum. Ini tentang Satria yang diam-diam selingkuh di belakang kekasihnya. Dia selalu diselamatkan oleh sahabat terbaiknya, Rio. Rio ini juga sahabat Fela, kekasih Satria. Bagi Satria, rasanya aneh kenapa Rio nggak naksir Fela, padahal Fela itu cantik. Dan pertanyaannya terjawab saat Fela ingin membuat kejutan untuknya disaat Satria sudah membuat janji ketemuan dengan Maya. Dengan akal bulus yang dia rancang bersama Rio, Satria akan sok-sokan terkejut. Padahal, apa yang dia lihat ternyata benar-benar membuatnya terkejut. Apakah itu? Kisah cinta bab 1 selesai, berlanjut pada hari senin yang lain, dimana dia bertemu Evi, gadis yang memiliki lebih dari satu bagian tubuh yang disukai Satria. Dia berusaha untuk mendekati Evi. Tapi, saat dia bisa mendekatinya, dia malah kabur. Kenapa Satria kabur? Nah, cari sendiri deh jawabannya. Yang jelas, buku Menujuh dibuka dengan cerita ringan yang asik. Rating 3,6
So far, ini merupakan buku kolaborasi beberapa penulis yang saya suka. Hampir memberi 5 bintang tapi, cukup empat aja deh. Buku ini sangat unik, baik dari segi cover, blurb, juga ilustrasi! saya paling suka buku dengan banyak ilustrasi-ilustrasi seperti ini. Selain itu, tema yang diangkat pun cukup menarik. Tujuh hari, tujuh penulis. Masing-masing dua bagian cerita.
Yang paling saya suka adalah hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat, Minggu. Senin, tentunya dengan penuturan Mas Aan yang kocak.
Selasa,selain karena saya suka hujan, saya suka ceritanya. Rianra, Rainra.
Rabu, honestly ceritanya rada ngebosenin.Tapi saya suka dengan gaya penuturan Mbak Iru :')
Kamis, Kak Vabyo! dibuat tercengan dengan Joker, Puk! Puk! dan Kup! Kup! pun sukses membuat saya agak tercengang juga. Cerita yang ringan, bahkan menunjukan bahwa ide cerita itu bisa berasal dari mana dan dari apa saja. Keren!
Jumat, Safir Vineri. Ada yang berbeda di Follow Friday. Mengajak saya untuk membuka pikiran saya seluas mungkin, dimulai dari keadaan di sekitar yang kadang terlupakan.
Sabtu, hmm... membuat saya berpikir keras arah dan maksud ceritanya kemana dan bagaimana. Saya masih belum mengerti hubungan antara Sabtu, Sabut kelapa, dan bayang-bayang ._.
Minggu, nice closing :'). Hari ini merupakan hari favorit saya. Entahlah, saya menyukai kisah 'stranger' semacam ini. Wega, Aimee. 'Aimee, i know it was you today. Stop stalking me.' - Wega
Di luar kisah-kisah yang disajikan, saya suka cover, layout, juga kata pengantar Windy Ariestanty di buku ini. Dan terpikir, "Harusnya Windy turut menulis salah satu kisah di buku ini." :) Diferensiasi selalu bernilai lebih. Pun berlaku untuk kumpulan cerita pendek. Menujuh(h) memilih pembagian konsep kisah berdasar tujuh hari dalam seminggu. Sejujurnya dalam proses pembacaan, saya tak terlalu merasakan tujuh hari itu menjadi ruh utama dalam setiap kisah. Lalu, mengapa bintang empat untuk buku ini? Kisah-kisahnya sebagian besar menarik dan unik. Kisah milik Theoresia Rumthe, Vabyo, Mahir Pradana dan Maradilla Syachridar mampu memberi kesan pada saya. Dan poin yang membuat Menuju(h)menarik sesungguhnya ada pada dua sisi penceritaan dengan mengambil sudut pandang yang berbeda dari dua tokohnya. Mampu memberi kejutan juga seakan memberi pesan, "Jangan pernah memandang segala sesuatu dari satu sisi belaka. Kebenaran sesungguhnya didapat dengan memandang keduanya secara imbang."
Konsepnya unik, setiap penulis membuat dua cerita pendek yang mengangkat tema tentang hari tertentu. Ada yang ceritanya saling timbal balik (dari sudut pandang 2 tokoh yang saling berinteraksi), ada pula yang membuat cerita yang sama sekali tidak berkaitan.
Yang paling berkesan buatku cerita hari Kamis. Penulisnya hebat deh, bikin aku terkaget-kaget di akhir cerita, meskipun awalnya aku rada nggak mudeng. Nggak nyangka aja gitu. Sedikit frontal dan cerdas. Mengangkat sisi lain dari suatu masalah yang nggak ada matinya sampai sekarang.
Cerita hari Jumat bagus. Yang pertamanya tipe cerita kesukaanku, agak kontemplatif. Cerita keduanya juga hangat.
Cerita hari Sabtu unik banget. Jarang-jarang aku membaca cerita dengan sudut pandang seperti itu.
Cerita hari Minggu idenya sederhana, tetapi ditulis dengan pendekatan lain. Jadinya terkesan beda.
Itu cerita favoritku, bukannya yang lain nggak bagus sih. Cuma tiap pembaca beda selera, kan, ya?
"Tujuh Kawan Setia Yang sepanjang waktu bersetia kepada kita ternyata ada tujuh. Tujuh hari dalam seminggu. Tujuh hari yang mencukupkan hingga tak merasa perlu khawatir satu pun meninggalkan kita."
Menuju(h) adalah kumpulan cerita-cerita pendek yang dituliskan berdasarkan hari terjadinya cerita tersebut. Setiap hari terdiri atas dua cerita yang saling berhubungan - ditulis dari dua sudut pandang karakter yang berbeda. Kumpulan cerpen yang terasa unik dan berbeda ini telah berhasil menghiburku dengan hari-harinya; dan untuk mempersingkat review ini, aku akan menuliskan ringkasan dari beberapa cerita pendek yang berkesan untukku...
Setiap hari memiliki ceritanya masing2. Buku ini dibuka dengan hari Senin dengan ceritanya yg dapat dikatakan agak suram & sedih, namun selingan2 humor nya cocok untuk mengisi tawa di tengah kepenatan hari Senin. Buku ini ditutup dengan hari Minggu dengan ceritanya menurut saya sangat menarik, hanya akhir ceritanya tidak seperti yang diharapkan, agak gantung. No happily ever after, mereka kembali ke kehidupannya. Realistis, tapi bagus :). Hanya... I just wish there's something more to spice it up a bit hahaha :D
Dari semua hari, saya paling suka cerita hari Jumat. Ceritanya paling jelas dari semuanya & have a really good ending. Jadi ga gantung, just great :D
Sebenarnya nggak terlalu suka baca buku kumcer, tetapi "7" membuatku tertarik untuk memasukkannya ke dalam tas belanja :D
Formula yang saya buat untuk buku ini adalah: 7 penulis + 7 hari dalam seminggu = 14 judul cerita (ngaco)
Cerita karya satu penulis ke penulis lainnya tidak berhubungan. Yang menjadi kesamaannya hanyalah setiap cerita memiliki hari khusus dimana suatu peristiwa terjadi.
Nekatnya saya, cuma kenal sama 1 orang penulisnya, jadi gak tau gaya menulisnya seperti apa. Yaa ada yang cocok ada juga yang bikin mengernyitkan dahi.
Yang jadi faforit saja adalah hari Selasa, karena hujan :)
Setiap hari pasti memberikan kesan yang berbeda, begitu pun hari-hari yang mengisi buku ini. Aku suka Senin yang lucu dan slenge'an. Aku suka Selasa walaupun cuma ide ceritanya. Aku nggak begitu suka dengan Rabu sejak awal kurang memikat. Aku suka Kamis yang meledak-ledak dan penuh kejutan. Aku senang Jumat yang inspiratif. Aku kurang berselera dengan Sabtu. Aku menikmati Minggu yang langsung ke sasaran dan menutup dengan nggak bertele-tele.
Kalau diulas ke belakang, rata-rata cerita yang paling aku suka hanya yang ditulis oleh penulis laki-lakinya. Aan Syafrani, Valiant Budi, dan Mahir Pradana jadi 'pahlawan' di Menuju(h)!
Di buku kumpulan cerpen kali ini, aku nggak punya cerita favorit, tapi...
...cerpen yang gaya penulisannya bikin ngakak "Seninku Selingkuh" oleh Aan Syafrani. ...cerpen yang paling bikin parno dan masih aja kuingat "Kamis: Puk Puk" oleh Valiant Budi. ...cerpen yang menurutku singkat tapi manis "Moonliner" oleh Mahir Pradana. ...cerpen yang kalau menjelma menjadi manusia mungkin akan kelihatan imut banget "Kemana Sabtu Pergi?" oleh Sundea. ...cerpen yang bikin nge-jleb karena teringat diri sendiri "Solo Stranger" oleh Maradilla Syachridar.
Saya acungi jempol untuk gaya penulisan yang unik. Menggunakan nama-nama hari sebagai background-nya. Alur ceritanya menarik dan cenderung tidak klise. Covernya depan dan cover tiap ceritanya juga SUPER lucu :3
Tapi sayang... Genre-nya terlalu dewasa untuk di beberapa cerita. Tidak cocok untuk disandingkan dengan satu cerita yang seperti cerita dongeng. Ya cukup kaget sih setelah melihat cover yang unyu-unyu tapi cerita 'wow'. Sebenarnya bagus, tapi kurang cocok dengan selera saya, hehe. Tapi tetap keren kok (y)