"Buku ini sebenarnya esay dari berbagai isu dalam berbagai kontak dan upaya-upaya untuk melakukan inklusi sosial. Dalam buku ini memang terdapat analisis perkembangan dan fenomena di negara dengan perspektif ilmu kedokteran jiwa.” (metrotvnews.com)
Buku ini berisi kumpulan essay dan opini penulis tentang kesehatan jiwa. Awal baca buku ini bertanya-tanya apa sih kesehatn jiwa itu? Dan apa tujuannya punulis ingin pembaca ikut mendukung Rancangan Undang-Undang Kesehatan Jiwa sehingga menjadi prioritas RUU (sisa waktu: 2012-2014)? Saya akan mencoba menuliskannya/merangkum opini penulis walaupun tidak akan sebagus tulisan dari M. Taufiqurrahman tentang Nova Riyanti Yusuf :D.
Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Gangguan jiwa dapat mempengaruhi semua orang, dari mulai anak, remaja, usia lanjut, orang kaya, orang miskin, orang kota, dan orang desa. Gangguan jiwa banyak dikumpai di masyarakat, begitu variatif seperti skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, gangguan cemas dan panik, gangguan ketergantungan zat, alkohol, dan rokok, gangguan kesehatan jiwa anak dan remaja (autisme, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif), dan lain-lain. Orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) bisa diobati di puskesmas, RSUD, RS Jiwa, dan dibantu peran serta masyaraka.
Penulis juga memaparkan beberapa kejadian yang dekat dengan kita yang juga layak diperhatikan kesehatan jiwanya, seperti adanya bencana alam yang sering menimpa negara kita, Tsunami, gempa, dan gunung berapi. Para korban tidak hanya terluka secara fisik tapi secara psikis juga, mereka kehilangan keluarga, tetangga, teman, harta benda, dan semua itu tidak bisa diobati secara fisik. Ada juga mengupas tentang beban jiwa timnas yang kalah, euforia pornografi, kondisi kejiwaan para TKI, kejiwaan anak jalanan, memahami kampung yang berisi 'orang gila', kesehatan jiwa para tahanan di luar negeri, bahkan sampai musik-musik yang sangat dekat dengan bunuh diri.
Bunuh diri, mungkin sudah menjadi momok di luar negeri sana dengan maraknya pembullyan. Indonesia juga tidak jarang, masalah sepele pun bisa menyebabkan orang untuk bunuh diri, bahkan kemiskinan bisa memicu lebih besar timbulnya gangguan jiwa, cemas, depresi, tidak ada koping yang adekuat, kemudian memilih bunuh diri.
Manusia absurd tidak akan memilih bunuh diri; dia ingin hidup, tanpa menyerahkan kepastian hidupnya, tanpa masa depan, tanpa harapan, tanpa ilusi... dan tanpa rasa menyerah sama sekali. Dia menghadang langsung kematian dengan pandangan penuh kagum namun ketertarikan ini pada saat yang sama membebaskan dia.
Bunuh diri adalah sebuah patologi yang harus segera ditangani, betapapun kompleks solusi yang hendak diciptakan.
WHO menegaskan bahwa tidak semua tindakan bunuh diri dapat dicegah, tetapi mayoritas bisa. Beberapa pendekatan untuk mencegah terjadinya bunuh diri adalah membatasi akses seseorang terhadap 'alat' bunuh diri, membuat program pencegahan komunitas, membuat standar pelaporan media masa seperti tidak menampilkan detil perilaku bunuh diri (foto, metode bunuh diri), tidak membuat berita sensasional agar tidak ditiru. Dan yang terakhir adalah para profesional yang terkait dengan kesehatan jiwa sebagai ujung tombak program, meningkatkan pengetahuan klinis tentang bunuh diri, bisa dilakukan oleh dokter umum.
Bagi legislator, peran UU yang tegas untuk ikut mengawal program preventif dan promotif sebagai program andalan dan tidak melulu penaganan berbasis rumah sakit akan ikut menumbuhkan kesadaran nasional untuk ikut mencegah siapa pun melakukan tindakan bunuh diri.
Bagian yang paling saya sukai adalah Bagian Tiga: Musik dan Ilmu Kedokteran Jiwa. Dari lagu-lagu Ost 500 Days of Summer dan Ost New Moon, Smashing Pumkins, Gin Blossoms, Nirvana, Soundgarden, Hole, Garbage, Portishead, Primitive Radio Gods, Radioheads, Better than Ezra, Weezer, dll, NoRiYu merefleksikan dua hal, pertama, adanya gngguan jiwa (catatan: gangguan jiwa begitu luas; dari ringan sampai berat, dari depresi sampai skizofrenia, dari neurosis sampai psikosis). Kedua, lirik mereka mengandung terapeutik, baik berperan sebagai perasat ventilasi bagi yang menyanyikan dan mendengarkan, tetapi bisa juga karena menawarkan pemahaman empatik dari penyanyi ke pendengar tentang rasa sakit, kehilangan, amarah, keterkungkungan. Jadi jika melodi musik alternatif kadang memekakan telinga dan meninggalkan pertanyaan, justru bagi penggemar alternatif genre musik ini memberikan alternatif atas eksistensi musiknya, yaitu penawar toksin atas kepedihan hidup, tanpa harus menjadi melodramatik.
Seniman masih termasuk salah satu makhluk terjujur dalam berekspresi karena justru dengan kejujuran dirinya, ia berkomunikasi empatik dengan para penikmat karyanya.
Wow, saya baru nyadar kalau lirik lagu itu bisa sebagai obat kejiwaan :)
Masih banyak masyarakat yang salah kaprah mengartikan kesehatan jiwa, mereka dikucilkan bahkan ada hukum pasung yang jelas-jelas melanggar HAM. Maka dari itu, penulis ingin mengajak semua masyarakat Indonesia mendukung RUU Kesehatan Jiwa agar segera diundangkan, kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik, membutuhkan wadah yang tepat dan penaganan yang benar.
WHO melaporkan, dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, lima diantaranya adalah masalah Kesehatan Jiwa: depresi (1), alkoholisme (4), gangguan bipolar (6), skizofrenia (9), dan obsesif kompulsif (10). Berbagai negara telah memberlakukan UU Kesehatan Jiwa, Korea, Italia (1978), Inggris (1983), Rusia (1992), Belarusia (1999), Jepang (1950), Austria, Argentina (1991), Pakistan (2001), Tunisia (1992), Cina, bahkan negara Sri Lanka pun juga membuat The Mental Health Policy of Sri Lanka (2005-2015) sebagai respon pasca tsunami.
Membaca buku ini seperti kembali lagi ke bangku kuliah, saya pernah praktek di RSJ bertemu pasien dengan berbagai faktor penyebab, ada yang hanya tidak dibelikan sepeda motor oleh ayahnya bisa menyebabkan anak remaja mengalami gangguan jiwa, tetangga saya ada yang mengalami gangguan jiwa, bahkan saya juga mempunyai keluarga yang mempunyai gangguan jiwa karena masalah rumah tangga. Banyak sekali di jalanan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa tapi tidak ada yang memedulikannya. Sangat dekat dengan sekitar kita bukan? Tidak mudah memang menyembuhkan mereka, butuh waktu yang lama dan kedisiplinan dalam berobat, tapi saya percaya jika Tuhan menciptakan suatu penyakit pasti Dia juga menciptakan penawarnya.
"Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain." (p.34)
Sebagai seorang psikiater sekaligus anggota legislatif, layaklah penulis memiliki kepedulian sekaligus usaha untuk memperjuangkan kesehatan jiwa di tingkat pengambil kebijakan. Disebutkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa di Indonesia masih rendah. Padahal, hampir semua aspek dalam masyarakat, setiap permasalahan--mulai dari anak jalanan, fenomena rumah tangga selebritis, sampai pada beban jiwa timnas--berkaitan cukup erat dengan kesehatan jiwa. Dengan data-data pendukung dari berbagai sumber, penulis memaparkan betapa signifikannya pengaruh gangguan jiwa dalam struktur kehidupan masyarakat. Meski cakupan bahasan yang dijabarkan cukup luas, yang paling menarik untuk saya ada di bagian terakhir dalam buku ini, yang membahas tentang musik dan kesehatan jiwa. Dapat dikatakan bahwa pembahasan ini lebih bersifat personal dibandingkan bagian sebelumnya yang menitikberatkan pada politis dan komunitas.
"Jadi jika melodi musik alternatif kadang memekakkan telinga dan meninggalkan pertanyaan, justru bagi penggemar alternatif genre musik ini memberikan alternatif atas eksistensi musiknya, yaitu penawar toksin atas kepedihan hidup, tanpa harus menjadi melodramatik." (p.129)
"Selera musik boleh beragam, pilihan genre-pun dikembalikan pada sensitivitas pendengar, tetapi slogan tentu sama: no health without mental health, and certainly no mental health without music." (p.131)
Mungkin karena selera musik saya mirip dengan penulis, bahwa memang musik-musik keras dengan lirik yang 'langsung' tanpa basa-basi justru menjadi obat yang ampuh. Seolah kita yang mendengar juga ikut mendapatkan sarana ventilasi yang tersamarkan oleh musik tersebut. Berbeda dengan beberapa musik sedih yang seringkali membawa efek depresif, seperti dicontohkan penulis dalam kasus di sebuah film yang bercerita tentang kehidupan seorang komentator musik.
"Memang film Prozak Nation tidak melukiskan hubungan linier antara kesedihan sebagai dampak dari sebuah lagu terhadap penikmatnya. Namun boleh juga diasumsikan bahwa seorang komentator--sama halnya dengan penikmat--musik dapat terlarut dalam kesedihan-kesedihan yang terkandung dalam lirik dan irama-irama lirih. Jika tidak karena lagu tersebut mengakomodir perasaan sedih pendengarnya, maka kesedihan itu justru terinduksi oleh kesedihan dalam lagu." (p.133)
Saya juga menemukan sebuah pencerahan tentang hal yang masih saya ragukan. Mirip dengan apa yang saya bayangkan saat mempelajari gangguan jiwa, penulis memakai istilah 'lokus minoris atau semacam kondisi yang membuat jiwanya mudah terlemahkan jika menghadapi dilema.'--p.142. Sebagaimana dulu saya menggambarkan gangguan jiwa sebagai runtuhnya benteng pertahanan yang ada dalam jiwa manusia. Tentunya selain adanya tekanan yang bertubi-tubi dan terus-menerus, titik lemah atau lokus minoris ini menjelaskan mengapa sebagian orang bisa runtuh, sementara sebagian yang lain tidak.
"Seniman masih termasuk salah satu makhluk terjujur dalam berekspresi karena, justru dengan kejujuran dirinya, ia berkomunikasi empatik dengan para penikmat karyanya. Walau idealisme ada kalanya juga perlu berimprovisasi untuk mengikuti sebagian selera pasar." (p.144)
Ajaib juga bisa selesai baca satu buku ini dalam kira-kira 9 jam saja. Jadi ceritanya buku ini diberikan oleh salah satu konsulen di Dept Psikiatri FKUI-RSCM. Jujur, tadinya saya kira buku ini kumpulan kisah para penyandang gangguan jiwa. Saya lumayan suka true stories seperti itu. Eh tapi ternyata ini kumpulan esai. Sebenarnya tak mengapa, toh saya suka juga dengan esai, dan topik-topik esai dalam buku ini cukup luas, menyentuh banyak aspek dalam bidang kesehatan jiwa. Tapiiii... Cara menulisnya kurang enak ya menurut saya. Hanya karena saya residen jiwa (technically, juniornya si pengarang buku) makanya saya bisa membaca buku ini untuk cukup lama. Kalau Anda bukan residen jiwa atau psikiater, mungkin yaaa baca "Atas Nama Jiwa" merupakan pilihan absurd :D