🌟4,7/5
Fantasi, cinta, romansa, petualangan, perdamaian diri.
Novel ini dimulai dengan keadaan pagi hari di kota kecil tepi pantai, Kota Seribu Jam. Berawal dengan Jim yang sedang menunggu seseorang yang tidak kunjung tiba, memandangi sudut-sudut kota menanti sang kekasih—Nayla. Kisah beralur campuran (maju dan mundur: kilas balik) ini dibuka dengan tragedi menyedihkan yang menimpa Nayla, yang kematiannya membuat Jim meratapi nasib buruk yang menimpa keduanya. Hingga kemudian, ribuan capung warna-warni memenuhi kota—mengambil janji yang pernah terucap dan menjemput takdir kisah. Bertemu dengan sang pria tua asing, Sang Penandai yang bertugas membuat dongeng-dongeng baru. Pengukir dan Penjaga Kisah. Hingga rangkaian kejadian mengikuti kisah Jim memperjuangkan cintanya untuk sang kekasih hati, penuh harapan sepenuh dentingan dawai indah, dalam perjalanan diatas Armada Kapal Terapung yang berakhir di satu tempat Tanah Harapan. Lantas apa saja yang terjadi di perjalanan takdir ini?
Disini kita bakalan ikut terombang-ambing sama kisah cinta dan kehidupan pelik nan pedih Si Kelasi yang Menangis (alias Jim), bersama dengan Pete—sahabatnya yang bisa membaca, berhitung, dan ahli berpedang dan senantiasa menemaninya. Jujur, aku kadang suka kesel sendiri pas Jim dua kali hampir oleng dan jadiin perempuan lain untuk pelarian dari Nayla (?) Sebenernya gapapa karena itu sikap yang wajar dan manusiawinya manusia, tapi kasian dengan nasib dua perempuan yang patah hati karena Jim ini💔. Namun, menurutku worth-it sih dan ikut senang, salut melihat perkembangan karakter Si Panglima Perang yang Menangis (julukan Jim) ini🫡.
🥂 Cheers to all the characters! Karakter favku jatuh kepada Si Mata Elang, Laksmana Ramirez hehe. Beliau ini keren sekalii berwibawa pula. Rasyid & Marguiretta kiyowo! Sedih sm kematian seseorang😭😭 tapi aku mau banget liat formasi ribuan capung warna-warni...
Wow aku kaget tercengang sama endingnya... "Dongeng mereka jauh dari selesai." Apa yang terjadi?! Yang penting happy ending for all deh hehe🫶🏻. Buku ini terbit dengan judul yang baru "Harga Sebuah Percaya" dengan isi yang sama ya? Happy reading semua📚🔜
—Kutipan & dialog yang aku suka.𖥔 ݁ ˖
"Meskipun sebenarnya seabadi apa pun kisah cinta yang kalian kenal, pastilah mengenal kata berpisah." -hal 1.
"Tetapi bagi yang sedang dimabuk cinta, tidak ada istilah cepat atau lambat. Semuanya tentang perasaan." -hal 14.
"Tetapi apakah doa dengan sendirinya merubah nasib?" -hal 19.
"Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya." -Sang Penandai (hal 29).
"Ah, kematian tidak pernah bisa membunuh cinta sejati." -Sang Penandai (hal 30).
"Dan sisanya, serahkanlah kepada waktu. Biarlah waktu yang menyelesaikan bagiannya." -Sang Penandai (hal 34).
"Dengan demikian, pilihan hidupmu amat terbatas, hanya dua. Meneruskan hidup dengan luka sepanjang sisa umur, merangkak penuh kesedihan. Atau melanjutkan kehidupan dengan kalimat bijak itu." -hal 40.
"Anak kecil memang tak pernah menyerah dengan keinginan, hingga suatu saat orangtuanya mampu mengusir keinginan itu jauh-jauh dari hati mereka. Membuat mereka membatukan diri menjadi sepantasnya orang dewasa lainnya tanpa mimpi-mimpi." -hal 43.
"Meskipun bangga tidak selalu berarti sebuah keberanian." -hal 44.
"Ketahuilah, semakin bijak seseorang maka semakin banyak ia memiliki pertanyaan yang tidak terjawab." -Sang Penandai (hal 53).
"Malam berganti siang, siang menjemput malam. Waktu menguntai menjadi minggu, bulan demi bulan terlewati tanpa terasa. Pagi-petang terus berputar tidak peduli kita sedang sedih atau senang." -hal 60.
"Orang tua aneh tersebut sejauh ini benar, hal-hal baru yang dihadapi Jim, suka atau tidak membantunya banyak berbaikan dengan hati." -hal 61.
"Kesepian memang selalu mengundang masa lalu. Dan masa lalu yang tidak menyenangkan itu selalu membawa resah dalam hati." -hal 66.
"Sebenarnya, ia (Jim) penat mengerjakan semua itu, apalagi dengan beban di hati." -hal 69.
"Ia ingin melupakan banyak hal yang telah tertinggal jauh di belakangnya. Hal-hal baru yang menyenangkan seperti ini membantunya banyak. Berdamai." -Jim (hal 74).
"Dan di tengah suasana tegang, hanya soal waktu, kesedihan itu mendadak datang menusuk hati. Pelan tapi pasti." -hal 82.
"Sayang semakin Jim berusaha melupakan kenangan tersebut, kesedihan itu menghujam semakin dalam. Menelikung. Mata dan hatinya sempurna mengukit kenangan lama." -hal 82.
"Tidak ada yg bisa mengalahkan rasa sakit di fisik selain pilu di hati." -hal 153.
"Terjebak dalam perasaan yang tidak terhindarkan, membuat hilang akal sehat. Apalah dosa para pecinta sehingga terkadang mereka harus menanggung beban perasaan itu seumur hidup?" -Sang Penandai (hal 159).
"Masalahnya, terkadang dari hal buruk sebuah kebaikan bisa muncul, demikianlah yang terjadi malam itu." - hal 163.
"Masalahnya, bukankah menurut kepercayaan banyak orang, binatang, pepohonan, lautan, dan benda-benda di dunia ini tidak memiliki hati?" -hal 179.
"Berpikir bijak, biarlah waktu yang mengurus sisanya. ... Terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, meskipun sering kali kesendirian mengundang kesedihan tak tertahankan." -hal 207.
"Bagaimana mungkin kalian dikuasai oleh masa-lalu? Bukankah itu seharusnya menjadi kenangan yang indah?" -hal 230.
"Sungguh, bukankah semua perasaan ini tidak sekalipun ia memintanya. Bahkan dalam doa-doa yang disebutkannya dalam mimpi masa kanak-kanak." -Jim (hal 234).
"Masalahnya semakin lama orang-orang semakin disibukkan akal sehat dan rasio. Dikalahkan oleh rutinitas dan ketakutan akan hidup itu sendiri. Dibutakan oleh batasan-batasan sesuatu yang masuk akal dan tidak masuk akal. Maka hilanglah kepercayaan atas dongeng-dongeng itu." -Laksmama Ramiez (hal 256).
"Sebenarnya, itulah dongeng yang harus kau jalani, Jim. Itulah bagian terpentingnya. Bagaimana kau bisa melanjutkan hidupmu walau tak mendapatkan cinta sejatimu. Bagaimana kau bisa melanjutkan hidupmu meski harus menanggung beban masa lalumu." -Sang Penandai (hal 275).
"Ah Jim, tak ada kebahagiaan di dunia ini jika kau masih memiliki satu rasa sesal dalam hidup, sekecil apa pun penyesalan itu." -Sang Penandai (hal 278).
"Sekali lagi apalah arti kehidupan, tidak peduli seberapa luas kerajaan yang kau miliki, jika di hati masih terbetik sebuah penyesalan." -Sang Penandai (hal 279).
"Percaya, hanya itu yang kau miliki. Maka semesta alam akan menyaksikan hadiah hebat untuk orang yang percaya hingga detik penghabisan." -Sang Penandai (hal 292).