Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.
----------
Saya itu penyuka kopi. Bukan freak, hanya suka aja. Mulai dari yang instant, yang di kedai-kedai itu, maupun yang di cafe. Oh, di tempat saya juga ada tukang kopi keliling; ada yang pake bakul kayak tukang jamu, ada juga yang pake gerobak.
Dan... saya setuju kalo yang enak saat minum kopi itu, ya obrolan di antara sesapannya. Beda dengan teh, susu, cokelat, jahe, maupun wedang ronde. Nggak tau sih sama yang lain, tapi saya lebih prefer ke kopi. Lebih natural aja gitu kelihatannya.
Dan di Blue Romance, ada 7 kisah di antara harum kopi dan sesapannya.
----------
#1. Rainy Saturday--3 bintang.
Awalnya sempat mikir kalo mau ngasih dua aja, karena ceritanya yang simpel itu. Saya dulu sering baca flash fiction yang temanya mirip sama ini. Komik juga, tapi yg kompilasi.
Yang bikin saya naikkin 1 lagi karena pendeskripsian coffee shop-nya: Blue Romance.
Saya suka baca cerita fantasi, tapi saya capek ketika penulis membuat kisahnya dengan dunia buatannya sendiri. iya kalo ada rincian petanya di awal, kalo nggak ada? kalo ada petanya pun, saya kudu menghafalnya dulu; di mana letak kerajaan ini, yang ini pegunungan apa, itu kastil yang mana. ya tapi berhubung otak saya itu bagaikan pantat wajan, yaaa.. saya sering lupa, hehe. dan itu mengganggu ketika lagi asyik baca, saya harus membuka lagi lembar rincian peta itu untuk memahami apa yg si penulis maksud. see... saya ini tipe pembaca yang rewel. :p
Itulah kenapa saya benci cerpen karena selalu ngasih informasi yang tumpang tindih buat memperkuat isi cerita di awal dikarenakan terbatasnya halaman--dan, ya, ini ngeselin dan melelahkan. tapi saya suka cara Sheva menjabarkan Blue Romance, apalagi diceritakan bersama turunnya hujan (hei... saya suka mandangin tetes hujan ketika lagi berteduh di suatu tempat--seperti cerita pertama ini dimulai). Sheva nggak menjabarkan coffee shop itu secara berlebihan, tapi membagi rinciannya yg lain untuk kisah yang lain pula. itulah kenapa saya sematkan satu bintang lagi untuk cerita pertama ini. :)
#2. 1997-2002--2,5 bintang
Saya suka cara Sheva mengembalikan memori si tokoh utama ke masa kecilnya itu, karena saya juga ikut terhanyut.
Dulu, waktu kecil, saya juga punya seseorang yang dengannya saya selalu berbagi maupun sebaliknya ya karena memang jarak rumah kami yang dekat. Kami sering nonton kartun bareng (astaga, serius saya dulu pernah mabok teletubbies? #AibNomer11), film, sinetron, berangkat sekolah bareng, main bareng, yah taulah intinya.
Dan waktu saya baca bagian ini:
"...Nico suka membaca komik, begitu pula aku. Kami sama-sama membaca Donal Bebek, serta membaca komik pendek asli Indonesia di majalah anak-anak, yang waktu itu sangat populer di antara teman-teman kami." --halaman 42
Heu? kok bisa sama lagi??
sumpah deh, saya nggak akan sanggup kalo harus curcol lebih panjang dari ini. #eaaa
Lalu, kenapa sih eksekusinya harus kayak gitu? Saya nyempatin baca lagi buat memahami endingnya--dan saya masih nggak terima. saya tahu kok maksud kedua tokoh ini jadinya gimana, tapi yang bikin saya nggak terima adalah: kenapa cerita dengan sweet memories di awal harus ditutup dengan ending yang biasa aja--ato, seenggaknya, nggak sesuai ama harapan saya? #SapeLoCobaTur
2,5 bintang untuk Kemoceng
#3. Blue Moon--4 bintang
Saya bisa aja ngasih 5 bintang penuh untuk yang ini. Ceritanya ngena di saya, pesan moralnya paling saya suka. dan, iya, saya kangen Ayah saya gara-gara kisah yang ini. its been 6 years, dan saya masih nggak rela kalo tiap harinya, kenangan saya dan beliau harus memudar--yang mana saya nggak mau itu. Saya nggak bisa seperti Edi yang bisa 'pulang' ke Ayahnya di suatu waktu tertentu, ya walo dalam cerita ini dia harus disadarkan dulu.
Saya kurangin bintangnya karena... saya kurang ngerasain kemistri Edi dan ayahnya. Apa sih yang ngebuat Edi 'pulang' ke ayahnya? cuma karena memori waktu kecilnya yang babak belur itu dan sang Ayah ada di sana dengan senyumannya? (Oooh, saya tau senyuman kedua orang tua itu efeknya dahsyat, apalagi kalo kita berbuat salah #pengalaman.) tapi, seriously, itu doang? ih, kuraaang! #halah (halamannya, woy, halamannyaaa!)
3 bintang untuk Edi dan ayahnya. Nambah 1 karena Blue Moon bisa menciptakan selaput bening tipis di kedua mata saya.
#4. A Farewell to A Dream--2 bintang
Saya nggak suka sama yang ini. Tipe cerita di mana saya eneg karena kebodohan tokoh-tokohnya. Ugh.
Yang udah pernah baca Ai, pasti tau ceritanya kayak apa. Yap, premisnya kayak gitu. untunglah eksekusinya beda; perih, sakit.
Mengejutkan.
#5. Happy Days--2,5 bintang
Kasusnya sama seperti cerita pertama. Flash Fiction-nya banyak. Di buku pun ada kok, yang bukunya mini pake kertas burem itu lho. (iyaaa, saya baca ituuu).
Yang saya suka itu cara penuturan Sheva lewat tokoh utamanya. Bagus banget. Seolah-olah saya ada di sana waktu si tokoh utama menceritakan kisahnya dengan orang yang dia suka.
Saya suka endingnya.
#6. The Coffee & Cream Book Club--4,5 bintang
Cerita favorit saya.
"Kadang orang tidak selalu bilang terang-terangan apa yang terjadi. Orang yang bahagia selalu menutupi kesedihan mereka dengan wajah tersenyum. Tapi mereka tidak tahu bahwa dengan melakukan itu, mereka hanya menjatuhkan diri mereka ke dalam jurang rasa sakit." --halaman 162
Bercerita tentang Bening, yang menutup rapat kenangnya dengan sang Ibu. Tapi, bagaimana ketika suatu memori kecil membuat Bening juga harus membuka kenangannya yang lain?
Seperti Bening, ada satu memori pula yang ikut muncul di benak saya karena cerita ini. dan satu memori itu, menarik memori lain pula untuk diingat dan dikenang kembali.
"You couldn't cover the bitterness of life, young girl... You just need to let it go..." --halaman 163
Beberapa waktu lalu, saya mampir ke warung soto deket rel kereta api, warung soto favorit ayah saya. Pertama kalinya saya ke situ setelah ayah pergi. Dulu, di situ juga jual kerupuk siram saus gula encer, sekarang udah nggak ada.
Banyak yang berubah saat saya mengamati sambil menunggu pesanan. Tapi rutinitasnya tetap sama, masih rame, ribut. Uap dari panci yang kebuka itu juga sama enaknya...
Dan waktu itu saya ngerasa kalo saya dicurangi duduk di situ. Nggak adil. Se-nggak adil Mbok pemilik warung yang nggak inget ama saya. #Yeee #IniAntiKlimaksBukanSih?
Waktu ayah saya nggak ada, saya pengen membagi kenangan saya dan beliau kepada ibu. menceritakan bagian di mana hanya ada kami berdua. Tapi, di satu sisi, saya nggak mau membaginya karena, hei... itu kan punya kami. Dan saya selalu menyimpan itu. Tapi kemudian saya ngebayangin gimana kalo saya lupa? gimana kalo saya nggak inget detailnya? Jadi, yah, saya pun menceritakan bagian kami itu ke ibu.
Warung soto di atas juga saya diingatkan sama ibu. Awalnya saya nggak ngeh, lha wong renovasinya beda gitu. Lebih gede. Kenapa ya saya bisa lupa? :s
Sama juga ketika ayah membacakan cerita, seperti Bening dengan Ibunya di cerita ini.
Favorit saya yang Aladdin. Dari kumpulan dongeng 1001 malam itu, yang suatu waktu pernah ayah bawa pulang dari toko alat tulis di pasar (jangan tanya kenapa nggak di gramedia, masih untung itu toko jual buku cerita), yang paling sering saya minta buat dibacain ya Aladdin itu. 3 permintaan dari sang jin begitu membahagiakan saya waktu kecil dulu. Kayak mimpi aja gitu. Saya juga tau apa keinginan saya kalo suatu saat menemukan lampu wasiat--yang mana itu nggak mungkin.
Saya kasih 4,5 bintang untuk cerita ini karena lewat kisah Bening, saya bisa bernostalgia dengan sosok yg selalu saya kagumi. setengah dari 5 bintang itu saya buang karena awalnya yang terlalu bertele-tele.
#7. A Tale about One Day--2,5 bintang
Saya nggak suka ama alurnya, entah ya, apa karena saya bisa langsung menebak inti ceritanya? Kalo gitu, yaaa saya boleh lah protes ama judulnya, dari judulnya kan udah ketebak ;p #MintaDikeplak.
Dialognya juga kurang mengalir bagi saya.
Yang saya suka itu cara Sheva membuat open-ending di cerita yang ini. Saya bisa membayangkan gimana Kai dan Chantal akhirnya. Bahkan, saya bisa membayangkan dialog mereka, juga satu tokoh itu.
Saya suka Chantal. Dari kalimatnya yang cerdas dan keluguannya itu. 2,5 untuknya.
----------------------------------
Uhm. saya tau review di atas penuh curcolan dengan kadar lebih banyak curcolnya daripada ulasan ceritanya X). dan saya tau rating yang saya kasih juga seenak jidat saya sendiri. Maka dari itu, saya minta maaf kepada Sheva apabila ulasan yang saya tulis nggak berkenan untuknya maupun orang lain. Dan sebaliknya, saya juga berterima kasih karena dengan 7 cerita tersebut, Sheva bisa membuka memori lama saya.
Dan jauh dari itu, saya suka dg cara bertutur penulis. Konsepnya juga saya suka banget. Dan, hei, saya juga menunggu karya utuh penulis. ;)
3 bintang dari ketujuh cerita di atas, tambah 1 karena diksi, ilustrasi, dan covernya yang oke. :)
----------
Terima kasih telah menyempatkan waktumu di Blue Romance.
Klining.
----------