What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
First published October 1, 2009
“Gue harus protes nih sama Nyokap!”
“Dasar aktivis. Dikit-dikit protes. Tanya dulu baek-baek dong ke Nyokap,”
“Ya telat dong. Keburu orang itu dateng dan mondok di loteng gue. Lagian Mama Papa gue kok bisa gitu sih? Ini kan hal besar. Harusnya didiskusikan dulu dooong…” (hal. 14)
“…. Mama tau kamu anak Mama yang selalu jujur dan terbuka. Dan anti kebohongan, kan? Kamu tau Inov kenapa? Siapa yang mukulin dia? Kamu kan tau, sindikat narkoba itu bisa ngejer dia sampe sini. Dan bunda Inov udah nitipin di sama keluarga kita. Jadi kalau memang betul begitu, kita harus lapor polisi, Mi.” (hal. 104)
Nggak, manusia nggak pernah siap. Kita memang bisa tahu. Tapi kita nggak pernah siap. Kalau kita selalu siap, buat apa ada emosi?!
“Dari sini, karena banyak, terangnya sama, gemerlapnya sama, yang redup nggak kelihatan. Tapi kita nggak pernah tahu, mana yang bakal mati duluan. Belum tentu yang redup itu mati duluan. Mungkin yang itu… yang paling terang.” (hal. 193)