Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang

Rate this book
Seorang pengelana Jepang merasa heran orang Indonesia sering bilang "tidak apa-apa" untuk hal-hal yang baginya justru "apa-apa". Mengomentari teman yang tak menepati janji, orang Indonesia biasanya hanya bilang, "Ya, sudah, tidak apa-apa". Bus terlambat datang, "Tidak apa-apa...". Internet tak bisa nyambung-nyambung pun, "Tak apa-apa".

Lewat buku ini Hisanori Kato, si pengelana Jepang, berbagi pengalaman pribadi. Masih ada seribu satu "keanehan" lain ia temui saat dua kali tinggal sementara di Indonesia. Tanpa maksud menyinggung perasaan, ia tak habis pikir pada manusia Indonesia yang menurut kacamata Jepangnya kurang menghargai waktu serta menganut cara berpikir "bagaimana nanti", bukannya "nanti bagaimana".

Kato San kini sudah tinggal lagi di negeri asalnya. Namun, ia tetap tak bisa melupakan orang-orang yang pernah dikenalnya di Indonesia. Ia pun masih selalu rindu pada warung dekat rumah tumpangannya yang dulu kerap dikunjungi. Jakarta telah menjadi kampung halamannya yang kedua.

144 pages, Paperback

First published October 1, 2012

74 people are currently reading
1209 people want to read

About the author

Hisanori Kato

9 books18 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
150 (28%)
4 stars
177 (33%)
3 stars
161 (30%)
2 stars
22 (4%)
1 star
17 (3%)
Displaying 1 - 30 of 92 reviews
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
December 14, 2024
buku ini menyebutkan nama penerjemahnya, namun tidak menyantumkan judul aslinya. apakah semula ditulis dalam bahasa jepang atau inggris?
namun demikian, jelas terkesan bahwa kato-san sedang bercerita untuk audiens bukan-indonesia.

hal itu mewarnai pilihan-pilihan tajuk yang ia pilih untuk bercerita mengenai apa yang ia pelajari dari orang indonesia. ya, kato-san amat sopan. ia melihat keburukan atau perilaku ngawur bangsa indonesia dalam menghidupi alam modern secara positif. ia katakan itu sebagai memperkayanya atau perlu diketahui orang asing, atau hal positif yang katanya punya kontribusi penting dalam pergaulan internasional.
nampak kehati-hatiannya dalam menempatkan diri di antara indoensia dan jepang.

indonesia amat dicintainya,
dan mengherankannya, ia mencitai jakarta. kota yang sering kali dikutuk dan diemohi banyak orang asing.

buku ini merupakan catatan ringan dan personal.
disajikan secara lucu dan sopan. seperti galibnya orang jepang yang pemalu dan tidak suka menyakiti orang lain. anda harus membacanya sendiri bagaimana cara ia mengungkapkan kegemasannya ketika jam tangannya kecopetan, juga ketika dia menawar ongkos angkot, atau ketika mencoba mengamen di angkot jakarta!

tajuk-tajuk yang ada tidak disajikan kronologis, tapi mengalir saja. saya tidak menemukan apa yang jadi benang merah dari cara ia mengurutkan bab-bab tajuknya.

dari buku tipis ini, dan perkenalan saya sebentar dengan orang-orang jepang, pemahaman saya mengenai cara mereka melihat kita dan bagaimana diri kita dilihat, itu sungguh memperkaya kita dalam hidup bersaudara di masyarakat dunia.
Profile Image for Aji Satwiko.
2 reviews2 followers
June 3, 2013
waktu gue jalan2 ke singapura belum lama ini gue mikir "gimana ya rasa nya orang asing yang jalan2 ke indonesia". Gue kepikiran ini soalnya jalan-jalan ke singapura itu kalau komputer ibaratnya kita pake windows, alias "user friendly". Dateng udah jelas harus gimana2 tinggal ikutin "how-to"-nya aja. Kebayang aja kalau dateng ke indonesia itu gimana, dari bandara gimana, naik apa, lalu ke mana juga, ke monas kah? ke jalan surabaya kah? di mana turis harus menuju di jakarta?

Kemudian gue nemu buku ini. Buku ini menjawab semua keingintahuan gue. Bercerita mengenai orang jepang yang udah lama tinggal di indonesia. dia cerita gimana dari bandara nya, gimana naik kendaraan umumnya, sampai interaksi detail. Dan menurut gue bahasan pada dua bab terakhir udah agak berat. Maklum ternyata dia s1 nya filsafat dan disertasi nya tentang sosiologi.

Buat gue, seorang awam yang sangat tertarik sosiologi, buku ini adalah "something I was always searching for". Dan ternyata pandangan si Kato-san ini sesuai sama yang gue bayangin. Five stars!
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
November 8, 2012
930 - 2012

Apa yang dipotret Kato-san tentang karakter orang Indonesia pada umumnya sangat mengena. Di mana lagi budaya Jepang yang serba tepat waktu dan cepat berbenturan dengan para penganut "alon-alon asal kelakon"?

Namun di balik budaya "alon-alon" dan "tidak apa-apa" yang terkesan santai dan pasrah, yang menurut Kato-san kondisi pra-modern itu, Kato-san malah menemukan banyak sisi positifnya. Karena budaya modern yang otomatis, praktis, dan mekanis cenderung memangkas habis sisi tradisional yang bersifat personal, akrab, dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk manusia modern yang senantiasa bergegas dan tidak sabaran mengejar target duniawi yang tak pernah ada habisnya, mungkin ketenangan dan kesantaian khas Indonesia malah jadi menarik dan bikin kangen.
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
April 11, 2013
Dari segi fisik dan kedalaman pembahasan, sebenarnya buku ini kurang bagus. Dari fisiknya, bukunya kecil, tipis, namun kovernya tebal, desain aksaranya pun dibesar-besarkan shg memberi kesan seolah untuk mempertebal konten buku yang sudah sedikit sedari awalnya.
Namun saya tetap merasa buku ini pantas mendapatkan 4-bintang karena perspektifnya yang bisa menambah cara-pandang masyarakat Indonesia yang semakin gencar diserang cara-berpikir kapitalisme-barat. Dan disaat yang sama, penulis juga menawarkan jalan-tengah bagi masyarakat Indonesia menghadapi modernisasi yang terjadi di seluruh dunia.
Profile Image for Hisyam.
125 reviews14 followers
January 17, 2022
Buku ini menjadi buku non-fiksi pertamaku di tahun 2022 setelah tahun 2021 kemarin hampir tidak menyentuh bacaan nonfiksi😝.

Mungkin sedikit terlambat bagiku yg seorang pecinta jejepangan menemukan buku ini🥲

tapi aku percaya pada akhirnya sebuah buku akan mendapat waktu yg tepat untuk ditemukan pembacanya✨

Buku ini kayak mirip sebuah diari pandangan penulis terhadap negara Indonesia. Masyarakat dan kebiasaan disini menurut beliau jauh berbeda dengan di Jepang, tapi disini dapat ditemui hal-hal yg tidak Ada di Jepang sana dan hal tsb yg membuat si penulis jatuh cinta dan 'kangen' untuk kembali ke bumi khatulistiwa ini.

Hal unik yg kudapatkan lainnya tentang perbedaan masyarakat Jepang dan Indonesia adalah ketika melakukan sesuatu, orang Jepang mengatakan "berusahalah dengan baik!" Tetapi orang Indonesia cenderung berkata "jangan buru-buru begitu!".

Selain itu, penulis juga terheran-heran dengan cara berpikir orang Indonesia yg kurang menghargai waktu serta menganut cara berpikir "bagaimana nanti", alih-alih "nanti bagaimana".

Menurutku bukunya tipis cuma 144 halaman dan ringan. cukup menarik minatku untuk mulai lebih memperbanyak bacaan nonfiksi tahun ini😌
Profile Image for Mikochin.
145 reviews22 followers
January 22, 2022
Selalu menarik melihat seperti apa negara sendiri dari perspektif orang asing.
Kato-sensei menjelaskan hal-hal unik yang ia temui di Indonesia—yang meski kebanyakan membuat jengkel dan menghasilkan banyak gerutuan, pada akhirnya tetap mampu mengambil nilai positif dari hal tersebut yang ia harapkan bisa dipelajari oleh orang Jepang.
Profile Image for Reiza.
190 reviews7 followers
August 23, 2018
Membahas mengenai perspektif dari pengalaman seorang akademisi berkebangsaan Jepang bernama Hisanori Kato selama tinggal di Indonesia, buku ini memberikan beberapa pandangan yang unik, tepat, dan sesekali lucu tentang Indonesia, masyarakat dan kebudayaannya.

Contoh yang menurut saya paling lucu adalah ketika ia berkenalan dengan kata sakti "tidak apa-apa" dan "Insya Allah" . Kato-san melihat orang Indonesia terbiasa menyimpan segala kejengkelannya dan terkesan santai ketika menemukan hal-hal yang tidak diinginkan atau ketika menghadapi situasi yang menurut hemat Kato-san, sangat membutuhkan perhatian yang rinci.

Misalnya, dalam perencanaan suatu acara kampusnya, Kato-san menekankan pentingnya perencanaan hingga ke titik yang detail, sementara rekannya yang orang Indonesia tidak begitu merasakan perlunya perencanaan yang sangat mendetail. "Tidak apa-apa, tidak sesuai jadwal juga tidak masalah." katanya.

Atau, ketika dihadapkan dengan akses internet yang lambat, jadwal bus Transjakarta yang bermasalah, mengomentari teman yang telat dan tidak menepati janji, semuanya selesai dengan kata sakti "Ah, tidak apa-apa." Bagi Kato-san, hal tersebut sangat mengherankannya yang terbiasa dengan masyarakat Jepang yang sangat disiplin.

Begitu juga ketika membuat janji. Orang Indonesia getol sekali menyebut "Insya Allah" sebagai balasan. "Insya Allah" memiliki arti "Dengan izin Allah." suatu bentuk penyerahan diri atas qadar atau ketetapan Tuhan. Kato-san yang seorang peneliti Islam tentu akhirnya mempelajari arti dan makna kata tersebut. Tetapi menjadi berbeda ketika orang Indonesia kemudian menafsirkan kata "Insya Allah" menjadi hampir sama dengan "bagaimana nanti."

"Suatu hari saya berjanji bertemu dengan seseorang, sampai waktunya janjiannya lewat, orang itu tidak muncul juga. Itu terjadi pada tahun 1991 ketika belum ada telepon seluler. Hari berikutnya, saya menelepon orang itu dari rumah, dia berkata "Karena hujan saya tidak pergi". Daripada marah, justru adanya pemikiran seperti itu menjadi perhatian saya."


Kato-san juga kerap kali menceritakan pengalaman yang tidak mengenakkan selama ia tinggal di Indonesia. Seperti dicopet dan dirampok di bus kota. Tetapi setelah ia melihat lebih lama, yang terjadi kemudian adalah pandangan takjub dari seorang Kato-san terhadap cara orang Indonesia berinteraksi dan melihat sesuatu. Tidak hanya seputar kata sakti, ia melihat bentuk interaksi lainnya dari orang Indonesia. Seperti rendah hati ketika dipuji, mudah memaafkan dan mudah melupakan. Ia melihat orang Indonesia lebih ramah dan bersifat kekeluargaan dibandingkan dengan masyarakat Jepang yang menurutnya semakin individualistis. Ini membuatnya merindukan Indonesia selepas kepulangannya ke Jepang tahun 2012. Ia merindukan makanannya, hiruk pikuk kota Jakarta, hingga tingkah laku dan keramahan orang-orangnya. Itulah alasan kenapa ia akhirnya menulis buku ini.

"Jadi, mungkin paling baik kalau ada orang yang bersikap seperti perpaduan antara orang Jepang dan orang Islam Indonesia. Orang yang seperti itu entah ada di mana? Insya Allah, saya bisa bertemu orang seperti itu."
Profile Image for Sa`ad Ahyat Hasan.
111 reviews17 followers
August 25, 2013
Setelah sekian lama saya mengikuti beberapa blog orang-orang Indonesia yang berkesempatan untuk tinggal di Jepang, akhirnya saya menemukan buku yang menjelaskan hal sebaliknya: pengalaman orang Jepang ketika tinggal di Indonesia.

Ada beberapa poin yang begitu mengena tentang Indonesia. Salah satunya adalah tentang budaya menepati janji dan menghargai waktu.

Satu hal yang patut disayangkan, sebagian besar pengalaman yang dijelaskan dalam buku ini adalah pengalaman Mr. Hisanori Kato ketika tinggal di Jakarta. Mungkin akan jauh berbeda kondisinya ketika beliau sempat tinggal selama beberapa waktu di daerah-daerah untuk merasakan secara langsung kondisi Indonesia di daerah-daerah lain yang belum semaju Jakarta dengan kearifan lokal yang relatif lebih terjaga.

Dan satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya setelah membaca buku ini, kalau orang Jepang saja begitu tertarik untuk mengenali Indonesia, bagaimana dengan kita? Sudah seberapa jauh kita mengenal Indonesia?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rossinta Indahsari.
1 review
June 24, 2013
Wah seneng banget bisa baca buku ini. Seenggaknya dengan buku ini membuka mata kita sebagai orang Indonesia dimana masih ada yang bisa kita banggakan dari negara kita. Ya semoga aja dengan buku ini, kita masih bisa mempertahankan nilai-nilai yang membanggakan orang asing. Jangan sampe gara-gara globalisasi, kita jadi kehilangan identitas bangsa hehe. Ya pokonya saya bangga dengan orang-orang Indonesia. Orang jepang aja kangen sama Indonesia masa orang Indonesia-nya sendiri gak cinta Indonesia
Profile Image for Tasha Widyaningtias.
14 reviews11 followers
December 15, 2014
"Oooh, ternyata begitu toh, nagara kita di mata orang dari negara tetangga!"

Ya, itu kata-kata yang gue keluarkan setelah menutup halamn terakhir dari buku ini.

Kisah tentang seorang Jepang yang menceritakan kerinduannya akan Indonesia, yang memiliki banyak cerita unik, lucu, nyeleneh dan yah.. Indonesia banget gitu lho! Haha

Sangat menyenangkan untuk dibaca dan rasanya sayang karena buku ini hanya memiliki sedikit halaman, alias cepet banget bacanya! hehe
Profile Image for Faisal Chairul.
268 reviews16 followers
November 9, 2021
Ada dua concern yang perlu diketahui sebelum membaca buku ini:
.
Pertama, kondisi sosial Indonesia (Jakarta khususnya) yang penulis ceritakan dalam buku ini merupakan kondisi sosial yang penulis hadapi ketika ia berkunjung ke Jakarta untuk kepentingan studi (penelitian) di era 1990-an sampai awal 2000-an. Membaca ini sekarang akan terasa kurang relevan. Namun kiranya perlu juga dibaca oleh kaum muda zaman sekarang untuk bisa melihat sedikit gambaran kondisi sosial Jakarta masa itu (di mata orang Jepang).
.
Kedua, dari cara penulis menyampaikan ceritanya, sasaran buku ini justru lebih tepat diarahkan kepada pembaca Jepang. Berikut kutipan argumen penulis:
.
"Saya pun percaya bahwa Jepang dapat menempatkan posisi yang kokoh dalam perekonomian dunia karena melakukan segala sesuatunya dengan teliti dan tepat waktu. Tetapi, tanpa disadari pada saat yang sama masyarakat Jepang melupakan sikap 'memaafkan' atau 'nrimo' terhadap kesalahan atau kelalaian orang lain. Orang Indonesia mungkin akan marah kepada orang yang tidak menepati waktu, tetapi dengan segera mereka dapat menerima kelalaian itu dan mengatakan, 'oh begitu'. Sesungguhnya sikap inilah yang bisa menjadi salah satu cara yang dapat memberi warna kepada masyarakat Jepang yang kurang peduli dengan orang lain." (halaman 35)
.
Jika kita (orang Jepang) selalu bersikap 'kebarat-baratan', maka hubungan 'lawan bicara' dengan 'diri sendiri' akan bersifat konfrontatif. Dalam pengertian tersebut 'efisiensi' sangat menguntungkan, tetapi ada kalanya hal itu melelahkan. Saya rasa orang Indonesia memiliki mentalitas yang mementingkan 'keluwesan' terhadap lawan bicara daripada 'efisiensi'. Sebenarnya di Jepang juga ada kecenderungan yang sama, tetapi belakangan ini saya merasa orang Jepang telah kehilangan sikap tradisional seperti itu, dalam proses kemandekan ekonomi yan panjang, perkembangan ekonomi setelah perang yang berlanjut dengan hancurnya bubble economy (1991), perbuatan 'tiba-tiba memarahi orang lain' sudah tidak asing lagi. Setelah 20 tahun meninggalkan Jepang, lalu kembali ke Jepang, saya merasa masyarakat Jepang menjadi agak kasar."
.
Walaupun begitu, menarik juga membaca perspektif lain tentang sikap orang Indonesia yang bertolakbelakang dengan sikap orang Jepang. Penulis menganggap positif hal tersebut. Jika menurut pandangan kita sikap disiplin, cekatan, tepat waktu (tanpa kompromi), dan harus selalu siap bertanggungjawab atas kesalahan yang dimiliki orang Jepang sebagai panutan, ternyata di mata penulis sendiri sikap tradisional orang Indonesia yang sarat 'toleransi' justru tetap dibutuhkan, dan penulis menyarankannya pula kepada masyarakat Jepang untuk mengadopsi sikap tersebut.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
June 3, 2024
"Di dalam kereta di Tokyo, saya melihaty beberapa orang yang menghardik orang lain hanya karena tersenggol bahunya. Setelah 20 tahun meninggalkan Jepang, lalu kembali ke Jepang, saya merasa masyarakat Jepang menjadi agak kasar." Hal.54.

Hisanori Kato menulis itu di salah satu babnya. Menarik, sebab orang Jepang yang terkenal penuh sopan santun bisa dianggap kasar di mata orang Jepang itu sendiri. Tentu saja dia mengatakan itu karena ada perbandingannya, kan? dan sesuai dengan judul bukunya, kalau mau disebut sebagai satu keunggulan positif, Kato membandingkan itu dengan orang Indonesia.

Tentu saja masih banyak orang Indonesia yang brengsek. Dia aja, saat pindah ke Jakarta sudah beberapa kali kecopetan bahkan ditodong dengan senjata tajam. Indonesia di matanya juga nggak bagus-bagus amat. Mungkin malah banyak jeleknya dibandingkan Jepang, atau Amerika Serikat tempat Kato tinggal lama sebagai tenaga pengajar.

Tapi tetap saja dia cinta Indonesia dengan segala baik-buruknya.

"Bagi saya Indonesia adalah negara yang penuh rasa cinta. Mungkin Jakarta telah menjadi kampung halaman saya yang kedua. Tetapi, perasaan cinta itu begitu rumit, tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata." Hal. 139.

Baca kalimat itu, saya juga jadi mikir kenapa saya begitu cinta India. Padahal di India, saya pernah dikejar anjing, dicolek banci, ditipu holy man, kena getok harga, berjalan di jalanan penuh tahi, dikerubungi para homeless, dsb. Tapi justru kekacauan seperti itu yang bikin saya kangen.

Mungkin itu pula yang dirasakan Kato. Makanan Indonesia, keramahan orang-orangnya, dialog-dialognya dengan Gus Dur, kesyahduan Ramadan, dsb, menjadikan Kato kerasan tinggal di Indonesia. Ya, segala sesuatu yang begitu sempurna memang enak tapi bisa menjemuka.

Buku yang menarik, dan jadi paham bagaimana warga dunia memandang Indonesia (walau melalui Jakarta dan Bandung sebagai perwakilannya). Ada beberapa bab yang cenderung datar, dan basi di beberapa aspek. Tapi mengingat buku ini baru saya baca padahal sudah terbit lebih dari 10 tahun, ya dapat dimaklumi.

Skor 7,7/10
Profile Image for Romie Afriadhy.
14 reviews1 follower
January 7, 2020
Buku tipis ini sebetulnya sederhana saja, namun menjadi berbeda karena ditulis oleh orang Jepang yang berkisah tentang Indonesia. Ya... penulisnya adalah Hisanori Kato, seorang Profesor lulusan Universitas Sidney Australia, yang meneliti tentang agama Islam di Indonesia, riset itulah yang membukanya berkenalan dengan banyak tokoh Islam di tanah air. Hisanori Kato tinggal tinggal cukup lama di Indonesia dengan menjadi pengajar di sekolah Internasional Jakarta.
Kangen Indonesia pada umumnya berisi pandangan Kato terhadap berbagai perihal tentang Indonesia, keunikan yang ditemuinya pertama kali semisal kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang berpuasa pada bulan Ramadhan, makan pakai tangan, yang justru tidak diperbolehkan di negara asalnya, juga sikap “teramat sabar” masyarakat Indonesia yang menurut Kato begitu tinggi.
Seperti dikisahkan, orang Indonesia selalu mengomentari “Tak apa-apa” untuk hal-hal yang baginya justru “apa-apa”. Teman yang tak menepati janji, bus yang datang terlambat, internet yang tidak nyambung-nyambung, semuanya akan di komentari “Tak apa-apa.”
Jika terjadi di Jepang, kondisi seperti itu tentu akan sangat bermasalah. Menurut kacamata jepangnya, orang Indonesia kurang menghargai waktu. Namun Kato juga begitu memuji keindahan sikap orang Indonesia yang katanya sudah jarang terlihat di Jepang.
Profile Image for Laras Audina.
28 reviews
November 30, 2021
Buku yang menarik, semenarik judulnya. Buku yang memberikan sudut pandang penulis dengan pengalamannya selama berada di Indonesia dan kemudian dibandingkan dengan negara asalnya, Jepang. Kano San memberikan pandangan dengan penuh kehati-hatian namun tetap mengalir sehingga tidak membosankan bagi pembaca.

Buku ini bisa dibilang buku yang cukup kaya karena memberi sudut pandang baru seperti salah satu sikap "tidak apa apa" orang Indonesia yang bertolak belakang dengan prinsip disiplin dan takut melakukan kesalahan orang Jepang. Alih alih berpikir sikap tersebut buruk, Kano San berpikir sikap menerima dan terbuka orang Indonesia adalah suatu yang bernilai. Selain itu kekaguman Kano San dengan keberagaman Indonesia turut menambah kecintaan pada tanah air.

Mungkin akan lebih baik jika buku seperti ini dibuat juga untuk pembaca Jepang sehingga pesan yang dimaksud dapat tersampaikan. Worth to read!
Profile Image for Sinta.
10 reviews1 follower
May 28, 2017
Secara umum buku ini memberikan gambaran mengenai perbedaan Indonesia dan Jepang. Namun, menurut pendapat saya pribadi, gambaran secara umum tersebut bisa dengan mudah diperoleh melalui observasi.

Awalnya, dengan membaca buku ini, saya berharap bisa mendapatkan penjelasan secara rinci dan mendetail mengenai, seperti misalnya, asal usul kebudayaan Jepang yang amat sanggat menghargai presisi ketepatan waktu. Namun, di dalam buku ini justru yang pembaca hanya dapat peroleh adalah pernyataan premis sederhana yang menyatakan bahwa kebudayaan Jepang itu tepat waktu dan Indonesia tidak tanpa ada penjelasan yang didukung dengan data.
Profile Image for Stephany Efflina.
118 reviews1 follower
July 17, 2022
Buku yang berisi ulasan-ulasan yang tidak terlalu panjang tentang aspek-aspek kehidupan orang di Indonesia (terutama Jakarta) seperti tentang cara pandang (yang tercermin dari jawaban dan tindak-tanduk masyarakat) sampai sekilas mengenai banjir.
Walau ulasannya singkat dan menurut saya terjemahannya entah kenapa kurang enak dibaca, akan tetapi, ada hal-hal mengenai orang Indonesia di buku ini yang membuat saya senyum-senyum ketika membacanya. Saya jadi bisa merasakan kalau penulis benar-benar suka dan rindu dengan Indonesia.... Senang banget bisa baca buku ini!
1 review
June 19, 2018
gw belum bisa ngasih review banyak secara gw belum sepenuhnya membaca buku ini. tapi yang jelas buku ini adalah buku yang sangat menarik untuk dibaca. didalamnya ada pengetahuan untuk diketahui orang asing juga orang Indonesia sendiri. menurut gw buku ini bisa dijadikan sebagai motivasi bagi bangsa Indonesia untuk memperbaiki dirinya sendiri. yang salah diperbaikin, dan yang udah baik di jaga.
Profile Image for heri.
289 reviews
June 28, 2018
menarik, hal-hal di indonesia yang bagi warganya dinilai negatif namun bagi penulis dilihat dari sudut pandang positif.
terutama 'tidak apa-apa' dan 'bagaimana nanti'. :)
Profile Image for Vera Dianwari.
57 reviews
June 18, 2022
Nice book.
Tentang kekaguman orang Jepang terhadap orang Indonesia yang penuh cinta dan penih pengertian
Profile Image for Adrian Ferrari.
21 reviews
June 25, 2025
hmmm, ada beberapa miss presepsi sih yang harus di tinjau ulang, bacanya jangan sampai salah arah ya hahaha
1 review
May 16, 2020
Ok
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Yusuf Ks.
425 reviews53 followers
October 12, 2015
Hisanori Kato sudah pernah tinggal di Indonesia selama kurang lebih 1 dekade . Selama di Indonesia, Kato-San melakukan berbagai aktivitas sesuai tujuan dia tinggal, seperti mengajar bahasa Jepang di sekolah Internasional di Jakarta, juga ketika melakukan penelitian disertasinya yang membutuhkan wawancara dengan banyak tokoh Indonesia, yang semuanya tentu memakan banyak waktu.


Kato-san menceritakan berbagai pengalamannya ketika tinggal di Indonesia. Ada pengalaman menarik, seru, sial, lucu, dan lain-lain yang diceritakan di buku yang ditulisnya ini. Beberapa kali Kato-san pernah mengalami kejadian dicopet di angkutan umum, namun nampaknya tidak ada kata kapok baginya. Ketika Kato-san hendak membalas dendam kepada masyarakat Indonesia supaya dapat “mencopet balik”, dia dan temannya mengamen di bus kota dan ternyata hasilnya jauh dari yang dia pikirkan, selain mendapat pemberian seikhlasnya, banyak penumpang yang tertawa senang mendengar nyanyiannya

Bagi Kato-san, ada banyak sifat dan budaya masyarakat Indonesia yang secara umum disukainya dan membuatnya kagum, seperti sifat ramah, budaya takbiran, warung pinggir jalan, dll. Namun ada juga yang sifat masyarat Indonesia yang secara umum kurang disukainya seperti sifat kurang menghargai waktu, juga tidak menepati janji berlindung dengan kata sakti “Insya Allah.”, sering mengucapkan, “Maaf yaa” dan “Tidak apa-apa”, dan lain-lain.

Kini Kato-San sudah kembali tinggal di Jepang, tapi pengalaman hidup selama di Indonesia sangat membekas pada dirinya meskipun ada beberapa sifat masyarakat Indonesia yang kurang disukainya. Rasa kangen Indonesia dalam dirinya pun tidak dapat ditolak kemunculannya, alam bawah sadarnya seakan berbisik, “Kato-San, kapan kembali ke Indonesia?”
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
May 5, 2013
Kumpulan artikel pendek dalam buku ini berisi brief encounter terhadap keindonesiaan kita yang perlahan punah. Menarik untuk mengetahui sudut pandang seorang Jepang terhadap kehidupan seputar Jakarta.

Hisanori Kato tiba di Indonesia sebagai peneliti. Objek utamanya adalah tentang Islam di Indonesia. Kato-san mengalami sendiri berbagai peristiwa yang boleh dibilang hanya ada di Indonesia. Semaraknya bulan Ramadhan, lalu tentang bagaimana Islam memberikan persepsi terhadap pemeluknya adalah suatu objek yang menjadi fokus penelitian seorang Kato-san.

Tidak hanya sebatas mengamati, Kato-san pun melakukan wawancara dengan beberapa tokoh Islam, termasuk Gus Dur. Dari Gus Dur, Kato-san belajar banyak mengenai Islam yang disajikan dari sudut pandang seorang Gus Dur.

Sepanjang pembacaan, tulisan Kato-san yang berkesan adalah mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam makna ucapan Insya Allah. Kato-san terkesan dengan ucapan tersebut, karena kalimat 'Insya Allah' itu mengandung suatu nilai keIlahian. Kepasrahan total terhadap rencana Yang Maha Kuasa. Keadaan seperti inilah yang kemudian membuatnya betah berlama-lama di Indonesia. Tentu saja, diluar segala kebiasaan buruk yang kita sudah pahami bersama.

Melalui buku ini, pembaca dihadapkan pada sebuah sudut pandang dalam melihat Indonesia secara lebih dekat. Kato-san tentu berharap tulisannya ini mampu membuat kita belajar dan berkaca. Bahwa dalam mencapai sebuah tujuan bersama diperlukan suatu kesamaan langkah dalam ragam perbedaan identitas yang melingkupi jati diri bangsa.

Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
June 4, 2014
** Books 137 - 2014 **

Buku yang ditulis oleh Hisanori Kato-sensei ini menceritakan tentang kurang lebih kebudayaan yang biasa melekat di orang Indonesia sepeti makanan dan bersosialisasi dengn orang lain. novel non-fiksi ini ringan untuk dibaca siapapun dan saya jatuh hati ketika kato sensei bisa mengambil hikmah positif apa saja yang ditemui di Indonesia.

sikap tidak apa-apa atau lihat saja nanti menjadikan orang indonesia lebih luwes dan santai dalam menjalani hidup.. ketika di jepang segala sesuatunya bersifat praktis, cepat dan teliti dan Indonesia menawarkan sisi ke tradisional. orisinil dan keluwesan.. ramah terhadap orang asing adalah salah satu yang masih saya sering temui di indonesia. tetapi hal ini menjadi pedang bermata kedua untuk tempat2 pariwisata lokal yang sering dikunjungi orang asing. selain itu saya sempat terkejut kato-sensei lebih mencintai kota jakarta dengan segala kehirukpikukan dari keanekaragaman karakter dan suku bangsa Indonesia dan bisa menemukan sisi positif dari Jakarta

Baru kali ini saya juga menemukan orang jepang yang berani untuk makan di pinggir jalan kaki lima (biasanya mereka agak bawel untuk soal higienis) dan makan menggunakan tangan.. terharu juga Kato-sensei menganggap Indonesia adalah kampung halaman kedua bagi beliau setelah Jepang..

saya berikan 3,4 dari 5 bintang! :)
Profile Image for Ai Sari.
19 reviews
December 28, 2012
Bismillah,

melihat indonesia dari kacamata yg berbeda itu menarik. Saya rasa buku ini semenarik itu. Hal terus teringat di kepala saya adalah saat Pak Kato berbicara tentang "kata-kata ajaib" yang ada di indonesia..:D

"Jika orang indonesia itu bagaimana nanti saja, jika orang jepang nanti bagaimana?"

atau saat terasa sekali betapa orang indonesia itu legowo sekali, dibalik dari carut marutnya hidup ya..membuat saya berpikir, pantes ya, meski indonesia tidak termauk kategori negara dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, namun masyarakatnya menduduki peringkat yg bagus dari segi tingkat kebahagiaan..(lupa, baca di sumber mana, kapan2 klo di apdet disertain deh)

Dan saya juga suka dengan takjubnya pak Kato pada makna "InsyaAllah" yang sering disalah artikan bahkan pada orang islam sendiri...:) dan ternyata, jepang juga punya pepatah yang mirip dengan insyaallah,
"Un wo ten ni makaseru, jinji wo tsukushite tenmei wo matsu = kita serahkan nasib kita pada Tuhan, Manusia berusaha sekeras mungkin kemudian menunggu keputusan Tuhan.

Dan betapa pak kato mengingatkan kita untuk lebih mengutamakan kata belum dari pada tidak untuk hal2 baik yang belum kita mampu..

Semoga Allah beri hidayah pada beliau sebelum maut menjemput...:)
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
June 29, 2015
http://trulyrudiono.blogspot.com/2015...

Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri orang, pepatah itu sepertinya mengena pada sosok Hisanori Kato.

Saat pertama kali datang ke Indonesia, ia mengalami Culture shock. Meski sama-sama berada di kawasan Asia, tapi kondisi di Jepang dan Indonesia jelas sangat berbeda. Baik dari sisi geografis, ekonomi dan sosial budaya Ditambah sebelum datang ke Indonesia Kato bekerja di Amerika.

Secara garis besar buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama mengisahkan tentang sosok orang Indonesia bagi penulis, termasuk sosok Gus Dur yang dikagumi Kato. Selanjutnya mengisahkan tentang pengalaman penulis dengan makanan khas Indonesia, dan dilanjutkan dengan pandangannya terhadap Kota Metropolitan, Jakarta. Tentang keyakinan juga mendapat perhatian di bagian selanjutnya.
Meski sama-sama berada di kawasan Asia, Indonesia menjadi sangat luar negeri bagi kato. Apa lagi sebelumnya ia baru saja berada di Amerika. Bayangkan saja, baru mendarat Kato sudah diserbu para supir taxi di bandara. Mereka sibuk menawarkan jasa dengan bahasa yang jelas tidak ia mahami, bahkan ada yang nekat sampai menarik-narik tangannya.
Profile Image for Hendri Susila.
15 reviews19 followers
March 19, 2013
Menarik emang melihat indonesia dari kacamata orang barat yang notabenenya adalah kaum modern. Kato san sendiri adalah penganut ajaran buddha, orang salalu berpandangan postif terhadap berbagai hal yang ia temui di indonesia yang kita tau hal tersebut adalah kebanyakan hal negatif. Dengan penelitian yang mendetail hal negatif tersebut bisa di alihkan atau disinambungan dengan akar budaya indonesia.
Disisi lain ketika membaca buku ini saya sedikit prihatin, keliatan banget kalo indonesia masih jauh dari kata "modern". Aku ngerasa jika dibanding dengan masyarakat jepang pemikirian masyarakat indonesia bisa dibilang kaum terbelakang, entah iklim menular diindonesia yang sangat cepat. Banyak hal yang mendadak bisa menjadi tren dimasyarakat. Bisa diliat dari kaum pejabat sampai kaum miskin begitu mengerikan. Pernyataan-pernyataan kato san akan keberagaman dan keramahan orang-orang diindonesia emang bikin terharu sekaligus bangga. Mengerikan emang melihat orang barat yang jauh memahami keadaan diindonesia dari pada orang lokalnya.
sehabis membaca buku ini saya melihat bomerang terbesar indonesia agar tumbuh menjadi negara yang maju adalah yang dinamakan BUDAYA!
Profile Image for Defi Laila Fazr.
26 reviews12 followers
July 27, 2016
Seorang pria Jepang yang merasa kesal karena berulang kali mengalami pencurian di Indonesia lalu merasa perlu membalas dendam dengan orang Indonesia dan mengambil kembali uang yang telah dicuri dengan cara mengamen di bus kota. Di sisi lain, orang Indonesia yang pernah dicuri sumber dayanya selama 3.5 tahun, menerima kehadiran pengamen asing dalam bis kota ini dengan perasaan terhibur, bahkan bersedia menyisihkan rejekinya berkali lipat dari ongkos bus saat itu. hmmn.. tidakkah fenomena ini juga menarik untuk diteliti, Kato San?! :-B

Yang paling menarik dari buku ini, ketika Kato memuji budaya makan dengan tangan orang Indonesia. Menurutnya, manusia yang menggunakan sendok dan garpu untuk memotong daging (mengacu pada peradaban barat), lalu menusuk dan memakannya merupakan simbol kemenangan manusia terhadap alam.

Sedang ketika makan dengan tangan, hubungan yang tercipta adalah kedekatan alami manusia dengan alam. Sikap yang bersahabat, bukan menguasai, tapi membutuhkan.

Sayangnya budaya timur nan luhur ini semakin meluntur. Banyak orang Indonesia yang justru lebih bangga saat duduk manis di restoran, menguasai table manner dengan baik.
Displaying 1 - 30 of 92 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.