Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangatnya lebih menggelora ketimbang penduduk bumiputra. Pemerintah kolonial Belanda menerakan cap berbahaya.
Ia, Ernest François Eugène Douwes Dekker, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara, adalah "Tiga Serangkai", orang- orang pertama yang mendirikan partai politik di Indonesia: Indische Partij. Sebagai penggerak revolusi, gagasan Ernest melampaui zamannya. Tur propagandanya menginspirasi Tjokroaminoto dalam menghimpun massa. Konsep nasionalismenya mempunyai andil saat Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Tapi ia hidup di pembuangan ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan.
Inilah kisah si pemberani yang di kemudian hari juga dikenal sebagai Danudirja Setiabudi.
Kisah E.F.E. Douwes Dekker adalah salah satu dalam kumpulan kisah para Bapak Bangsa, yang juga mencakup Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan Tjokroaminoto. Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan /Tempo/ sepanjang 2001-2012, serial ini mereportase ulang kehidupan kelimanya. Mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan, hingga kisah cinta dan cerita kamar tidur mereka.
Membaca ulang tokoh sejarah saat ini seperti melengkapi ingatan yang secuil dari pelajaran sejarah saat sekolah dulu. Yang saya ingat Douwes Dekker (DD) adalah bagian dari Tiga Serangkai pendiri Indische Partij. Yang lebih sering dibahas adalah Suwardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara lewat pidatonya yang terkenal "Seandainya Aku Seorang Belanda". Apalagi sepak terjang Tjipto Mangoenkoesoemo sangat minim diajarkan. Ingatan berhenti sampai situ. Saya sadar sepertinya pelajaran sejarah produk zaman Orde Baru sangat kurang membahas detil awal perjuangan dan tokoh pergerakan sebelum Indonesia merdeka. Yang selalu teringat adalah Supersemar, film G30S, Repelita dan nama-nama menteri Orde Baru. Mungkin saya lebih hafal MenParPostel Joop Ave daripada Douwes Dekker ini. Maka tak heran ada yang bingung (termasuk saya) membedakan Douwes Dekkernya Tiga Serangkai ini dan Douwes Dekker a.k.a Multatuli penulisnya Max Havelaar.
Seri Buku TEMPO ini singkat namun cukup lengkap pembahasannya. Kepingan-kepingan besar sejarah jadi melengkapi pengetahuan saya akan tokoh ini. Indische Partij yang didirikannya adalah partai politik pertama yang radikal dan progresif memperjuangkan Hindia-Belanda merdeka. Partai yang mengusung kesetaraan ras, jenis kelamin dan agama. Pemikiran yang jauh melompati dari kelompok awal Boedi Oetomo. Latar belakang sikap DD hingga ke titik pendirian IP itu, seperti masa di Pasuruan dan ikut perang di Afrika juga dibahas dalam seri ini. Pembahasan berlanjut tentang pembubaran IP dan pembuangan ke Belanda, pendirian Ksatrian Instituut (tempat Sukarno sempat mengajar dan jadi tempat ajang diskusi tokoh pergerakan di Bandung), ditangkap lagi dan dibuang ke Suriname. Sampai menyeludup kembali ke republik setelah merdeka dan ikut bagian pemerintahan. Kisah tiga cintanya dan penulusuran jejak masa kini juga turut dibahas.
Setiap membaca tokoh sejarah akan ada dimensi berbeda ketika lewat jalan atau tempat diabadikannya. Kali ini jika lewat Setiabudi Kuningan Jakarta atau di jalan Dr. Setiabudi arah Lembang Bandung, akan ada percikan ingatan akan tokoh yang telah berganti nama Danudirja Setiabudi ini. Nama pemberian dari Sukarno yang mempunyai arti "banteng yang berjiwa kuat dan setia", serupa dengan inisial awalnya : DD = Douwes Dekker = DanuDirja.
Membacanya menjadi hal yang cukup personal, mengingat cerita dari Ibu bahwa nenekku adalah salah satu muridnya Douwes Dekker. Dengan pemikiran bahwa aku akan menelusuri jejak guru nenek, ku memulai membaca buku ini.
Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, seorang indo yang mempunyai andil besar menelurkan partai politik pertama di Hindia Belanda: Indische Partij. Gagasannya radikal di masa itu: Menyatukan seluruh ras, suku dan etnis yang ada di Hindia Belanda dalam satu partai demi mencapai Hindia merdeka.
Mungkin buat kita yang sudah sangat terbiasa hidup di alam kemerdekaan, gagasan tentang keindonesiaan adalah hal yang mudah dimengerti. Tapi untuk orang umum di awal abad ke 20, sejatinya tak sulit untuk melihat bahwa gagasan yang dikemukakan oleh Douwes Dekkker (atau DD) bersama Soewardi Soeryaningrat (kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara) dan Tjipto Mangoenkoesoemo adalah gagasan yang sangat radikal. Dalam kondisi beragam suku bangsa, budaya dan agama, sungguh sulit membayangkan adanya persamaan yang memunculkan sikap bahwa kita semua tergabung ke dalam satu nation-state yang bersatu padu.
Membaca kondisi pada saat itu, Gubernur Jenderal De Jonge menyatakan “Kita sudah berada di Hindia selama 300 tahun, dan akan tetap berada di sini selama 300 tahun lagi bila perlu dengan tongkat dan senjata.” Karena itulah kondisi normal. Hindia Belanda adalah normalitas.
Tetapi, DD berani berpikir di luar kotak. Dan lewat Indische Partijnya lah, benih pertama untuk nasionalisme berhasil ditebarnya.
buku yg mengisahkan tentang kehidupan E.F.E Douwes Dekker ini menjelaskan dengan cukup rinci kehidupan masa kecil, masa remaja, dewasa hingga usia tuanya. Meski ada sejumlah repetisi namun tidak terlalu mengganggu. Sebagian besar sumber yang dilacak TEMPO berasal dari Belanda, yang dari segi kultur pengarsipan dan dokumentasi memang lebih baik dan aman dibanding Indonesia yang kurang trampil menyimpan sumber penting untuk pelajaran sejarah
Selain idealisme dan perjuangan nasionalisme Indonesia yang dilakukan DD lewat Indische Partij bersama dua sahabatnya; Dr. Tjipto dan Ki Hajar Dewantara, menceritakan juga kisah keluarga dan pernikahan yang memiliki keturunan dari tiga istri. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, semua terpencar ke banyak negara dan sudah meninggal karena usia tua, menyisakan kenangan yang diceritakan oleh generasi ketiga dan keempat untuk hal yang bersifat pribadi dan tidak terkait perjuangan politik DD
Karena perubahan jaman pula, rumah yang pernah ditinggali DD ikut berubah karena direnovasi dan tidak ada dokumentasi atau bukti yang tertinggal selain fakta dia pernah menghuni rumah itu. Meski hanya lewat buku biografi yang tidak terlalu lengkap karena banyak catatan yang hilang akibat pemusnahan dan penangkapan DD oleh Belanda, pembaca mendapat informasi lebih baik dibanding buku pelajaran sekolah yang membahas secara singkat, dan menambah wawasan pengetahuan pembaca dari sudut pandang alternatif
Salah satu bapak bangsa yang kiprahnya jarang kita ketahui di bangku sekolah. Hanya mengenalnya sebagai salah satu dari tiga serangkai, termasuk Ki Hadjar dan dr. Djipto. Saya pun sering mengira Ernest dan Eduard (penulis Multatuli) adalah orang yang sama karena sama-sama dipanggil Douwes Dekker. Dan memang faktanya Ernest masih keturunan dari Eduard Douwes Dekker. Tempo mengulasnya dengan brilian, mendapatkan dan menelusuri banyak sumber primer untuk membuat buku ini.
pinjam-baca dari Perpusnas sebagai bahan siaran di bulan Agustus 2024.
rencananya pengin baca kisah Sutan Sjahrir buat dibawain pas siaran, eh pas lihat-lihat koleksi Perpusnas, "Douwes Dekker" ini lebih bikin penasaran dan lebih tipis, hehehe. pastinya bakal lebih cepet dibacanya. dan, penasaran juga sih sama salah satu tokoh pahlawan ini.
cuma inget beliau adalah satu dari Tiga Serangkai penggagas revolusi kemerdekaan Indonesia dan hubungannya sama Multatuli (penulis Max Havelaar). selebihnya... blas nggak ada ingetan apa pun.
dari buku ini (yang kubaca seri buku sakunya, sih), diceritakan dan digambarkan sosok Douwes Dekker berdasar sumber sejarah yang berhasil dilacak oleh Tim Tempo. sempalan-sempalan cerita dari berbagai sumber, termasuk keterangan keluarga yang masih hidup (ketika dilakukan investigasi) dan para ahli sejarah/penulis biografi, melengkapi banyak hal yang tak kuketahui tentang ketokohan Douwes Dekker.
meski paham dari nama beliau saja yang sudah "bule Belanda", aku baru tahu lebih jauh bahwa beliau ini satu dari sekian orang Belanda yang justru menginginkan Indonesia merdeka. lahir dan besar di Indonesia, ikut perang melawan Inggris di Afrika, dibuang-diasingkan ke sana kemari, hingga sempat jadi mentor Bung Karno, membuat "kebeliauan beliau" sungguh menggugah hati.
tak lupa, selipan kisah pribadi dan keluarga juga diceritakan. menegaskan bahwa pahlawan juga manusia, punya sisi-sisi humanis yang menggetarkan hati.
Pada 15 September hingga 3 Oktober 1912 Ernest François Eugène Douwes Dekker berpropaganda di Bandung, Cirebon, Pekalongan, Tegal, Yogyakarta, Semarang, Madiun dan Surabaya. Melangsungkan vergadering (rapat umum) di setiap kota tsb, membuka 30 cabang Indische Partij (IP) dan menghimpun 7.300 anggota.
Hal ini menempatkan nasionalisme Hindia pada suatu level baru, jauh di atas apa yang dicita-citakan dan dilakukan oleh Boedi Oetomo (BO). Bahkan Sneevliet sendiri kelak mengakui bahwa IP jauh lebih radikal dibandingkan ISDV.
IP tak bisa dipisahkan dari sosok E.F.E Douwes Dekker, cetak biru IP ada di kepala Ernest tentu saja tanpa mengesampingkan 2 sosok lain yang kita kenal sebagai pelengkap Tiga Serangkai; Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Buku kecil ini mengupas habis sosok Ernest a.k.a Danudirdja Setiabudi dalam 20 lebih tulisan bergaya jurnalisme investigasi yang disusun oleh Team Buku TEMPO dan diterbitkan oleh Penerbit KPG.
Melalui buku ini kita bisa melihat lintasan hidup Ernest sejak di Pasuruan, berperang di Afrika, terkatung-katung di Eropa, kembali ke Hindia, mendirikan IP, keterlibatannya di Insulinde, dibuang ke Belanda, mendirikan NIP, dibuang ke Suriname hingga terlibat pada era Revolusi.
Pendek kata, buku ini cukup mumpuni sebagai pengantar untuk menyelami sosok Ernest François Eugène Douwes lebih jauh, sebelum melanjutkan membaca beberapa buku rujukan yang menjadi sandaran pada buku ini. Tabik.
Meniti jejak langkah Pak Nest, begitu membuat kita lebih dekat kepada Tiga Serangkai. Beliau mengajarkan pada kita bahwa cita-cita itu tidak boleh terputus di tengah jalan. Meskipun berkali-kali masuk penjara, dituduh sebagai mata-mata, atau bahkan dijatuhi hukuman mati, Pak Nest tetap teguh agar Indonesia yang kita tinggali sekarang merdeka.
Sepak terjang Pak Nest dalam dunia media dan politik sudah tak asing lagi. Ditambah, beliau merupakan cucu dari seorang penulis buku Max Havelaar yang bernamakan Eduard Douwes Dekker atau biasa juga disebut Multatuli.
Untuk buku biografinya sendiri, sepertinya terpaku pada buku The Lion and The Gadfly. Beberapa fakta sering diulang berlebihan, sehingga saat dibaca malah membuat bosan dan menyebalkan. Ada cukup banyak kata yang dirasa kurang baku. Tapi mengingat tim Tempo mengerjakan buku ini beserta riset yang lama, serta fakta-fakta baru yang saya ketahui dari Pak Nest, membuat buku ini istimewa bagi saya.
Setelah membaca buku ini, yakin tidak mau membaca buku saku Tempo yang lain? Saya rasa tidak 😅 Karena saya sudah menargetkan setelah ini akan membeli buku biografi Sultan Syahrir :D
Selama membaca ini, ternyata banyak banget hal yang ngga aku tahu tentang tokoh ini. Banyak juga istilah asing yang bikin aku bingung😂.
Banyak banget perjalanan Douewes Dekker yang...inspiring(?) aku gatau gimana harus nyebutnya haduh. Perjalanan beliau ini masih kurang banget diekspos, atau aku yang kurang baca?
Terutama dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia.
Dan lewat buku ini juga aku baru tahu kalau penulis Max Havelaar itu bukan Douwes Dekker yang ini, melainkan kakek dari Douwes Dekker yang ini, ehgimana.
E.F.E Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudhi benar-benar seorang petualang di ranah politik, propagandais ulung, pionir, inspirator revolusi bagi kemerdekaan Hindia kala itu. Kisah hidup seorang "DD" yang dianggap sebagai salah seorang "guru politik" Bung Karno ini sangat penting dibaca oleh generasi penerus Republik ini.
Buku biografi Douwes Dekker yang berpusat pada usaha propagandanya memerdekakan pribumi. Berulang kali ditangkap dan diasingkan tidak membuat Ia gentar dan menyerah. Di dalam jiwanya terkandung api nasionalis yang membara.
Saya jatuh cinta kepada DD karena kehebatannya berjuang dan menjadi sumber inspirasi kemerdekaan Indonesia.
Douwes Dekker, Bapak penggerak Bangsa yang cenderung keras dan frontal. Bagi saya, Tiga Serangkai dan sejarah beliau benar-benar memberikan insight baru bagi saya.
Awalnya saya kira, saya membaca tentang Multatulli, tapi ternyata itu adalah Douwes Dekker yang lain. Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, nama yang ngga asing sebenarnya, karena dulu ketika sekolah saya sempat mempelajari tentang Tiga Serangkai. Tapi tentu pelajaran sejarah waktu itu sangat ngga menarik bagi saya. Sepertinya negara ini memang harus merombak total kurikulum pelajaran sejarah.
Ketika saya membaca buku ini, satu hal yang terlintas di kepala saya adalah; begitu sibuknya kehidupan Douwess Dekker ini. Mulai dari berpartisipasi dalam perang di Afrika, membangun organisasi, dibuang ke Suriname, hingga dia berhasil kembali ke Indonesia dengan diam-diam, bahkan dia sempat mengambil sekolah doktor dan menyusun disertasi.
Melalui buku ini, saya jadi berpikir oh ya, mungkin memang ada orang-orang belanda yang ngga suka dengan fasisme yang dilakukan oleh negaranya ke negara lain.
Membaca buku ini seperti membaca roman klasik. Membuat dada berdebar-debar, dan membayangkan petualangan yang menarik. Bahkan terasa lebih hebat dari kisah James Bond.
Douwes Dekker adalah tokoh nasional yang menjadi idola saya. Ada dua Douwes Dekker yang menjadi salah satu penggerak kemerdekaan Indonesia. Yang pertama adalah Edward Douwes Dekker, yang mempunyai nama pena Multatuli sang penulis "Max Havellar". Kedua, adalah Ernest Douwes Dekker, yang memiliki nama pena DD. Mereka memang kerabat, Douwes Dekker yang pertama adalah adik dari kakek Ernest. Buku ini mengupas tentang DD atau Nest, atau Danudirdja Setiabudi, Sang Inspirator Revolusi. Buku terbitan kerjasama KPG dan Tempo ini ditulis dengan pendekatan jurnalistik investigasi. Para jurnalis menapak tilasi kehidupan Setiabudi, mulai dari tempat kelahirannya di Pasuruan, Jawa Timur sampai ke Zurich, Swiss,tempatnya mendapatkan gelar Doktor.
Secara darah Setiabudi hanya 1/3 Jawa. Bapaknya Belanda-Perancis, ibunya Jerman-Jawa, tapi ke mana pun dia berada, dia selalu mengaku sebagai orang Jawa. Begitu cintanya ia pada Hindia yang kelak bernama Indonesia. Hatinya selalu terusik oleh ketidakadilan, itu dimulai dari usia muda. Saat berusia 20 tahun, Nest dan kedua adik lelakinya secara sukarela pergi ke Afrika Selatan untuk ikut Perang Boer melawan Inggris. Di sana ia belajar banyak tentang politik, pada masa itu juga dijatuhi hukuman mati, namun selamat. Kemudian setelah lulus sekolah setingkat SMA, karena bapaknya tidak sanggup membiayai kuliah, Nest bekerja sebagai pengawas di perkebunan kopi Soember Doeren, Semeru. Ia memperlakukan pekerja dengan manusiawi sehingga sangat dicintai oleh para pekerjanya. Namun selalu bersitegang dengan atasannya, yang menganggap DD terlalu lembut. Akhirnya karena tidak tahan terhadap sistem di perkebunan itu, DD memutuskan untuk berhenti. Sebelum ia pergi seorang buruh tua berterima kasih kepadanya, walau DD tidak mengerti untuk alasan apa. Menurutnya apa yang dia lakukan-perlakuan manusiawi kepada buruh-adalah hal yang wajar, hal yang mestinya dilakukan. Sebagai penghormatan terhadap DD, puluhan buruh mengantar kepergiannya dengan berjalan kaki selama 4 jam hingga tiba di Dampit-kota terdekat dari Soember Doeren. Saat itu usia DD baru 18-19 tahun. DD, mengakui bahwa buku Om-Kakeknya banyak mempengaruhi dia. DD juga memulai perjuangannya dengan pena. Ia mendirikan surat kabar, lalu menulis novel berjudul "Simaan de Javaan," Beliau juga dikenal sebagai orator ulung, Belanda menganggapnya berbahaya karena ia adalah agitator yang hebat. Ia menyebarkan semangat revolusi melalui Indische Partij yang didirikannya bersama Dr. Tjipto dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan itu merupakan partai politik pertama di Indonesia, cikal bakal PNI. Bung Karno dalam pidatonya pun menganggap DD sebagai gurunya. Sejak awal DD sudah menyadari kelebihan Bung Karno, dan mengatakan bahwa ia akan menjadi penggantinya.
Buku ini juga mengupas kisah pribadi DD, yang menikah tiga kali, kesemuanya dengan perempuan indo. Lalu ada juga wawancara dengan cucu DD dari Clara, istri pertamanya. Kebanyakan pernikahannya kandas karena DD sering ditahan atau dikirim ke pembuangan.
DD adalah tokoh yang patut dikenang sepanjang masa, bukan hanya untuk dikenang, tapi darinya kita bisa belajar banyak tentang patriotisme dan nasionalisme sejati, dan kemudian diamalkan dalam kehidupan.
Aku rindu akan seorang sosok pemimpin sepertinya...
Ia mendedikasikan sebaian besar hidupnya buat kemerdekaan Hindia. Di dalam darahnya masih mengalir nurani anti imperialisme dan kolonialisme yang diwariskan Eduard Douwes Dekker (adik kakeknya) pengarang buku Max Havelar yang memiliki nama pena Multatuli.
Novelnya yang berjudul Simaan de Javaan terbit 1908, mengungkap ketidakadilan pemerintah Belanda, satu-satunya novel yang menampilkan Belanda sebagai orang jahat.
Ia juga turut andil yang mengakibatkan Sukarno berpisah paham di persimpangan jalan dengan H.O.S Tjokroaminoto. Douwes tahu Sukarno bisa diandalkan. Dalam sebuah rapat Indische Partji Douwes yang saat itu berusia 50 berkata;
"Saya telah bertemu dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut. Dan bilamana saatnya mati, saya sampaikan kepada tuan-tuan bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno mrnjadi pengganti saya. Anak muda ini akan menjadi juru selamat bagi rakyat Indonesia di masa mendatang."
Beberapa tahun kemudian, Sukarno seperti menjawab pidato Sang Guru.
Beli dan baca edisi khusus majalah TEMPO-nya menjelang lebaran kemarin. Lalu tetap beli dan baca ulang edisi bukunya setelah diterbitkan KPG.
Entah mengapa, dulu waktu membaca yang edisi majalah sambil menunggu boarding pesawat yang akan membawaku ke Pangkalpinang, aku merinding dan terharu. Mungkin karena waktu itu tanggal 17 Agustus 2012 dan paginya aku ikut upacara hari kemerdekaan (yang diwajibkan kantor)?
Andai tidak ada orang-orang yang menyulut semangat kebangsaan dan revolusi seperti Setiabudi dan yang lainnya...
Pengantar sejarah yang 'ramah' untuk orang awam. Ditulis dengan gaya jurnalistik yang mudah dicerna, meski terdapat pengulangan di sana-sini.
Tentang Ernest Douwes Dekker sendiri, dalam buku ini diceritakan dengan cukup lengkap mengenai masa kecil hingga wafatnya, watak hingga pergerakannya, kebaikan hingga kelemahannya. Untuk urutan waktu masih agak tumpang tindih, mungkin karena bentuk penulisan serta penyusunnya. Namun, sebuah gambaran utuh berhasil ditinggalkan seusai membaca buku ini.
setelah baca buku ini baru saya tau, kalau ternyata rumah saya selama ini deketan sama rumah terakhir Douwes Dekker di jl Setiabudi. nama jl Setiabudi adalah bentuk penghormatan untuk Douwes Dekker yang berganti nama jadi Danurdirja Setiabudi