Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cado Cado 3 - Susahnya Jadi Dokter Muda

Rate this book
Banyak cerita seru yang kita temui saat ko-ass, apalagi dari teman sendiri—sesama calon dokter. Ada teman yang semangat saat ko-ass biar bisa dekat sama suster untuk dijadikan pacar. Ada teman yang nggak semangat jadi dokter karena sebenarnya itu bukan pilihannya, tapi sang ortu. Namun, ada juga yang terlalu semangat menjadi dokter, kayak Budi.


Budi pernah periksa pasien bayi dengan cara yang 'beda'. Saat menggunakan stetoskop, dengan semangatnya Budi memberi instruksi. "Dek, coba tarik napassss...tariiiik.....lepassss...."

Orangtuanya cuma bisa bengong melihat si Budi. Aku dan Evie cuma bisa ketawa cekikikan di belakang. Parahnya, Budi baru sadar setelah selesai memeriksa.

"Bud, itu kan pasien masih bayi. Emang dia ngerti lo suruh tarik napas?" komentar Evie.

"Oh, iya!" jawabnya malu.

207 pages, Paperback

First published October 1, 2012

21 people are currently reading
291 people want to read

About the author

Ferdiriva Hamzah

8 books40 followers
Ferdiriva Hamzah adalah dokter spesialis mata tamatan FKUI dan saat ini praktik di rumah sakit mata ternama di Jakarta. Ia telah menerbitkan lima buah buku; Riva The Explorer: Petualangan yang Menggelikan, The Journeys (buku kompilasi dengan penulis lain), CADO CADO: Catatan Dodol Calon Dokter, CADO CADO Kuadrat: Dokter Muda Serba Salah, dan CADO CADO 3: Susahnya Jadi Dokter Muda.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
117 (32%)
4 stars
137 (38%)
3 stars
82 (23%)
2 stars
17 (4%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews
Profile Image for Aisa.
53 reviews25 followers
November 5, 2012
"Koas itu manis untuk dikenang, pahit untuk diulang".

Cado Cado 3 menjadi penutup kisah koas pengarangnya. Soal lucu, rasanya lebih 'gawat' yang Cado Cado 2. (Belum baca Cado Cado 1) tapi soal bikin trenyuh ya di Cado Cado 3 ini. Kisah di bagian forensik-nya memang luar biasa.

Memang cerita koas ini menampilkan bodoh-bodohnya dan error-errornya mahasiswa kedokteran dan koas tapi juga cerita yang manusiawi dan menggambarkan kurang-lebihnya dunia belajar untuk kedokteran di Indonesia.

Kalau mau tahu hidup dokter muda seperti apa, ya bacalah Cado Cado. Dijamin tertawa, sedih, dan galau bersama.

Semoga ada cerita tentang residensinya. :)
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
March 5, 2013
"Mau nonton dimana?" tanya Cilmil ragu. "Kan nggak enak kalo kita pergi jauh-jauh."
"Di Thamrin Plaza aja. Kan dekat banget, tuh, Mil," kilahku. "Lo belum selesai ngedip aja kita pasti udah nyampe."

"INI MAMAKKU UDAH KUSURUH MAKAN DAGING KALONG BIAR SEMBUH SESAK NAPASNYA, SUSTER, TAPI TAK MAU DIA!"


Masa-masa koass, rumah sakit dan Medan adalah hal yang terbayang oleh saya ketika membaca buku ini. Yah.. maklum saja namanya juga lagi kangen rumah. Membaca buku terakhir dari serial Catatan Dodol Calon Dokter ini malah membuat saya semakin tak sabaran ingin pulang ke Medan.

Oke cukup curhatnya. Sekarang bicara bukunya.

Seperti di dua buku sebelumnya, buku ini juga mengambil topik masa-masa koass yang dijalani Ferdiriva bersama kedua teman karibnya, Evie dan Budi. Ditambah dengan Uba, Hani dan Cilmil yang muncul di beberapa bagian cerita. Diawal cerita diselipkan satu cerita diluar masa koass yaitu pada praktikum Patologi Klinik.

Ada sembilan cerita koass untuk delapan bagian koass dalam buku ini. Penyakit Dalam, Neurologi, Bedah, Obgyn, Ilmu Kesehatan Anak, Anestesi, Paru, Forensik. Sesuai dengan judulnya "Susahnya Jadi Dokter Muda" buku ini bercerita kesulitan-kesulitan yang selalu saja dijumpai oleh para koass. Tentunya disajikan dengan humor khas Ferdiriva. Kenapa saya berkata "kesulitan-kesulitan yang selalu saja dijumpai oleh para koass" karena kejadian atau kesulitan tersebut memang lumrah terjadi pada (hampir) setiap koass di seluruh Indonesia.

Tapi sebenarnya tak hanya kelucuan yang ada dalam buku ini. Ada trik-trik untuk menghadapi para penguji alias konsulen yang sulit, tips-tips mengambil hati para perawat tanpa berlaku curang hingga kejadian-kejadian sederhana yang dapat dijadikan pelajaran. Contohnya, saat Ferdiriva menjalani stase/bagian Paru. Ia bercerita tentang Beni, teman satu stase beda universitas, yang memandang remeh perawat senior yang bertugas di ruang rawat inap dengan cara membentak dan memarahi si perawat di depan pasien.

Jelas hal itu amat sangat tidak sopan. Selain itu para perawat senior juga memegang "kunci" koass yang bertugas di ruangan tempatnya berjaga. Kalau koass baik dengan mereka, mereka tidak segan-segan memberikan ilmu pada koass. Selain itu, perkataan mereka sering dijadikan bahan pertimbangan para konsulen untuk meluluskan si koass. Nggak percaya? Saya pernah mengalaminya.

Saat itu koass Obgyn dan saya mendapatkan penguji yang terkenal super displin dan suka memarahi koass. Saat memasuki ruang ujian bersama konsulen yang lebih suka dipanggil Bapak itu, para bidan yang bertugas di ruang Bersalin berkata kepada beliau "Ini loh Dok. Koass yang kami bilang rajin itu. Dok, nanti kasih nilai ke dia jangan diatas 60 ya. Kalau bisa 80. Kalau pun gak bisa paling rendah 70 ya Dok."

Di ruang ujian.
Bapak: "Kamu ujian apa sama Bapak, Put?"
Saya: "Ginekologi, Pak. Obstetri-nya sudah dengan dokter yang lain."
Bapak: "Ya udah. Baca status pasienmu." Status pasien = segala keterangan tentang data diri dan keadaan si pasien.
Saya: *mulai mengulang hafalan status si pasien." "Tanggal masuk 20 Maret..."
Bapak: "Bapak bilang dibaca Put. Bukan dihafal. Capek ngapalnya. Dibaca sudah cukup"
Saya: *bingung* "Dibaca ya Pak?"
Bapak: "Iya dibaca."
Saya: *mulai membaca status pasien dengan santai*
................................ hingga............................
Saya: "sudah Pak. Sudah selesai."
Bapak: "Sudah? Ya sudah." Bapak menandatangani kertas pengantar ujian dengan nilai yang cukup membuat saya senyum-senyum hingga saat ini lantas berkata "Nih, antar ke Dokter K buat rekap nilai kamu ya."
Saya tidak diuji sama sekali, saudara-saudara!!!!

*Cukup (lagi) tentang saya. Balik (lagi) ke buku*

Adakah yang pernah menyadari mengapa baju operasi selalu berwarna biru atau hijau? Ada jawabannya disini. Juga kenapa ruang operasi itu disebut OK dan ruang bersalin disebut VK. Dua istilah yang berasal dari bahasa Belanda itu sering juga dipertanyakan di kalangan koass. Pernah ketemu dengan seseorang yang sebenarnya tidak ingin kuliah di Fakultas Kedokteran tapi terpaksa melakukannya karena dipaksa oleh orangtuanya? Well, di buku ini ada Vena yang mengalami nasib serupa. Ada juga cerita tentang penguji yang killer. Yang selalu siap membantai para koass yang diujinya. Yang sepertinya selalu senang melihat wajah-wajah kebingungan para koassnya.

Yah, hampir seluruh aspek koass dibahas dibuku ini. Meski ya, beberapa jokesnya bagi beberapa orang terasa menjijikan, tapi lewat buku ini (dan dua buku sebelumnya) pembaca akan mengetahui gambaran "hidup" para koass yang biasanya tampil cemerlang dengan jas putihnya itu.

Forensik, koass penutup yang dijalani Ferdiriva *saya juga koass terakhirnya Forensik loh* #nggakpenting #abaikan juga sebagai penutup untuk serial Catatan Dodol Calon Dokter ini menyelipkan sebuah kisah saat terjadinya kecelakaan pesawat GA 152 di Gunung Sibolangit. Ditutup dengan ending yang mengingatkan pada saat-saat pengucapan sumpah dokter pada wisuda profesi sukses membuat saya nyesek dan pengen pulang ke Medan.

"Kata Papa, gelar dokter tidak akan berarti apa-apa jika saat terjun di lapangan, kamu tidak dapat memberikan yang terbaik. So, I will make you proud, Dad. I will." (p. 201)


Ohya, dua buku serial Cado Cado yang terbit pada 2008 (Cado Cado) dan 2010 (Cado Cado Kuadrat) juga dicetak ulang dengan cover baru ini memiliki keistimewaan. Jika ketiganya disusun memanjang maka akan didapatkan gambar tengkorak utuh dari kepala hingga kaki. Tenang saja. Tengkoraknya lebih cenderung imut-imut menggemaskan daripada menakutkan. Ketiga buku dengan cover tengkorak ini disebut Cado Cado Collector's Edition.

Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
December 23, 2012
Dari dulu juga saya emang bukan penggemar berat Cado Cado sih. Semua bukunya dibaca juga karena kebetulan ada di rumah (thanks to kakak dan adik saya yang rajin beli seri buku ini). Jadi yah...yang ke-3 ini pun masih saya anggap biasa aja. Walo bagian di koass Forensik nya itu emang berkesan sih.
Jadi ingat ucapan seorang residen Forensik dulu : "Saya yakin dari semua bagian yang sudah dan akan kalian lewati, Forensik yang menimbulkan bekas paling dalam di memori kalian."

He's right.

Gegara Forensik, saya jadi sadar kalo maut itu selalu menemani di tiap langkah kita dan bisa terjadi kapan pun, dimana pun. I mean, secara teori sih saya tahu. Tapi benar-benar disadarkan pas koass di forensik ini

Profile Image for Ariesadhar.
Author 2 books6 followers
September 18, 2013
Cado-Cado 3.. Hmmm...
Sejujurnya saya masih iri hati dengan keberhasilan dr. Riva menuliskan segala sesuatu tentang dunia kedokteran dengan indah dan lucunya. Padahal saya juga nggak jauh-jauh amat dari profesi itu, tapi masih saja gagal.

Baiklah.

Saya belum baca yang #1, tapi sudah punya yang #2 dan #3, buat saya lebih matang yang #3, dan sejatinya lebih lucu juga. Buat saya lho. Sejujurnya, dr. Riva sukses menciptakan jokes. Cuma, saya ketawa karena saya mengerti, soalnya saya juga dari dunia kesehatan. Nah, nggak tahu deh, seberapa besar ketawa orang kalau latar belakangnya bukan kesehatan.

Soal Forensik itu juga. Kisahnya beneran kan ya? Asli, benar-benar menguras air mata.

Empat bintang untuk dokter Riva. Satunya karena babnya terlalu sedikit, dokter! #nagih
Profile Image for Nina Ardianti.
Author 10 books400 followers
November 13, 2012
Saya beli buku ini karena memang suka dengan buku-buku sebelumnya. Jadi ketika ngeliat ini di-display di toko buku, saya langsung beli nggak pakai mikir.

Sebenernya ceritanya kurang lebih mirip-mirip lah dengan Cado Cado 1 dan 2, cuma saya tetap aja ketawa pas baca. Walaupun ini nggak selucu kayak yang dulu.

Ya udah sik, itu aja. Lagi nggak mood nulis review nih.
Profile Image for Nindya Maharani.
2 reviews3 followers
December 1, 2017
Buku yang sukses bikin saya pengen masuk kedokteran. Wkwk..
Di buku ketiga ini memang terlihat lebih "matang" dan menurut saya, penutup yang bagus untuk seri 1 dan 2 nya. Di awali oleh cerita-cerita humor seperti biasanya, lalu di twist oleh ending yang bikin #nyesek.
Yang membuat saya salut dengan Dr Riva adalah, beliau membawa komedi tidak hanya sekedar untuk hiburan dan tawa saja, tetapi juga ada pesan moral yang "sangat akrab" trjadi di sekitar kita, tidak hanya di dunia kedokteran.
Cara beliau menyampaikan materi kedokteran di sini pun tidak terkesan menggurui, tapi jelas untuk pembaca awam seperti saya. :)
Profile Image for Dina F.
16 reviews1 follower
March 7, 2019
Saya tergolong telat baca ini buku akibat menghemat-hemat sayang ngebelinya dulu waktu jaman masih kuliah. Sampai akhirnya sekarang diobral jadi 25k di toko buku. Asyik.

Buku yang tetap relevan sih dibaca sama koas/mantan koas generasi kapan taun aja. Ngakak puas. Biarpun buku komedi, sarat hikmah juga.
Di bab akhir emosi pembaca mulai diaduk dengan kisah yang mengharukan. Dari jingkrak-jingkrak Rolling On the Floor Laugh sampe meres-meres ingus pake tisu, dapet semua. Well, manipulasi emosi pembacanya berhasil.
Profile Image for ND Ratna .
109 reviews
January 18, 2023
Awalnya aku gak punya ekspektasi tinggi sama buku ini. Pertama karena gak pernah baca tulisan dari penulis ini.

Kedua covernya yang menurutku kok gini. Ketiga dijual pas diskon alias murah banget kek harga komik diskonan

Tapi aku baca sinopsisnya kok bagus, ah pasti lucu nih. Setelah membaca ternyata beneran lucu.

Wah aku sampai ketawa-tawa sendiri dua jam membacanya. Hanya satu cerita di penghujung buku yg bikin aku nangis. Cerita tentang dr Vena, wah sukses tuh bikin air mataku bercucuran sedikit
This entire review has been hidden because of spoilers.
21 reviews
January 15, 2023
Lupaaaaa sih ini isinya apa tapi kayanya jaman-jaman si penulis udah lulus koas dan mulai jadi dokter muda.

Kalo ga salah ada part yang sedih banget juga di buku ini karena harus melakukan hal-hal yang domter muda biasa di suruh kalo seniornya gak mau melakukan. Skill dokter yang sampai hari ini bikin aku paham kalau memang menyampaikan hal itu tidak lah mudah.

Cukup menghibur..

Series buku ini juga udah pernah ada filmnya loh. Mungkin ada yang tertarik juga
Profile Image for Latifah S Ningrum.
561 reviews3 followers
February 25, 2025
Selesai sudah baca series Cado-Cado ini. Selama baca series ketiga Cado-Cado ini nggak cuma humor kocaknya Budi, Riva, maupun Evie, tapi sedih dan harunya pun juga. Cerita yang paling berkesan lagi dari series ini ada ceritanya si Cilmil maupun di bab stase terakhir si Vena.
Meski ngga relate dengan profesi yang dijalani dr. Riva, tapi perjalanan koasnya dari Cado-Cado 1 sampai 3 ini punya banyak pelajaran dan pengalaman berharga di dalamnya.
Profile Image for Alifah Imani.
2 reviews
July 13, 2022
Ceritanya ringan dan relate banget sama kehidupan anak-anak kedokteran. Mungkin untuk orang yang nggak terjun atau berhubungan dengan dunia kesehatan khususnya kedokteran bakal kurang paham atau masuk sama jokesnya, tapi overall bukunya cukup menghibur
Profile Image for aulazizah.
11 reviews6 followers
March 8, 2019
Buku ter-Lawak yang pernah saya baca. Menceritakan dunianya para anak-anak yang sedang koas dengan segala lawakannya. Obviously para tokoh di dalam cerita sedang tidak melawak, hanya saja kejadian demi kejadian yang dialami para tokoh terkesan tidak normal, langka, memalukan, bahkan terbilang vulgar haha. Dunia medis memang penuh dengan kevulgaran, haha. Eitss it's not porn, it's science :D
Buku seperti ini cocok dibaca saat bersantai dan butuh asupan kekonyolan
Profile Image for fragaria.
47 reviews27 followers
February 4, 2013
Saya mendapat buku ini gratis di suatu toko buku yang mengadakan program pembagian buku gratis secara terbatas tiap harinya. Belum pernah saya membaca Cado-cado maupun Cado-cado kuadrat. Lalu setelah membaca buku Cado-cado 3 ini, saya jadi penasaran ingin membaca buku tersebut, karena mestinya sih rame dan lucunya sama juga dengan buku ini. :D

Buku Cado-cado 3 berisi kumpulan kisah mengesankan penulisnya selama menjadi ko-ass. Seperti epigraf yang tertera di bukunya, “It wasn’t funny when it happened. But it is now!”, kalau dibayangkan menjadi tokoh-tokoh ko-ass yang diceritakan di buku ini, rasanya hari-hari ko-ass penuh keletihan dan tekanan. Akan tetapi setelah pengalaman itu berlalu, para (mantan) ko-ass pun bisa terbahak-bahak mengingat kedodolan mereka selama ngo-ass.

Cerita pembuka buku ini berupa flashback praktikum patologi klinik mahasiswa kedokteran dengan topik analisis sperma. Sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya mahasiswa kedokteran sampai harus seabsurd ini : mempersiapkan sampel sperma manusia SEGAR untuk dianalisis saat praktikum. Bayangkan, praktikan laki-laki saja kerepotan untuk mencari bahan yang sebenarnya mereka semua punya ini. Apalagi praktikan perempuan! Hahaha. XD

Sisa cerita lainnya adalah cerita-cerita dari per-ko-ass-an penulis dan sebagian temannya, serta satu cerita penutup yang agak mengharukan tentang ko-ass terakhir serta wisuda para tokohnya.

Teman saya sendiri yang sekarang masih jadi ko-ass pernah mengaku bahwa kedudukan ko-ass di rumah sakit begitu rendahnya, bahkan lebih rendah daripada keset. Maka saya pikir buku Cado-cado 3 ini tampaknya cukup mewakili perasaan para ko-ass akan susahnya jadi dokter muda.

Ada suatu kutipan dari buku ini yang berkesan buat saya, yang ceritanya diucapkan seorang dokter penguji killer kepada penulis di salah satu ujian ketika si penulis ko-ass:
Pertama masuk kedokteran, kalian humanis. Idealis-lah, ceritanya. Lalu pas ko-ass, kalian oportunis, yang penting lulus. Udah jadi dokter, kalian kapitalis. Gitu ya? Hahahahaha, bercanda.

Well, saya sendiri sih berharap semoga para ko-ass itu setelah resmi dilantik jadi dokter akan terus mengingat dan menjaga semangat per-ko-ass-annya dan tidak bosan belajar berbagai hal yang dibutuhkan untuk perkembangan profesinya. :)
Profile Image for Roswitha Muntiyarso.
118 reviews7 followers
December 28, 2012
Mantap! Super ngakak meskipun rada menjijikkan jokesnya kalau dibahas di kalangan non-healthcare practitioner. Setelah dipikir-pikir ternyata jadi dokter ga semembosankan itu juga karena ternyata banyak kejadian lucu di sana (well, sedikit agak menyesal dulu ogah-ogahan masuk kedokteran dan berkahir di jurusan biologi).

Buku ini benar-benar sebuah gambaran tentang kehidupan ko-ass atau dokter muda yang sedang berburu pengalaman di stase-stase spesialisasi tertentu. Membaca ini benar-benar membuat saya merasakan kelucuan dan penderitaan para dokter. Benar-benar genre baru menambahkan genre-genre komedi yang sudah ada seperti susahnya jadi mahasiswa atau lucunya hidup di pesantren.

Mendapatkan buku ini dari adik saya yang sekarang kuliah di jurusan kedokteran beanr-benar membuat saya makin tenggelm dalam latar belakang yang disajikan oleh sang penulis. Istilah-istilah yang disebutkan lumayan familiar untuk saya yang dulunya pernah memenangkan lomba kedokteran ketika MAN. Mungkin banyak hal yang ketika dibaca akan menjadi kurang lucu karena pembaca memiliki background yang sangat berbeda dengan penulis. Tapi, untuk para mahasiswa kedokteran atau yang nyerempet kedokteran, buku ini benar-benar hiburan unik.

Saya pertama kali membaca adalah di buku ketiga ini yang mana kata adik saya adalah buku terakhir dari serial Cado-cado. Karena buku ini, saya jadi ingin membaca serial Cado-cado pertama dan keduanya. Unik, menghibur dan mengundang gelak tawa serta beberapa nasehat hidup. Ide yang brilian menerbitkan buku ini yang menceritakan masa-masa ko-ass di saat sang penulisnya sendiri sudah menjadi praktisi dokter mata sukses. Sukses terus untuk Riva!!!
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
February 13, 2015
Semakin lama ternyata saya semakin 'galak' dengan penulisan. Cara penulisan personal literature memang bukan untuk saya, tapi berbeda dengan buku ini. Ada unsur nostalgia dan sentimental masa lalu yang menyebabkan saya memberi empat bintang untuk buku yang sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan hingga berkaca-kaca.

Seperti disebutkan pada awal buku ini:
It wasn't funny when it happened. But it is now! (hal.vi)

Bagian paling 'jleb' adalah kata-kata dr. Nuri, sang penguji 'killer' di bagian penyakit dalam:
"Saya nggak mau meluluskan ko-ass yang ilmunya cuma seujung kuku. Nanti kalo udah jadi dokter cuma jadi tukang doang, nggak tau teori, pasien tak percaya." (hal.131)

Ah, I know! Kalau tak salah lebih dari sekali mendapatkan penguji seperti ini. Gosipnya sih susah lulus, bla bla bla. Ternyata setelah dihadapi adalah dosen yang memberikan begitu banyak ilmunya dengan pertanyaan-pertanyaan brainstorming. Karena dari awal sudah tercambuk untuk belajar lebih, ditambah diuji sambil dibimbing, setelah ujian terasa sekali mendapat pencerahan. Tak selamanya gosip itu benar, yang penting adalah usaha kita. Okay, I know, it wasn't fun when it happenend. :p
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
March 3, 2013
gua asli ngasih buku ini bintang 5, yang gua tau buku ini emang keren. actually, gua sih gak terlalu suka sama buku comedy atau personal literature.. tapi, buku ini bikin gua sadar kalo ada loh buku tipikal gituan yang asli keren..

tentang seorang calon dokter dodol yang sedang jadi ko-ass (kadang juga tentang praktikum pas masih mahasiswa), sebenarnya buku ini ngasih pencerahan buat pembaca (secara eksplisit) kalo buat jadi dokter emang mesti serius. buku ini ngirim sinyal-sinyal pesan dengan cara yang unik, melucu (based on true story).

pas Riva udah bener-bener jadi dokter (bukan masih calon, dodol pula) adalah chapter yang paling haru. jujur, tangis gua pecah pas bacanya. gimana mereka (juga pembaca) disadarkan di bagian forensik, tentang kematian. gimana semangatnya bareng semua sahabatnya yang keren-keren, perjuangan kerasnya selama dua tahunan jadi ko-ass terjawab. iya, mereka resmi punya titel dokter dan disumpah. KEREN!

p.s #1 book dari serial susahnya jadi dokter muda belum gua baca, boleh nemu dimana yakkk? -__- kalo dibanding yang kuadrat,, emang yang ketiga lebih keren :)
Profile Image for Monkichi.
47 reviews9 followers
May 6, 2013
Bacaan yang lumayan untuk menghilangkan kepenatan pikiran, cara bercerita yg heboh dan apa adanya sukses bikin ketawa..yah, walaupun cuma di few chapters awal aja sih, karena di akhir-akhir udah berkurang kegokilan yang bikin ketawa nya..

Celetukan paling gokil (#IMHO) ,ada di :
1. Chapter I ketika kalimat "Anak gue! Anak gue? mati anak guee!!!" muncul. Eits, jangan langsung judge dulu kalo kalimat ini nandain kesedihan, cause it's not at all, instead ....hmm,read it for your self to know :p (a-bit-spoiler)
2. Chapter XX (lupa..) pas ada dua tokoh yang sok ber-english ria, tapi seringkali hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tau apa arti dari istilah bahasa inggris yang dipake, sisa pelakon dan pembaca nya?? cuma bisa mangkel karena yang diucapin sama arti sebenernya itu jauh bangeeeett.. sejauh toilet yang gak bisa ditemuin pas lagi kebelet :p
Contoh dialog nya :
Mama-nya : "xxx(nama tokoh), dimana ya kemeja papa yang merk-nya DISPENSER itu?"
xxx : "Hah, dispenser?? MARK AND SPENCER kali maaammmm -__- "

Oh, one moe thing, (#IMO) chapter tergokil dalam buku ini ada di chapter I, should read banget, kita bertaruh coklat kalau ada yang gak ketawa pas baca nya :P

Profile Image for Rizki Widya Nur.
53 reviews1 follower
September 27, 2014
Nemu bukunya di kardus buku lama sepupu yang isinya kebanyakan komik. Sebenarnya bingung juga kenapa dia yang sma punya buku ini, sedangkan aku yang koas malah gak punya. Gak tertarik sih sebenarnya. Cuma karena penasaran dibaca juga sampai selasai. Agak sedih karena sadar sebentar lagi harus keluar dari zona 'kasta terendah di RS'. Sebenarnya merasakan asam manisnya koas seru juga kok, apalagi waktu kenalan sama koas dari univ lain, tahu kepribadian teman kita yang asli, lucunya pas ngelakuin hal bodoh di depan pasien,indahnya waktu bengong pas ditanyain konsulen, hore-horenya koas minor yang tiap hari jalan jalan (kalau aku mayor sih ttp hore2). Walaupun kalau suruh ngulang lagi ogah bangeeet. Maunya cuma bareng lagi sama teman2 tpi gak mau kerja dengan embel-embel 'dek koas' lagi. Intinya sedih lah ninggalin teman2, terutama yang satu kelompok. Seneng juga sebenarnya udah mau kelar dan dapat titel dokter, bisa banggain ortu. Tinggal beberapa langkah lagi...
dek-mbak-mas koas lain wajib baca yang ketiga ini (sebenarnya aku belum baca yang pertama dan kedua :p), terutamabagian akhir.. ini bisa bikin semangat buat berjuang Hwaiting!
Profile Image for Ayu Insafi.
Author 1 book3 followers
March 30, 2013
jokes ala ferdiriva yang lebay emang paling sukses bikin ngakak baca buku ini, walaupun sepertinya engga selucu buku 1 dan 2. bab praktikum patologi klinik asli kocaknya engga ketulungan dengan adanya tokoh yang belum pernah muncul di buku 1 atau 2, si sendy. ko-ass obgyn dan forensik tentunya, bab terakhir yang paling berkesan sampai menitikan air mata sambil senyum-senyum karena walau sedih tetep ada jokes.

jokes nya? ya ampuuun. masih kepikiran kalau yang baca bukan medical student atau tenaga kesahatan :p

well, gue tetep nunggu karya selanjutnya dari dokter ferdiriva sepulang beliau dari jepang :)
Profile Image for Danis Syamra.
15 reviews2 followers
May 22, 2013
Seri pamungkas dari Cado-Cado series yang sukses bikin gua ketawa di awal-awal cerita dan mancing airmata haru di akhirannya. 'kata papa' menjadi magic word yang sukses memancing emosi dan membuat gua pengin ketemu bokap lalu ngobrol lama dengan dia.

sebuah akhiran dari perjalanan panjang menjadi seorang dokter dengan penceritaan sudut pandang yang begitu positif.

well, semoga dokter Riva akan kembali menulis lagi tentang pengalamannya yang garing, lucu, dan haru setelah menjadi seorang dokter.
Profile Image for Sita.
167 reviews18 followers
January 2, 2013
Buku terakhir dari trilogi Cado-cado. Sedikiiit lebih serius dari buku 1 & 2 apalagi bab terakhir tentang momen kelulusan mereka. Sedih juga udah selesai ceritanya. Pasti masih banyak yang gak diceritakan, apalagi katanya ga mau bikin lagi ataupun lanjutannya. Oh well, never say never ;)

Trilogi yang keren. Ringan, mudah dicerna, tapi tetap ada pengetahuannya. Gak rugi deh. Mudah2aaan dr Ferdiriva nulis sambungannya, suka-duka jadi dokter macam James Herriot gitu deh. hehe...
Profile Image for Natasya Ratu.
9 reviews
March 3, 2013
Sebaru itu baca buku ini karena adik saya yg masih kelas satu smp memutuskan untuk membeli buku ini. Jadi Cado cado 3 adalah buku pertama dr. Ferdiriva yang saya baca. Menyenangkan sekali membaca buku ini! Benar-benar bisa membuat terbahak-bahak membacanya. Terus juga ikut kesal karena dua mbak koass dan Beni. Ending nya pun haru sekali.... Hingga saya sempat ingin beralih jurusan :") *ababil mode*

Silahkan dibaca bagi yang ingin terhibur hatinya!
Profile Image for Ivan Jhansen.
3 reviews
April 14, 2013
Menurut saya buku ini sangat cocok dibaca untuk calon mahasiswa,mahasiswa kedokteran maupun non kedokteran yang sangat kepo bagaimana kehidupan seorang calon dokter.
Sebagai mahasiswa non kedokteran, ada beberapa bagian yang menjijkan, tapi untuk kalangan kedokteran pasti ini hal biasa. Novel ini menceritakan pengalaman penulis sebagai ko-ass di berbagai bagian. Ada yang lucumenjijikan, bahkan ada yang bisa bikin mewek.
Profile Image for Lydia Kurnia  Purwanti.
49 reviews1 follower
October 16, 2017
So in love with this book. I've been following dr. Riva's journey becoming a doctor from his very first "Cado-Cado" book. The last chapter 'Ko-ass Forensik : The Final Ko-ass and A Farewell Note' made me shed tears. It was my fav story.
Tidak melulu soal komedi, tapi juga ada pelajaran hidup yang bisa dipetik dari cerita-cerita dr. Ferdiriva. Seperti cerita Vena di chapter itu, what a strong woman she is! :')

Thank you, dr. Riva for the haha hehe. I'll wait for your next horror novel. :D
Profile Image for Annisa MoeL.
209 reviews8 followers
November 13, 2012
Amazing. Paling suka sama cerita terakhir. Jangan lupa siapkan tisu :p Tentang dosen killer, saya setuju banget sama "Killer Me Not". I admire almost killer lecturer. They are cool. Seharusnya dosen yang baik itu ya killer aja *lho* :)))) Tapi bukan sembarang killer ya, harus realistis & logis B)

A very recommended book to read :)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.