Sujatin Kartowijono adalah satu dari tiga orang penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928. Kisahnya diceritakan kembali oleh Hana Rambe.
Hanna Rambe is an Indonesian writer and journalist and was educated largely in Jakarta. In the mid-1960s, she entered the Literature Department at the University of Indonesia where she enrolled in the English language division, but she did not complete her schooling. She began working as a journalist, beginning as a copy-editor at the Indonesian Observer newspaper, and then worked as a translator and reporter for Indonesia Raya until 1974. She also worked as a contributor to the magazine Intisari (1972–1977), and then as a journalist at Mutiara magazine from (1977–1992).
Actually this is not mine, but my mom's book. I found it at family library.
Warna kertasnya sudah mencoklat karena memang buku lamaa (terbitan tahun 80an) tapi masih layak dan enak dibaca. Jadi pengen baca lagi buku-buku lain karya Hanna Rambe.
Sujatin Kartowijono lahir pada masa penjajahan Belanda (tahun 1907). Beruntung bu Jatin berasal dari keluarga menengah (ayahnya punya pangkat di perusahaan kereta api) jadi digambarkan tidak menderita2 amat saat dijajah.
Bu Jatin dididik oleh sang ayah menjadi anak yang berani, dan salut karena di masa sebelum kemerdekaan, sang ayah sudah mengaplikasikan kesetaraan gender. Beliau juga mendidik anak2nya untuk cinta membaca dan menulis.
Kembali ke cerita bu Jatin.
Ini adalah buku biografi beliau. Meski tidak diceritakan detail mengenai nama ayah dan ibunya, nama anak2nya, gak apa-apa. Karena yang disorot adalah sosok bu Jatin sebagai seorang aktivis di bidang kewanitaan (pengurus KOWANI) dan juga guru.
Bu Jatin memilih untuk jadi aktivis dan menjadi seorang nasionalis. Namun beliau tetap bergaul dengan orang belanda dan ternyata tidak semua penjajah itu jahat. Buktinyaa ada guru dan rekan kerja orang Belanda yang baik hatinya.
Cerita dilanjutkan saat penjajahan Jepang, lalu kemerdekaan Indonesia. setelah itu bu Jatin aktif bekerja dan rapat di mana-mana (sampai luar kota) demi kesetaraan gender.
Ingat bahwa settingnya adalah masa pra kemerdekaan dan masa kemerdekaan awal, jadi di tahun-tahun itu sepertinya masih jarang ada wanita karir. Tapi beliau tetap mengurus keluarga dengan baik dan punya aturan khusus yakni memandikan anaknya yang masih kecil, sekali sehari. Gunanya untuk melihat apakah ada bagian tubuh yg sakit.
Kemudian cerita Bu Jatin berlanjut ketika beliau bekerja di pemerintahan dan sering melakukan perjalanan ke sumatra, Kalimantan, bahkan luar negeri seperti amerika dan RRC. Bukan untuk traveling tapi demi memperbaiki masa depan anak bangsa, terutama kaum wanita.
Buku yang cukup menarik, tapi sayang untuk penyebutan tanggal dan tahun peristiwanya agak kurang detail.