Katanya, a guy and a girl can't be just friend. Benarkah? How about Karin and Rama?
Karin: Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan beribu-ribu wanita lain di luar sana. Beribu-ribu wanita lain yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang gak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku, sahabatmu tolol!
Rama: Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, gak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue sedang kebetulan single. Paket komplit!
DFWL ini adalah karya kedua Nurilla Iryani yang saya baca. Karena katanya lebih bagus, witty dan smart daripada TMRL, jadinya sampai bela-belain beli online karena susah nyarinya di toko buku.
Saya suka dengan gaya menulis Nurilla Iryani yang ceplas-ceplos, dan beberapa bagian ada yang berhasil membuat saya tertawa. (meskipun percakapan mereka smart, but not so smart karena kayaknya pernah baca di novel sejenis). Menghibur dan benar-benar bacaan yang ringan, deh. Walau percakapan di antara Rama dan Karin kurang tek-tok (karena notabene mereka teriak-teriak terus, dan kayaknya mereka nggak pernah ngomong serius berdua), kecablakan keduanya berhasil membuat saya ngakak!
Namun kecablakan itu rasanya menjadi bumerang tersendiri. Karena novel ini ditulis dengan pov 1, yakni dari sisi Karin dan Rama, saya nggak bisa merasakan perbedaan cara pikir dan cara bicara dua orang ini. Mereka mirip banget di sisi sifat dan gaya bicara. Gaya mengumpatnya pun sama, dengan kata-kata bak ‘cumi’ dan ‘kutu’. Iya, saya memang tahu sih kalau gaya bahasa sahabat itu saling mempengaruhi.
Pun, saya kurang merasakan nilai plus dari para tokohnya. Saya masih belum mengerti apa yang membuat Karin jatuh cinta mati-matian sama Rama. Apalagi sifat Rama yang kayaknya tengil dan childish banget.
Poin minus lainnya adalah cover-nya yang kayak teenlit dan nggak begitu menarik. Kemudian tab penggalan per-bab yang nggak konsisten. Ada beberapa typo dan perbedaan font pula di novel ini. Terus, novelnya tipis banget dengan font gede-gede. Cuma 146 halaman aja!
Tadinya mau kasih dua bintang, tapi bagian endingnya menyelamatkan novel ini. Ending yang realistis dan saya suka, karena beda dengan novel sejenis. Meskipun, lagi-lagi endingnya itu membuat saya deja-vu dengan salah satu episode serial HIMYM.
Btw, tokoh kesukaan saya di novel ini Adam karena dia yang membuat novel ini nggak flat :)
Barusan nemu di timbunan...kenapa ga dari dulu yaa bacanya...padahal sekali duduk juga selesai ini salah satu novel komedi -romance yang kubaca..bisa bikin ketawa sekaligus mengernyit sama dialog atau monolog tokoh yang kadang "alay" :) Review lengkap..nyusul ya
As promised, saya akan bercuap-cuap tentang novel karya Nurilla Iryani ini :)
Dear Friend with Love ini bercerita tentang persahabatan Karin dan Rama. Selama delapan tahun keduanya berteman, tahu satu sama lain kebusukannya. Tapi berbeda dengan Rama yang bergonta-ganti pasangan, Karin malah stuck dengan status jomblonya. Bukan karena dia tidak laku, tapi karena cewek modis ini sudah mencantolkan (ada ya istilah ini?) hatinya pada sahabatnya, Rama. Yang malah dengan imunnya hampir selalu menyeret-nyeret Karin setiap pacaran. Sampai satu saat, keduanya terikat dengan orang lain. Namun berbeda dengan Rama yang jatuh cinta, Karin dijodohkan - yang tentunya tidak serta merta membuat Karin jatuh hati.
Tapi bagaimana kalau yang dijodohkan pria yang sesuai dengan harapannya. Ganteng, lucu, baik hati, pengertian. Masihkah Karin tidak akan jatuh hati? Walaupun, yah...pria itu bukan Rama.
Dan Rama? Kenapa dia malah merasa hampa, saat dia memutuskan menikah dengan pacarnya yang sekarang? Dan kenapa dia malah memikirkan Karin?
Saya memberikan 2 bintang untuk cerita. Tema tentang persahabatan antara cewek dan cowok, yang kemudian saling jatuh hati setelah menyadari perasaan sudah banyak dikulik. Di antara cerita itu adalah Dear Friends with Love. Despite bahasanya yang ringan dan menghibur, tapi plot dan cara bercerita Iryani membuat saya teringat salah satu novel Indonesia lainnya, dengan tema yang sama.
Namun bedanya, di kisah persahabatan dan cinta antara Karin-Rama yang diramu Iryani menyimpan satu pukul telak, yang membuat saya menambahkan setengah bintang untuk novel ini. Mengejutkan dan tidak tertebak!
Andaikan sedari awal Dear Friend with Love memiliki jurus tersebut, atau setidaknya memberikan small blows, sebelum memberikan terapi kejutannya. It'd be wonderful.
Satu buku yang dibaca dalam sekali duduk! Yes, i love the flows of the story, yang bener-bener ditopang dengan gaya penuturan yang kadang bikin bilang: kepikiran gitu yaaa nulis kayak gituuu??? :))
Banyak quotes 'konyol' yang bisa diambil--which are enggak bisa ditulis di sini saking banyaknya, hahahaha!
Yang agak kerasa beda mungkin dari sisi deskripsi yang enggak terlalu ditonjolkan di buku ini. Yah, mungkin karena lebih ngebahas 'isi kepala' Karin dan Rama kali, yah? Jadi kadang mikir: ini dialog semua apa gimana? Hehehehe, but overall, sukaaaaa sekali ama buku ini! Nuansa chicklitnya dapet banget! :))
Dan satu lagi, buku ini bikin saya semakin suka ama buku-buku terbitan Stiletto Book! Sangat-sangat menghibur!
Novel singkat yang bikin respons, "Eh, kok cuman segitu doang?". Soalnya endingnya yang terkesan 'dipangkas' begitu aja. Tapi di sisi lain terasa seru banget karena dibikin seakan menggantung.
Pro juga sama novel ini karena friendzone nggak harus selalu berakhir manis. Yes!
Tapi yang saya sayangkan sedikit di sini covernya kok, terkesan remaja banget. Padahal tokohnya dewasa muda. Jadi, saya sempat mengiranya teenlit.
Bahasa dalam novel ini lincah banget. Segar. Saya suka!
BTW, emosi dalam novel ini kurang bikin perasaan teraduk-aduk. Masih level biasa.
Baca deh buku ini. Sebenarnya temanya sederhana, nggak ribet, nggak banyak kritik, ringan deh buat dibaca kapan pun. Tapi, kamu kudu siap-siap kalau bibirmu jadi kelu saking seringnya ketawa pas baca buku ini. Sumpah, lucu banget. Bikin aku pengen punya temen cowok yang bisa buat dongo-dongoan.
Aku pengen awet muda dengan terus bahagia, makanya aku baca buku ini.
I have special experience with this book. Pertama kali baca buku ini di Gramed depan sekolah. Dalam waktu 30 menit bukunya sudah selesai and yeah.. left me speechless. Plot twistnya bener-bener di akhir buku. There is any paper left to explain. Kebetulan waktu itu sedang merasakan hal yang sama so i can relate with the story. Dan setahun kemudian baru beli buku ini hehehe. Overall suku buku ini. Quote-quotenya ngena juga. Great Job
Dari judulnya sudah ketebak cerita novel ini bakalan seperti apa. Ya, Dear Friend With Love karya Nurilla Iryani mengangkat tema ‘sahabat jadi cinta’. Meski tema ini sudah sering diekspos, namun penulis mampu meramunya menjadi bacaan yang menarik dan seru untuk diikuti hingga lembar terakhir.
Novel ini berkisah tentang Karin dan Rama, dua insan (haish bahasanya) yang sudah delapan tahun menjalin persahabatan. Bagi Rama, Karin adalah ‘obat’ yang mampu membuatnya tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Selain itu, Karin juga sangat cantik sehingga, mengutip kata-kata Rama, “gak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue sedang kebetulan single. Paket komplit!” Yang Rama tidak tahu adalah: selama delapan tahun ini Karin ternyata memendam cinta terhadap Rama. Rama yang sering dikecewakan wanita, menjadikan Karin sebagai tempat sampah curhat. Perasaan Karin? Nggak usah ditanya deh. Jungkir balik dong pastinya. See? Yang kayak gini sering banget kejadian di dunia nyata kan? #bukancurhatkoook #beneran #crossfinger
Apabila Rama sering gonta-ganti pacar dan sering berakhir kecewa, Karin justru sebaliknya. Gadis itu hampir tidak pernah pacaran. Alasannya? Tentu saja karena ia cinta pada Rama. Tapi bagaimana Rama bisa tahu perasaan Karin bila Karin sendiri tak pernah penyampaikannya? Doh, saya jadi gemes! Rama itu nggak bisa baca pikiran kamu, Karin! (Lah kenapa jadi emosi gitu, Pan?) #okeabaikan
Begitulah. Rama keep going dengan urusan gonta-ganti pacarnya, sementara Karin setia menjomblo demi seseorang yang ia cintai diam-diam... hingga suatu saat: Rama akhirnya melamar pacarnya yang bernama Astrid. Kamu bisa ngebayangin sendiri gimana perasaan Karin. Karin akhirnya memutuskan untuk move on. Akhirnya, ibu Karin mempertemukan Karin dengan anak temannya yang bernama Adam. Karin kenal cowok itu. Dia teman SMA-nya dulu. Tapi Karin tak menyangka bahwa penampilan Adam kini sangat berbeda dibanding waktu SMA—dulu cupu, kini guanteng banget! Hmm. Lumayanlah, daripada jomblo ya kan? Apalagi si Adam-Adam ini orangnya baik. Yuk deh jalanin ajah.
Sementara itu, selama mempersiapkan pernikahannya dengan Astrid, entah mengapa Rama justru merasa tertekan. Ia jadi ragu, seolah ia tidak yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Astrid. Di luar dugaan, Astrid mengetahui apa yang sebenarnya yang mengganggu pikiran Rama. Ketika Astrid meminta Rama untuk tidak bertemu Karin, saat itulah Rama sadar, bahwa sebenarnya ia tak bisa hidup tanpa Karin! Wih... bakalan ribet nih. Untuk mengetahui kelanjutan ceritanya, sebaiknya kamu baca sendiri ya. Seru banget novel ini.
Dear Friend With Love dikisahkan bergantian melalui sudut pandang Rama dan Karin. Dialog-dialog dalam novel ini sangat mengalir, benar-benar enak untuk diikuti. Alur ceritanya sendiri juga cepat sehingga pembaca tidak bosan. Tahu-tahu udah kelar aja baca novel ini. Memang, novel ini sangat tipis. 146 halaman saja, Sodara-Sodara. Bahkan novel teenlit terbitan GPU saja lebih tebal dari ini *keluh*. Nah, ukuran novel yang tipis inilah yang menganggu saya. Padahal saya sangat menikmati gaya menulis Nurilla Iryani, tapi sayang, kemesraan kebersamaan saya dengan penulis (lewat novel ini) terasa cepat sekali berlalu. Saya pikir, sebenarnya banyak aspek dari novel ini yang bisa digali lebih dalam, terutama tokoh-tokohnya yang, secara mengejutkan, semuanya saya sukai. Tentang endingnya sendiri, saya tidak yakin semua pembaca akan suka. Saya pribadi dapat menerima endingnya. Sangat realistis. Bila saya berada di posisi Karin (bukan berarti saya ingin operasi kelamin ya), saya mungkin akan melakukan hal yang sama. :)
Di luar beberapa keluhan saya di atas, novel ini sejujurnya sangat menarik. Covernya unyu-unyu pula. Saya juga jatuh cinta pada gaya tulisan Nurilla Iryani. Siapapun, tolong kabari saya jika beliau menerbitkan buku lagi ya. :D
Ide ceritanya sudah umum, tapi penulis bisa meramu cerita dan konfliknya dengan sangat baik. Apa lagi dengan dialog yang terkesan ceplas-ceplos, menggunakan kata lo-gue yang sebenarnya agak tidak suka tapi untuk novel ini saya menikmatinya. Dan yang menjadi nilai plus bagi saya adalah sesekali penulis menyisipkan kalimat dalam bahasa inggris.
Kesan pertama ketika melihat penampilan novel ini yaitu imut. Desain sampul bagian depannya cantik ala novel chicklit dan cukup menggambarkan petunjuk isi novel. Deskripsi untuk karakter Karin dan Rama sangat ditonjolkan, jadi pembaca akan langsung tahu bagaimana sifat-sifat para tokohnya.
Menggunakan improve untuk masing-masing tokoh membuat konflik cerita semakin terasa. Tapi saya agak kecewa karena Adam, tokoh lainnya tidak ikut melakukan improve. Ya, walaupun Adam hanya pemeran pembantu bukan sebagai pemeran utama, tapi tidak ada salahnya jika tokoh Adam juga improve karena akan semakin terasa konflik di dalamnya.
Gaya bahasa yang digunakan sederhana, nggak njimet sehingga tidak membuat pusing kepala saya saat membacanya. Alur yang digunakan adalah maju. Saya menikmati lembar-demi-lembar dalam novel ini. Dan sangat terkejut dengan ending-nya. Benar-benar tidak bisa diduga —terlebih bagi saya. Saya pikir Karin akan memilih Rama —sahabatnya, karena ya menurut saya Karin sudah lama bersahabat dengan Rama dan pastinya dia tahu sifat-sifat Rama. Tapi ternyata saya salah.
Untuk setting tempatnya, saya rasa belum cukup dieksplor, walaupun beberapa kali penulis menyajikan banyak tempat. Tapi kurang ada keterangan yang benar-benar membuat novel ini menjadi terasa benar-benar nyata.
Untuk kekurangannya adalah masalah typo. Masalah yang umum di dalam dunia penerbitan. Dan dalam novel ini saya masih menemukan typo walaupun nggak banyak, seperti contoh :
“Nggak usah. Semalem udah minum kopi dua gelas, makannya baru tidur pagi.” (hlm. 113) Seharusnya kata ‘makannya’ diganti dengan kata ‘makanya.’
Beberapa kalimat favorit dalam buku ini :
1. Helloooo, beli dondong saja milih, apalagi cari suami. (hlm. 01) 2. Terserah kamu deh, Cantik. Buat gue, kerikil dikecapin juga enak kalau makannya sama kamu. (hlm. 08) 3. Dia pasti tipe perempuan yang takut gendut. Sampai-sampai porsi makannya sama dengan kucing tetanggaku. Lihat aja badannya kurus kering begitu. Tinggal kulit sama kentut. (hlm. 12) 4. Kalau manusia bisa dikandangin, mungkin para wanita bakal menyimpan pacarnya di dalam kandang supaya nggak pergi ke mana-mana. (hlm. 23) 5. Gue nggak pernah mengerti apa yang ada di otak cewek saat sedang belanja. Mereka nggak bisa ya sekali lihat langsung beli? Harus ya muter-muter dulu sampai kaki sengkleh, baru kemudian memutuskan untuk beli baju yang pertama dilihat. (hlm. 55) 6. Sebetulnya terbuat dari apa sih otak wanita? Benang kusut? (hlm. 78) 7. Kita nggak bisa mengenal luar dalam seseorang hanya dalam waktu dua minggu, kan? (hlm. 82) 8. Dan ngadepin cewek ngambek itu lebih ribet dari bangun candi dalam satu malam. (hlm. 112) 9. Kasihan si waktu. Selalu diandalkan untuk menyembuhkan luka. Harusnya dia punya gelar dokter. (119) 10. Siapa bilang cowok nggak bisa sedih? Cowok juga punya hati kok, cuma jarang dipakai saja. Biar awet dan nggak rusak. (hlm. 125)
Overall, saya menikmati perjalanan cinta dalam diam Karin terhadap Rama yang membuat saya senyum-senyum sendiri setiap kali ada kalimat yang menurut saya menarik.
Tiga dari lima bintang untuk kisah perjalanan Karin dan Rama dalam menemukan cinta sejati serta arti dari persahabatan. Cocok banget dibaca buat kalian yang ingin mengetahui apa arti persahabatan yang sesungguhnya.
Dear Friend With Love. dari judulnya aja udah ketebak ceritanya kayak apa. Yup, tentang Karin yang selama delapan tahun cinta mati sama sahabatnya sendiri, Rama, tapi harus tabah menjadi tempat curhat Rama tentang cewek-cewek yang dipacarinya. Sampai ketika Rama akhirnya melamar pacarnya bernama Astrid—dipanggil Cicit—dan Karin memutuskan untuk move on alias it’s enough sama cinta sepihaknya. Karin pun dimakcomblangin sama nyokapnya dengan Adam, anak teman baik si Ibu yang juga cinta monyet Karin waktu SMA. Karin tidak menyangka jika cowok cupu yang dulu suka dikejar-kejarnya sambil menggondol Tupai di US sana sudah menjelma jadi cowok seganteng Rio Dewanto. Sementara itu, Rama sendiri mulai mempertanyakan hubungannya dengan Cicit. Di saat dia seharusnya senang mempersiapkan pernikahan, yang ada malah stress dan tertekan. Apalagi waktu Cicit member ultimatum untuk nggak ketemu Karin. Saat itu Rama sadar bahwa he can live without Cicit but he can’t live without Karin. Di saat Rama sudah menyadari perasaannya yang sebenarnya, Karin malah memutuskan untuk… Oke, it’s enough. Meski gue rasa itu sudah spoiler banget. Yup, memang agak susah sih menghindari spoiler karena dari awal ceritanya sudah ketebak. Friendship turns into lover ini memang tema klasik yang sampai kapanpun nggak bakalan pernah basi. Terbukti dengan banyaknya novel bertema sama yang sudah edar di pasaran, tapi masiiiiiiihhh aja ada yang bikin tema klasik ini. Sejujurnya gue penasaran sama novel ini karena twit-twitnya Ika Natassa. Alhamdulillah banget menang IRRC Februari hehe. gue baca novel ini sejam kelar. Serius. Tengah malam insomnia baca ini sejam langsung udahan. Ceritanya yang ringan, nggak bertele-tele, bahasa yang lugas dan kocak, sukses bikin gue ketawa-ketawa mesem semalaman. Gue pernah bilang kalau gue suka banget sama gaya penulisan yang lugas. And this is it. Nurilla Iryani muncul dengan kelugasan yang pas banget di otak gue. Membaca novel ini membuat gue teringat langsung tiga buku bertema sama: Antologi Rasa (Ika Natassa), Pillow Talk (Christian Simamora), dan Philophobia (Tessa Intanya). Narsis-narsisnya tokoh Rama tuh ngingetin gue sama Harris meski makin ke belakang narsis dan sikap gajenya Rama bikin jijay. Obrolan-obrolan bodoh Rama-Karin tuh ngingetin gue sama Anjani dan Alandra di Philophobia. Sedangkan galaunya Rama yang sudah punya pacar tapi masih inget Karin dan gimana susahnya memendam perasaan sama sahabat sendiri kurang lebih ngingetin gue sama Jo-Emmi. Jadi, mengingat ketiga novel tersebut adalah novel favorit gue, apakah Dear Friend With Love—yang notabene menggabungkan ketiga novel tersebut—menjadi novel favorit gue? Sayangnya, gue cuma terhibur, tapi nggak menjadikan favorit. Kenapa? Karena ceritanya singkat bangeeeettttt. Sumpah, gue masih pengen tahu lebih banyak tentang Karin-Rama ini. Gregetnya nanggung karena begitu mencapai puncak, diputus gitu aja. Dooh! Tega banget sih penulisnya nulis sedikit banget gini. Coba lebih panjang, pasti lebih enak. Overall, I love this novel. Bahasa Inggrisnya nggak bikin mengerutkan kening kok. Ditambah penulis menulis menggunakan POV 1 dari dua tokoh. Masih agak terlihat sih kemiripan diantara dua tokoh ini. Coba lebih panjang, mungkin lebih bisa dieksplor karakternya jadi lebih terasa perbedaannya. Once more, gue surprise sama endingnya. Realistis. I like it. Ditunggu next novelnya ya, Nurilla Iryani.
Pertama-tama, Karin dan Rama... hei kalian berdua kenapa tsundere banget!
Dua orang cowok dan cewek yang sahabatn dari masa kuliah sampai lulus, yang salah satunya menaruh perasaan tapi diam-diam menyembunyikannya karena takut merusak persahabatan... hm, temanya sebetulnya biasa aja. Friendzone. Tapi, Nurilla Iryani ini bisa bikin novel ini enak banget dibaca. Renyah. Dialognya 4.5/5. Yep. Paling suka dialog di dalamnya, karena selain menghidupkan dua karakter utama juga kadang-kadang kocak banget. Saling lempar ejekan antara Rama dan Karin itu kadang bisa bikin saya senyum-senyum sendiri (karena mau ngakak malu, bacanya di kantor haha).
Diambil dari dua sudut pandang yang berbeda. Jadi ada dua PoV: PoV Rama dan PoV Karin. Cara ngambil PoV di novel ini malah bikin gemes. Apalagi tahu perasaan masing-masing tokoh. Si Karin yang ngarepin Rama tapi tsun-tsun gitu versus Rama yang nggak sensitif sama sekali dengan perasaan Karin dan masih bingung sendiri. Itu bikin pembaca pengen nimpuk mereka berdua pakai oyong sampai mereka sadar, deh. >.< Dan meski saya percaya kalau cewek dan cowok BISA sahabatan murni tanpa salah satunya merasa ngarep atau naksir... tapi gara-gara baca Dear Friend with Love ini jadi mikir, "Apa iya, ya? Emang, sih, kadang-kadang kepikiran 'what if...?'" Ciyee bukan curhat loh ini hahaha.
Nurilla (Nyiell) juga memasukkan banyak sekali kuotasi keren di buku ini tanpa kesan out of story. Jadi semuanya terangkum apik sama ceritanya. Kayak lagi baca dua buku diary orang, yang satu cewek gensi yang naksir sahabat sendiri dan satunya si sahabat cowok yang keseringan gonta-ganti pacar tanpa pernah sedikitpun mikir kemungkinan soal mereka berdua jadian. Meski sesekali saya bisa mikir si Rama ini jahat banget, sih. Datang ke Karin kadang kalau lagi ada perlunya aja.
Satu aja yang kurang sreg, pas di akhir-akhir yang Karin anuanu (karena ini spoiler) mendadak deskrip si Rama jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Nggak tau kenapa, sih, menurut saya terlalu cepat. Baru sedetik Karin ngomong ini, eh, tiba-tiba Rama langsung nyadar kalau dia anuanu (spioler juga). Tapi suka endingnya :D Plot twistnya cakep.
Dan dua paragraf di bagian akhir ini juara! "Aku diam sejenak. Haruskah aku ambil risiko melepas kebahagiaanku demi sesuatu yang aku cinta, tapi belum tentu membuatku bahagia?"
"Merasa berharga. Merasa dicintai. Bukankah itu yang diinginkan dan dibutuhkan semua wanita?"
Novel ini menghibur. Ringan. Dan bisa jadi teman bersantai ketika ingin lepas dari yang 'berat-berat'. Ditunggu novel-novel berikutnya dari Nyiell ;)
|"Loving someone who doesn't love you back is such a hell on earth. Especially, when you can't even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe, you need that friendship for the sake of your love?"|
Karin dan Rama telah menyematkan diri sebagai sahabat semenjak delapan tahun yang lalu. Rasa nyaman, saling membutuhkan, serta keterbiasaan akan hal yang telah lama mereka lakukan membuat keduanya merasa adiksi terhadap satu sama lain.
But, a guy and a girl can't be just friend. And, that's absolutely right for Karin. Karena selama delapan tahun ini, perempuan itu menyimpan perasaan khusus untuk Rama.
|"Dear Rama, why do I have to fall for you when you just keep falling for other women?"|
Karin harus memendam dalam-dalam perasaannya karena kenyataannya, Rama hanya menganggapnya the best friend ever. Selain itu, laki-laki itu juga sedang dalam masa sibuk-sibuknya menyiapkan pernikahan dengan tunangannya yang called so perfect; Astrid (Karin dan Rama memanggilnya Cicit).
Bersamaan dengan itu, Adam, teman masa kecil Karin juga menjanjikan sebuah hubungan yang tak bisa Karin tolak. Lantas, bagaimana hubungan Karin dan Rama saat akhirnya keduanya menyadari perasaan mereka masing-masing?
|"She's never mine. But I always thought that she's mine."|
|"Haruskah aku ambil risiko melepas kebahagiaanku demi sesuatu yang aku cinta, tapi belum tentu membuatku bahagia?"|
-----Dear Friend with Love-----
Satu lagi novel inceran karena tema mainstream yang sangat aku gandrungi ini: friend become lover.
And I can't say anything but like it so much. Like it so much. So much. Much.
Hahahaha. Aku nggak nyangka buku setipis dan se-one stand reading ini benar-benar punya ending yang bikin aku melongo. It's not my expect of ending, but, it really the most realistic ending I've ever need. Bagaimana semua persepsi semenjak awal berubah hanya karena paragraf terakhir di novel ini.
Ada banyak hal yang kusuka dari novel ini (selain endingnya yang bikin aku ketularan Karin dan Rama yang sering mengumpat 'what the effff'), mulai dari penulisan yang blak-blakan dan nyinyir abis, tokoh-tokohnya yang menarik, percakapan antartokoh yang bikin ngakak, serta hal-hal lainnya. Hanya ada satu hal yang kurasa kurang;
kurang tebel.
Seandainya cerita novel ini diperluas dan tetap dengan ending seperti ini, aku bakal kasih 5 bintang. Because I know this genre is mainstream, but, the ending is so unpredicting.
Salut buat penulis yang bikin aku kocar-kacir di akhir paragraf. Pokoknya suka. Entah ini subjektif karena temanya tema favoritku atau apa, yang jelas aku suka.
Horreeee…!!! Gw baru saja selesai membaca buku pertama yang gw beli tahun ini. ~Feliz año nuevo a todos!~
“Dear Friend With Love”, tahu buku ini sih dari twit penulis favorit gw se-Indonesia ini, k’ Ika Natassa (g’ usah disampaikan klo gw nulis ini :p). Penasaran tapi ya tipikal gw klo buku Indonesia, apalagi penulis baru, lama banget berpikir buat beli (Sorry! ). Kemarin, sebenarnya waktu ke toko buku g’ ada niatan buat beli tapi dari jauh mata emak-emak gw mengenali cover buku ini, samperin dan akhirnya beli deh.
Pas baca halaman pertama gw sudah bilang klo buku ini bagus dan gw suka gaya menulisnya yang ringan. Secara garis besar buku ini bercerita tentang persahabatan dan cinta. Eits! Lo pada langsung bilang ini sudah biasa kan? Jangan dululah, walaupun sama, klo gw sih yakin, ada kisah, “bumbu” dan pelajaran yang berbeda di baliknya. Nah, di buku ini ada kisah antara Karin dan Rama. Mereka itu sudah berteman selama 8 tahun, sejak masuk kuliah. Karin itu cantik tapi selama itu masih jomblo. Rama, sudah berkali-kali putus gara-gara pacarnya insecure sama Karin. Karin sebenarnya jatuh cinta sama Rama tapi gengsi dong cewek yang nembak. Rama, ya ngerti deh laki-laki, insensitive heartless. Rama akhirnya jatuh cinta lagi, pacaran, dan memutuskan melamar Astrida Irsyad yang anehnya dia panggil Cicit. Karin? Dijodohkan, lebih tepatnya dicomblangkan dengan Adam, temannya saat kecil di AS dan mereka pun pacaran. Pasangan mereka sama-sama baik bahkan tanpa cela. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Beli sendiri dong bukunya kakak! Bukunya seiprit itu kasihan kalau gw banyak omong. :p
Membaca buku ini bikin gw senyam-senyum, ngakak, tapi terkadang terasa tertusuk juga. Pengen bilang sama Karin, “salah lo sendiri g’ ngomong!” Tapi, gw ngerti rasanya jadi cewek kayak gitu (terdengar curcol ya?). Pengen pukul si Rama pake pentungan sambil teriak, “woiii… 8 tahun lo g’ sadar atau merasa apapun sama cewek yang baik dan cantik seperti Karin?” Tapi, cowok ya cowok. Soooo true… Digambarkan dari sudut pandang masing-masing tokohnya membuat lebih mengerti dan merasakan hal yang mereka alami.
Pertanyaan gw: Adam mana ya? *ditabok* Pernyataan gw: cewek g’ usah gengsi deh menyatakan cinta, g’ ada larangan kok! *gampang banget ngomong*
“I’m sorry, I have to do this, Ram. I read this somewhere: people don’t notice the things we do to them, until we stop doing it. I want you to know that I’m worth it, Ram.” (Hanya dikatakan dalam hati Karin)
Sekarang lagi 'in' banget istilah friendzone di Twitter. Beberapa waktu lalu TL gue rame banget dengan istilah ini. Mungkin karena semakin banyak jomblo yang berusaha mencari jodoh sampe ke luar negeri segala, dan ternyata sosok yang dicari ternyata ada di depan mata. Ok, gue mulai nyeritain pemgalaman pribadi.
Novel ini hadir di saat yang tepat. Di saat friendzone sedang marak. Selain itu, novel ini asli kocak banget. Kalo lo lagi suntuk di tengah macet atau lagi ruwet dengan kompleksnya permasalahan di kantor atau kampus, baca deh. Dijamin terhibur.
Kesan pertama gue terhadap kedua tokoh utamanya: they're so much alike. Dari cara becanda sampai bertutur kata, Karin dan Rama itu mirip. Dua-duanya konyol, spontan, dan ceplas-ceplos (selain seneng ngomong bahasa Inggris).
Dear Friend With Love memakai dua POV tokoh utamanya, Karin dan Rama. Pembaca jadi tahu apa isi hati dan pikiran kedua tokoh ini. Sedikit mengingatkan gue dengan Antologi Rasa- Ika Natassa, tapi beda rasa. Yang jelas, penulisnya bisa jadi Rama dan Karin, sesuatu yang gue harus pelajari. Karena POV cowok itu susah banget.
Karin yang happy-go-lucky ternyata menyimpan rasa terhadap Rama. Walau di luar ia terlihat extrovert, bawel, dan ceplas-ceplos, saat mentok dengan perasaan, dia bungkam.
Sedangkan Rama ini tipe cowok bebal kurang peka yang nggak sadar kalau perempuan disampingnya mengharap dia menyatakan cinta. Ada kesaman gue dengan Rama, sama-sama cinta dengan apple pie. Yang bikin agak empet dengan cowok ini adalah kenarsisannya. Bukan tipe cowok yang gue taksir :D
Plot bergulir. Karin dijodohkan dengan teman masa kecil di Amerika, Adam. Tapi hatinya memang nggak bisa move on dari Rama. Perlahan tapi pasti, Rama sadar betapa pentingnya Karin bagi di dalam hidupnya.
Satu lagi yang bikin gue ngakak di novel ini. Ada tokoh minor namanya Tante Titi dan Adam. I'm a huge fan of Adam Lambert. Dan sesama fans biasanya saling kenal. Ada satu kenalan gue namanya Titi dan dia gila segila-gilanya sama Adam Lambert. Nggak tahu ini kebetulan apa gimana, gue selalu ngakak tiap Adam dan Tante Titi ini nongol.
It's a lightweight read but heavily entertaining. Untuk pembaca cepat, mungkin bisa habis dilahap dalam satu kali duduk.
A very light read--maybe way too light. It's been awhile since I could finish a book in three hours straight. Such a solution for ppl with reading problem due to limited spare time.
The idea was simple: a girl and a guy, being bff for too long, the girl is too afraid that what she feels within will ruin the friendship, the guy is too heartless to sense that the reason why his bff is still single after all this time is bcs she's desperately in love with him. Both of them narrate their own part with somewhat-clever-but-not-so-clever lines. The author was trying, I know it, but I wasn't quite impressed. Not that I didn't find them quite amusing, tho. They're just... I've read something better somewhere else (sorry for comparing). Besides, how Ms. Iryani described its charas was kinda blurred. In my head, all of them was faceless. I didn't get enough imagination to put some faces into them. But anyhow I personally liked the way she put Fasilkom UI as one of the settings. It's always fun to find things you're familiar with within books you read. And the twist in the very end--loved it.
Anyway, this is the first from its publisher that I read. Gotta say that if it's not for its interesting review, I will never give it a try. Guess why? The cover doesn't sell! It's so teenish and doesn't quite represent the story inside. This is quite an issue for you, Stiletto Book, bcs I find that it doesn't happen to Dear Friend with Love only. People do judge a book by its cover, bcs not everyone has time to check its goodreads rating before buying. So, yeah, you guys gotta improve it in order to improve the sales.
Another issue I found within was the layout of the text. Too many widows. Inconsintency of space in the same page. Some lines need hyphenation. And oh, the editing also. "Thank's" and "feminim", seriously? "Oia" also bothered me for it's way too casual. Inversely, stuffs like "pakaiin" and "saja" sounds weird in informal sentences. Gosh, why did I sound like an editor while I was supposed to be merely a reader who just wanna have fun?
Overall this piece succeeded at making me wanna read another writing of its author--which means she kinda nailed it. 3 stars.
“Loving someone who doesn’t love you back is such a hell on earth. Especially, when you can’t even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe, you need that friendship for the sake of your love?” (hlm. 01)
Tiga kata untuk novel ini : Bisa Bikin Ketawa. Saya bahkan mampu melahap buku ini dalam 24 jam. Ya termasuk rekor baru di awal tahun 2015 mengingat akhir-akhir ini saya terserang penyakit ‘bosan membaca’ selama berminggu-minggu. Baru baca halaman pertama saja, saya sudah dibuat tertawa. Well, saya rasa ini termasuk novel dengan genre romance-humor. Dan novel ini menjadi moodboster saya dalam menyembuhkan penyakit itu. Applause for this book ! Yeyy.
Dear Friend With Love, barangkali judulnya memang umum. Ceritanya juga sederhana. Mengenai, katanya a guy and a girl can’t be just friends ? Benarkah ? Jawaban saya…benar. Nggak mungkin laki-laki dan perempuan itu cuma sahabatan. Nggak. Nggak masuk akal. Pasti ada percikan rasa cinta yang kadang kala hinggap tapi tidak kita sadari. Contohnya ? Banyak. Baru-baru ini aja, kakak saya yang udah temenan lama sama seorang cewek, ujung-ujungnya juga diembat alias pacaran. Upload selfie bareng di BBM. See!
Ok, stop to told about this. Make me jealous.
“Jealousy is an ugly thing. It makes you hate someone that you barely know. And to make it worst, you’re the one who gets hurt, no that ‘someone’. Some people say, you can only get jealous when you feel insecure.” (hlm. 15)
Well, ini tentang Karin dan Rama yang sudah sahabatan selama 8 tahun. Tentang Karin yang menyukai Rama. Juga tentang Rama yang sering gonta-ganti pacar. Bertahun-tahun Karin single (menolak semua laki-laki yang ngantre ingin jadi pacarnya) cuma buat nunggu Rama. Dan ketika Rama tanya ‘kenapa ngak ada satu pun yang dipilih?’ jawaban Karin pasti ‘mau nunggu dudanya Prince William’.
Novel yang ringan dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk selesai membacanya, bukan karena memang termasuk kategori novel yang tipis tapi saking menikmatinya gak berasa aku sudah di halaman akhir saja.
Mungkin sudah banyak yang mengambil tema sejenis "persahabatan jadi cinta", tapi kali ini penulis membawa warna tersendiri, ditulis dengan 2 sudut pandang, baik Rama dan Karin, kita diajak menelesuri isi kepala dan hati mereka tentang persahabatan mereka. Dengan gaya bercerita yang ringan, blak-blakan, ceplas ceplos dan menghibur, kamu jadi nagih buat membaca terus dan terus hingga akhir.
Yang membedakan, Rama sibuk dengan dunianya sendiri, gonta/ganti cewek sesukanya, dan akhirnya menemukan seseorang yang ingin dijadikan pelabuhan terakhir, bagi Rama, Karin hanyalah sahabat terbaik. Dan lain Rama, lain Karin. Karin hanyalah wanita biasa, yang ternyata harus takluk dengan perasaannya sendiri, Karin jatuh cinta kepada Rama, sahabatnya dan hanya bisa memendamnya saja daaaaaan selama 8 tahun juga Rama tidak pernah tahu isi hati Karin.
Sampai disini, aku bingung juga dengan Rama, apalagi sampai Rama mengira bahwa Karin "lesbian". Whaaaaaat???? Namun, ketika muncul sosok pria lain, Adam cinta monyet Karin yang dijodohkan ortunya dan Karin sama sekali tidak menolak, Rama mulai merasa posisinya terancam, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Rama juga sebenarnya punya rasa yang sama? Siapakah yang dipilih Karin, Rama yang telah dicintainya sekian lama atau Adam yang membuatnya nyaman?
Overall, aku menikmati novel ini dan aku suka dengan endingnya, aku suka dengan pilihan Karin ^^
"Merasa berharga. Merasa dicintai. Bukankah itu yang diinginkan dan dibutuhkan semua wanita?"
Awalnya saya mengetahui buku ini gara-gara beberapa orang yang bertanya tentang buku saya, kemudian lalu mengatakan pada saya bahwa ada buku bertema sama. Well, tapi siapa sih yang gak suka membahas tentang para sahabat yang diam-diam memendam cinta.
Ketika akhirnya saya membeli buku ini, saya berhasil menyelesaikannya just in one sitting, karena buku ini memang sebegitu serunya.
Ceritanya tentang Karin dan Rama, yang sudah bersahabat sejak 8 tahun yang lalu, waktu mereka sama-sama baru masuk kuliah. Rama itu playboy, hobi gonta-ganti pacar, dan Karin justru sebaliknya, ga pernah pacaran. Well, itu karena ternyata Karin diam-diam mencintai Rama, yang tentunya tidak pernah peka sama perasaan sahabatnya sendiri itu. Tapi, siapa juga yang bisa menyalahkan Rama, wong Karinnya nggak pernah bilang apa-apa.
Dialog di dalam novel ini seru banget, sungguh cair, nyata, dan sama sekali nggak dibuat-buat. Alur ceritanya juga cepat, bahkan sampai-sampai saya gak sadar tau-tau saya sudah berada di ujung cerita. Sepertinya Nurilla memang gak mau dibuat pusing dengan detil seperti deskripsi.
Intinya, buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca, walaupun saya nggak suka dengan akhirnyaaaaa.... Tapi mungkin memang begitulah seharusnya cerita seperti ini ditutup. Saya salut sama ketegasan dan kekuatan Nurilla untuk bisa membuat ending yang seperti itu, nggak menye2 seperti saya.
"Loving someone who doesn't love you back is such a hell on earth. Especially, when you can't even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe, you need that friendship for the sake of your love."
"We, women, can talk to each other without talking."
"Some people say, you can only get jealous when you feel insecure."
"Dear Rama, why do I have to fall for you when you just keep feeling for other women?"
"We, men, really appreciate women who respect and endorse our need to have a few testosteron mixers."
"You just know when you find the one."
"Guys, ada dua keuntungan punya sahabat cewek. First, mereka selalu mendengar. Second, mereka tahu persis apa yang perempuan mau."
"And now, I'm having a really a hard time getting over you, Rama. Andaikan ada obat untuk melupakan seseorang, semua pasti nggak terlalu menyakitkan seperti ini."
"I can't always be here waiting for you. I know, at some point, I have to give up and move on. Mungkin sekaranglah saatnya."
"There is one question you always wanna ask, but you decide to keep it to yourself, just because you're afraid you can't handle the answer."
"I read this somewhere: people don't notice the things we do to them, until we stop doing it. I want you to know that I'm worth it, Rama."
"A great bed can only comfort your tired body, not your tired mind."
"Sometimes we have to lose something to get something better."
"Yes, forgetting is not easy, but remembering is worse."
Ini buku yang udah lamaaaaaa dan sering banget gue cantumin di WW, and finally, after all this year! [SPOILER ALERT] AKhirnya gue baca juga kisah si Tuyul, ceritanya bermulai dari ke dua lawan jenis yang bersahabat selama delapan tahun. Rama, yang kini sudah punya pacar baru seorang model super ribet dengan acara persiapan pernikahannya yang masih sembilan bulan lagi, bagi Rama, ini melelahkan, apa lagi, waktu untuk Karin, sahabatnya, jadi ngga ada. Di sisi lain, Karin cemburu dengan Rama, apalagi dia telah memendam perasaan selama delapan tahun dan ngga ada tanda-tanda bahwa Rama peka kalau Karin yang selalu ada buat dia. Ceritanya bikin patah hati, di awal gue udah bisa ngendus bau-bau happy ending bagi rama, dan gue udah bersyukur banget mengetahui bahwa bentar lagi novelnya habis, dan scene waktu itu adalah proses pemutusan Karin dengan Adam. But, hati gue tiba-tiba mencelos, oh hey, sialan Adam. Ternyata Karin lebih memilih Adam daripada Rama. Alasannya emang logis sih, masa si Rama putus dan batalin pernikahannya dengan Astrid hanya karena baru sadar kalau Karin yang seharusnya mengisi hati Rama, dan apa yang dikatakan Adam juga realistis, Adam bahkan ngga pernah nyakitin Karin, tapi kenapa Karin lebih memilih Rama yang malah lebih sering nyakitin dia.
Setelah dua jam gue berkutat, ini kenapa endingnya begini, akhirnya gue bisa berlapang dada, ngeship Karin-Adam. Rama? no, now.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kalau baru lihat judulnya, pasti mikir ini teenlit about anak putih abu-abu. But, salah besar..
Dengan bahasa yang ringan, satu kisah dibalut oleh dua sudut pandang. Karin dan Rama.
Mulai lembar pertama, ceritanya udah menarik. Dan semakin menarik lagi di lembar-lembar berikutnya.
Tentang Karin yang mencintai Rama selama 8 tahun. Menjadi sahabat terbaik. Setia mendengar curahan hati laki-laki yang dia cintai tentang wanita-wanita lain, bahkan ikut repot persiapan nikahnya (baca : makan hati).
Di sisi lain, Rama sama sekali nggak peka. Dengan polosnya selalu bergantung pada Karin.
Many things happened.
Sampai Karin memutuskan membuka hati pada Adam(cowok sempurna menurutku.. :p), cowok yang dijodohkan oleh ibunya.
Baca DFwL .... bikin ketawa, bikin ngenes, bikin gemes, tapi ceritanya juga sweet di saat bersamaan.
Well, untuk cewek, pasti banyak yang ngena di hati.
Kalau aku sendiri..
"Don't marry him, Rin! Marry me!"
Aku teriak histeris pas bagian itu. Antara kesal, gemes, dan lega sekaligus.
Ending-nya nggak terduga. Logis menurutku. Tapi kurang panjang... (kalau halaman terakhir dipenuhin.. pasti lebih nice)
Salah satu buku yang selesai saya baca dalam hitungan jam saja. Halamannya tidak banyak dan punya cerita khas "friend zone" yang membuat banyak ABG zaman sekarang labil dan galauuu... hehehehehe Saya suka dengan penggunaan sudut pandang 2 tokoh utamanya, Karin dan Rama, walaupun saya agak terganggu dengan narsistik dan bahasa Rama yang menurut saya kok cowok selebay ini sih cara ngomongnya. Dari segi cerita buku ini mengangkat tema yang sudah lazim dipakai, tapi buku ini punya cara unik dalam penceritaannya jadi pembaca tidak bosan. Endingnya sih sudah bisa ditebak tapi jalan cerita masih enak buat diikuti. Pemilihan katanya juga beragam dan cenderung witty dan di beberapa bagian saya ikut tertawa dalam obrolan Karin-Rama yang bocor abis. Dari karakternya saya merasa kurang sreg dengan Rama tapi saya suka karakter Karin. Karakter yang lain seperti Adam menurut saya terlalu sempurna dan Cicit tidak terlalu mengena. Overall, buku ini layak dibaca bagi kalian pencinta romance chicklit yang ringan. Mungkin kalau dibikin lebih panjang akan lebih menarik itu menurut saya. Good job buat mbak Nurilla Iryani. Saya tunggu karya-karya selanjutnya.
dari masih berbentuk novel blog, udah ngikutin banget kisahnya setiap minggu. dulu tuh gregetan banget setiap ceritanya terbit terus 'gantung' bikin penasaran. jadi, nggal sabar nunggu minggu depannya cepat datang untuk tahu kelanjutannya.
pas tahu dibukukan, langsung beli bukunya deh.
meski sudah baca kisahnya tetap aja penasaran setiap detail ceritanya. bedanya dulu kalau penasaran harus nunggu seminggu, kalau sekarang bisa langsung tahu. daaaaannn... jadi tahu ending-nya seperti apa. nggak menyangka juga sih akan berakhir seperti itu ;)
yang aku suka dari novel ini adalah bahasanya yang ringan dan mengalir banget. perpindahan antar POV dua tokohnya pun smooth. meski banyak quotes di dalamnya, terlihat penulis tidak berusaha terlalu keras untuk menampilkannya dan tidak mencoba puitis. ya karena itu tadi, semuanya mengalir.
kalau lagi sibuk banget dan waktu terbatas tapi tetap ingin refresh pikiran dengan baca noval berbau romance, buku ini cocok dijadikan pilihan. karena tidak perlu waktu lama untuk 'melahapnya'. :)
Siapa bilang dua orang yang berbeda jenis kelamin tidak bisa bersahabat tanpa dibumbui rasa cinta? Bisa kok.
Begitulah Karin dan Rama. Atau setidaknya begitulah yang terlihat di mata Rama. Delapan tahun bersahabat dengan Karin, membuatnya buta akan pertanda. Sampai akhirnya, sebuah pengakuan mengakhiri segalanya.
Buku ini super tipis. Cuma sekitar 150 halaman. Sejam baca langsung selesai.
Sebenarnya bukan faktor tebal tipisnya buku sih yang bikin cepat selesai dibaca tapi memang ceritanya yang super mengalir membuat kita tanpa sadar sudah sampai halaman terakhir.
Ceritanya lugas dan diselipi humor-humor segar. Selain itu permainan sudut pandang antara Karin dan Rama juga seru. Sebentar-sebentar kita menjadi Karin, sesaat kemudian menjadi Rama.
Yang jelas buku ini tidak cocok dibaca orang yang sedang galau soalnya bisa bikin tambah galau.
Salah satu kutipan yang bagus dari buku ini : "...Bukankah yang ingin dicapai semua orang adalah kebahagiaan? Kalau kamu udah berhasil dapet, kenapa kamu lepas cuma karena kamu nggak yakin?"
Baca novel ini jadi ngerti gimana sahabatan deket sama cowok. Berhubung gak pernah ngalamin sahabatan cuman berdua--biasanya ngegeng cewek cowok banyakan gitu. Lucu dari awal sampe hampir terakhir--karena bagian akhirnya klimaks jadi serius. Bikin senyum-senyum. Penantian Karin buat Rama selama delapan tahun itu luar biasa deh. Delapan tahun! Setia banget si Karin. Dari semua karakter yang ada, karakter favorit saya itu CICIT. Sumpah, dia itu memang amazing. Punya pacar yang deket banget sama sahabat ceweknya memang sering kali kerasa sebagai ancaman. Jadi sahabat cewek juga gak enak kalau harus deket-deket pacar sahabat, apalagi gonta-ganti. Sayangnya saya gak suka karakter Rama yang kelewat cerewet. Saya mikir, selain kegantengan--yang selalu dinarsiskannya itu--apalagi kelebihan Rama sampe cewek-cewek pada jatuh cinta? Typo super minim, cuman penggunaan elipsis yang salah di beberapa halaman. Well, ya, novel ini menghibur ^^
Pernah baca buku yang bikin kamu nggak berhenti sampai ceritanya selesai? saya sering. Saya baru beli bukunya tadi sore dan habis dilahap hanya dengan waktu dua jam. *tepuk tangan buat diri sendiri* Itu rekor saya.
Saya sebenarnya tertarik baca buku ini pas ngeliat twitnya kak Ika Natassa sama kak Alexander Thian beberapa waktu yang entah kapan.
Ceritanya dengan bahasa yang ringan dan humoris bikin nggak pengen cepat sampai di ending cerita tapi juga penasaran. Ya gimana ya? bingung membahasakannya gimana. Pokoknya gitu deh. *digetok*
Ketika kamu dihadapkan dengan cowok yang bernama Rama yang cerewet dan humoris, kamu akan jatuh cinta tapi sayang Rama itu tipe cowok yang nggak bikin kamu merasa berharga. Dan ketika kamu dihadapkan dengan cowok yang bernama Adam, kamu akan jatuh cinta karena kamu akan merasa nyaman dan merasa begitu berharga.
I don't doubt to give 5 of 5 star for this awesome book! ^^ Highly recommended.
Bacaan yang ringan tapi bisa menyadarkan sesuatu pada para korban friendzone, bahwa nggak selamanya friendzone bakal berakhir dengan merenggangnya persahabatan. Katanya, A guy and a girl cant be just friends. Tapi nyatanya nggak selamanya hal itu benar, di cerita ini awalnya memang begitu tapi setelah menemukan orang yang lebih baik bukankah segalanya bisa berubah? Disini juga diajarkan tentang prioritas, kalau kamu cinta sama seseorang tapi orang itu tidak memprioritaskanmu, maka lupakanlah rasa cinta itu. Dan juga tentang kebahagiaan, jangan sia-siakan sumber kebahagiaanmu hanya karena kamu nggak yakin mencintainya, apalagi karena kamu terlalu yakin kalau cinta sama sahabatmu sendiri. Perasaan bisa aja berubah, sob.
Btw, coverny aku suka. Ilustrasinya sesuai sama bayanganku, hanya saja kalau pakaian si cewek itu dibuat nggak match bakalan keliatan jelas kalau itu kriteria karin. Dan yang cowok pas sama karakter Rama.
OW MY GOD ! i really love this novel ! <3 aaakk ! excited banget abis baca buku ini, ending yg ditunggu2 dari sekian novel yg pernah dibaca, and the writer has the guts to make it that way, uncommonly :))
awalnya sih ngerasa agak 'sedikit ketebak' apalagi dengan story's pace secepat itu dan buku yg setipis itu. tapi sodara-sodara, the surprise is on the very last page, jadi buat yg belum baca, haram deh baca2 bagian endingnya buku ini, haha lebayy~~ but sure, i love it! kurangnya sih 1 kali yaa, karena diceritain secara POV, di novel ini kurang "beda" antara gaya penuturan si cewe dan cowo. apa karena wataknya sama? entahlah, tapi kalo dibandingin sama novel lain dengan penuturan gaya POV, yg ini masih kurang mulus. saya sebagai pembaca masi kadang keliru "eh ini yg lg cerita si cewe apa cowo sih".