Kalau ditanya, apa wasiat saya kalau saya nanti pada waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Wasiat saya, sebenarnya bukan wasiat saya sendiri, melainkan wasiat atau pesan kita bersama. Yakni, agar mereka yang sesudah kita benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini. Saya pikir, yang penting adalah suatu pengelolaan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sedemikian rupa sehingga cita-cita perjuangan bangsa kita benar-benar terlaksana dan tercapai dengan sebaikbaiknya. Selama bangsa Indonesia tetap berpegang kepada Pancasila sebagai landasan idiilnya, dan UUD'45 sebagai landasan konstitusinya, dan tetap setia kepada cita-cita perjuangannya, ialah mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, dengan sendirinya persatuan dan kesatuan bangsa itu akan bisa terwujud. Berpegang kepada kedua hal itu, cita-cita perjuangan sebagai bangsa yang tetap ingin merdeka, berdaulat, bisa hidup dalam kemakmuran dan keadilan, niscaya akan tercapai! Insya Allah!
Pernah sekilas membaca buku otobiografi ini di perpus. (yang versi Indonesianya). Tidak sampai selesai memang. Namun cukup menarik karena alasan berikut ini :
1. (alm) Jenderal Besar Soeharto ternyata "bisa" menulis dengan cukup apik dan sistematis,
2. secara garis besar pemikiran beliau terlihat sangat pro-rakyat kecil,
3. Soeharto, dan ini yang ter-penting menurut saya, memposisikan dirinya sebagai pembela dan pendukung hak-hak rakyat Palestina dan Bosnia Herzegovina, saat beliau mengomentari perjuangan kaum muslim disana, (termasuk instruksi pengiriman Pasukan Garuda ke Bosnia saat itu)
4. Soeharto sempat berpendapat tentang kematian. Bahwa ybs, berharap kematiannya kelak setelah adanya "sedikit saja" manfaat buat negeri ini. Buku ini ditulis kira2 tahun 90-an, dan saat itu makam beliau sudah dipersiapkan di Giri Bangun.
Jujur saya cukup terharu atas refleksi perjalanan hidup beliau, terlepas dari berbagai "dosa besar dan kesalahan"-nya di masa lalu. No one's perfect.
Dia mau tidak mau ikut mempengaruhi, terjadinya peristiwa di depan tivi saat ibu saya sampai bilang, "kowe ki anak wong jowo dhudu sih?" "Loh, kan kalo orang jawa mengkritik orang jawa tidak bakal ada perang antar suku. Adanya perang sesama suku! hehe" jawab saya enteng. Emang sih jaman itu, SMA kalo gak salah, saya doyan banget nyela Jawa Sentrisme ala Soeharto ini. Sampai keluar pertanyaan ibu saya itu mungkin karena sudah dianggap tidak proporsional. Untung bapak saya yang juga orang jawa, gak ikutan ngeroyok saya.
Belakangan saya tidak cuma menyalahkan Soeharto seorang karena ke-Jawa-sentrisan itu. Pernah di layar tivi, saya melihat seorang pejabat yang bukan Jawa, men-Jawa-kan dirinya dengan sangat kaku. Wah cammana bapak itu? Butuh naik jabatan barang kali, sambil nanti berbahasa Jawa ala Indro waktu bertamu,
"Kulo nuwu...n!!"
"Sopo kuwi?"
"kulo...",
"Kulo sopo?",
"Kulo nuwuuuun" (hehehe, ingat drama lebaran Warkop DKI yang bintang tamunya Dyah Permata Sari? Ada Parto dan Eko juga waktu itu, walau Akri belum keliatan.)
Yah saya ngerti ketakutan orang saat itu sama mbah satu ini. Tetapi saya rasa tidak semaksa itu lah. Di sini saya juga menyalahkan banyak sikap kebanyakan kita. Sedikit banyak sisi gelap yang terbangun di Orde Baru adalah sumbangan sikap kita yang sedemikian. Seperti puisi Gottfried August Burger (1747-1794) ini barangkali seharusnya
Alat Melawan Keangkuhan para Pembesar Mittel gegen den Hochmut der Groβen
Banyak keluhan sering ku dengar Tentang keangkuhan dilakukan pembesar. Keangkuhan para pembesar akan menghilang Jika jilatan pun kita buang.
Soeharto memang orang Jawa dan banyak menggunakan budaya Jawa dalam banyak komunikasi politiknya. Saya masih ingat ia naik jadi presiden dengan pementasan yang setengah menyindir, "Phetruk Dhadi Ratu." Lalu di akhir masa kepresidenannya ia juga sempat mementaskan lakon "Rama Tambak". Seolah berteriak kepada rakyatnya untuk bersatu membangun jembatan merebut kembali Shinta yang diboyong paksa ke Alengka. Menilik kepada latar belakang bapak satu ini memang ia tidak lepas dari Jawa. Oleh karenya itu yang dia tahu. Beda dengan presiden sebelumnya yang juga jawa tetapi lebih luas cakrawala yang ditiliknya.
Pentas di akhir masa kepresidenannya itu sendiri nampaknya jauh dari sampai kepada khalayak. Entah karena apa, sepertinya serempak jawaban sudah tersedia.
Seiring saya bersyahadat lagi sebagai orang Jawa hehe Saya melihatnya ke-Jawa-an bukanlah sebuah alat untuk menafikan keberadaan dan keragaman orang lain di sekeliling kita. Asertifitas kebudayaan dan identitas budaya mestinya sebuah benih dari sekian banyak ragam budaya di Nusantara ini.
Berbeda yah berbeda, bukan seragam. Bahkan sesama Jawa bisa berbeda, seperti saya dan anda dalam memandang ke-Jawa-an itu sendiri.
Pak Harto begitu mengekspos dirinya dengan sangat personal. Sebagai orang yang sering membaca biografi, entah mengapa setelah membaca buku ini saya melihat bahwa Pak Harto menarik pembacanya untuk menyelami dirinya secara kebatinan sebagai orang Jawa. Prinsip-prinsip dalam menjadi manusia utuh sebagaimana orang Jawa pada umumnya dijelaskan melalui filosofi RMP Sosrokartono, Ronggowarsito, maupun KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Samber Nyowo.
Dalam kondisi seperti apa pun, ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip warisan leluhurnya ini. Misalkan pada bagian klimaks seputar G30S, dan Supersemar digambarkanlah betapa ia harus menghormati Bung Karno sebagai orang tuanya sendiri. Meskipun ia harus berjuang sebagaimana prajurit pejuang, katanya. Untuk itu ia mengambil petuah 'Mikul dhuwur, mendem jero'.
Pertentangan pemikiran yang terjadi antara dua orang penting sepanjang sejarah Indonesia inilah yang paling saya garisbawahi. Bahwa kemudian 'takdir'lah yang kemudian menjerumuskan Sukarno untuk turun dari kursi kekuasaannya. Dan karena Soeharto merupakan orang kepercayaan MPRS (pasca Supersemar yang sudah didominasi ABRI), maka diangkatlah ia setelah pidato Pelengkap Nawaksara tahun 1967 yang terkenal itu ditolak oleh segenap majelis.
Alasannya sederhana, Bung Karno tidak memuaskan Majelis dengan pertanggungjawabannya dan tidak segera mengeluarkan keputusan untuk membubarkan PKI. Inilah kemudian yang mendesak Soeharto untuk mengambil alih pimpinan melalui 'gerilya'nya selama menjabat sebagai Ketua Presidium Kabinet, dan mulai menjadi kepala pemerintahan secara de facto.
Kendati konflik terasa seru untuk diikuti, dan alur yang maju dan progresif mengikuti garis waktu, namun saya menangkap bahwa otobiografi yang ditulis oleh Dwipayana dan Ramadhan KH ini sarat dengan dominasi karakter Pak Harto secara menggebu. Selain itu terkesan campuraduk antara publikasi kebijakan pemerintah dengan sosoknya sebagai pribadi. Inilah yang kemudian membuat saya memberi predikat buku ini 'biasa saja'. Namun saya tetap menganjurkan untuk siapa saja membaca buku ini, sembari terus merenungkan fakta-fakta sejarah yang harus diluruskan.
I cried reading this book (in the part of Pak Harto's childhood story), I was around 10 y.o. back then. I loved the narration and the detail description from each part of the chapter.
Buku yang menarik dan saya rasa begitu percaya diri dalam gaya penyampaiannya. Dalam buku ini, beberapa pembaca mungkin akan geram karena keputusan dan tindakan yang diambil oleh beliau terkesan tidak ada pertimbangan. Namun, karena namanya juga adalah biografi, dan apa yang tertulis ini merupakan penuturan langsung dari beliau, maka kita tak bisa berharap banyak ada obyektivitas di sini. Satu hal yang bisa dipelajari dari sini, adalah peristiwa apa yang dilewati beliau, cara pandang beliau, dan siapa orang-orang yang diingat beliau. Dengan begitu, ada keterhubungan yang dapat ditarik kesimpulan serta pelajaran agar pola-pola yang mirip dengan yang terjadi di masa kini dapat dihindari lagi. Secara keseluruhan, penuturan yang ada di buku ini tetap akan menjadi hikmah jika disikapi dingin dan obyektif. Tentu juga dengan menghadirkan pandangan dan peristiwa dari sumber lain.
Terlalu subyektif. Terlalu Jawa sentris sebagai pemimpin, seakan tertutup dengan suku lain yang ada di Indonesia. Berbeda dengan presiden pertama, yang mengedepankan dan menjunjung tinggi keberagaman. Pro rakyat kecil, tapi dari pandangan saya, prinsip dia memimpin Indonesia adalah "Jangan meremehkan rakyat kecil dalam jumlah besar".
Masih banyak yang ditutup-tutupi. Banyak pemikiran misterius yang belum dibahas. Pembunuhan masal, pemerkayaan diri dan keluarga, pembangunan hutan untuk kepentingan orang yang di dalam lingkarannya. Apa niatnya semua dibalik itu?
Sebagai seseorang yang tidak begitu tertarik dengan politik, buku ini lumayan juga. Saya membacanya saat menemukan buku ini di salah satu rak perpustakaan di SMA. Buku ini membantu saya dalam menghafal timeline untuk pelajaran sejarah dulu. Walaupun kebenarannya perluh dipertanyakan. Questioned book(?).
Well, we don't want a bad thing as a complement of life, same as gestapu. we don't think that upheaval could occured. Cerita yang sangat mengesankan dari seorang jenderal bintang 5, banyak sekali kontroversi serta perbandingan dalam beberapa buku. Contoh kecil seperti petrus, dalam banyak kesempatan benny bersama ABRI menolak bahwa petrus adalah proyek pemerintah beserta ABRI. Namun disini sang aktor dalam buku mengiyakan hal tersebut bahwa petrus adalah pekerjaan pemerintah. Patut anda baca buku ini tapi baiknya anda baca penyeimbang bacaan, karena banyak sekali cerita yang berbeda hadir dari kawan kawan soeharto dalam kesempatan berbeda. Good enough
Buku yang sangat amat subyektif tapi cara penyampaian dan pemikirannya disampaikan secara baik dan sistematis. Ada beberapa bagian yang bila dicermati tidak sesuai dengan isu yang beredar dan adanya pemikiran-pemikiran Beliau yang jatuhnya menjatuhkan pihak lain, tapi ya namanya juga autobiografi.
"Saya ajak semua pihak juga untuk menyadari bahwa salah satu hal yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia selama ini adalah kekurangmampuan kita memelihara apa yang telah kita bangun dengan susah payah." - Pak Soeharto
This entire review has been hidden because of spoilers.