"De mens wikt, God beschikt - manusia berikhtiar, tapi Tuhan yang menentukan"
.
Ibu Sinder | Pandir Kelana | Gramedia Pustaka, 1991 | 248 halaman | ISBN 979-511-178-7
.
Ibu Sinder adalah panggilan yang diterima Raden Ajeng Winarti saat ia masih menjadi seorang istri Sinder Suprapto, seorang pengawas kebun di Madugondo.
.
Awal buku berkisah kehidupan Ibu Sinder di perkebunan Madugondo, bagaimana perkebunan masa dulu dibawah pimpinan Belanda dan Jepang yang sangat berbeda.
.
Selain Ibu Sinder dan suaminya Suprapto, tokoh lain yang mendominasi adalah Suhono, anak Ibu Sinder, Ivonne, Herman dan Minah.
.
Buku ini menuliskan sosok ibu Sinder yang berparas ayu dan bijaksana, pintar bercerita kisah Jawa, menulis bahasa Jawa, membatik, bahkan meramu jamu.
.
Meski berayah seorang pria ningrat dan kerabat Keraton, Ibu Sinder tetap merendah. Ia bisa ikut dengan Suhono ke negeri seberang tapi memilih tinggal di Yogya menghabiskan masa tuanya sebagai Ibu Climen.
.
Dari sisi roman tidak hanya berkisah tentang Ibu Sinder, tapi juga asmara Suhono, Ivonne, Herman, dan Minah.
.
"Panggilan cinta yang lebih luhur sifatnya yang menentukan pilihannya. Widuri mengalah, tapi hakikatnya dialah sebenarnya yang memperoleh kemenangan. Ia sudah berada dalam pangkuan cinta kasih Allah di dunia yang fana ini." - halaman 183
.
Setting tempat dan waktu yang detail, sejak masa Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka sepenuhnya. Perjuangan pemuda Indonesia memerdekakan bangsa tidak luput dari sorot penulis.
.
"Pihak yang benar pasti akan menang, bagaimanapun beratnya cobaan cobaan yang menimpanya." - halaman 194
.
"Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Langkah mana yang menurut keyakinan hati nuranimu masih dapat diampuni olehNya... Jalan itulah yang harus kau lalui...." - halaman 218
.
Buku ini aku rekomendasikan untuk kamu yang mencari buku klasik Indonesia jaman kemerdekaan. Dalam buku ini juga ada beberapa tokoh yang menjadi tokoh utama di buku Pandir Kelana lainnya.